<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963</id><updated>2011-06-11T16:54:13.574-07:00</updated><category term='politik'/><category term='teknologi'/><category term='spiritual'/><category term='manajemen'/><category term='lainnya'/><category term='budaya'/><category term='kebangsaan'/><title type='text'>Ki Jero Martani</title><subtitle type='html'>Hasil pemikiran di tulis bukan untuk menyombongkan diri, namun semata-mata bahan pemicu diskusi, untuk lebih memahami sastra nusantara yang kita cintai.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>156</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-7559333211638085130</id><published>2007-11-20T10:06:00.000-08:00</published><updated>2007-11-20T10:07:46.863-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Kekuatan Doa</title><content type='html'>Ditulis Oleh Abu Irsyad&lt;br /&gt;Sunday, 12 August 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua agama mengenal doa. Doa adalah salah satu kebiasaan umat beragama yang sudah menjadi pengangan sehari-hari. Tak ada yang begitu mendarah daging seperti doa, untuk semua jenis agama sekalipun. Hampir semua orang yang kita temui pernah menceritakan pengalamannya tentang kekuatan doa, bagaimananya doanya pernah dikabulkan dan bagaimana doa telah menguatkannya dikala susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun warna kulitnya, apapun keturunannya, apapun agamanya, semua orang pasti pernah mengajukan suatu permintaan dan terkabulnya permintaan itu yang dikenal dengan istilah doa. Mungkin ada orang yang berdoa karena membutuhkan uang, dan entah bagaimana caranya tapi ia berhasi mendapatkan uang itu tampak diduga-duganya. Ada seorang wanita yang berdoa untuk meminta makan, kemudian ada yang mengantarkan makanan ke rumahnya. Tetapi sebaliknya tidak kalah drastisnya. Banyak doa yang tak terkabulkan. Orang-orang mati kelaparan, anak kecil yang meninggal dunia meskipun orang tuanya memohon dan berdoa dengan sepenuh hati sepenuh jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada ilmu yang mempelajari tentang doa, maka akan terungkapkan seribu satu macam kontradiksi, begitu banyak fakta yang menbingungkan dan aneh. Doa yang tak ada artinya dikabulkan, sedangkan permohonan yang sangat penting, tak mendapatkan tanggapan sama sekali. Sakit yang biasa sehari-hari disembuhkan sedangkan doa memohon kesembuhan sesorang yang sangat dicintai tidak didengarkan. Orang yang beriman dan taat akan berkata dengan rendah hati : “Ini adalah kemauan atau takdir Allah” dan ia tak akan berkata dan tak akan bimbang lagi. Tetapi orang yang sudah ma’rifat tak dapat menerima jawaban yang begitu sederhana. Mereka menyadari bahwa dalam doa pun ada hukum-hukum tertentu yang menyebarkan kekuatannya, hukum-hukum yang masih harus ditemukan, diindentifikasikan dan dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita mulai dengan menganalisa doa seperti yang dialami oleh hampir semua orang di dunia ini. Kata doa itu merupakan kata serapan dari bahasa Arab yaitu Adda’a yang berarti memanggil, memohon dan meminta. Kata doa itu dipakai untuk mencakup pelbagai kegiatan dari kesadaran kita. Karena itu doa tidak dapat diteliti seakan-akan merupakan satu jenis kegiatan yang sama semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada doa yang khusus memohon bantuan untuk suatu keperluan fisik atau materi. Kalau kita jelaskan dengan apa yang tampak di dunia ini, maka doa ini bisa disamakan dengan suatu permohonan yang diajukan oleh seseorang pada orang lain yang lebih tinggi kedudukannya dan mempunyai posisi dan kemungkinan untuk mengabulkan permohonan itu. Dalam hal ini terkandung pengertian bahwa orang yang akan mengabulkan permohonan itu sedikit banyak harus mengurbankan diri atau berusaha, mengurbankan tenaga atau pun juga, sedikit atau pun banyak untuk memenuhi permintaan yang diajukan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan lagi bahwa doa disini didefinisikan sebagai permohonan kepada sesorang yang mempunyai posisi untuk mengabulkannya. Kita tidak menyebutkan bahwa doa adalah suatu petisi yang diajukan kepada Allah. Meskipun mungkin demikian, tetapi tak selalu harus demikian. Sejujurnya kita harus mengakui bahwa doa yang diucapkan di dunia ini sebagian besar meminta bantuan fisik ataupun materi. Karena itu sesungguhnya doa tidak secara langsung ditujukan kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang biasanya masih tahu diri dan merasa diri tak berhak memohon materi pada Yang Maha Kuasa itu. Lagi pula ajaran agama sejak dulu kala telah mengajar manusia takut pada Allah, sehingga hubungan batin antara manusia dan Allah tidak seakrab hubungan manusia sesama manusia. Allah menjadi sesuatu yang jauh dan dingin, tak terjangkau dan tak terasakan dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini. Allah seakan-akan seseorang yang berkuasa dan yang tinggi kedudukannya, seorang presiden direktur atau pemilik perusahaan yang maha besar, mungkin juga pemimpin suatu bank yang ternama. Karena itu kebanyakan orang merasa dirinya tak sanggup berdoa langsung kepada Allah, mereka tak yakin bahwa doa itu bisa sampai dan akan didengarkan oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doanya mereka arahkan kepada sesuatu ataupun orang lain yang lebih dekat jangkauannya, yang terasa lebih akrab dan memahami kesulitan dan penderitaan mereka. Mereka mencari orang atau makhluk lain yang lebih toleran dan dapat memahami kelemahan manusia dibalik petisi yang diajukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ingatan manusia, para nelayan selalu berdoa kepada lautan atau pada sesuatu lain yang dianggapnya seakan-akan Raja lautan. Mereka berdoa memohon keselamatan dan perjalanan yang aman dan cepat dan tampak kesulitan apa-apa, mereka berdoa memohon ikan, mereka berdoa akan terlindung dari badai dan topan. Mereka juga berdoa kepada Sang Angin dan kepada Aeolus Raja Angin.Atau para nelayan yang berada dipesisir selatan berdoa kepada Nyi Roro Kidul agar diberikan kemudahan dalam menangkap ikan. Para nelayan mengurbankan atau mengirim berbagai persembahan kepada Penguasa Laut Selatan. Mereka menyebut acara tersebut dengan nama Labuh Saji. Biasanya setelah acara itu dilaksanakan,mereka mendapatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Sehingga mereka percaya bahwa dengan memohon kepada Penguasa Laut Kidul itu, maka hasil tangkapan ikan melimpah. Fakta ini bukan menjadi persoalan dan bukan apa yang akan kita singgung dalam pembahasan ini. Tetapi makalah ini ingin mencoba menjelaskan bahwa tindakan yang mereka lakukan itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati dan dengan kepercayaan serta keyakinan, suatu bentuk doa yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh tersebut dikemukakan, karena merupakan contoh yang khas, yang sudah mendarah daging pada masyarakat kita. Kadang-kadang kurban dipersembahkan, kadang-kadang pula tidak. Sehingga timbul pertanyaan : Apakah doa-doa tersebut dipersembahkan kepada bentuk suatu intelegensia? Ataukah hanya merupakan suatu alat saja untuk memusatkan perhatian pada tujuan yang dikehendaki tampak menyadari bahwa dengan pemusatan perhatian itu ada mekanisme mental tertentu yang terangsang dan bekerja secara otomatis? Coba pikirkan dan pertimbangkan kemungkinan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada agama-agama tertentu doa ditujukan kepada orang suci dari pada Tuhan sendiri. Pernah terjadi seorang pemuka agama yang tak bermoral sengaja mendorong dan merangsang kecenderungan ini dengan demikian menambah jumlah doa, jumlah kuban, jumlah prestise dan jumlah pendapatannya sendiri. Sejarah telah mengungkapkan bagaimana para imam-imam Mesir telah mendorong umatnya untuk kembali pada dewa-dewa kuno sesudah Amenhotep memproklamasikan adanya satu Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian mereka akan memperoleh kekuasannya kembali. Tetapi ini bukan suatu alat politis saja untuk mendapatkan kekuasaan, tetapi juga merupakan usaha untuk mendapatkan lebih banyak orang. Kalau Dewa atau Tuhannya diperbanyak, dengan sendirinya jumlah kurban yang dipersembahkan akan menigkat juga. Sekarang ini di India dan Tiongkok orang berdoa pada Buddha, di Rusia orang berdoa pada Santo Sergius, di Italia orang berdoa pada Santo Anthony dan semua orang Kristen berdoa pada keluarga Kudus, Yesus, Santo Yosep dan Bunda Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebagian besar negara-negara yang menganut agama Islam biasanya berdoa kepada Nabi Muhammad SAW dan juga kepada para Waliyullah. Sesungguhnya ada beratus-ratus lain lagi, yang menjadi tumpuan doa manusia di dunia ini. Segala bentuk permohonan dan doa diajukan dengan ketulusan hati, dengan mengharapkan bahwa mereka ini akan memahami keadilan dan kebenaran permintaan tersebut, bersimpati dan memahami motivasi ia yang sudah berdoa dan akan mempergunakan kekuatan atau pengaruhnya untuk membantu nmenyediakan keuntungan materi yang diminta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sudah jelas bahwa bentuk doa yang paling umum, yaitu doa meminta materi ada yang memang langsung ditujukan kepada Tuhan, tetapi lebih banyak doa ditujukan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap mempunyai posisi untuk mengabulkan permohonan itu, dan bisa dibujuk untuk melakukannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat jauh kedalam hati dan batin orang-orang tersebut kita akan menyadari bahwa doa itu seringkali bersifat kekanak-kanakan sekali. Mungkin dapat kita raba sedikit mengapa ada doa yang dikabulkan dan ada doa yang tak pernah dikabulkan. Doa itu bagaikan anak-anak yang meminta sesuatu pada orang tunya, sesuatu yang betul-betul mereka inginkan. Kadang-kadang mereka mendapatkan apa yang mereka minta, kadang-kadang juga tidak. Tetapi anak-anak itu tak pernah menyadari sepenuhnya mengapa? Anak-anak itu tak mempunyai pengertian dan keberanian yang cukup untuk berusaha mencari dan mendapatkan sendiri apa yang mereka harapkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETUKLAH PINTU GUDANG PERSEDIAAN UNIVERSAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tujuan ajaran Ma’rifatullah adalah: mengajarkan manusia untuk mengangkat dirinya sendiri, keluar dari segala ketergantungan yang kekanak-kanakan itu. Mengajarkan mereka untuk mempergunakan hukum sunatullah itu dengan tenaga dan kemampuan diri sendiri. Murid-muridnya dilatih berkonsentrasi, memusatkan perhatian pada suatu objek tertentu dan tetap mempertahankan perhatian itu. Daya ingatan mereka dilatih dan diusahakan sedapat mungkin membuang segala hambatan dan ide-ide yang salah yang sudah mendarah daging pada diri mereka. Murid-murid ini ajari untuk mengajukan permohonan materi pada Sang Maha Kosmik atau Alam Ketuhanan. Gudang persediaan yang besar sekali. Diajarkan teknik-teknik tertentu yang kalau digunakan dengan cara yang baik akan berhasil mengetuk pintu gudang persediaan yang universal ini. Murid-murid ini diajari bersikap sebagai seorang dewasa menghadapi problema kebutuhan dan persediaan, diberi petunjuk tentang metode doa permuhonan materi yang praktis. Kalau seluruh hakekat problema itu sudah dipahami sedalam-dalamnya maka problema itu dapat diselesaikan dengan baik dan memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang diajarkan itu bukan untung-untungan, lempar saja, siap tahu akan kena. Asalkan permohonan itu tidak terlalu egoistis, atau setidak-tidaknya agak egoistis saja, dan apa bila dikabulkan tidak menggangu atau merugikan orang lain, maka permohonan ini bisa mencapai bidang materi yang diharapkan. Teknik ini akan dibahas dalam makalah ini dalam bentuk sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERMINTAAN AKAN TERANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia kema’rifatan konsep doa yang lebih tinggi tarafnya, yaitu berdoa mengharapkan terang, mengharapkan instruksi dan penerangan yang dapat membantunya mempererat hubungannya dengan Allah Sang Maha Cahaya. Ini adalah aspirasi, dan selalu ditujukan pada Allah sendiri, atau kepada sesuatu bentuk Yang Maha, Maha segala-galanya. Hal ini diisyaratkan dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah jadikanlah Cahaya dalam qalbuku, Chaya dalam kuburku, Cahaya dalam pendengaranku, Cahaya dalam penglihatanku, Cahaya dalam rambutku, Cahaya dalam kulitku, Cahaya dalam dagingku, Cahaya dalam darahku, dan Cahaya dalam tulang-tulangku. Dan Cahaya dihadapanku, Cahaya dibelakangku, Cahaya di sebelah kananku, Cahaya disebelah kiriku, Cahaya diatasku dan Cahaya dibawahku. Ya Allah, tambahkanlah Cahaya kepadaku, berikanlah Cahaya kepadaku dan jadikanlah Cahaya bagiku dan jadikanlah diriku Cahaya”. ( HR Bukhori &amp; Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permohonan akan Terang atau Cahaya juga difirmankan oleh Allah dalam Al Qur’an, yaitu :&lt;br /&gt;“ Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami Cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui Segala sesuatu “. ( QS At-Tahrim 66 : 8 ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang sudah ma’rifatullah berdoa dengan cara ini. Setiap manusia pernah merasakan keinginan, atau kerinduan akan aspirasi, dengan tingkatan pengertian yang berbeda-beda, pada saat dan peristiwa yang berbeda-beda pula. Ada yang memohon bantuan menyelesaikan persoalan moral atau spritual, ada yang memohon dibantu meningkatkan pertumbuhan spritualnya, ada yang memohon dilindungi dan dikuatkan dalam menghadapi godaan, ada yang memohon kebijaksanaan dan demikian seterusnya. Semua ini terus terdengar setiap saat di seluruh dunia bagaikan suatu chorus yang bisa disebutkan sebagai: “doa permohonan dari humanitas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspirasi inilah, permohonan bantuan spiritual yang tulus, yang akan menghasilkan respons dari Yang Maha Tinggi, dalam bentuk pengajaran yang berupa Wahyu dan Petunjuk. Semakin keras dan semakin kuat teriakan kemanusiaan ini bergema, semakin banyaklah petunjuk dan ungkapan spiritual yang merupakan salah satu wadah yang membantu menyalurkan petunjuk dan bimbingan sebagai respons dari hati dan jiwa yang dengan tulus memohon aspirasi, ribuan orang, jutaan orang diaman pun di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDITASI / TAFAKUR – PENYESUAIAN DENGAN ELEMEN-ELEMEN YANG LEBIH TINGGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ketiga dari doa disebut meditasi atau tafakur. Dengan perantaraan meditasi atau tafakur ini para murid mencari persesuaian nada dengan elemen-elemen dirinya sendiri yang jauh lebih tinggi. Meditasi sesungguhnya juga merupakan doa, doa permohonan meminta bantuan dan petunjuk, sama dengan bentuk pertama dari doa yang kita bahas sebelum ini. Tetapi ada satu perbedaan yang utama. Pada meditasi bantuan yang diminta biasanya tidak ditujukan untuk dirinya sendiri. Kalaupun ia berdoa untuk dirinya sendiri, maka permohonan itu hanyalah permohonan untuk mendapatkan kekuatan atau kebijaksanaan, keahlian sedemikain rupa sehingga ia dapat membantu orang lain, sesama manusia.&lt;br /&gt;Kita bisa memperoleh apa saja yang kita inginkan dalam hidup ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita sudah mengetahui ketiga jenis doa yang dipanjatkan oleh 99 persen manusia di muka bumi ini. Bukanlah wewenang kita untuk menilai dan menentukan kualitas doa-doa itu dan menentukan doa itu baik atau buruk. Tetapi semua doa itu mempunyai satu elemen yang sama : Semuanya ditujukan kepada yang lain, memohon bantuan. Dengan kata lain: ia yang berdoa mengakui bahwa ia sendiri tak mampu melakukannya. Disinilah letak kesalahan yang utama. Sesungguhnya tak ada yang tak mungkin kita dapatkan, tak ada yang tak mungkin kita lakukan. Terserah pada kita untuk mencari tahu bagaimana caranya untuk mendapatkannya, lalu berkemampuan keras dan teguh untuk berusaha mendapatkannya sampai akhirnya memang berhasil kita dapatkan. Marilah kita bahas konsep doa menurut pandangan orang-orang yang sudah ma’rifatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami doa yang sesungguhnya merupakan suatu kreasi mental, maka kita harus menyadari lebih dahulu bahwa doa itu merupakan proses yang ilmiah. Doa hanya bisa dilakukan kalau semua elemen-elemennya memang disediakan sebagaimana seharusnya. Kalau sampai doa itu gagal, maka berarti satu atau beberapa elemen masih kurang. Mungkin juga prosesnya sendiri yang kurang memenuhi syarat. Dapat diambil contoh misalkan seseorang yang ingin membuat kue. Untuk membuat kue yang baik kita memerlukan tepung dan air, susu dan beberapa butir telur, ditambah mentega dan penyedap. Kalau kita sudah menyediakan bahan-bahan tersebut bukan berarti kita sudah mempunyai kue. Kalau kita sendiri tidak tahu caranya mengolah bahan-bahan itu maka tak akan terbentuk suatu kue. Misalkan kita sudah tahu bagaimana caranya mencampur semua bahan-bahan tersebut dengan perbandingan dan urutan yang tepat. Sekarang adonan itu harus dibakar. Pada saat itu panas yang memegang peranan. Panasnya harus tepat dan lamanya memanaskan pun harus tepat pula. Kalau terlalu panas, kuenya gosong. Kalau kurang panas, kue tak dapat berkembang. Jadi bahan saja belum berarti apa-apa. Dibutuhkan juga pengetahuan yang cukup dan keahlian yang mahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa seorang yang sudah ma’rifatullah tak kalah kompleksnya. Tetapi kalau kita sudah tahu bagaimana caranya, sesungguhnya hal itu mudah saja. Sesederhana kompleksnya pada pandangan pertama. Tetapi sayangnya tak semua orang berhasil menguasainya. Kalau kita belajar masak kue dan ikut membantu mengocok telur dan mencampur bahan, maka sebentar saja kita sudah akan menguasai teknik memasak kue tanpa melupakan sesuatu bahan atau melewati suatu prosedur. Tetapi kalau kita menghadapi bahan pikiran yang harus disaring dan energi psykhis yang harus dipakai untuk membakar kue itu, maka prosedurnya tampak jauh lebih kompleks dan sulit. Tetapi sekali lagi yang perlu ditekankan, prosedur itu tidak sulit, sungguh-sungguh tidak sulit. Kalau kita sudah menguasainya, maka sama sederhananya, bagaikan orang yang berenang ataupun bersepeda. Bukankah prosedur itu merupakan suatu keajaiban tersendiri bagi mereka yang belum bisa? Mula-mula akan dijelaskan apa saja yang kita butuhkan untuk berdoa, dan sesudahnya akan diceritakan apa yang tak boleh dilakukan. Karena itulah kenyataannya, banyak hal-hal yang dilarang, yang tak boleh dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOA ADALAH VISUALISASI YANG KREATIF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apabila Rasulullah berdoa, beliau mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya “ Di dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau menyuruh para sahabatnya untuk melkukan hal itu dan menganjurkannya “ ( HR Ibnu Majah )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sebutkan petunjukmu sebagai petunjuk jalan dan kelurusan sebagai kelurusan tujuan, karena keterkabulan mengikuti penggambaran. Maka barang siapa yang penggambarannya paling baik kepada Al Haq, doanya akan terkabul “ ( HR Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Keabsahan penggambaran mengikuti ilmu yang benar dan kesaksian ( syuhud) yang sahih. Karena itu Rasulullah SAW bersabda “ Kalau kamu mengenal Allah, niscaya doamu dapat menggerakkan gunung “. ( HR Ibnu As Sunni )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa sering juga disebut visualisasi yang kreatip. Semua orang sering, atau setidak-tidaknya pernah memvisualisasi sesuatu, beberapa kali sehari. Ada yang lebih sering, ada yang lebih jelas, ada yang kurang, ada yang samar-samar. Rachmaninoff seorang pianis terkenal, pernah mengatakan bahwa sebelum main di panggung setiap nomor yang harus dimainkannya itu sudah dimainkannya dalam pikiran malam sebelumnya. Ia bisa mendengar setiap not dan tahu dimana setiap jari harus dihentakkan tanpa ada piano atau balok not didepannya. Ini merupakan visualisasi yang luar biasa, teliti dan jelas. Untuk bisa melakukannya dibutuhkan konsentrasi. Hasilnya sungguh-sungguh tak ternilai harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang arsitek yang baik sudah membayangkan rumah yang sedang direncanakannya sebelum ia mulai menggambar segarispun. Setiap kloset, setiap tangga sudah ditempatkan dalam visualisasinya itu, padahal gambarannya juga belum digambar. Tenaga-tenaga profesional, pemusik, arsitek dan perencana lainnya, semuanya pandai membayangkan sesuatu, memvisualisasikan sesuatu didalam pikirannya. Tetapi visualisasi itu terbentuk karena sesuatu kebutuhan, baik emosional ataupun fisik yang memang sudah nyata mereka hadapi. Arsitek akan diberi upah, pemusik sedang menghadapi konser, pengusaha harus menjual barangnya. Yang harus kita pelajari adalah memvisualisasikan sesuatu tanpa ada sesuatu kebutuhan yang memaksamu untuk mengambil tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visualisasi tidak mengandung rahasia apapun. Semua orang mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Tetapi kita harus belajar membayangkan sesuatu sedemikian rupa sehingga apa yang kita bayangkan itu cenderung membentuk dirinya sendiri, memperlihatkan diri baik sebegai objek ataupun sebagai peristiwa dalam dunia fisik. Bagi seorang pemusik atau seorang arsitek, prosedur ini sudah merupakan prosedur sehari-hari. Yang satu sedang memainkan piano concerto dan yang lain sedang mendisain rumah. Tetapi kalau kita tak memiliki piano dan tak memiliki meja gambar,dan juga belum memilki keahlian untuk mempergunakannya maka mau tak mau kita harus mencari metode lain. Tekniknya sederhana sekali dan dapat gunakan untuk memecahkan pelbagai macam persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebelum kita berusaha menguasai proses ini sebaiknya kita mendalami lebih dahulu hukum-hukum yang ada kaitannya dengan proses itu sendiri. Pertama-tama kita harus tahu dengan jelas dan tepat apa sebetulnya yang akan kita manifestasikan. Kinginan kita tidak bisa menjangkau pelbagai kebutuhan sekaligus. Cari dulu kebutuhan yang paling utama, lalu objek yang primer ini kita manifestasikan lebih dahulu, diberi suatu eksistensi fisik. Kalau ini sudah berhasil baru kita melanjutkan proses dengan objek yang berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran semua orang selalu dipenuhi oleh pelbagai pikiran yang tak ada kaitannya satu dengan yang lainnya, tak teratur dan jerat menjerat. Jadi pikiran ini kita bereskan terlebih dahulu, jernihkan pikiran itu sedemikian rupa sehingga hanya ada satu pikiran saja yang dominan, pikiran tentang apa yang kita butuhkan Sekarang kita sudah mempersiapkan diri dan sudah bisa mulai memvisualisasi. Cari dahulu tempat dimana kita tak akan terganggu oleh dunia luar, untuk tiga puluh menit berturut-turut. Memang visualisasinya sendiri tidak memakan waktu begitu lama, tetapi mungkin kita masih membutuhkan banyak waktu untuk menjernihkan dan mengosongkan pikiran dan menenangkan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sudah memilih tempat yang sesuai, mulailah dengan rileks. Berusahalah dengan sadar merilekskan fisik. Rilekskan dahulu jari-jari kaki, kemudian bagian tumit, naik lagi ke betis, lutut, otot-otot paha, otot-otot wajah dan otot-otot sekitar mata, otot-otot sekitar telinga dan otot-otot kepala. Semua ini membutuhkan waktu sekitar tiga-empat menit. Sesudah rileks kita akan merasa tenang, dan tenang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tibalah saatnya untuk mengalihkan perhatian ke pikiran. Memang sulit sekali bagi seorang awam untuk memperlambat jalannya pikiran dan menghentikannya begitu saja. Karena itu kita perlu mencari alat bantu. Tutuplah matamu dan melihatlah dengan mata pikiranmu. Apa yang terlihat? Suatu layar yang putih dan polos, bagaikan layar bioskop. Lihat bagaimana layar itu memenuhi seluruh ruang, warnanya putih terang. Sekarang secara sadar dan berhati-hati cobalah melihat dalam kesadaran pikiran gambaran dari apa yang memang ingin di manifestasikan. Lihatlah gambaran itu seakan-akan bendanya memang ada didepan kita. Untuk ini dibutuhkan: tujuan yang tunggal, imajinasi yang baik dan kemampuan berkonsentrasi. Semua ini tak akan datang begitu saja, itu sudah pasti. Tetapi kalau kita rajin berlatih, semakin lama semakin jelaslah apa yang kita inginkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang yang hidup, baik lelaki maupun wanita mempunyai kemampuan untuk menciptakan dalam bidang material. Tapi untuk dapat mencipta, kitan harus mau dan dapat mempergunakan alat-alat yang sudah disediakan. Yang pertama adalah kemampuan untuk memvisualisasi dan kedua adalah imajinasi. Kedua alat ini harus bekerja sama. Imajinasi harus menyediakan gambaran-gambaran, mungkin hasil rekoleksi atau ide-ide yang menciptakan kreasi baru. Gambaran-gambaran ini kemudian dilemparkan ke atas layar yang sudah tersedia, yaitu layar kesadaran kita dan tetap dipertahankan di situ. Visualisasi ini harus mempunyai daya tahan, kalau memang ingin terproyeksikan keluar dalam dunia dan peristiwa fisik. Semakin lama kita mampu menahan gambar itu semakin cepat gambar itu akan memanifestasikan dirinya. Disinilah alat ketiga harus digunakan yaitu kemampuan untuk berkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa berhenti sampai disini dan mengatakan: “sudah, hanya itu”. Dan kita memang tidak salah. Kita sudah memiliki semua bahan-bahan dasar yang kita perlukan. Tapi kita tahu bahwa masih banyak pertanyaan menanti, pertanyaan yang belum terjawabkan. Kita akan mencoba memperincinya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi beberapa orang teknik ini tampaknya terlalu sederhana. Ada lagi yang lain yang tidak percaya teknik seperti ini akan berhasil. Dengan demikian sukses sudah dimatikan sebelum mempunyai kesempatan untuk berkembang. Karena tanpa kepercayaan memang tak akan tercapai apa-apa. Kepercayaan yang teguh bahwa apa yang akan kita visualisasikan itu benar-benar akan termanifestasikan, ini adalah dasar dari seluruh proses yang diajarkan. Ada lagi yang menganggapnya sebagai suatu proses yang sederhana sekali. Mereka kurang serius dan kurang hati-hati, sehingga segalanya hanya setengah-setengah saja. Seakan-akan mencampurkan semua bahan kue dalam satu loyang tapi tak berusaha mencampurnya dengan baik-baik. Ada yang mengalami kesulitan untuk memvisualisir sesuatu, ada pula yang sulit berkonsentrasi. Jadi nyatanya doa ini sungguh tidak mudah. Tetapi kita dapat menguasainya asalkan kita rajin berlatih, berlatih dengan teratur. Tetapi di dunia ini tak ada satu keahlianpun yang bisa dikuasai dengan sempurna tanpa latihan yang teratur dan rajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA YANG KITA VISUALISASIKAN AKAN MENJADI FAKTA MATERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa detail penting yang masih harus ditambahkan lagi. Contoh: kalau misalnya tujuan kita adalah perjanjian usaha yang penting atau pembukaan usaha baru, maka cobalah membentuk gambar pada saat transaksi itu akan dilaksanakan. Dengan mempertahankan gambaran itu selama 2 atau 3 menit setiap kali, terlihat terang serta kuat sekali dalam pikiranmu sendiri, maka sesungguhnya engkau sedang menciptakan situasi yang sama dalam keadaan yang nyata. Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa situasi yang kita kehendaki itu merupakan situasi yang berkaitan dengan dunia materi. Untuk merubahnya menjadi suatu materi diperlukan energi. Semakin besar perbedaannya semakin besar energi yang diperlukan. Suatu manifestasi yang sederhana mungkin merupakan hasil dari satu meditasi/tafakur yang kreatif. Proyek yang besar mungkin memerlukan meditasi sampai seratus kali. Disini berlaku juga hukum fisik sebagaimana juga seluruh alam semesta ini&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Menciptakan suatu gambaran bisa mempergunakan berbagai macam teknik. Kita bisa membayangkan diri sendiri sebagai seorang seniman dan layar pikiran adalah kanvasnya. Sekarang gambarlah sesuka hati, dengan warna bercorak ragam apa yang terkandung dalam hati kita. Pergunakanlah seluruh imajinasi, berilah gambar itu suara dan bebauan. Kalau gambaran itu berada di luar ruangan, jangan lupa rasa panas matahari dan hembusan angin yang sejuk. Jadikanlah gambaran itu suatu yang riel, suatu yang sungguh-sungguh ada.&lt;br /&gt;Pada akhir setiap periode visualisasi, putarlah gambaran itu kedalam, proses ini hampir sama dengan proses menelan. Tetapi disini kita tak mempergunakan kerongkongan untuk menelan, tetapi mempergunakan pikiran kita. Lalu lupakan sama sekali. Jangan biarkan pikiran kita kembali lagi menguak-nguak apa yang telah kita lukiskan tadi dan jangan biarkan bayangan lukisan itu mengembara ke dalam imajinasi kita. Ini penting sekali. Kalau kita tetap mempertahankan lukisan itu seakan-akan mengikatnya dengan mental kita sendiri, maka energi yang tersimpan akan terkikis habis, energi yang diperlukan untuk memanifestasikan lukisan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memvisualisasikan objek yang kita inginkan itu secara teratur, berulang kali, maka secara tak langsung kita telah merangsang energi. Sekarang energi itu mulai bekerja. Tetapi kita sendiri harus membantu sedapat mungkin agar lukisan itu termanifestasikan dalam kehidupan yang nyata di dunia ini. Jangan duduk tenang-tenang seakan-akan hendak menantang: “Coba sekarang, manifestasikan dirimu” bantulah sedapat mungkin. Lebih mudah masuk melalui pintu yang terbuka dari pada harus menerobos pintu yang tertutup. Ingat, kita sendiri juga harus yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang kita inginkan itu memang baik dan patut dicita-citakan dan bahwa keinginanmu itu tidak akan merugikan orang lain. Ini bukan persoalan. Allah yang akan bertindak melawan segala perbuatan yang jahat dan berlawanan dengan keinginan-Nya. Memang tampaknya demikian, tetapi sesungguhnya suara hati nuranimulah yang memegang peranan. Suara hati nurani yang merasa diri bersalah akan memutuskan aliran energi. Hanya orang yang betul-betul jahat dan belum berkembang kepribadiannya sajalah yang mempunyai kemampuan untuk melawan suara hati nurani dan hambatan mental ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini kita diperingatkan agar jangan sampai kita merencanakan sesuatu dengan gegabah. Ingat cerita jin dalam botol yang akan mengabulkan tiga buah permintaan, dan ketiga-tiganya gagal total. Setiap orang mempunyai kemungkinan yang luas sekali jangkauannya dan kreasi mental kita sendiri tetap bahagia dan sukses kalau memang sesuai dengan batas-batas nilai-nilai tertentu. Mungkin bagi kita tak ada yang tak mungkin. Memang dalam zaman sekarang ini apa yang di katakan itu hampir benar. Tetapi ini bukan berarti bahwa tak ada yang tak mungkin bagi kita. Setiap orang mempunyai limitnya sendiri. Misalkan saja tiba-tiba kita mempunyai keinginan untuk menjejakkan kaki di bulan. Kita tahu ini memang bukan merupakan sesuatu angan-angan yang tak mungkin terjadi. Tetapi bagi kita itu tak mungkin terjadi. Bukankah kita hanya akan membuang-buang energi hanya utuk memuaskan suatu keinginan yang tak mungkin tercapai ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah contoh, apa akibatnya kalau hukum kreasi tidak digunakan sebagaimana semestinya. Ini adalah contoh buat kita semua : Ada seorang pekerja pabrik yang ingin mempergunakan hukum kreasi ini untuk mendapatkan uang sebesar 50.000.000 rupiah. Ia mulai memvisualisasikan apa yang diinginkannya itu setiap hari, sampai berbulan-bulan. Makin lama gambaran itu semakin jelas. Tetapi hanya itulah usahanya, ia tak berusaha melakukan tindakan apapun, tak berusaha bekerja lebih keras atau mencari akal untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Suatu hari ia tergelincir dan jatuh di atas mesin sedemikian rupa sehingga kakinya hancur. Untung sesudah dioperasi ia masih dapat berjalan memakai sepatu khusus, tetapi kakinya mulai dari pergelangan kaki telah diamputir. Perusahaan itulah yang membayar rumah sakit, membayar gaji penuh selama ia dirawat dan memperlakukannya dengan baik. Waktu ia kembali kerja ia dipanggil menghadap pimpinan ditawari uang sebanyak 50.000.000 rupiah asalkan ia tak akan menuntut lagi perusahaan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-7559333211638085130?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/7559333211638085130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=7559333211638085130' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7559333211638085130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7559333211638085130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/kekuatan-doa.html' title='Kekuatan Doa'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-8268823851818193292</id><published>2007-11-18T16:53:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T16:56:47.831-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Sembah Catur</title><content type='html'>Samengko ingsun tutur,&lt;br /&gt;Sembah catur supaya lumuntur,&lt;br /&gt;Dihin raga, cipta, jiwa, rasa kaki,&lt;br /&gt;Ingkono lamun tinemu&lt;br /&gt;Tanda nugrahing Manon,&lt;br /&gt;---oOo---&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Anakku, saat ini akan saya ceritakan mengenai adanya empat sembah, barangkali dapat bermanfaat bagi ananda. Yang pertama adalah sembah raga, lalu sembah jiwa, sembah cipta dan sembah rasa, buah hatiku. Apalagi empat sembah ini sudah engkau lalui, barangkali engkau dapat meraih anugrah dari Hyang Kuasa.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;=== Sembah Catur ===&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Sembah ini dapat engkau gunakan baik untuk bekerja mengarungi kehidupan, olah bathin ataupun kesaktian raga. Tapi saat ini, baiklah aku akan ulas dengan sepintas keempat sembah tersebut dengan analogi "kerja".&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Inti dari sembah raga adalah disiplin - sarengat anakku. Engkau disiplin dalam belajar, lalu setelah tamat belajar, engkau mungkin beberapa kali pindah tempat kerja. Kesemuanya itu kuncinya adalah disiplin diri. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Suatu saat, engkau harus memilih jalan atau profesi apa yang engkau tekuni. Ibarat dokter umum yang mempelajari segalanya dan mengobati berbagai macam penyakit  - makin dewasa - engkau harus makin memilih jalan spesialis apa yang engkau akan ambil - bisa diibaratkan itu tarekat.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Kalau engkau telah memilih jalan pekerjaan ... dan engkau terus-menerus melakukan pekerjaan yang sama dengan berbagai variasinya, maka disana engkau akan menemukan "hakikat" serta dapat menjiwai pekerjaanmu. Dan jika hakikat tersebut engkau hujamkan terus ke dalam kalbu, disertai cinta kasih terhadap sesama ... maka "rasa" dalam dirimu akan tumbuh - dalam "rasa" engkau akan merasakan kehadiran dan kebesaran Sang Kuasa.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Dengan urutan-urutan itu, disiplin kerja, memilih profesi yang tepat, menekuni profesi dengan hati lalu menyimpan pengetahuan ke dalam "rasa" bathin, mudah-mudahan anugrah dari Gusti Allah dapat engkau terima, anakku.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Semoga Bermanfaat.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-8268823851818193292?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/8268823851818193292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=8268823851818193292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8268823851818193292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8268823851818193292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/sembah-catur_18.html' title='Sembah Catur'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2530541680602336519</id><published>2007-11-18T15:09:00.001-08:00</published><updated>2007-11-18T16:55:59.086-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Jaman Edan</title><content type='html'>Mensikapi jaman edan seperti sekarang ini, memang sulit. Budi pekerti telah     ditinggalkan oleh sebagian besar warga Nusantara. Ungkapan hanya wacana belaka,     lain dimulut lain pula dihatinya. Banyak orang yang sombong - bekerja tanpa     sembahyang, banyak orang yang bohong - terus bersembahyang tanpa usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       === Jaman Edan ===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebentar lagi kita akan masuk masa transisi, setelah rangkaian krisis ekonomi, politik, lalu krisis legitimasi dan krisis motivasi. Di tengah gejolak ini, akan     makin banyak orang yang serong hatinya. Mulai dari para pemimpin negara, yang     sudah mencuri start untuk kampanye. Legislatif lebih banyak bicara akan tetapi     miskin karya. Mahkamah Agung saling bantah dan lomba atarung dengan Komisi     Yudisial, di media massa. SUNGGUH-SUNGGUH EDAN dan memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya yakin banyak orang yang hatinya "miris". Ikut edan tidak tahan, karena     masih punya setitik nurani. Akan tetapi kalau tidak ikut geraknya jaman, jadi     tidak pernah mendapatkan bagian kenikmatan hasil pembangunan, malah makin     melarat, mengalami hidup yang sangat berat, bahkan hutang-hutangpun terus     menjerat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Masalah yang dihadapi oleh bangsa semakin dahsyat, apalagi kita masih belum     punya pimpinan yang kuat. Janji-janji yang diungkap, hanya memberikan ketenangan     sesaat, tapi lama kelamaan, masyarakat kok tambah nekat, bahkan menjadi bejat.     Pimpinan lain eeehh... berkoar dikoran dan senangnya hanya menghujat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara-sodaraku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tidakkah kau lihat, bencana rusaknya tatanan masyarakat, bukan hanya ulah     manusia bejat, akan tetapi bencana alampun kita dapat, karena Sang Kuasa    menghendaki agar kita tetap ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di masa seperti ini, baiknya kita selalu berdoa memasrahkan diri untuk     menerima kehendak illahi. Berdoa secara pasif artinya memohon ampun dan memuji     kebesarannya, dan secara aktif, bekerja sesuai dengan hukum-hukum, aturan,     dharma yang ditetapkNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sadarlah ... sebahagia-bahagianya orang yang lupa.... akan lebih bahagia     nantinya ... orang yang selalu 'eling' dan tetap waspada. Eling agar dapat terus     membangun kebaikan, dan selalu waspada terhadap begundal-begundal yang selalu     mengail diair keruh, menjarah harta pusaka Nusantara, dan apabila kita sudah     kisruh, mereka akan hengkang ke negeri seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ingatlah karangan pujangga besar Ronggowarsito,  amenangi jaman edan, ewuh aya   ing pambudi, melu edan nora tahan, yan tan melu anglakoni, boya kaduman melik,     kaliren wekasan ipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali luwih begja     kang eling lan waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebentar lagi, tanda perubahan akan muncul, Gunung Merapi Meletus, Laharnya     Berbau Amis. Lalu apa yang harus kita lakukan agar Tanah dan Masyarakat     Nusantara Selamat ?  Gusti Allah diyakini tidak akan membiarkan orang-orang yang 'eling' dan 'waspada', terseret oleh derasnya Jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia akan memberikan petunjuk agar kita selamat, pada saat yang tepat dan     melalui orang yang tepat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam hormat,&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2530541680602336519?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2530541680602336519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2530541680602336519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2530541680602336519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2530541680602336519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/aman-edan.html' title='Jaman Edan'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-5477685232831622695</id><published>2007-11-18T15:07:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T16:55:16.702-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Sembah Catur</title><content type='html'>Samengko ingsun tutur,&lt;br /&gt;    Sembah catur supaya lumuntur,&lt;br /&gt;    Dihin raga, cipta, jiwa, rasa kaki,&lt;br /&gt;    Ingkono lamun tinemu&lt;br /&gt;    Tanda nugrahing Manon,&lt;br /&gt;    ---oOo---&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Anakku, saat ini akan saya ceritakan mengenai adanya empat sembah, barangkali dapat bermanfaat bagi ananda. Yang pertama adalah sembah raga, lalu sembah jiwa, sembah cipta dan sembah rasa, buah hatiku. Apalagi empat sembah ini sudah engkau lalui, barangkali engkau dapat meraih anugrah dari Hyang Kuasa.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    === Sembah Catur ===&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Sembah ini dapat engkau gunakan baik untuk bekerja mengarungi kehidupan, olah bathin ataupun kesaktian raga. Tapi saat ini, baiklah aku akan ulas dengan sepintas keempat sembah tersebut dengan analogi "kerja".&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Inti dari sembah raga adalah disiplin - sarengat anakku. Engkau disiplin dalam belajar, lalu setelah tamat belajar, engkau mungkin beberapa kali pindah tempat kerja. Kesemuanya itu kuncinya adalah disiplin diri. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Suatu saat, engkau harus memilih jalan atau profesi apa yang engkau tekuni. Ibarat dokter umum yang mempelajari segalanya dan mengobati berbagai macam penyakit  - makin dewasa - engkau harus makin memilih jalan spesialis apa yang engkau akan ambil - bisa diibaratkan itu tarekat.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Kalau engkau telah memilih jalan pekerjaan ... dan engkau terus-menerus melakukan pekerjaan yang sama dengan berbagai variasinya, maka disana engkau akan menemukan "hakikat" serta dapat menjiwai pekerjaanmu. Dan jika hakikat tersebut engkau hujamkan terus ke dalam kalbu, disertai cinta kasih terhadap sesama ... maka "rasa" dalam dirimu akan tumbuh - dalam "rasa" engkau akan merasakan kehadiran dan kebesaran Sang Kuasa.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Dengan urutan-urutan itu, disiplin kerja, memilih profesi yang tepat, menekuni profesi dengan hati lalu menyimpan pengetahuan ke dalam "rasa" bathin, mudah-mudahan anugrah dari Gusti Allah dapat engkau terima, anakku.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Semoga Bermanfaat.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-5477685232831622695?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/5477685232831622695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=5477685232831622695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5477685232831622695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5477685232831622695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/sembah-catur.html' title='Sembah Catur'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-6372364691761642212</id><published>2007-11-18T14:57:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T16:53:08.933-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Serat Kalatida</title><content type='html'>Kalatida adalah salah satu karangan, dari pujangga besar Ronggowarsito. Arti kata kala adalah waktu, dan tida - samar-samar. Lalu bila diterjemahkan secara bebas akan berarti jaman samar-samar atau jamantransisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara siang ke malam, malam ke siang, dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain, selalu ada masa transisi, dimana sendi-sendi tata laksana lama menjadi usang, sementara yang baru belum juga mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkecuali keadaan sekarang ini, tatanan orde baru masih kuat tertanam, sementara orde reformasi tak kunjung mendapatkan bentuknya. Indonesia yang kita cintai ini, sedang berada dalam masa samar-samar, laksana air sungai yang tiba dimuara, sudah tak tawar lagi tapi belum juga terasa asin, tak ada panutan, tak ada pegangan hukum. Ditambah lagi budi pekerti yang seakan dikesampingkan, wanita telah hilang kewanitaan, tiada rasa malu, membuka rahasia tempat tidur, mengejar popularitas. Adakah obat penawar untuk masyarakat sakit seperti ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ===K.A.L.A.T.I.D.A===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman edan seperti sekarang ini, budi pekerti memang telah dipinggirkan, pemuka agama melempar sorbannya, kaum ningrat susah hati dikejar kejar     karena korupsi, pedagang berteriak berkeluh kesah karena untungnya makin berkurang, rakyat jelata makin menderita. Edannya lagi, seluruh anak bangsa disuguhi tontonan perusak budaya  artis mesum, kawin cerai, bunting tanpa ayah, selingkuh, begitu bangga penuh dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusak moral bangsa ini,  legislatif buka mulut tanpa hormat, yudikatif benteng keadilan jadi sarang calo perkara, eksekutif hanya wacana tanpa karya, kata bijak hanya menjebak, habis sudah rakyat jelata, tak putus dilanda derita. Orang kecil tak tahan lagi dengan rasa lapar, berebut hanya untuk mencari makan, konglomerat jahat, pat gulipat, milyaran diembat, dibantu oleh pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang jaman sudah edan, tidak ikut edan, jadi nggak kebagian, bahkan jadi melarat, jujur jadi hancur, sang licik menepuk dada, laksana tak terkena hukum karma. Alam laksana kalah dengan angkara murka manusia. Rasanya, kalau ikut berbuat papa nista, tidak tahan  karena masih ada setitik nurani, masih percaya akan kuasa Sang Pencipta, yang sudah berkali-kali memberi peringatan berupa rangkaian bencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terserah  pasrah pada kehendak Hyang Widhi, hanya bisa berdoa secara pasif, dengan memujaNya, dan secara aktif dengan melakukan apa yang diperintahkanNya. Allah tetap akan mengasihi umatNya yang sadar, karena sebahagia-bahagianya orang yang lupa, akan lebih bahagia orang yang tetap eling dan waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti akan tiba saatnya, Nusantara akan berubah, setelah bencana tanpa     henti, tsunami, pagebluk flu burung, pagi sakit sore sudah mati,  sampai     pada puncaknya nanti, gunung merapi meletus, laharnya berbau amis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saat yang kita tunggu… krisis ekonomi, krisis politik, krisis legitimasi dan akhirnya krisis motivasi … terpuruk ketitik nol ... ke dalam kegelapan yang sangat dalam... sampai nanti tiba saat transisi berikutnya, fajar menyingsing di ufuk timur, kita songsong agama budhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalatida = Saat Samar-Samar=Senjakala=SandhyaKala=Waktu yang tepat untuk Berdoa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-6372364691761642212?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/6372364691761642212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=6372364691761642212' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6372364691761642212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6372364691761642212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/serat-kalatida.html' title='Serat Kalatida'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-6082660919279106919</id><published>2007-11-18T14:55:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T17:05:43.214-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Ilmu Ditangan Sang Pendendam</title><content type='html'>Kalau anda pergi ke Bali, tentu anda pernah melihat baju kaos yang disablon dengan gambar yang menyeramkan. Jika anda iseng bertanya gambar apakah itu ? Sebagian besar pedagang menjawab itu gambar rangda. Berambut putih, botak, taring panjang, lidah menjulur, mata merah membelalak – kreasi yang menyeramkan. Rangda artinya adalah janda, kenapa digambarkan seperti itu ? Berikut kilasan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada jaman kerajaan Erlangga, menurut kitab “Cerita Mpu Baradah”, ada seorang gadis bernama Nyi Sadya, cantik jelita tinggal bersama seorang pedagang nasi. Gadis ini tidak memiliki asal-usul yang jelas, akan tetapi Sang Prabu jatuh cinta, terkena panah asmara, dan memboyongnya ke istana. Singkat cerita Nyi Sadya hamil. Pada saat “ngidam”, ia konon meminta 7 jenis hati manusia dari berbagai golongan (wangsa). Karena permintaannya itu, Nyi Sadya diasingkan ke hutan Girah, menjadi seorang janda kembang, dibalut kesepian dan dirundung dendam. Sang janda melahirkan seorang putri yang cantik jelita, Dyah Ratna Manggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketika dewasa, Sang Dyah Ratna Manggali tak ada yang berani meminangnya, karena ibunya yang menakutkan itu. Sang ibu memiliki kesaktian dari kitab Pragolan yang dipelajarinya. Dan kesaktian yang tumbuh dihati yang penuh dendam, menjadikan ilmu tersebut sebagai bencana. Dendam menyebabkan surut wibawa Prabu Erlangga, sehingga harus menggunakan tipu muslihat untuk mengalahkan Sang Janda. Sang Janda tahu akan taktik itu, akan tetapi demi kebahagiaan sang anak, dibiarkannya sang menantu tahu letak kesaktiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam sejarah manusia, ilmu berada di tangan manusia pendendam, akan menimbulkan malapetaka. Si janda kembang dengan dendam dan kesaktian menjadi sosok yang menakutkan. Karena itulah di Bali, sang janda atau rangda, digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Kata-kata “rangda” seolah menyihir kita. Ada gambaran yang menakutkan jika menyebut kata “rangda”. Cerita lengkap tentang hal di atas bisa anda baca/saksikan di drama dengan lakon Calon Arang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rangda dikonotasikan sesuatu yang menyeramkan. Tetapi dibalik itu, tersimpan cerita tentang kemandirian seorang wanita yang tertindas dan disingkirkan. Wanita cantik tadinya lemah dan tertindas, berubah menjadi sosok yang berilmu tinggi, berkarisma, dan mampu membangun “kerajaannya” secara mandiri, dan membuat bergetar sebuah kerajaan besar. Memiliki laskar patriotik yang bersedia menikam tubuhnya sendiri dengan keris seperti yang ditampilkan pada lakon calon arang. Tanpa berfikir dua kali mau melaksanakan perintah Sang Janda. Sang laskar siap mengikuti segala perintah dan keputusannya. Ilmu dan pengaruhnya tetap hidup beratus tahun kemudian dan selalu memberi inspirasi para seniman untuk berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi sehebat-hebatnya Rangda dari Girah itu, dia tetaplah seorang ibu, yang sangat sayang dengan putrinya. Sang Janda akhirnya mati, berkorban demi putri yang dicintai …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rangda hanyalah sebuah sanepan atau perlambang. Lambang sang lemah yang tertindas dan terpinggirkan mampu menjadi pemimpin karismatik, melalui ilmu pengetahuan. Lambang bagaimana dahsyat efek kerusakan yang disebabkan oleh ilmu ditangan seorang pendendam. Lalu lambang cinta seorang ibu, yang rela berkorban demi anaknya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lakon Calon Arang, ternyata berisi perlambang, yang dapat memberi kita pelajaran yang berharga tentang arti kehidupan. Rangda sekarang dijadikan tontonan reguler di Ubud dan Sukawati. Kalau anda menonton pertunjukan, tanpa dibekali tentang sejarah terciptanya tokoh rangda, maka anda tak pernah dapat menarik “mutiara” dibalik cerita dan lakon seru dan menyeramkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-6082660919279106919?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/6082660919279106919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=6082660919279106919' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6082660919279106919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6082660919279106919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/ilmu-ditangan-sang-pendendam_18.html' title='Ilmu Ditangan Sang Pendendam'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-583974528697138871</id><published>2007-11-18T14:53:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:55:21.617-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'></title><content type='html'>Kesedihan Susilo Bambang Yudhoyono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedih saat hadir pada peringatan Hari Bumi International di Jakarta, Sabtu (22/4) kemarin. Ia mengaku prihatin hutan di Indonesia mengalami kerusakan lebih dari 2 juta hektar per tahun, akibat penebangan liar dan kebakaran hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ungkapan keprihatinan ini semoga bukan hanya terbatas untuk keperluan sambutan pada peringatan Hari Bumi, akan tetapi benar-benar merupakan keinginan untuk TOBAT walau agak terlambat. Mudah-mudahan kepedihan itu muncul dari kesadaran bahwa Sang Kuasa tidak akan mengubah nasib suatu kaum, apabila dia sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tobat yang efektif memerlukan ilmu, lalu kesadaran akan kepedihan yang akan menimpa, dilanjutkan dengan tindakan. Tanpa ilmu, kesadaran akan kepedihan dan mau untuk bertindak dan bekerja keras, maka ucapan memelas dan sederet fakta-fakta yang diungkap Sang Hamengkubuwono, hanya merupakan kecengengan dan “dalih” orang yang tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saat ini, saya “bertapa” di tengah hijaunya sawah di sebuah desa kecil di Pulau Dewata, memberanikan diri untuk menulis pemikiran. Bukan untuk menyombongkan diri, akan tetapi semata-mata melaksanakan kewajiban karena mengetahui sesuatu, barangkali bermanfaat jika diketahui oleh orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Sang Kuasa, dijadikan pembesar negara, gubernur, bupati dan bahkan bisa pula digunakan oleh para kepala keluarga. Saya hanya melaksanakan kewajiban, untuk mardi siwi atau mendidik “anak”, menyiarkan mutiara-mutiara dari sastra nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tulisan yang disusun, akan berguna bila Tobat Sang Hamengkubuwono benar-benar keluar dari hati nurani yang terdalam. Tapi akan menjadi mantra penimbul petaka jika Sang Amangkurat masih dalam tataran wacana, bukan dari renungan kalbu yang terdalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara-sodara para pemegang amanah kekuasaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika anda menonton wayang, tolong jangan hanya menyimak lakon-nya, tapi cobalah meresapi suasana fisik, pemikiran dan ruh yang menggerakkan tontonan itu. Dengan itu, mudah-mudahan anda merasakan adanya kesatuan mistik istimewa di dalamnya. Amati dan resapkan sarana fisik yang digunakan seperti kelir, blencong atau lampu, kothak tempat simpan wayang, kepyak dan dalang, resapi “serunya” lakon yang dibawakan dan “ruh” dari tontonan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah itu, wahai para pemimpin bangsa, resapkan – analogikan tugas atau swadharma anda sebagai seorang pemimpin dan rakyat yang menderita dan menunggu anda mengayomi mereka. Menunggu anda, memayu hayuning buwono, membuat dunia ini menjadi rahayu. Jika anda meresapi dengan ‘rasa’, maka anda akan menemukan kesatuan mistik, yang menguasai dalang beserta semua gerakannya. Gerakan dalang disebabkan oleh wayang. Bicara dalang adalah karena wayang yang sedang dimainkan. Sedangkan keberadaan wayang  berasal dari Sang Abadi. Lalu masih ada yang perlu anda renungkan lebih dalam. Dalang menguasai wayang beserta semua gerakannya. Gerakan para wayang disebabkan oleh dalang, bicara wayang datang dari mulut sang dalang, semua tingkah laku wayang datang dari dalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalang dan wayang, harus saling bantu membantu. Keduanya tidak akan pernah menjadi nyata, jika tak ada niat yang tulus untuk bekerja sama. Niat tulus tersebut pertama-tama harus dimulai dari Sang Dalang. Demikian pula Gusti dan Kawula, tanpa saling bantu-membantu keduanya tidak menjadi nyata. Apatah bisa Islam menjadi besar, jika Allah dan Muhammad tidak bekerjasama ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anakku Sang Amangkubumi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketahuilah baik-baik, bahwa engkau sudah mengemban anugerah kedudukan dari Sang Kuasa. Karena itulah, harus disadari bahwa engkau adalah kawula Sang Gusti Allah. Setiap kawula adalah merupakan bayangan, yang terikat pada Hyang Widhi dan harus menurut perintah Dia. Segala pikiran, perkataan dan perbuatanmu itu, hendaklah engkau renungkan dan gali dari nurani yang paling dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kau harus dapat dengan jelas membedakan, antara logika pikiran dan nurani. Nurani untuk memayu hayuning buwono, membuat seluruh rakyat atau kawula Nusantara ini sejahtera. Jangan dicampur dengan keinginan-keinginan kotor untuk mempertahankan popularitas ataupun melanggengkan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tan samar pamoring sukma,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sinukmaya winahya ingasepi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sinimpen telenging kalbu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pambukaning warana,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tarlen saking liyep alaping ngaluyup,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pinda pesating supena,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sumusuping rasa jati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    [Serat Wedhatama, Pangkur]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Nurani itu timbul saat kita berada dalam keadaan “sepi”. Sepi bisa berarti dalam keadaan hening saat berdialog dengan bathin sendiri, juga bisa diartikan sebagai sepi dalam pamrih pribadi. Pemahaman yang didapat ketika menyepi itu, lalu simpanlah di dalam bathin yang terdalam. Yakinlah dalam melaksanakan tugas. Jangan dipengaruhi oleh “para ular” yang mengelilingimu. Dengan keteguhan dan keyakinan, maka Sang Kuasa niscaya akan membuka “tirai” atau warana atau solusi terhadap masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Solusi itu akan didapat ketika engkau terjun menghadapi pertentangan, dan akan melesat, menembus kesadaran terdalam, bagai anak panah, merasuk menyusup sebagai rasa sejati pembuka solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga engkau rajin untuk melakukan perenungan atau ber’tapa’. Dalam perenungan selidikilah hubungan kawula dan gusti. Dia bersatu namun tetap dua, dua namun menjadi satu. Itu adalah ilmu kesempurnaan untuk kesatuan. Pergilah belajar mengenai hal itu pada yang mengetahui. Karena itu meningkatkan kesempurnaan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Resapkanlah kenyataan bahwa ada laki-laki, bersamaan dengan itu ada yang perempuan; orang memuja sekaligus dipuja; orang memberi perintah, bersamaan dengan itu mendapat perintah. Karena dalang menjadi nyata dalam wayang dan wayang menjadi nyata dalam dalang. Renungkan dan resapkan hal ini terus menerus sampai akhir ! Gusti menjadi nyata dalam kawula dan kawula menjadi nyata dalam Gusti. Janganlah alpa akan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Make It Happen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Agar ucapanmu tidak berhenti pada tataran wacana, maka engkau perlu melaksanakan persiapan, agar orang tidak menyindirmu melaksanakan “manajemen by kungfu”. Menangkis kalau ada yang memukul, menendang hanya kalau ada yang menyerang, selalu seolah tanpa persiapan. Bagaimana cara untuk menuju gemerlap masa depan yang dicita-citakan ? Salah satu bait, Sastra Nusantara menyatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ruktine ngangkah ngukut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ngiket ngruket triloka kakukut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jagad agung ginulung lan jagad alit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Den kendel kumandel kulup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mring kilaping alam kono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    [Serat Wedhatama, Gambuh]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ruktine artinya persiapan, harus selalu ada persiapan untuk melaksanakan suatu program kerja. Hal pertama yang harus dilakukan adalah “mental creation” – menulis apa yang akan dikerjakan. Kita harus mendeskripsikan “apa” tujuan dari program kerja yang ingin dicapai – dalam bahasa jawa hal ini disebut “ngangkah”. Lalu “ngukut” berarti tahu cara mencapai tujuan itu, menyusun peta strategi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dengan bekal deskripsi yang jelas mengenai “apa” dan “bagaimana”, langkah berikutnya adalah melakukan sosialisasi agar seluruh stakeholder merasa terikat terhadap tujuan bersama yang ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sosialisasi akan membangun semangat seluruh komponen, dan semangat itu akan memudahkan untuk mengumpulkan tiga sumber daya utama untuk menghasilkan program kerja, yakni jnana atau know-how, wirya- kuasa  atau kendali dan artha yaitu sumber daya. Lalu seluruh rencana yang akan berpengaruh ke seluruh tanah Nusantara, disusun menjadi suatu model sehingga siap untuk diimplementasi. Jagad agung digulung menjadi jagad alit yaitu satu model perencanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah model itu disusun secara matang, maka langkah berikutnya adalah physical creation. Kalau mental creation adalah menulis apa yang akan dikerjakan, sedangkan physical creation adalah mengerjakan apa yang telah ditulis. Untuk mengeksekusi rencana diperlukan fokus terhadap tujuan dan keberanian untuk mengatasi segala rintangan (kendel kumandel - berani). Dengan keberanian dan keteguhan, maka cita-cita untuk mencapai gemerlap (kilaping alam kono) masa datang pasti akan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Proyek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seorang pemimpin laksana seorang project manager. Proyek adalah usaha temporer untuk melaksanakan tujuan tertentu. Sang pemimpin harus mampu membayar janji yang telah diucapkan, karena janji adalah hutang. Dia punya waktu 5 tahun untuk mewujudkan janjinya itu. Untuk melaksanakan visinya, disediakan sumber daya yang berasal dari berbagai hal. Sang penguasa, harus sadar siapa bowheer atau key stakeholder dari proyeknya. Dan terakhir Sang Penguasa harus sadar bahwa selalu ada ketidak pastian dalam mencapai tujuan, karena itulah segala resiko harus diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Oleh sebab itu, untuk mencapai visi tentang lingkungan yang ditetapkan saat Hari Bumi itu, seharusnya Sang Penguasa tidak berhenti pada kemampuan berwacana ataupun melontarkan kesedihan. Tetapi harus mulai dengan tindakan, baik melalui mental creation lalu diikuti dengan physical creation. Karena itulah, selain kemampuan dalam menggaet masa, diperlukan pula kemampuan untuk menjadi seorang manajer proyek. Sang Amangkubumi perlu memahami cara untuk menetapkan lingkup kegiatan, menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan, durasi dan urutannya sehingga dapat menyusun jadwal, menghitung biaya serta menetapkan kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selain itu, kemampuan mengelola sumber daya manusia perlu juga diperhatikan. Sukses atau tidaknya suatu pekerjaan, sangat tergantung dari manusia yang melaksanakan. Lalu membangun kemampuan komunikasi, karena banyak sekali kegagalan dalam pemerintahan akibat ketidak mampuan sang pemimpin membangun komunikasi. Manajemen resiko juga diperlukan, karena itu adalah ilmu weruh sakdurunge winarah, mengetahui atau mempersiapkan suatu hal sebelum itu terjadi. Dan terakhir bagaimana bekerjasama dengan pihak lain – lembaga-lembaga donor – atau negara lain, yang ingin membantu melaksakan pembangunan untuk mencapai visi yang ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Visi yang tidak diterjemahkan ke dalam ukuran-ukuran yang jelas sangat sulit untuk dikelola. Dan karena sulit untuk dikelola pastilah akan sangat sulit untuk dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekali lagi, apa yang saya uraikan, tentu sudah pernah diketahui oleh para penyelenggara negara, gubernur, bupati atau bahkan sodara-sodara sekalian yang menjadi kepala di keluarga masing-masing. Saya menulis hanya sekedar untuk mengingatkan, bahwa sastra-sastra Nusantara perlu digali kembali, karena tidak kalah dengan ilmu dari seberang negeri. Hal ini perlu untuk membangun kembali Jati Diri sebagai bangsa yang pernah besar di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mari kita tunggu, Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Itu adalah pertanda bergeraknya para danghyang di tanah jawa untuk ikut serta berpartisipasi melaksanakan perubahan, agar Nusantara menjadi lebih baik lagi. [Tentang danghyang tanah jawa, lihat tulisan berjudul Jangan Sekali-kali meninggalkan sejarah di http://groups.yahoo.com/group/sastra-nusantara]. Para danghyang sudah tampak terlalu bersemangat, kesurupan sudah muncul dimana-mana secara sporadis, jangan sekali-kali meremehkannya. Ini ujian pamungkas untuk warga Nusantara dari Sang Kuasa. Para Danghyang akan berperang tanpa balantentara dan sakti tanpa ajian. Mari kita bersiap, bekerjasama ataukah terpaksa “berperang” dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akhir kata, apabila ada hal-hal yang menyinggung perasaan dalam tulisan ini, tiada maksud untuk melakukan hal itu. Niat saya semata-mata, agar para Amangkurat, Amangkubumi, Hamengkubowono dan lain-lain, disegarkan kembali tentang cara-cara membangun pemerintahan, berdasarkan ilmu-ilmu Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga ini dapat bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-583974528697138871?