Samengko ingsun tutur,
Sembah catur supaya lumuntur,
Dihin raga, cipta, jiwa, rasa kaki,
Ingkono lamun tinemu
Tanda nugrahing Manon,
---oOo---
Anakku, saat ini akan saya ceritakan mengenai adanya empat sembah, barangkali dapat bermanfaat bagi ananda. Yang pertama adalah sembah raga, lalu sembah jiwa, sembah cipta dan sembah rasa, buah hatiku. Apalagi empat sembah ini sudah engkau lalui, barangkali engkau dapat meraih anugrah dari Hyang Kuasa.
=== Sembah Catur ===
Sembah ini dapat engkau gunakan baik untuk bekerja mengarungi kehidupan, olah bathin ataupun kesaktian raga. Tapi saat ini, baiklah aku akan ulas dengan sepintas keempat sembah tersebut dengan analogi "kerja".
Inti dari sembah raga adalah disiplin - sarengat anakku. Engkau disiplin dalam belajar, lalu setelah tamat belajar, engkau mungkin beberapa kali pindah tempat kerja. Kesemuanya itu kuncinya adalah disiplin diri.
Suatu saat, engkau harus memilih jalan atau profesi apa yang engkau tekuni. Ibarat dokter umum yang mempelajari segalanya dan mengobati berbagai macam penyakit - makin dewasa - engkau harus makin memilih jalan spesialis apa yang engkau akan ambil - bisa diibaratkan itu tarekat.
Kalau engkau telah memilih jalan pekerjaan ... dan engkau terus-menerus melakukan pekerjaan yang sama dengan berbagai variasinya, maka disana engkau akan menemukan "hakikat" serta dapat menjiwai pekerjaanmu. Dan jika hakikat tersebut engkau hujamkan terus ke dalam kalbu, disertai cinta kasih terhadap sesama ... maka "rasa" dalam dirimu akan tumbuh - dalam "rasa" engkau akan merasakan kehadiran dan kebesaran Sang Kuasa.
Dengan urutan-urutan itu, disiplin kerja, memilih profesi yang tepat, menekuni profesi dengan hati lalu menyimpan pengetahuan ke dalam "rasa" bathin, mudah-mudahan anugrah dari Gusti Allah dapat engkau terima, anakku.
Semoga Bermanfaat.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Jaman Edan
Mensikapi jaman edan seperti sekarang ini, memang sulit. Budi pekerti telah ditinggalkan oleh sebagian besar warga Nusantara. Ungkapan hanya wacana belaka, lain dimulut lain pula dihatinya. Banyak orang yang sombong - bekerja tanpa sembahyang, banyak orang yang bohong - terus bersembahyang tanpa usaha.
=== Jaman Edan ===
Sebentar lagi kita akan masuk masa transisi, setelah rangkaian krisis ekonomi, politik, lalu krisis legitimasi dan krisis motivasi. Di tengah gejolak ini, akan makin banyak orang yang serong hatinya. Mulai dari para pemimpin negara, yang sudah mencuri start untuk kampanye. Legislatif lebih banyak bicara akan tetapi miskin karya. Mahkamah Agung saling bantah dan lomba atarung dengan Komisi Yudisial, di media massa. SUNGGUH-SUNGGUH EDAN dan memalukan.
Saya yakin banyak orang yang hatinya "miris". Ikut edan tidak tahan, karena masih punya setitik nurani. Akan tetapi kalau tidak ikut geraknya jaman, jadi tidak pernah mendapatkan bagian kenikmatan hasil pembangunan, malah makin melarat, mengalami hidup yang sangat berat, bahkan hutang-hutangpun terus menjerat.
Masalah yang dihadapi oleh bangsa semakin dahsyat, apalagi kita masih belum punya pimpinan yang kuat. Janji-janji yang diungkap, hanya memberikan ketenangan sesaat, tapi lama kelamaan, masyarakat kok tambah nekat, bahkan menjadi bejat. Pimpinan lain eeehh... berkoar dikoran dan senangnya hanya menghujat.