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/583974528697138871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=583974528697138871' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/583974528697138871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/583974528697138871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/kesedihan-susilo-bambang-yudhoyono_18.html' title=''/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-6104627150930925002</id><published>2007-11-18T14:52:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:53:10.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Asmarandhana</title><content type='html'>Aja turu sore kaki,&lt;br /&gt;    Ana dewa anglayang jagad,&lt;br /&gt;    Nyangking bokor kencona,&lt;br /&gt;    Isine dunga tetulak,&lt;br /&gt;    Sandang, wisma, pangan,&lt;br /&gt;    Ikumung bagian ipun&lt;br /&gt;    Wong melek  sabar narimo.&lt;br /&gt;    [Asmarandana]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jangan 'tidur' sore-sore anaku.  Carilah selalu cara untuk mencari berbagai solusi terhadap masalah atau tantangan yang engkau hadapi. Dan dalam mengkaji alternatif solusi tersebut, engkau harus selalu eling bahwa ada dewa yang melayang-layang memantau jagad yang kita tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sang Dewa membawa bokor emas yang berisi rahmat berupa doa tolak bala, sehingga kita dapat selamat dari terpaan efek dari jaman edan ini, lalu sandang - pakaian, wisma - tempat tinggal serta pangan-makanan yang kita perlukan untuk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bukankah hal-hal di atas yang engkau perlukan. Bukankah kalau itu sudah terpenuhi engkau sudah seharusnya merasa cukup. Percayalah - sedikit cukup - banyak bisa kurang. Tergantung bathin kita, kuatkah kita menguasai keinginan yang luasnya bagai samudera tanpa batas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Siapakah yang akan mendapatkan doa selamat, sandang, wisma pangan itu ? Apakah hanya kaum ulama, atau para ningrat atau para pedagang kaya ... tidak anak-anakku tidak ... akan tetapi yang akan mendapat rahmat dari Gusti Allah adalah orang yang selalu 'melek' - atau tetap waspada dan berusaha - dan sabar - serta menerima segala rahmat dari Hyang Widhi - baik yang berupa ujian derita maupun cobaan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gong Sudah Ditabuh ... Gunung Merapi Telah Meletus ... Dan bau amis sudah menyeruak ...  Tanda sudah diberikan. Mari kita memanjatkan doa baik secara pasif maupun aktif sehingga tak goyah keyakinan kita kepada kuasa Sang Pencipta. Agar kita selamat dari arus perubahan yang sudah dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-6104627150930925002?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/6104627150930925002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=6104627150930925002' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6104627150930925002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6104627150930925002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/asmarandhana_18.html' title='Asmarandhana'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-748952102785446059</id><published>2007-11-18T14:51:00.001-08:00</published><updated>2007-11-18T16:57:07.204-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Gunung, Samudra dan Kekuasaan</title><content type='html'>Ada seorang mantri yang namanya Ki Bocor, dia ingin membunuh Panembahan Senopati. Setelah mencoba ketajaman kerisnya, maka ketika ada kesempatan, keris itu ditikamkan kepada Senapati dari belakang. Ki Bocor berulang-ulang menancapkan keris itu, akan tetapi, Panembahan Senopati tetap tenang, seperti tidak merasakan apapun juga. Akhirnya Ki Bocor duduk lunglai, dan memohon ampun seraya bertobat.  Lalu Senopati menengok ke belakang seraya berkata : ”Kakak Bocor, saya sudah memaafkan. Saya percaya kepada kakak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu malam itu juga, Panembahan Senopati menuju desa Lipura, disana ada batu halus yang indah, dan Senopati tidur di atas batu itu. Dan pada malam yang sama, Ki Juru Martani tidak dapat tidur, lalu pergi menuju keraton, ingin bertemu Senopati. Yang dicari ternyata tidak ada, tapi Ki Juru Martani sudah tahu, dimana gerangan Senopati berada. Ki Juru Martani berangkat menyusul ke Lipura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sampai di Lipura, Ki Juru Martani melihat Panembahan Senopati sedang asik-asik tidur. Lalu Ki Juru Martani berkata ”Nak, bangun, kalau ingin menjadi raja, jangan enak-enak tidur saja”. Pada saat itu juga, ada sebuah bintang jatuh dari langit, menuju ke arah Panembahan Senopati, bersinar sebesar pohon kelapa, lalu jatuh ke dekat lehernya. Itu adalah perlambang bahwa kelak turun-turunan Senopati akan menjadi Raja di Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu mereka berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuatu yang sukar supaya dimudahkan. Dan pada malam itu juga Senapati pergi ke pantai Laut Selatan. Dan Ki Juru Martani pergi meminta bantuan ke Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam semedinya Senopati bertemu dengan Nyai Rara Kidul, raja jin, peri dan setan. Beliau meminta bantuan, kalau pada kemudian hari menghadapi perang. Nyai Rara Kidul menyanggupi membantu Senapati, cukup hanya memanggil namanya, maka Nyai Rara Kidul akan datang bersama dengan segala jin dan setan yang berada di bawah perintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, pasukan Pajang melaporkan kepada Sultan Adiwijaya bahwa Senapati Ngalaga sedang melakukan pemberontakan. Dengan pasukan 10.000 orang, dibantu oleh para Adipati Demak, Tuban, Banten dan yang lain beserta bala tentaranya, Sultan Adiwijaya mengeroyok pasukan Senopati yang berjumlah hanya 800 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akan tetapi malam itu Gunung Merapi Meletus diiringi hujan abu, gempa bumi dan banjir besar melalui kali opak. Kekuatan alam dari Selatan, berupa gemuruh laut, gempa bumi dan banjir besar, mengobrak-abrik fisik dan mental para pasukan Pajang yang berjumlah puluhan ribu. Maka hancurlah pasukan Sultan Adiwijaya dari Pajang yang sedang berkemah di lembah sungai opak tersebut. Lalu setelah Gong Kyai Bicak dipukul bertalu-talu, banjir lahar melalui kemah tentara Pajang yang kemudian berlari tunggang langgang, beserta Sultannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di tengah pelariannya, Sultan Adiwijaya lari ke Tembayat, ia memerintahkan sisa tentaranya untuk beristirahat. Sultan berkehendak untuk beristirihat di makam Tembayat, akan tetapi sayang sekali pintu makam terkunci, dan usaha untuk membukanya tidak berhasil. Itulah pertanda kejatuhan Sultan Adiwijaya Pajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah kembali ke keraton Sultan Adiwijaya sakit dan mangkat pada tahun 1587, dengan demikian lenyaplah orang kuat yang menghalangi Panembahan Senopati untuk menjadi Raja Tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cerita di atas mudah-mudahan dapat direnungkan, diambil hikmahnya, dan barangkali dapat dijadikan satu bukti, bahwa ketika seorang anak manusia memiliki keyakinan kuat untuk mengikuti takdir yang ditetapkan olehNya, maka seluruh jagat semesta raya akan membantu untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maktub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-748952102785446059?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/748952102785446059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=748952102785446059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/748952102785446059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/748952102785446059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/gunung-samudra-dan-kekuasaan_18.html' title='Gunung, Samudra dan Kekuasaan'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-7265148654866161448</id><published>2007-11-18T14:49:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:50:41.802-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Sabar Dalam Menyongsong Fajar</title><content type='html'>Seberat apapun penderitaan,  sebesar dan selama apapun kesulitan, dia tak akan melekat mati pada orang yang ditimpanya, tidak akan kekal melekat pada orang-orang yang terkena musibah. Bahkan sebaliknya, semakin berat musibah itu, berarti semakin dekat saatnya, musibah itu hilang.  Semakin dekat saat-saat terang, masa-masa indah nan menyenangkan. Karena pertolongan dari Gusti Allah, selalu datang disaat derita sedang berat-beratnya. Memang selalu akan demikian, akhir dari malam yang gelap-gulita adalah munculnya fajar terang di ufuk timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga kita tetap dalam kesadaran bahwa setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah begadang ada tidur yang pulas, setelah sakit ada kesembuhan, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan diganti dengan terang benderang. Mari kita teguhkan kepercayaan, seraya berusaha menyebarkan kabar gembira saat malam kelam mencekam, bahwa sang fajar pasti datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung nan megah dan dasar-dasar lembah yang kelam. Mari kita kabarkan kepada orang-orang yang sedang dilanda susah, bahwa pertolongan akan datang secepat kelebat cahaya dan kedipan mata; kabarkan kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba. Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk itu, harus dimulai dari kesadaran untuk menghilangkan keterpakuan pada waktu yang terbatas, yang mungkin saja waktu itu sangat kelam. Keterpakuan akan sulit menghapuskan kesusahan,  kesengsaraan dan menimbulkan keputusasaan dalam hidup. Bukalah dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah sehingga pandangan menembus belakang tabir dan berfikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumah pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan derita yang menerpa, semoga kita tak pernah merasa terhimpit sejengkalpun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baiknya ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapapun, malam demi malam datang silih berganti, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan terus berubah. Meski demikian, yang ghaib akan tetap tersembunyi dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan Gusti Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua, tetapi sesungguhnya setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-7265148654866161448?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/7265148654866161448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=7265148654866161448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7265148654866161448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7265148654866161448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/sabar-dalam-menyongsong-fajar_18.html' title='Sabar Dalam Menyongsong Fajar'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3890915347660867761</id><published>2007-11-18T14:48:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:49:21.147-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Pendukung Gus Dur dan FPI Jember Bentrok</title><content type='html'>Jum'at, 26 Mei 2006 | 21:25 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Jember:&lt;br /&gt;Sedikitnya 75 orang pendukung Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Kabupaten Jember menyerbu perwakilan Front Pembela Islam (FPI) di kota itu. Kedua kubu akhirnya bentrok di kawasan Kauman, Mangli, Kaliwates, markas FPI, Jumat sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendukung Gus Dur marah karena panutannya dilecehkan dan diusir saat diskusi di Purwakarta, Jawa Barat, beberapa hari lalu. Bentrokan mereda setelah aparak kepolisian datang melerai. FPI diduga ikut mengusir Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendukung Gus Dur memakai atribut Garda Bangsa, Pagar Nusa, dan Pemuda Anshor. Mereka di bawah komando H. Ayub Mukson mendatangi rumah Habib Abu Bakar, Ketua FPI Jember, dengan menumpang mobil dan arak-arakan motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang memulai, bentrokan kedua pihak meletus sekitar pukul 15.00 WIB. "Bubarkan FPI," teriak pendukung Gus Dur. Polisi mendamaikan mereka dengan mengajak berunding di rumah Habib Abu Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pendukung Gus Dur, Sofyan Tsauri, mempertanyakan sambutan massa FPI terhadapnya.&lt;br /&gt;"Kenapa kami disambut dengan batu. Ini bukan Front Pembela Islam. Ini Front Preman Islam namanya," ucap Sofyan yang dikenal sebagai dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Abu Bakar meminta maaf atas sambutan anak buahnya dalam menghadapi massa pendukung Gus Dur. Ia menegaskan tak pernah memerintahkan anak buahnya menyambut massa pendukung bekas presiden itu dengan kekerasan. enurutnya, FPI di Jember berbeda dengan FPI di daerah lain. "Kami tak pernah mencari masalah," katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3890915347660867761?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3890915347660867761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3890915347660867761' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3890915347660867761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3890915347660867761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/pendukung-gus-dur-dan-fpi-jember.html' title='Pendukung Gus Dur dan FPI Jember Bentrok'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-5233402907670601630</id><published>2007-11-18T14:46:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:47:37.599-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Ulama Melempar Sorban</title><content type='html'>Meloke yen arsa muluk,&lt;br /&gt;    muluk ujare lir wali,&lt;br /&gt;    wola-wali nora nyata,&lt;br /&gt;    anggepe pandhita luwih,&lt;br /&gt;    kaluwihane tan ana,&lt;br /&gt;    kabeh tandha-tandha sepi.&lt;br /&gt;    [Serat Wedhatama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    hanya bertindak di saat akan menuntut hak,&lt;br /&gt;    kata-katanya melambung tinggi bak seorang wali,&lt;br /&gt;    berulangkali ingkar janji,&lt;br /&gt;    merasa diri seakan ulama mumpuni,&lt;br /&gt;    (padahal) kemampuan tak menyertai,&lt;br /&gt;    tak satu sikap-pun menunjukkan adanya keistimewaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---oOo---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-5233402907670601630?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/5233402907670601630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=5233402907670601630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5233402907670601630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5233402907670601630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/ulama-melempar-sorban_18.html' title='Ulama Melempar Sorban'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-8671966329223449556</id><published>2007-11-18T14:45:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:46:27.388-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Habib Rizieq : Tidak akan Minta Maaf Pada Gus Dur</title><content type='html'>TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq menyatakan tidak akan meminta maaf pada Gus Dur dan organisasi massa yang meminta agar FPI dibubarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka itu gerombolan liar. Haram buat kami untuk minta maaf kepada dia dan massanya,” kata Habib Rizieq kepada Tempo melalui telepon hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, justru Gus Dur yang harus meminta maaf kepada seluruh umat Islam di dunia karena sudah menghina kitab suci Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentrok massa FPI dengan Garda Bangsa, Pagar Nusa dan Anshor Jember di Jember, Jawa Tengah kemarin, menurut Rizieq, karena banyak anggota FPI yang dipukul oleh massa Gus Dur. Sehingga massa FPI membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah membela diri itu bentuk tindakan anarkistis?”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizieq mengatakan FPI tidak akan meladeni tuntutan Garda Nasional yang menginginkan FPI dibubarkan. “Kami organisasi sah, masa harus nurut sama gerombolan liar,” ujarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-8671966329223449556?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/8671966329223449556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=8671966329223449556' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8671966329223449556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8671966329223449556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/habib-rizieq-tidak-akan-minta-maaf-pada.html' title='Habib Rizieq : Tidak akan Minta Maaf Pada Gus Dur'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-8276294000781032621</id><published>2007-11-18T14:41:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T16:58:01.253-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Kehilangan Rasa</title><content type='html'>nggugu karsane priyangga,&lt;br /&gt;    nora nganggo peparah lamun angling,&lt;br /&gt;    lumuh ingaran balilu,&lt;br /&gt;    uger guru aleman,&lt;br /&gt;    nanging janma ingkang wus waspadeng semu,&lt;br /&gt;    sinamun ing samudana,&lt;br /&gt;    sasadon ingadu manis&lt;br /&gt;    [Serat Wedhatama, Pangkur]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selalu menuruti kehendak pribadi. Tiap kali berbicara selalu tidak disertai dengan pertimbangan. Menolak jika dikatakan bodoh, (bahkan) selalu berharap akan pujian. Adapun bagi 'manusia' yang telah dewasa, kepandaiannya takkan ditampakkan. Dalam menanggapi apa (dan juga siapa), umumnya berlandaskan kearifan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-8276294000781032621?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/8276294000781032621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=8276294000781032621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8276294000781032621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8276294000781032621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/kehilangan-rasa_18.html' title='Kehilangan Rasa'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2804229141640280525</id><published>2007-11-18T14:40:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:41:07.521-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Front Penyelamat Tangerang Bentrok dengan Warga</title><content type='html'>Sabtu, 27 Mei 2006 | 14:16 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta: Front Penyelamat Tangerang pimpinan Tubagus Mahdi bentrok dengan warga di komplek pertokoan Pinangsia Lipo Karawaci Tangerang tadi Malam Jumat (26/5) pukul 22.00 WIB. Dua orang babak belur dihajar warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentrokan terjadi ketika sekitar 150 orang yang menamakan diri Front Penyelamat Tangerang melakukan aksi protes terhadap tempat hiburan malam di komplek pertokoan Pinangsia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mahdi, aksi tersebut dilakukan berkaitan dengan penerapan Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2005 tentang Anti Minuman Miras dan Perda No. 8 tahun 2005 tentang larangan Pelacuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Massa FPT yang berkeliling di komplek itu berteriak-teriak agar belasan tempat hiburan di sana ditutup. Emosi warga terpancing ketika Mahdi berteriak seolah menantang warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya Haji Mahdi tidak takut dengan siapapun. Siapa yang berani menantang saya disilakan maju," kata Mahdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa ditantang warga yang terdiri dari tukang ojeg, karyawan toko, dan petugas pengamanan di sekitar lokasi merasa tidak senang dengan aksi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan warga setempat pun menyerbu massa FPT. Keduanya terlibat baku hantam dan saling pukul menggunakan tangan kosong, kayu, dan batu. Semakin lama jumlah warga semakin banyak. Massa FPT terdesak dan lari tunggang langgang meninggalkan lokasi kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua dari anggota FPT yang tertinggal babak belur dikeroyok warga. Namun mereka bisa diselamatkan oleh polisi yang segera datang ke lokasi kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi mengamankan lima orang massa dari FPT, yaitu Tugabus Mahdi, Muhdi, Manta, Nurdin, dan Engkar. Setelah diperiksa selama 5 jam, mereka dilepas kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Satuan Intel Polres Tangerang Komisaris Polisi Elisius mengatakan kelompok FPT melanggar Undang-undang 98 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. "Aksi unjuk rasa itu tak ada izinnya," katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2804229141640280525?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2804229141640280525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2804229141640280525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2804229141640280525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2804229141640280525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/front-penyelamat-tangerang-bentrok.html' title='Front Penyelamat Tangerang Bentrok dengan Warga'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-7718247669244129576</id><published>2007-11-18T14:39:00.001-08:00</published><updated>2007-11-18T14:39:45.996-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Si Dungu Yang Sok Pintar</title><content type='html'>uripe sapisan rusak,&lt;br /&gt;    nora mulur nalare ting saluwir,&lt;br /&gt;    kadi ta guwa kang sirung,&lt;br /&gt;    sinerang ing maruta,&lt;br /&gt;    gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung,&lt;br /&gt;    pindha padhane si mudha,&lt;br /&gt;    prandene paksa kumaki&lt;br /&gt;    [Serat Wedhatama, Pangkur]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hidup yang hanya sekali menjadi rusak lantaran berfikiran sempit. Kata-katanya bergemuruh bagai kedalaman goa nan gelap yang diterpa angin. Seperti itulah watak si dungu. Walaupun demikian ia tetap merasa diri pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;br /&gt;    ---oOo---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-7718247669244129576?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/7718247669244129576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=7718247669244129576' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7718247669244129576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7718247669244129576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/si-dungu-yang-sok-pintar.html' title='Si Dungu Yang Sok Pintar'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-331116862354819315</id><published>2007-11-18T14:37:00.002-08:00</published><updated>2007-11-18T14:38:34.755-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'></title><content type='html'>Kondisi Soeharto Stabil&lt;br /&gt;Sabtu, 27 Mei 2006 | 17:55 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta:Secara umum kondisi mantan presiden Soeharto hari ini belum mengalami perubahan dari hari sebelumnya. Hal itu disampaikan dalam keterangan pers yang dikeluarkan Direktur Rumah Sakit Pusat Pertamina Adji Suprajitno dan dari Tim Dokter Kepresidenan, dokter Mardjo Soebindono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar hemoglobin Soeharto pagi tadi turun 0,2 gram persen menjadi 10,4 gram persen. Sebelumnya kadar hemoglobin Suharto 10,6 gram persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, terdapat peningkatan kadar kalium yang menyebabkan gangguan elektrolit. Hari ini tim dokter masih terus memberikan fisioterapi terhadap Suharto. Sedangkan untuk mengatasi gangguan elektrolit, pengobatan terutama asupan makanan akan lebih diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi Haryono Suyono, mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), datang menjenguk Suharto.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-331116862354819315?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/331116862354819315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=331116862354819315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/331116862354819315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/331116862354819315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/kondisi-soeharto-stabil-sabtu-27-mei_18.html' title=''/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-4587777660507859977</id><published>2007-11-18T14:35:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:36:36.579-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Panembahan Senopati</title><content type='html'>Nuladha laku utama&lt;br /&gt;    Tumraping wong tanah Jawi&lt;br /&gt;    Wong agung ing Ngeksiganda&lt;br /&gt;    Panembahan Senapati&lt;br /&gt;    Kapati amarsudi&lt;br /&gt;    Sudaning hawa lan nepsu&lt;br /&gt;    Pinesu tapa brata&lt;br /&gt;    Tanapi ing siyang ratri&lt;br /&gt;    Amamangun karyenak tyasing sasama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Teladani sikap terpuji tokoh besar Mataram, yaitu Panembahan Senapati,&lt;br /&gt;    Tekun dan berupaya sepenuh hati, demi terkendalinya hawa dan nafsu&lt;br /&gt;    Dengan jalan bertapabrata, baik siang maupun malam, dengan harapan&lt;br /&gt;    untuk menciptakan ketentraman bathin sesama mahluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Samangsane pasamuwan&lt;br /&gt;    Mamangun marta martani&lt;br /&gt;    Sinambi ing saben mangsa&lt;br /&gt;    Kala-kalaning ngasepi&lt;br /&gt;    Lalana teka-teki&lt;br /&gt;    Nggayuh geyonganing kayun&lt;br /&gt;    Kayungyun eninging tyas&lt;br /&gt;    Sanityasa pinrihatin&lt;br /&gt;    Pungguh panggah cegah dhahar lawan guling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam setiap kesempatan pertemuan, selalu membangun semangat dan memberi warta yang menyejukkan. Di waktu-waktu tertentu gemar berkelana untuk bertapa untuk meraih cita-cita. Teramat cinta dengan keheningan bathin, senantiasa hidup prihatin, yakni tetap teguh dalam membiasakan diri mengurangi makan dan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-4587777660507859977?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/4587777660507859977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=4587777660507859977' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/4587777660507859977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/4587777660507859977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/panembahan-senopati.html' title='Panembahan Senopati'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3928825401639373718</id><published>2007-11-18T14:34:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T16:58:21.774-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Hipotesis Telaga Borobudur dan Letusan Merapi AD 1006</title><content type='html'>Mungkin perlu dicermati publikasi van Bemmelen (1956) dalam Verhandelingen van het Koninklijk Nederland Geologie Mijnbouw Genootschap, v. XVI, p. 20-36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mungkin perlu dicermati publikasi van Bemmelen (1956) dalam Verhandelingen van het Koninklijk Nederland Geologie Mijnbouw Genootschap, v. XVI, p. 20-36.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    === By: Awang H S. ===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada satu prasasti berangka tahun 1041 AD tentang maklumat Erlangga di tempat pertapaannya di Jawa Timur. Prasasti ini terkenal sebagai Prasasti Kalkuta karena prasasti ini telah dibawa ke Kalkuta oleh Raffles semasa ia jadi gubernur jenderal di Hindia Belanda (1811-1816 AD). Prasasti ini diterjemahkan oleh Kern, ahli epigrafi terkenal pada zamannya. Prasasti ini memuat tentang kerusakan kerajaan (Mataram Hindu di Jawa Tengah)pada tahun 928 Syaka (+ 78 = 1006 AD). Kern menafsirkan bahwa kerusakan itu simbolik, maksudnya peperangan. Tetapi, van Labberton, ahli sejarah dan seorang epigraf juga, menafsirkan bahwa kerusakan itu kerusakan akibat bencana alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buku terkenal van Krom tentang Sejarah Hindu Jawa menyebutkan kepindahan Mataram Hindu dari Jawa Tengah ke Jawa Timur disebabkan oleh banyak hal : peperangan destruktif, volcanic calamity, dan epidemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pindahnya Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur pada abad ke 10, menurut van Bemmelen (1956) ada dua sebab : (1) sedimentasi pelabuhan Mataram Hindu di Bergota - Semarang sekarang, dan (2) erupsi besar (volcanic calamity) Merapi di sekitar 1000 AD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebagai sebuah kerajaan besar, Mataram Hindu punya pelabuhan untuk berhubungan dengan kerajaan lain dan perdagangan. Dipilihnya pantai utara sebab pantai selatan tak cocok sebagai pelabuhan karena gelombang dan ombakya besar, berbahaya buat perahu-perahu pada masa itu. Di pantai utara, dipilihnya daerah pantai Bergota (di tengah kota Semarang saat ini) yang terlindung oelh sebuah pulau di utaranya, mirip laguna setengah terbuka, sangat cocok untuk pelabuhan pada masa itu. Waktu itu, garis pantai di sekitar Semarang adalah di wilayah Perbukitan Candi (selatan Semarang sekarang). Keterangan ini didasarkan van Bemmelen pada penyelidikan lapangannya dan tulisan2 van Berkum di koran De Locomotief (1939). Van Berkum adalah sekretaris kota Semarang pada zaman Belanda. Pendapat ini juga dikuatkan oleh tulisan2 pedagang Arab-Persia Abu Zaid pada sekitar 916 AD. Disebutkan oleh Abu Zaid bahwa Bergota adalah sebuah pelabuhan dari sebuah Kerajaan Hindu di pedalaman. Kali Garang (Semarang) bermuara di wilayah Bergota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Van Bemmelen memetakan kota Semarang dari 1940-1941 sebagai lembar peta Semarang-Ungaran (sheet 73-74 skala 1:100.000). van Bemmelen mengeluarkan peta kota itu dari tiap zaman, dari tahun 1695-1940. Peta-peta ini dengan jelas menggambarkan akresi pantai dari zaman ke zaman. Pantai bertambah maju 8 meter per tahun, bahkan sejak 1847 menjadi 12 meter per tahun. Sedimentasi pantai terjadi dengan intensif. Ini akibat penggundulan hutan di selatan Semarang dan napal dan lempung lunak Pliosen di sayap utara Gunung Ungaran makin tererosi dan terdeposisi di wilayah ini. Sedimentasi ini telah terjadi sejak abad ke-10. Para penguasa Mataram Hindu melihat bahwa pelabuhannya di Bergota dari tahun ke tahun semakin dangkal dan sempit akibat akresi pantai. Inilah salah satu penyebab Sindok, raja di Mataram Hindu memutuskan memindahkan kerajaannya ke Jawa Timur di mana ada pelabuhan Ujung Galuh di estuary Brantas River. Sebuah kerajaan yang sehat harus punya pelabuhan tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi, apakah karena sedimentasi pelabuhan Bergota itu saja lantas Mataram Hindu tak pernah terdengar lagi beritanya di sejarah Jawa, hilang lima abad sampai kemudian pada abad ke-16 muncul kembali sebagai Mataram Islam ? Tidak, kata van Bemmelen, Merapi telah menyebabkan "death-blow" kepada Mataram Hindu, memunahkan peradabannya yang jaya. Inskripsi (tulisan) di Prasasti Kalkuta menggunakan kata Sanskerta "arnawa" yang digunakan untuk menggambarkan suatu bencana, banjir besar volcanic mud flows (lahar) (van Labberton, 1922 - Natuurk. Tijdschr. V. Nederland Indie, vol. 81). Kata Prof. C.C. Berg, epigraf dan sejarahwan, "arnawa" atau "ekarnawa" artinya Lautan Susu. Mitologi Hindu menyebutkan bahwa lautan susu ini diaduk oleh para dewa pada awal zaman untuk keabadian. Inskripsi di prasasti berbunyi "Jawa seperti sebuah lautan susu" - Jawa dalam keadaan chaos ! Dari chaos itu timbullah keabadian. Begitulah yang dituliskan Erlangga pada 1041 AD. Raja-raja Jawa percaya mati dan lahirnya raja baru selalu disertai letusan gunungapi yang hebat ! (Coba cek buku "Tahta untuk Rakyat" biografi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, di covernya digambarkan Sang Sultan di depan Merapi yang sedang meletus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Inskripsi di Prasasti Kalkuta menceritakan : orang hidup senang seperti di Negri Indra (indra = gunung) sampai akhirnya "Mahapralaya" menimpa Jawa, kraton hancur dan kerajaan pun mati. Hanya Erlangga yang dapat melarikan diri bersama seorang teman ke Pegunungan Selatan, di sana hidup sekian tahun lamanya sebagai pertapa, sebelum akhirnya mereka pergi ke Jawa Timur dan mendirikan kerajaan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sampailah kita ke pertanyaan, apakah letusan paroxysmal (hebat) Merapi yang akan meruntuhkan sayap Old Merapi terjadi pada 928 Syaka (1006 AD), angka tahun yang disebut-sebut Prasasti Kalkuta sebagai Mahapralaya Jawa ? Sebuah tantangan bagi para ahli arkeologi, sejarah, volkanologi, dan geologi ! Betul, banyak data baru telah terkumpul, analisis dan interpretasi baru dikemukakan. Namun, masih selalu menyisakan ruangan-ruangan untuk perdebatan. Semoga kelak kita sampai kepada suatu kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam,&lt;br /&gt;    awang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3928825401639373718?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3928825401639373718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3928825401639373718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3928825401639373718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3928825401639373718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/hipotesis-telaga-borobudur-dan-letusan.html' title='Hipotesis Telaga Borobudur dan Letusan Merapi AD 1006'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-5898662224485998091</id><published>2007-11-18T14:32:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:34:00.823-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Dharmawangsa</title><content type='html'>Dharmawangsa, adalah raja terakhir Kerajaan Medang (985-1006),&lt;br /&gt;    pengganti dari Sri Makutawangsawardhana. Dharmawangsa dikenal sebagai patron penerjemahan Kitab Mahabharata ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Pada masa ini pula, Caritha Parahyangan ditulis dalam Bahasa Sunda, yang menceritakan raja-raja Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dharmawangsa mengadakan sejumlah penaklukan,  termasuk Bali dan mendirikan koloni di Kalimantan Barat.  Saudara perempuan Dharmawangsa, Mahendradatta,  menikah dengan Raja Dinasti Warmadewa di Bali, Udayana.  Selama beberapa periode, Bali mendapat pengaruh kuat atas Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tahun 990, Dharmawangsa mengadakan serangan ke Sriwijaya dan mencoba merebut Palembang,  namun gagal. Serangan Dharmawangsa membuat raja Sriwijaya  Chulamaniwarmadewa  mengirim utusan ke Cina untuk meminta proteksi.  Pada tahun 1006, Sriwijaya melakukan pembalasan,  yakni menyerang dan menghancurkan istana Watugaluh.&lt;br /&gt;    Dharmawangsa terbunuh, dan beberapa pemberontakan mengikutinya dalam beberapa tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Airlangga, putera Mahendradatta yang masih berusia 16 tahun,  berhasil melarikan diri dan kelak akan menjadi raja pertama Kerajaan Kahuripan, suksesor Mataram Kuno dan Medang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-5898662224485998091?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/5898662224485998091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=5898662224485998091' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5898662224485998091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5898662224485998091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/dharmawangsa.html' title='Dharmawangsa'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3521847860253982003</id><published>2007-11-18T14:31:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:32:32.582-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Enigma Merapi dan Sejarah Mataram</title><content type='html'>Sarasehan Budaya&lt;br /&gt;    ”ENIGMA MERAPI DAN SEJARAH MATARAM”&lt;br /&gt;    Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gunung Merapi memang merupakan sebuah enigma dan disinyalir pernah menjadi penyebab bergesernya sebuah pusat kebudayaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar satu milenium yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Van Bemmelen (1949) dalam bukunya “The Geology of Indonesia” menyatakan bahwa Merapi meletus secara dahsyat pada tahun 1006. Banyak ahli mengaitkan peristiwa ini dengan kehancuran Mataram Hindu, namun tidak sedikit yang mempertanyakan kebenaran kejadian ini. Berbagai penelitian telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa Gunung Merapi memang sangat aktif dan kerap meletus sejak dahulu kala termasuk sekitar abad ke-10 hingga 13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di samping mengancam kehidupan dengan bencana, Gunung Merapi juga memberikan anugerah kepada masyarakat di sekitarnya berupa lahan nan subur, air tanah dan sumber daya mineral industri yang berlimpah, serta pemandangan indah. Dengan kondisi seperti di atas banyak masyarakat menggantungkan kehidupan dan melakukan kegiatan di sekitar kaki Gunung Merapi yang berarti mereka juga hidup dalam ancaman bencananya baik letusan maupun banjir laharnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selain Gunung Merapi Indonesia juga memiliki sejumlah gunungapi aktif lainnya yang perlu diteliti dan diamati aktivitasnya. Untuk mengenal dan mengetahui karakteristik gunungapi lebih dalam, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta mencanangkan suatu kegiatan yaitu “Volcano International Gathering 2006”. Acara ini akan menghimpun para pakar, ilmuwan, akademisi, budayawan, sejarawan, ahli lingkungan, dan pemerhati gunungapi untuk mengkaji, mengupas, membahas, dan mendialogkan berbagai aspek tentang gunungapi pada umumnya dan Gunung Merapi pada khususnya. Berbagai kegiatan akan dilaksanakan antara lain festival film dokumenter, Merapi Photo Rally, dan Interdisciplinary Conference sebagai puncak acara yang rencana penyelenggaraannya akan bekerjasama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada bulan September 2006 yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam rangka mengawali kegiatan “Volcano International Gathering 2006”, Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta pada tanggal 22 dan 23 Februari 2006 telah menyelenggarakan Widya Wisata dan Sarasehan Budaya dengan tema “Enigma Merapi dan Sejarah Mataram”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sarasehan yang diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan Volcano International Gathering ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Menguak dan mengenal enigma Merapi dari kajian budaya, sejarah dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;       2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Menggali kembali peran Merapi dalam sejarah dan kehidupan sejak Mataram Hindu, Mataram Islam dan masa kini&lt;br /&gt;       3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Menyediakan ajang tukar pengalaman, perluasan pengetahuan, dan pengayaan wawasan tentang Merapi di antara para ahli, ilmuwan, budayawan, seniman serta siapapun yang peduli dengannya.&lt;br /&gt;       4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Mewujudkan perenungan dan introspeksi diri atas semua bencana yang pernah terjadi serta ungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada kita melalui Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam acara pembukaan Sarasehan, Kepala Badan Geologi DESDM, Bambang Dwiyanto diminta memberikan sambutan. Sementara sambutan kunci disampaikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X yang sekaligus membuka secara resmi acara sarasehan tersebut. Hadir dalam acara tersebut para Bupati, Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, para Dosen, Budayawan, Sejarawan, wakil-wakil Lembaga Swadaya Masyarakat, Pegawai Pemerintahan Daerah, Pegawai Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian dan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kepala Badan Geologi dalam sambutannya mengupas Gunung Merapi dari segi ilmiah khususnya pemantauan kegiatan Gunung Merapi dari mulai Zaman Belanda hingga saat ini. Disampaikan pula bahwa begitu pentingnya Gunung Merapi baik dari segi ilmu pengetahuan maupun perlindungan masyarakat dari bahaya letusannya hingga mengharuskan kita melakukan penelitian dan pengembangan teknologi pengamatan secara terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aktivitas Gunung Merapi tidak pernah berhenti, sehingga menjadi lahan yang lengkap bagi para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya bidang kegunungapian. Penelitian dan pemantauan yang dilakukan oleh para ahli gunungapi Indonesia bersama ahli gunungapi luar negeri dalam kurun waktu yang lama akan banyak membantu menguak sejarah letusan dan karakteristik Gunung Merapi yang akan menjadi referensi Gunung Merapi. Tentunya hal ini juga akan sangat membantu dalam mitigasi bencana letusan Gunung Merapi dimana sasarannya agar masyarakat dan aparat siap bila terjadi letusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, telah melakukan berbagai penelitian dan pengamatan Gunung Merapi dari berbagai aspek mulai dari geologi, geofisika maupun  geokimia. Dari aspek geologi (Volcano Stratigrafi), telah didapat data-data baru yang mengungkap sejarah letusan Gunung Merapi yang tentunya dapat membantu memberikan jawaban dalam mengungkap sejarah Mataram Hindu khususnya keterkaitan candi-candi yang terkubur pada era tersebut dengan letusan Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada akhir sambutan, Kepala Badan Geologi menyampaikan harapan bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di bidang kegunungapian, dapat memberikan sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan khususnya Gunung Merapi maupun bagi ilmu lain yang berkaitan seperti arkeologi dalam mengungkap kebenaran sejarah. Kepala Badan juga berharap sarasehan ini dapat menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan sumbangsih bagi kemakmuran, kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di Sekitar Gunung Merapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu dalam Sambutan Kunci Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diberi judul “Fenomena Merapi dan Misteri Mataram”, mengupas khasanah pengetahuan dan peran Gunung Merapi dari segi budaya dan sejarah mulai dari Mataram Hindu (Kuno) hingga Mataram Islam. Sri Sultan dalam kerangka pikirnya menempatkan lingkungan alam berupa enigma Merapi sebagai tantangan yang berpengaruh pada Sejarah Mataram, yang dalam banyak hal masih penuh misteri yang mengundang interpretasi dari para sejarawan, budayawan maupun yang lain termasuk ilmuwan gunungapi. Selain masalah budaya dan sejarah, disinggung pula tulisan-tulisan para ahli geologi yang menyatakan bahwa Merapi pernah meletus pada tahun 1006, namun beliau juga menyampaikan bahwa masih banyak perdebatan-perdebatan tentang hal ini yang tentunya memerlukan pemahaman dan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui kebenarannya. Pengenalan terhadap karakter Gunung Merapi diperlukan, agar masyarakat lebih siap dan tanggap dalam mengoptimalkan manajemen bencana (disaster management) yang berbasis masyarakat, bila saatnya bencana datang tiba-tiba. Pengembangan teknologi pemantauan gunungapi diharapkan dapat membantu dan melindungi masyarakat dari bencana letusan Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menjelang puncak acara “Volcano International Gathering 2006” bulan September yang akan datang, mari kita bersama-sama memberikan sumbangsih pengetahuan tentang kegunungapian khususnya Gunung Merapi untuk menambah khasanah pengetahuan dan menjawab pertanyaan- pertanyaan yang masih belum terjawab. (Agung Pribadi-SBG)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3521847860253982003?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3521847860253982003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3521847860253982003' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3521847860253982003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3521847860253982003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/enigma-merapi-dan-sejarah-mataram.html' title='Enigma Merapi dan Sejarah Mataram'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-8071033961717994596</id><published>2007-11-18T14:22:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:23:50.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Paro Pakarah Punyaya, Papaya Para Pidanam</title><content type='html'>Nyucuk Angiberake. Nyucuk berarti menyucuk atau mematuk, angiberake&lt;br /&gt;    berarti membawa pergi atau mengedarkan. Kiasan ini mengacu pada&lt;br /&gt;    perilaku burung yang mematuk makanan dan lalu membawanya pergi.&lt;br /&gt;    Dalam masa-masa susah menghadapi bencana, oknum pejabat maupun para&lt;br /&gt;    penjahat bejat, akan berusaha memanfaatkan keadaan ini, untuk&lt;br /&gt;    kepentingan pribadi. Istilah kerennya – aji mumpung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Masih ingat ketua LSM Aceh, berambut kuncir, yang omongnya pedes …&lt;br /&gt;    eh ternyata tukang colong, bles ditonjok, lalu masuk penjara, nggak&lt;br /&gt;    tau nasibnya jadi gimana. Nanti kalo lepas lagi … pasti cuap-cuap&lt;br /&gt;    kayak mantan pejabat … si mulut pedas … dikoran tulisannya cemerlang …&lt;br /&gt;    tapi saat dia jadi pejabat … tak ada yang diperbuat, dasar tukang&lt;br /&gt;    onani, suka sok hebat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Segar dalam ingatan, mantan ketua komite independen pemantau pemilu,&lt;br /&gt;    rambut gondrong, mulut hitam karena rokok? Waktu jadi LSM kritik&lt;br /&gt;    pedas bertubi-tubi tentang pemilu. Tapi ketika dia yang&lt;br /&gt;    jadi 'pelaksana' ... eh... bobrok juga, digertak dikit ama&lt;br /&gt;    pemeriksa – nyogok – ketangkep - masuk bui. Syukurlah maling&lt;br /&gt;    berjamaah di KPU, kena hajar semua, dan masuk hotel prodeo, tinggal&lt;br /&gt;    sisa-sisa yang masih punya beckingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Model orang-orang seperti ini sekarang sedang gentayangan. Kalau&lt;br /&gt;    ngomong, mengatas-namakan rakyat, gayanya ulama beriman, tapi&lt;br /&gt;    hatinya preman. Penusuk kawan seiring, penggunting dalam lipatan –&lt;br /&gt;    gaya si pemimpin legislatif. Tinggal glanggang colong playu – kabur&lt;br /&gt;    ketika dipercaya dan dapat mandat jadi pejabat, karena ada&lt;br /&gt;    kesempatan jabatan yang lebih tinggi.  Biasanya kalo sekali&lt;br /&gt;    berkhianat mungkin bisa tobat. Tapi kalo sampai 2 kali jadi menteri&lt;br /&gt;    pejabat dan berkhianat pada yang mengangkat. Sudah pasti ada saat&lt;br /&gt;    yang ketiga yaitu berkhianat pada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Orang-orang jenis ini, selalu mengambil kesempatan kalo ada peluang,&lt;br /&gt;    aji mumpung tanpa memperhatikan tata krama. Bagai perilaku burung,&lt;br /&gt;    yang mematuk makanan dan kemudian membawanya pergi. Celakanya&lt;br /&gt;    perutnya bukan perut burung, keinginannya bukan keinginan burung,&lt;br /&gt;    tapi dia manusia berperilaku raksasa yang memiliki keinginan bagai&lt;br /&gt;    samudra tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pepatah Nyucuk Angiberake ini cocok menggambarkan perilaku seseorang&lt;br /&gt;    yang memanfaatkan aji mumpung. Kalau ada bencana, para oknum-oknum&lt;br /&gt;    bagai burung-burung berdatangan mendekati padi yang sedang&lt;br /&gt;    menguning. Membawa muka beriman, tapi hatinya preman, berlagak domba&lt;br /&gt;    tapi hatinya serigala. Dapat dikatakan bahwa nyucuk angiberake&lt;br /&gt;    adalah orang yang nggutukake `mencari keuntungan sebanyak-banyaknya'&lt;br /&gt;    tanpa mempertimbangkan etika atau tatakrama. Di dalam lingkungan&lt;br /&gt;    masyarakat Jawa seseorang memang diperbolehkan mencari keuntungan,&lt;br /&gt;    namun semua ini baru disetujui sejauh tidak melanggar tatanan&lt;br /&gt;    kesopanan dan kewajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hai sodara-sodara se Nusantara !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ingatlah akan hukum karma. Paro pakarah punyaya, papaya para&lt;br /&gt;    pidanam. Barang siapa berbuat kebajikan dia akan mendapatkan pahala,&lt;br /&gt;    dan jika berbuat cela – papa - hina pasti akan mendapat pidana atau&lt;br /&gt;    hukuman. Dalam waktu dekat, putaran Hukum Karma, akan dipercepat,&lt;br /&gt;    terutama bagi para ulama keparat, ningrat penjahat dan pedagang-&lt;br /&gt;    pedagang bejat, yang mengambil keuntungan pribadi, baik berupa&lt;br /&gt;    keuntungan ekonomis ataupun politis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sang Penguasa Alam semesta berkepentingan untuk menunjukkan&lt;br /&gt;    kebenaran Hukum Karma pada rakyat jelata yang menderita. Hukum Karma&lt;br /&gt;    yang akan ditegakkan, akan menjadi pelajaran utama dan pegangan&lt;br /&gt;    penting bagi masyarakat ketika tatanan baru dibentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jangan coba-coba ambil untung pribadi dari bencana dan derita,&lt;br /&gt;    ingatlah sekali lagi – Paro Pakarah Punyaya, Papaya Para Pidanam.&lt;br /&gt;    Barangsiapa berbuat baik akan dapat pahala, yang berbuat cela, papa,&lt;br /&gt;    nista pasti akan mendapat pidana. Saya yakin, Sang Penguasa Alam tak&lt;br /&gt;    pernah tidur, melihat tingkah polah cecunguk-cecunguk yang merusak&lt;br /&gt;    Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga yang sedang menderita tetap tabah, seraya memantapkan&lt;br /&gt;    keyakinan, bahwa Dia sudah dan akan 'datang', membantu membangun&lt;br /&gt;    kembali jati diri bangsa Nusantara ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-8071033961717994596?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/8071033961717994596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=8071033961717994596' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8071033961717994596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8071033961717994596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/paro-pakarah-punyaya-papaya-para.html' title='Paro Pakarah Punyaya, Papaya Para Pidanam'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-8523230778576251517</id><published>2007-11-18T14:21:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:22:31.490-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Tragedi Pancasila</title><content type='html'>Salah satu prinsip moral yang dapat diambil dari al-Muqaddimah Ibn Khaldun&lt;br /&gt;    (1332-1406) adalah bahwa seorang peneliti atau pengamat tidak boleh&lt;br /&gt;    membesar-besarkan tokoh yang disukainya atau sebaliknya mengecilkan tokoh yang&lt;br /&gt;    tidak disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam kaitannya dengan Pancasila pernah dikemukakan pendapat bahwa penggali&lt;br /&gt;    Pancasila bukan Bung Karno, tetapi Yamin. Ini berdasarkan buku Yamin yang&lt;br /&gt;    mengatakan bahwa Lima Prinsip Dasar itu telah dikemukakannya sebelum 1 Juni 1945&lt;br /&gt;    mendahului Bung Karno yang menyampaikan pidatonya tentang Pancasila pada 1 Juni&lt;br /&gt;    1945 di depan BUPKI, sebuah pidato tanpa teks yang kemudian diberi nama Lahirnya&lt;br /&gt;    Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hasil penelitian saya menemukan bahwa adalah sebuah kebohongan historis bila ada&lt;br /&gt;    pendapat yang mengatakan bahwa bukan Bung Karno yang pertama kali mengemukakan&lt;br /&gt;    Lima Dasar itu, tetapi orang lain. Memang, Bung Karno tidak menempatkan Sila&lt;br /&gt;    Ketuhanan sebagai yang teratas, tetapi sebagai prinsip pengunci. Pancasila yang&lt;br /&gt;    ada sekarang adalah hasil rumusan 22 Juni 1945 yang dikenal dengan Piagam&lt;br /&gt;    Jakarta minus tujuh kata yang semula mengiringi Sila Ketuhanan, dalam format&lt;br /&gt;    ''dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.'' Tujuh&lt;br /&gt;    kata ini kemudian diganti dengan atribut Yang Maha Esa, yang kabarnya diusulkan&lt;br /&gt;    Ki Bagus Hadikusomo, tokoh puncak Muhammadiyah ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Resonansi kali ini tidak ingin berpanjang-panjang berbicara tentang proses&lt;br /&gt;    historis Pancasila ini, sebab seluruh UUD yang pernah dikenal dalam sejarah&lt;br /&gt;    Indonesia sebelum dan pasca-Proklamasi, tidak ada yang tidak menempatkan&lt;br /&gt;    Pancasila pada posisi teratas. Tetapi, yang ingin ditegaskan adalah bahwa&lt;br /&gt;    Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya yang dahsyat itu telah mengalami tragedi&lt;br /&gt;    demi tragedi, tidak dalam kata, tetapi justru dalam laku, sebagaimana yang&lt;br /&gt;    sering saya kemukakan di berbagai forum. Dalam ungkapan lain, jika kita&lt;br /&gt;    memperkatakan Pancasila, implementasi nilai-nilai luhur inilah yang seharusnya&lt;br /&gt;    menjadi titik perhatian utama, bukan memperdebatkannya secara teoretikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi saya semua nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila sangat jelas, tidak&lt;br /&gt;    perlu orang terlalu berbelit-belit menyikapinya. Sila pertama, ''Ketuhanan Yang&lt;br /&gt;    Maha Esa,'' jelas memberi landasan kuat bagi kehidupan beragama secara tulus dan&lt;br /&gt;    otentik. Sila kedua, ''Kemanusiaan yang adil dan beradab,'' tidak bisa&lt;br /&gt;    ditafsirkan selain bahwa bangsa ini wajib menegakkan keadilan dan keadaban dalam&lt;br /&gt;    berperilaku, baik perorangan maupun dalam kehidupan kolektif dalam politik,&lt;br /&gt;    sosial, ekonomi, dan budaya. Penyimpangan dari perilaku adil dan beradab adalah&lt;br /&gt;    pengkhianatan terhadap sila ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan inilah yang sering berlaku selama hampir 61 tahun kita merdeka.&lt;br /&gt;    Pengkhianatan ini tidak semata-mata dalam bentuk upaya sementara orang yang&lt;br /&gt;    ingin mengganti Pancasila dengan dasar lain. Tetapi laku yang beringas, tindak&lt;br /&gt;    kekerasan, pelanggaran HAM, menggarong harta bangsa, main hakim sendiri, merusak&lt;br /&gt;    milik negara sekalipun itu dengan meneriakkan Allahu Akbar, semuanya adalah&lt;br /&gt;    perbuatan khianat dalam perspektif sila kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemudian, sila ketiga berupa ''Persatuan Indonesia,'' bukan ''Kesatuan&lt;br /&gt;    Indonesia,'' semestinya membimbing bangsa ini dalam kebhinnekaan (pluralisme)&lt;br /&gt;    yang kaya dalam mosaik budaya yang beragam. Tetapi, yang terjadi selama sekian&lt;br /&gt;    dasawarsa adalah politik negara yang sentralistik dan penyeragaman tata sistem&lt;br /&gt;    sosial budaya lokal secara paksa melalui undang-undang. Ini adalah bentuk&lt;br /&gt;    pengkhianatan konstitusional yang telah menimbulkan keresahan dan perlawanan&lt;br /&gt;    diam-diam dari berbagai subkultur Indonesia yang kaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sila keempat, ''Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam&lt;br /&gt;    permusyawaratan/perwakilan'', tegas sekali memerintahkan bahwa demokrasi harus&lt;br /&gt;    ditegakkan secara bijak melalui musyawarah yang betanggung jawab dan dengan&lt;br /&gt;    lapang dada. Di luar cara-cara ini, sila kerakyatan yang memuat prinsip&lt;br /&gt;    demokrasi itu hanyalah akan membuahkan malapetaka berkepanjangan yang telah&lt;br /&gt;    menjadikan rakyat banyak sebagai kelinci percobaan politik yang amoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perkembangan terakhir dalam cara kita berdemokrasi tampaknya semakin jauh dari&lt;br /&gt;    roh Pancasila dalam pengertiannya yang utuh dan padu. Ini adalah bentuk tragedi&lt;br /&gt;    yang selalu saja ditimpakan orang pada Pancasila. Terakhir, sila kelima,&lt;br /&gt;    ''Keadilan sosial bagi rakyat Indonesia,'' telah menjadi yatim piatu sejak kita&lt;br /&gt;    merdeka. Hampir tidak ada kebijakan pemerintah dan DPR yang benar-benar&lt;br /&gt;    dibimbing oleh sila ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rakyat dari masa ke masa tidak semakin merasakan keadilan, tetapi penindasan&lt;br /&gt;    berencana via undang-undang, apakah undang-undang itu berupa darurat militer,&lt;br /&gt;    undang-undang hubungan pusat dan daerah, undang-undang penanaman modal asing,&lt;br /&gt;    dan lain-lain. Oleh sebab itu, matahari sudah condong ke barat bagi kita semua&lt;br /&gt;    untuk berhenti menjadikan Pancasila sebagai retorika politik yang kosong dan&lt;br /&gt;    menipu. Pancasila di bawah sinar wahyu harus menuntun seluruh laku kita dalam&lt;br /&gt;    bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sekarang dan untuk selama-lamanya, jika&lt;br /&gt;    Indonesia memang masih mau dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    REPUBLIKA&lt;br /&gt;    Selasa, 30 Mei 2006&lt;br /&gt;    Oleh : Ahmad Syafii Maarif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-8523230778576251517?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/8523230778576251517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=8523230778576251517' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8523230778576251517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8523230778576251517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/tragedi-pancasila.html' title='Tragedi Pancasila'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-7747047320187148184</id><published>2007-11-18T14:20:00.001-08:00</published><updated>2007-11-18T14:20:54.578-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Sandhya Kala di Nusantara</title><content type='html'>Serat Kalatida. Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan&lt;br /&gt;    nora tahan, yan tan melu anglakoni boya kaduman melik, kaliren&lt;br /&gt;    wekasanipun, ndilallah kersaning allah, begja-begjane kang lali,&lt;br /&gt;    luwih begja kang eling lan waspada.&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;    Anakku Ki Butolocaya*, coba engkau perhatikan sebuah bait pada Serat&lt;br /&gt;    Kalatida dari Ronggowarsito.  Kala artinya jaman, sedangkan tida -&lt;br /&gt;    samar-samar. Jadi kalatida dapat diartikan sebagai jaman 'samar-&lt;br /&gt;    samar'. Layaknya senja kala, sudah redup mentari, tapi gelap malam&lt;br /&gt;    belum juga kelam. Ibarat air sungai di muara, tidak tawar, tapi&lt;br /&gt;    belum juga asin. Nilai-nilai orde baru sudah ditinggalkan, tetapi&lt;br /&gt;    orde reformasi belum juga ketemu bentuknya. Masa transisi, laksana&lt;br /&gt;    sandhyakala. Sandhya artinya berdoa dan kala adalah saat/waktu.&lt;br /&gt;    Sehingga sandhya kala adalah waktu yang tepat untuk berdoa. Berdoa&lt;br /&gt;    secara pasif, memohon kepadaNya, dan secara aktif, dengan&lt;br /&gt;    melaksanakan segala perintahNya. Dan pada saat transisi, kita juga&lt;br /&gt;    perlu pimpinan, yang mampu menuntun seluruh anak Bangsa melewati&lt;br /&gt;    masa-masa transisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    === Sandhya Kala di Nusantara&lt;br /&gt;    === Butalocaya :  bodoh tapi dapat dipercaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Nusantara tengah berada di pusaran transisi. Anakku, coba kau lihat&lt;br /&gt;    dengan seksama, informasi dari mancanegara, kau pasti jadi tersadar,&lt;br /&gt;    akan kondisi riil Tanah Nusantara. Pada perioda merdeka sampai&lt;br /&gt;    dimulainya Orde Baru, masyarakat Nusantara masih tergolong primitif,&lt;br /&gt;    agraris dan pra-industri. Sedangkan bangsa-bangsa Barat, telah&lt;br /&gt;    menjadi masyarakat industri dan pra-informasi. Lalu ketika kita&lt;br /&gt;    tertatih-tatih menuju era Industri, bangsa kita harus bersaing&lt;br /&gt;    dengan bangsa-bangsa lain yang telah masuk era pasca industri dan&lt;br /&gt;    era informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Agar memiliki daya saing, pembangunan dilaksanakan. Akan tetapi,&lt;br /&gt;    ketika bangsa ini belum sepenuhnya beradaptasi dengan pola-pola&lt;br /&gt;    peradaban industri, pembangunan telah memaksa masyarakat untuk masuk&lt;br /&gt;    ke Era Informasi. Perkembangan tak dapat ditolak. Oleh sebab itu,&lt;br /&gt;    pembangunan seringkali menyebabkan tercerabutnya masyarakat dari&lt;br /&gt;    akar-akarnya, untuk kemudian dicemplungkan pada nilai-nilai yang&lt;br /&gt;    sama sekali baru. Hasilnya adalah alienasi sosial atau keterasingan&lt;br /&gt;    sosial, dimana sistem nilai yang lama dilepas, tetapi sistem nilai&lt;br /&gt;    yang baru belum dapat diserap dan dikuasai, sementara perkembangan&lt;br /&gt;    jaman terus melaju, tak bisa menunggu. Berbarengan dengan&lt;br /&gt;    itu, 'serangan' dari negara-negara lain, sangat gencar mengobrak-&lt;br /&gt;    abrik ketahanan kita sebagai bangsa.&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;    Serangan pertama tertuju pada Sistem budaya nasional. Globalisasi&lt;br /&gt;    komunikasi berdampak pada penyeragaman budaya. Budaya Barat dengan&lt;br /&gt;    nilai-nilai yang lebih praktis masuk, dan menggusur budaya&lt;br /&gt;    tradisional timur yang lebih rumit. Melalui teknologi informasi dan&lt;br /&gt;    komunikasi, penjajahan budaya secara Internasional telah terjadi.&lt;br /&gt;    Sia-sia jika engkau ingin menangkalnya, karena teknologi ini, tak&lt;br /&gt;    mudah untuk dibatasi, apalagi dengan upaya sensor. Berita sensitif&lt;br /&gt;    yang dilontarkan di luar negeri, tak terhalang untuk masuk ke dalam&lt;br /&gt;    negeri, bisa melalui faksimili, email ataupun website di internet.&lt;br /&gt;    Wanita berbusana superseksi di serial Baywatch atau telenovela lain,&lt;br /&gt;    praktis menjadi tontonan anak-anak di Sabang, Jakarta, Wonogiri&lt;br /&gt;    sampai ke Jayapura, tanpa bisa dihambat. Dan itu, menyebabkan&lt;br /&gt;    terjadinya erosi nasionalisme dan kegamangan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Politik dan tata negara juga diserang secara frontal. Konsep&lt;br /&gt;    pembangunan, sudah tentu 'berbau' Barat, karena disusun oleh&lt;br /&gt;    teknokrat berpendidikan Barat. Karena itulah, untuk menangkal&lt;br /&gt;    pencerabutan budaya ini lebih jauh, maka tanah Nusantara memerlukan&lt;br /&gt;    pemimpin, yang mampu mengembangkan pendekatan-pendekatan yang&lt;br /&gt;    berbasis pada falsafah dan khasanah budaya nasional. Upaya ini harus&lt;br /&gt;    dilakukan tanpa lelah dan tanpa henti. Salah satunya, dengan&lt;br /&gt;    menggunakan Bahasa Indonesia dalam setiap kesempatan forum&lt;br /&gt;    internasional, walau mampu dalam menggunakan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;    Barangkali, ini jadi strategi efektif untuk mempertahankan&lt;br /&gt;    nasionalisme atau kecintaan akan bangsa dan negara..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perekonomian juga digempur dari segala penjuru. Globalisasi&lt;br /&gt;    perdagangan telah menekan dan menggiring perekonomian Indonesia&lt;br /&gt;    menjadi 'terpinggirkan'. Berbagai tekanan tak hanya dalam bentuk&lt;br /&gt;    ekonomi, seperti kuota dagang, sistem preferensi dan sebagainya,&lt;br /&gt;    tetapi juga dalam bentuk non-ekonomi seperti masalah-masalah Hak&lt;br /&gt;    Asasi Manusia, buruh, lingkungan hingga masalah demokratisasi.&lt;br /&gt;    Kombinasi tekanan tersebut, terasa makin sulit dikendalikan dan&lt;br /&gt;    dikelola. Fakta-fakta di atas, jelas-jelas mengurangi kecepatan&lt;br /&gt;    akselerasi pembangunan ekonomi Indonesia secara keseluruhan, yang&lt;br /&gt;    berwujud defisit transaksi berjalan, melemahnya mata uang dan makin&lt;br /&gt;    rendahnya nilai produktifitas total bangsa Nusantara sebagai sebuah&lt;br /&gt;    entitas, dibanding dengan beberapa negara tetangga.&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;    Dari segi sosio kultural, politik dan ekonomi, kita telah&lt;br /&gt;    mendapatkan serangan nyata. Tugas berat seorang pemimpin adalah&lt;br /&gt;    menjadikan Republik ini, sebagai sebuah kesatuan hidup yang kuat dan&lt;br /&gt;    terintegrasi, sehingga menjadi sebuah entitas yang efisien, dan&lt;br /&gt;    mampu bersaing dalam kompetisi global. Usaha ini harus dilakukan&lt;br /&gt;    secara terus menerus, karena serangan global tak kunjung henti,&lt;br /&gt;    bahkan cenderung meningkat baik dalam jumlah, jenis maupun&lt;br /&gt;    intensitasnya. Kesatuan hidup seperti yang dicita-citakan, dapat&lt;br /&gt;    dibangun dengan dua langkah strategis yaitu memperkuat jati diri&lt;br /&gt;    bangsa dan kedua meningkatkan sumber daya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari kedua langkah strategis itu, maka yang utama adalah membangun&lt;br /&gt;    kembali jati diri bangsa. Kaidah utama filsafat Nusantara yang telah&lt;br /&gt;    dianut sejak lama adalah kaidah rukun dan hormat. Kedua kaidah ini,&lt;br /&gt;    sudah tercabik-cabik saat dimulainya reformasi, dan itu berlangsung&lt;br /&gt;    hingga saat ini. Kaidah rukun mengatakan bahwa, dalam setiap situasi&lt;br /&gt;    hendaknya 'manusia' bersikap sedemikian rupa, sehingga tidak sampai&lt;br /&gt;    menimbulkan konflik. Tujuannya adalah, membawa kepada kehidupan yang&lt;br /&gt;    rukun, yaitu terciptanya keselarasan dan harmoni sosial. Kaidah&lt;br /&gt;    hormat mengatakan, bahwa 'manusia' dalam cara bicara dan membawa&lt;br /&gt;    diri, agar selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain,&lt;br /&gt;    sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Pandangan ini dilandasi oleh&lt;br /&gt;    keinginan, untuk menciptakan masyarakat yang teratur dan baik, di&lt;br /&gt;    mana setiap orang mengenal tempat dan tugasnya, dengan demikian,&lt;br /&gt;    ikut menjaga agar seluruh masyarakat, menjadi satu kesatuan yang&lt;br /&gt;    selaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Toleransi menjadi signifikan dalam mengelola kebhinekaan di&lt;br /&gt;    Nusantara. Sehingga kata 'mufakat' menjadi penting dalam usaha&lt;br /&gt;    mengelola bangsa. Apapun caranya, mufakat adalah yang paling baik.&lt;br /&gt;    Dan cara terbaik untuk mencapai mufakat, tentu saja dengan&lt;br /&gt;    musyawarah. Karena itulah, gagasan tentang demokrasi dan oposisi ala&lt;br /&gt;    literatur barat, menjadi kurang relevan. Kaidah rukun dan sikap&lt;br /&gt;    saling menghormati akan membuahkan toleransi. Dan toleransi adalah&lt;br /&gt;    titik awal kita, dalam membangun kembali jati diri bangsa yang sudah&lt;br /&gt;    sangat terpuruk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Serangan budaya Barat itu, juga harus diredam dengan membangun&lt;br /&gt;    sistem pendidikan yang baik untuk anak bangsa. Kemajuan selaras&lt;br /&gt;    hanya dapat diperoleh dengan menggodok generasi muda kita, sehingga&lt;br /&gt;    memiliki kemampuan intelektual, emosional, maupun kecerdasan&lt;br /&gt;    spiritual yang tinggi. Dengan perpaduan ketiga hal di atas, maka&lt;br /&gt;    segala informasi dari Barat, akan mampu mereka pilah dan saring,&lt;br /&gt;    lalu diramu dan disesuaikan dengan jati diri bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Demikianlah anakku Butalocaya, seperti arti tembang di atas, saat&lt;br /&gt;    ini adalah jaman transisi, dimana budi pekerti seakan tersingkirkan.&lt;br /&gt;    Kalau engkau ikut edan, maka sudah dipastikan kau tak tahan, anakku.&lt;br /&gt;    Karena kutahu engkau masih punya hati nurani. Akan tetapi aku juga&lt;br /&gt;    tahu, kalau tidak mengikuti geraknya jaman, maka tak akan kebagian,&lt;br /&gt;    bahkan bisa-bisa melarat. Akan tetapi, buah hatiku, serahkan semua&lt;br /&gt;    pada kehendakNya, karena pada dasarnya, sebahagia-bahagianya orang&lt;br /&gt;    yang 'lupa' akan lebih baik nantinya orang yang selalu 'eling' dan&lt;br /&gt;    tetap 'waspada'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---oOo---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-7747047320187148184?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/7747047320187148184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=7747047320187148184' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7747047320187148184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7747047320187148184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/sandhya-kala-di-nusantara.html' title='Sandhya Kala di Nusantara'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-6638356301624025775</id><published>2007-11-18T14:17:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:18:25.108-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Astha Brata</title><content type='html'>Anakku Ki Butalocaya, aku menulis ini bukan untuk sombong, dan merasa diri paling benar. Akan tetapi semata-mata untuk menjalankan tugas sebagai orang tua, yang harus mendidik anaknya. Akupun sadar, dalam mendidik anak selalu terjadi dualisme. Seorang Ayah menginginkan anaknya, menjadi seperti yang dia harapkan, berbarengan dengan itu, ada kesadaran bahwa Sang Anak, memiliki nasibnya sendiri.  Aku ayahmu, akan berusaha menyusun tulisan yang menjadi bekal ilmu untukmu seindah dan sesistematis mungkin. Karena sadarlah : kumpulkanlah ilmu, karena dia yang akan menjagamu. Tapi jika harta saja yang kau kumpulkan, maka engkau yang akan selalu sibuk menjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ilmu yang akan aku paparkan ini berasal dari tlatah Tanah Nusantara yang telah menjadi pegangan para raja sejak jaman dahulu kala. Berasal dari lakon wayang Wahyu Makutha Rama, salah satu lakon dari kakawin Ramayana, yang berisi ajaran Asta Brata. Asta berarti 8, sedangkan brata artinya sikap atau laku. Merupakan ajaran kepemimpinan mulia, warisan tanah Nusantara. Semoga ilmu ini, dapat meningkatkan kwalitas kepemimpinanmu, baik sebagai kepala keluarga ataupun nantinya jika engkau mendapat mandat dari rakyat. Astra Brata terdiri dari surya, candra, kartika, angkasa, bayu , samodra, agni, dan pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Surya atau mentari. Dia memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua mahluk tumbuh dan berkembang. Analogi ini mengharapkan seorang pemimpin untuk mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara, dengan memberikan bekal lahir dan bathin untuk dapat berkarya secara maksimal menurut swadharma atau bidang tugasnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Candra atau rembulan. Memancarkan sinar di kegelapan malam. Cahaya rembulan yang lembut akan mampu menumbuhkan semangat dan harapan di tengan kegelapan. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, walau dalam kelamnya duka karena bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kartika atau bintang. Memberikan sinar indah kemilau, jauh di langit, sehingga dapat menjadi petunjuk arah bagi yang memerlukan. Seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan untuk berbuat kebaikan. Tak pernah ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Angkasa atau langit. Luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya memiliki keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang beraneka ragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bayu atau angin. Selalu ada dimana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang kosong. Seorang pemimpin hendaknya dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Samodra atau lautan. Betapapun luasnya samudra, senantiasa mempunyai permukaan yang rata, bersifat sejuk menyegarkan. Sang pemimpin hendaknya mampu menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Agni atau api. Api mempunyai kemampuan untuk membakar habisdan menghancur leburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas, tuntas dan tanpa pandang bulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pertiwi atau bumi/tanah. Bumi mempunyai sifat kuat sekaligus murah hati. Selalu memberi hasil kepada siapapun yang mau berusaha mengolan dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anakku ki Butalocaya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga engkau dapat menerima, memahami dan dapat mengaplikasikan Asta Brata ini, untuk memandu setiap gerak langkah dalam melaksanakan swadharma atau tugas dan tanggung jawab yang engkau emban sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-6638356301624025775?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/6638356301624025775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=6638356301624025775' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6638356301624025775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6638356301624025775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/astha-brata.html' title='Astha Brata'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3772165450542694303</id><published>2007-11-18T14:15:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:16:26.806-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Peran Sesajen dalam Ketahanan Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya</title><content type='html'>Peran Sesajen dalam Ketahanan Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya magnify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara-sodara ku anggota miling list, saya sadar, sangat sadar sekali, bahwa pemikiran-pemikiran saya, terkadang meng-’hina’ logika para pembaca. Tapi saya juga percaya, sebagian besar rekan-rekan di mailing list ini, cukup dewasa untuk memberikan ruang bagi ke-bhineka-an pemikiran. Dengan kebhinekaan itu, mungkin kita bisa capai titik temu, yang akan menyeleraskan antara art, science and technology. Art mengandung unsur rasa, yang terkadang sulit untuk diuraikan dalam kata-kata. Karena itulah, saya berusaha, mengisi ruang-ruang kosong tentang ’rasa’, untuk memperkaya khazanah diskusi di mailing list ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seperti yang diuraikan dalam kitab Sutasoma, saya mungkin harus ingatkan lagi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rwaneka datu winuwus wara buddha wiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bhineki rakwa ringapan kena parwa nosen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mangkan jinatawa kalawan siswa tatwa tunggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang kalau saya terjemahkan secara bebas mungkin dapat diartikan bahwa kepercayaan konon berasal dari berbagai sumber, akan tetapi bicara tentang Sang Penguasa Alam, kapankah Dia dapat dibagi-bagi ? Karena pada hakekatnya, kebenaran itu satu. Berbeda-beda tetapi satu, tak mungkin kita membelah Sang Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam satu kesempatan, saya mendengar diskusi para generasi muda Hindu. Mereka seakan ber’teriak-teriak’,  menentang sajen yang merupakan budaya warisan leluhur-leluhurnya dulu. Saat itu saya merasa miris, dan karena merasa tak ’wenang’ dan juga tak ditanya, maka saya diam saja. Seandainya saya ditanya, maka saya akan ceritakan, alur logika yang diambil oleh para leluhur mereka, yaitu mengintegrasikan antara agama dan budaya untuk mempertahankan warga Bali dari ’serangan’ ekonomi, politik dan sosio kultural yang mengepung dari segala arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodaraku Generasi Muda Bali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lima ratus tahun yang lalu, ketika Majapahit Runtuh, penumpasan besar-besaran terjadi. Seorang brahmana kerajaan beragama Ciwa-Buddha bernama Dwijendra, tergopoh-gopoh menyingkir ke Bali (1411 tahun jawa), dengan membawa serta berbagai ’ilmu-ilmu’ yang masih bisa dibawa dari tanah jawa. Saat itu, Bali terkepung dari kiri dan kanan. Blambangan islam begitu juga Lombok. Apakah yang menyelamatkan perekonomian tanah Bali saat itu? Yang menyalamatkan adalah sajen, anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dapat anda bayangkan berapa ton buah-buahan yang diperlukan untuk sajen. Minimal 15 hari sekali, saat bulan Purnama dan bulan mati, mereka membuat sajen. Belum lagi upacara Yadnya atau kurban suci (kayak Idul Adha barangkali ya?), ada Dewa Yadnya, Resi Yadnya, Manusia Yadnya dan Butha Yadnya. Butha Yadnya yang kita kenal dilaksanakan setahun sekali, pada saat hari Raya Nyepi. Dan puluhan lainnya, yang kalo ingin detilnya mesti ditanyakan pada orang yang memahami adat-istiadat Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Petani jadi hidup, para peternak berjalan usahanya, bahkan orang-orang jompo asal mau kerja mereka bisa mendapatkan uang dengan menjual sajen berupa canang. Bukankah sajen dapat mengentaskan ketertinggalan akibat blokade yang dilakukan dari kiri-kanan oleh kerajaan-kerajaan yang berbeda kepercayaan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu kalau anda amati peta pariwisata daerah Bali, disepanjang pantai terdapat pura-pura besar yang merupakan tempat suci penyungsungan jagad – artinya otoritas pengelolaan ada pada ksatria yang memerintah tanah Bali. Proyek-proyek pembangunan pura, di sepanjang pantai, jelas-jelas upaya untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui proyek pembangunan, sehingga dengan memberi kesejahteraan maka ketahanan poleksosbudhankam (istilah orde baru heh) dapat diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Belum lagi upacara-upacara perkawinan, ngaben dan lain-lain yang mampu menarik dana dari yang kaya, untuk dapat dinikmati juga oleh para pelaksana ekonomi masyarakat sekitarnya. Pada saat ngaben / pembakaran mayat / kematian untuk seorang raja, maka keluarganya bisa mengadakan acara sampai 1 bulan 7 hari (42 hari), setiap harinya berapa kerbau, babi atau ayam yang disembelih untuk menyediakan logistik bagi masyarakat yang bergotong royong mempersiapkan upacara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi apakah masyarakat kecil yang tak punya uang, nggak jadi mati, karena ndak punya uang buat ngaben ? Tentu tidak saudaraku, leluhur mereka menyusun tingkatan upacara yaitu nista, madya dan utama. Walau hakekatnya sama, tetapi kuantitas sajennya berbeda-beda. Sama saja dengan kita, kalau kita punya aset 25 M, lalu anak kesayangan kita menikah, tentu biaya 1M tidak masalah. Lalu apakah anak seorang tukang becak tak bisa kawin ? Tentu ada upacara perkawinan yang tak semewah si konglomerat, yang penting kan kawin. Lain halnya kalau ada unsur gengsi atau hanya ingin mudahnya sendiri, ini yang bikin ruwet dan akhirnya menganggap budaya sebagai beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara-sodaraku dari pulau Dewata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan kepercayaan, yang bagi sebagian orang tidak masuk akal, leluhur-leluhur tanah Bali, dapat membuat Bali selamat sampai saat ini, bertahan dari ’serangan’ ekonomi, politik dan sosio kultural sejak beratus tahun yang lalu. Tapi mungkin, karena sudah lama tak disegarkan, maka generasi muda Bali, sudah banyak yang melupakan berbagai filosofi dasar kenapa leluhur-leluhur mereka men-setting budaya seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Leluhur-leluhur tanah Bali, mampu membangun sistem terintegrasi untuk melindungi diri dari serangan ekonomi, politik dan kepercayaan melalui agama yang diintegrasikan dengan budaya. Dan menurut saya, visi para leluhur itu telah tercapai. Kemakmuran dan ketentraman sudah dirasakan. Berbagai produk-produk kesenian hasil kebudayaan yang tinggi, terkenal sampai ke manca negara. Dollar mengalir, warga Bali jadi sejahtera, sambil tetap kuat menjaga jati dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi setelah ’serangan’ Bom Bali, dan kurangnya usaha generasi muda, dalam hal mengkaji ’kecemerlangan’ pemikiran jenius lokal para leluhur mereka, maka akhirnya mereka jadi gamang. Mereka berteriak supaya kembali ke catur weda, yang tebalnya minta ampun, yang kalau dibaca seumur hiduppun tidak tamat, apalagi untuk mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekarang ini banyak muncullah pandita (ulama hindu) tanpa pengikut, ilmuwan spiritual tukang (mengeluarkan statement berdasarkan pesanan) yang berkolaborasi dengan para oportunis politik, berusaha mengobrak-abrik budaya yang telah terbukti berhasil menyelamatkan bali. Konspirasi ini mengusung budaya ’import’ dari India yang ternyata belum mereka kuasai sepenuhnya. Ingin menyingkirkan hasil kerja leluhur tanah Bali, yang telah terbukti sukses, dengan jargon-jargon Hindu Modern yang belum tentu juntrungannya. Lalu sistem sosio kultural mereka hancur sendiri dari dalam. Parisada (kalau kita-MUI), di Bali terpecah dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah disusupi oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan elit politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sang Brahmana berambisi jadi Ksatria – pemerintah negara, Sang Ksatria berkolaborasi dengan Wesya para pedagang untuk mengegolkan proyek-proyek pemerintah, untuk dijarah oleh kroni-kroninya. Hancurlah tatanan masyarakat Bali .... seperti keadaan Tanah Nusantara selama ini. Kiai jadi presiden, janda dipangku , akhirnya dikudeta dan bikin malu saja,. Presiden kuat dan track record luar biasa, terjungkal karena kesalahan kecil membantu anaknya jadi pedagang termasuk jualan mobil. Pedagang berkomplot dengan polisi, menjarah Bank terang-terangan sampai triliunan rupiah. Hancur sudah negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salahkah generasi muda Bali yang mempertanyakan sajen-sajen yang sudah jadi budaya leluhur mereka ? Tidak ... mereka hanya tidak tahu ... sama seperti warga Seluruh Nusantara yang sedang mengalami serangan frontal baik ekonomi, politik dan sosial budaya ... gamang mencari pegangan ... padahal leluhur-leluhur kita telah pernah sukses, melewati ujian - permasalahan yang sama. Pengalaman baik dan buruk mereka, tentu dapat digunakan sebagai pelajaran untuk menghadapi masa depan kita sebagai Bangsa Nusantara ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Karena itulah, sodara-sodaraku anggota mailing list, keterbukaan terhadap berbagai alternatif pemikiran perlu kita kembangkan. Mohon jangan sekali-kali meremehkan kepercayaan seseorang, karena kata orang, kepercayaan seorang anak manusia mampu memindahkan gunung, bahkan mampu ’menyuruh’ gunung meletus, dan lautan meluap. Kepercayaan, walau seperti menghina logika, mampu membangun ketahanan politik, ekonomi, sosial dan budaya tanah Bali, sampai 500 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Biarlah kita berjalan pada keyakinan kita masing-masing, mari kita berusaha, saling isi mengisi, bukan saling menghina bahkan meniadakan, untuk mencapai satu tujuan, memayu hayuning buwono, membuat dunia atau tanah nusantara ini, jadi rahayu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3772165450542694303?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3772165450542694303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3772165450542694303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3772165450542694303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3772165450542694303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/peran-sesajen-dalam-ketahanan-politik.html' title='Peran Sesajen dalam Ketahanan Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-4070943561304227432</id><published>2007-11-18T14:14:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T16:58:58.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Ilir-ilir</title><content type='html'>Cah angon, cah angon, peneken blimbing kuwi, lunyu-lunyu peneken, kanggo mbasuh dodotira. Hai gembala, panjatlah pohon blimbing itu. Meskipun licin, berusahalah untuk memanjat. Gunakan perasan buahnya untuk menyucikan dodot yang engkau pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gembala adalah perlambang penjaga rakyat. Penjaga yang bertugas untuk menuntun rakyat atau domba-dombanya kepadang rumput subur, yang memberi kesejahteraan lahir dan bathin. Dodot adalah kain panjang yang digunakan oleh para raja dan nara praja. Dalam hal ini dodot dikaitkan dengan pakaian – atau ageman para raja. Apa yang menjadi pegangan, yaitu adalah Agama Ageming Aji – agama yang menjadi pegangannya para raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lagu ini menghimbau para pemimpin negara untuk memperbaiki perilaku dan keyakinan mereka. Agama bukan hanya untuk formalitas kekuasaan, akan tetapi benar-benar untuk di lakoni. Gembala disuruh memanjat pohon belimbing. Banyak yang salah kaprah, katanya belimbing perlambang Islam, karena kulitnya bergaris lima, dan rukun islam berjumlah lima. Demikiankah yang dimaksud ? Jawabannya belum tentu. Kalau yang dimaksud dengan rukun islam, tentu tidak disimbolkan dengan memanjat pohon belimbing yang licin. Belimbing buahnya untuk digunakan ’membersihkan’ dodot atau pakaian yang kotor. Bicara agama sebagai kepercayaan tok, tentu tidak bisa digunakan untuk menyucikan perilaku kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam sejarah jawa kuno, buah belimbing dengan lima garis merupakan perlambang Pancasila Buddhis, lima sila kemoralan. Kelima sila itu terdiri dari menghindari pembunuhan,  pencurian, perbuatan asusila, kebohonan, mabuk. Inilah sila atau perilaku yang dikenal di khazanah budaya jawa kuno pada saat itu. Pancasila Buddhi ini tidak hanya untuk penyelenggara negara saja, tetapi untuk seluruh masyarakat. Tetapi sebagai panutan, walau susah, seorang pemimpin harus melaksanakan kelima hal di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemimpin bangsa pada hakikatnya adalah para gembala yang berdodot, karena itulah tembang ilir-ilir ini, walau sudah banyak dilupakan, rasanya masih relevan untuk direnungkan, oleh para legislatif yang masih seperti murid TK. Pimpinan yudikatif yang mengobrak-abrik hukum itu sendiri. Dan para eksekutif yang sudah mulai menggali kapak perang, jauh sebelum pertandingan dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hai para pemimpin negeri, bersihkan perilakumu dengan nglakoni buah belimbing - Pancasila Buddhi. Walau untuk melaksanakan itu, harus lewat jalan licin, terjal dan berliku, patutlah engkau usahakan. Sebelum domba-dombamu berontak, karena muak melihat perilaku gembala yang membikin derita para domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-4070943561304227432?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/4070943561304227432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=4070943561304227432' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/4070943561304227432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/4070943561304227432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/ilir-ilir.html' title='Ilir-ilir'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-6262558168709586809</id><published>2007-11-18T14:13:00.001-08:00</published><updated>2007-11-18T16:59:30.375-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Kali Yuga</title><content type='html'>Bab Wanaparwa, bagian 189&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The Mahabrata Of Krishna Dwaipayana Vyasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yuga adalah perioda / era, sehingga kali yuga bisa dikatakan sebaga perioda kali. Berikut paparan Rishi Markandeya tentang Jaman Kaliyuga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Catur wangsa dalam Kali Yuga mempunyai akhlak serta menjalankan kebajikan yang tidak jujur. Pada umumnya orang-orang menipu penganut penganutnya dengan menyebarkan apa yang dikatakan “kebajikan”. Akibat dari pada hilangnya kebajikan, umur manusia menjadi pendek. Akibat umur pendek maka manusia tak mempunya pengetahuan yang cukup. Akibat kurang pengetahuan, mereka tidak punya kepradnyan. Oleh karena itu maka sifat tamak dan kikir berkuasa. Diliputi rasa tamak, murka, mabuk dan bernafsu, manusia dengki terhadap sesama manusia dan ingin jiwanya satu sama lain. Golongan yang rendah terangkat dan menduduki kedudukan yang tinggi, yang tinggi turun sampai ke tingkat yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Busana yang dianggap terbaik, ialah yang terbuat dari pada bahan rami. Menjelang jaman ini orang menganggap bahwa istrinya adalah satu-satunya kawan. Manusia tidak percaya akan adanya Tuhan dan menjadi pencuri. Orang-orang mencari kepuasan atas milik orang lain. Ayah mencari kesenangan atas milik anaknya dan sebaliknya si anak mencari kesenangan atas milik orang tuannya.  Hal atau barang-barang yang disenangi itu adalah yang terlarang menurut sastra-agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Brahmana tak menjalankan kegiatan pemujaan. Dan karena pengetahuan budinya dipengaruhi oleh kepalsuan, mereka mengarahkan kegiatannya kepada apa yang bersifat hina. Putera yang telah membunuh orang tuanya, orang tua telah membunuh puteranya, tidak dipandang sebagai orang durhaka.  Upacara lenyap, kegemaran orangpun hilanglah. Tak seorangpun mau meminang anak gadis untuk menjadi istrinya, dan tidak seorangpun mau memberikan anak gadisnya untuk maksud itu, tetap si gadis itu sendirilah memilih bakal suaminya. Raja di dunia yang berjiwa pemabuk, dan tidak puas atas apa yang telah dimilikinya,  pada jaman itu, merampas harta benda rakyatnya dengan berbagai-bagai cara dan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada akhir Yuga, tangan kanan menipu tangan kiri, dan tangan kiri menipu tangan kanannya. Orang tua mengkhianati orang muda yang belum mempunya pengertian, dan orang-orang muda menghianati orang tua. Para pengecut memperoleh jasa seperti orang yang gagah berani, orang gagah berani memperoleh penghinaan seperti orang pengecut. Orang-orang sama tidak mempercayai diri satu sama lain. Dosa dan pengkhianatan tumbu subur, sebaliknya kebajian pudar dan tidak berkembang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Brahmana dan ksatriya lenyap tiada berbekas. Semua orang merupakan anggota golongan kasta umum yang tiada mengenal perbedaan macam apapun. Orang tua tidak mengampuni puteranya, dan putera tidak mengampuni orang tuanya, isteri tak meladeni suami. Manusia mencari negeri dimana gandum dan jewawut menjadi makanan pokok. Lelaki dan wanita bebas sekali dalam tabiat kelakuannya, dan dalam perbuatan yang satu kepada yang lain tidak suka saling mengalah. Orang-orang tidak lagi memberikan kepuasan kepada Dewa-dewa dengan mempersembahkan sradha. Tidak seorangpun suka menghiraukan kata-kata orang lain, dan tidak seorangpun menganggap dirinya sebagai guru dari orang lain. Intelektualisme gelap menyelubungi seluruh dunia, dan umur manusia rata-rata cuman enam-belas tahun. Pada usia itu, mautpun sudah menghadang. Wanita berumur lima atau enam-tahun sudah beranak dan pria yang berumur tujuh atau delapan tahun telah menjadi bapak. Isteri tak puas dengan suaminya, dan suami tidak puas dengan istrinya. Milik orang tidak bisa (bertambah) banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Orang-orang yang menjalankan agama dengan kepalsuan. Iri hati dan kebencian meraja lela. Tak seorangpun suka berdana punia (bersedekah/beramal) kepada orang lain. Penduduk dunia mengalami kesengsaraan akibat kekurangan dan kelaparan. Jalan-jalan raya dipadati oleh laki-laki dan perempuan-perempuan yang sangat bernafsu dan jahat. Semua orang berbudi pekerti seperti ”Mleccha”, kasar dalam perbuatan serta mengatakan keburukan orang lain. Orang-orang dengan tidak menyesal menghancurkan hutan-hutan dan taman-taman. Dan terhadap makna kehidupan orang-orang merasa cemas. Dikuasai oleh hatinya yang loba, orang-orang membunuh brahmana-brahmana, dan merampas harga benda korbannya itu. Para brahmana yang ditindas oleh sudra dicekam rasa takut dan mengeluh ’aduh dan sayang’. Mereka menjelajahi dunia, namun tiada seorangpun yang memberi perlindungan. Itulah ciri-ciri Yuga akan berakhir (Kali Yuga). Bahkan yang terkemuka dari para Brahmana di bencanai oleh maling, bagaikan burung gagak, lari mencari tempat untuk berlindung di dalam sungai-sungai, digunung-gunung dan ditempat-tempat yang sukar dikunjungi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tertindas oleh pemerintahan yang buruk, dan diperas oleh pengenaan pajak yang berat, para pemuka brahmana di dalam jaman yang dahsyat itu hilang kesabarannya, lalu berbuat yang tidak utama, bahkan menjadi hamba-hamba sahaya Sudra. Sudra menguraikan isi Kitab Suci dan Brahmana-brahmana mendengarkannya, dan menetapkan jalan kewajibannya sesuai dengan tafsiran penunjuk jalannya itu. Orang rendah menjadi orang-orang tinggi, dan perjalanan hidup nampaknya terbalik. Mereka tidak lagi menyembah dewa-dewa, yang disembah adalah tulang-tulang dan lain-lain jimat di dalam tembok. Sudra tidak lagi mengabdi pada Rsi-rsi agung, di sekolah-sekolah dan tempat-tempat di mana para Brahmana memberikan kuliah dan tempat-tempat suci bagi Dewa-Dewa dan pada sumber-sumber mata air suci, penuh berisi makam-makam dan tembok-tembok yang menyimpan jimat tulang-tulang, bukannya berdiri pura-pura yang diperuntukkan bagi para Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yuga akan berakhir jikalau bunga keluar dari bunga, dan buah keluar dari buah. Mendung di angkasa tidak menjatuhkan hujan tepat pada musimnya. Aturan upacara tidak dipatuhi lagi, dan sudra bersengketa dengan Brahmana. Karena tekanan hidup yang berat itu, orang-orang pada lari kehutan-hutan dan hidup dari buah-buahan dan umbi-umbian. Murid-murid tidak mentaati perintah gurunya, bahkan murid-murid membencanai dan tidak menghormati guru-gurunya lagi. Orang-orang hanya menjalankan tugas kekeluargaan semata-samata untuk memperoleh kemakmuran dan mendapatkan harta milik orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam masa berakhirnya Yuga itu, semua orang merasa kekurangan. Pada kaki langit tampak cahaya, tapi semua bintang dan kumpulan bintang-bintang tidak bercahaya lagi. Angin berhembus sangat kencangnya dan banyak mercu (meteor?) jatuh dari langit, itu adalah alamat buruk. Matahari terbit bersama dengan matahari yang lain (=tujuh buah matahari). Mulai dari terbitnya sampai dengan terbenamnya, matahari di telan Kala Rahu. Dan dewa dari seribu mata (Hyang Indra) menjatuhkan hujan tidak cocok pada musimnya, tanaman padi tidak mau tumbuh subur berlimpah-limpah. Wanita-wanita senantiasa mengucapkan kata-kata tajam, tidak menaruh belas kasihan tapi mudah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Api berkobar dari semua arah. Orang-orang yang bepergian tidak berhasil mendapatkan makan minum dan perlindungan, meskipun mereka mencari dan memintanya. Mereka terlantar di tepi-tepi jalan mengulang-ulang kembali permohonannya itu. Buraung-burung gagak, ular dan burung-burung nasar, burung rajawali dan lain-lain binatang, dan burung-burung bergalu, suaranya mengerikan. Orang-orang membuang dan melalaikan sahabat dan keluarganya, dan bujang-bujangnya. Orang-orang minggat dari negeri dan kota tempat kedudukannya, mereka mencari tempat yang baru di satu dan lain tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apabila keadaan jaman yang dahsyat itu lampau, maka sang pencipta membangun duniu baru. Kapan itu? Terjadi manakala matahari dan bulan dan bintang Wrishaspati berada dalam susunan yang bernama ”Pushya”  masuk pada tanda yang sama, maka jaman Kali Yuga akan berakhir digantikan oleh Jaman Kritya Yuga. Karena takdir, maka seorang Brahmana Kalki akan lahir didunia. Beliau memuja Hyang Wisnu dan mempunyai kekuatan besar serta pengetahuan tinggi dan gagah berani. Beliau akan lahir di suatu kota yang bernama ’Sambhala’ dalam keluarga Brahmana yang suci. Kereta, senjata, baju zirah segera ada pada beliau untuk dipergunakannya begitu hal terlintas dalam pikiran beliau. Dan beliau akan menjadi raja dari para raja-raja, dan selamanya jaya berkat kekuatan kebajikannya. Beliau membangun dunia kembali dengan menertibkan kembali sasana-sasana dan mewujudkan perdamaian dunia yang berpenduduk padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah para pencuri dan penyamun di musnahkan, Brahmana Kalki pada suatu upacara Kurban-Kuda menyerah-terimakan dunia ini kepada brahmana-brahmana, dunia yang telah dibangun kembali. Sesudah itu beliau masuk ke dalam hutan, dan semua orang di bumi meniru perbuatannya itu. Dan setelah brahmana-brahmana memusnahkan para pencuri dan penyamun, maka tersedialah kekayaan yang melimpah ruah di bumi.  Kemudian setelah dunia memperoleh pemerintahan yang baik, Brahmana Kalki setelah menanggalkan pakainnya yang terbuat dari kulit rusa, tombak dan trisula, akan kembali menjelajahi dunia, diiringi oleh para Brahmana yang utama dan hormat pada beliau, sambil membunuh para maling dan penyamun. Manakala dosa-dosa dengan demikian dibersihkan serta kebajikan menghiasi budi orang pada, maka dimulailah jaman baru yaitu Krita Yuga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---oOo---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rekan-rekan pembaca yang saya hormati. Sebagai akhir kutipan ini saya ingin mendapatkan masukan mengenai beberapa hal yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1. Dari parameter-parameter Jaman Kaliyuga yang telah ditulis berabad yang lampau, apakah menurut anda kita sekarang sudah berada pada jaman Kali Yuga ?&lt;br /&gt;       2. Apakah ada yang tahu arti perlambang - bunga keluar dari bunga, buah keluar dari buah ?&lt;br /&gt;       3. Tentang tujuh matahari, apakah ada ramalan-ramalan lain yang menyebut tentang itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sudilah kiranya untuk meluangkan waktu memberikan komentar tentang ketiga pertanyaan di atas. Terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-6262558168709586809?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/6262558168709586809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=6262558168709586809' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6262558168709586809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6262558168709586809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/kali-yuga.html' title='Kali Yuga'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-7482467847408905480</id><published>2007-11-18T14:11:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T17:00:05.703-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Artadaya - Ilmu Penakluk Jagat Raya</title><content type='html'>Samengko ingsun tutur, Sembah catur supaya lumuntur, Dhihin: raga, cipta, jiwa, rasa, kaki, Ing kono lamun tinemu, Tandha nugrahaning manon [Serat Wedhatama, Gambuh]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anakku Ki Butalocaya, saat ini saya ingin bercerita tentang empat sembah, dengan harapan dapat engkau tahu, pahami, laksanakan dan manfaatkan, lalu disebarkan, untuk membuat dunia ini menjadi rahayu. Sembah Catur, yang pertama adalah sembah raga, lalu sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa. Jika engkau laksanakan ke empat sembah ini secara bertahap, niscaya engkau akan mendapatkan anugerah dari Hyang Manon. Untuk kesempatan ini, kucoba menerangkan sembah terakhir yaitu sembah rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rasa dan kekuatan bathin dalam hidup, bukan berasal dari jasmani atau pikiran. Rasa sesungguhnya berasal dari roh ilafi. Rasa bathin dalam hidup, berasal dari roh ilafi – atman – jiwa alam semesta. Orang-orang yang yang mampu menunjukkan kekuatan yang menakjubkan di dunia ini, adalah mereka yang sudah mampu mendaya gunakan roh ilafi tersebut. Kekuatan ruh ilafi pada diri sesorang, akan mempesonakan jutaan jiwa manusia. Akan tetapi, ingatlah anakku, perjalananmu masih panjang, jangan tergoda untuk menaklukkan jiwa orang lain. Berilah selalu pencerahan dan semangat untuk memberdayakan, bukan menguasai kehidupan manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gunung luhure kagiri-giri, segara agung datanpa sama,&lt;br /&gt;    Pan sampun kawruhan reke, artadaya puniku,&lt;br /&gt;    Data kena cinakreng budi, anging kang sampun prapta,&lt;br /&gt;    Ing kuwasanipun, angadeg tengahing jagad&lt;br /&gt;    Wetan kulon lor kidul ngandhap myang nginggil, kapurba wisesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bumi sagara gunung myang kali, Sagunging kang isining bawana&lt;br /&gt;    Kasor ing artadaya, Sagara sat kang gunung&lt;br /&gt;    Guntur sirna guwa samya nir, Sing awruh artadaya&lt;br /&gt;    Dadya awruh artadaya, Dadya teguh timbul&lt;br /&gt;    Lan dadi paliyasing prang, ,Yen lulungan kan kapapag, wedi asih&lt;br /&gt;    Saro galak suminggah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gunung yang luar biasa tinggi, lautan pasang tiada tara, semua itu sudah diketahui. Sedangkan artadaya itu, tak dapat dibayangkan oleh pikiran. Tetapi, bagi yang sudah mencapai kekuasaannya. Berdiri di tengah jagad, timur, barat, utara, selatan, bawah, dan atas, semuanya ada itu berada dalam kekuasaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bumi lautan, gunung dan sungai. Semua yang menjadi isi dunia. Takluk pada artadaya. Lautan kering, gunung dan guntur sirna. Gua menjadi hilang. Barangsiapa mengetahui artadayanya, akan menjadi orang yang kuat tanpa tanding. Menjadi pencegah perang, bila bepergian, yang bertemu merasa segan dan timbul kasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    [Kidung Dharmawedha]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Engkau tak bisa memprediksi kekuatan artadaya hanya berdasarkan logika-akal-pikiran. Tak bisa dengan rasio. Tak terbandingkan. Apa yang disebut sebagai mukjizat, karomah, maunah dan istijrat, semuanya adalah wujud dari kekuatan artadaya. Secara hakikat, memang daya dan kekuatan itu semata-mata kepunyaan Allah. Tapi, dalam kenyatannya daya dan kekuatan itu dihadirkan oleh Tuhan pada artadaya yang ditempatkan pada setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika engkau tenggelam dalam meditasi dan merenungkan hidupnya, seseorang telah mampu menembus para Roh Ilafi dan artadaya, maka dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang sudah mencapai artadaya-nya. Mereka memiliki mukjizat. Dan kekuatannya tak tertandingi. Mereka memiliki kharisma yang mampu mencegah terjadinya perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tekunlah kau agar artadaya-mu dapat engkau capai. Kalau artadaya itu tercapai, engkau dapat dengan sengaja menghilang, kebal, menciptakan emas dari tanganmu, bahkan engkau mampu memerintahkan gunung meletus atau luapan samudera. Itu sebagai tanda bahwa engkau sudah mampu memberdayakan Roh Ilafi-mu. Akan tetapi ingatlah jangan engkau pergunakan itu, kecuali dan hanya kecuali, kau sudah mendapat bimbingan dari Sang Paramaatma. Bimbingan langsung dari Gusti Allah, bukan sekali lagi bukan karena dorongan keinginan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tanah Nusantara saat ini sedang bergejolak bukan tanpa sebab anakku. Aku merasakan ada aura kekuatan artadaya, entah disengaja ataupun tidak sangaja. Sebentar lagi  sang penguasa artadaya akan muncul, bersiaplah. Semoga engkau dapat mempergunakan kekuatan yang ada pada dirimu, agar engkau dapat mencegah kerusakan lebih hebat lagi, semoga dia akan merasa segan dan timbul kasih karena kharisma artadaua yang engkau miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berhati-hatilah Ki Butalocaya anakku, semoga engkau tetap eling dan waspada, berjuanglah agar tanah Nusantara menjadi rahayu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-7482467847408905480?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/7482467847408905480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=7482467847408905480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7482467847408905480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7482467847408905480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/artadaya-ilmu-penakluk-jagat-raya.html' title='Artadaya - Ilmu Penakluk Jagat Raya'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-5159601085050531342</id><published>2007-11-18T14:09:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:10:32.262-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Sudah Hampir Tiba Waktunya</title><content type='html'>Sesepuhku, kalau boleh aku bicara, jangan coba kau menghalangi,&lt;br /&gt;    niat ini tak direstui, bahkan akan menjadi bumerang keras menghantam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada batu yang dikenal dengan Selo Gilang, letaknya di desa Bambang Lipura,&lt;br /&gt;    tempat Panembahan Senopati, melipur lara, bersemedi menahan gejolak hati.&lt;br /&gt;    Juga tempat sesungguhnya dimana beliau mendapatkan wahyu.&lt;br /&gt;    Sebuah tempat di tengah alas mentauk, ratusan tahun yang lalu  .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari yogyakarta, ke arah parangkusumo, samas, Bambang Lipura, Desa Kanutan. Ada gerbang dengan api di atasnya. Masuk terus lurus, dibelokan pertama ada pohon asam tua. Gerbang Ardanareswari - dua menjadi satu, rumah kecil kuno, di dalamnya ada Selo Gilang. Batu tempat semedi, sang penguasa tanah jawi, Panembahan Senopati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    P'Hendro, sang juru kunci, pasti punya petunjuk menyelesaikan masalah ini. Katakan sandi ini : Gunung Merapi, Meletus Laharnya Berbau Amis. Dia akan mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kuncinya ada di P'Hendro, dia sederhana. Tahu tapi tidak tahu.&lt;br /&gt;    Tidak tahu tapi sebenarnya dia tahu.  Banyaklah bertanya, karena dia punya prinsip hanya menjawab kalau ditanya. Mudah-mudahan dia bisa memberi&lt;br /&gt;    jalan, artadaya siapa yang mampu meredam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Walau banyak orang mencibir, tapi artadaya - ilmu kendali jagad raya itu ada. Hujan berhenti, Gunung Meletus,  Samudra meluap ... aura artadaya seseorang sudah tercium. Minta pentunjuk pada P'Hendro ... sebelum terlambat ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Adakah yang mau melakukan ini ? Pergi ke P'Hendro, untuk minta petunjuk. Rekan-rekan milis, pergilah kesana, usaha anda tak akan pernah sia-sia. Karena disanalah, tempat pemicu artadaya. Berdoa layaknya 'cangkir kosong', tanpa pamrih, biarlah Sang Kuasa Alam mengisi cangkir itu sesuai kehendaknya. Mintalah P'Hendro untuk menuntun, jangan lupa sandinya, Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Merapi, parangkusumo dan desa ndlepih di tirtomoyo, membentuk segitiga.&lt;br /&gt;    Monumen yogya kembali laksana ujung paku yang muncul ke permukaan bumi.&lt;br /&gt;    Sebagai titik berat segitiga maya yang menghubungkan ketiga tempat itu.&lt;br /&gt;    Jangan sampai hancur setengah segitiga lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga ini belum terlambat.&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi yang berminat datang sebelum 6 Juni ke Bambang Lipura, bisa hubungi saya via japri. Semoga saya dapat memberi guidance ke anda, saat semedi memohon artadaya di Selo Gilang, Bambang Lipura. Tidak boleh berinat meminta harta benda atau kuasa, karena bukan di Selo Gilang tempatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---oOo---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jawa Tengah - DIY&lt;br /&gt;    Mbah Marijan dan Bunda Lia dari Parangtritis Ritual Bersama&lt;br /&gt;    Image&lt;br /&gt;    Image  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    YOGYAKARTA--MIOL: Juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan dan Pemimpin Pondok Songgo Buwono Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bunda Lia melakukan upacara ritual bersama di kaki Gunung Merapi, Jumat dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Kamis (1/6) siang, Mbah Marijan mendatangi kami di Parangtritis untuk meminjam keris pusaka 'cangkung tindik mas' yang digunakan dalam upacara malam ini. Sekarang kami menjumpai Mbah Marijan di Merapi untuk ikut dalam upacara ini," kata Bunda Lia di Yogyakarta, Kamis Malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia menjelaskan sebelum mengikuti upacara ritual bersama itu, dalam perjalan dari pantai Parangtritis, Bunda Lia bersama rombongan melepas seekor ayam putih di setiap perempatan jalan yang dilalui hingga ke tempat tinggal Mbah Marijan di Dukuh Kinahrejo, Dusun Pelemsari, Desa Umbulharjo, Kabupaten Sleman, DIY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekitar 10 orang dengan mengendarai satu mobil dan dikawal sekitar empat sepeda motor bertugas melepas ayam putih tersebut. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa serba hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebelum melakukan upacara ritual bersama, para peserta dari Kinahrejo maupun Parangtritis yang mengenakan pakaian adat Jawa berkumpul di rumah Mbah Marijan. Mereka melakukan doa bersama kemudian melakukan upacara ritual dengan berjalan mengelilingi dusun dusun di Desa Umbulharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ritual itu diikuti sekitar 40 peserta. Sepanjang perjalanan mereka tidak berbicara karena memang upacara ritual itu harus dilakukan dengan cara membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Tadi siang, ada kabar yang menyatakan Mbah Marijan mengungsi dari Gunung Merapi. Kami tegaskan, isu itu tidak benar. Mbah masih di sini dan memimpin upacara ini," kata tokoh di dusun itu yang menjadi salah satu juru bicara rombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beberapa jam sebelum dilakukan upacara ritual bersama, di Yogyakarta beredar isu akan terjadi lagi gempa bumi besar dan Gunung Merapi meletus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Baik Mbah Marijan maupun Bunda Lia menolak menjawab pertanyaan tentang kaitan antara penyelenggaraan upacara tolak bala itu dengan isu yang sempat beredar luas di masyarakat Yogyakarta tersebut. Isu tersebut beredar di tempat-tempat pengungsian korban bencana gempa bumi di DIY. (Ant/OL-06)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-5159601085050531342?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/5159601085050531342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=5159601085050531342' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5159601085050531342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5159601085050531342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/sudah-hampir-tiba-waktunya.html' title='Sudah Hampir Tiba Waktunya'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-7650370599793640717</id><published>2007-11-18T14:08:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:09:04.096-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Bima Pergi Ke Sumur Dorangga</title><content type='html'>Awignam Astu Nama Siddham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Syahdan sang prabu dari Gajahoya, Sri Maharaja Driyodhana, sedang merundingkan sesuatu dengan Sri Dang Hyang Drona. Nampaknya sangat penting hal yang mereka bicarakan, sebab para pujangga, resi, pendeta Syiwa, pendeta Buddha, menteri, pejabat tinggi negara, kepala daerah dan pegawai rumah tingga istana tak ada yang diikutsertakan dalam pembicaraan itu. Berkata Driyodhana, bahwa ia bermaksud mengakhiri hidup Sang Bima yang sedang berguru pada Drona untuk memperoleh ilmu kamoksan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tak lama kemudian datanglah Raden Wrekodara, yang disambut Diryodhana dan Dang Hyang Drona. Bahagia, anakku Raden Wrekodara, sungguh bahagia anaknda datang kepada saya, sebab saya akan memberikan surga kepadamu. Carilah anakku, air suci, Banyu Mahapawitra, agar saya dapat menyampaikan kepadamu kata-kata bertuah tentang pelepasan raga. Adapun tempat Banyu Mahapawitra itu di sumur Dorangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berkata Bima, Raden Wrekodara “Selamat tinggal guruku, saya berangkat mencari Banyu Mahaprawitra”. Segera ditinggalkannya Gajahoya, berbagai kesulitan bahaya dan kesukaran ditemui di perjalanan. Melintas jurang curam, tebing terjal, cadas-wadas – ia langsung menuju ke sumur Dorangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tanpa ragu ia masuk, tidak takut, tidak gentar. Tapi Banyu Mahapawitra tidak ia temukan. Sumur yang kotor dan sunyi itu ternyata dihuni ular sejodoh yang sangat ganas. Kedua ular membelit, menggigit dan menghisap Bima, tapi tak sedikitpun menyebabkan luka pada tubuhnya. Segera ulur sejodh itu ditusuk dengan pancanhaka (panca=5, naka=kuku). Darah ular menyembur, leher naga robek, keduanya mati oleh keperkasaan Sang Bima. Segera di lempar bangkai ular itu keluar semur. Terkejutlah dua pengiring Sang Bima, bernama Si Gagakampuhan dan Si Tuwalen, karena terkena bangkai naga, mereka gemetar dan meremang bulu kuduk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu keluar Sang Bima dari sumur Dorangga dan segera ia sampai ke atas. Kedua bangkai naga diangkut oleh para pengiring Raden Wrekodara dan segera meninggalkan tempat itu. Belum jauh perjalanan, tiba-tiba dari jauh terdengar jeritan memanggil Sang Bima, dan dua orang bagus dan cantik tiba-tiba datang, lalu menangis dan menyembah. Dengan hormat Bima berkata ”Saya bertanya kepadamu, pria tampan dan putri cantik, dari mana kalian datang?” Bidadara dan bidadari itu menjawab ”Di bawah duli paduka Raden, kami memberi tahukan, bahwa sesungguhnya kami terjadi dari naga sejodoh. Radenlah yang melukat (menyucikan) kami dari mala petaka. Kami mohon diri untuk kembali ke Suralaya”. Lalu melesat bidadara dan bidadari itu ke antariksa. Raden Wrekodara sangat heran, dan ia lanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rupanya bidadara dan bidadari itu telah lama menderita duka nestapa menjadi naga. Dwidasya warsa, dasya = sepuluh, dwi = dua, warsa = tahun, dua belas tahun mereka menderita. Sekarang mereka cantik dan bagus seperti sedia kala. Si Syarasambaddha dan si Harsanandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu tertawa dan bersukahatilah Sri Maharaja Driyodhana dan Sri Dang Hyang Drona. Berkata Sri Dang Hyang Drona ”Sekarang matilah Si Bima digigit naga. Ini terlihat dalam Puja saya, namanya puja Kuncang kancing, sebab saya awas dalam penglihatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekonyong-konyong datang Sang Wrekodara, menghadap Sri Dang Hyang Drona dan mempersembahkan kedua bangkai naga kepadanya. Terkejutlah mereka melihat wujud naga yang sebesar pohon kelapa, menyeringai gigi taring dan membelalak kedua matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu berkata Sang Wrekodara, ”Tidak saya temukan Banyu Mahapawitra dalam sumur Dorangga, yang kotor dan sunyi ini. Saya menemukan dua ekor naga, yaitu yang saya persambahkan ini. Kedua naga menggigit dan membelit dan menghisap saya. Kedua naga saya tusuk dengan Pancanhaka sempai mati, ternyata mereka adalah bidadara dan bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menjawab Sri Dang Hyang Drona, ”Kelirulah saya, anakku Sang Wrekodara. Tidak dalam sumur Dorangga air suci itu. Kelihata dalam puja saya, bahwa Banyu Mahapawitra ada di lapangan Andadawa. Segera berangkatlah, jangan membuang-buang waktu, anakku Sang Wrekodara dan waspadalah. Akan kamu temukan, Banyu Mahapawitra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Om Saraswatyai namah&lt;br /&gt;    Om gemung Ganapataye namah&lt;br /&gt;    Om Syri-Gurubhyo namah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Om hormat dan puji kepada Saraswati,&lt;br /&gt;    Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati&lt;br /&gt;    Om, hormat dan puji kepada guru-guru yang terhormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *** Disarikan dan diolah kembali dari&lt;br /&gt;    *** Buku Nawaruci&lt;br /&gt;    *** di Indonesiakan oleh SP Adhikara,&lt;br /&gt;    *** Penerbit ITB Bandung, 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam cerita di atas bidadara Syarasambaddha dan bidadari Harsanandi dikutuk menjadi dua ekor ular sejodoh karena membuat kesalahan. Tak dijelaskan siapa yang mengutuk dan apa kesalahannya sempai dikutuk menjadi dua ekor naga itu. Untuk menjawab kedua pertanyaan tadi, perlu kita ketahui dulu bahwa bidadara-bidadari tugasnya melayani Batara Guru pada semua acara keagamaan, misalnya menyanyikan kidung, menari dan menyiapkan bunga tabur. Mungkin Syarasambaddha dan Harsanandi melaluikan tugas mereka karena terlalu asik berkasih-kasihan sebagai suami istri seperti dua ekor naga, sehingga dikutuk oleh Batara Guru menjadi naga sejodoh dan tinggal dalam sumur Dorangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sumur adalah tempat air dan air adalah lambang kesucian. Tetapi dalam sumur Dorangga terdapat dua ekor naga sejodoh Syarasambaddha dan Harsanandi. Kalau di analisa dari nama-nama Dorangga, Syarasambaddha dan Harsanandi, maka kita dapat memahami apa yang tersirat dari perintah Drona kepada Bima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurut kamus jawa kuno Zoetmulder arti kata dora = bohong, palsu, dusta. Sedangkan angga=awak, diri. Syarasambaddha asal kata syara=panah, jenis alang-alang atau rumput (dipakai untuk panah. Sambaddha = (sansekerta – hubungan pertalian, hubungan kepada, hubungan pribadi, kekerabatan, persahabatan, kerabat, sanak saudara, teman). Lalu Harsanandi asal kata harsa = kesukacitaan, kesenangan dlsb dan nandi = (nandini?) lembu putih yang dapat memberikan segalam permintaan, biasa juga dikaitkan dengan Batara Wisnu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari analisis kata-kata di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada yang tersirat di belakang perintah Resi Drona kepada Bima : ”Wahai Bima, kamu adalah orang yang ditipu (Dorangga), sebab dalam sumur tak kamu temukan air suci, melainkan naga sejodoh (syarasambaddha=panah seikat, naga-naga seikat) yang sedang hidup bersukacita melestarikan jenisnya”.  