Sodara-sodaraku,
Tidakkah kau lihat, bencana rusaknya tatanan masyarakat, bukan hanya ulah manusia bejat, akan tetapi bencana alampun kita dapat, karena Sang Kuasa menghendaki agar kita tetap ingat.
Di masa seperti ini, baiknya kita selalu berdoa memasrahkan diri untuk menerima kehendak illahi. Berdoa secara pasif artinya memohon ampun dan memuji kebesarannya, dan secara aktif, bekerja sesuai dengan hukum-hukum, aturan, dharma yang ditetapkNya.
Sadarlah ... sebahagia-bahagianya orang yang lupa.... akan lebih bahagia nantinya ... orang yang selalu 'eling' dan tetap waspada. Eling agar dapat terus membangun kebaikan, dan selalu waspada terhadap begundal-begundal yang selalu mengail diair keruh, menjarah harta pusaka Nusantara, dan apabila kita sudah kisruh, mereka akan hengkang ke negeri seberang.
Ingatlah karangan pujangga besar Ronggowarsito, amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yan tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasan ipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali luwih begja kang eling lan waspada.
Sebentar lagi, tanda perubahan akan muncul, Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Lalu apa yang harus kita lakukan agar Tanah dan Masyarakat Nusantara Selamat ? Gusti Allah diyakini tidak akan membiarkan orang-orang yang 'eling' dan 'waspada', terseret oleh derasnya Jaman.
Ia akan memberikan petunjuk agar kita selamat, pada saat yang tepat dan melalui orang yang tepat...
Salam hormat,
Ki Jero Martani
=== Jaman Edan ===
Sebentar lagi kita akan masuk masa transisi, setelah rangkaian krisis ekonomi, politik, lalu krisis legitimasi dan krisis motivasi. Di tengah gejolak ini, akan makin banyak orang yang serong hatinya. Mulai dari para pemimpin negara, yang sudah mencuri start untuk kampanye. Legislatif lebih banyak bicara akan tetapi miskin karya. Mahkamah Agung saling bantah dan lomba atarung dengan Komisi Yudisial, di media massa. SUNGGUH-SUNGGUH EDAN dan memalukan.
Saya yakin banyak orang yang hatinya "miris". Ikut edan tidak tahan, karena masih punya setitik nurani. Akan tetapi kalau tidak ikut geraknya jaman, jadi tidak pernah mendapatkan bagian kenikmatan hasil pembangunan, malah makin melarat, mengalami hidup yang sangat berat, bahkan hutang-hutangpun terus menjerat.
Masalah yang dihadapi oleh bangsa semakin dahsyat, apalagi kita masih belum punya pimpinan yang kuat. Janji-janji yang diungkap, hanya memberikan ketenangan sesaat, tapi lama kelamaan, masyarakat kok tambah nekat, bahkan menjadi bejat. Pimpinan lain eeehh... berkoar dikoran dan senangnya hanya menghujat.
Sodara-sodaraku,
Tidakkah kau lihat, bencana rusaknya tatanan masyarakat, bukan hanya ulah manusia bejat, akan tetapi bencana alampun kita dapat, karena Sang Kuasa menghendaki agar kita tetap ingat.
Di masa seperti ini, baiknya kita selalu berdoa memasrahkan diri untuk menerima kehendak illahi. Berdoa secara pasif artinya memohon ampun dan memuji kebesarannya, dan secara aktif, bekerja sesuai dengan hukum-hukum, aturan, dharma yang ditetapkNya.
Sadarlah ... sebahagia-bahagianya orang yang lupa.... akan lebih bahagia nantinya ... orang yang selalu 'eling' dan tetap waspada. Eling agar dapat terus membangun kebaikan, dan selalu waspada terhadap begundal-begundal yang selalu mengail diair keruh, menjarah harta pusaka Nusantara, dan apabila kita sudah kisruh, mereka akan hengkang ke negeri seberang.
Ingatlah karangan pujangga besar Ronggowarsito, amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yan tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasan ipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali luwih begja kang eling lan waspada.
Sebentar lagi, tanda perubahan akan muncul, Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Lalu apa yang harus kita lakukan agar Tanah dan Masyarakat Nusantara Selamat ? Gusti Allah diyakini tidak akan membiarkan orang-orang yang 'eling' dan 'waspada', terseret oleh derasnya Jaman.
Ia akan memberikan petunjuk agar kita selamat, pada saat yang tepat dan melalui orang yang tepat...
Salam hormat,
Ki Jero Martani
Serat Kalatida
Kalatida adalah salah satu karangan, dari pujangga besar Ronggowarsito. Arti kata kala adalah waktu, dan tida - samar-samar. Lalu bila diterjemahkan secara bebas akan berarti jaman samar-samar atau jamantransisi.
Antara siang ke malam, malam ke siang, dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain, selalu ada masa transisi, dimana sendi-sendi tata laksana lama menjadi usang, sementara yang baru belum juga mapan.
Tak terkecuali keadaan sekarang ini, tatanan orde baru masih kuat tertanam, sementara orde reformasi tak kunjung mendapatkan bentuknya. Indonesia yang kita cintai ini, sedang berada dalam masa samar-samar, laksana air sungai yang tiba dimuara, sudah tak tawar lagi tapi belum juga terasa asin, tak ada panutan, tak ada pegangan hukum. Ditambah lagi budi pekerti yang seakan dikesampingkan, wanita telah hilang kewanitaan, tiada rasa malu, membuka rahasia tempat tidur, mengejar popularitas. Adakah obat penawar untuk masyarakat sakit seperti ini ?
===K.A.L.A.T.I.D.A===
Jaman edan seperti sekarang ini, budi pekerti memang telah dipinggirkan, pemuka agama melempar sorbannya, kaum ningrat susah hati dikejar kejar karena korupsi, pedagang berteriak berkeluh kesah karena untungnya makin berkurang, rakyat jelata makin menderita. Edannya lagi, seluruh anak bangsa disuguhi tontonan perusak budaya artis mesum, kawin cerai, bunting tanpa ayah, selingkuh, begitu bangga penuh dosa.
Rusak moral bangsa ini, legislatif buka mulut tanpa hormat, yudikatif benteng keadilan jadi sarang calo perkara, eksekutif hanya wacana tanpa karya, kata bijak hanya menjebak, habis sudah rakyat jelata, tak putus dilanda derita. Orang kecil tak tahan lagi dengan rasa lapar, berebut hanya untuk mencari makan, konglomerat jahat, pat gulipat, milyaran diembat, dibantu oleh pejabat.
Memang jaman sudah edan, tidak ikut edan, jadi nggak kebagian, bahkan jadi melarat, jujur jadi hancur, sang licik menepuk dada, laksana tak terkena hukum karma. Alam laksana kalah dengan angkara murka manusia. Rasanya, kalau ikut berbuat papa nista, tidak tahan karena masih ada setitik nurani, masih percaya akan kuasa Sang Pencipta, yang sudah berkali-kali memberi peringatan berupa rangkaian bencana.
Terserah pasrah pada kehendak Hyang Widhi, hanya bisa berdoa secara pasif, dengan memujaNya, dan secara aktif dengan melakukan apa yang diperintahkanNya. Allah tetap akan mengasihi umatNya yang sadar, karena sebahagia-bahagianya orang yang lupa, akan lebih bahagia orang yang tetap eling dan waspada.
Nanti akan tiba saatnya, Nusantara akan berubah, setelah bencana tanpa henti, tsunami, pagebluk flu burung, pagi sakit sore sudah mati, sampai pada puncaknya nanti, gunung merapi meletus, laharnya berbau amis.
Inilah saat yang kita tunggu… krisis ekonomi, krisis politik, krisis legitimasi dan akhirnya krisis motivasi … terpuruk ketitik nol ... ke dalam kegelapan yang sangat dalam... sampai nanti tiba saat transisi berikutnya, fajar menyingsing di ufuk timur, kita songsong agama budhi.
Kalatida = Saat Samar-Samar=Senjakala=SandhyaKala=Waktu yang tepat untuk Berdoa
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Antara siang ke malam, malam ke siang, dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain, selalu ada masa transisi, dimana sendi-sendi tata laksana lama menjadi usang, sementara yang baru belum juga mapan.