Sebagai Brahmana kerajaan di harus melaksanakan perintah Driyodana, tetapi sebagai seorang guru, dia sangat sayang terhadap Bima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Atau pula mungkin maksud pengarang adalah memberikan petunjuk pada kita bahwa untuk mencari kesucian atau Banyu Mahapawitra maka yang di”bunuh” pertama kali adalah keterikatan terhadap nafsu dan keinginan-keinginan terhadap kebendaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk menjadi seorang ksatria - pemimpin - pengelola pemerintahan, maka nafsu rendah dan birahi harus ditundukkan terlebih dahulu. Siapa yang bisa menundukkan ? Tiada lain adalah diri sendiri, bukan undang-undang ataupun fatwa-fatwa, bhisama-bhisama pemimpin agama. Yang mungkin saja seperti Drona, yang terkadang memberi petunjuk yang 'menyesatkan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitu banya tafsir yang dapat digali dari sebuah cerita. Semoga rekan-rekan dapat mengkaji cerita, mencoba merangakai pengalaman dan pengetahuan untuk dapat memeras mutiara-mutiara yang ada dari sebuah cerita.  Mutiara itu, hanya dapat dipungut dengan mempercayai maksud baik dari sang pengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada kesempatan berikutnya, jika ada jodo, saya akan datang lagi dengan cerita lanjutan yaitu Bima Pergi Ke Lapangan Andadawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-7650370599793640717?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/7650370599793640717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=7650370599793640717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7650370599793640717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7650370599793640717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/bima-pergi-ke-sumur-dorangga.html' title='Bima Pergi Ke Sumur Dorangga'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3831896264063252196</id><published>2007-11-18T14:06:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:07:13.336-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Manajemen Strategik</title><content type='html'>Manajemen Strategik magnify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kepemimpinan strategik merupakan suatu elemen kunci yang efektif dalam manajemen strategik. Pemimpin-pemimpin di tanah Nusantara, baik presiden ataupun kepala daerah, pemimpin perusahaan ataupun kepala keluarga, sudah seharusnya memfokuskan seluruh potensi pada arah strategik yang dicita-citakan. Atau untuk para orang-orang yang meraih kekuasaan melalui kampanye, maka anda harus dapat memenuhi janji yang telah diucapkan, karena pada hakikatnya, orang suci bersabda, ”janji adalah hutang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apakah ada sumbangsih budaya nusantara di bidang manajemen strategik ini ?  Ada sebuah tembang Gambuh di Serat Wedhatama yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ruktine ngangkah ngukut,&lt;br /&gt;    Ngiket ngruket triloka kakukut,&lt;br /&gt;    Jagad agung ginulung lan jagad alit,&lt;br /&gt;    Den kendel kumandel kulup,&lt;br /&gt;    Mring kilaping alam kono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk mencapai gemerlap atau ’kilap’ alam masa depan yang cita-citakan, maka diperlukan suatu penjelasan (ruktine) atau persiapan. Penjelasan tentang ’apa’ tujuan yang ingin dicapai (ngangkah). Lalu sang pemimpin harus tahu cara, aktifitas atau peta strategi untuk mencapai apa yang dicita-citakan (ngukut).  Setelah jelas ’apa’ yang ingin diraih dan peta strategi untuk mencapainya, berikutnya adalah ngiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ngiket adalah mengikat. Sosialisasi ke setiap pihak yang akan dilibatkan untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin harus mampu, mengkomunikasikan tujuan dan cara untuk mencapainya kepada seluruh pihak yang akan terkena dampak atas keputusannya (stakeholder). Tentu isi dari sosialisasi ini disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsinya (swadharma). Dengan sosialisasi ini, diharapkan seluruh stakeholder memiliki semangat yang sama persepsi yang sama tentang tujuan yang ditetapkan serta tahu cara mencapainya. Dengan sosialisasi dan kesepahaman, maka akan terjadi ikatan untuk bekerja keras bersama untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sehingga semangat ”bersama kita bisa” benar-benar dipahami oleh setiap elemen, sesuai dengan tujuan dan peta strategi yang ditetapkan oleh pemimpin.  Tanpa adanya formulasi strategi yang didapat dari ’ngangkah’ lalu dilanjutkan dengan peta strategi untuk mencapai tujuan yang diformulasikan itu, maka slogan ”bersama kita bisa” hanyalah slogan kosong, yang indah diucapkan saat kampanye tapi membingungkan saat ingin dilaksanakan oleh seluruh aparat negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ngruket dapat diartikan sebagai usaha keras untuk mencapai sesuatu. Kalau sudah tahu apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mencapainya, serta tersosialisasi sehingga setiap pihak yang terlibat menjadi ’terikat’ akan komitmen bersama, maka sumber daya (tri loka) untuk mencapai tujuan akan lebih mudah dikumpulkan (kakukut). Tri loka secara umum dapat diartikan sebagai jnana – know how, wirya – kendali dan artha atau resources / sumber daya fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jagad agung ginulung lan jagad alit, artinya sebelum suatu rencana dilaksanakan maka harus dibuat model atau prototype terlebih dahulu. Model untuk deliverables / produk fisik / non fisik dan peta strategi untuk menyelesaikan produk/produk tersebut. Sama seperti seorang pimpinan proyek gedung berlantai 10, dia meng’gulung jagad agung’ gedung itu menjadi ’jagad alit’ suatu detail engineering design atau maket gedung. Atau seorang network engineer yang harus menyusun ’jagad alit’ berupa topology dari network yang akan diaplikasikan untuk cabang-cabang di seluruh Nusantara ’jagad agung’. Jagad agung digulung kedalam selembar kertas rencana. Jagad agung ginulung lan jagad alit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Langkah-langkah di atas, adalah suatu usaha “mental creation”, karena sesungguhnya, seluruh apa yang ada di dunia ini diciptakan dua kali, yaitu ”mental creation” dan ”physical creation”. Hasil ”mental creation” ini dituang dalam suatu dokumen yang berisi tentang lingkup, jadwal pelaksanaan dan sumber daya yang diperlukan. Dalam tatanan kenegaraan, dokumen seperti ini, dikenal sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara yang dipecah lagi setiap lima tahun menjadi dokumen Repelita. Dokumen harus dilandasi semangat untuk ”menulis apa yang akan dikerjakan”. Dan dalam istilah teknis disebut program / project planning document.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Den kendel-kumandel kulup, jika engkau memiliki keberanian dan kekuatan hati untuk mencapai tujuan itu, maka niscaya gemerlap alam masa depan yang engkau cita-citakan, pastilah dapat engkau capai. Bait-bait ini menyatakan bahwa, seorang pemimpin tidak boleh berhenti atau puas dengan selesainya rencana – tidak hanya puas dengan – menulis apa yang akan dikerjakan.  Untuk mencapai visi, misi yang ditetapkan maka diperlukan keberanian dan keteguhan hati untuk melaksanakan dan memantau rencana yang disusun atau program execution. Mengerjakan apa yang telah ditulis. Keberanian dan keteguhan untuk menciptakan sesuatu dan melaksanakan proses yang diperlukan – physical creation. Serta kesadaran untuk tetap ’waspada’ karena hidup ini penuh ketidak pastian atau involve uncertainty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kalau kita ringkas tembang Gambuh dari Serat Wedhatama di atas, maka langkah-langkah di atas, terdiri dari kegiatan strategic formulation – untuk menetapkan tujuan, lalu strategic planning untuk menyusun peta strategi pencapaian tujuan, lalu programming yaitu penyusunan program kerja yang berisi informasi tentang apa yang dilakukan dan jadwal pelaksanaan. Lalu mengumpulkan sumber daya (budgeting) yang dibutuhkan untuksetiap program kerja yang dikaitkan dengan biaya untuk pengadaan jnana-know how, artha – sumber daya fisik dan wirya atau kekuasaan untuk mengendalikan, sehingga program kerja dapat menghasilkan sesuatu seperti yang dikehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu setelah itu diperlukan keberanian dan keteguhan dalam menghadapi setiap rintangan yang ada, dan memonitor setiap resiko yang muncul (Monitoring). Karena pada prinsipnya hidup ini penuh ketidak pastian – involve uncertainty, seorang pemimpin harus mampu menghitung berbagai resiko yang muncul, dalam usaha untuk mencapai tujuan. Identifikasi berbagai resiko, analisa kualitatif, analisa kuantitatif, susun rencana tanggap darurat, dan selalu memonitor resiko baru yang mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan menghayati tembang Gambuh yang diambil dari Serat Wedhatama itu, anda dapat juga menyusun perencanaan strategis, tidak kalah dengan metoda-metoda para pemikir-pemikir Barat. Walau sederhana, khazanah budaya nusantara, kalau dihayati dengan kesungguhan hati, ternyata dapat menyumbangkan ’sesuatu’ di bidang ilmu modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mari tegakkan kembali jati diri kita, sebagai bangsa besar yang pernah berjaya, di tlatah tanah Nusantara. Jadi kenapa harus tidak percaya dengan diri sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga uraian gathak-gathik-gathuk ini bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3831896264063252196?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3831896264063252196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3831896264063252196' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3831896264063252196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3831896264063252196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/manajemen-strategik.html' title='Manajemen Strategik'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3951932735579372674</id><published>2007-11-18T14:04:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:05:41.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Peta Strategi - Strategy Map</title><content type='html'>Kumpulkanlah ilmu karena dia akan menjagamu, jika engkau hanya kumpulkan harta, maka kau akan sibuk menjaganya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Ikang dharma ngaranya, henuning mara ring swarga ika, kadi gatining parahu, an henuning banyaga mentasing tasik.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Ikang kayatnan ri kagawayaning kama, artha, mwang moksa, dadi ika tan paphala, kunang ikang kayatnan ring dharmsadhana, niyata maphala ika, yadyapin angen-angen juga, maphala atika.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Dharma adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi pedagang untuk mengarungi samodra.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Usaha tekun pada kerja mencari kama (kepuasan), artha (kekayaan) atau moksa, dapat terjadi dan terkadang berhasil, akan tetapi usaha tekun pada pelaksanaan dharma, tak tersangsikan lagi, pasti berhasil, sekalipun baru hanya dalam angan-angan saja.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Sodara-sodara peminat sastra-nusantara,&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Bait-bait di atas memberikan keyakinan kepada kita, bahwa ilmu atau aktiva tak berwujud (intangible asset), lebih berharga daripada sekadar aktiva berwujud (tangible asset). Apakah yang membedakan antara Si Bejo tukang becak dengan yang terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sang Presiden ? Keduanya memiliki ruh jasmani dengan struktur yang sama, kepala tangan kaki jantung paru dan lain-lain. Tetapi yang membedakan keduanya adalah ’ilmu’  yang mempengaruhi kualitas ’pikiran’ dan ’jiwa’ mereka. Ilmu inilah yang membawa si Bejo, menjalankan swadharma atau tugas jadi tukang becak, sedangkan ilmu pulalah, yang mengantarkan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ”Raja” di Tanah Nusantara. Pola yang sama di jagad alit, kita gunakan untuk jagad agung. Apakah yang membedakan antara sebuah kantor cabang Bank Central Asia dengan Bank Niaga atau Bank Pasar Harsanandi yang ada di Solo ?&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Walau sama memiliki aset gedung, peralatan komputer, dan lain-lain, tetapi mereka berbeda,  tingkat kemampuannya mengelola aktiva tak berwujud atau intangbile asset. Berupa apakah aktiva tak berwujud itu ? Tak lain adalah kemampuan dalam memuaskan pelanggan, kemampuan untuk melaksanakan proses terbaik untuk memuaskan pelanggan, serta ketersediaan sumber daya manusia yang berkompeten dan memiliki komitmen untuk melaksanakan proses internal yang ditetapkan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Jadi untuk memenangkan persaingan di era yang turbulen ini, kita sudah harus berpaling dari keinginan sempit, untuk mengejar aspek finansial (artha) saja , melainkan lebih berkonsentrasi pada pemberdayaan aktiva tak berwujud (intangible asset) seperti kepuasan pelanggan akan produk dan layana (kama), dengan menyediakan aturan / proses internal terbaik (dharma) dan didukung oleh tenaga kerja yang kompeten dan berkomitmen tinggi, terhadap bidang tugasnya (swadharma). Karena kalau harta atau aspek finansial saja yang jadi tujuan, maka para pelaku ekonomi dapat menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Inilah yang mengakibatkan macetnya roda ekonomi Nusantara seperti saat ini.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Karena itulah, untuk mengejar kekayaan atau keunggulan di bidang keuangan, sebuah perusahaan harus mampu mengembangkan tenaga kerja atau karyawan yang berkompeten dan memiliki semangat serta komitmen, bahwa bekerja itu adalah amanah (swadharma). Dengan semangat itu, maka Dharma atau aturan, sistem dan prosedur dalam organisasi dapat dijalankan dengan baik, sehingga terjadi proses internal yang baik. Proses internal akan menyebabkan kepuasan dari pelanggan (kama). Pelanggan lama yang setia dan pelanggan baru yang puas akan berdampak langsung terhadap keuntungan finansial (artha) perusahaan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Keuntungan yang didapat, harus diputar kembali untuk membangun kepuasan pelanggan, memperbaiki prosedur internal dan meningkatkan kesejahteraan karyawan. Kalau lingkaran ini dijalankan, maka organisasi akan dapat melipatgandakan kekayaan dengan pertumbuhan yang berkesinambungan. Mampu bertahan di tengah gejolak perekonomian yang turbulen (tak menentu). Mampu bertahan di saat suka maupun duka. Sukha tan pa wali dukha, keabadian alias moksa.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Tanpa memiliki modal human capital  yaitu tenaga kerja, yang bekerja dengan ketulusan hati, maka mustahil komitmen bisa dicapai. Tanpa komitmen maka kapabilitas atau kemampuan kerja pastilah menjadi rendah. Tenaga kerja yang hanya memikirkan hak tanpa melaksanakan kewajiban terlebih dahulu adalah sumber awal dari petaka macetnya roda ekonomi Tanah Nusantara.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Anggota miling list yang saya hormati,&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Dalam manajemen modern, ”artha” itu bisa dianalogikan dengan financial perspektif. Kita tidak bisa mendapatkan keuntungan finansial, yang ditandai dengan Return On Investment yang tinggi, shareholder value yang memadai, profitability, revenue growth dan cost per unit, tanpa dilandasi oleh usaha untuk meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan - customer satisfacation - “kama-kepuasan”. Karena sesungguhnya, Return On Investment yang optimal, dapat di raih dengan tiga hal, yaitu penambahan pelanggan baru (add new customer), pelanggan lama yang setia (customer loyalty) atau peningkatan produktifitas dengan menekan biaya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Kepuasan pelanggan, dapat diraih dengan proses internal organisasi yang baik untuk melayani pelanggan (internal process perspektif). Dan internal process yang baik, hanya bisa didapat dari kemampuan organisasi, untuk terus belajar dan mengembangkan diri (perspektif belajar dan berkembang). Seluruh karyawan, yang menjadi ’sel-sel’ hidup organisasi, belajar dan mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan swadharma atau tugas pokok dan fungsinya masing-masing,&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Artha (perspektif keuangan) &lt;&lt; == kama (perspektif kepuasan pelanggan) &lt;&lt; == Dharma (perspektif internal proses) &lt;&lt; === Swadharma (Human capital – kerja adalah amanah – komitmen dan kompetensi)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Lalu artha yang didapat harus didistribusi sesuai dengan kontribusi masing-masing elemen. Dalam istilah modern-nya balanced paychecked. Disinilah peran dari pemilik atau Chief Executive Officer dari perusahaan, untuk memutar siklus kehidupan sehingga bergulir menuju perkembangan yang berkesinambungan (sustainable growth). Kalau ini dilakukan dengan seksama, maka perusahaan akan tetap dapat bersaing / kompetetif di tengah situasi ekonomi yang tak menentu. Stabil ketika ekonomi makro terpuruk maupun gemilang, inilah yang menyebabkan perusahaan abadi - Moksa.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Dengan demikian slogan kuna - Moksartham jagadhita ya ca iti dharmah, menjadi masuk akal. Moksa tidak seperti yang banyak dibicarakan saat ini, yaitu waktu mati jasadnya menghilang. Tapi moksartham (moksa-artham) atau kebebasan finansial di jagad ini, didapat dengan melandaskan diri pada pelaksanaan dharma / swadharma atau melaksanakan kewajiban berlandaskan amanah dan kesungguhan hati.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Lalau, adakah institusi di Indonesia yang sukses menerapkan konsep kuno tlatah Nusantara yang disebut Catur Purusaartha (Dharma, Kama, Artha dan Moksa) ini ?&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Rekan-rekan sebangsa yang saya cintai,&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Setelah Majapahit runtuh, tanah Bali dikepung kiri dan kanan oleh kerajaan-kerajaan Islam, lalu para leluhur mereka, membangun ”benteng” dengan membumikan agama menjadi budaya, yang ternyata mampu menggerakkan perekonomian lokal dan ketahanan politik yang mantap. Perkawinan Agama &amp; Budaya, mampu membuat seniman Bali, mengabdi dengan komitmen tinggi, karena mereka merasa, hasil kerjanya jadi persembahan untuk keagungan sang Pencipta. Komitmen tinggi, serta kesempatan yang berulang untuk melaksanakan tugas yang sama, menghasilkan kompetensi dan keterampilan. Sang junior, patung pertamanya tidak terlalu indah, tetapi karena terus di asah, dilandasi oleh pengabdian yang tulus, serta keinginan menjaga amanah, maka timbul keinginan untuk terus belajar, sehingga menghasilkan persembahan patung yang terbaik. Keinginan belajar dan mengasah keterampilan inilah, melahirkan pematung yang kompeten di bidangnya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Komitmen dan kompetensi, membentuk Human Capital. Human capital-lah yang dimobilisasi oleh ”undagi” atau sang arsitek untuk melaksanakan proyek pembuatan pura / tempat suci, dengan segala aturan-aturan dan filosofi yang mendasarinya. Dengan Human Capital yang berkualitas, maka proses internal - proyek pembangunan pura menjadi lancar. Setiap orang sudah terampil di bidang tugasnya masing-masing. Pekerjaan yang didasari oleh prinsip bahwa kerja itu adalah amanah, yang diarahkan oleh pemimpin yang mampu menegakkan Dharma, maka seluruh - man, machine, material, method dan money - dapat difokuskan pada strategi untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Dengan pola di atas, niscaya, produk atau jasa yang dihasilkan, akan memuaskan masyarakat di sekitar tempat suci itu. Masyarakat yang puas akan hasil kerja dari “project team”, akan berbondong-bondong datang ke pura untuk bersembahyang sambil memberikan sumbangan dan bergotong royong menyisihkan sebagaian rejekinya untuk mendanai proyek tersebut.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Artha yang berasal dari peran serta masyarakat, digunakan kembali oleh pengurus, untuk kesinambungan pemeliharaan dan pengembangan tempat suci. Artha bisa digunakan dalam bentuk penyelenggarakan kegiatan keagaman yang meriah, sehingga masyarakat puas, serta merasakan manfaat sumbangan yang diberikan, dengan demikian masyarakat tidak kapok dalam menyumbang. Lalu sebagian digunakan untuk mengembangkan internal proses ’adat-istiadat’, serta mengembangkan proyek-proyek baru, sebagai sarana belajar bagi masyarakat yang berminat.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Dari kegiatan-kegiatan inilah muncul tarian-tarian yang indah, patung-patung yang luar biasa, tatanan masyarakat dengan budaya yang tinggi, sehingga turis manca negara kagum serta nyaman tinggal di Bali. Turis manca negara membawa dollar, yang tentunya sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan serta gerak perekonomian masyarakat Bali.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Para netters yang berbahagia,&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Dari ’dongeng’ di atas, dapat disimpulkan bahwa kualitas jagad alit – manusia ditentukan bukan oleh jasad yang terlihat – melainkan oleh kualitas pikiran dan jiwanya. Demikan pula di jagad agung – perusahaan swasta atau instansi pemerintah. Kualitas organisasi, tak tergantung dari kekayaan atau asset fisik yang dimiliki (artha), tetapi ditentukan oleh kekayaan tak berwujudnya yang berupa kemampuan  untuk memuaskan stakeholdernya (kama), kemampuan dalam membangun internal proses untuk memuaskan stakeholder (dharma) serta tersedianya tenaga kerja yang memiliki kompetensi cukup dan komitmen tinggi untuk melaksanakan pekerjaannya (swadharma). Selain itu, agar jagad agung organisasi mampu tumbuh secara berkesinambungan, maka diperlukan pemimpin yang mampu membagi hasil-hasil usaha atau hasil-hasil pembangunan secara merata dan berkeadilan, sesuai kontribusi dari masing-masing stakholder.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Konsep di atas, dinamakan Catur Purusaartha – Dharma, Kama, Artha dan Moksa, yang merupakan salah satu khazanah budaya tanah Nusantara. Konsep ini, ternyata dapat digunakan sebagai landasan strategi yang telah terbukti benar dan dapat diaplikasikan, baik oleh perusahaan swasta sebagai lembaga profit maupun nirlaba seperti lembaga pemerintah.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Akhirnya, sodara-sodara sebangsa dan setanah air,&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Beranikah kita mencoba konsep Catur Purusaartha untuk membangun kembali jati diri bangsa  dan membangkitkan kembali perekonomian di Tanah Nusantara yang terpuruk ini ? Atau adakah konsep-konsep lain, yang bisa kita gali dari Tanah Nusantara, untuk sekadar, memberi solusi alternatif yang sesuai dengan jati diri masyarakat Nusantara, sehingga bisa keluar keterpurukan ini ?&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Saya mengundang para anggota mailing list, untuk membahas dan menggodok warisan leluhur tanah Nusantara yaitu konsep Catur Purusahartha, untuk dijadikan suatu alat bantu manajemen strategis, untuk menghasilkan peta strategi atau strategy map, untuk organisasi swasta maupun badan-badan pemerintah.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Mudah-mudahan tulisan ini dapat sebagai pemicu, bahan pikir atau tema diskusi,  bagi para pembaca budiman, baik yang berprofesi sebagai budayawan, pelaku ekonomi dan aparat pemerintah. Barangkali hasilnya, dapat menghasilkan setitik pemikiran dalam rangka mencari konsep-konsep alternatif ala sastra kuno Nusantara, semoga dapat memperbaiki lembaga ekonomi, institusi politik dan organisasi sosial budaya kita, dari keadaan terpuruk dan keadaan tak berujung pangkal bak lingkaran setan seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;br /&gt;    Untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap, sebelum membaca artikel ini, disarankan untuk membaca dulu, artikel saya yang berjudul "manajemen strategik", dan "kutahu yang kumau"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Diskusi dapat dilakukan di http://groups.yahoo.com/group/sastra-nusantara&lt;br /&gt;    Dan artikel lain dapat dilihat di http://360.yahoo.com/kijeromartani&lt;br /&gt;    Referensi lain&lt;br /&gt;    Balanced Scorecard, Strategy Focus Organization, Strategy Map karangan Robert Kaplan dan Peter Norton, serta beberapa karangan beliau yang di publikasi di Harvard Business Review.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3951932735579372674?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3951932735579372674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3951932735579372674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3951932735579372674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3951932735579372674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/peta-strategi-strategy-map.html' title='Peta Strategi - Strategy Map'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-856579605515382570</id><published>2007-11-18T14:02:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:03:32.610-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Pedoman Mawas Diri</title><content type='html'>Aja dumeh kuwasa, tumindake daksura lan daksia marang sapada pada (Janganlah mentang-mentang berkuasa, sehingga tindak tanduknya pongah, congkak serta sewenang-wenang terhadap sesamanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aja dumeh pinter, tumindake keblinger (Janganlah mentang-mentang pintar, lalu kebijaksanaannya menyimpan dari aturan-aturan yang seharusnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aja dumeh kuat lan gagah, tumindake sarwo gegabah (Janganlah mentang-mentang kuat dan gagah, lalu tindakannya selalu gegabah dan semaunya sendiri saja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aja dumeh sugih, tumindake lali karo wong ringkih (Janganlah mentang-mentang kaya, lalu perbuatannya tidak mengingat mereka yang lemah ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aja dumeh menang, tumindake sewenang-wenang (Janganlah mentang-mentang telah dapat mengalahkan lawan, lalu tindakannya sewenang-wenang terhadap yang dikalahkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Tags: olahbathin | Edit Tags&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-856579605515382570?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/856579605515382570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=856579605515382570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/856579605515382570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/856579605515382570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/pedoman-mawas-diri.html' title='Pedoman Mawas Diri'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2933445580670173260</id><published>2007-11-18T14:01:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:02:18.495-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Keris Sangkelat dan Crubuk</title><content type='html'>Alkisah Sunan Kalijaga mendatangi sanggar Mpu Supa yang sedang sibuk membuat senjata. Mpu Supa adalah suami dari Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga meminta tolong untuk dibuatkan keris coten-sembelih (pegangan lebai untuk menyembelih kambing). Lalu oleh beliau diberikan calon besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Ia berkata "Sunan, besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya. Akan tetapi apakah besi sebesar biji asam jawa ini cukup dibuat keris ?". Lalu Sunan Kalijaga berkata : "Nak, besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung". Karena ampuh perkataan Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi menjelma sebesar gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantara itu, empu Supa berlutut dan takut. "Sunan, bila besi sebesar itu, saya tidak sanggup mengerjakan karena tidak dapat dijepit." Sunan Kalijaga berkata lagi "Nak sebenarnya besi itu besarnya hanyalah sebesar biji asam jawa saja. Pada saat itu juga besi kembali menjadi sebesar asam jawa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan. Tidak lama, jadilah keris, kemudian diserahkan kepada Sunan Kalijaga. Akan tetapi anehnya begitu melihat bentuknya, seketika juga Sunan Kalijaga menjadi kaget, sampai beberapa saat tidak dapat berbicara karena kagum dan tersentuh perasaannya, karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Maksud semula untuk dijadikan pegangan lebai, ternyata yang dihasilkan keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tiga belas bagus sekali serta indah warangka-nya, tetapi sepi dari sifat-sifat keislaman. Sebenarnya, begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Sunan Kalijaga agak tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa, ”Nak, keris ini bagus sekali. Akan tetapi bila dipergunakan oleh santri tidaklah pantas. Keris ini pantas menjadi pegangan Raja yang menguasai Nusantara. Karena berwarna kemerahan, keris ini saya namakan dapur Sangkelat (artinya bersemu merah). Sekarang keris ini saya kembalikan, simpan ! Bagaimana akan kejadiannya nanti, saya sendiri tidak tahu. Selain Tuhan Yang Maha Esa yang menjelaskannya. Akan tetapi sekarang saya minta dibuatkan keris lagi yang patut digunakan oleh santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Empu Supa diberi lagi besi yang ukurannya sebesar kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan sunan Kalijaga sangat senang hatinya. Dapur keris itu disebut Crubuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dikutip dari Babad Demak, R. Atmodarminto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---oOo---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara-sodaraku,  Sunan Kalijaga pada saat itu adalah merupakan pemimpin gerakan Islam yang berkolaborasi dengan penguasa mendirikan Kabupaten Islam Bintara.  Sedangkan Empu Supa adalah pemimpin gerakan rakyat yang memiliki cita-cita hendak membangun negara nasional seperti jaman Gajah Mada dahulu akan tetapi bebas dari tataran kasta. Mungkin dengan maksud untuk mengganti kerajaan Majapahit yang waktu itu telah rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Empu Supa disuruh membuat keris untuk menyembelih kambing oleh Sunan Kalijaga,  yang bisa jadi merupakan perlambang bahwa gerakan islam meminta bantuan pada kaum nasionalis yang merupakan gerakan rakyat pada saat itu, supaya mau memberikan dukungan kekuatan untuk mendirikan kabupaten Islam Bintara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bakal besi sebesar asam jawa, namun bobotnya berat sekali adalah perlambang bahwa meski Islam Bintara itu kecil,  tetapi memiliki bobot gerakan Islam yang pada saat itu sudah menjadi beban yang berat, menguras tenaga dan pikiran. Tentulah Empu Supa kecewa, karena bakal besi itu terlalu kecil, sedangkan gerakan rakyat telah mempunyai cita-cita yang lebih besar. Lalu disabdakan bahwa – besi sebesar biji asam jawa manjadi gunung, itu perlambang bahwa meski kabupaten Islam Bintara memang kecil, tetapi jika gerakan rakyat turut bergabung, niscaya kekuatannya menjadi sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Empu Supa mengatakan tidak sanggup menggarap besi yang sebesar gunung. Ini dimaksudkan bahwa kabupaten Islam Bintara yang mengutamakan kebudayaan Arab, yang berbeda dengan kebudayaan Majapahit, akan sulit sekali untuk dibangun menjadi kerajaan nasional yang memiliki kewajiban melindungi seluruh penduduk yang menganut kepercayaan, adat serta tata cara beraneka warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu oleh Empu Supa bakal besi di garap menjadi Keris Nusantara asli Majapahit yang sangat bagus, tetapi kosong dari sifat Islam. Ini dimaksudkan bahwa gerakan rakyat yang dipimpin Mpu Supa tetap menghindari pembentukan kabupaten Bintara yang didasarkan oleh agama Islam, tetapi tetap pada pendirian, untuk membangun negara nasional Nusantara yang bebas dari tatanan kasta dan tidak didasarkan pada salah satu agama, sebagai ganti kerajaan Majapahit yang berlandaskan Syiwa-Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dinamakan keris Jawa / Nusantara bercorak Majapahit, menjadi perlambang bahwa kebudayaan Nusantara asli, menolak tatanan kasta tetapi mengakui kebudayaan Majapahit seperti masa Hayam Wuruk dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keris sangkelat berwarna kemerahan , merupakan perlambang kuatnya potensi gerakan kelompok Empu Supa pada saat itu.  Sunan Kalijaga melihat keris Sangkelat merasa tersentuh. Maksudnya, sesungguhnya Sunan Kalijaga sangat setuju dengan arah dan cita-cita perjuangan kelompok empu supa. Lalu keris sangkelat diberikan kembali kepada Empu Supa, ini menjadi ibarat bahwa pada waktu itu gerakan islam yang dipimpin para wali, belum berani memiliki cita-cita untuk mendirikan kerajaan Nasional Nusantara, tetrapi hanya menyerahkan harapan tersebut diselanggarakan terlebih dahulu di tangan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Empu Supa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sunan Kalijaga memerintahkan agar membuat lagi keris dapur Crubuk, maksudnya bahwa meskipun tidak cenderung dengan berdirinya kabupaten Islam Bintara, tetapi gerakan Islam memaksa meminta dukungan supaya kelompok empu Supa bersedia ikut membantu perjuangannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2933445580670173260?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2933445580670173260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2933445580670173260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2933445580670173260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2933445580670173260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/keris-sangkelat-dan-crubuk_18.html' title='Keris Sangkelat dan Crubuk'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2097966274438004046</id><published>2007-11-18T13:59:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:00:20.050-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Darah Ulama Buta Mata dan Hati</title><content type='html'>Beberapa bulan belakangan ini, media massa dihiasi, drama para ulama yang saling adu bicara, bahkan ada yang dituntut agar masuk penjara. Di internet para anggota mailing list tak kalah hebat, saling serang dan menjelekkan agama satu dengan yang lain. Organisasi saling adu massa, bersilang sengketa, tentang moralitas. Porno aksi dan porno grafi, seolah menggetarkan Nusantara, sebelum gempa bumi menggetarkan tanah Jogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Para oknum brahmana, pendeta dan ulama laknat, sekarang lagi mengendap-endap, mumpung perhatian media terfokus pada bencana, memasang strategi pemaksaan kehendak, mengegolkan aturan pengerem syahwat. Jelas ini pertanda, para ulama sudah putus asa, lari dari tugas tanggung jawab sebagai penjaga moralitas. Melemparkan tanggung jawab, karena tahu, bahwa moralnya sendiri rusak nan bejat. Banyak yang ngaku ulama, tapi kalau ada kesempatan nyoblos janda atau perawan, hukum agama dibelokkan untuk pembenaran. Memang begitulah brahmana mabok arta-brana, tinggal glanggang colong playu, meninggalkan tugas dan tanggung jawab sosio-kultural, tetapi sangat getol masuk ke area politik, baik jadi pemain atau dibayar murah sebagai pengumpul suara saat pilkada..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara-sodaraku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tidak pernahkah kamu tahu, perilaku syeikh kaya raya, di tenda mewah padang pasir Dubai? Sekali jentikan jari, gadis-gadis cantik asal Lebanon bergoyang gemulai, berpakaian minim, perut pusar terbuka – pengundang syahwat luar biasa. HEI para brahmana lupa agama,  tidakkah kau rasakan sakit hati para TKW, berlinang air mata, diperkosa, disodok paksa tongkat maksiat, pria tanah Arab ? Kalau engkau tahu tapi purah-purah tidak tahu, maka engkau tergolong Ulama Buta Mata dan Buta Hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akankah kita mengacu pada nilai-nilai padang pasir, dimana aturan cadar dan pakaian, ternyata tidak bisa menghentikan gejolak nafsu syahwat lelaki bejat ?  Bukankah di jazirah Arab, yang kita jadikan acuan, penyedot devisa wisata moral, tumbuh bagai jamur di musim hujan, tempat bejat pemuas syahwat ? Sementara kita di tanah Nusantara, ribut gontok-gontokkan, mencontoh aturan yang jelas-jelas gagal diterapkan di tanah Arab. Aturan yang tak mampu, mengurangi kebejatan moral oknum disana. Kalau disana aturan agama saja tak digubris, bahkan oleh para penguasa padang pasir, yang katanya keturunan orang suci, lalu kenapa kita seperti dicokok hidung, ikut model mereka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tidakkah lebih baik mencontoh laku prihatin ? Prihatin terhadap keadaan bangsa kita yang saat ini terpuruk tanpa jalan keluar. Akankah kita terus cakar-cakaran, berdebat tentang cocok tidaknya budaya padang pasir ? Sementara jelas-jelas kita tahu, tlatah Nusantara beda dengan padang pasir, sehingga model sorban, cadar, pakaian panjang, tidak cocok untuk daerah tropis seperti ini. Tidakkah aneh, kalau ada warga gunung kidul, kurus kudisan, petani ketela, memelihara jenggot panjang, meniru wajah-wajah tanah Arab, dimana jenggot lebat memang menjadi pemanis struktur wajah warga padang pasir ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemulian karya-karya orang suci tanah Arab, tidaklah saya abaikan. Akan tetapi saya simpan dalam hati, dan saya gunakan dalam melaksanakan kehidupan. Apakah kita perlu menonjolkan jati diri, membanggakan identitas, berbondong-bondong ke tempat suci, sambil membawa niat, hanya untuk mengharap mukjizat, kejatuhan pangkat dan derajat ? Akankah kita terus mempelajari sareat, tarik urat mempertahankan pendapat, tetapi tidak memahami hakekat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Warga bangsa yang saya cintai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anak bangsa, bagai domba bodoh yang digiring kesana kemari, oleh ulama yang buta mata dan hati. Karena tak paham arti kiasan dari karya suci nan indah, lalu para manipulator ayat, menggiring rakyat jelata ke jurang sesat yang akhirnya mendapatkan laknat. Diajarkan membaca ayat-ayat suci, akan tetapi, lidahnya lidah jawa, syair arab dilagukan dandang gula ala palaran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sudah terlalu jauh langkah yang telah dilakukan oleh anak-anak bangsa. Sepertinya bukan lagi meneladani Kanjeng Nabi, tetapi sudah terlalu banyak digiring dan dicekoki oleh ulama bejat. Brahmana laknat, hanya mempertajam sarengat, tanpa tahu hakikat, meneriakkan seruan jahat, yang dibalik itu, hanya ada niat untuk menjadi jongos para ningrat pejabat laknat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hei anak-anak Nusantara ! jangan kau ikuti, tingkah polah brahmana ulama buta mata dan buta hati. Sebentar lagi, para danyang-danyang tanah Nusantara, akan datang menyantap habis satu persatu, ulama penjual ayat, pejabat bejat, pedagang penggarong duit rakyat. Janjinya pasti dipenuhi, seperti dipenuhinya, pertanda yang diberikan sejak 500 tahun yang silam, yang saat ini terbukti yakni Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Setelah gunung meletus, maka tanda berikutnya adalah, darah mengucur dari tubuh ulama buta mata dan hati. Sebagai tumbal bagi para Danyang Tanah Jawi. Tak ada yang akan bisa menghalangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rakyat jelata Nusantara, jauhilah para ulama buta mata dan buta hati. Jauhilah brahmana bejat, yang suka mengail di air keruh, penikam kawan seiring, penggunting dalam lipatan. Pendeta bejat yang mengesampingkan budi pekerti, untuk meraih uang dan kekuasaan. Jaga hati nurani, agar tidak ikut terseret perintah pendeta gila. Tetaplah teguh walau hidupmu terasa berat, bahkan melarat. Jangan percaya pinandita mabok harta, tinggalkan ulama bejat, biarlah dia berkoar di padang pasir dan sendirian terkena laknat. Sahabat, ingatlah selalu, bahwa sebaik-baiknya orang yang lupa daratan, akan lebih bahagia orang yang tetap ’eling’ dan selalu ’waspada’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Oleh para pendeta, wahyu suci sering disalah gunakan. Brahmana munafik mengaku penganut kerohanian, akan tetapi wahyu yang tadinya merupakan sumber air yang jernih, dikeruhkan oleh lumpur tabiat manusia dusta yang berpura-pura menjadi penganutnya. Agama hanya alat angkara murka sang Brahmana. Perbuatan munafik para ulama, brahmana, pendeta dan sebangsanya, adalah penyebab, terjadinya penghisapan, penindasan dari suatu golongan terhadap sesamanya di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hei Ulama Buta Mata dan Hati, setelah Gunung Merapi, Meletus Laharnya Berbau Amis, maka tiba giliran Danyang Tanah Nusantara akan melenyapkanmu. Darahmu akan tercecer dalam waktu dekat, sebagai tumbal tanah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maktub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2097966274438004046?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2097966274438004046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2097966274438004046' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2097966274438004046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2097966274438004046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/darah-ulama-buta-mata-dan-hati.html' title='Darah Ulama Buta Mata dan Hati'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-6336161078407871474</id><published>2007-11-18T13:57:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:58:44.782-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'></title><content type='html'>Pak Harto, Selamat Ulang Tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pak Harto, Selamat Ulang Tahun yang ke 85,&lt;br /&gt;    Semoga Tuhan memberkati amal perbuatan Bapak,&lt;br /&gt;    Walau dapat dipastikan, anda tak akan pernah membaca tulisan saya,&lt;br /&gt;    tapi saya tetap berdoa,  agar Bapak bisa tetap sabar menghadapi cobaan yang ada,&lt;br /&gt;    ikhlas dan rela menjalani "rta" alam semesta yang sedang bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya adalah salah seorang penerima beasiswa,&lt;br /&gt;    Yang mungkin tetap dikampung terpencil,&lt;br /&gt;    kalau tidak ada bantuan dari Yayasan Supersemar yang Bapak pimpin,&lt;br /&gt;    Sekarang saya bisa tinggal di Ibukota, &lt;br /&gt;    punya keluarga manis dan sejahtera,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Terima kasih pak....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-6336161078407871474?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/6336161078407871474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=6336161078407871474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6336161078407871474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6336161078407871474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/pak-harto-selamat-ulang-tahun-pak-harto.html' title=''/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2163179110391597318</id><published>2007-11-18T13:56:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:57:05.329-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra</title><content type='html'>Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra magnify&lt;br /&gt;    Sejarah di tlatah Nusantara mencatat : “Bila Ada&lt;br /&gt;    Brahmana masuk kedunia politik, maka namanya jadi&lt;br /&gt;    hancur. Ksatria atau politikus sekuat apapun, ketika&lt;br /&gt;    dia membantu anak-anaknya jualan, maka akan segera&lt;br /&gt;    rontok. Wesya sang sodagar, yang berkolaborasi dengan&lt;br /&gt;    antek-antek politikus korup, melalui kucuran BLBI,&lt;br /&gt;    akan hancur, dikejar sampai ke ujung dunia. Para&lt;br /&gt;    mahasiswa yang belum memiliki pengetahuan dan&lt;br /&gt;    ketrampilan yang cukup, diprovokator oleh brahmana&lt;br /&gt;    haus kuasa, menginjak-injak gedung DPR, lalu&lt;br /&gt;    tergesa-gesa merusak tatanan yang sudah ada,&lt;br /&gt;    melahirkan reformasi yang saat ini nyaris tak&lt;br /&gt;    berarti”. Apa penyebabnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ===&lt;br /&gt;    === Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra&lt;br /&gt;    === Oleh Ki Jero Martani&lt;br /&gt;    ===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di dalam kitab-kitab kuno Nusantara terdapat&lt;br /&gt;    pengertian yang disebut Catur Warna yang merupakan&lt;br /&gt;    konsep kemasyarakatan ala Nusantara, diterapkan di&lt;br /&gt;    kejayaan Majapahit, yang bertujuan memayu hayuning&lt;br /&gt;    buwono – membuat dunia – masyarakat ini rahayu atau&lt;br /&gt;    sejahtera. Akan tetapi perlu di garis bawahi bahwa&lt;br /&gt;    pengertian Catur Warna pada saat jaman Majapahit,&lt;br /&gt;    sangat bertolak belakang dengan pengertian “wangsa” di&lt;br /&gt;    Bali dan kasta di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Warna berasal dari Bahasa Sanskerta dengan asal kata&lt;br /&gt;    Vri artinya memilih lapangan pekerjaan. Dan Catur&lt;br /&gt;    Warna dapat diartikan adalah pembagian masyarakat&lt;br /&gt;    menjadi empat kelompok profesi yang memiliki kedudukan&lt;br /&gt;    paralel horisontal. Warna ditentukan oleh ”guna” dan&lt;br /&gt;    ”karma”, guna artinya sifat, bakat dan pembawaan,&lt;br /&gt;    sedangkan karma dapat diartikan sebagai perbuatan atau&lt;br /&gt;    pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam Bhagavadgita terdapat syair yang kalau diartikan&lt;br /&gt;    secara bebas adalah : ”Catur Warna Kuciptakan menurut&lt;br /&gt;    pembagian dari guna dan karma (sifat dan pekerjaan).&lt;br /&gt;    Meskipun Aku sebagai penciptanya, ketahuilah Aku&lt;br /&gt;    mengatasi gerak dan perbuatan”. Lalu pada syair yang&lt;br /&gt;    lain dituliskan : ”O, Arjuna, tugas-tugas adalah&lt;br /&gt;    terbagi menurut sifat, watak dan kelahiran,&lt;br /&gt;    sebagaimana halnya Brahmana, Ksatria, Waisya dan juga&lt;br /&gt;    Sudra.”&lt;br /&gt;    ---o---&lt;br /&gt;    Pada kesempatan kali ini, saya sebenarnya tidak&lt;br /&gt;    berkehendak untuk berdebat tentang Wangsa di Bali atau&lt;br /&gt;    Kasta di India. Juga tak ingin memicu debat kusir yang&lt;br /&gt;    mengarah pada menjelek-jelekan agama. Akan tetapi&lt;br /&gt;    semata-mata untuk mengambil mutiara-mutiara yang&lt;br /&gt;    terpendam dari syair-syair kuno warisan leluhur&lt;br /&gt;    Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam buku-buku sastra nusantara, profesi digolongkan&lt;br /&gt;    menjadi 4 yaitu brahmana – orang-orang yang bekerja&lt;br /&gt;    sebagai penjaga gawang sosio kultural – kiai, pendeta,&lt;br /&gt;    pedanda, guru, dosen, pemuka masyarakat yang bertugas&lt;br /&gt;    memelihara adat istiadat dan sejenisnya. Lalu Ksatria&lt;br /&gt;    – adalah para penjaga gawang sistem politik atau&lt;br /&gt;    penyelenggara negara – legislatif, eksekutif dan&lt;br /&gt;    yudikatif, sedangkan Wesya adalah orang-orang yang&lt;br /&gt;    bertugas mengelola sub sistem adaptif – perekonomian.&lt;br /&gt;    Sedangkan sudra adalah orang-orang yang berprofesi&lt;br /&gt;    bukan ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekali lagi saya saya tegaskan, keempat golongan&lt;br /&gt;    tersebut, tidak dinyatakan satu lebih tinggi dari yang&lt;br /&gt;    lain, melainkan paralel horisontal, semua harus ada di&lt;br /&gt;    tempatnya masing-masing, sesuai dengan bakat dan&lt;br /&gt;    pekerjaannya. Rukun dan sikap saling hormat&lt;br /&gt;    menghormati antar golongan di catur warna, sangat&lt;br /&gt;    diperlukan untuk harmonisasi masyarakat. Pembagian&lt;br /&gt;    empat golongan ini juga menghendaki tidak adanya cross&lt;br /&gt;    function atau rangkap jabatan/kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kiai dalam posisi sebagai brahmana yang bertugas&lt;br /&gt;    mengemong umatnya di bidang sosio kultural, tidak&lt;br /&gt;    diperbolehkan untuk masuk ke dunia politik (wilayah&lt;br /&gt;    ksatria). Seorang ksatria tidak diperkenankan untuk&lt;br /&gt;    bergerak langsung ataupun tidak langsung dalam sektor&lt;br /&gt;    perekonomian. Wesya atau pengelola perekonomian, tidak&lt;br /&gt;    boleh berkolaborasi atau bahkan rangkap jabatan&lt;br /&gt;    sebagai politikus, karena akan menyebabkan, keluarnya&lt;br /&gt;    undang-undang monopoli untuk menguntungkan kelompok&lt;br /&gt;    bisnisnya.&lt;br /&gt;    ---o---&lt;br /&gt;    Kalau kita lihat, dari sudut pandang kebangsaan, Para&lt;br /&gt;    ”brahmana”, sudah semestinya tekun dengan tugasnya&lt;br /&gt;    dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan dari&lt;br /&gt;    sistem kemasyarakatan yang terdiri dari beragam Suku,&lt;br /&gt;    Agama, Ras dan hubungan Antar Golongan. Golongan&lt;br /&gt;    Brahmana, diharapkan untuk mampu membangun sistem&lt;br /&gt;    nilai yang dianut bersama, seluruh anak bangsa di&lt;br /&gt;    tlatah Nusantara. Tanpa ada nilai-nilai yang dipahami&lt;br /&gt;    bersama, maka rakyat, tidak memiliki dorongan untuk&lt;br /&gt;    terlibat dalam membangun kebangsaan, tidak ada rasa&lt;br /&gt;    kebersamaan. Mereka kehilangan tujuan bersama,&lt;br /&gt;    semangat satu bangsa, satu ’bahasa’ dan satu tanah&lt;br /&gt;    air. Karena itulah, Brahmana bertugas untuk&lt;br /&gt;    mempertahankan integrasi sosial dengan menetapkan&lt;br /&gt;    sistem norma (tujuan, falsafah hidup) yang dianut&lt;br /&gt;    bersama, sehingga mampu merajut kembali serpihan yang&lt;br /&gt;    terserak dan kocar-kacir setelah reformasi terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sangat disayangkan, saat ini para Brahmana&lt;br /&gt;    gontok-gontokan, kelihatan manis ketika berhadapan&lt;br /&gt;    pada rapat lintas agama, tapi setelah itu aktif&lt;br /&gt;    menamkan pada akar rumput rasa kebencian bahkan untuk&lt;br /&gt;    saling serang satu dengan yang lainnya. Membangun&lt;br /&gt;    fanatisme agama, bukan dengan tujuan untuk berbakti&lt;br /&gt;    kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi semata-mata untuk&lt;br /&gt;    memuaskan nafsu untuk meraih kedudukan-kedudukan&lt;br /&gt;    politik dan keuntungan material. Para pendidik dan&lt;br /&gt;    tenaga kependidikan yang terhimpit masalah ekonomi,&lt;br /&gt;    terbaca kesedihannya oleh para peserta didik, dan&lt;br /&gt;    sangat mungkin mereka jadi juru kampanye negatif&lt;br /&gt;    terkait dengan peran negara dalam memberikan&lt;br /&gt;    kesejahteraan.&lt;br /&gt;    ---o---&lt;br /&gt;    Ksatria adalah orang-orang yang memiliki tugas dalam&lt;br /&gt;    hal pengelolaan negara. Baik itu di legislatif,&lt;br /&gt;    eksekutif maupun di yudikatif. Para ksatria bertugas&lt;br /&gt;    untuk menterjemahkan dengan lebih rinci, tujuan-tujuan&lt;br /&gt;    bangsa, yang ditetapkan oleh elemen sosio kultral,&lt;br /&gt;    sehingga tujuan bersama dapat tercapai. Tugas utama&lt;br /&gt;    para ksatria penyelenggara negara adalah&lt;br /&gt;    menterjemahkan lalu menetapkan ”inti” tujuan, lalu&lt;br /&gt;    menterjemahkannya secara praktis, memberikan arah&lt;br /&gt;    serta pengertian, serta menyusun rangkaian tindakan&lt;br /&gt;    yang terintegrasi untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ksatria bertugas menetapkan visi negera, menetapkan&lt;br /&gt;    garis-garis besar haluan negara sehingga tujuan dan&lt;br /&gt;    cita-cita yang dirumuskan oleh elemen sosio kultural,&lt;br /&gt;    menjadi spesifik dan memiliki manfaat yang signifikan.&lt;br /&gt;    Lalu setelah tersusun rencana yang matang, maka&lt;br /&gt;    rencana tersebut diimpelementasi, bukan untuk&lt;br /&gt;    kepentingan sendiri, melainkan untuk kesejateraan&lt;br /&gt;    seluruh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Celakanya, setelah berteriak lantang mengenai visi dan&lt;br /&gt;    misi pada saat pemilihan umum, para Ksatria,&lt;br /&gt;    oknum-oknum pemimpin politik, baik di tingkat&lt;br /&gt;    nasional, maupun daerah, bingung dalam menterjemahkan&lt;br /&gt;    keinginan para pemilih, ke dalam langkah-langkah&lt;br /&gt;    praktis untuk mencapai tujuan. Ketidak mampuan ini&lt;br /&gt;    pada akhirnya menjadi sebab disorientasi tujuan dan&lt;br /&gt;    kekacauan di sistem sosio kultural. Berbagai langkah&lt;br /&gt;    yang dilakukan, bukan untuk kemaslahatan masyarakat,&lt;br /&gt;    melainkan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan&lt;br /&gt;    kelompoknya.&lt;br /&gt;    ---o---&lt;br /&gt;    Lalu wesya, yang menjadi penjaga gawang subsistem&lt;br /&gt;    perekonomian, bertugas untuk menghasilkan nilai&lt;br /&gt;    (value) baik berupa barang maupun jasa. Para wesya,&lt;br /&gt;    akibat kebijakan para ksatria, terpangkas keuntungan&lt;br /&gt;    usahanya, sehingga pasokan ke dalam sub sistem adaptif&lt;br /&gt;    berupa modal dan semangat kerja menjadi sangat&lt;br /&gt;    berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang terakhir adalah sudra. Sudra ini bukan berarti&lt;br /&gt;    yang paling rendah, tetapi dalam hal ini adalah&lt;br /&gt;    orang-orang yang profesinya bukan brahmana, bukan&lt;br /&gt;    ksatria, dan bukan pula wesya, dan sudra merupakan&lt;br /&gt;    representasi dari masyarakat kebanyakan (wong cilik).&lt;br /&gt;    Sudra atau masyarakat luas inilah yang mestinya&lt;br /&gt;    di-emong oleh subsistem sosio kultural atau para&lt;br /&gt;    brahmana – agar benar-benar dapat berkontribusi penuh&lt;br /&gt;    dalam penyelenggaraan suatu negara. Akan tetapi pada&lt;br /&gt;    kenyataannya, para petani penghasilannya banyak&lt;br /&gt;    hilang, dimakan bensin, mahalnya pupuk dan&lt;br /&gt;    insektisida. Masyarakat sering disatroni Garong di&lt;br /&gt;    siang hari, maling mengambil barang terang-terangan,&lt;br /&gt;    penjarah dimana-mana. Koruptor triliunan rupiah bebas&lt;br /&gt;    melenggang, rakyat lapar makin tertindas dan meregang.&lt;br /&gt;    Semuanya ini, mendorong kearah krisis legitimasi –&lt;br /&gt;    krisis kepercayaan rakyat terhadap lembaga-lembaga&lt;br /&gt;    penyelenggara negara, baik eksekutif, legislatif dan&lt;br /&gt;    yudikatif.&lt;br /&gt;    ---o---&lt;br /&gt;    Bagaimana hubungan antar bagian dari Catur Warna ?&lt;br /&gt;    Sistem sosio-kultural (Brahmana) akan memberikan&lt;br /&gt;    jaminan kesetiaan massa pendukung bagi sistem politik.&lt;br /&gt;    Dan sistem politik (Ksatria) tentunya harus memikirkan&lt;br /&gt;    kesejahteraan dari para Brahmana dan masyarakat umum&lt;br /&gt;    yang jadi umatnya. Para ksatria bertugas mengendalikan&lt;br /&gt;    gerak perekonomian negara secara adil, sehingga para&lt;br /&gt;    wesya dapat tenang dalam memutar roda perekonomian.&lt;br /&gt;    Sebagai imbal baliknya, sistem ekonomi akan memberikan&lt;br /&gt;    kontribusi berupa pajak kepada sistem politik. Sistem&lt;br /&gt;    perekonomian akan memberikan barang/jasa kepada&lt;br /&gt;    subsistem sosio-kultural, sedangkan subsistem sosio&lt;br /&gt;    kultural akan memasok para kerja dengan motivasi&lt;br /&gt;    tinggi untuk memutar roda perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Nah pada kenyataannya sekarang, para wesya tidak&lt;br /&gt;    menjalankan swadharma atau bidang tugasnya untuk&lt;br /&gt;    menghasilkan sejumlah nilai-nilai baik berupa&lt;br /&gt;    barang/jasa yang dibutuhkan untuk konsumsi. Hal ini&lt;br /&gt;    disebabkan karena berbagai kebijakan administratif&lt;br /&gt;    yang diterapkan oleh para Ksatria, ternyata tidak&lt;br /&gt;    mampu memenuhi kebutuhan para Wesya agar mampu&lt;br /&gt;    berusaha dengan baik. Produk-produk sistem politik,&lt;br /&gt;    tidak menghasilkan sejumlah keputusan rasional yang&lt;br /&gt;    diperlukan untuk mengatur negara dengan adil. Pada&lt;br /&gt;    saat krisis ekonomi terjadi, para aparatur negara&lt;br /&gt;    bertindak sebagai perencana bagi pemodal-pemodal besar&lt;br /&gt;    kaum pedagang. Tindakan aparatur negara sebagai&lt;br /&gt;    pelaksana hukum mengalami kesadaran rendah bahkan&lt;br /&gt;    sampai pada titik nadir yang bisa di toleransi.&lt;br /&gt;    Keputusan-keputusan aparat negara sangat tidak&lt;br /&gt;    rasional, sehingga terlihat dengan jelas, bagaimana&lt;br /&gt;    kepentingan para kapitalis, menang terhadap&lt;br /&gt;    kepentingan masyarakat secara umum. Karena gerak&lt;br /&gt;    perekonomian kurang, maka pajak tidak dapat masuk ke&lt;br /&gt;    kas negara, di tambah kerakusan penyelenggara negara,&lt;br /&gt;    maka hutang luar negeri makin menumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Politisasi agama dan budaya, juga memiliki efek&lt;br /&gt;    samping yang tidak diinginkan, berupa campur tangan&lt;br /&gt;    aparat negara dalam tradisi kultural. Hal ini&lt;br /&gt;    semata-mata karena kolaborasi jahat para ksatria dan&lt;br /&gt;    brahmana sehingga muncul erosi tradisi yang&lt;br /&gt;    menghancurkan jati diri bangsa tanah Nusantara. Para&lt;br /&gt;    penjaga gawang sosio-kultural tidak mampu lagi&lt;br /&gt;    membangun nilai-nilai kebersamaan sebagai bangsa.&lt;br /&gt;    Sehingga mempercepat keretakan yang timbul di&lt;br /&gt;    masyarakat.&lt;br /&gt;    ---o---&lt;br /&gt;    Kecenderungan krisis ini berubah menjadi penarikan&lt;br /&gt;    legitimasi dengan cara memporak-porandakan aparat&lt;br /&gt;    negara. Lalu krisis legitimasi langsung berubah&lt;br /&gt;    menjadi krisis jati diri. Memang tidak berdampak&lt;br /&gt;    langsung, tetapi krisis jati diri diakibatkan oleh&lt;br /&gt;    kenyataan bahwa pelaksanaan tugas-tugas perencanaan&lt;br /&gt;    dan eksekusi rencana pembangunan, yang diemban&lt;br /&gt;    pemerintah, telah menimbulkan pertanyaan besar.&lt;br /&gt;    Pertanyaannya adalah apakah seluruh upaya tersebut&lt;br /&gt;    dapat mendorong kearah kesejahteraan publik atau malah&lt;br /&gt;    menyengsarakan masyarakat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Masyarakat sudah mulai kehilangan motivasi, akibat&lt;br /&gt;    tingkah pola para brahmana durjana, para politisi&lt;br /&gt;    bermulut manis tukang ingkar janji, serta muak pada&lt;br /&gt;    para pedagang serakah yang mengeruk keuntungan dengan&lt;br /&gt;    cara-cara yang tidak berkah.&lt;br /&gt;    ---o---&lt;br /&gt;    Kalau sudah pada titik tersebut, maka benarlah&lt;br /&gt;    pertanda yang ditulis 500 tahun yang silam yaitu&lt;br /&gt;    Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Letusan&lt;br /&gt;    gunung merapi hanyalah menjadi pertanda, dimulainya&lt;br /&gt;    atmosfir berbau amis darah anak bangsa, baik itu&lt;br /&gt;    karena gempa, ataupun yang akan terjadi berikutnya&lt;br /&gt;    yaitu amisnya darah akibat korban gerakan masyarakat.&lt;br /&gt;    Gerakan masyarakat yang muak dan ingin membangun&lt;br /&gt;    tatanan tanah nusantara yang baru. Gerakan yang akan&lt;br /&gt;    mencecerkan darah para ulama, memuncratkan darah&lt;br /&gt;    pejabat laknat, dan menggorok leher para pedagang&lt;br /&gt;    jahat. Darah yang tercecer akan menjadi tumbal&lt;br /&gt;    perbaikan tatanan kemasyarakatan di tanah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan negara-negara donor mulai mencium gelagat ini.&lt;br /&gt;    Melalui antek-anteknya di pemerintahan, mendorong agar&lt;br /&gt;    hutang-hutang negara agar cepat untuk dilunasi. Negara&lt;br /&gt;    donor selalu berkoar mendukung negara kesatuan&lt;br /&gt;    republik Indonesia, bukan karena mereka baik, tetapi&lt;br /&gt;    karena kalau Indonesia tercerai berai, siapa yang&lt;br /&gt;    membayar hutang yang berjibun banyaknya ?&lt;br /&gt;    Negara-negara mereka akan terseret pada krisis ekonomi&lt;br /&gt;    yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara-sodara, sadarlah, kita masih bersatu bukan&lt;br /&gt;    karena adanya Pancasila, atau para pejabat yang hanya&lt;br /&gt;    omong belaka. Kita masih bersatu ... karena hutang&lt;br /&gt;    kita begitu banyak. Kalau negara kita tak punya&lt;br /&gt;    hutang, niscaya dari dulu kita sudah porak poranda !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jadi, mumpung hutang kita masih banyak, dan belum&lt;br /&gt;    terbayar, segeralah bersatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hai para Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra, yang&lt;br /&gt;    masih bernurani, segeralah bersatu untuk menyusun&lt;br /&gt;    kembali tatanan tanah Nusantara. Mari kita bersihkan&lt;br /&gt;    Indonesia dari oportunis-oportunis yang hanya mencari&lt;br /&gt;    nikmat dari kekuasaan yang dimiliki, tanpa tanggung&lt;br /&gt;    jawab untuk membuat tanah Nusantara jadi Rahayu.&lt;br /&gt;    Acuhkan para Brahmana banyak mulut, penjual ayat.&lt;br /&gt;    Singkirkan ksatria-ksatria haus kekuasaan. Penjarakan&lt;br /&gt;    para sodagar yang menggangsir uang rakyat begitu&lt;br /&gt;    banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bangkit kembali Tanah Nusantara&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2163179110391597318?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2163179110391597318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2163179110391597318' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2163179110391597318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2163179110391597318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/brahmana-ksatria-wesya-dan-sudra.html' title='Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3500129618277338315</id><published>2007-11-18T13:53:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:55:13.807-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>RE: [mediacare] Kali Yuga</title><content type='html'>Ki Jero Martani, saya coba tanggapi dan berbagi dengan 'panjenengan', mungkin ada gunanya, walaupun mungkin tidak tepat sekali, namun mungkin dapat menjadi bahan pemikiran dan/atau diskusi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di sebuah buku best-seller dunia berjudul "Confessions of An Economic Hit Man", penulisnya yang bernama John Perkins (www.johnperkins.org), seorang mantan EHM (Economic Hit Man), menyebutkan ramalan yang ia dengar di berbagai suku bangsa, baik di biara Himalaya, di situs upacara di Indonesia, di suaka pribumi (Indian) di Amerika Utara, dari kedalaman Amazon hingga ke puncak Andes dan ke kota suku Maya di Amerika Tengah; yang kesemuanya berbicara tentang hal serupa, walau judul dan pesan ramalan itu berbeda sedikit satu dengan lainnya. Ramalan itu menceritakan macam-macam hal tentang Jaman Batu, Awal Matahari Kelima, akhir penanggalan lama dan awal penanggalan baru, dan lain-lain; namun mempunyai kesamaan cerita tentang bahwa dahulu kala dalam kabut sejarah, umat manusia pada dasarnya TERBAGI dan mengambil dua buah jalur yang berbeda: jalur Condor (mewakili hati, bersifat intutitif dan mistis) dan jalur Elang (mewakili otak, bersifat rasional dan materiil). Ramalan itu mengatakan pada tahun 1490-an (kedua jalur itu akan menyatu dan sang Elang akan mendorong sang Condor ke ambang kepunahan. Sebagai informasi tambahan dari saya untuk pembanding, beberapa peristiwa besar dunia di dekade ini adalah ditemukannya Amerika Serikat oleh Columbus pada tahun 1492 oleh ekspedisi atas restu Raja Ferdinand dan Ratu Isabela dari Spanyol. Pada tahun yang sama, di tahun 1492 Masehi, adalah juga merupakan tahun puncak terjadinya 'Masa Inkuisisi' pembantaian terhadap kaum Muslim dan Yahudi, suatu pembersihan atas sisa-sisa Kekhalifahan Bani Umayyah di Spanyol dan Portugal (dan di Sicilia, Italia; pembersihan terhadap kaum Muslim dan Yahudi di sana) yang di Spanyol dan Portugal ini dipimpin juga oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela. Di masa ini juga adalah masa-masa awal dari jaman Renaissance (kebangkitan kembali Eropa) menuju jaman Modern, mengejar ketertinggalannya dari Timur, sesudah Eropa mengalami apa yang disebut sebagai jaman Abad Kegelapan atau jaman Abad Pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu lima ratus tahun kemudian, sekitar tahun 1990-an menurut ramalan ini, suatu jaman baru akan dimulai, dan sang Condor dan Elang akan mempunyai kesempatan untuk bersatu kembali, terbang bersama-sama di langit yang sama, mengarungi jalur yang sama. Jika sang Condor dan Elang menerima kesempatan ini, mereka akan menciptakan keturunan yang paling luar biasa, berbeda dengan yang pernah dilihat sebelumnya. Apapun juga kenyataan ramalan luar-biasa ini, ternyata saat ini kita telah memasuki Milenium Ketiga di tahun 2006 ini. Maka sadarkah kiranya anda, bahwa anda sedang hidup di masa yang menarik dan penting, menilik ini semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ke mana arah Nusantara Indonesia di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya sungguh tidak cukup tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi ke manapun juga nanti, rasio pendapatan seperlima penduduk dunia di negara-negara terkaya terhadap pendapatan seperlima penduduk di negara-negara termiskin dunia meningkat dari 30 berbanding 1 pada tahun 1960, menjadi 74 berbanding 1 pada tahun 1995. Dan Bank Dunia, USAID, IMF, dan bank-bank lainnya, korporasi-korporasi dan pemerintah-pemerintah yang terlibat di dalam “bantuan” internasional jaringan “corporatocracy”, terus menceritakan kepada kita bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan mereka, bahwa kemajuan telah dicapai. SUNGGUH MALANG nasib Indonesia (dan negara-negara berkembang lain terutama penghasil minyak bumi dan gas alam) mendapatkan ‘bantuan’ pinjaman yang di ‘mark-up’ sehingga berbunga yang bahkan tak mungkin dibayar sampai ke anak-cucu, dan masih pula ditambah dengan korupsi besar-besaran yang biasanya dilakukan orang Indonesia sendiri. Sungguh, ‘Teori Menetes’ yang pernah saya baca di berbagi buku ekonomi makro tentang ‘maksud baik’ Orde Baru untuk membiarkan para pemimpin dunia usaha (baca: konglomerat, pengusaha swasta umum, Badan Usaha Milik Negara, dan lain-lain; laksana Chaebol di Korea Selatan yang didukung pemerintahnya, namun dengan disiplin lebih rendah di Indonesia) menjadi lokomotif ekonomi dan menarik gerbong panjang berisi rakyat Indonesia, benar-benar hanya MENETESKAN sangat sedikit saja hasil keuntungan mereka untuk masyarakat banyak, setelah dikurangi berbagai hal, atau investasi lain di usaha-usaha lain berdasarkan segala optimisme prediksi. Jatah rakyat itu yang dapat sangat berguna untuk berbagai layanan kesehatan, pendidikan, fasilitas umum, tunjangan sosial, dan sebagainya; sudah SANGAT dikurangi (resmi atau tidak) kata banyak kalangan oleh dan untuk jatah para oknum pejabat, pegawai negeri, petugas pajak, petugas admin istrasi, petugas hukum, polisi, tentara, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi bukankah kita tidak dapat menyalahkan mereka sepenuhnya, para pegawai negeri dan aparat negara ini? Mereka, katanya, seharusnya, adalah orang-orang terpandang yang masih percaya cerita warisan budaya kolonial penjajah Belanda tentang jaminan kesejahteraan pegawai negeri 'ambtenaar’ yang karena jatah pendapatan mereka yang resmi ternyata sangat ajaib kecilnya di masa kemerdekaan guna memenuhi cita-cita akan negara sosial Indonesia; tidak diimbangi dengan tangkalan terhadap arus iming-iming kemewahan global dunia dan penyediaan fasilitas umum yang baik; maka ‘terpaksalah’ mencari penghasilan tambahan. Orang Indonesia ini pintar-pintar bukan? Bagaimana pendapat anda? Sigmund Freud dengan sederet teori psikoanalisanya akan setuju. Hahahahahaaaa …!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Satu contoh (serius, bukan sindiran seperti di atas), adalah peraturan pemerintah tentang kepemilikan mobil (apalagi mobil mewah) yang dipersulit dengan tambahan pajak pembelian yang sangat tinggi (banyak kalangan yang tahu berkata, pajak mobil Indonesia termasuk tertinggi di dunia) di masa Orde Baru guna memenuhi cita-cita akan negara sosial dengan prinsip pemerataannya, selain tentunya untuk pemasukan negara. Maksud cukup mulia yang antara lain berguna untuk meminimalkan perbedaan kaya-miskin ini, ternyata tidak dibarengi penyediaan fasilitas transportasi umum yang memadai, sehingga mau-tidak mau rakyat yang tentulah menginginkan sesuatu yang lebih baik untuk transportasi sehari-hari (mobil pribadi misalnya), apalagi di wilayah tropis seperti ini; berusaha memenuhinya. Karena prinsip ekonomi ‘ada kebutuhan ada pasokan’, dicarilah berbagai cara untuk memenuhi segala penunjang hedonisme ini, dan di kemudian hari lahirlah berbagai paket kredit kepemilikan mobil yang juga diceritakan menghasilkan banyak kolusi, manipulasi, dan sebagainya; selain menghasilkan jumlah mobil yang membengkak terutama di perkotaan yang lalu mengakibatkan kemacetan lalu-lintas karena (di antara berbagai faktor lain) agaknya prediksi pertumbuhan ekonomi dan segala kaitannya (termasuk penyediaan jalan) oleh pemerintah itu (yang dibantu para konsultan seperti para Economic Hit Man/EHM itu), tidak realistis. Istilah EHM sendiri, adalah suatu istilah ’kode’ di antara mereka sendiri yang merujuk kepada orang yang ditugaskan untuk dua pekerjaan utama: (1) Membenarkan pinjaman internasional yang besar kepada negara-negara berkembang yang kemudian akan disalurkan kembali kepada ”MAIN” dan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang lain seperti ”Bechtel”, ”Halliburton”, ”Stone &amp; Webster Engineering Corporation (SWEC)”, ”Brown &amp; Root” atau ”Kellog Brown &amp; Root”; melalui proyek-proyek rekayasa teknis (engineering) dan konstruksi raksasa. (2)  Membangkrutkan negara-negara yang menerima pinjaman itu (setelah negara-negara itu membayar MAIN dan kontraktor Amerika Serikat lainnya, tentu saja) sehingga negara-negara itu selamanya akan berhutang kepada kreditor mereka itu dan dengan demikian mereka akan menjadi sasaran empuk dan sekutu yang penurut ketika Amerika Serikat (dan sekutu-sekutunya, mungkin) memerlukan dukungan mereka seperti untuk pangkalan militer, hak suara PBB, atau akses kepada minyak dan sumber daya alam lain. Maka, negara-negara yang telah berhasil ia taklukkan atau paling tidak ia ketahui fakta-faktanya tentang operasi super rahasia ini adalah antara lain Ekuador, Indonesia, Arab Saudi, Iran, Panama, Iraq, Kolombia, Venezuela (para EHM dan ’serigala’, menemui kegagalan di Iraq, Panama, dan Venezuela namun toh tidak demikian para tentara Paman Samnya yang sukses dengan Invasi oleh Amerika Serikat ke Panama dan Perang Teluknya ke Iraq). Dan John Perkins mengungkapkan kekhawatirannya bahwa banyak orang-orang biasa di berbagai negara (termasuk di Indonesia, tentunya) mungkin secara tak sadar juga menjadi bagian dari Corporatocracy di perusahaan-perusahaan, berbagai organisasi, dan menjadi alat untuk menekan lawan-lawan kepentingan Corporatocary; dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan orang-orang biasa itu seperti melalui lobbying, hadiah, gaji, bonus, pelatihan, pemotivasian, penggalangan opini dan simpati; dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akhirnya, di rangkaian Chain-Reaction lingkaran setan ini, pemerintah dan rakyat, kita semua jugalah yang ‘kerepotan’. Dan di dalam teori bisnis, ternyata bila suatu sistem sudah kacau, salah satu caranya  adalah melakukan re-rengineering (perombakan dasar, yang populer sebagai BPR, Business Process Re-engineering atau CPR, Core Process Re-engineering) dan agaknya yang telah dialami Indonesia adalah dengan cara Reformasi ini. Entah, sampai seeektif dan seefisien mana proses Reformasi ini akan bergulir kiranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya bukan anti Amerika Serikat, saya masih sangat menikmati banyak teknologi dan segala  budaya pop Amerika, dan agama saya, Islam, tidak mengajarkan diskriminasi rasial, agama, dan sebagainya; apalagi untuk dilakukan secara ofensif dan aktif (hanya pasif, dalam kerangka jihad sebagai betuk bela-diri, bukan untuk serangan mendahului). Tapi tak pelak segala fakta dan spekulasi ini (misalnya tentang Manifest Destiny, EHM, para serigala, Pan-Americana, Doktrin Monroe, kroni Bush, NSA, CIA, Corporatocracy, dsb.; baca buku "Confessions of An Economic Hit Man atau ringkasannya yang telah saya kirimkan ke beberapa Miling List bebrapa waktu lalu menjelang berbagai peristiwa penting Mei 2006 ini) membuat saya berpikir banyak tentang berbagai bayangan indah, terutama di masa kecil dulu, tentang Amerika Serikat, bahkan orang kulit putih. Dulu semasa kecil, Inggris dan Amerika Serikat, adalah negara pahlawan saya, dan saya memimpikan dan mengidentikkan diri saya sebagai ’anak Inggris’ atau ’anak Amerika’. Saya dari dulu sampai sekarang adalah penggemar Spider-Man dan Superman. Saya pembaca berulangkali seri Tintin, Asterix, Tanguy &amp; Laverdure, Little House, Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan sebagainya dan termasuk buku cerita best-seller sekarang, Harry Potter yang membius dan menakjubkan itu; selain berbagai buku ilmiah produk Amerika dan negara-negara maju lain itu. Saya juga penggemar masakan dan ahli memasak masakan Barat (walau tentu saja sebagai Muslim, saya tidak pernah menambahkan Anggur, Brandy, Rhum, Whisky dan sejenisnya serta Babi ke masakan saya, serta memasaknya hingga matang hingga kering darahnya dan hilang segala cacing dan sebagainya; tiga hal yang sering ada dalam seni Kuliner a la Barat dan tak sesuai dengan agama saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya mampu berbicara Bahasa Inggris fasih dalam logat British, dan saya dapat mengubahnya menjadi logat Scottish atau bahkan Irish, satu hal yang dikagumi oleh bahkan kenalan berbangsa Inggris saya. Saya hafal banyak kisah hidup orang besar Barat dan sejarah Barat mungkin lebih daripada sejarah bangsa sendiri. Saya bahkan dulu turut memusuhi tanpa berpikir panjang siapa saja yang mereka musuhi seperti ditunjukkan dalam film-film Hollywood, dan kemenangan Amerika tentu saja tanpa pikir panjang dulu, adalah kemenangan saya juga. Namun sekarang saya benar-benar berhati-hati dalam menilai segala sesuatu. Sekarang, bayangan identifikasi diri saya menjadi anak ’Inggris atau Amerika’ itu menjadi meredup, dan saya telah cukup lama mulai menggali ke-asia-an saya, terutama ke-indonesia-an saya, bahkan dalam arus kencang Globalisasi. Dan saya masih cukup bangga menjadi orang Nusantara Indonesia, ini sudah takdir saya, walau sebagian hati saya juga mengagumi saudara kita Malaysia yang gemilang itu. Malaysia, negeri yang dulu belajar dari kita bahkan masih mengirimkan mahasiswa belajar kedokteran ke Universitas Airlangga sampai sekarang di tahun 2006, namun telah keluar dari Krisis Moneter dengan lebih cepat di bawah Mahathir Mohammad; sementara kita masih dininabobokkan gurindam, legenda, dongeng, langgam, dan seterusnya tentang ’negeri Nusantara yang subur, kaya, dan makmur’ dan menganggap semua sudah dan akan beres dengan sendirinya karena ’Tuhan menyayangi kita, bukan?’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu, Senin 25 April 2006 (tulisan ini saya tulis selama beberapa hari, di antara berbagai kesibukan lain) saya tak sengaja menyaksikan liputan TV tentang akad nikah anak Bambang Trihatmojo, dan menyaksikan mantan Presiden Soeharto datang tanpa duduk di kursi roda seperti di tahun-tahun lalu sesudah ia ’lengser keprabon’, ke acara akad nikah cucunya itu. Pak Harto, sang Bapak Pembangunan Orde Baru, terlihat sehat dan segar-bugar berseri-seri, sangat sehat untuk orang seusia beliau yang telah mengalami stroke, membuat saya sejenak bernostalgia saat saya dulu semasa kecil duduk di depan TV menyaksikan siaran TVRI tentang berbagai keajaiban pembangunan ekonomi Republik Indonesia di masa Orde Baru dengan rangaian tahapan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) negara tercinta ini. Saya turut berbahagia melihat pak Harto saat itu, sungguh, sejujur-jujurnya, saat menyaksikan betapa Tuhan memberikan karunia umur panj ang kepada seorang tua yang cukup tampan. Saya juga dari dulu menyadari betapa tampannya kedua mantan Presiden kita, Sukarno dan Soeharto, dan betapa pengaruh besar mereka terhadap berbagai kemajuan yang kita sempat dan masih nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun sisi lain diri saya, tak dapat berhenti untuk terus memikirkan apa yang telah terjadi selama beberapa puluh tahun terakhir di Indonesia tentang Permesta, PRRI, DI/TII, Gerakan Non-Blok, Demokrasi Terpimpin, Trikora dan Dwikora, G 30 S PKI, Pelita, Demokrasi Pancasila, NKK-BKK, P4, BAKIN dan intelijen negara, Pemilu dengan hanya tiga partai, DPR, MPR, Bappenas, deregulasi, Pakto-Paknov (Paket Oktober dan Paket Novembernya Radius Prawiro), ’keterbukaan’ Orde Baru, manipulasi, korupsi, kolusi, para konglomerat, para Jenderal, para pejabat negara, para dukun, adat-istiadat, takhayul, dinamisme, animisme, aktivis mahasiswa yang hilang; lalu Krisis Moneter, likuidasi, pengangguran, kemiskinan, fasilitas layanan umum, kekurangan pendidikan, dan sekolah-sekolah negeri yang terpencil dan seperti kandang sapi. Kemudian tentang berubahnya budaya bangsa dengan segala sisi baik-buruknya, para pemimpin kita, p olitik dan politik dagang-sapi, narkoba, pornografi yang meningkat, layanan seksual, ”Wanita Tuna Susila’ (WTS) yang berganti nama menjadi ’Pekerja Seks Komersial’ (PSK, jadi seharusnya mereka ini berhak masuk Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia, ASPEK Indonesia, termasuk mungkin menjadi Menteri Tenaga Kerja Indonesia, bukan?), hutan gundul, kebakaran hutan, konglomerat yang kabur atau bunuh diri, kebodohan masyarakat, konflik dan genocide antar suku-bangsa dan umat beragama, pembunuhan-pembunuhan akibat kemiskinan, bom, berbagai demo, banjir di Jakarta dan bahkan Airport Soekarno-Hatta, dan bencana alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemudian Sampoerna dengan segala iklan sindirannya, Jama’ah Islamiyyah, sekolah-sekolah bisnis, Bank Indonesia, BPPN, divestasi, Freeport, Chevron-Caltex, UMR, partai-partai, DPR, KPU, KPK, dan lain-lain. Juga Soekarno-Hatta, Soeharto, Marsinah, Soe Hok Gie, Baharuddin Lopa, Munir, Tommy Soeharto yang berada di penjara, Ricardo Gelael yang bebas dari penjara, Soedomo, L.B. Moerdani, Frans Seda, Soemitro Djojohadikusumo dan ’Mafia Berkeley’nya, Widjojonitisastro, Dorodjatun Kuntjorojakti, Radius Prawiro, Bustanul Arifin, Ginanjar Kartasasmita, Fu’ad Bawazier, Peter F. Gontha, Edi Tanzil, Prabowo Subianto, Wiranto, Agum Gumelar, Sudrajat Djiwandono, Laksamana Soekardi, Taufik Kiemas, Tommy Winata, Gubernur DKI Sutiyoso, BJ. Habibie, ’Gus Dur’ Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri, Amien Rais-Siswono, Kwik Kian Gie, Todung Mulya Lubis, Jaksa Agung Adurrahman Saleh, Kapolri Sutan to, SBY-JK. Dan terakhir kembali ke terutama mengenai tulisan John Perkins dan Michael Moore, serta apapun fakta lain yang belum terungkap di balik hubungan semua hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebagai tambahan, kawan saya seorang lulusan MM UI, punya kawan yang dulu bekerja di BPPN. Menurut penuturannya, kawannya ini terus-terang mengaku kepadanya bahwa sejak bergabung dengan BPPN, ia ’kebanyakan duit’ tiap bulannya, dan bingung ’duitnya mau diapain bahkan sesudah membeli beberapa mobil dan rumah’. Begitu banyak pihak berkepentingan dengan BPPN yang membuatnya ’kebanyakan duit’, menurutnya. Kawan saya sendiri, karena mengaku bahwa ia bersifat jujur dan mau mengabdi untuk negara saat wawancara kerja dengan BPPN agaknya (inilah sifat kawan saya yang menjaga agama dan jujur), kemudian tidak diterima bekerja di sana. Dan pada lain pembicaraan menurut pendapatnya, di Indonesia, banyak sekali orang yang bersedia disuap, termasuk oleh kepentingan asing. Saya sendiri setuju, wong lha kita ini maunya kebarat-baratan memang, bahkan mungkin lebih kebarat-baratan daripada orang b arat sendiri bisa-bisa, sudah lupa terhadap semboyan ’berdikari’ (berdiri di atas kaki sendiri) Sukarno dan berbagai sejarah dunia. Generasi yang bingung dan menyedihkan, ’orang pinter malah miskin di jaman edan’, seperti ramalan Joyoboyo, sudah benar terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Negara ini sangat kaya sebenarnya, dengan atau tanpa hutang. Tapi juga sangat kayalah para koruptor dan manipulatornya. Di Australia, turis Indonesia menurut mereka, jauh lebih disenangi daripada turis Jepang, karena lebih royal. Percayalah, saya juga bergaul dengan mereka2 yang diduga, saya duga, demikian. Dan bila sebuah kaum menyia2kan nikmat, apalagi bergelimang maksiat, maka azab Tuhan (dengan nama apapun kau panggil Dia) akan datang, segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    DAN ORANG MASIH BERTANYA MENGAPA SEMAKIN BANYAK TERJADI BENCANA ALAM DI NEGERI INI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan ini semua berhubungan dengan alam semesta sebagai tempat tinggal manusia, dengan masing2 mempunyai konstanta dan variabel sendiri, tentunya, dalam sistem Tuhan ini. Ini wajar, karena manusia adalah makhluk dengan Sistem Terbuka (Input-Production-Output-Feeding Back system dengan lingkungannya) menurut Teori Sistem. Itu semua lalu 'cuma' perimbangan paramater, variabel, pembobotan masing2 faktor/variabel, dengan segala distribusi probabilistiknya, serta ilmu2 lain yang belum dijangkau manusia, dsb. Dan, demi penjelasan ilmiah, ini masih diperlukan (walau cuma sekelumit dari ilmu Tuhan), penjelasan akan sebab, symptom, stimulus, gejala, dan akibat fisik. Dan perlu memang, untuk menerangkannya bagi manusia yang (hanya) mengambil dasar ilmiah untuk memahaminya, yang ternyata menurut Einstein pun masih, "Ada faktor X yang tak dapat dijelaskan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang non fisik masih banyak. Ada garis2 tak terlihat yang menghubungkan segala hal. Apalagi menurut kuliah2 dan sejumlah sarana info lain, PADA DASARNYA, ternyata, tidak ada yang TIDAK berhubungan di dunia ini. Misalnya, masih ingat Theory Of Everything nya Stephen Hawkings? Butterfly Effect? Domino Theory? Chain reaction? Rantai Makanan? Teori Empiris Kimia? Kekekalan Energi Fisika? Psikologi dan Psikologi Sosial? ... dsb. Manusia kebanyakan tak melihatnya, dan Tuhan akan menaikkan Ulil 'Albab (golongan yang berpikir) lebih tinggi derajatnya. Agama 'kan bukan hanya sembahyang saja? Maka, apakah bila ada 2 orang jaman sekarang kembali dengan mesin waktu ke jaman dulu, dan saling berkomunikasi dengan Handy Talkie, dengan menggunakan gelombang tak terlihat mata, akan dianggap ilmiah, wajar, oleh manusia jaman dulu itu yang menyaksikannya? Lalu, mengenai daerah yang rawan gempa vulkanik, tektonik, dsb., bahkan lain2 nya yang mengalami musibah hampir seakan terjadual, itu juga wajar, apalagi kalau kembali ke konsep konstanta dan variabilitas tadi, juga Probabilitas (dengan AHP dan segala macamnya, misalnya), terutama saat kita sudah mengenal Fuzzy Logic Theory nya Lotfi Zadeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Daerah kritis ada rahmat lainnya, selalu ada perimbangannya dari Tuhan, contohnya Nusantara yang dapat lempengan patahan banyak, ternyata subur dan banyak berpotensi. Daerah panas dan bergurun, seperti Arab Saudi-Iraq-Iran misalnya, punya minyak bumi banyak biasanya. Pernah ke Riau? Riau sangat panas, tapi juga banyak minyak di atas (kelapa sawit) dan minyak di bawah (minyak bumi). Sang Programmer, Sang Manager tingal tekan 'satu tombol' untuk bencana, atau bahkan 'berhenti', jika para wakilnya itu melebihi batas konstanta tertentu. Dalam hal ini, sebagaimana disebutkan Al Qur'an, Dia tinggal berkata "kun fa ya kuun" ("Jadi!", maka jadilah). Laksana cerita perjalanan produk dalam "Product Life Cycle". Ini juga sangat wajar dalam khazanah konsep Simulasi, terutama yang Dinamis, bukan? Sedangkan angka ilmu pasti "1" saja ternyata adalah pendekatan pembulatan dari angka 0,09999 99999999999999999999999999999999999 … "Ada faktor X" itu, kata Einstein. Maka, konsep binary logic menjadi usang, atau hanya untuk tingkatan rendah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya menjadi takut, sedih, dan sedikit marah, lalu. Sedikit terbersit harapan akan benarnya tengara tentang Global Paradoxnya John Naisbitt bahwa saat arus Globalisasi membuat hampir seluruh pelosok dunia menjadi sama, justru bagian2 terkecil dunia tak bersedia disamaratakan dan mulai mencari faktor-faktor pembeda mereka guna mengejawantahkan keberadaan mereka. Dan tentu saja, sesuai juga dengan tengara konsep Global Paradox ini, bahkan sebaiknyalah mereka melakukan ini, karena memang ‘perbedaan itu adalah rahmat’. Untuk membuat satu sistem besar yang kuat, bagian-bagian terkecilnya harus juga kuat; karena masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang memang berbeda-beda dan saling menguatkan, walau memang ada perbedan-perbedaan yang mungkin mengganggu. Semoga memang benar adanya, seperti yang pernah saya tulis di sebuah tabloid manajemen lokal bertahun-tahun lalu, bahwa semoga saat ini Asia, khususnya Indonesia; sedang menemukan caranya (kembali, sekali lagi), daripada notabene mengikuti cara-cara Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sehubungan dengan ini, menurut filsuf Friedrich Nietzsche di tahun 1880-an, kebudayaan Barat sendiri berada di ambang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio (akal). Ia sangat kritis terhadap cita-cita modernisme yang sangat berkuasa di Eropa jaman modern itu. Dan kepercayaan umum akan kemajuan yang terjadi, sudah dilecehkannya bahkan sejak akhir abad XIX. Ia mengkritik hampir semua relung-relung Barat (termasuk agama-agama Barat), namun pada waktu itu orang mentertawakannya, bahkan dikira orang banyak sebagai orang gila. Penulis sekaliber Bertrand Russel saja bahkan pada sekitar tahun 1945 pun menyatakan bahwa ia tidak menyenanginya, dan berharap filsafat post-modern Nietzsche akan hilang lama-kelamaan; suatu hal yang ternyata justru terjadi sebaliknya di kemudian hari. Walaupun Nietzsche juga terkenal dengan klaimnya bahwa Tuhan itu tidak ada, «Tuhan sudah mati », hanya bayangan atau imajinasi men urutnya dalam sebuah tulisannya, namun pemikirannya tentang keadaan dunia boleh jadi adalah salah satu inspirasi besar yang turut mewarnai perkembangan dunia. Dan sekitar satu abad kemudian pada tahun 1990-an, Filsuf Fritjop Capra juga menyatakan hal yang sama tentang kritik terhadap arah pembangunan peradaban dunia. Capra bahkan telah menulis buku “The Tao of Physics” yang menggegerkan dunia Fisika, karena memperlihatkan hubungan antara revolusi sipritual dan fisika. Selain itu ia juga menulis buku penting “The Turning Point: Science, Society, and The Rising Culture” tentang krisis global serius pada awal dua dasa warsa akhir abad XX dalam aspek kehidupan kesehatan, mata pencaharian, kualitas lingkungan hidup, hubungan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Capra, melihat bahwa penyebab semua kekacauan itu karena tidak digunakannya paradigma utuh dalam merekayasa budaya. Ia secara khusus menuding bahwa paham  Cartesian (paham warisan Filsuf Descartes) dan Newtonlah yang bertanggungjawab memunculkan paradigma tunggal bahwa paradigma sains selain digunakan dalam pengembangan budaya sains, dipaksakan digunakan juga dalam pengembangan budaya seni dan etika (yang seharusnya mendapatkan paradigma, perhatian, pembangunan dan pengimplementasian berbeda, menurut Capra). Sementara itu, filsuf lain, Kuhn, pada tahun 1970-an juga menyatakan bahwa manusia telah salah dalam menjalanai kehidupannya, dan mulai merindukan spiritualisme yang hilang dari kehidupannya. Di Indonesia, Herma Suwardi, guru besar Filsafat Universitas Padjajaran Bandung menyatakan dengan geram tentang kekurangan filsafat ilmu yang digunakan Barat, yaitu paradigma sains warisan Descartes dan Newton. Dan S oedjatmoko ‘Koko’, seorang pemikir dan filsuf Indonesia lain, menyatakan pada tahun 1980-an bahwa ilmu dan teknologi berhadapan dengan pertanyaan pokok tentang jalan yang harus ditempuh selanjutnya, berkisar tentang masalah ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan ilmu dan teknologi. Prof. Ahmad Tafsir, guru besar Filsafat IAIN Jakarta dalam bukunya "Filsafat Umum", jelas menyatakan ini semua, bahkan tentang sejarah, pembagian, dan penyeimbangan indera-akal-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Para pendukung Akal sendiri memiliki ‘lawan’ sepadan, yaitu para pendukung Hati (rasa); dan mereka cenderung saling bertentangan sejak awal jaman peradaban manusia (sesuai dengan khazanah wawasan Barat, karena ilmu pengetahuan dan budaya sekarang tak lepas dari sudut-pandang Barat sebagai pihak yang sedang menguasai ilmu-pengetahuan dan teknologi paling maju secara umum dan rata-rata). Kesemua masyarakat Barat namun, cenderung tetap mendewakan rasio secara berlebihan selama dan sesudah masa Modern. Akal sendiri dianggap mengalami ‘kekalahan’ di masa kira-kira sejak tahun 200 sampai 1600-an Masehi oleh Hati (rasa, agama) di Barat, saat Eropa dikungkung berbagai hal negatif di masa Abad Pertengahan (disebut juga Abad Kegelapan) yang didominasi kaum agamawan. Akal sendiri dalam hal ini diwakili Filsafat, dan hati diakili Agama, paling tidak menurut kacamata Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berkaitan dengan hal ini, mungkin anda masih teringat akan pertentangan antara Galileo Galillei yang menggunakan teleskop temuan Nicolaus Copernicus dan menyatakan bahwa Bumi mengitari Matahari, sementara dominasi kaum agamamawan Gereja di jaman itu berkeras bahwa Bumi adalah pusat alam semesta dan karenanya adalah Matahari yang mengelilingi Bumi? Karena kalah pengaruh, Galileo dilarang menyebarkan pahamnya, dan buku-bukunya dibakar. Pengucilan terhadap temuan dan diri Galileo ini sendiri kemudian direvisi dan diakui resmi Gereja Katolik, namun baru sekitar lima ratus tahun kemudian. Pada jaman itu, juga banyak pihak yang bertentangan dengan tafsiran Gereja, misalnya Jean d’Arc (Joan of Arc) dari Perancis atau orang-orang yang dianggap penyihir karena meramu ramuan kimiawi tertentu dan ragam tuduhan lain; bahkan dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu, dengan didahului Renaissance dan berlanjut ke Masa Modern, peradaban dunia pun menjadi berubah. Humanisme juga muncul, saat potensi manusia di Barat yang seakan agak tertutup dan dinafikan di jaman sebelumnya yang didominasi Hati menjadi lebih dikedepankan dan digali, dan tercermin dalam inti sari pemikiran "manusia menentukan takdirnya sendiri, kehendak Tuhan tidak cukup penting, maka agama (yang dikenal Barat) dengan segala aturannya juga tidak penting". Kata Rennaissance sendiri berasal dari kata re-nasci dari bahasa Perancis yang berarti kelahiran kembali, saat Barat berusaha mengejar ketertinggalan peradabannya dari Timur setelah masa-masa `kekalahan akal' itu, dan salah satu akibatnya agama di Barat menjadi dijauhi, bahkan dinafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jaman Modern sendiri di kemudian hari telah kita ketahui, adalah sebagai pengejawantahan perlawanan pendukung Akal terhadap para pendukung Hati (rasa atau agama), yang kemudian ternyata menjadi `terlalu jauh'. Maka untuk mendekonstruksinya, lawan dari Filsafat Modernisme ini adalah Filsafat Post-Modernisme yang melakukan dekonstruksi terhadapnya sampai saat ini; dan Nietsche adalah pelopornya. Dan sekarang, kita sedang dalam masa yang disebut sebagai masa Post-Modern ini. Manusia modern yang mewarisi sikap positivistik rasionalisme ini (juga Humanisme) cenderung pula menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan substansi rohani manusia, dan bahkan hari akhirat. Ini tentu berpengaruh kepada penafsirannya ke dalam (manajemen) pengaturan kehidupan sehari-hari, dan ini semua juga mengawali apa yang di kemudian hari dalam struktur masyarakat (sosial) dan budaya serta tatanan ekonomi bahkan politik dan hukum disebut sebagai Sekulerisme yang menafikan agama, dan membuat agama tidak boleh mengurusi urusan duniawi, dianggap hanya sebagai alat untuk berhubungan dengan Tuhan saja dan mengurusi urusan ‘tidak tampak’; pendeknya agama adalah untuk masalah akhirat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan secara langsung atau tidak, ini semua juga di kemudian hari menyebabkan apa yang dikenal sebagai Kapitalisme, juga Sosialisme (a la Barat, bukan a la Timur), Marxisme, Komunisme, Agnostisme, bahkan Atheisme, sebagai konsekuensinya; dan pada gilirannya kemudian menyebar dari Barat dengan segala sisi baik-buruknya melalui Globalisasi yang kita kenal sekarang, bertempur dan juga bercampur dengan segala paham lain yang dikenal manusia, termasuk agama-agama. Khusus mengenai Agnostisme, dianggap beberapa kalangan adalah merupakan ‘saudara agama Kristen dengan tafsir berbeda’, bukan merupakan peminggiran agama (namun memang ya, jika  kita menganggap bahwa agama hanyalah Katolik atau Kristen Protestan saja). Sosialisme sendiri adalah reaksi atas Kapitalisme, dan Marxisme, Komunisme, bahkan Atheisme; adalah reaksi langsung dan tidak langsung dari para pendukung akal yang ‘muak’ akan kehidup an dan agama yang dikenal Barat saat itu. Omong-omong, ternyata belum pernah ada rasanya agama lahir di Barat. Dan Indonesia juga sudah kadung menjadi negara sekuler berdasarkan agama, yang sejak cita-citanya menjadi negara Sosial sesuai dengan UUD'45, kemudian juga entah menjadi negara apa sekarang ini. Tapi yah, memang hidup ini dinamis, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Omong-omong lagi, apakah agama itu sebenarnya? Agama, yang menurut khazanah Barat sering disebut sebagai perkara yang tak jauh dari masalah hati atau rasa; cukup berlainan dengan tafsiran cara hidup peradaban di Timur, yang adalah merupakan kesatuan akal dan hati, lebih tepatnya, indera-akal-hati (dan agaknya di Timur ada juga yang diwarnai kecenderungan untuk lebih menggali potensi hati daripada akal saja termasuk hal-hal di luar itu semua yang bersifat tak diketahui manusia atau ghaib dan mistisme); yang kesemuanya berujung kepada bentuk praktek, budaya dan peradaban masing-masing. Maka secara ironis, di timur kedudukan akal tak harus berbenturan dengan hati (dan indera). Lebih jauh pula terutama di jaman dahulu kala, dunia timur tak banyak yang merasa perlu untuk benar-benar memisahkan antara telaah akal, hati, dan indera. Di Timur, kaum cerdik-pandai ilmuwan dan Filsuf, sekaligus dapat menjadi agamawan bahkan Mistikus, tanpa harus pusing memilahkannya; seperti pada Ibnu Sina (di Barat dikenal sebagai Avecinna), Al Ghazali (Alghazel), Al Kindi (Alkindus), Ibnu Rusydi (Averoez), Al Razi (Rhazes), Al Khawarizmi (Algoritmus atau Algoritma), juga Laksamana Muhammad Cheng Hoo (Zheng He) yang telah mengerungi banyak penjuru lautan sebelum para penjelajah Barat misalnya; untuk menyebut sedikit nama di antara banyak sekali nama besar dari Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan sejak masa kedatangan Islam di abad keenam Masehi, yang menurut para penganutnya adalah menggenapkan apa yang dibawa oleh rangkaian para nabi sejak Nabi Adam sampai keturunan Nabi Ibrahim (nama lain versi Timur dari tokoh nabi yang dikenal sebagai Abraham di Barat) dari garis Nabi Ismail (Ishmael), yaitu Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abul Muthalib SAW, termasuk apa yang dibawa seluruh nabi Yahudi dan Kristen, dan dengan sendirinya mencakup berbagai budayanya; maka telah banyak terjadi perubahan di dunia yang membangkitkan berbagai evolusi dan revolusi peradaban manusia, termasuk ilmu-pengetahuan. Filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia timur, kemudian tercatat banyak mempunyai tokoh-tokoh besar cendekiawan dan filsuf Islam seperti tersebut di atas. Ini antara lain sebagai akibat dari berbagai ekspedisi kaum Muslim di masa itu yang dalam ekspedisinya ke berbagai penjuru dunia sampai ke Eropa, Asia, Afrika, dan lain-lain; juga telah banyak mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, filsafat, dan hal-hal lain, antara lain melalui buku-buku, naskah, catatan-catatan dari Yunani Kuno, Persia, India, dan Cina, yang diterjemahkan ke bahasa Arab terutama dari Abad VIII sampai IX Masehi (terutama di bawah pimpinan Kalifah Al Manshur dan Kalifah Harun al Rashid), dan kemudian mereka berikan pula tambahan sumbangan yang bersifat orisinal serta kemudian mendunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Timur (serta khususnya Timur-Tengah), dengan berbagai ilmu yang dipelajari dari jaman Yunani kuno, Mesopotamia, Cina kuno, Mesir kuno, India kuno, dan sebagainya serta yang mereka tambahkan ilmu-ilmu baru; telah sangat banyak menyumbangkan banyak hal ke peradaban dunia, terutama melalui buku-buku mereka yang diterjemahkan ke bahasa Latin. Ini mendorong Renaissance, Masa Modern, Revolusi Industri, jaman Pasca Modern, dan kemudian termasuk pula berpengaruh dalam arus besar ombak Globalisasi ke seluruh dunia untuk bertempur dan bercampur dengan beragam paham lain, termasuk agama2. Einstein sendiri sempat mengatakan bahwa, "Sains tanpa agama adalah buta, agama tanpa sains adalah pincang". Saya juga jadi ingat saat hampir lima belas tahun lalu, ayah saya memberitahukan saya tentang artikel di suatu majalah luar-negeri (saya lupa, Time, Newsweek, atau apa), diprediksikan bahwa satu saat tatanan masyarakat glob al akan menjadi tiga kelompok besar, yaitu Amerika Serikat, Eropa, dan Asia (yang dipimpin Cina, bukan Jepang); yang sekarang terbukti. Maka, sadarkah kita, bahwa kita sedang hidup di masa yang menarik dan penting?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Harus ada perubahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3500129618277338315?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3500129618277338315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3500129618277338315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3500129618277338315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3500129618277338315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/re-mediacare-kali-yuga.html' title='RE: [mediacare] Kali Yuga'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2213740962387622970</id><published>2007-11-18T13:51:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:52:18.666-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Keris Sangkelat Melawan Condongcampur</title><content type='html'>(Lanjutan Kisah Keris Sangkelat dan Crubuk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada suatu ketika, wilayah kerajaan Majapahit secara merata dilanda wabah penyakit, yang meluas karena “pengaruh” keris pusaka kerajaan kiai Condongcampur. Setiap malam keris Condongcampur keluar dari tempat penyimpanannya dan menyebarkan penyakit ke tengah rakyat Majapahit. Jumlah korban yang meninggal sampai tidak terhitung. Permaisuri, Ratu Dwarawati yang beragama Islam tetapi menganut paham Islam abangan juga menderita sakit keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Atas perintah Sang Prabu semua punggawa diwajibkan mengikuti giliran ronda menjaga permaisuri yang sakit di dalam keraton. Pada suatu hari yang menerima giliran jaga adalah bupati Empu Tumenggung Supadriya dengan Tumenggung Supagati. Akan tetapi mereka berduapun sakit, oleh karena itu giliran jaga diwakilkan pada anak-anak mereka. Supadriya diwakili oleh putranya yang bernama Supa, sedangkan Supagati diwakili oleh puteranya bernama Jigja. Keduanya adalah empu pembuat senjata. Empu Supa membawa Keris Sangkelat, sedangkan Empu Jigja membawa keris Sabukinten, keris yang dibuatnya sendiri. Menjelang malam mereka bersama-sama masuk keraton menjaga di dekat tempat istirahat permaisuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lewat tengah malam di dalam lingkungan keraton sudah sepi, tidak ada tanda-tanda orang yang bangun. Kecuali Empu Supa yang masih duduk sendiri berjongkok menghadap kamar istirahat permaisuri. Mendadak keris Condongcampur keluar dari tempat penyimpanannya dan mengeluarkan cahaya berkilauan dari tengah dalem prabayaksa, mendekati tempat duduk Empu Supa sambil mengibas, menantang keris Sangkelat untuk diajak perang tanding mengadu kesaktian. Pada saat itu juga keris Sangkelat bergolak amarahnya dengan cekatan keluar dari sarung yang masih di sisip dipinggang Empu Supa, mengeluarkan kesaktian Condongcampur, menjadi perang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keris Empu Jigja Sabukinten, ikut ”emosi”. Keluar dari sarungnya, langsung menghadapi Condongcampur dari samping.Akan tetapi Condongcampur waspada. Serangan keris Sabukinten dipatahkan mengenai lambung, terpelanting membengkok kembali masuk ke dalam sarungnya. Sangkelat masih bersemangat perang melawan Condongcampur satu lawan satu. Tidak lama, condongcampur limbung ditikam kena pucuknya dan putus se-luk, dengan tergesa-gesa masuk kembali ke tempat penyimpanan sampai menimbulkan suara berisik. Melihat musuh yang lari, keris sangkelat tidak mengejar tapi kembali masuk ke dalam sarungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada waktu itu juga, sakit yang diderita oleh permaisuri terasa lebih ringan. Demikian pula penderitaan karena wabah penyakit di seluruh lingkungan kerajaan Majapahit hilang sekaligus seketika. Keesokan harinya Empu Supa bersama Jigja, setelah menerima hadiah dari prabu, langsung pulang bersama-sama. Jigja diajak singgah di rumah Empu Supa dan diberitahu tentang hebatnya peristiwa perang keris Condongcampur melawan Sangkelat dan Sabukinten sekaligus yang disaksikan tadi malam. Keris Sangkelat dihunus dan terlihat masih utuh tak berubah, hanya sekujur badannya barut-barut seperti dicakar oleh mata kikir. Akan tetapi keris Jigja Sabukinten ketika dihunus terlihat melengkung dan pucuknya sedikit patah. Kemudian, setelah diperbaiki kembali terpaksa dikurangi dua luk. Mulanya keris itu memiliki luk tiga belas, sekarang tinggal luk sebelas. Hal ini menurut cerita sebagai pertanda bahwa keris dapur Sabukinten memiliki kekuatan yang kecil, akan tetapi masih tetap bagus untuk dipakai orang dalam berdagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Atas saran Jigja, keris Sangkelat disimpan, karena apabila diketahui oleh Sang Prabu, tidak dapat tidak pasti diambil. Pagi itu juga Empu Supa beserta anak isterinya pulang kembali ke Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Babad Demak, R. Atmodarminto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tafsir dongeng. Condong artinya cenderung atau rujuk, campur berarti bergabungnya suatu hal yang tidak sama. Keris ini menjadi suatu perlambang persekutuan antara kaum feodal Majapahit dengan kaum Islam ortodoks. Dalam hal ini, dapat diartikan sebagai perlambang bergabungnya kelompok yang memiliki kepercayaan berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keris Condongcampur menjadi pusaka kerajaan Majapahit memberi pertanda bahwa persekutuan kaum feodal dan kaum Islam ortodoks telah mendapat restu atau diketahui oleh Sang Prabu. Dan keris ini setiap malam keluar dari keraton menebar penyakit kepada rakyat Majapahit sampai banyak yang mati, maksudnya bahwa kaum feodal dengan golongan Islam ortodoks yang telah mendapat restu dari Raja bersama-sama datang hendak melenyapkan gerakan rakyat dengan tindak kekerasan dan menyebar perselisihan, sampai menimbulkan kerusuhan dan banyak korban yang terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Permaisuri, Supradriya dan Supagati, yang cenderung dekat dengan gerakan rakyat, yaitu yang hendak melenyapkan tatanan kasta, jatuh sakit karena perbuatan Condongcampur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keris sangkelat menjadi ibarat dari gerakan rakyat, dapat menandingi keris Condongcampur yang pucuknya putus se-luk. Maksudnya meski selalu di tekan dan dimusuhi oleh kaum feodal yang didukung Islam konservatif, gerakan rakyat tetap kuat dan semakin lama semakin jaya. Maka persekutuan kelompok Islam konvervatif dengan kaum feodal jadi putus, lantaran kelompok Islam tersebut berkhianat dan ganti siasat. Timbul niat kelompok Islam Koservatif untuk mendekati gerakan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keris sabukinten adalah merupakan kiasan bagi pemilik modal (saudagar) yang juga berperang lawan condongcampur dan mengalami kekalahan. Maksudnya adalah, kaum sodagar yang juga ingin ikut dalam kancah revolusi, setelah jatuh lumpuh, rela di belakang asal dirinya tidak musnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Supa meninggalkan Majapahit, pulang ke Tuban menyembunyikan keris Sangkelat maksudnya meskipun pada waktu itu gerakan rakyat agak berpengaruh, tetapi Supa terlanjur kehilangan harapan bahwa Majapahit yang konservatif dan sudah rapuh dapat diperbaiki menjadi kerajaan nasional yang bebas dari tatanan kasta. Bersama dengan itu kelompok Islam konservatif atau orthodoks yang berpusat di Giri dan Ampel, meski kemudian sekarang telah berganti paham dan haluan, akan tetapi Supa pun belum percaya, lantaran kaum Islam orthodoks memiliki watak pengkhianat dan sulit dipercaya, sehingga dikhawatirkan bergabung lagi dengan kaum feodal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2213740962387622970?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2213740962387622970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2213740962387622970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2213740962387622970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2213740962387622970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/keris-sangkelat-melawan-condongcampur.html' title='Keris Sangkelat Melawan Condongcampur'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-7575012644662596394</id><published>2007-11-18T13:49:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:50:27.838-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Selasa, 13 Juni 2006 - Keyakinan Mampu Memindahkan Gunung</title><content type='html'>Catatan Hari Ini. Hari ini aku percaya, bahwa keyakinan mengandung kekuatan yang luar biasa.  Kata bersayap "keyakinan anak manusia, mampu memindahkan gunung",  akan aku perhatikan terus-menerus,  dirasakan lalu diyakini. Dan pelajaran hari ini adalah, kekuatan yang dihasilkan dari keyakinan, sangat perlu untuk dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Percakapan kontroversial selalu mengandung banyak jebakan, terutama percakapan yang mengarah pada hal-hal yang bersifat personal. Percakapan personal yang tidak jelas, menyebabkan kita terbakar sendiri atau paling tidak membuat kita tampak bodoh di mata orang lain.  Semoga aku tak terjebak lagi pada masalah-masalah seperti itu, dan semoga kemampuan mendengarku, tidak dikalahkan oleh semangat yang selalu berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Esok hari, aku mestinya menemukan sebuah kepingan puzzle, yang akan memberi inspirasi sehingga gambaran keseluruhan menjadi lebih jelas.  Dengan kepingan yang esok kutemukan, misteri yang mengganggu selama ini, akan ketemu solusinya. Solusi itu mungkin agak mengecewakan, karena seringkali kenyataan itu,  tidak sedramatis yang dibayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Walau agak kecewa, nggak apa-apalah, besok akan kusempatkan diri untuk jalan-jalan, siapa tahu ketemu orang yang dapat menghibur dan bisa membuatku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Itulah catatan hari ini, dan kuhadapi esok hari, apapun yang terjadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-7575012644662596394?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/7575012644662596394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=7575012644662596394' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7575012644662596394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7575012644662596394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/selasa-13-juni-2006-keyakinan-mampu.html' title='Selasa, 13 Juni 2006 - Keyakinan Mampu Memindahkan Gunung'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3333373969669282499</id><published>2007-11-18T13:44:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:45:20.246-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Debat kusir, jangan terjadi lagi ...</title><content type='html'>Catatan ini sengaja disimpan agar aku, Ki Jero Martani, tidak melakukan kebodohan yang sama. Selanjutnya tidak boleh dan tidak pernah ada, model-model pemikiran yang memicu hal-hal terjadinya debat kusir lagi.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Kerukunan bisa hilang karena ungkapan kebenaran. Biarlah kebenaran menyeruak keluar, mencari jalannya sendiri...&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Re: [apakabar] Peran Sesajen dalam Ketahan Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    dear jero martani,&lt;br /&gt;    dari mana anda dapat data ini: Parisada (kalau kita-MUI), di Bali terpecah&lt;br /&gt;    dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah disusupi&lt;br /&gt;    oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan elit&lt;br /&gt;    politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.&lt;br /&gt;    ==&gt; intelejen apa?jangan ngarang cerita dong..yg saya tahu mereka lg coba&lt;br /&gt;    baikan (phdi bali yg dipimpin pedanda made gunung dgn phdi bali yg diakui&lt;br /&gt;    phdi pusat).&lt;br /&gt;    pandita2 petualang tanpa umat maksud anda apa?krn yg saya tau pedanda ato&lt;br /&gt;    sulinggih itu didukung oleh kalangan bahwah (bottom up) dan jelas massa-nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    kata anda:&lt;br /&gt;    Dalam satu kesempatan, saya mendengar diskusi para generasi muda Hindu.&lt;br /&gt;    Mereka seakan ber'teriak-teriak', menentang sajen yang merupakan budaya&lt;br /&gt;    warisan leluhur-leluhurnya dulu.&lt;br /&gt;    ==&gt;anda dengar diskusi dimana?saya akui ada yg belagak ke-india2an-dgn&lt;br /&gt;    mengambil mentah2 tradisi/upacara ala india yg menurut mereka lebih&lt;br /&gt;    hemat,praktis dan to the point (tuhan)..ya semuanya itu diakumodir dlm&lt;br /&gt;    keberagaman/liberalisasi upacara hindu. krn klo anda tahu ada 3pilar agama&lt;br /&gt;    kami: 1)tatwa 2)etika 3)upacara&lt;br /&gt;    di bali emang lebih dominan upacara drpd pemahaman filsafat agama, krn&lt;br /&gt;    begitulah karakter masyarakat bali yg suka menyampaikan "Bhakti Yoga"nya&lt;br /&gt;    melalui kemeriahan upacara.&lt;br /&gt;    spt jg kita menghatgai orang yg lebih dominan dlm ber-etika/filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    selebihnya saya salut dgn uraian2 anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Om namaste&lt;br /&gt;    Jawaban&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;    Ki jero martani, balasan saya dibawah ini. terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    On 6/10/06, kijeromartani &lt;kijeromartani@...&gt; wrote:&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Sodara Gendam,&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Tulisan berikut ini hanyalah isapan jempol belaka. Boleh dipercaya&lt;br /&gt;    &gt; dan boleh tidak. Memang terlalu kasar dan menohok orang-orang yang&lt;br /&gt;    &gt; mungkin anda sangat hormati. Mungkin tulisan ini dianggap fitnah,&lt;br /&gt;    &gt; dan menyinggung orang-orang Bali. Tetapi, benar-benar dari lubuk&lt;br /&gt;    &gt; hati yang paling dalam saya nyatakan, niat saya adalah niat baik&lt;br /&gt;    &gt; agar Bali dapat tegak kembali membangun jati dirinya. Dengan&lt;br /&gt;    &gt; demikian bhineka tunggal ika tetap dapat kita nikmati.&lt;br /&gt;    &gt; -------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Gendam: tidak ada yg sangat saya hormati dr mereka. meski isapan jempol&lt;br /&gt;    &gt; usaha anda tetap saya hargai.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; --------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Sodara Gendam, terus terang semestinya saya tersinggung ketika saya&lt;br /&gt;    &gt; tidak dipercaya, tapi karena saya tahu anda masih muda, jadi tidak&lt;br /&gt;    &gt; apa-apa. Dan untuk masalah ini, maka terpaksa saya membongkar&lt;br /&gt;    &gt; beberapa bau busuk di majelis agama anda.&lt;br /&gt;    &gt; -----------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Gendam: saya mencari pengetahuan. usia tua tidak membuat seseorang lebih&lt;br /&gt;    &gt; bijaksana&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Saya tidak akan menggunakan istilah intelejen lagi, karena terkesan&lt;br /&gt;    &gt; seperti tentara atau polisi, baiklah saya akan gunakan istilah&lt;br /&gt;    &gt; analisis yang dilihat dari berbagai media masa dan wawancara,&lt;br /&gt;    &gt; terkait dengan masalah lintas agama. Informasi yang dihimpun cukup&lt;br /&gt;    &gt; lengkap, kalau di kami agama islam, ada masalah ormas-ormas yang&lt;br /&gt;    &gt; bernafaskan agama yang didanai oleh prabowo jaman jatuhnya suharto&lt;br /&gt;    &gt; dulu, lalu sekarang berlanjut tak bisa dikendalikan, pesantren&lt;br /&gt;    &gt; salafiah dan madrasah dan lain-lain.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Nah di Hindu saya mendapatkan hasil-hasil analisis sebagai berikut :&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 1. Parisada Hindu saat ini dipimpin oleh Dharmadyaksa (Ketua&lt;br /&gt;    &gt; Kiai/Pemimpin Umat) yang tidak memiliki akar yang kuat di&lt;br /&gt;    &gt; masyarakat. Ada kenyataan bahwa beliau tidak diterima di banyak&lt;br /&gt;    &gt; tempat di Bali bahkan di jawa ditolak.&lt;br /&gt;    &gt; -------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Gendam: beliau tidak diterima di banyak tempat? Tolong sebutkan dimana itu&lt;br /&gt;    &gt; (yg anda bilang banyak). Ditolak di Jawa dimana saja? Tunjukkan bukti2&lt;br /&gt;    &gt; penolakannya.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; --------------&lt;br /&gt;    &gt; 2. Laporan analisis media dan observasi melalui wawancara mengatakan&lt;br /&gt;    &gt; bahwa dari beberapa propinsi, sebagai DharmaAdyaksa (Pedanda&lt;br /&gt;    &gt; Sebali), cenderung melaksanakan upacara - upacara agnihotra dan&lt;br /&gt;    &gt; sangat condong ke sampradaya terutama Hare Krisna yang kalau di&lt;br /&gt;    &gt; amerika mengaku bukan Hindu.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; --------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: media mana? wawancara dgn siapa? Agni hotra adl. sembahyang dgn&lt;br /&gt;    &gt; api/agni sbg media (api simbolis saksi). ini memang jauh lebih simple jika&lt;br /&gt;    &gt; dibandingkan dgn bentuk2 upacara di bali, yg sarat dgn kemegahan.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; aghni hotra mulai banyak dilirik krn umat hindu, khususnya di luar bali&lt;br /&gt;    &gt; mencoba menyeimbangkan nilai2 dlm kerangka ajaran Hindu: tatwa, etika dan&lt;br /&gt;    &gt; upacara.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Sampradaya adl. aliran/mahzab dlm Hindu, hare Krisna salah satunya. Hare&lt;br /&gt;    &gt; Krisna intinya memuja personifikasi dr Awatara (wisnu). Mereka sangat&lt;br /&gt;    &gt; menggemari BhagawadGita, kidung dewata dimana dipercaya sbgian umat Hindu&lt;br /&gt;    &gt; sbg Pancama Weda (weda kelima). Dan menganggap Bhagawad Gita sbg sari2&lt;br /&gt;    &gt; keutamaan weda.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Hare Krisna di amerika mengaku bukan Hindu? Drmana sumber anda?&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Saya menganggap aneh jika demikian, krn jelas mereka mengakui otoritas&lt;br /&gt;    &gt; Weda..lalu apanya yg bukan Hindu? Dan dr mana mereka mendapat istilah&lt;br /&gt;    &gt; Krisna/wisnu dsbnya jika bukan dr Hindu?&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 3. Bahkan sekretaris sabha pandita di pimpin oleh Hare Krisna, yang&lt;br /&gt;    &gt; ditolak di sebagian parisada propinsi di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;    &gt; Tercermin pada rapat nasional di lombok.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ----------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: ada masalah apa anda dgn hare krisna? ditolak sebagian parisada&lt;br /&gt;    &gt; propinsi di seluruh Indonesia? tolong sebutkan parisada propinsi mana saja&lt;br /&gt;    &gt; yg menolak? dan berikan data/bukti2nya.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; -------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 4. Kenapa 33 Anggota Sabha Pandita itu dianalisis tidak memiliki&lt;br /&gt;    &gt; umat, karena pada kenyataannya, setiap fatwa / bhisama yang&lt;br /&gt;    &gt; dikeluarkan ternyata boleh dikatakan sebagian besar bahkan tidak ada&lt;br /&gt;    &gt; satupun yang jalan/dipahami oleh umat hindu terutama di Bali.&lt;br /&gt;    &gt; -----------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: anda meng-klaim berdasarkan analisa. sebutkan siapa yg melakukan&lt;br /&gt;    &gt; analisa?siapa obyek analisanya? dan tunjukkan bukti2 bahwa semua fatwa tidak&lt;br /&gt;    &gt; dipahami?&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 5. Saat ini Parisada pusatnya dikendalikan oleh orang-orang yang&lt;br /&gt;    &gt; tidak terlalu jelas komitmennya dalam memajukan budaya/agama Hindu.&lt;br /&gt;    &gt; Kebanyakan mantan-mantan pejabat, yang sebenarnya tidak terlalu&lt;br /&gt;    &gt; dikenal di akar rumput. Ada juga orang-orang yang memiliki&lt;br /&gt;    &gt; kepentingan politik berusaha menggesek-gesekkan masyarakat melalui&lt;br /&gt;    &gt; terminologi kasta untuk mendapatkan kedudukan politik. Terbukti Sdr.&lt;br /&gt;    &gt; Sudirta yang dulu sangat aktif di Parisada, setelah mendapatkan&lt;br /&gt;    &gt; kedudukan politik di DPD ternyata saat ini membiarkan Bali terbelah&lt;br /&gt;    &gt; menjadi dua parisada.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 7. Kenapa sampai Sabha Pandita (Kalau di islam - kumpulan kiai)&lt;br /&gt;    &gt; terpilih yang tidak memiliki umat. Itu karena pada saat musyawarah&lt;br /&gt;    &gt; nasional atau mahahasabha - undangan tidak disebarkan untuk para&lt;br /&gt;    &gt; kiai-kiai / pedanda-pedanda yang memang memiliki akar rumput.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 8. Ada kelompok yang sangat aktif bermain pada saat itu. Nama-nama&lt;br /&gt;    &gt; seperti Titib, Wiana, Sudirta adalah cenderung mematangkan situasi&lt;br /&gt;    &gt; sehingga terpilih anggota sabha pandita yang kurang berkualitas dan&lt;br /&gt;    &gt; tidak memiliki akar rumput, dengan menyingkirkan peran para pedanda&lt;br /&gt;    &gt; yang memiliki legitimasi di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 9. Kelompok ini memiliki kemampuan yang tinggi dalam membikin wacana&lt;br /&gt;    &gt; di surat-surat kabar sehingga dapat mempengaruhi pandangan-pandangan&lt;br /&gt;    &gt; pembaca terutama Balipost. Tetapi pada akar rumput seperti banjar-&lt;br /&gt;    &gt; banjar adat, mereka tidak memiliki peran. Dan kecenderungan orang-&lt;br /&gt;    &gt; orang ini seperti titib, mereka jadi sengit bukan karena idiologi,&lt;br /&gt;    &gt; melainkan karena kepentingan sesaat karena dulu pernah konflik&lt;br /&gt;    &gt; dengan gubernur bali seperti Ida Bagus Mantera. Perlu diketahui&lt;br /&gt;    &gt; bahwa Titib adalah orang politik dari golkar.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 10. Melalui keahliannya dalam membangun wacana di surat kabar,&lt;br /&gt;    &gt; dengan menulis ke surat pembaca menggunakan nama dengan ktp orang&lt;br /&gt;    &gt; lain, lalu menjawabnya sendiri, ini merupakan tanda-tanda&lt;br /&gt;    &gt; kepentingan politik lebih berat di banding dengan kepentingan agama.&lt;br /&gt;    &gt; ----------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: no.5-9 ini saya no comment terlalu personal.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ----------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 11. Menurut laporan terakhir, salah satu ketua di Parisada saat ini&lt;br /&gt;    &gt; sangat aktif dan nyata-nyata sebagai kader sampradaya Hare Krisna.&lt;br /&gt;    &gt; ---------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam : asal anda tahu. Bahkan PHDI pun adl. sebuah aliran (sampradaya).&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ------------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 12. Kelompok-kelompok politik yang dikomandoi oleh sudirta, sangat&lt;br /&gt;    &gt; tahu karakter orang bali yang kebanyakan malas untuk berdebat.&lt;br /&gt;    &gt; Sehingga menggunakan rombongan pemudanya untuk memaksakan kehendak&lt;br /&gt;    &gt; seolah-olah untuk mendemokritasi majelis&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 13. Menurut analisis, kelompok-kelompok ini muncul hanya saat ada&lt;br /&gt;    &gt; kepentingan, tetapi dalam melaksanakan kegiatan keagamaan sehari-&lt;br /&gt;    &gt; hari mereka ternyata tidak memiliki kemampuan dan bekerja dengan&lt;br /&gt;    &gt; baik.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 14. Tadinya kelompok-kelompok di atas sangat diharapkan untuk&lt;br /&gt;    &gt; membawa perubahan kearah yang lebih baik. Tetapi saat ini masyarakat&lt;br /&gt;    &gt; Bali menjadi tersadar akan tindak-tanduk mereka, karena itulah ada&lt;br /&gt;    &gt; organisasi dharmaupdesa yang merupakan kelompok para brahmana yang&lt;br /&gt;    &gt; orang-orangnya mungkin banyak di Parisada yang dibentuk di Ubud.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ---------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: FYI organisasi yg anda sebut itu juga ditengarai mencoba&lt;br /&gt;    &gt; membangkitkan dominasi triwangsa dlm PHDI.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ----------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 15. Menurut laporan terakhir, oleh panitia mahasabha yang baru,&lt;br /&gt;    &gt; mungkin karena yang jadi ketua adalah jenderal - Pedanda Gunung&lt;br /&gt;    &gt; memang dilibatkan. Seluruh pedanda di Bali yang memiliki akar rumput&lt;br /&gt;    &gt; memang mengacu pada pendapat Ida Pedanda Gunung.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 16. Pada kenyataannya, usaha-usaha untuk mendamaikan perpecahan oleh&lt;br /&gt;    &gt; parisada pusat, hanyalah lip service saja, tanpa disertai dengan&lt;br /&gt;    &gt; usaha yang sungguh-sungguh. Seperti juga laporan mengenai kemajuan&lt;br /&gt;    &gt; untuk menggali kembali asset-asset majelis yang dikuasai oleh orang-&lt;br /&gt;    &gt; orang tertentu.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 17. Kelemahan besar pada kiai/pedanda/pinandata wangsa brahmana,&lt;br /&gt;    &gt; menurut hasil observasi yang dilakukan pada tingkat akar rumput&lt;br /&gt;    &gt; adalah kemampuan mereka dalam (1) memberikan penyegaran rohani&lt;br /&gt;    &gt; kepada umatnya. (2) memperdalam filosofi upacara agar bisa&lt;br /&gt;    &gt; diadaptasi ke situasi dan kondisi saat ini (3) memperbanyak&lt;br /&gt;    &gt; komunikasi terutama generasi muda. Karena itulah banyak sekali&lt;br /&gt;    &gt; pinandita-pinandita sudra yang setelah usia pensiun baca-baca buku&lt;br /&gt;    &gt; setensilan lalu diangkat atau mengangkatkan diri jadi pinandita.&lt;br /&gt;    &gt; Sekarang pinandita di bali bagai jamur di musim hujan.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; 18. Sangat mudah sekali untuk menggali informasi di kantor pusat&lt;br /&gt;    &gt; parisada, karena pada kenyataannya sangat banyak kepentingan di&lt;br /&gt;    &gt; sana, dan administrasinya diawasi oleh orang yang kompeten.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Laporan-laporan ini memang pahit, tetapi walau saya tidak punya&lt;br /&gt;    &gt; kepentingan dengan organisasi ini, saya merasa sayang, kalau Bali&lt;br /&gt;    &gt; tak mampu bangkit kembali dari keterpurukan. Mbah marijan yang saya&lt;br /&gt;    &gt; temui secara pribadi, ketika saya minta untuk mengajar saya untuk&lt;br /&gt;    &gt; belajar makrifat membangun rasa, beliau menyarankan untuk pergi ke&lt;br /&gt;    &gt; Bali belajar sisa-sisa ilmu kejawen yang 'dilarikan' kesana.&lt;br /&gt;    &gt; ---------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: anda sangat salah jika ingin belajar kejawen dgn pergi ke bali. di&lt;br /&gt;    &gt; bali anda cuma akan mjd turis. jika anda ingin belajar "balian" benar anda&lt;br /&gt;    &gt; ke bali. jika tidak, tidak ada bedanya anda dgn wisman2/wisnus2 itu. belajar&lt;br /&gt;    &gt; kejawen ya di jawa bosJ&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; -------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Tapi ketika saya kesana, bertemu dengan teman-teman dari Hindu, saya&lt;br /&gt;    &gt; menjadi prihatin. Untuk itu, ada kutipan hadits yang cocok untuk&lt;br /&gt;    &gt; keadaan ini, kumpulkanlah ilmu karena ilmu yang akan menjagamu, tapi&lt;br /&gt;    &gt; kalau kau berkehendak untuk mengumpulkan harta, maka ada saatnya&lt;br /&gt;    &gt; engkau akan sibuk menjaga harta itu.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Sodara Gendam,&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Sekali lagi, kalau ini dianggap fitnah ... boleh-boleh saja ...&lt;br /&gt;    &gt; kalau anda bilang ini suatu isapan jempol belaka ... silahkan&lt;br /&gt;    &gt; silahkan saja ... tapi begitulah keadaan agama anda ... ibarat udang&lt;br /&gt;    &gt; yang membawa tahi di "kepala" nya.&lt;br /&gt;    &gt; -------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: saya baru akan mengambil kesimpulan atas semua tulisan anda,&lt;br /&gt;    &gt; setelah anda menjawab semua pertanyaan2 saya diatas dan menunjukkan&lt;br /&gt;    &gt; bukti/data2. anda mengibaratkan agama saya sbg udang? saya maklum krn anda&lt;br /&gt;    &gt; sama sekali tidak mengenal Hindu. anda mungkin tahu sedikit ttg kejawen, yg&lt;br /&gt;    &gt; anda igaukan sbg Hindu. tetapi Hindu bukanlah jawa, bukan bali, bukan hanya&lt;br /&gt;    &gt; India. Hindu adl. jalan hidup. kata Gandhi, setiap orang memiliki agamanya&lt;br /&gt;    &gt; masing2 yg berbeda satu dgn lainnya. tugas kita adl. menghargai perbedaan2&lt;br /&gt;    &gt; itu.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; -------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Aura bali sudah runtuh, pagar spiritual yang dibangun oleh leluhur&lt;br /&gt;    &gt; tanah bali sudah terbuka ... bom pun dengan gampang menyeruak.&lt;br /&gt;    &gt; Pemulung-pemulung masuk perlahan-lahan.... sebentar lagi ... bali&lt;br /&gt;    &gt; bukan lagi pulau seribu pura ... tetapi menjadi pura seribu&lt;br /&gt;    &gt; masjid....&lt;br /&gt;    &gt; Dan sayapun tak mau bali jadi pulau seribu masjid ... karena itu&lt;br /&gt;    &gt; akan merusak kebhinekaan.&lt;br /&gt;    &gt; ------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: anda tidak tahu apa2 ttg bali. bali sudah amburadul jauh sebelum&lt;br /&gt;    &gt; bom meletus, sebelum pemulung+penjaja seks jawa masuk atau masjid2 tumbuh&lt;br /&gt;    &gt; subur di pesisirnya dan kaum misionaris memekai topeng sang hyang yesus.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; anda tahu ttg penjualan budak pertengahan abad ke-17? perang antar&lt;br /&gt;    &gt; kerajaan? konflik kasta?kelaparan pd abad ke-19 s/d awal 20? perdagangan&lt;br /&gt;    &gt; candu abad ke-20? atau pembantaian tanpa pengadilan 80.000-an tertuduh&lt;br /&gt;    &gt; komunis di bali tahun 65??&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; jika yg anda bayangkan adl. bali sbg citra yg homogen dgn&lt;br /&gt;    &gt; ke-Hindu-annya?turistiknya?kesantunannya? anda tidak berbeda dgn wisatawan&lt;br /&gt;    &gt; mancanegara yg dtg ke bali setelah membaca tulisan Covarubias, korban&lt;br /&gt;    &gt; propaganda belanda.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ---------&lt;br /&gt;    &gt; Sekali lagi ... ini hanya isapan jempol belaka ... mudah-mudah jadi&lt;br /&gt;    &gt; pencerahan bagi generasi muda Hindu Bali yang saat ini masih merem-&lt;br /&gt;    &gt; merem saja terhadap perkembangan agama dan budayanya.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; Merem melek menikmati pembusukan yang ada di Majelis agamanya.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ------&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; gendam: sama seperti anda, saya jg menganggap tulisan anda sbg isapan&lt;br /&gt;    &gt; jempol semata.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; FYI dlm Hindu, kami menghargai PHDI sbg lembaga payung umat yg&lt;br /&gt;    &gt; mengeluarkan bhisama (fatwa). Tp tidak ada keharusan kami utk menerimanya.&lt;br /&gt;    &gt; karena agama kami berbeda dgn yg lain. kami bisa hidup tanpa PHDI ataupun&lt;br /&gt;    &gt; mahareshi2 krn kami tidak mengenal juru selamat, wakil tuhan di dunia atau&lt;br /&gt;    &gt; sebagainya. kami menjalani hidup sbg karma. Menjalankan swadharma kami&lt;br /&gt;    &gt; masing2. keyakinan kami: no 1-5 adalah Panca Sradha.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; saya berterima kasih atas perhatian anda yg besar kpd perkembangan budaya&lt;br /&gt;    &gt; dan agama Hindu khususnya bali. tetapi disisi lain saya berpendapat anda&lt;br /&gt;    &gt; masuk terlalu jauh dgn menyebut nama2 personal dlm kepengurusan PHDI sbg tdk&lt;br /&gt;    &gt; becus. PHDI di bali memang ada 2, tp tidak membuat satu dan lainnya saling&lt;br /&gt;    &gt; menghujat dan menghakimi. Jika bisa bersatu alangkah baiknya, jika tidak,&lt;br /&gt;    &gt; tidak apa-apa. Kami menghargai perbedaan, satu guru satu ilmu jangan&lt;br /&gt;    &gt; ganggu..gitu istilahnya.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; saya sarankan anda mulai melihat ke dalam majelis agama anda sendiri.&lt;br /&gt;    &gt; dapatkah majelis anda menerima nilai2 pluralisme? sbgmana tagline "Bhineka&lt;br /&gt;    &gt; tunggal ika" yg anda kagumi. Ada kata2 bijak: klo ingin melakukan perubahan&lt;br /&gt;    &gt; lakukan dr diri sendiri, dan lingkungan sebelum meminta orang lain&lt;br /&gt;    &gt; melakukannya utk kita. Santih.&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; ------------------&lt;br /&gt;    &gt; Salam&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; --- In apakabar@yahoogroups.com, gendam &lt;gendam@...&gt; wrote:&lt;br /&gt;    &gt; &gt;&lt;br /&gt;    &gt; &gt; dear jero martani,&lt;br /&gt;    &gt; &gt; dari mana anda dapat data ini: Parisada (kalau kita-MUI), di Bali&lt;br /&gt;    &gt; terpecah&lt;br /&gt;    &gt;&lt;br /&gt;    &gt; &gt; dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah&lt;br /&gt;    &gt; disusupi&lt;br /&gt;    &gt; &gt; oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan&lt;br /&gt;    &gt; elit&lt;br /&gt;    &gt; &gt; politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.&lt;br /&gt;    &gt; &gt; ==&gt; intelejen apa?jangan ngarang cerita dong..yg saya tahu mereka&lt;br /&gt;    &gt; lg coba&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3333373969669282499?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3333373969669282499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3333373969669282499' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3333373969669282499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3333373969669282499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/debat-kusir-jangan-terjadi-lagi.html' title='Debat kusir, jangan terjadi lagi ...'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-7246532364372323923</id><published>2007-11-18T13:41:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:42:28.402-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>A r w a h – ada tapi tiada, tak ada tapi dapat dirasa</title><content type='html'>A r w a h – ada tapi tiada, tak ada tapi dapat dirasa magnify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Awignamastu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Duk tan hana paran paran anrawang anruwung. Ketika alam semesta jagad raya ini belum diciptakan, keadaan jagat raya tidak menentu. Demikianlah sebuah kalimat yang tertuang di dalam  lontar buana kosa, buku sastra nusantara, tentang penciptaan dunia.  Lalu sang kuasa mengheningkan cipta, membangun tapa. Setelah membangun tapa, beliau menyusun ”rta” atau hukum-hukum alam semesta, setelah menyusun rta beliau menetapkan swadharma, setelah itu baru triloka – alam bhur atau jasmani, alam bwah atau alam ruh, swah atau alam illahi - ini diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bicara tentang proses penciptaan jagad raya, diumpamakan sebagai sekumpulan tuna netra yang hendak memahami seekor gajah. Bagi yang kebetulan meraba ekornya, dikatakan gajah itu laksana tali. Yang kebagian kakinya, menganggap gajah laksana pohon. Dan yang meraba daun telinganya, mungkin menganggap gajah itu seperti kipas. Tapi ada persamaan di antara semua catatan tentang penciptaan dunia yang ditulis oleh para bijak. Persamaannya adalah, dunia diciptakan melalui suatu proses, ada upaya sistematis, dan tidak serta merta ada. Dalam tulisan ini, saya tidak ingin memulai diskusi tentang penciptaan dunia terkait dengan masalah keagamaan. Tetapi hanya ingin membuat kajian pribadi, terhadap apa yang tertulis di kitab kuno nusantara, dengan ilmu-ilmu modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Proyek adalah suatu usaha temporer yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu – a temporary endeavor undertaken to accomplish unique purpose. Proyek terjadi biasanya disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : (1) karena adanya masalah, (2) karena adanya peluang atau karena (3) adanya arahan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Contoh, pembangunan sistem inventory berbasis komputer, diinisiasi mungkin karena adanya permasalahan yang berlarut-larut dalam penanganan persediaan. Atau account receivable di perusahaan pengelola mall, diinisiasi karena adanya permasalahan dalam penagihan sewa ruang oleh tenant, pencatatan pemakaian listrik, air dan gas, atau mungkin adanya permasalahan pembayaran sewa, akibat perubahan nilai tukar yang sangat tajam ketika krisis moneter di awal reformasi. Artinya, sebuah proyek pembangunan sistem, diinisiasi karena adanya permasalahan atau “kekacauan” yang harus diselesaikan – duk tan hana paran-paran anrawang-anruwung, bisa kita interpretasikan, ketika sistem belum dibangun, kekacauan atau keadaan tidak menentu yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu dikatakan oleh buana kosa, Sang Pencipta membangun tapa dengan mengheningkan cipta, mengosongkan pikiran, menyatukan cipta, rasa dan karsa. Kosong atau hampa bisa menjadi kekuatan yang sangat hebat. Ruang hampa, dapat menyedot benda-benda alam sekitar ke dalam dirinya. Kemampuan mengosongkan pikiran, sehingga mampu mendengar, menyerap dan mengerti harapan dan keinginan stakeholder, adalah kewajiban seorang system analyst. Perilaku ”hening” yang mampu menyerap informasi selengkap-lengkapnya dari seluruh stakeholder sistem, sangat diperlukan pada tahap requirement analyis – analisis kebutuhan. Kemampuan ”mendengar” dan ”membaca” adalah hal penting yang harus dimiliki oleh seorang system analyst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bersamaan dengan menyatukan cipta, rasa dan karsa, Sang Pencipta, membangun tapa. Tapa bukan diartikan pergi ke tempat sepi, atau seperti di sinetron laga, pergi ke hutan belantara. Tapa pada hakikatnya adalah kegiatan perenungan, konsentrasi, menyusun rancangan untuk mencapai meraih tujuan tertentu. Setelah memahami need dan expectation dari stakeholder kunci, seorang system analyst mulai menyusun rancangan global untuk solusi yang dikehendaki. Dari daftar kebutuhan dan harapan, disusun lingkup proyek, langkah-langkah untuk mencapai lingkup tersebut beserta perkiraan waktu yang dibutuhkan, dan terakhir sumber daya apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap langkah yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sistem perangkat lunak komputer, laksana arwah. Dia ada, tetapi tak dapat diraba secara fisik. Tanpa bentuk, tapi dia menggerakkan sesuatu dan dirasakan keberadaannya. Sebagai sang pencipta sistem, seorang system analyst, harus mampu membuat yang tak nyata menjadi nyata. Dalam ber”tapa” Sang Pencipta memikirkan tentang EFEKTIFITAS atau hal-hal apa yang ada dalam proses yang harus disediakan secara tepat waktu, benar, konsisten dan disajikan secara pantas. Lalu dipertimbangkan pula EFISIENSI sistem, KEAMANAN atmosfir bumi terhadap ”serangan” dari meteor-meteor ruang angkasa. INTEGRITAS yang terkait dengan akurasi dan kelengkapan informasi, KETERSEDIAAN, kepantasan dan KESESUAIAN serta KEANDALAN dari output yang dihasilkan dari subsistem penunjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan mengacu pada kerangka efektifitas, efisiensi, keamanan, integritas, kelengkapan, ketersediaan, kesesuaian dan keandalan maka kegiatan tapa akan menghasilkan rancangan global dari sistem ”arwah” sistem perangkat lunak yang dikehendaki. Di ilmu-ilmu system engineering, kegiatan ’tapa’ ini menghasilkan data flow diagram, entitity relationship diagram, use-case diagram, network topology dan lain-lain. Pada saat tapa ini juga ditetapkan methodology penciptaan, apakah meniru air terjun (waterfall model) atau perbaikan berkesinambungan laksana spiral (spiral model).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam tapa, sang pencipta harus sudah menyusun ”rta” atau hukum-hukum dari pada sistem. Kalau pada system account receivable atau pengelolaan piutang untuk sebuah super mall – dimulai dari data kontrak sewa dari tenant, lalu dibuat invoice oleh bagian tagihan. Tagihan untuk ratusan tenant itu dipisahkan per lantai, dan diserahkan pada bagian collection, lalu staff collection mendistribusi tagihan bulan ini yang terdiri dari sewa ruang, listrik, air dan gas kepada tenant. Lalu tenant datang ke bagian kasir untuk membayar tagihan, lalu dari kasir sistem langsung connect ke bagian pencetakan kuitansi dan faktur pajak, lalu semuanya itu dicatat dan masuk ke sistem general ledger. Kalau ada selisih atau penyesuaian pembayaran, ada prosedur Credit Memo atau Adjusment.  Semua ini harus disusun menjadi aturan yang tertulis yang biasa disebut Standard Operating Procedure. SOP inilah yang menjadi aturan, hukum  atau ”rta” dari suatu sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk melaksanakan SOP yang ditetapkan, tentu disusun struktur organisasi terkait dengan kompentensi yang dibutuhkan. Lalu disusun job description untuk masing-masing pekerjaan. Kalau di kitab kuno disebutkan, ada batara agni penguasa api, bayu penguasa angin, kuwera untuk kesejahteraan atau Indra sebagai dewa hujan. Semuanya memiliki swadharma - tugas dan kewenangan – sendiri-sendiri. Pembangunan SOP ini, dalam system engineering sudah termasuk ke dalam detail design. Selain SOP untuk application system, dalam detail design ini juga harus diperhatikan rancangan rinci basis data yang akan dibangun - field yang akan dicatat, field membentuk record, record menjadi file dan didefinisikan relationship antar file sehingga terbangun suatu basis data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Orang yang akan mengoperasikan sistem juga perlu diperhatikan. Siapa yang akan menjadi system administrator, system analyst untuk memelihara sistem, siapa yang berperan sebagai programmer dan user pemakia sistem. Lalu teknologi yang akan menunjang sistem juga perlu diperhatikan. Apakah sistem akan dibuat berbasis internet, client server atau hanya standalone saja. Tak dilupakan juga infrastruktur penunjang, seperti data center, fasilitas internet atau intranetnya, application server, data server atau internet service provider yang memenuhi syarat untuk dijalankannya system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jadi kelima hal yakni fasilitas,  teknologi, data, application dan orang, perlu diperhatikan dalam menyusun suatu perencanaan detail. Seluruh catatan-catatan tersebut harus tertuang di dalam IT Strategic Plan, Information Architecture, Technology Direction, sampai dengan IT Project Management Plan. Inilah kegiatan penciptaan pertama, yakni “mental creation” – menciptakan sesuatu secara mental – menulis apa yang akan dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu berikutnya, sang pencipta mulai menciptakan sistem jagad raya, mengacu pada hasil “mental creation” - tahap hening, tapa, susun “rta” – hukum-hukum, lalu penetapan swadharma. Kalau dianalogikan dengan system engineering, maka sang pencipta sistem, sudah melewati tahap requirement analysis, global design dan detail design. Tapi jangan lupa, ada methodologi implementasi yang berbeda. Apakah mengejar kesempurnaan dalam tiap tahap seperti waterfall model, atau memilih spiral model seperti microsoft solution framework, dimana mengacu pada prinsip - build while planning, plan while building.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hasil mental creation dijadikan panduan dalam menyusun perencanaan dan pengorganisasian, serta eksekusi rencana proyek. Berbagai sumber daya yang diperlukan untuk membangun dipersiapkan dan diadakan untuk implementasi rencana. Ketika eksekusi dilaksanakan maka perlahan-perlahan berbagai produk proyek mulai dihasilkan. Produk barang atau jasa itu diberikan support untuk dapat berfungsi sesuai dengan tugasnya. Segala apa yang diciptakan itu perlu di monitor apakah keberadaan serta manfaatnya sudah sesuai dengan apa yang direncanakan. Parameter-parameter efektifitas, efisiensi, keamanan, integritas, ketersediaan, kesesuaian, keandalan dari informasi perlu diukur dengan seksama pada saat kegiatan monitoring tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan kelengkapan dari data, sistem aplikasi, teknologi, fasilitas pendukung dan orang-orang yang terlibat dalam operasional sistem sudah harus siap pada saat masuk ke dalam fase operasional dari pada sistem itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rekan-rekan pengguna mailing list,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cerita-cerita jaman dulu ternyata mengandung mutiara-mutiara yang dapat kita resapi dan dapat membantu kita dalam melaksanakan tugas dalam profesi kita. Tahapan : duk tan hana paran-paran, hening, membangun tapa, menyusun rta dan menetapkan swadharma – secara filosofis sangat mirip dengan langkah-langkah yang tertuang dalam buku Software Engineering – A Practitioner’s Approach yang dikarang  oleh Roger S. Pressman ataupun yang tersusun dalam panduan Cobit yang disusun oleh IT Governance Institute. Walaupun kelemahannya adalah, kitab buana kosa yang merupakan kekayaan budaya timur, tidak menguraikan secara rinci tahapan-tahapan yang ada, seperti yang tersusun dalam buku Software Engineering yang merupakan produk budaya barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Alangkah indahnya kalau kita mampu, mengisi ilmu barat yang sistematis dengan ruh budaya timur. Dan melengkapi produk filosofis budaya timur, dengan sistematika untuk mencapai tujuan yang diciptakan oleh budaya barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kalau perpaduan ini tercipta ... alangkah bahagia warga tanah Nusantara ... mampu memadukan secara harmonis kemampuan intelektual, kekayaan emosi dan kedalaman spiritual – in harmonia progressio – art, science and technology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jayalah Indonesia, bangun kembali jati diri tanah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-7246532364372323923?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/7246532364372323923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=7246532364372323923' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7246532364372323923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/7246532364372323923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/r-w-h-ada-tapi-tiada-tak-ada-tapi-dapat.html' title='A r w a h – ada tapi tiada, tak ada tapi dapat dirasa'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3162799276393673946</id><published>2007-11-18T13:39:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:40:17.705-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>AL FAATIHAH</title><content type='html'>AL FAATIHAH magnify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada suatu waktu, saya diminta oleh seorang sahabat untuk berbicara di depan puluhan kiai pengasuh pondok pesantren. Topiknya cukup berat, mengenai penyusunan rencana strategi pengembangan pondok pesantren yang mereka asuh. Kalau bicara dengan terminologi dan orang-orang yang berlatar belakang bisnis, saya sudah punya jam terbang yang cukup tinggi. Tetapi bagaimana memperkenalkan istilah strategic management seperti return on investment, customer perspektif, internal process dan learning and growth perspective pada mereka ? Ini benar-benar menggetarkan hati saya. Saya takut mengecewakan para kyai yang sangat saya hormati. Dalam hati saya menggerutu, bodohnya saya menerima tawaran seperti ini ? Saya tercenung di pesawat yang membawa diri saya, menjauhi Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ===&lt;br /&gt;    === AL FAATIHAH&lt;br /&gt;    === Refleksi seorang guru&lt;br /&gt;    ===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tambah terpuruk dan jatuh mental saya, menyaksikan para kyai sangat bersemangat mengikuti workshop, sampai hampir tengah malam, mencatat dengan tekun, apa yang disampaikan pembicara, kebanyakan hanya mengenakan sarung. Matilah saya ! Kali ini, saya menghadapi audiens yang sangat berbeda. Saya mendapatkan giliran jadi fasilitator, mulai esok pagi hari. Dan sampai jam 10 malam, saya belum menemukan rangkaian kata pembuka agar topik strategic management mudah diserap oleh para kiai, yang berlatar belakang agama dan budaya. Tibalah saatnya coffee break, saya ada kesempatan ngobrol dengan Kyai Abdul Azis Asyhuri, salah seorang pengasuh pondok pesantren salafiah dari Magelang. Entah bagaimana, beliau berkata, kalau mengawali suatu pekerjaan ingatlah selalu Surat Al-Faatihah. Lalu cerita dilanjutkan ngalor ngidul sambil ketawa-ketawa, lalu pulang ke hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gelisah masih terasa, bagaimana bicara untuk besok hari. Lalu saya berusaha menenangkan diri, berdoa semoga ada berkah dari Gusti Allah agar saya tidak mengecewakan dan mampu membagi pengetahuan walau sedikit. Saya akan merasa berdosa, kalau para Kiai yang telah datang dari seluruh pelosok tanah Jawa, tidak mendapatkan manfaat apapun dari saya. Kasur empuk, shower hangat, ruangan harum hotel bintang lima, tak mampu mengusir ke gundahan hati. Hampir tengah malam, dalam hening – eureka ...saya teringat kata-kata Kyai Ashuri, Al-Faatihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bismillahirrahmaanirrahiim – dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. &gt;&gt;&gt; Saya datang jauh-jauh ke jantung tanah Jawa,  tanpa memikirkan honor yang akan saya terima, meninggalkan pekerjaan dan keluarga, semata-mata bertujuan dan berkeinginan kuat agar ada yang saya beri untuk para Kiai yang saya hormati, dan semoga dapat lebih memuliakan Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Alhamdullilahi rabbil’aalamin – segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. &gt;&gt;&gt; Segala resiko saya akan jalani, karena rasa syukur, telah diberi limpahan karunia ilmu, yang dapat membantu orang lain. Walau hari ini saya berstatus sebagai fasilitator manajemen strategis, tetapi saya yakin dan bertekad, untuk menggali juga ilmu para Kyai yang luas bagai samudera tak bertepi, di bidang agama dan budaya. Saya berkeyakinan, ilmulah yang perlu kita kumpulkan. Jika kita hanya berfikir mengumpulkan harta, maka kitalah yang sibuk menjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Arrahmaanirrahim. Maha pemurah lagi Maha Penyayang. &gt;&gt;&gt; Saya memiliki keyakinan bahwa ilmu manajemen strategis tercipta tidak hanya untuk satu golongan saja. Sang Kuasa bersifat murah hati, baik untuk orang yang percaya, bahkan tetap kasih terhadap orang yang ingkar denganNya. Saya yakin, ilmu manajemen strategis ini, juga bisa untuk umat beliau di Tanah Jawa, bukan hanya untuk orang Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maaliki yaumiddiin – dialah menguasai hari pembalasan. &gt;&gt;&gt; Saat ini saya menyerahkan semuanya kepada Gusti Allah, yang menguasai hari akhir. Saya sudah berusaha menyiapkan segala presentasi materi, menyiapkan perangkat lunak sederhana untuk dipergunakan di pesantren, dan buku panduan pemakaian untuk mereka. Saya telah berbuat yang terbaik, yang bisa saya lakukan. Akan tetapi, segala hasil akhirnya, saya serahkan kepada Hyang Widhi sebagai penguasa hari akhir. Kawula hanya bisa berusaha, bagaimana hasilnya, adalah hak penuh dari Sang Dalang Kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin – hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. &gt;&gt;&gt; Sampai lewat tengah malam, hanya doa ini yang saya panjatkan. Tiada yang bisa menolong saya lagi untuk esok hari, kecuali kuasa dari Hyang Manon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ihdinashshiraathal mustaqiim, shiraathalladziina an’amta’alaihim – Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka. &gt;&gt;&gt; Saya mengintepretasikan bait ini sebagai doa agar saya diberi petunjuk, methodologi apa yang tepat digunakan untuk menyusun rencana strategis, agar mampu diserap oleh audiens yang sepuh, banyak bergelut dengan kitab kuning dan hampir seluruhnya berasal dari Jawa Tengah dan sekitarnya. Tengah malam saya berdoa, semoga Gusti Allah memberikan saya petunjuk, methodology yang terbukti berhasil, mengangkat kembali organisasi yang ”terpuruk” menjadi bangkit dan bersemangat kembali. Tuhan ”menjawab” dengan mencerahkan saya bagaimana menterjemahkan Balanced Scorecard ke dalam terminologi jawa kuno, dan bagaimana menyusun peta strategi mengacu pada tembang gambuh.  Methodologi Balanced Scorecard, di tanah asalnya Amerika sana, mampu melipat gandakan kekayaan suatu perusahaan dalam waktu singkat, karena mampu dalam pengukuran kinerja dan menyebabkan organisasi berfokus pada strategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ghairil maghdhuubi’alaihim waladhdhaalliin – Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. &gt;&gt;&gt; Methodologi Balanced Scorecard menekankan pada keseimbangan. Bukan hanya berfokus pada harta dunia (tangible asset) – finance perspective, akan tetapi methoda ini, sangat menekankan pada (intangible asset) seperti customer satisfaction - santri dan peran serta masyarakat, internal proses perspektif – pembelajaran, suasana belajar, manajemen dan kepemimpinan, dan learning and growth perpektif – keinginan untuk belajar terus menerus. Saya yakin, methodologi ini, kalau dikuasai lalu disesuaikan dengan keadaan sosiologi, antropologi dan theologi masyarakat nusantara akan menghasilkan dampak yang luar biasa. Methodologi ini, mirip dengan konsep pengejaran manusia pada dunia dan akhirat – kejarlah intangible asset, maka anda akan mendapatkan yang intangbile. Mendasarkan methodology pada prinsip dasar - kerja adalah amanah untuk mendapatkan berkah – sehingga terbentuk Human Capital – commitment dan capability. Jadi methodology balanced scorecard, harus di-berikan bumbu Nusantara, disesuaikan bahasanya dengan yang paling dekat dengan bahasa kiai, yakni budaya dan agama.  Hal ini saya rasa lebih baik, daripada mengelola sesuatu organisasi, tanpa menggunakan methodology, hanya common sense belaka, itu mengarahkan kita pada paham sareat tanpa tahu hakikat, maka jadilah kita tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Malam itu juga saya menyusun draft pemikiran yang saya tuangkan ke dalam tulisan yang berjudul Manajemen Strategik dan Peta Strategy atau strategy map, yang saya posting juga di blog http://360.yahoo.com/kijeromartani. Karena audiens banyak orang Jawa, saya menggunakan tembang Gambuh dan Catur Purusaartha, konsep sastra jawa kuno. Karena audiensnya para kyai yang saya hormati, maka konsep tentang tangible asset dan intangible asset saya modifikasi menjadi ruh jasmani, rabbani dan nur illahi. Dan banyak hal-hal yang kita bisa padukan, antara Ilmu Barat dan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keesokan harinya saya memulai workshop dengan ”nembang” macapat Gambuh Serat Wedhatama, dihadapan para kiai. Dan ”keterkejutan” mereka terhadap kemampuan nembang macapat, langsung mencairkan suasana. Methode Balanced Scorecard yang telah dimodifikasi, terasa masuk akal dalam kerangka berfikir budaya dan agama mereka. Motivasi meningkat cepat, selanjutnya, pekerjaan jadi lebih mudah. Segala kesulitan, akan mampu teratasi oleh orang yang telah termotivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ya ... Tuhan, Engkau benar-benar memenuhi janjiMu. Engkau berikan ilmu yang tak terduga, bagi seorang guru yang lagi kepepet, seperti saya. Di tengah kesulitan, Engkau membantu hambaMu, dengan cara yang tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Malam setelah workshop, saya tidur dengan tenang. Dengan senyum yang tersungging di bibir, dan yang lebih penting lagi, saya sangat bahagia, Gusti Allah mendengar kesedihan kawulaNya yang sudah tak berdaya, dengan cara yang tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ---&lt;br /&gt;    Rekan-rekan peserta mailing list, saya mohon pengertian, saya tidak hendak memelintir ayat yang ada. Motivasi saya menulis, bukan untuk berdebat tentang ayat, karena saya bukan pengkaji kitab kuning, bahasa arab-pun saya tidak bisa, melafalkan al-faatihah masih salah-salah, sembahyangpun tak kontinyu, dapat di hitung dengan jari, karena sibuk dengan ilmu dunia. Di bidang agama, saya bukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi saya ingin menulis ini, hanya untuk membuktikan bahwa Ayat Pembuka ini sangat luar biasa. Akhirnya workshop menghasilkan outcome yang dikehendaki, para kiai jadi mengerti bagaimana cara menyusun rencana strategis. Mulai menetapkan visi, misi, tujuan, peta strategi, ukuran-ukuran lalu self assesment untuk menyusun program kerja dan rencana aksi. Menetapkan anggaran, memonitor progress dan lain-lain. Semuanya itu dimulai dari Al Faatihah dan tembang Gambuh – Serat Wedhatama. Umpan balik, kesan dan pesan yang kami terima sangat luar biasa, saya sangat terharu, telah memberikan sesuatu, yang mudah-mudahan berguna untuk mereka. Terima kasih pada Kiai yang memberi pencerahan, mengingatkan saya pada AL FAATIHAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan hari itu, bertambah keyakinan saya, bahwa Gusti Allah tidak akan membiarkan kawulaNya yang percaya, gundah gulana. Selalu ada ilmu baru yang diberikan pada saat mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya berdoa, walau sedikit yang disumbangkan, untuk para kiai yang saya hormati, semoga berguna bagi usaha untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3162799276393673946?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3162799276393673946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3162799276393673946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3162799276393673946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3162799276393673946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/al-faatihah.html' title='AL FAATIHAH'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2484744421643687718</id><published>2007-11-18T13:37:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T16:24:01.727-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>14 Juni 2006, Waktu Dapat Merubah Segalanya</title><content type='html'>14 Juni 2006, Waktu Dapat Merubah Segalanya magnify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hari Ini.&lt;br /&gt;    Terima kasih Tuhan, engkau sudah mengirimkan kepingan puzzle yang tepat,  sehingga saya bisa membayangkan gambaran rencana yang lebih besar.  Semoga engkau melengkapi saya dengan segala apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana yang Kau kehendaki.  Walau hanya satu peluang terlebih dahulu tidak apa-apa, tanggal 24 presentasi, besoknya langsung ke calon user di Jawa Timur. Awal Juli ada pertemuan, semoga ada kesempatan untuk memperluas peluang sehingga makin banyak yang tahu manfaat perangkat lunak yang kuciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sore hari kami naik motor, keliling kompleks, bareng anak balita (2 th) dan istriku, singgah di toko buku yang baru, untuk membeli flash disk. Anakku tumben naek motor, dia terlihat gembira sekali. Di toko buku si nata lucu sekali, dan untuk anak sekecil dia, banyak hal yang telah dia pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keceriaannya meningkatkan semangat hidup. Semangat untuk membuatkan jalan yang lebih lapang untuk masa depannya. Barangkali dia bisa melanjutkan cita-cita besar yang aku sedang bangun, paling tidak kalau dia mau, dia tidak perlu mulai dari awal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Esok Hari. &lt;br /&gt;    Berbagi kehidupan dengan orang lain memang suatu pilihan.  Di masa lalu, teman dan sahabat selalu memberi semangat dan dukungan. Akan tetapi, akan ada salah seorang dari mereka, yang berkehendak untuk merubah peran. Yang tadinya, hanya sebagai pendukung, sekarang berubah ingin jadi pengendali.  Perubahan sosial ini, besok akan ku cermati dengan seksama, lalu memahami siapa yang mencoba membuat semua aturan yang ada.  Sebelum segala sesuatu jadi tak terkendali, aku harus menyiagakan otot, agar berani, menetapkan pilihan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika karena itu ternyata ada ancaman, maka aku harus menyiapkan rencana halus, untuk memposisikan orang ini di luar rencana besar yang telah disusun. Setelah perjuangan panjang dalam merintis usaha,  tentu aku tak boleh mundur, dan harus aku pertahankan segala sesuatu, yang telah diberikan Gusti Allah selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Siapakah orang ini ? Semoga esok aku kan tahu ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2484744421643687718?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2484744421643687718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2484744421643687718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2484744421643687718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2484744421643687718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/14-juni-2006-waktu-dapat-merubah.html' title='14 Juni 2006, Waktu Dapat Merubah Segalanya'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-1211857936429408524</id><published>2007-11-18T13:36:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:37:11.279-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Menepuk Air Di Dulang, Terpercik Muka Sendiri</title><content type='html'>Ada suatu perumpamaan kuno yang mengatakan bahwa, baik buruknya tanah, sangat ditentukan oleh tingkat kualitas airnya. Baik buruknya Nusantara masa depan, sangat tergantung dari kualitas insan yang dilahirkan di tanah ini. Walau kita mengalami duka nestapa, dengan bencana seperti tiada akhir, bagaimanapun juga, kita seharusnya masih berhutang pada tanah air, karena dilahirkan di bawah langit yang menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tidak ada negeri, walau yang paling maju sekalipun, yang tidak memiliki cacat bawaan atau cacat lainnya. Dan perlu dipahami, mengumbar cacat dan kelemahan ini secara terus-menerus, menyebabkan negara-negara tetangga, cenderung mengail di air keruh. Berbarengan dengan gencar-gencarnya tahun pariwisata di Malaysia, seorang tukang Bom pergi ke Bali, dengan semangat yang katanya ”membela” agama, dan kebencian penuh terhadap bangsa Barat, di meluluh lantakkan bukan hanya bangunan, tetapi meruntuhkan industri pariwisata dan menjatuhkan perekonomian tanah Nusantara. Gelar pendatang Haram, dan pengusiran besar-besaran, benar-benar menginjak-injak harkat dan martabat bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Negara ”gagal” seperti Timor Leste,  memandang Indonesia dengan sebelah mata. Australia atas nama HAM, menjadi tempat berlindung para separatis, dan dengan pongah berani mempertanyakan kebijakan yang diambil pemimpin negara. Singapura negara kota, dengan segala alasan, berani menolak perjanjian ekstradisi, sehingga jadi surga para koruptor, tukang tilep, penjarah BLBI, dan perampok duit rakyat Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara-sodara sekalian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Era reformasi memang, memberikan peluang setiap individu, mengutarakan pikirannya. Tapi itu berdampak pada perlombaan publikasi borok-borok yang ada di negara kita. Sekarang tidak hanya buruh atau petani, bahkan Presiden Republik Indonesia, dengan gagah tanpa dosa, mengungkapkan segala kelemahan yang ada di negeri ini, tanpa langkah nyata untuk memperbaikinya. Menurut saya, hal ini adalah sikap yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekali lagi saya tekankan, tidak ada negeri, di atas bumi ini, sekalipun yang paling maju, tidak mempunyai cacat bawaan atau cacat-cacat lain. Publikasi terhadap cacat-cacat yang ada, tanpa ada usaha untuk menyelesaikannya, akan digunakan oleh negara-negara tetangga untuk berjaga-jaga bahkan terus mengail di air keruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Karena itulah, adalah suatu sikap yang terpuji, apabila kita lebih mengkonsentrasikan energi dan mencurahkan pemikiran untuk pembenahan, atau setidak-tidaknya tidak terlalu mengumbar segala kelemahan bangsa. Dengan berbuat seperti itu dari sekarang, semoga kita, dapat menyumbangkan sesuatu untuk, membangun kembali jati diri bangsa, dan berusaha menyongsong fajar cerah masa depan Tanah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-1211857936429408524?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/1211857936429408524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=1211857936429408524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1211857936429408524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1211857936429408524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/menepuk-air-di-dulang-terpercik-muka.html' title='Menepuk Air Di Dulang, Terpercik Muka Sendiri'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2822821802940958195</id><published>2007-11-18T13:31:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T17:01:58.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Plintat-plintut</title><content type='html'>Plintat-plintut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plintat-plintut atau tidak adanya ketegasan dalam mengambil keputusan, lebih berbahaya dari sebuah tindakan keliru. Tidak sedikit pemimpin bangsa, menemui kesulitan  dalam mengambil keputusan sendiri, sehingga perlu dorongan orang lain atau bahkan menunggu terjadi keadaan yang memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap plintat-plintut tanpa ketegasan ini, lebih banyak bukan karena kebingungan, karena pada kenyatannya, mereka terkadang sudah punya solusi yang jelas, tetapi kebanyakan disebabkan oleh kemalasan.  Melihat kesulitan-kesulitan itu gampang, tetapi lebih sulit lagi menemukan cara menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=== Plintat-plintut ===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ada orang lain, yang tidak pernah ragu, memiliki kekuatan besar dalam menimbang dan kecepatan dalam memecahkan suatu masalah. Mereka terlahir dengan cita-cita tinggi dan pikiran gemilang hingga mencapai sukses tanpa banyak kesulitan. Dahulukan tindakan daripada hanya berwacana saja, maka lebih banyak waktu yang terluang.  Dengan pikiran positif, niscaya seorang pemimpin akan terus maju dengan kepercayaan yang makin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2822821802940958195?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2822821802940958195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2822821802940958195' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2822821802940958195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2822821802940958195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/plintat-plintut.html' title='Plintat-plintut'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-1471465625005403142</id><published>2007-11-18T13:30:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:31:24.097-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Nayapraja “Butho Cakil” Sontoloyo</title><content type='html'>Nayapraja “Butho Cakil” Sontoloyo magnify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam beberapa artikel, berulang kali saya mengulas tentang Brahmana, Ksatria dan Wesya, pembagian profesi di masyarakat yang dimaksudkan untuk menghindari cross function, rangkap jabatan, conflict of interest. Dapatkah anda bayangkan kalau seorang nayapraja pembantu raja, merangkap kerja jadi sodagar ? Maka tidak urung, keadilan akan sirna. Kegoblokan dalam berbisnis, ditutupi oleh kekuasaan sehingga goblokpun bisa memenangkan tender banyak mega proyek. Salah satu contoh, Ksatria merangkap wesya adalah Si Nayapraja ”Bhuto Cakil” Sontoloyo, yang benar-benar memanfaatkan posisinya untuk mengeruk keuntungan sodagar wesya dari jabatan tingginya sebagai ksatria pembantu raja. Dengan demikian, perusahan keropos, akibat goblok dan sontoloyonya mengelola bisnis keluarganya dulu, bisa berbalik untung dalam sekejap setelah jadi nayapraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perusahaan rapuh, bobrok dan rugi, langsung melejit untung, setelah si nayaproja sontoloyo mengkoordinir perekonomian bangsa. Perusahaan yang tadinya megap-megap, langsung tegak membusungkan dada, menyabet proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur. Bekerja sama dengan wakil raja sontoloyo, walau sudah ketahuan belang kagak bisa ngurus perekonomian negara, tetap dipertahankan untuk mengurus agar rakyat jadi sejahtera. Raja dan wakilnya memang sontoloyo, walau nayapraja goblok nir prestasi, tetapi dia pintar dalam trick-trick menggangsir kas negara, menjarah dengan serakah berbagai mega proyek pemerintah, sehingga terkumpul setoran untuk pundi-pundi pribadi, yang nanti digunakan meraih kekuasaan lagi. Dengan demikian, sesuai perhitungan sodagar, Return On Investment yang ditanamkan saat pemilu yang lalu, menjadi tinggi, karena keuntungan yang berlipat, setelah jadi nayapraja keparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apatah alam diam melihat tingkah polah rombongan nayapraja sontoloyo ini ? Tentu TIDAK SODARAKU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    HAI nayapraja sontoloyo, kuperingatkan sekali lagi kepadamu : INGATLAH, PARO PAKARAH PUNYAYA, PAPAYA PARA PIDANAM. Barangsiapa berbuat baik akan mendapat pahala, tapi JIKA BERBUAT PAPA NISTA akan mendapat PIDANA. Secanggih apapun rekayasa dalam menipu rakyat jelata, ALAM akan mengejar, walau KAU sembunyi dipojok semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lapindo Brantas, anak perusahaan Energi Mega Persada, yang ada di ketiak Nayapraja ”Bhuto Cakil” Sontoloyo ini, sekarang terkena getahnya. Danyang tanah jawa sudah muak dengan ulah si Bhuto Cakil, disemburkanlah gelimang lumpur dosa, akibat khianat Bhuto Cakil kepada rakyat. Rakyat jelata akan terbuka mata, dibalik Lapindo Brantas adalah Bhuto Cakil, si Nayapraja Sontoloyo, yang mestinya membuat rakyat sejahtera, tapi yang dia kerjakan adalah membuat rakyat jelata makin menderita. Keserakahan dapat balasan. Kesalahan ada tebusan. Dosa papa nista akan mendapatkan derita. Bhota Cakil - Nayapraja sontoloyo harus sudah mendapatkan teguran keras, karena dia tak mengenal kata tobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tobat atau taubat adalah makna yang terdiri dari tiga hal secara berturutan, yaitu (1) pengetahuan dan kesadaran (’ilm), (2) kondisi hati (hal) dan (3) tindakan (fi’l). Jadi yang pertama, dilakukan oleh alam adalah memberi peringatan dan kesadaran kepada Si Nayapraja ”Butho Cakil” Sontoloyo khususnya, dan secara umum kepada seluruh antek-antek Si Ban Serep yang terlalu banyak omong, yang menjepit Sang Raja Plintat-Plintut. Dengan demikian diharapkan, muncul kondisi hati yang menyesal sedalam-dalamnya, dan yang terakhir, agar melakukan tindakan segera untuk mengurungkan rencananya, mengeruk lebih banyak kekayaan bangsa, demi keuntungan pribadi.  Butho Cakil Nayapraja Sontoloyo beserta rombonganya, ibarat serigala berbulu domba, seolah dekat dengan rakyat tapi tabiatnya bagai pagar maken tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Terimakasih danyang tanah jawa, Ki Buthalocaya dari Kadiri, Ki Logenjang di Juwana, Ki Bajulbali di Rembang, Ki Lender dari Wirasaba,  dan Ki Batugrigis dari Madura, apakah engkau telah menyemburkan lumpur itu?. Semoga dengan kasus Lapindo Brantas, Si Nayapraja ”Butho Cakil” Sontoloyo, segera TOBAT, dan mengurungkan segala rencana khianat dan jahat.  Sungguh sulit membikin tobat raja pengkhianat, yang dikepung ketat oleh pejabat nekat nan bejat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Segala peringatan ini, jadi pelajaran bagi seluruh rakyat Nusantara, akan kekuatan Hukum Karma - Paro Pakarah Punyaya Papaya Para Pidanam. Sehingga mempertebal keyakinan kita bahwa Gusti Allah selalu memantau isi jagad raya dan seisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-1471465625005403142?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/1471465625005403142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=1471465625005403142' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1471465625005403142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1471465625005403142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/nayapraja-butho-cakil-sontoloyo.html' title='Nayapraja “Butho Cakil” Sontoloyo'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-8554956886202450000</id><published>2007-11-18T13:29:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:30:03.459-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Kelompok Bakrie Jangan Lepas Tangan</title><content type='html'>LUMPUR PANAS&lt;br /&gt;    Kelompok Bakrie&lt;br /&gt;    Jangan Lepas Tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    TERGENANG LUMPUR -- Jalan tol Km 38 Gempol-Surabaya di Porong,&lt;br /&gt;    Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (11/6) tergenang lumpur yang keluar&lt;br /&gt;    dari lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas, setelah tanggul penahan&lt;br /&gt;    lumpur dijebol warga Desa Siring yang permukimannya kini terancam&lt;br /&gt;    terendam lumpur. Genangan lumpur ini sudah terjadi sejak beberapa&lt;br /&gt;    hari namun belum bisa diatasi. (Ant/Hadiyanto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Senin, 12 Juni 2006&lt;br /&gt;    JAKARTA (Suara Karya): Kelompok Usaha Bakrie jangan lepas tangan&lt;br /&gt;    dalam insiden musibah semburan lumpur panas di Sidoarjo. Itu karena&lt;br /&gt;    PT Lapindo Brantas -- operator lapangan di area yang mengalami&lt;br /&gt;    kebocoran -- adalah anak perusahaan Energi Mega Persada (EMP) yang&lt;br /&gt;    bernaung dibawah kelompok usaha Bakrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pakar hukum perusahaan, yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas&lt;br /&gt;    Indonesia (UI) Luhut M Pangaribuan mengatakan, perusahaan dan para&lt;br /&gt;    pelaku usaha harus menanggung kerugian dan biaya reahabilitasi&lt;br /&gt;    lingkungan sekitar lokasi. "Mereka harus membayar semua kerugian dan&lt;br /&gt;    memulihkan kondisi masyarakat dan lingkungannya," kata Luhut di&lt;br /&gt;    Jakarta, Minggu (11/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seperti diketahui, PT Bumi Resources yang bergerak di bidang&lt;br /&gt;    pertambangan batubara sedang dalam proses merger dengan EMP yang&lt;br /&gt;    bergerak di bidang minyak dan gas alam. Kedua perusahaan itu&lt;br /&gt;    merupakan perusahaan yang ada di bawah kelompok usaha Bakrie. "Bumi&lt;br /&gt;    Resources dan Energi Mega Persada merupakan perusahaan yang berada&lt;br /&gt;    di bawah kelompok usaha Bakrie," kata Direktur Bursa Efek Jakarta&lt;br /&gt;    (BEJ) Eddy Sugito, seperti dimuat sebuah media ibukota, edisi 4&lt;br /&gt;    Pebruari 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Luhut mengatakan, saat ini lembaga terkait dan pemerintah daerah&lt;br /&gt;    setempat harus segera melakukan tindakan administratif dan menangani&lt;br /&gt;    masalah paling mendesak, seperti penanganan korban akibat semburan&lt;br /&gt;    lumpur panas itu. "Kita baru lihat unsur perdatanya karena faktor&lt;br /&gt;    alam, tetapi jika ditemukan ada unsur kelalaian, seperti memilih&lt;br /&gt;    teknologi yang digunakan kurang tepat atau memilih yang murah demi&lt;br /&gt;    mereguk keuntungan, maka bisa masuk unsur pidana," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ganti kerugian dan rehabilitasi lingkungan yang rusak, lanjut Luhut,&lt;br /&gt;    merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pasalnya, ada&lt;br /&gt;    atau tidaknya insiden itu, setiap perusahaan memiliki kewajiban&lt;br /&gt;    sosial dan diharuskan mengeluarkan dana bina masyarakat dan&lt;br /&gt;    rehabilitasi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Merger Bumi Resources dan EMP akan dilakukan melalui mekanisme tukar&lt;br /&gt;    saham (share swap). Seperti diketahui, EMP selaku perusahaan minyak&lt;br /&gt;    dan gas, sementara Bumi bergerak di bidang tambang batu bara.&lt;br /&gt;    Menurut Presdir Bumi Resources, Ari S Hudaya, kepada pers beberapa&lt;br /&gt;    waktu lalu, merger baru selesai Juli mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menanggapi pertanggungjawaban perusahaan migas tersebut, Deputi&lt;br /&gt;    Operasi BP Migas, Dody Hidayat, mengatakan bahwa sepatutnya ada&lt;br /&gt;    penggantian atas kerugian yang ditimbulkan. "Karena normalnya,&lt;br /&gt;    praktek itu berlaku pada masalah sejenis di Sidoarjo seperti saat&lt;br /&gt;    ini," ujar dia secara diplomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dody mengaku, belum ada pernyataan penggantian resmi dari EMP.&lt;br /&gt;    Namun, dia mengatakan, tindakan nyata telah dilakukan EMP, yakni&lt;br /&gt;    pemberian bantuan yang diperlukan masyarakat. Misalnya, pendirian&lt;br /&gt;    posko, santunan sebesar Rp 200 ribu per KK, bantuan medis,&lt;br /&gt;    pengungsian, distribusi logistik dan air bersih. "Kita pastikan&lt;br /&gt;    harus diganti, masa ditinggal begitu saja," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sejumlah anggota Komisi VII DPR juga angkat bicara untuk kasus ini.&lt;br /&gt;    Mereka mendesak Lapindo segera memberikan penjelasan kepada warga&lt;br /&gt;    yang menjadi korban. Ironisnya, operator lapangan migas ini belum&lt;br /&gt;    bisa menjelaskan kapan semburan itu akan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Sosialisasikan secepatnya, langkah apa yang akan diambil, kapan&lt;br /&gt;    semburan berhenti, agar warga tidak resah," kata Wakil Ketua Komisi&lt;br /&gt;    VII DPR, Sony Keraf, usai meninjau lokasi, Minggu (11/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk mengatasi masalah itu, Lapindo mengaku telah mendatangkan tim&lt;br /&gt;    ahli dari AS, Kanada dan Singapura, yang kini tengah menganalisa&lt;br /&gt;    penyebab semburan. "Sumbernya di mana, itu yang akan kita cari dan&lt;br /&gt;    akan kita hentikan," kata General Manager PT Lapindo Brantas Imam&lt;br /&gt;    Agustino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurut Imam, dia siap melakukan apa saja termasuk mendatangkan alat&lt;br /&gt;    berat dari luar negeri jika sumber semburan sudah diketahui. Lapindo&lt;br /&gt;    akan menggali dua titik penampungan lumpur di sebelah timur lokasi&lt;br /&gt;    semburan dan sebelah utara jalan tol. "Lumpur akan diarahkan dengan&lt;br /&gt;    menggunakan pipa," ujarnya tanpa merinci. (Abdul Choir)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-8554956886202450000?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/8554956886202450000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=8554956886202450000' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8554956886202450000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8554956886202450000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/kelompok-bakrie-jangan-lepas-tangan.html' title='Kelompok Bakrie Jangan Lepas Tangan'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-184747792116049880</id><published>2007-11-18T13:27:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:28:46.063-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Laku Utama Raja Nusantara</title><content type='html'>Laku Utama Raja Nusantara magnify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Nuladha laku utama, Tumraping wong tanah Jawi, Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senapati, Kapati amarsudi, Sudaning hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasami&lt;br /&gt;    Samangsane pasamuwan, Mamangun marta martani, Sinambi ing saben mangsa, Kala-kalaning ngasepi, Lalana teka-teki, Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun eninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Pungguh panggah cegah dhahar lawan guling&lt;br /&gt;    [Sinom Serat Wedhatama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sodara – sodara sebangsa dan setanah air,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Merujuk kitab sastra-nusantara jaman dahulu, salah satu pemimpin Nusantara yang dapat diteladani, adalah Panembahan Senopati. Raja Ngeksiganda atau Mataram yang memerintah  dari tengah-temgah tanah Jawa. Beliau tekun, dan selalu berkehendak mengurangi hawa nafsu, melalui tapa brata yoga samadi. Siang malam selalu berusaha untuk membangun atau menciptakan kebahagian bagi sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jikalau berada di tengah-tengah pertemuan, selalu berusaha membangun semangat (ing madya mbangun kersa). Di depan beliau memberi teladan (ing ngarsa sung tulada), dan selalu mendorong agar nayapraja bersikat mandiri (tut wuri handayani). Apabila ada waktu luang, beliau berkelana keliling negeri, untuk melakukan tapa, demi mencapai cita-cita yang terpendam di tengah lubuk hati terdalam. Berusaha menjalankan laku prihatin, berpegang teguh tapa dengan mengurangi makan dan ”tidur”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Demikianlah toladan pemimpin Gusti Panembahan Senapati. Kemampuan tinggi tidak muncul dari kelicikan dan tipu daya, tetapi dari pembawaan dan bakat untuk memegang kuasa. Dengan ”karisma” itu, orang tunduk tanpa tahu apa sebabnya, tanpa tahu apa rahasia kewibawaan dan kekuasaannya. Raja besar karena keagungan budinya, bagai singa berwibawa karena naluri alaminya. Mereka mendapat penghormatan, hati dan bahkan jiwa orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di tambah dengan bakat-bakat dalam mendalami hal-hal spiritual, emosional dan intelektula, maka niscaya mereka akan muncul menjadi tokoh politik yang menonjol. Orang-orang seperti ini, dapat bekerja dan produktif, hanya dengan sikap dan gerakan isyarat, tanpa perlu banyak wacana, dan pidato panjang berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-184747792116049880?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/184747792116049880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=184747792116049880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/184747792116049880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/184747792116049880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/laku-utama-raja-nusantara.html' title='Laku Utama Raja Nusantara'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-8688945957937596366</id><published>2007-11-18T13:26:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:27:08.166-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Kala Bendu</title><content type='html'>Ada saatnya keinginan yang muncul dari keheningan, melahirkan perasaan duka namun penuh harap, agar fajar cerah segera tiba. Akhirnya, ada setitik keberanian untuk mengutarakan petuah-petuah, barangkali dapat menyingkirkan hal-hal yang salah. Petuah bukan untuk menyombongkan diri, melainkan semata-mata berasal dari harapan barangkali dapat diperas dan diambil sarinya, untuk perbaikan di tanah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Harus selalu diingat, di jaman Kala Bendu ini, kurangilah nafsu pribadi. Tanpa mengurangi nafsu pribadi, maka pasti akan terbentur kerepotan, yang hanya membuahkan perbuatan buruk. Mudah-mudahan tetap mampu teguh, senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik. Dengan demikian, mampu memberi perlindungan kepada siapapun juga, melenyapkan angkara murka, membuang jauh perbuatan tak senonoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jangan menjadi orang bertabiat aji mumpung, hilang kewaspadaan, dan orang seperti ini, sudah dipastikan kerepotanlah yang selalu dijumpai, duka nestapa dan bencana selalu mengikuti hidupnya, hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta. Budayanya lenyap, kekuatan sirna dan ceroboh. Apa yang difikirkan hanya hal-hal yang berbahaya. Sumpah janji hanyalah di bibir bealak, tidak seorangpun akhirnya mempercayainya. Dan sudah barang tentu, hanya menuai kerepotan dan bencana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aku Ki Jero Martani,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sudah pernah bicara dan bertemu muka, dengan Sang Raja Tanah Nusantara, di hotel Dharmawangsa. Saat itu, kami coba bicara, barangkali didengar nasihat orang tua yang sudah pelupa, tak berdaya. Suara bagai angin lalu, membuat hati jadi kelu. Kini tinggallah berdendang, dandang gula sebagai tembang, hasil gubahan nenek moyang dahulu kala, beratnya hidup, bak orang dimadu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sang penguasa wawasannya kerap berubah-ubah, meningkatkan kerepotan apapun yang hendak dijalankan. Dan makin repot, karena azab jaman kala bendu, makin jadi angkara murka manusia. Angkara murka bertiwikrama, rasanya tidak mungkin dikalahkan oleh kebaikan budi dan hati, bila memang belum saatnya tiba, bahkan makin jadi luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu, keadaan sudah semakin tidak karu-karuan, penghidupan semakin morat-marit, ketentraman jauh dari harapan, kesedihan dan ratapan sudah jadi santapan. Segala tata cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan. Di kala ini, yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya dapat dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan, meski demikian tak ada berani yang melawan atau bahkan sekadar memperingatkan. Tak berani melawan karena apa ? Karena takut kalau disemprot ular berbisa, racunnya bagaikan air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akan tetapi sodaraku, camkanlah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lengkung pelangi yang megah, berwarna kuning, biru dan merah, hanyalah cahaya pantulan air. Menurut Kanjeng Nabi, itu bukanlah Gusti Allah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mohon diingat-ingat, kelak akan tiba masanya, ada wewe putih (setan putih), bersenjatakan tebu hitam, akan menghancurkan wedhon (pocongan setan). Akan tiba waktunya kuasa Gusti Allah membuka jaman kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi. Tak akan bisa di tahan lagi, dimana ”setan putih” menyapu bersih ”pocongan setan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah ”pocongan setan” di sapu bersih, maka di tanah Nusantara, akan tumbuh pemikiran dan kehendak hati, yang hanya berdasarkan ketenteraman sampai ke anak cucu. Tanah Nusantara dihormati dimanapun, negara rukun sentosa. Luka-luka akan hilang, peresaan prihatin berobah menjadi gembira ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saat itu, diibaratkan, orang berjalan, menemukan pundi-pundi berisi emas sebasar bokor, tidak diambil. Tak ada yang berbuat curang, peliharaan diikat, namun tiada yang dicuri. Yang tadinya spesialis berbuat angkara murka, akhirnya ikut pula berbuat baik. Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Kebaikan dapat menghancurkan sang durjana. Perbuatan tercela ditinggalkan, peraturan-peraturan pemerintah ditaati kembali, semuanya rajin dan tekun melaksanakan swadharma, tugas pokok dan kewajibannya masing-masing. Rakyat jelata, pedagang di pasar, nayapraja,  dan brahmana, semuanya memiliki hati yang sama, tak ada yang saling mencela. Keadaan seperti itu akan terjadi di seluruh negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kembali seperti dijaman dahulu kala, teguh menjalankan dharma dan berhati baja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-8688945957937596366?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/8688945957937596366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=8688945957937596366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8688945957937596366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8688945957937596366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/kala-bendu.html' title='Kala Bendu'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-573939264017058118</id><published>2007-11-18T13:25:00.001-08:00</published><updated>2007-11-18T13:25:53.717-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Bersama Kita “TIDAK” Bisa</title><content type='html'>Tujuan hanya bisa diraih dengan bantuan rencana yang bisa dipercaya dan bisa digunakan untuk memimpin tindakan kita dengan bersemangat. Tidak ada jalan lain untuk meraih keberhasilan. [Pablo Picasso]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ruktine ngangkah ngukut, Ngiket ngruket triloka kakukut, jagad agung ginulung lan jagad alit, den kendel kumandel kulup, mring kilaping alam kono. [Serat Wedhatama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Agar mencapai gemerlap alam masa datang yang dicita-citakan, selalu dibutuhkan persiapan (ruktine) atau perencanaan. Rencana harus dimulai dengan menetapkan tujuan yang jelas (ngangkah). Ngangkah harus diikuti oleh peta untuk mencapai tujuan (ngruket). Sehingga setiap anggota tim memahami dan terikat dengan tujuan dan jalan untuk mencapainya (ngiket). Pemahaman dan komitmen akan menyebabkan kerja keras (ngruket) sehingga berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan bisa tersedia.  Penjelasan lebih lanjut tentang serat wedhatama di atas, dapat dilihat di artikel Manajemen Strategik dan Peta Strategi di http://360.yahoo.com/kijeromartani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    === Bersama Kita ”TIDAK” Bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam kesempatan ini, kita bahas tentang ngangkah atau tujuan. Ngangkah adalah bahasa Jawa kuno, kalau diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia artinya mengetahui tujuan yang ingin dicapai. Membangun tim yang tidak memiliki kejelasan tujuan, ibarat kapal berlayar tanpa tahu pelabuhan yang ingin dicapai. Samudera sangatlah luas, tanpa tujuan yang jelas, tim kerja tak akan bekerja efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rapat tiada akhir, wacana dan diskusi tak pernah memuaskan, keputusan setengah hati, adalah ciri-ciri tim tanpa tujuan jelas. Tim kerja harus punya tujuan yang padat, jelas dan mungkin dicapai.  Tujuan serta peta strategi yang gamblang untuk mencapainya, akan memudahkan anggota tim untuk tahu apa yang dia harus kerjakan untuk meraih cita-cita bersama, ini akan membangun motivasi. Agar tujuan berhasil diraih, dibutuhkan reaksi tindakan dan kepastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Karena itulah, tujuan tim haruslah singkat, jelas dan tajam. Contohnya : memperpendek antrean di toko, menghasilkan produk berkualitas di kwartal ke tiga, mempercepat proses anggaran, memberikan kualitas dan pelayanan maksimal bagi distributor terbaik, mengurangi kesalahan dan keterlambatan pengiriman kepada pelanggan, serta memperkenalkan produk bisnis pada pangsa pasar yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pernyataan tujuan tim yang paling terkenal sepanjang zaman adalah statement presiden John F. Kennedy yang pada tahun 1962 berkata “I believe that this nation should commit itself to achieving the goal, before this decade is out, of landing a man on the moon, and returning him safely to the earth.” . Dengan pernyataan itu, tidak ada keraguan dari anggota tim, tentang tujuan yang hendak diraih dan berapa lama mereka harus sampai di tempat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anda harus ingat, tujuan tim hendaknya menunjukkan hasil yang TIDAK BISA diraih oleh seorang individu, karena untuk itulah TIM KERJA dibentuk. Tapi berhubungan dengan sejumlah orang, menumbuhkan kemungkinan, individu yang terlibat tidak benar-benar mengerti arti tujuan tim sebenarnya. Sebagai contoh, jika tujuan dinyatakan sebagai ”menciptakan hubungan yang lebih baik antara pelanggan dan supplier”,  apakah semua anggota tim mengartikan tujuan ini dengan persepsi yang sama ? Akan lebih jelas kalau dinyatakan sebagai ”mengurangi keluhan pelanggan” atau ”memperpendek waktu reaksi” atau meningkatkan kualitas kepuasan pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tantangan lainnya yang lebih berat adalah, anggota tim harus percaya bahwa tujuan itu bisa dicapai dan merupakan hal yang tepat untuk dilakukan. Jika anggota tim merasa tujuan tersebut hanya mengawang-awang dan tak tahu cara mencapainya, maka kinerja akan terganggu. Lalu bagaimana dengan anggota tim yang tidak percaya bahwa tujuan tim itu benar ? Bagaimana jika tujuan tim sudah jelas yaitu ”menjual produk tambahan pada pelanggan yang sudah ada”, lalu ada satu anggota yang berfikir bahwa pelanggan telah membeli cukup banyak produk, sehingga usaha penjualan produk lain, bisa akan menghancurkan hubungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Karena itulah, sebelum perjalanan panjang, perjuangan dan kerja keras tim dimulai, masalah-masalah tujuan seperti di atas, sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu, diformulasikan untuk disepakati bersama. Karena itu perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pernyataan tujuan yang singkat. Tujuan hendaknya singkat, jelas, pasti dan berorientasi pada tindakan. Jika tim tidak bisa mengerti tujuannya, maka tim itu tidak mampu melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Konfirmasi tujuan kepada anggota tim. Tanyakan kembali ke setiap anggota, apa yang menjadi tujuan tim. Kualitas jawaban mereka, akan menunjukkan sejauh mana pengertian anggota tim terhadap tujuan bersama yang ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemungkinan keberhasilan : perlu memeriksa kemungkinan keberhasilan dan mendiskusikannya. Tim yang berpotensi karena memiliki keahlian, sumberdaya dan komitmen, akan mendorong dirinya sendiri untuk meraih tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mudah-mudahan, dengan langkah-langkah di atas, gemerlap alam yang dicita-citakan bersama dapat diraih. Dan semoga pula, kabinet bersama kita ”tidak” bisa, dapat berubah kinerjanya menjadi – kabinet bersama kita bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hormat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-573939264017058118?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/573939264017058118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=573939264017058118' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/573939264017058118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/573939264017058118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/bersama-kita-tidak-bisa.html' title='Bersama Kita “TIDAK” Bisa'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-1877261418750071173</id><published>2007-11-18T13:22:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:24:06.615-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Brahmana Durjana</title><content type='html'>Dalam lakon Nawaruci, diceritakan panjang lebar mengenai kesetiaan Sang Bima kepada Brahmana Drona yang berwatak banas akirya. Lalu Sang Nawaruci mengingatkan Bimasena tentang watak brahmana durjana yang perlu dijauhi, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1. Banas akirya artinya pendeta yang gila harta (banas akirnya nga ring pandita anggaduh)&lt;br /&gt;       2. Asaya-saya artinya pendeta yang bernafsu menjadi kaya raya (asaya-saya nga ring panditawisaya pipirakan)&lt;br /&gt;       3. Angangsar-angsar artinya pendeta yang kegemarannya sering kawin (angangsar-angsar nga ring panditawisaya araraben)&lt;br /&gt;       4. Anggaladag tiba artinya pendeta yang gemar menyanyi (anggaladag tiba ngaring pandita wisayanggerong)&lt;br /&gt;       5. Ambutani artinya pendeta yang kegemarannya menyajikan kurban (ambutani nga ring panditangardhanaken banten)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lakon tinggallah lakon. Cerita lama orang sudah lupa. Apalagi menulis di Internet, mungkin dicap sebagai karya sastra sampah. Ah memang saya sudah tua, hanya punya cerita lama, yang dikalangan generasi “muda”, tak ada guna. Tapi nasehat-nasehat lama tentang manusia, rasanya masih relevan. Penggalan kisah Nawaruci di atas, paling tidak berguna untuk mencermati perilaku Brahmana Durjana, agar kita tak terkena tipu daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Secara kasat mata, di Nusantara saat ini, cukup banyak Brahmana durjana yang ada di sekitar kita. Brahmana penjual suara, faseh bicara ayat, padahal dirinya bejat, tak mampu mengekang nafsu syahwat, teman gadis maen sinetron pun di embat, dia memang kiai laknat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Waspadalah dengan perilaku Brahmana Durjana. Dalam hidup kita memang harus tetap berbuat baik, tetapi kalau ada orang durjana yang merajalela, kita juga punya kewajiban untuk “mencegahnya”. Karena bangsa kita telah membiarkan terlalu banyak durjana menguasai Nusantara, maka ‘alam’-pun angkat bicara …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Artikel lain yang menyoroti tingkat laku brahmana durjana :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Ulama Melempar Sorban&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Kehilangan Rasa&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;          Si Dungu Yang Sok Pintar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dapat anda lihat di http://360.yahoo.com/kijeromartani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Diskusi peminat serius di http://groups.yahoo.com/group/sastra-nusantara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-1877261418750071173?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/1877261418750071173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=1877261418750071173' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1877261418750071173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1877261418750071173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/brahmana-durjana.html' title='Brahmana Durjana'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2241554069353903610</id><published>2007-11-18T13:20:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:22:15.731-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>"Mardi Siwi" - Mendidik Anak</title><content type='html'>Ketika anak pertama kami berumur hampir dua tahun, dia mulai bisa ngomong. Lalu bulan-demi-bulan, pertanyaan demi pertanyaan, dia ajukan kepada kami. Sampai suatu saat saya tersentak dan tersadar bahwa saya tidak pernah mempelajari hal yang penting dalam hidup, yaitu bagaimana menjadi seorang Ayah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk jadi profesional, saya menghabiskan 5 tahun di Bandung. Ditambah 5 tahun belajar di tempat kerja, dilanjut magister manajemen. Hampir 15 tahun, ilmu saya kumpulkan, baru jadi seperti sekarang ini. Lalu ilmu itu, saya gunakan untuk mencari nafkah, sehingga dapat”memelihara” apa yang dititipkan oleh Sang Pencipta kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Empat belas tahun untuk mencari ”ilmu dunia”, tapi saya tidak mampu mengingat, berapa tahun yang saya sediakan untuk belajar menjadi seorang Ayah. Belajar untuk membangun ”jiwa” keluarga ? Dalam perenungan, saya berkesimpulan, sebagian besar energi, hanya terfokus untuk membangun “raga”  keluarga, tetapi saya belum pernah belajar, bagaimana membangun ”jiwa”nya. Hasil perenungan saya simpan dalam bathin, seraya berdoa, agar mendapatkan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Suatu saat, kami sekeluarga berwisata ke Taman Mini Indonesia Indah. Setelah lelah berputar-putar, kami beristirahat di Sasana Adi Rasa Samber Nyawa. Di bawah sasana itu ternyata ada perpustakaan lengkap, sebagian bukunya bertopik budaya. Manajernya bernama bapak Adi Suripto. Entah bagaimana alur obrolan, hingga kami sampai pada obrolan “mardi siwi” atau mendidik anak. Dan saya mohon nasihat dari beliau, semoga dapat menjadi bekal untuk bisa menjadi ayah yang baik, ayah yang mampu membangun jiwa dan raga keluarganya. Lalu beliau nembang pangkur, dikutip dari Serat Wedhatama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mingkar-mingkuring angkara&lt;br /&gt;    Akarana karenan mardi siwi&lt;br /&gt;    Sinawung resmining kidung&lt;br /&gt;    Sinuba sinukarta&lt;br /&gt;    Mrih kertata pakertining ilmu luhung&lt;br /&gt;    Kang tumrap ing tanah jawi&lt;br /&gt;    Agama agaming aji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam “mardi siwi” atau mendidik anak selalu terjadi perasaan mingkar-mingkur atau dualisme. Kita menginginkan anak seperti yang kita inginkan, sementara itu, harus kita sadari bahwa sang anak memiliki nasib atau garis tangannya sendiri. Karena itulah, hal penting yang perlu diusahakan ketika mendidik anak adalah menjaga lisan sehingga yang keluar bagai ”resmining” atau indahnya nyanyian, enak di dengar, tidak kasar, usahakan secara terstruktur dan dipikirkan sebaik mungkin. Dan dari sekian banyak ilmu yang ada di dunia, maka yang perlu diajarkan adalah ilmu luhur yaitu ilmu agama yang menjadi pegangan dari sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jinejering Wedhatama&lt;br /&gt;    Mrih tan kemba kembanganing pambudi&lt;br /&gt;    Mangka nadyan tuwa pikun&lt;br /&gt;    Yan tan mikani rasa&lt;br /&gt;    Yekti sepi asepa lir sepah samun&lt;br /&gt;    Samangsane pakumpulan&lt;br /&gt;    Gonyak ganyuk ngliling semi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kitab Wedhatama disusun dengan tujuan untuk mengembangkan budi pekerti. Tanpa budi pekerti, maka walau sudah tua dan pikun, apabila tak paham tentang ”rasa”, maka dia bagaikan sepahan tebu, hilang manis tiada berguna. Orang yang tanpa ”rasa” jika berada di masyarakat, selalu akan berbuat hal-hal yang memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya pulang dengan catatan dua tembang serat wedhatama tadi. Dan mulai bertekad, tidak hanya membangun ”raga” keluarga, akan tetapi juga ”jiwa” mereka. Tapi untuk bisa mengajar, ternyata sang ayah harus belajar terlebih dahulu membasuh budi pekertinya sendiri. Budi pekerti sang orang tua, akan menjadi cermin dan suri toladan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ah... ternyata rangkaian tembang di atas,memang mudah diucap, tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Bagaimanapun juga, saya akan usahakan, walau menghabiskan waktu bertahun-tahun, seperti lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi system designer. Saya sedang dalam perjalanan panjang,  belajar jadi Ayah bagi ketiga anak kami. Aku akan berusaha mengembangkan budi pekerti hingga meraih ”rasa”, sehingga ”rasa” ini memancar dan membangun ”jiwa” mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semoga Gusti Allah berkenan memberi sinar suciNya, agar hamba dapat menjalankan swadharma seorang ayah, yang mampu membangun ”jiwa” keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam Hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2241554069353903610?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2241554069353903610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2241554069353903610' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2241554069353903610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2241554069353903610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/mardi-siwi-mendidik-anak.html' title='&quot;Mardi Siwi&quot; - Mendidik Anak'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3645670395445645897</id><published>2007-11-18T13:18:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:20:21.564-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Olah Bathin</title><content type='html'>dari situs www.jawapalace.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam olah batin, meditasi menjadi salah satu topik pembicaraan yang tiada habis-habisnya. Tentu hal tersebut ada sebabnya, sebabnya tiada lain karena meditasi adalah salah satu usaha proses untuk meningkatkan pengembangan pribadi seseorang secara total. Tulisan ini didasari oleh pengalaman pribadi dan pengalaman temen-temen penulis yang melakukan laku  olah batin serta berbagai literatur mengenai meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tulisan ini merupakan usaha melengkapi tulisan J. Sujianto yang berjudul “ Pengembangan Kwalitas Pribadi di Bidang Kebatinan, suatu Proses Meningkatkan Kreatifitas dan Pengetahuan Dunia Gaib “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apakah Meditasi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mengusahakan rumus yang pasti mengenai arti meditasi tidaklah mudah, yang dapat dilakukan adalah memberi gambaran berbagi pengalaman dari mereka yang melakukan meditasi, berdasarkan pengalaman meditasi dapat berarti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.      Melihat ke dalam diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.      Mengamati, refleksi kesadaran diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3.      Melepaskan diri dari pikiran atau perasaan yang berobah-obah, membebaskan keinginan duniawi sehingga menemui jati dirinya yang murni atau asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tiga hal tersebut diatas baru awal masuk ke alam meditasi, karena kelanjutan meditasi mengarah kepada sama sekali tidak lagi mempergunakan panca indera ( termasuk pikiran dan perasaan ) terutama ke arah murni mengalami kenyataan yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perlu segera dicatat, bahwa pengalaman meditasi akan berbeda dari orang ke orang yang lain, karena pengalaman dalam bermeditasi banyak dipengaruhi oleh latar belakang temperamen, watak dan tingkat perkembangan spiritualnya serta tujuan meditasinya dengan kulit atau baju kebudayaan orang yang sedang melaksanakan meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Secara gebyah uyah ( pada umumnya ) orang yang melakukan meditasi yakin adanya alam lain selain yang dapat dijangkau oleh panca indera biasa. Oleh karena itu mungkin sekali lebih tepat jika cara-cara meditasi kita masukkan ke golongan seni dari pada ilmu. Cara dan hasil meditasi dari banyak pelaku olah batin dari berbagai agama besar maupun perorangan dari berbagai bangsa, banyak menghasilkan kemiripan-kemiripan yang hampir-hampir sama, tetapi lebih banyak mengandung perbedaan dari pribadi ke pribadi orang lain. Oleh karena itu kita dapat menghakimi hasil temuan orang yang bermeditasi, justru keabsahan meditasinya tergantung kepada hasilnya, umpamanya orang yang bersangkutan menjadi lebih bijaksana, lebih merasa dekat dengan Tuhan, merasa kesabarannya bertambah, mengetahui kesatuan alam dengan dirinya dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keadaan hasil yang demikian, sering tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang-orang ( masyarakat ) di sekitar diri orang tersebut karena tingkah-lakunya maupun ucapan-ucapannya serta pengabdiannya kepada manusia lain yang membutuhkan bantuannya, mencerminkan hasil meditasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cara-cara dan akibat bermeditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cara bermeditasi banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Adapun yang memulai dengan tubuh, arti meditasi dengan tubuh adalah mempergunakan menyerahkan tubuh ke dalam situasi hening. Lakuknya adalah dengan mempergunakan pernafasan, untuk mencapai keheningan, kita menarik nafas dan mengeluarkan nafas dengan teratur. Posisi tubuh carilah yang paling anda rasakan cocok / rileks, bisa duduk tegak, bisa berbaring dengan lurus dan rata. Bantuan untuk lebih khusuk jika anada perlukan, pergunakan wangi-wangian dan atau mantra, musik yang cocok dengan selera anda, harus ada keyakinan dalam diri anda, bahwa alam semesta ini terdiri dari energi dan cahaya yang tiada habis-habisnya. Keyakinan itu anda pergunakan ketika menarik dan mengeluarkan nafas secara teratur. Ketika menarik nafas sesungguhnya menarik energi dan cahaya alam semesta yang akan mengharmoni dalam diri anda, tarik nafas tersebut harus dengan konsentrasi yang kuat. Ketika mengelurkan nafas dengan teratur juga, tubuh anda sesungguhnya didiamkan untuk beberapa saat. Jika dilakukan dengan sabar dan tekun serta teratur, manfaatnya tidak hanya untuk kesehatan tubuh saja tetapi juga ikut menumbuhkan rasa tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bermeditasi dengan usaha melihat cahaya alam semesta, yang dilakukan terus menerus secara teratur, akan dapat menumbuhkan ketenangan jiwa, karena perasaan-perasaan negatif seperti rasa kuatir atau takut, keinginan yang keras duniawi, benci dan sejenisnya akan sangat berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali, yang hasil akhirnya tumbuh ketenangan. Meditasi ini harus juga dilakukan dengan pernafasan yang teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kesulitan yang paling berat dalam bermeditasi adalah “ mengendalikan pikiran dengan pikiran “ artinya anda berusaha “ mengelola “ pikiran-pikiran anda, sampai mencapai keadaan “ Pikiran tidak ada “ dan anda tidak berpikir lagi, salah satu cara adalah “ mengososngkan pikiran “ dengan cara menfokuskan pikiran anda kepada suatu cita-cita, umpamanya cita-cita ingin menolong manusia manusia lain, cita-cita ingin manunggal dengan Tuhan. Cita-cita ingin berbakti kepada bangsa dan negara, cita-cita berdasarkan kasih sayang dan sejenis itu menjadi sumber fokus ketika hendak memasuki meditasi. Secara fisik ada yang berusaha “ mengosongkan pikiran “ dengan memfokuskan kepada “ bunyi nafas diri sendiri “ ketika awal meditasi, atau ada juga yang menfokuskan kepada nyala lilin atau ujung hidung sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika proses meditasi yang saya lukiskan tersebit diatas dapat anda lakukan dengan tepat, maka anda dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam pengertian spiritual, yang akibatnya pasti baik untuk diri anda sendiri, mungkin juga bermanfaat untuk manusia lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sesuatu itu jangan dijadikan tujuan meditasi, karena hasil sesuatu itu adalah hasil proses meditasi, bukan tujuan meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika dalm proses tersebut pikiran anda belum dapat anda “ kuasai atau hilangkan “ janganlah putus asa atau berhenti, tetapi juga memaksakan diri secara keterlaluan. Pengembangan selanjutnya dari proses meditasi tersebut, anda sendiri yang akan menemukan dan meneruskannya, karena berciri sangat pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk dapt berhasil anda sangat perlu memiliki motivasi yang cukup pekat dan dalam, sehingga dengan tiada terasa anda akan bisa khusuk dalam keheningan bermeditasi. Jika menemui sesuatu, apakah itu cahaya atau suara atau gambaran-gambaran, jangan berhenti, teruskan meditasi anda. Pengalaman sesudah keadaan demikian, hanya andalah yang dapat mengetahui dan merasakannya, karena tiada kata kalimat dalam semua bahas bumi yang dapat menerangkan secara gamblang. Dalam keadaan demikian anda tidak lagi merasa lapar, mengantuk bahkan tidak mengatahui apa-apa lagi, kecuali anda tersadar kembali. Biasanya intuisi anda akan lebih tajam sesudah mengalami proses meditasi yang demikian itu, dan mungkin pula memperoleh “ pengetahuan “ tentang alam semesta atau lainnya.  &lt;br /&gt;    Di dalam serat Wulang Reh, karya "kasusastran" Jawa (dalam bentuk syair) yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Paku Buono IV, terdapat juga ajaran untuk hidup secara asketik, dengan mana usaha menuju kasampurnaning urip&lt;br /&gt;    Pada gulangen ing kalbu ing sasmita amrih lantip aja pijer mangan nendra kaprawiran den kaesti pesunen sarira nira sudanen dhahar lan guling (Intinya, orang harus melatih kepekaan hati agar tajam menangkap gejala dan tanda-tanda. termasuk ajaran tak boleh mengumbar nafsu makan serta tidur).  &lt;br /&gt;    SAMADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Samadi berasal dari kata : Sam artinya besar dan Adi artinya bagus atau indah. Seseorang yang melakukan samadi adalah seseorang yang mengambil posisi-patrap untuk meraih budi yang besar, indah dan suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Budi suci adalah budi yang diam tanpa nafsu, tanpa keinginan dan pamrih apapun. Inilah kondisi suwung ( kosong ) tetapi sebenarnya ada aktifitasdari getaran hidup murni murni sebagai sifat-sifat hidup dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Budi suci terlihat seperti cahaya atau sinar yang disebut Nur, Nur itu adalah hati dari budi. Kesatuan dari budi dan nur secara mistis disebut curigo manjing warongko atau bersatunya kawula dan Gusti atau juga biasa digambarkan Bima manunggal dengan Dewa Ruci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Istilah lainnya ialah Pangrucatan atau Kamukswan, pangrucatan itu arinya dilepas, apa yang dilepas ? pengaruh dari nafsu . mukswa artinya dihapus, apa yang dihapus ? pengaruh dari nafsu, oleh karena itu samadi adalah satu proses dari penyucian budi, budi menjadi nur. Di dalam nur ini, kawula bisa berkomunikasi dengan Gusti untuk menerima tuntunan sesuai dengan kedudukannya sebagai kawula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Praktek Samadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Waktu bersamadi orang bisa mengambil posisi duduk atau tidur telentang diatas tempat tidur. Pilihlah tempat yang bersih, tenang dan aman, bernafaslah dengan santai, pada posisi tidur kaki diluruskan, kedua tangan diletakkan didada. Dengarkanlah dengan penuh perhatian suara nafas dengan tenang, menghirup dan mengeluarkan udara melalui hidung. Ini akan membuat pikiran menjadi tidak aktif. Nikmatilah suara nafas dengan jalan menutup mata, ini sama seperti kalau memusatkan pandangan kepada pucuk hidung. Dengan melakukan ini, pikiran dinetralisir demikian juga angan-angan dan pengaruh panca indera. Sesudah itu nafsu dinetralisir didalam indera ke enam. Bila berhasil orang akan berada dalam suwung dan nur mendapatkan tuntunan mistis yang simbolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Manusia dicaptakan oleh Tuhan, manusia adalah makluk yangmempunyai :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.      Badan jasmani – badan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.      Badan jiwa – badan alus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3.      Badan cahaya – nur atau suksma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan susunan seperti tersebut diatas, diharapkan akan mampu mengetahui “ Sangkan Paraning Dumadi “ ( makna perjalanan kehidupan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Memahami Jagad Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebelum adanya jagad raya, tidak ada apa-apa kecuali kekosongan dan suwung. Didalam suwung terdapat sifat-sifat hidup dari Tuhan, jagad raya adalah suatu Causa prima. Sifat-sifat hidup Tuhan terasa seperti getaran dan getaran ini terus menerus. Ada tiga elemen yang terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.      Elemen merah dengan sinar merah, ini panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.      Elemen biru dengan sinar biru, ini dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3.      Elemen kuning dengan sinar kuning, ini menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Elemen-elemen ini selalu bergetar. Sebagai hasil dari perpaduan ketiga elemen tersebut, elemen  ke empat lahir dengan warna putih atau putih keperak-perakan dan inilah yang disebut nur. Nur itu adalah sari dari jagad raya, ada yang menjadi calon planet, ada yang menjadi badan budi atau jiwa yaitu badan jiwa dari manusia, ketika nur  menjadi sari dari badan jasmani manusia. Itu artinya didalam jagad raya dan galaksi akan selalu dilahirkan planet-planet dan bintang-bintang baru. Kondisi dari plenet-planet yang baru dilahirkan bisa berbeda antara yang satu dengan yang lain, karena tergantung kepada pengaruh dari tiga elemen tersebut, ada planet yang bisa dihuni dan yang tidak bisa dihuni.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Miyos saking renteging hawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ambedah anggit prayitnaing pikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    sesumeh bayu ayuning asih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    njembari pajar latuning titah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ilang lunganing ngawang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    nemoni asrep reseping wening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ono sanepa kagem pepiling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wong kang ambudi daya kalawan anglakoni tapa utawa semedi kudu kanthi kapracayan kang nyukupi apa dene serenging lan kamempengan anggone nindhakake. Atine kudu santosa temenan supaya wong kang nindhakake sedyane mau ora nganti kadadeyan entek pengarep-arepe yen kagawa saka kuciwa dening kahanane badane, wong mau kudu nindakake pambudi dayane luwih saka wewangening wektu saka katamtuwaning laku kang dikantekake marang sawiji-wijining mantram lan ajaran ilmu gaib awit gede gedening kagelan iku ora kaya wong kang gagal enggone nindakake lakune rasa kuciwa kang mangkono iku nuwuhake prihatin lan getun, nganti andadekake ciliking ati lan enteking pangarep-arep. Sawise wong mau entek pangarep arepe lumrahe banjur trima bali bae marang panguripan adat sakene mung dadi wong lumrah maneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kawruhana wong kang lagi miwiti ngyakinake ilmu gaib sok sok dheweke iku mesthi nemoni kagagalan kagagalan kang nuwuhake rasa kuciwa. Sawijining wewarah kang luwih becik tumrap wong kang lagi nglakoni kasutapan iya iku ati kang teguh santosa aja kesusu-susu lan aja bosenan ngemungake wong kang anduweni katetepan ati lan santosaning sedya sumedya ambanjurake ancase iya iku wong kang bakal kasembadan sedyane. Wong ngyakinake prabawa gaib iku anduweni kekarepan supaya dadi wong lanang temenan kang diendahake dening wong akeh, iya anaa ing ngendi wae enggone nyugulake dirine, Amarehe diwedeni ing wong akeh panguwuhe gawe kekesing wong yen anyentak dadi panggugupake lan gawe gemeter dirine, ditrisnani ing wong akeh pitembungane digatekake lan pakartine diluhurake ing wong akeh, iya pancen nyata wong liyane mesthi tunduk marang sawijining wong kang ahli ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wong ahli kasutapan tansah yakin enggone ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem dhirine. Ana paedahe kang migunani banget manawa wong nindakake pambudi daya kalawan misah dheweke ana ing papan kang sepi karana tinimune kekuwatan gaib iku sok-sok tinemu dhewekan ana ing sepen. Wong ahli kasutapan kudu budidaya bisane nglawan marang nepsune kekarepan umum (kekarepan wong akeh kang campur bawur ngumandang ana ing swasana), kalawan tumindak mangkono wong ahli kasutapan mau dadi nduweni pikiran-pikiran kang mardhika, iya pikiran-pikiran kang mangkono iku kang bisa nekakake kasekten gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sangsaya akeh kehing kang kena tinides, uga sangsaya gedhe tumandhoning kekuwatan gaib kang kinumpulake. Kekuwatan gaib iku tansah makarti tanpa kendhat enggone mujudake sedya lan nganakake kekarepan. Wong ahli kasutapan kudu anduweni ati kang tetep lan kekarepan kan dereng, kalawan ora maelu marang anane pakewuh pakewuhe lan kagagalan-kagagalaning. Kasekten iku kaperang ana rong warna, iya iku kasekten putih (Witte magie/white magic) utawa kasekten ireng (Zwarte magie/Black Magic). Awit saka anane perangan mau banjur dadi kanyatan yen perangan kang sawiji iku becik, dene perangan liyane ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kasekten putih iku satemene ilmu Allah Kang Maha Luhur wis mesthi bae kapigunakake mligi kanggo kaslametane wong akeh. Dene kasekten ireng iku ilmu kaprajuritan kang kapigunakake luwih-luwih kanggo nelukake kalayan paripaksa, sarta bakal anjalari kacilakaning wong liya. Ananing sakaro karone saka sumber ilmu Allah sarta sakaro karane iku padha dipigunakake kalawan atas asma Allah. Tinemune ilmu-ilmu kasekten iki saranane kalawan kekuwataning pikiran pikiran iku manawa kagolongake meleng sawiji bisa nuwuhake kekuwatan kaya panggendeng kang rosa banget tumrap marang apa bae kang dipikir lan disedya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wong kang nglakonitapa kalawan nindakake laku-laku kang tinemtokake wis mesthi bae gumolonging pikirane bebarengan padha kumpul dadi siji sarta katujokake marang apa kang disedya kalawan mangkono iku kekuwatan daya anarik migunakake sarosaning kekuwatane banjur anarik apa kang dikarepake. Swasana kang katone kaya dene kothong bae iku satemene ana drate rupa-rupa kayata : geni murub emas kayu lemah waja, electrieiteit zunrstof koolzunr sarpaning Zunr lan isih akeh liya-liyane maneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Samengko umpamane ban ana sawijining wong kang lagi tapa kalawan duwe sedya supaya andarbeni daya prabawa kang luwih gedhe sarta anindakake sakehing kekuwatan pikiran kalawan ditujokake marang sedyane mau nganti nuwuhake daya prabawa. Kekuwataning daya anarik saka pikiran iku banjur anarik dzat ing swasana kang pinuju salaras karo daya prabawa mau kalawan saka sathithik sarta sareh dzat daya prabawa kang ing swasana iku katarik mlebu ing dalem badane wong kang lagi tapa mau. Kalawan mangkono dzat "prabawa" iku dadi kumpul ing dalem badane wong narik dzat iku nganti tumeka wusanane badane wong ahli tapa, iku bisa metokake daya prabawa kang gedhe daya karosane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wong kang andarbeni ilmu kang mangoko iku dadi sawijining wong kang sakti mandraguna. Tumrap wong-wong kang nglakoni tapa ditetepake pralambang telu : Diyan, Jubah lan Teken. Diyan minangka pralambanging pepadhang, tumrap kahanan kang umpetan utawa gaib. Jubah minangka dadi pralambange katentremaning ati kang sampurna, dene teken minangka dadi pralambanging kekuwatan gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ing dalem sasuwene wong nglakoni tapa iku prelu banget kudu migateake marang sirikane, kayata : wedi, nepsu, sengit, semang-semang lan drengki. Rasa wedi iku sawijining pangrasa kang luwih saka angel penyegahe. Menawa isih kadunungan rasa wedi ing dalem atine wong ora bakal bisa kasambadan apa kang disedyaak. Kalawan "rasa wedi" iku atining wong dadi ora bisa anduweni budi daya apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sajrone nglakoni tapa utawa salagine ngumpulake kekuwatan gaib, atining wong iku mesthi kudu tetep tentrem lan ayem sanadyan ana kadadeyan apa wae. Manawa atine wong iku nganti gugur, kasutapan iya uga dadi gugur lan kudu lekas wiwit maneh. Gegeman kalawan wadi sakehing ilmu gaib lkang lagi pinarsudi, luwih becik murih nyataning kasekten tinimbang karo susumbar kalawan kuwentos kayakenthos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Nepsu" iku andadekake tanpa dayane kekuwataning batin. "Semang-semang" iku andadekake ati kang peteng ora padhang terang. "Sengit utawa drengki" iku uga dadi mungsuhing kekuwatan gaib. Wong kang lagi nindakake katamtuwan ing dalem kasutapan kudu kalawan ati kang sabar anteng lan tetep. Patrapebadan kang kaku lan kagugupan kudu didohake .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Aja sok singsot&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Aja duwe lageyan sok nethek nethek kalawan driji tangan marang meja kursi utawa papan liyane.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Aja ngentrok-entrokake sikil munggah mudhun.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Aja sok anggigit kukuning dariji tangan.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Aja mencap-mencepake lambe.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Aja molahake lidhah lan andhilati lambe.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Aja narithilake kedheping mata.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ngedohake sakehing saradan utawa bendana kang ora becik, kayata glegak-glegek molah-molahake sirah, kukur-kukur sirah, ngangkat pundhak lan liya-liyane sabangsane saradan kabeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Satemene perlu banget nyirnakake kekarepan "drengki" luk wit ngrasaning karep drengki iku banget nindhih marang diri pribadi. Ana maneh "drengki" iku kaya anggawa sawijining pikulan abot kang tansah nindhes marang dhiri lan sarupa ana barang atos medhokol kang angganjel pulung ati. "Drengki lan meri" iku mung anggawa karugiyan bae tumrap kita, ora ana gunane sathithik -thithika. Salawase wong isih anduweni pangrasan karep "drengki lan meri" iku ora bakal bisa tumeka kamajuwane tumrap dunya prabawaning gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ora mung tumindak bae tumrap sawijining wong bae bisa maluyakake wong liya kalawan kekuwatan gaib nanging uga tumindak tumrap sawijining wong maluyakake dhiri pribadi kalawan kekuwatan iku. Bisane maluyakake larane wong liya, mesthine kudu ngirima kekuwatan waluya marang sajroning badane wong kang lara. Manawa wong gelem naliti yen wong iku bisa ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem badane dhewe lan ngetokake sabageyan kekuwatan gaib kawenehake marang wong liyane mestheni uwong bisa ngreti yen arep migunakake kekuwatan iku nganggo paedahe dhiri dhewe uga luwih gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Supaya bisa nindhakake pamaluya marang dhirine dhewe kalawan sampurna wong ngesthi kudu mahamake cara-carane maluyakake panyakit. Iya iku cara-cara kang katindakake kanggo maluyakake wong liya lan wusanane ambudidaya supaya bisa migunakake obah-obahan iku marang awake dhewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kawitane wong kudu nindakake patrape mangreh napas, kanggo negahake asabat. Dene carane ngatur napas iku kaprathelakake kalayan ringkes kaya ing ngisor iki :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Madika panggonan kang sepi.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Lungguha ing sawijining palinggihan kang endhek lan kepenak, sikil karo pisan tumapak ing lemah.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Badan kajejegake lan janggute diajokake.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Benik-beniking klambi kang kemancing padha kauculan, sabuk uga diuculi supaya sandangan dadi longgar lan kepenak kanggo tumindhak ing napas.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pikiran katarik mlebu, supaya luwar saka sakehing geteran pikiran kaya saka ing jaba.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sakehing urat-urat kakendokake.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Banjur narika napas kalawan alon lan nganti jero banget tahanen napas iku sawatara sekon/detik (kira-kira 6 detik) lan wusanane wetokna napas iku kalawan sareh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anujokna gumolonging pikiran kalawan ngetut marang napas kang mlebu metu iku kalawan giliran. Cara nindakake napas kaya ing ngisor iki :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Narik napas kalawan alon lan nganti jero ing sabisane, nganti dhadha mekar lan weteng dadi nglempet.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Nahan napas iku kira-kira nem saat utawa luwih suwe ing dalem paru-paru dhadhane cikben lestari mekare, lan wetenge cikben lestaringlempetake kalawan mangkono iku gurung dalaning napas tansah tetep menga.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ambuangna napas kalawan alon nganti entek babar pisan nganti dhadha dadi kempes, lan weteng dadi mekar.&lt;br /&gt;        *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Banjurna marambah-rambah matrapake mangkono iku suwene kira-kira saka lima tumeka limolas menit utawa luwih suwe nganti bisa nemoni pangrasa anteng lan tentrem ing sajroning badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Carane matrapake kasebut ing dhuwur iku sawijining cara kanggo napakake napas, iki kena lan kudu ditindakake saben dina telung rambahan, dening sapa bae kang nglakoni tapa supaya oleh ilmu gaib. Daya kang luwih bagus iya iku miwiti makarti miturut pituduhan. Aja weya nindakake patrap kanggo napakake napas iku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cara matrapake tumindaking napas iku kena uga ditindakake kalayan leyeh-leyeh mlumah : ngendokake sakabehing urat-urat nyelehake tangan karo pisan sadhuwuring weteng lan nindakake lakuning napas miturut aturan. Daya ngisekake Prana Ngadeg kalawan jejeg sikil karo pisan kapepetake dadi siji lan driji -drijining tangan karo pisan dirangkep dadi siji kalawan longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Banjur matrapa lakuning napas sawatara rambahan miturut aturan. Gawe segering utek lungguha kalawan jejeg lan nyelehna tangan karo pisan ing sandhuwuring pupu kiwa tengen: mripat mandheng marang arah ing ngarep kalawan tetep: sikil karo pisan tumadak ing lemah. Kalawan jempol tangan tengen anutup lenging grana sisih tengen lan anarika napas liwat lenging grana sisih kiwa, wusana nglepasake jempol iku banjur ambuwang napas lan nutupa lenging grana kiwa kalawan driji narika napas liwat lenging grana tengen, lepasna driji panutup iku lan ambuwanga napas. Mangkono sabanjure kalawan genti-genten kiwa lan tengen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3645670395445645897?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3645670395445645897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3645670395445645897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3645670395445645897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3645670395445645897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/olah-bathin_18.html' title='Olah Bathin'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-5668360953994752426</id><published>2007-11-18T13:16:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T16:23:32.507-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>SERAT JOKO LODANG</title><content type='html'>Gambuh&lt;br /&gt;    1. Jaka Lodang gumandhul&lt;br /&gt;    Praptaning ngethengkrang sru muwus&lt;br /&gt;    Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi&lt;br /&gt;    Gunung mendhak jurang mbrenjul&lt;br /&gt;    Ingusir praja prang kasor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon&lt;br /&gt;    kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.&lt;br /&gt;    Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan&lt;br /&gt;    bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah&lt;br /&gt;    sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan&lt;br /&gt;    (akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.Nanging awya kliru&lt;br /&gt;    Sumurupa kanda kang tinamtu&lt;br /&gt;    Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti&lt;br /&gt;    Maksih katon tabetipun&lt;br /&gt;    Beda lawan jurang gesong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.&lt;br /&gt;    Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung&lt;br /&gt;    akan tetap masih terlihat bekasnya.&lt;br /&gt;    Lain sekali dengan jurang yang curam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3. Nadyan bisa mbarenjul&lt;br /&gt;    Tanpa tawing enggal jugrugipun&lt;br /&gt;    Kalakone karsaning Hyang wus pinasti&lt;br /&gt;    Yen ngidak sangkalanipun&lt;br /&gt;    Sirna tata estining wong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,&lt;br /&gt;    namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.&lt;br /&gt;    (Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.&lt;br /&gt;    Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik&lt;br /&gt;    tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).&lt;br /&gt;    Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan&lt;br /&gt;    akan terjadi pada tahun Jawa 1850.&lt;br /&gt;    (Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).&lt;br /&gt;    Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sinom&lt;br /&gt;    1. Sasedyane tanpa dadya&lt;br /&gt;    Sacipta-cipta tan polih&lt;br /&gt;    Kang reraton-raton rantas&lt;br /&gt;    Mrih luhur asor pinanggih&lt;br /&gt;    Bebendu gung nekani&lt;br /&gt;    Kongas ing kanistanipun&lt;br /&gt;    Wong agung nis gungira&lt;br /&gt;    Sudireng wirang jrih lalis&lt;br /&gt;    Ingkang cilik tan tolih ring cilikira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,&lt;br /&gt;    apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,&lt;br /&gt;    segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,&lt;br /&gt;    karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.&lt;br /&gt;    Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.&lt;br /&gt;    Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,&lt;br /&gt;    sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2. Wong alim-alim pulasan&lt;br /&gt;    Njaba putih njero kuning&lt;br /&gt;    Ngulama mangsah maksiat&lt;br /&gt;    Madat madon minum main&lt;br /&gt;    Kaji-kaji ambataning&lt;br /&gt;    Dulban kethu putih mamprung&lt;br /&gt;    Wadon nir wadorina&lt;br /&gt;    Prabaweng salaka rukmi&lt;br /&gt;    Kabeh-kabeh mung marono tingalira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.&lt;br /&gt;    Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.&lt;br /&gt;    Banyak ulama berbuat maksiat.&lt;br /&gt;    Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.&lt;br /&gt;    Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.&lt;br /&gt;    Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.&lt;br /&gt;    Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3. Para sudagar ingargya&lt;br /&gt;    Jroning jaman keneng sarik&lt;br /&gt;    Marmane saisiningrat&lt;br /&gt;    Sangsarane saya mencit&lt;br /&gt;    Nir sad estining urip&lt;br /&gt;    Iku ta sengkalanipun&lt;br /&gt;    Pantoging nandang sudra&lt;br /&gt;    Yen wus tobat tanpa mosik&lt;br /&gt;    Sru nalangsa narima ngandel ing suksma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.&lt;br /&gt;    Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;    Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).&lt;br /&gt;    Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.&lt;br /&gt;    Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri&lt;br /&gt;    kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Megatruh&lt;br /&gt;    1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu&lt;br /&gt;    Jaka Lodang nabda malih&lt;br /&gt;    Nanging ana marmanipun&lt;br /&gt;    Ing waca kang wus pinesthi&lt;br /&gt;    Estinen murih kelakon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.&lt;br /&gt;    Kemudian Joko Lodang berkata lagi :&lt;br /&gt;    "Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,&lt;br /&gt;    didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya&lt;br /&gt;    segera dan dapat terjadi ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun&lt;br /&gt;    Neng sajroning madya akir&lt;br /&gt;    Wiku Sapta ngesthi Ratu&lt;br /&gt;    Adil parimarmeng dasih&lt;br /&gt;    Ing kono kersaning Manon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.&lt;br /&gt;    Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).&lt;br /&gt;    Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.&lt;br /&gt;    Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk&lt;br /&gt;    Malenuk samargi-margi&lt;br /&gt;    Marmane bungah kang nemu&lt;br /&gt;    Marga jroning kethuk isi&lt;br /&gt;    Kencana sesotya abyor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil)&lt;br /&gt;    yang berada banyak dijalan.&lt;br /&gt;    Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut&lt;br /&gt;    isinya tidak lain emas dan kencana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-5668360953994752426?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/5668360953994752426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=5668360953994752426' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5668360953994752426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5668360953994752426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/serat-joko-lodang.html' title='SERAT JOKO LODANG'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-6464044673567359363</id><published>2007-11-18T13:14:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:15:45.228-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>SERAT SABDO JATI</title><content type='html'>Megatruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu&lt;br /&gt;    MarGAne suka basuki&lt;br /&gt;    Dimen luWAR kang kinayun&lt;br /&gt;    Kalising panggawe SIsip&lt;br /&gt;    Ingkang TAberi prihatos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,&lt;br /&gt;    agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,&lt;br /&gt;    terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh&lt;br /&gt;    Galedehan kang sayekti&lt;br /&gt;    Talitinen awya kleru&lt;br /&gt;    Larasen sajroning ati&lt;br /&gt;    Tumanggap dimen tumanggon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,&lt;br /&gt;    intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,&lt;br /&gt;    agar mudah menanggapi sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu&lt;br /&gt;    Angayomi ing tyas wening&lt;br /&gt;    Eninging ati kang suwung&lt;br /&gt;    Nanging sejatining isi&lt;br /&gt;    Isine cipta sayektos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,&lt;br /&gt;    mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong&lt;br /&gt;    namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4. Lakonana klawan sabaraning kalbu&lt;br /&gt;    Lamun obah niniwasi&lt;br /&gt;    Kasusupan setan gundhul&lt;br /&gt;    Ambebidung nggawa kendhi&lt;br /&gt;    Isine rupiah kethon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.&lt;br /&gt;    Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)&lt;br /&gt;    akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,&lt;br /&gt;    yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.&lt;br /&gt;    5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu&lt;br /&gt;    Dadi panggonaning iblis&lt;br /&gt;    Mlebu mring alam pakewuh&lt;br /&gt;    Ewuh mring pananing ati&lt;br /&gt;    Temah wuru kabesturon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,&lt;br /&gt;    sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,&lt;br /&gt;    seolah-olah mabuk kepayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu&lt;br /&gt;    Hayuning tyas sipat kuping&lt;br /&gt;    Kinepung panggawe rusuh&lt;br /&gt;    Lali pasihaning Gusti&lt;br /&gt;    Ginuntingan dening Hyang Manon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan&lt;br /&gt;    yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,&lt;br /&gt;    sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.&lt;br /&gt;    Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7. Parandene kabeh kang samya andulu&lt;br /&gt;    Ulap kalilipen wedhi&lt;br /&gt;    Akeh ingkang padha sujut&lt;br /&gt;    Kinira yen Jabaranil&lt;br /&gt;    Kautus dening Hyang Manon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,&lt;br /&gt;    tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga&lt;br /&gt;    yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh&lt;br /&gt;    Kewuhan sajroning ati&lt;br /&gt;    Yen tiniru ora urus&lt;br /&gt;    Uripe kaesi-esi&lt;br /&gt;    Yen niruwa dadi asor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran&lt;br /&gt;    melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan&lt;br /&gt;    tercela akhirnya menjadi sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung&lt;br /&gt;    Anggelar sakalir-kalir&lt;br /&gt;    Kalamun temen tinemu&lt;br /&gt;    Kabegjane anekani&lt;br /&gt;    Kamurahane Hyang Manon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan&lt;br /&gt;    langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan&lt;br /&gt;    kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun&lt;br /&gt;    Yen temen-temen sayekti&lt;br /&gt;    Dewa aparing pitulung&lt;br /&gt;    Nora kurang sandhang bukti&lt;br /&gt;    Saciptanira kelakon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.&lt;br /&gt;    Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi&lt;br /&gt;    segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur&lt;br /&gt;    Saka pengunahing Widi&lt;br /&gt;    Ambuka warananipun&lt;br /&gt;    Aling-aling kang ngalingi&lt;br /&gt;    Angilang satemah katon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung&lt;br /&gt;    yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    12. Para jalma sajroning jaman pakewuh&lt;br /&gt;    Sudranira andadi&lt;br /&gt;    Rahurune saya ndarung&lt;br /&gt;    Keh tyas mirong murang margi&lt;br /&gt;    Kasekten wus nora katon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,&lt;br /&gt;    cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,&lt;br /&gt;    makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan&lt;br /&gt;    diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    13. Katuwane winawas dahat matrenyuh&lt;br /&gt;    Kenyaming sasmita sayekti&lt;br /&gt;    Sanityasa tyas malatkunt&lt;br /&gt;    Kongas welase kepati&lt;br /&gt;    Sulaking jaman prihatos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,&lt;br /&gt;    senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    14. Waluyane benjang lamun ana wiku&lt;br /&gt;    Memuji ngesthi sawiji&lt;br /&gt;    Sabuk tebu lir majenum&lt;br /&gt;    Galibedan tudang tuding&lt;br /&gt;    Anacahken sakehing wong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877&lt;br /&gt;    (Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).&lt;br /&gt;    Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,&lt;br /&gt;    hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu&lt;br /&gt;    Kala Suba kang gumanti&lt;br /&gt;    Wong cilik bisa gumuyu&lt;br /&gt;    Nora kurang sandhang bukti&lt;br /&gt;    Sedyane kabeh kelakon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.&lt;br /&gt;    Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan&lt;br /&gt;    seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput&lt;br /&gt;    Mulur lir benang tinarik&lt;br /&gt;    Nanging kaseranging ngumur&lt;br /&gt;    Andungkap kasidan jati&lt;br /&gt;    Mulih mring jatining enggon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sayang sekali "pengelihatan" Sang Pujangga belum sampai selesai,&lt;br /&gt;    bagaikan menarik benang dari ikatannya.&lt;br /&gt;    Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir&lt;br /&gt;    datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    17.Amung kurang wolung ari kang kadulu&lt;br /&gt;    Tamating pati patitis&lt;br /&gt;    Wus katon neng lokil makpul&lt;br /&gt;    Angumpul ing madya ari&lt;br /&gt;    Amerengi Sri Budha Pon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,&lt;br /&gt;    kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.&lt;br /&gt;    18. Tanggal kaping lima antarane luhur&lt;br /&gt;    Selaning tahun Jimakir&lt;br /&gt;    Taluhu marjayeng janggur&lt;br /&gt;    Sengara winduning pati&lt;br /&gt;    Netepi ngumpul sak enggon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tanggal 5 bulan Sela&lt;br /&gt;    (Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,&lt;br /&gt;    Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)&lt;br /&gt;    kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan&lt;br /&gt;    sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.&lt;br /&gt;    19. Cinitra ri budha kaping wolulikur&lt;br /&gt;    Sawal ing tahun Jimakir&lt;br /&gt;    Candraning warsa pinetung&lt;br /&gt;    Sembah mekswa pejangga ji&lt;br /&gt;    Ki Pujangga pamit layoti&lt;br /&gt;    Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.&lt;br /&gt;    (Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-6464044673567359363?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/6464044673567359363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=6464044673567359363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6464044673567359363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/6464044673567359363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/serat-sabdo-jati.html' title='SERAT SABDO JATI'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-1128158491562786320</id><published>2007-11-18T13:13:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:14:19.298-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Jaman Reformasi</title><content type='html'>Bangsa Nusantara setelah melalui jaman orde lama, lalu&lt;br /&gt;    orde baru, disusul dengan reformasi, yang lalu&lt;br /&gt;    menghasilkan jaman repot nasi. Saat reformasi,&lt;br /&gt;    berbagai usaha intensif dilakukan untuk merendahkan&lt;br /&gt;    ”gunung” agar dapat ”jurang” yang dalam tampil&lt;br /&gt;    kepermukaan. Tapi tentu harus direnungkan dengan&lt;br /&gt;    seksama, walau bagaimanapun gunung direndahkan, selalu&lt;br /&gt;    tetap ada bekasnya. Beda dengan jurang yang curam,&lt;br /&gt;    walau dia dapat melembung, namun kalau tak ada tanggul&lt;br /&gt;    yang kuat, tentu sangat rawan dan mudah longsor.&lt;br /&gt;    Kejadian ini terlaksana juga karena kehendaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekarang dapat kita rasakan, bahwa reformasi yang&lt;br /&gt;    didengungkan oleh Sangkuni hanya membawa kita ke masa&lt;br /&gt;    repot nasi. Seluruh kehendak, cita-cita, visi misi,&lt;br /&gt;    yang selalu dikoar-koarkan Sangkuni Sang Profesor Provokator&lt;br /&gt;    didukung oleh Brahmana Buta Mata dan Hati, rasanya&lt;br /&gt;    tidak ada yang terwujud. Apa yang dicita-citakan buyar&lt;br /&gt;    semua, dan yang dirancang hancur lebur, bahkan sang&lt;br /&gt;    provokator sekarang malah kabur.Segalanya salah&lt;br /&gt;    perhitungan, ingin menang malah jadi kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jaman report nasi, di pimpin raja plintat plintut dan&lt;br /&gt;    dikerubut oleh nayapraja sodagar, yang berprinsip&lt;br /&gt;    bersama kita bisa kaya. Mantri-mantri diangkat hanya&lt;br /&gt;    karena jasa, bukan karena bisa. Jikalau sesuatu&lt;br /&gt;    urusan, diserahkan pada orang yang bukan ahlinya,&lt;br /&gt;    tinggal tunggu kehancuran pasti kan menjelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kutukan berat Sang Pencipta Alam, mulai terasa, bumi&lt;br /&gt;    gonjang-ganjing, di masyarakat, sekarang tampak&lt;br /&gt;    hanyalah perbuatan-perbuatan tercela. Media massa –&lt;br /&gt;    koran, televisi, radio dan laen-laen, dihiasi hampir&lt;br /&gt;    setiap hari oleh perbuatan tidak senonoh. Orang besar&lt;br /&gt;    kehilangan kebesaran, lebih baik nama tercemar,&lt;br /&gt;    daripada ”mati” – hilang kedudukan. Lalu wong cilik&lt;br /&gt;    tidak mau mengerti akan keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Orang tampak alim, berlagak bak ulama, tetapi ternyata&lt;br /&gt;    hanya semu belaka. Diluar tampak beriman, namun dalam&lt;br /&gt;    hatinya seperti preman. Brahmana berbuat maksiat,&lt;br /&gt;    mengerjakan madat, madon, minum dan judi. Para haji&lt;br /&gt;    melempar sorbannya. Para wanita hilang kewanitaannya,&lt;br /&gt;    karena terkena pengaruh harta benda. Saat ini, harta&lt;br /&gt;    bendalah yang jadi tujuan. Semuanya&lt;br /&gt;    uang...uang...uang... dan uang. Di jaman repot nasi,&lt;br /&gt;    yang dihormati hanyalah harta benda. Oleh karena itu,&lt;br /&gt;    seluruh Nusantara menderita, kesengsaraan laksana&lt;br /&gt;    tiada batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jaman ini akan habis apabila semua sudah mulai&lt;br /&gt;    bertobat dan menyerahkan diri pada kuasa Sang Pencipta&lt;br /&gt;    Semesta. Memang sudah ditulis demikian, maka kita&lt;br /&gt;    harus mencamkan adanya hukum sebab akibat, dalam&lt;br /&gt;    ramalan yang sudah ditentukan, haruslah diupayakan&lt;br /&gt;    segera terjadi. Saya yakin, ada saatnya, akan ada&lt;br /&gt;    keadilan di antara sesama manusia, ingatlah akan hukum&lt;br /&gt;    karma, karena itu adalah hukum Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam menghadapi perubahan jaman, walau kita susah dan&lt;br /&gt;    repot mencari nasi, ditambah tipis&lt;br /&gt;    ”rasa” penguasa, ikut gila rasanya tidak tega, karena&lt;br /&gt;    masih ada nurani. Tapi kalau tidak ikut dinamika&lt;br /&gt;    jaman, malah jadi tak kebagian, bahkan jadi melarat.&lt;br /&gt;    Akan tetapi, sudahlah kita pasrah pada kehendak Gusti&lt;br /&gt;    Allah. Mari kita kuatkan keyakinan, bahwa&lt;br /&gt;    sebahagia-bahagianya orang yang lupa, akan lebih&lt;br /&gt;    bahagia nantinya orang yang tetap ”eling” dan selalu&lt;br /&gt;    ”waspada”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salam hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-1128158491562786320?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/1128158491562786320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=1128158491562786320' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1128158491562786320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1128158491562786320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/jaman-reformasi.html' title='Jaman Reformasi'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-2886635457108952657</id><published>2007-11-18T13:11:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:12:49.987-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Surat Untuk Sahabat "Maya" Di Belanda</title><content type='html'>Mas Heri Latif,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketika mas memberi semangat kepada saya untuk menulis pemikiran,&lt;br /&gt;    maka lahirlah tulisan Gunung Merapi Meletus Laharnya Berbau Amis.&lt;br /&gt;    Kita ingat, bahwa tulisan ini selesai, jauh sebelum Gunung Merapi&lt;br /&gt;    benar-benar meletus, dan laharnya berbau amis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya bukan ahli mistis atau punya kemampuan spiritual, tapi entah&lt;br /&gt;    kenapa pertanda-pertanda itu datang kepada saya. Karena pertanda-&lt;br /&gt;    pertanda itu, saya berusaha menelusuri jejak-jejaknya. Saya ikuti&lt;br /&gt;    suara hati, pergi ke desa Bambang Lipura bersemedi di Selo Gilang.&lt;br /&gt;    Sebelumnya saya tidak tahu dimana letak selo gilang itu, tapi&lt;br /&gt;    sepertinya saya ditarik dan ketika datang saya telah ditunggu oleh&lt;br /&gt;    Pak Hendro, Sang Juru Kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Oh ya, saat ini bambang lipura mengalami kerusakan hebat, dan&lt;br /&gt;    ternyata bangunan tempat batu itu, tetap berdiri kokoh, tidak ada&lt;br /&gt;    satu gentengpun yang roboh. Sementara bangunan di sebelahnya ambruk,&lt;br /&gt;    rata dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketika bersemedi di sana, di bawah bimbingan P'Hendro sang juru&lt;br /&gt;    kunci, saya memperoleh pertanda - bau harum semerbak melati.&lt;br /&gt;    Akhirnya saya lanjut menuju ke parangkusuma. Tempat kedua, menurut&lt;br /&gt;    buku, yang harus saya kunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sesampai di parangkusuma, malam hari, saya bersemedi di tepi pantai,&lt;br /&gt;    gemuruh ombak luar biasa, gelap mencekam. Pada saat itu saya pasrah,&lt;br /&gt;    karena kalau sampai dapat pertanda, maka saya harus pergi ke Gua&lt;br /&gt;    Langse. Saya tidak terlalu berusaha mencari pertanda, tapi entah&lt;br /&gt;    dari mana, dalam plastik sisa kembang yang saya taburkan ke laut,&lt;br /&gt;    ternyata masih tersisa 2 buah bunga kantil. Oleh P'Hendro, sebelum&lt;br /&gt;    ke parangkusumo saya diceritakan, bahwa lambang pertemuan penguasa&lt;br /&gt;    laut selatan dan panembahan senopati adalah sepasang bunga kantil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pertanda itu, membawa saya pergi ke Gua Langse dekat parang teritis.&lt;br /&gt;    Jam sudah menunjukkan kira-kira pukul 11.30 malam. Tukang taksi tak&lt;br /&gt;    mau mengantar, begitu pula tukang ojek. Tapi setelah 4 tukang ojek,&lt;br /&gt;    ada tukang ojek kelima yang mau mengantar dengan biaya Rp.40.000&lt;br /&gt;    sekali jalan, bulak-balik 80.000, tapi tak mau menunggu. Jadi saya&lt;br /&gt;    beri 100.000, supaya dia mau menunggu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya ke gua langse, menempuh gelapnya malam, menelusuri jalan yang&lt;br /&gt;    tak pernah saya lalui, hanya keyakinan hati, bahwa saya sampai, itu&lt;br /&gt;    pasti. Berjalan di gelapnya malam, bukan untuk cari kuasa ataupun&lt;br /&gt;    mengejar harta benda, karena apa yang saya miliki sekarang sudah&lt;br /&gt;    cukup, sangat cukup. Tapi semata-mata mengikuti suara hati dan&lt;br /&gt;    pertanda-pertanda yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ternyata akhir jalan setapak itu adalah tebing curam vertikal, di&lt;br /&gt;    bawahnya debur ombak laut selatan. Lalu saya duduk di tengah ceruk&lt;br /&gt;    kecil di atas tebing, disanalah ketakutan mulai menyergap. Takut&lt;br /&gt;    yang luar biasa ... tapi bagaimana ? Berteriakpun percuma, saya&lt;br /&gt;    ambil napas, menenangkan hati, sambil berfikir, darimana rasa takut&lt;br /&gt;    itu datang. Perlahan-lahan saya mulai bisa menguasai perasaan saya.&lt;br /&gt;    Saya bisa duduk dengan tenang, mendengar tetes air yang berbunyi&lt;br /&gt;    sangat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sambil bersila saya memandang laut selatan di tengah malam, diiringi&lt;br /&gt;    debur ombak, di atas tebing sebagai pertanda menyatunya gunung dan&lt;br /&gt;    lautan. Di sana saya merasa, betapa kecilnya diri ini dibanding&lt;br /&gt;    kuasa Sang Maha Pencipta. Tidak seperti sebelumnya, saya&lt;br /&gt;    sering "bicara" tentang kekuasaan Tuhan, hanya dimulut saja. Tapi&lt;br /&gt;    saat itu, setelah lepas dari tekanan ketakutan, saya benar-benar me-&lt;br /&gt;    "rasa"-kan kebesaranNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada saat pulang, hanya ditemani sinar rembulan yang redup, saya&lt;br /&gt;    melangkahkan kaki dengan ringan. Tanpa beban, karena saya telah&lt;br /&gt;    berusaha untuk mengikuti "suara hati" saya, untuk pergi ke tempat-&lt;br /&gt;    tempat yang jadi pertanda. Sampai di Melia Purosani, waktu kira-kira&lt;br /&gt;    jam 2.30 pagi, dengan sepatu penuh lumpur. Rangkaian pertemuan&lt;br /&gt;    dengan orang-orang di tempat itu, menjadi inspirasi tulisan Gunung&lt;br /&gt;    Merapi Meletus Laharnya Berbau Amis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rangkaian pertanda, membawa pada pertanda terakhir, Gunung Merapi&lt;br /&gt;    Meletus Laharnya Berbau Amis. Benar sudah gunung merapi meletus, dan&lt;br /&gt;    amis darah tercecer di tubuh yang tertimpa bangunan. Perlambang Amis&lt;br /&gt;    dikaitkan gempa jadi cukup tepat, karena kalau terkena wedhus&lt;br /&gt;    gembel, bukan amis yang muncul, melainkan bau gosong. Lalu secara&lt;br /&gt;    fisik, debu merapi menempel di daunan - apabila terkena air, akan&lt;br /&gt;    menyebabkan bau amis yang sulit hilang. Jikalau hujan datang, maka&lt;br /&gt;    akan tambah celaka, racun itu akan mengambil korban lebih banyak&lt;br /&gt;    lagi di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebenarnya ada pertanda lain, setelah Gunung Merapi Meletus,&lt;br /&gt;    Laharnya berbau Amis. Pertanda-pertanda itu adalah Solusi untuk&lt;br /&gt;    menghadapi kekacauan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya sudah ikuti pertanda itu, juga jauh sebelum gunung merapi&lt;br /&gt;    meletus. Saya ketemu mbah marijan, disuruhnya saya pergi ke Bali.&lt;br /&gt;    Lalu saya ke bali, bersemedi di pura blatung, pura melanting, pura&lt;br /&gt;    pulaki, pura kerta kawat. Dapat petunjuk lalu saya ke pura sakenan,&lt;br /&gt;    pura masceti, dari masceti saya pergi ke pura slukat. Dari pura&lt;br /&gt;    masceti itu, lalu saya pergi ke Uluwatu, yang suasananya sangat&lt;br /&gt;    mirip dengan Gua Langse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari Bali saya pergi ke Desa Ndlepih Tirtamaya. Disana ada Selo&lt;br /&gt;    Payung, tempat Panembahan Senopati bersemedi, dan menyusun rencana&lt;br /&gt;    agar bisa berkuasa jadi raja Tanah Jawa. Disana muncul informasi&lt;br /&gt;    tentang nama-nama beberapa danyang tanah jawa, yang akan mengobrak-&lt;br /&gt;    abrik tatanan lama, untuk disusun tatanan masyarakat baru, yang&lt;br /&gt;    lebih adaptif dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pertanda itu dimulai dengan kata-kata : Saya tahu tapi tidak tahu,&lt;br /&gt;    Saya tidak tahu, tapi sebenarnya saya tahu. Dan saya belum menemukan&lt;br /&gt;    benang merah bagaimana masyarakat dengan tatanan baru akan terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagaimana mas heri ? Apakah kita lanjutkan perjuangan ini ? Walau&lt;br /&gt;    ini terlihat bodoh, tapi karena satu pertanda dan disusul pertanda&lt;br /&gt;    lain telah terbukti, apakah kita harus abaikan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya butuh dukungan mas heri dan teman-teman dari Belanda, karena di&lt;br /&gt;    sana kekayaan sastra tanah nusantara berada. Saya membutuhkan&lt;br /&gt;    beberapa keping lagi, sehingga semua keping bisa berada pada&lt;br /&gt;    tempatnya, dan jadi benang merah yang cukup logis, agar kita siap&lt;br /&gt;    dengan perubahan yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu setelah itu, kita tunggu "seseorang" yang akan merekatkan&lt;br /&gt;    seluruh keping menjadi satu. Kita harus membantu dia, itu tugas kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Merdeka Tanah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ki Jero Martani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-2886635457108952657?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/2886635457108952657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=2886635457108952657' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2886635457108952657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/2886635457108952657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/surat-untuk-sahabat-maya-di-belanda.html' title='Surat Untuk Sahabat &quot;Maya&quot; Di Belanda'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-5660712769270949089</id><published>2007-11-18T13:09:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:10:53.754-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainnya'/><title type='text'>Memang Lidah Tak Bertulang</title><content type='html'>Memang lidah tak bertulang&lt;br /&gt;            Tak terbatas kata-kata&lt;br /&gt;            Tinggi gunung seribu janji&lt;br /&gt;            Lain dikata lain dihati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hidup ini tidak akan lama&lt;br /&gt;            Hanya sekejap saja&lt;br /&gt;            Mari kita korupsi bagi-bagi rejeki&lt;br /&gt;            Karena Nurani telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Reformasi Terseok-seok, tak Perlu&lt;br /&gt;    Cari Kambing Hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Denpasar (Bali Post) -&lt;br /&gt;    Kurang geregetnya reformasi yang sudah digulirkan cukup lama tak lain karena bangsa ini memang miskin dan tak punya uang yang cukup untuk melakukan pembangunan di berbagai bidang. ''Karena itu tak perlu mencari kambing hitam dalam soal ini,'' ujar Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Prof. Amien Rais saat acara pelantikan pengurus DPW PAN Bali di Kuta, Sabtu (24/6) kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kepengurusan DPW PAN periode 2005/2010 yang dilantik antara lain Ketua Cyril Raoul Hakim, Sekretaris Ali Gufron dan Made Aryasa sebagai bendahara. Kepengurusan dilengkap bidang-bidang. ''Pengurus dari luar banyak hadir karena kami juga menyelenggarakan pertemuan bisnis PAN di Bali,'' jelas Ketua DPP PAN Soetrisno Bachir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Amien Rais mengatakan pemerintah sebenarnya telah berupaya untuk membangun. Namun, berbagai musibah dan masalah menimpa negeri ini dalam dua tahun terakhir. Ini menyebabkan bukan saja pembangunan ekonomi jadi terpuruk juga sektor lain terkena seperti pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mantan Ketua MPR tersebut minta tak perlu mencari siapa salah dalam hal ini. Namun, dia mengajak semua pihak terus bekerja sama untuk membangun. ''Saya yakin kalau kita bekerja maksimal sesuai profesinya tentu tak lama lagi bangsa ini bisa bangkit,'' tandasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kepada kader-kadernya, Amien mengajak terus meningkatkan upaya-upaya untuk membangun dengan bekerja sama baik antarpartai maupun dengan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Partai selayaknya mengabdi dan membangun untuk bangsa. Melihat kader-kader muda yang memimpin partai ini, tokoh reformasi tersebut mengatakan optimis dalam pemilu mendatang bisa meningkatkan suaranya secara signifikan. Hal senada juga disampaikan Ketua DPP PAN Soetrisno Bachir yang secara tegas minta kadernya menjadi pioner dalam pembangunan di setiap daerah. Dengan berbekal kemampuan dan semangat dia yakin partainya akan mampu mendapat dukungan luas di masyarakat. Namun, Bachir mengingatkan jangan sampai ada pemaksaan, intimidasi terhadap masyarakat baik dalam membangun maupun berpolitik. (031)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-5660712769270949089?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/5660712769270949089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=5660712769270949089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5660712769270949089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/5660712769270949089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/memang-lidah-tak-bertulang.html' title='Memang Lidah Tak Bertulang'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-3394897942394075271</id><published>2007-11-18T13:07:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:08:12.909-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Kidung Purwajati</title><content type='html'>Kidungan Sunan Kalijaga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menghadapi jaman edan yang begitu menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, hidup serba tidak menentu, semuanya serba sulit menentukan sikap, serta tidak ada fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang benar dan kokoh, sebenarnya sudah diantisipasi oleh orang Jawa jauh hari sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang “ Waskita “ wong kang limpad ing budi (orang-orang yang mampu membaca tanda jaman )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Salah satu alternatif dari sumbangan sastra Jawa menghadapi jaman edan ialah membaca “ Kidung Rumekso Ing Wengi “ (KRIW), yang konon karya Sunan Kalijaga sehabis sembahyang malam, kidung ini sudah terkenal di wilayah Nusantara dan sering di nyayikan di pedesaan pada pertunjukkan ketoprak, wayang kulit dll atau peronda di malam hari yang sunyi. Bait yang utama dari KRIW itu sangat dikenal karena berisi mantra tolak balak, sedangkan bait selanjutnya yang berjumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bunyi kidung bait pertama itu sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bahasa jawa:                                                                                                                            Terjemahannya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ana kidung rumeksa ing wengi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Teguh hayu huputa ing lara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Luputa bilahi kabeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jin setan datan purun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gunaning wong luput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Geni atemah tirto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maling adoh tan ana ngarah ing mami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Guna duduk pan sirna&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada nyanyian yang menguasai malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kukuh selamat terbebas dari penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Terbebas dari semua malapetaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jin setan jahatpun tidak berkenan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Guna-guna pun tidak ada yang berani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Juga perbuatan jahat ilmunya orang yang bersalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Api sirna karena air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pencuri pun jauh tak ada yang menuju padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Guna-guna sakti pun lenyap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Fungsi Kidung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Inti laku pembacaan KRIW adalah agar kita senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti , beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mengenai fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.      Penolak balak dimalam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.      Pembebas semua benda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3.      Pemyembuh penyakit, termasuk gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4.      Pembebas pageblug&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    5.      Pemercepat jodoh bagi perawan tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6.      Menang dalam perang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7.      Memperlancar cita-cita luhur dan mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemudian oleh Puji Santosa dijelaskan, KRIW terdiri atas sembilan bait yang disertai laku dan fungsi pragmatisnya secara spesifik. Bagian pertama terdiri lima bait yang wajib diamalkan setiap malam. Bagian ke dua, terdiri empat bait berupa petunjuk yang menyertai laku dan wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang mengamalkan nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Nafas ke islaman tampak mewarnai KRIW mulai bait ke tiga dan seterusnya dengan menyebut asma Allah, malaikat, Nabi-Rasul, sahabat Nabi, keluarga Nabi dan nama seorang wali Sunan Kalijaga. Jadi secara tematik KRIW itu dilatari pleh nafas ke Islaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu kalimat terakhir pupuh Sinom bait ketujuh Serat Kalatida karya Ronggowarsito yang sangat terkenal dan berbunyi : “ Dilalah-kersaning Allah , begja begjane wong kang lali, isih begja kang eling lan waspada “ ditafsirkan bahwa “ Eling “ berarti kita senantiasa dituntut untuk berbakti kepada Tuhan dan selalu berzikir kepada Tuhan , tidak melupakan dan tidak meninggalkan sembahyang, "“Waspada "“berarti mampu membedakan yang benar dan yang salah, artinya selalu “ Wiweka “ hal ini penting agar kita tidak ikut gila, tergilas oleh arus jaman dan hanyut dalam situasi yang tidak menentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kidungan/nyanyian tsb selengkapnya sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    KINIDUNGAKE : DANDANGGULA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    PURWAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Purwaning kang sinawung memanis,panedaknya serat Kekidungan,lepata tulah sarike,an galap berkahipun,Kanjeng Nabi lan para Wali,poma sagung lan maca ,den samya tumayuh,ing lair batin sedyakna,sata suci,daraponira atut asih,nugrahaning Pangeran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    SAWABING NABI WALI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.Ana kidung rumeksa ing wengi,teguh ayu luputa ing lara,luputa bilahi kabeh,jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala, gunane wong luput, geni anemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah ing kami, guna duduk pan sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2. Sakehin lara pan samja bali, sakehing ama sami miruda, welas asih pandulune, sakehing bradja luput, kadi kapuk tibanireki, sakehing wisa tawa, sato kuda tutut, kayu aeng lemah sangar songing landak, guwaning mong lemah miring, mjang pakiponing merak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3. Pagupakaning warak sakalir, nadyan artja mjang sagara asat, satemah rahayu kabeh, dadi sarira aju, ingideran mring widhadari, rinekseng malaekat, sakatahing rusuh, pan dan sarira tunggal, ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4. Napasingun Nabi Isa luwih, Nabi Yakub pamiyarsaningwang, Yusuf ing rupaku mangke, Nabi Dawud swaraku, Yang Suleman kasekten mami, Ibrahim nyawaningwang, Idris ing rambutku, Bagendali kulitingwang, Abu Bakar getih, daging Umar singgih, balung Bagenda Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    5. Sungsumingsun Fatimah Linuwih, Siti Aminah bajuning angga, Ayub minangka ususe, sakehing wulu tuwuh, ing sarira tunggal lan Nabi, Cahyaku ya Muhammad, panduluku Rasul, pinajungan Adam syara", sampun pepak sakatahing para nabi,  dadi sarira tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6. Wiji sawiji mulane dadi, pan apencar dadiya sining jagad, kasamadan dening Dzate, kang maca kang angrungu, kang anurat ingkang nimpeni, rahayu ingkang badan, kinarya sesembur, winacaknaing toja, kinarya dus rara tuwa gelis laki, wong edan dadi waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7. Lamun arsa tulus nandur pari puwasaa sawengi sadina, iderana gelengane, wacanen kidung iki, sakeh ama tan ana wani, miwah yen ginawa prang wateken ing sekul, antuka tigang pulukan, mungsuhira lerep datan ana wani, teguh ayu pajudan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    8. Lamun ora bisa maca kaki, winawera kinarya ajimat, teguh ayu penemune, lamun ginawa nglurug, mungsuhira datan udani, luput senjata uwa, iku pamrihipun, sabarang pakaryanira, pan rineksa dening Yang Kang Maha Suci, sakarsane tineken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    9. Lamun ana wong kabanda kaki, lan kadenda kang kabotan utang, poma kidung iku bae, wacakna tengah dalu, ping salawe den banget mamrih, luwaring kang kabanda, kang dinenda wurung, dedosane ingapura, wong kang utang sinauran ing Yang Widdhi, kang dadi waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    10. Sing sapa reke arsa nglakoni, amutiha amawa, patang puluh dina wae, lan tangi wektu subuh, lan den sabar sukur ing ati, Insya Allah tineken, sakarsanireku, njawabi nak - rakyatira, saking sawab ing ilmu pangiket mami, duk aneng Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kuwasaning Artadaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    11. Sapa kang wruh Artadaya iki, pan jumeneng sujanma utama, kang wruh namane Artate, masyrik magrib kawengku, sabdaning kang pandita luwih, prapteng sagara wetan angumbara iku, akekasih Sidanglana, Sidajati ingaranan Ki Artati, nyata jati sampurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    12. Ana kidung reke Ki Artati, sapa wruha reke araning wang, duk ingsun ing ngare, miwah duk aneng gunung, Ki Artati lan Wisamatti, ngalih aran ping tiga, Artadaya tengsun araningsun duk jejaka, mangka aran Ismail Jatimalengis, aneng tengeahing jagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     13. Sapa kang wruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke Artadaya, tunggal pancer lan somahe, sing sapa wruh panu......sasat sugih pagere wesi, rineksa wong sajagad, ingkang....iku, lamun kinarya ngawula, bratanana pitung dina....gustimu asih marma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     14. Kang cinipta katekan Yang Widhhi, kang..... madakan kena, tur rineksa Pangerane, nadyan..... lamun nedya muja samadi, sesandi ing nagara, .....dumadi sarira tunggal, tunggal jati swara, .....aran Sekar jempina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    15. Somahira ingaran Panjari, milu urip lawan milu pejah, tan pisah ing saparane, paripurna satuhu, jen nirmala waluya jati, kena ing kene kana, ing wusananipun, ajejuluk Adimulya Cahya ening jumeneng aneng Artati, anom tan keneng tuwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     16. Tigalan kamulanireki, Nilehening arane duk gesang, duk mati Lajangsukmane, lan Suksma ngambareku, ing asmara mor raga jati, durung darbe peparab, duk rarene iku, awajah bisa dedolan, aranana Sang Tyasjati Sang Artati, jeku sang Artadaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     17. Dadi wisa mangka amartani, lamun marta temah amisaya, marma Artadaya rane, duk laga aneng gunung, ngalih aran Asmarajati, wajah tumekeng tuwa, eling ibunipun, linari lunga mangetan, Ki Artati nurut gigiring Marapi, wangsul ngancik Sundara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     18. Wiwitane duk anemu candi, gegedongan reke kang winrangkan, sihing Yang kabesmi mangke, tan ana janma kang wruh, yen weruha purwane dadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     21. Sagara gunung myang bumi langit, lawan ingkang amengku buwana, kasor ing Artadajane, sagara sat lan gunung, guntur sirna guwa pesagi, sapa wruh Artadaya, dadya teguh timbul, dadi paliyasing aprang, yen lelungan kang kepapag wedi asih, sato galak suminggah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     22. Jin prayangan pada wedi asih, wedi asih sagunging drubigsa, rineksa siang-dalune, ingkang anempuh lumpuh, tan tumama mring awak mami, kang nedya tan raharja, sadaya linebur, sakehing kang nedya ala, larut sirna kang nedya becik basuki, kang sinedya waluya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     23. Gunung guntur penglebur guweki, sagara sat bengawan sjuh sirna, kang wruh Artadaya reke, pan dadi teguh timbul, kang jumeneng manusa jati, ngadeg bumi sampurna, Yang Suksma sih lulut, kang manusa tan asiha, Sang Yang Tunggal parandene wedi asih, Yang Asmara mong raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     24. Sagara agung amengku bumi, surya lintang mjang wong sabuwana, wedi angidep sakehe, kang kuwasa anebut, dadya paliyasing prang dadi, paser panah sumimpang, tumbak bedil luput, liwat sakatahing braja, yen linakon adoh ing lara bilahi, yen dipun apalena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     25. Siang dalu rineksa Yang Widhhi, sasedyane tinekan Yang Suksma, kinedepan janma akeh, karan wikuning wiku wikan liring puja samadi, tinekan sedyanira, kang mangunah luhung, peparab Yang Tigalana, ingkang simpen kang tuwayuh jroning ati, adoh ingkang bebaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     26. Sakehing wisa tan ana mandi, sakehing lenga datan tumama, lebur muspa ilang kabeh, duduk tenung pan ayu, taragnyana tan ana mandi, sambang dengan suminggah, samya lebur larut, ingkang sedya ora teka, ingkang teka ora nedya iku singgih lebur sakehing wisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     27. Yen kinarya atunggu wong sakit, ejin setan datan wani ngambah, rinekseng malaekate, nabi wali angepung, sakeh ama pada sumingkir, ingkang sedya mitenah, miwah gawe dudu, rinu sak maring Pangeran, iblis na’nat sato mara mati, tumpes tapis sadaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-3394897942394075271?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/3394897942394075271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=3394897942394075271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3394897942394075271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/3394897942394075271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/kidung-purwajati.html' title='Kidung Purwajati'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-1388529705363410796</id><published>2007-11-18T13:05:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:06:31.220-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Para Ratuning Dhedhemit Ing Nusa Jawi</title><content type='html'>DHANGHYANGAN&lt;br /&gt;    [Para Ratuning Dhedhemit Ing Nusa Jawi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pupuh Sinom:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1. Apuranen sun angetang, lelembut ing nusa Jawi kang&lt;br /&gt;    rumeksa ing nagara, para ratuning dhedhemit, agung&lt;br /&gt;    sawahe ugi yen eling sadayanipun, pedah kinaya tulah,&lt;br /&gt;    ginawe tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi&lt;br /&gt;    tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2. Kang rumiyin ing bang wetan. Durganeluh Maospahit&lt;br /&gt;    lawan Raja Bohureksa iku ratuning dhedhemit Blambangan&lt;br /&gt;    kang winarni awasta Sang balabatu, aran Butalocaya,&lt;br /&gt;    kang rumeksa ing Kadhiri, Prabuyeksa kang rumeksa&lt;br /&gt;    Giripura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3. Sidagori ing Pacitan, Kaduwang si Klenthingmungil&lt;br /&gt;    Endrayaksa ing Magetan, Jenggala si Tujungputih,&lt;br /&gt;    Prangmuka Surabanggi. Pananggulang Abur-abur Sapujagad&lt;br /&gt;    ing Jipang, Madiyun si Kalasekti, pan si Koreb&lt;br /&gt;    lelembut ing Pranaraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4. Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi,&lt;br /&gt;    Macan guguh Garobogan, Kalajangga Singasari, Sarengat&lt;br /&gt;    Barukuping Balitar si Kalakatung, Butakurda ing Rawa,&lt;br /&gt;    Kalangbret si Sekargambir, Carub-awor kang rumekso ing&lt;br /&gt;    Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    5. Gurnita ing Puspalaya, si Lempur ing Pilangputih,&lt;br /&gt;    si Lancuk aneng Balora, Pagambiran Kalasekti,&lt;br /&gt;    Kedhunggene Ni Jenggi, Ki Bajangklewer puniku&lt;br /&gt;    ngLangsem Kalabrahala Sdayu si Cicingmurti, Ki&lt;br /&gt;    Jalangkah ing Candi Kahyanganira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6. Semarang Baratkatiga, Pakalongan Gunturgeni,&lt;br /&gt;    Pecalang si Sambangyuda, Sarwaka ing Sukawati ing&lt;br /&gt;    Padhas Nyai Ragil, Jayalelana ing Suruh&lt;br /&gt;    Butatrenggiling Tegal, ing Tegal si Guntinggeni,&lt;br /&gt;    Kaliwungu Gutukapi kang rumeksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7. Magelang Ki Samaita, Dhadhungawuk Geseng nenggih,&lt;br /&gt;    Butasalewah ing Pajang, Manda-manda ing Matawis,&lt;br /&gt;    Paleret Rajekwesi, Kuthagede Nyai Panggung, Pragota&lt;br /&gt;    Kartasura, Cirebon Setankoberi, Jurutaman ingkang&lt;br /&gt;    aneng Tegallayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    8. Genawati ing Seluman, Ki Kemandhang Wringinputih,&lt;br /&gt;    si Karetek Pajajaran, Sapuregel ing Betawi, Ki Drusul&lt;br /&gt;    ing Banawi, ingkang aneng Gunung Agung, Ki Tlekah&lt;br /&gt;    ngawang-awang Ki Tapa ardi Marapi, Ni Taruki ingkang&lt;br /&gt;    ana Tunjung Banag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    9. Setan kareteg ing Kendal, Pamasuhan Sapuangin,&lt;br /&gt;    Kresnapada ing Rangkudan, Ni Pandansari ing Srisig,&lt;br /&gt;    kang aneng Wanapeti, Palangkaarsa wastanipun, Ki&lt;br /&gt;    Candung ing Sawahan, Plabuhan Ki Dudukwarih,&lt;br /&gt;    Batutukang kang aneng Palayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    10. Ni rara Aris ing Bawang, ing Tidar Ki Kalasekti,&lt;br /&gt;    Ki Padureksa Sundara Ki Jalela ardi Sumbing,&lt;br /&gt;    Ngungrungan Kesbumurti, Ki Krama ardi Rebabu,&lt;br /&gt;    Nirbangsan ardi Kombang, Prabu Jaka ardi Kelir,&lt;br /&gt;    Ajidipa gunung Kendheng kang den reksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    11. Ing Pasisir Butakala, ing Tlacap si Kalasekti,&lt;br /&gt;    Kalanadhah ing Banyumas, Sigaluh aran Prenthil&lt;br /&gt;    Banjaran Ki Wewasi Kyai Korog ing Lowanu, gunung Duk&lt;br /&gt;    Geniyara, Nyai Bureng Parangtritis, Drembamoha ingkang&lt;br /&gt;    aneng Prabalingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    12. Ki Kerta Sangkalbolongan, Kedhungandhong&lt;br /&gt;    Winongsari ing Jenu Ki Karungkala, ing Pengging&lt;br /&gt;    Banjaransari, ing Kedhu kang nenggani, anamaa Ki&lt;br /&gt;    Candralatu, Gunung Kendhalisada Kethekputih kang&lt;br /&gt;    nenggani, Butaglemboh ing Ayah kahyanganira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    13. Ni Rara Dhenok ing Dewak, ing Tubin Nyai&lt;br /&gt;    Bathithing ing Kuwu Ki Juwalpayal, si Jungkit ing&lt;br /&gt;    Guyanag nenggih, Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta&lt;br /&gt;    Cmarasewu, Kalawadung Kenthongan, Jepara Ki&lt;br /&gt;    Wanengtaji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganiraa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    14. Magiri Ki Manglarmonga, ing Gading Ki Puspasari&lt;br /&gt;    Ketanggung Ki Klanthungwelah, Brengkalan si banaspati,&lt;br /&gt;    Ni Kopek ing Manolih, ing tengah si Sabukalu,&lt;br /&gt;    Nglandhak Ki Mayangkara, si Gori Kedhungcuwiri,&lt;br /&gt;    Baruklinthing ingkang ana ing Bahrawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    15. Sunan Lawu ing Argapura, ing Bayat si Puspakati,&lt;br /&gt;    Cucukdandang ing Kartikan, kulawarga Tasih Wedhi, kali&lt;br /&gt;    Opak winarni, Sanggabuwana ranipun, si Kecek&lt;br /&gt;    Pajarakan, Cingcinggoling Kaliwening, ing Dhahrama&lt;br /&gt;    Ulawelang kang rumeksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    16. Kang aneng Kayulandheyan, Ki Daruna Ni Daruni,&lt;br /&gt;    Bagus Karang aneng RobanSungujaya Udanriris,&lt;br /&gt;    Sidarangga Dalepih, si Gadhung Kedhunggarunggung, kang&lt;br /&gt;    neng Bajanegara, Citranaya kang nenggani, Genapura&lt;br /&gt;    kanaan aneng Majapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    17. Ki Logenjang ing Juwana, ing Rembang si Bajulbali,&lt;br /&gt;    Ki Lender ing Wirasaba, Madura Ki Butagrigis, kang&lt;br /&gt;    ngreksa ing Matesih Jaranpanolih ranipun, Ki Londir&lt;br /&gt;    Pacangakan, si Landhep ing Jataisari, Ondar-andir&lt;br /&gt;    ingkanag aneng Jatimalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    18. Arya Tiron ing Lodhaya, Sarpaabangsa aneng Pening,&lt;br /&gt;    Perangtandanag ing Kasanga, ing Crewek Ki Mandamandi&lt;br /&gt;    setan telagapasir, ingkang aran Ki Jalingkung,&lt;br /&gt;    Kalanadhah ing Tuntang, Bancuri Kalabancuri, kang&lt;br /&gt;    rumekso sukune ardi Baita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    19. Ragadungik Randhulawang, ing Sendhang Retna&lt;br /&gt;    Pengasih Butakapaa ing Prambanan, Bok Sampurna ardi&lt;br /&gt;    Wilis, Raden Galinggangjati kang rumeksa Gajahmungkur,&lt;br /&gt;    si Gendruk ing Talpegat, Ngembet Raden Panjisari,&lt;br /&gt;    Pagerwaja kang aran Udakusuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    20. Ki Penthul ing Pakacangan, Cangakan si&lt;br /&gt;    Dhodhotkawit kalangkung ing sektinira, titihane kudha&lt;br /&gt;    putih, cakra payungireki lar waja kekemulipun, pan&lt;br /&gt;    sami rinajegan, respati rajege wesi, camethine&lt;br /&gt;    pat-upate ula lanang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    21. Sinabetaken mangetan, ana lara teka bali, tinulak&lt;br /&gt;    bali mengetan mangidul, panyaberneki, lara prapta&lt;br /&gt;    ambalik, tinulak bali mangidul ngulon banyabetira ana&lt;br /&gt;    lara teka bali, pan tinulak mangulon bali kang lara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    22. Mangalor panyabetira, ana lara teka bali, mangalor&lt;br /&gt;    balitinulak anulya nyabet manginggil, lara prapta&lt;br /&gt;    ambalik tinulak bali mandhuwur nulya nyaber&lt;br /&gt;    mangandhap, ana lara teka bali, pan tinulak larane&lt;br /&gt;    bali mangandhap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    23. Dhemit kang aneng Jepara, lan dhemit kang aneng&lt;br /&gt;    Pati kalangkung kasektenira, Juweyawastanireki, Gus&lt;br /&gt;    rema Tambaksuli, Kudhapeksa ing Delanggung, Ki&lt;br /&gt;    Klunthung Ringinpethak, Ni Gambir ing Glagahwangi, si&lt;br /&gt;    Kacubung Kadilangu kang den reksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    24. Ni Duleg ing Pamancingan, Guwa langse Nini&lt;br /&gt;    Suntring, kang rumeksa Parangwedang raden Arya&lt;br /&gt;    Jayengwesti, kabeh urut pasisir, kulawarga Nyai Rara&lt;br /&gt;    Kidul, sampun pepak sadaya, paraa ratuning dhedhemit,&lt;br /&gt;    nusa Jawa pangeran kang rumeksa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-1388529705363410796?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/1388529705363410796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=1388529705363410796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1388529705363410796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/1388529705363410796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/para-ratuning-dhedhemit-ing-nusa-jawi.html' title='Para Ratuning Dhedhemit Ing Nusa Jawi'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-8195046837804434579</id><published>2007-11-18T13:03:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:04:54.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Serat Hidayah Jati (#1)</title><content type='html'>BAHASA JAWA&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Punika warahing Hidayah Jati, ingkang nedahaken dunungipun pangkating ngelmi makripat, medal saking wirayating wiradat, wewejanganipun para wali ing Tanah Jawa. Sasedanipun Kanjeng Susuhunan ing Ampeldenta, sami karsa ambuka wewiridan ingkang dados wijining wewejanganipun suraosing ngelmi kasampurnan piyambak-piyambak. Wiyosipun inggih igu asal saking dalil, kadis, ijmak tuwin kiyas kados ingkang sampun kasebut wonten salebeting wiradat. Jangkeping ing murad maksuding wirid sadaya. Menggah papangkatanipun satunggal-tunggal kapratelakaken ing ngandhap punika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ingkang rumiyin : saangkatan kala jaman awalipun nagari ing Demak, para wali ingkang karsa amejang namung wewolu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.      Kanjeng Susuhunan ing Giri Kedhaton ; wewejanganipun wisikan ananing Dat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.      Kanjeng Susuhunan ing Tandhes ; wewejanganipun wedharan wahananing Dat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3.      Kanjeng Susuhunan ing Majagung ; wewejanganipun gelaran kahaning Dat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4.      Kanjeng Susuhunan ing Benang ; wewejanganipun pembukaning tata malige ing dalem Betalmakmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    5.      Kanjeng Susuhunan ing Muryapada ; wewejanganipun pambukaning tata malige ing dalem Betalmukaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6.      Kanjeng Susuhunan ing Kalinyamat ; wewejanganipun pambukaning tata malige ing dalem Betalmukadas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7.      Kanjeng Susuhunan ing Gunungjati ; wewejanganipun panetep santosoning iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    8.      Kanjeng Susuhunan ing Kajenar ; wewejanganipun sasahidan.  &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Inilah ajaran hidayah jati atau petunjuk sejati, yang menjelaskan kedudukan tingkat ilmu makrifat, lahir dari riwayat karsa, ajaran para wali di tanah Jawa. Sepeninggal Kanjeng Susuhunan di Ampeldenta ( Sunan Ampel ), mereka bermaksud menyebarkan wiridan yang merupakan inti ajaran maksud ilmu kesempurnaan masing-masing. Pada dasarnya berasal dari dalil, hadis, ijmak dan kiyas sebagaimana yang sudah disebutkan di dalam wiradat / karsa. Secara lengkap di dalam tujuan dan kehendak wirid itu sendiri, padahal tingkatan masing-masing akan dijabarkan dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang pertama : bersangkutan pada zaman awal berdirinya Negeri Demak, para wali yang mau memberikan ajarannya hanya ada delapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.      Kanjeng Susuhunan di Giri Kedhaton ; ajarannya berupa ilham adanya Zat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.      Kanjeng Susuhunan di Tandhes ; ajarannya uraian mengenai wahana Zat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3.      Kanjeng Susuhunan di Majagung ; ajarannya mengenai gelaran keadaan Zat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4.      Kanjeng Susuhunan di Benang ; ajarannya mengenai pembuka tata mahligai di dalam Baitulmakmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    5.      Kanjeng Susuhunan di Tembayat ; atas perkenan dan ijin Kanjeng Sunan Kalijaga menyampaikan wejangan mengenai pembuka tata mahligai di dalam Biatulmukaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6.      Kanjeng Susuhunan di Kalinyamat ; ajarannya mengenai  pembuka tata mahligai di dalam Baitulmukadas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7.      Kanjeng Susuhunan di Gunungjati ; ajarannya yaitu penetep kesentosaan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    8.      Kanjeng Susuhunan di Kajenar ; memberikan ajaran tentang sasahidan atau persaksian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/865714918112961963-8195046837804434579?l=kijeromartani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kijeromartani.blogspot.com/feeds/8195046837804434579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=865714918112961963&amp;postID=8195046837804434579' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8195046837804434579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/865714918112961963/posts/default/8195046837804434579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kijeromartani.blogspot.com/2007/11/serat-hidayah-jati-1.html' title='Serat Hidayah Jati (#1)'/><author><name>Ki Jero Martani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02438419486284055259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-865714918112961963.post-555018604164837563</id><published>2007-11-18T13:01:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T13:02:43.260-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Serat Hidayah Jati (#2)</title><content type='html'>Ingkang kaping kalih : Ing saangkatan malih kal jaman akhiripun nagari ing Demak dumugi ing Pajang, para wali ingkang karsa amejang inggih namung wolu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.      Kanjeng Susuhunan ing Giriparapen ; wewejanganipun wisikan ananing Dat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.      Kanjeng Susuhunan ing Darajat ; wewejanganipun wedharan wahananing Dat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3.      Kanjeng Susuhunan ing Atasangin ; wewejanganipun gelar kahananing Dat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4.      Kanjeng Susuhunan ing Kalijaga ; wewejanganipun pambukaning tata malige ing dalem Betalmakmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    5.      Kanjeng Susuhunan ing Tembayat ; kalilan dening Kanjeng Susuhunan ing Kalijaga amiridaken wewejanganipun pambukaning tata malige ing Betalmakmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6.      Kanjeng Susuhunan ing Padusan ; wewejanganipun pambukaning tata malige ing dalem Betalmukadas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7.      Kanjeng Susuhunan ing Kudus ; wewejanganipun panetep santosaning iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    8.      Kanjeng Susuhunan ing Geseng ; wewejanganipun sasahidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dene wewejangan ingkang sampun kasebat ing ingnggil punika suraosipun inggih nunggil kamawon, amargi sami wewiridan saking pamejangipun Kanjeng Susuhunan ing Ampeldhenta, sadaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sareng dumugining jaman nagari ing Matawis, panjenenganipun Nata Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, wewejanganipun wolung pangkat wau karsa kaimpun dalan saprabotipun pisan supados mutamdha ing suraosipun sadaya. Punika lajeng kababaraken dados wewejangan satunggal kemawon, sasampunipun mupakat kalihan kawruhing para ahli ngelmi, karsa dalem matah ingkang kalilan amridaken wewejangan makaten wau ing ngandhap punika :  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1.      Panembahan Purubaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.      Panembahan Juminah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3.      Panembahan Ratu Pekik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4.      Panembahan Jurukiting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    5.      Pangeran ing Kadilangu  &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6.      Pangeran Kudus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7.      Pangeran Kajoran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    8.      Pangeran Tembayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    9.      Pangeran Wonggo  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Mwnggah wewejangan ingkang sampun kaimpun dados satunggal wau wiyosing sami, asal saking nenukilan bangsaning kitab tasawup sadaya. Urutipun satunggal-satunggal asasandhan daliling ngelmi minangka pitedahan anggenipun mratelakaken pangandikaning Pangeran Kang Mahasuci dhateng Kanjeng Nabi Musa kalamullah, manawi manungsa punika minangka kanyataning Dat Kang sifat Esa. Makaten wau ingkang kawedharaken dados witing ngelmi makripat, dados wewiridaning para Nata, para wali kala ing kina, lajeng dipun kiyas dhateng para pandhita dados bebukaning wewejanganipun piyambak-piyambak. Sareng kaimpun dados satunggal saking karsa dalem ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Agung ing Matawis punika mupakatipun suraosing ngelmi makripat ingkang kawejangaken sadaya. Wekasanipun ing ngalami-lami wewejangan wau punika wijang malih kados sanes-sanes suraosing pangawikan, margi saking kathahipun para wicaksana ingkang dados guru sami ambabaraken wewiridanipun piyambak-piyambak. Wonten ingkang miridaken praboting ngelmi makripat kamawon, malah terkadang wonten ingkang amedharaken patrapipun ngelmi telek kaliyan ngelmi patah sapanunggilipun ingkang bangsa ngelmi sesorongan sadaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mila samangkedipunparsudi dhateng Kyageng Muhammad Sirullah ing Kedhungkol, inggih punika sakiduling Kedungpanganten, mawi ketengeran ing taun punika : Rongsogoto Wargo Sinuta, salebeting Alip, 1779 kadhawahan ilham linilan dening Pangeran Kang Maha Suci anata urut-urutaning ngelmi makripat, serat andunungaken ing murad maksudipun pisan anurut wewejangan wolung pangkat kakumpulaken dados satunggal, kados ing ngandhap punika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ingkang rumiyin wejanganipun Kanjeng Susuhunan ing Giri Kadhaton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wisikan Ananing Dat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wejangan punika dipun-wastani wisikan ananing Dat, awit dening pamejangipun kawisikaken ing talinga kiwa, wiyosipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang wiwitan, nukilan saking warahing kitab Hidayat khakaik, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, makaten jarwanipun :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sejatine ora ana apa-apa ; awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji ; kang ana dhingin iku ingsun, ora ana Pangeran Nanging Ingsun ; sajatine Kang Maha Suci anglimput ing Sipat Ingsun, anartani ing asman-Ingsun amratandhani ing apngal Ingsun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Wejangan ingkang kaping kalih, dening Kanjeng Susuhunan ing Tandhes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wedharan Wahananing Dat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wejangan punika dipun wastani Wedharan Wahananing Dat, awit dene pamejanganipun amarah urut-urutan dumadining Dat, sipat, wahanipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping kalih, nukilan saking sarahing kitab Dakaikalkaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sajatine ingsung Dat kang Amurba Amisesa kang kawasa anitahaken sawiji-wiji, dadi padha sanalika, sampurna saka ing kodrat-ingsun. Ing kono wus kanyatan pratandhaning apngal-Ingsun kang minangka bebukaning Iradat-Ingsun. Kang dhingin Ingsun anitahaken hayyu aran Sajaratul yakin tumuwuh ing sajroning alam ngadammakdum ajali abadi. Nuli cahya aran Nur Muhammad, nuli kaca aran Mirhatulkayai. Nuli nyawa aran roh Ilapi, nuli damar aran Kandhil. Nuli sesotya aran Darah, nuli dhindhing jalal aran Kijab, iku kang minangka warananing Kalarat-Ingsun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Wejangan ingkang kaping tiga, dening Kanjeng Susuhunan ing Majagung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gelaran Kahaning Dat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wejangan punika dipun wastani gelaran kahaning Dat, awit dening pamejanganipun ambabar dados kanyataan anasiring dat sipat, inggih punika nalika Pangeran Kang Maha Suci karsa amujudaken sipatipun. Gumelar kahananipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping tiga, nukilan saking Kitab bayan Humirat mupakat kaliyan Kitab Bayan Alip, kitab Madinil Asror, kitab Makdinil Maklum, inggih punika bangsaning kitab tasawup sadaya. Sami amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah karaos ing dalem rahsa, makten jarwanipun ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sajatine manungsa iku rahsaningsun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa. Karana Ingsun anitahaken saka anasir patang prakara : 1. Bumi, 2. Geni, 3. Angin, 4. banyu. Iku kang dadi kawujudaning Sipatingsun, ing kono ingsun panjingi mudah limang prakara : 1. Nur, 2. Rahsa, 3. Roh, 4. Napsu, 5. Budi – iya iku minangka warananing wajahingsun Kang Maha Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wejangan ingkang kaping sekawan, dening Kanjeng Susuhunan ing Benang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pambuka Tata Malige Ing Dalem Betalmakmur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wejangan punika dipun wastani ; kayektening kahanan Kang Maha Luhur, inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Betalmakmur. Awit dening pamejangipun ambuka kodrat iradating Pangeran Kang Maha suci, anggenipun karsa anjenengaken maligening dat minangka Betullah wonthen ing sarahipun manungsa, punika sajatosipun dados pitedhah kayektrning kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dat Kang Maha Mulya langgeng boten kenging ewah saking gingsir saking kahanan jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping sekawan nungkilan saking sarahing Kitab Insan Kamil, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah hayat ingkang kapisan karaosaken ing dalem rahsa, makaten jarwanipun ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Betalmakmur, iku omah enggineng Parameyaningsun, jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning sirahiku dimak, yaiku utek ; kang ana antraning utek iku manik ; sajroning manik iku budi ; sajroning budi iku napsu ; sajroning napsu iku suksma ; sajroning suksma iku rahsa ; sajroning rahsa iku Ingsun ; ora ana Pangeran, nanging Ingsun Dat Kang nglimputi ing kahanan jati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wejangan ingkang kaping gangsal, dening Kanjeng Susuhunan ing Muryapada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pambukaning Tata Malige Ing Dalem Betalmukaram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wejangan punika dipun wastani kayektening kahanan Kang Maha Agung. Inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Betalmukaram, awit dening pamejanganipun pambuka kodrat iradating Pangeran kang Maha suci, enggenipun karsa anjenengaken maligening Dat, minangka Betullah wonten ing dhadhaning manungsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kasebut ing dalem daliling dados pitedahan kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating dat kang Maha Mulya lenggah boten kenging ewah ginsir saking kahanan jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kasebut ing dalem daliling ngemi ingkang kaping gangsal, inggih ugi sami