Tak terkecuali keadaan sekarang ini, tatanan orde baru masih kuat tertanam, sementara orde reformasi tak kunjung mendapatkan bentuknya. Indonesia yang kita cintai ini, sedang berada dalam masa samar-samar, laksana air sungai yang tiba dimuara, sudah tak tawar lagi tapi belum juga terasa asin, tak ada panutan, tak ada pegangan hukum. Ditambah lagi budi pekerti yang seakan dikesampingkan, wanita telah hilang kewanitaan, tiada rasa malu, membuka rahasia tempat tidur, mengejar popularitas. Adakah obat penawar untuk masyarakat sakit seperti ini ?
===K.A.L.A.T.I.D.A===
Jaman edan seperti sekarang ini, budi pekerti memang telah dipinggirkan, pemuka agama melempar sorbannya, kaum ningrat susah hati dikejar kejar karena korupsi, pedagang berteriak berkeluh kesah karena untungnya makin berkurang, rakyat jelata makin menderita. Edannya lagi, seluruh anak bangsa disuguhi tontonan perusak budaya artis mesum, kawin cerai, bunting tanpa ayah, selingkuh, begitu bangga penuh dosa.
Rusak moral bangsa ini, legislatif buka mulut tanpa hormat, yudikatif benteng keadilan jadi sarang calo perkara, eksekutif hanya wacana tanpa karya, kata bijak hanya menjebak, habis sudah rakyat jelata, tak putus dilanda derita. Orang kecil tak tahan lagi dengan rasa lapar, berebut hanya untuk mencari makan, konglomerat jahat, pat gulipat, milyaran diembat, dibantu oleh pejabat.
Memang jaman sudah edan, tidak ikut edan, jadi nggak kebagian, bahkan jadi melarat, jujur jadi hancur, sang licik menepuk dada, laksana tak terkena hukum karma. Alam laksana kalah dengan angkara murka manusia. Rasanya, kalau ikut berbuat papa nista, tidak tahan karena masih ada setitik nurani, masih percaya akan kuasa Sang Pencipta, yang sudah berkali-kali memberi peringatan berupa rangkaian bencana.
Terserah pasrah pada kehendak Hyang Widhi, hanya bisa berdoa secara pasif, dengan memujaNya, dan secara aktif dengan melakukan apa yang diperintahkanNya. Allah tetap akan mengasihi umatNya yang sadar, karena sebahagia-bahagianya orang yang lupa, akan lebih bahagia orang yang tetap eling dan waspada.
Nanti akan tiba saatnya, Nusantara akan berubah, setelah bencana tanpa henti, tsunami, pagebluk flu burung, pagi sakit sore sudah mati, sampai pada puncaknya nanti, gunung merapi meletus, laharnya berbau amis.
Inilah saat yang kita tunggu… krisis ekonomi, krisis politik, krisis legitimasi dan akhirnya krisis motivasi … terpuruk ketitik nol ... ke dalam kegelapan yang sangat dalam... sampai nanti tiba saat transisi berikutnya, fajar menyingsing di ufuk timur, kita songsong agama budhi.
Kalatida = Saat Samar-Samar=Senjakala=SandhyaKala=Waktu yang tepat untuk Berdoa
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Ilmu Ditangan Sang Pendendam
Kalau anda pergi ke Bali, tentu anda pernah melihat baju kaos yang disablon dengan gambar yang menyeramkan. Jika anda iseng bertanya gambar apakah itu ? Sebagian besar pedagang menjawab itu gambar rangda. Berambut putih, botak, taring panjang, lidah menjulur, mata merah membelalak – kreasi yang menyeramkan. Rangda artinya adalah janda, kenapa digambarkan seperti itu ? Berikut kilasan ceritanya.
Pada jaman kerajaan Erlangga, menurut kitab “Cerita Mpu Baradah”, ada seorang gadis bernama Nyi Sadya, cantik jelita tinggal bersama seorang pedagang nasi. Gadis ini tidak memiliki asal-usul yang jelas, akan tetapi Sang Prabu jatuh cinta, terkena panah asmara, dan memboyongnya ke istana. Singkat cerita Nyi Sadya hamil. Pada saat “ngidam”, ia konon meminta 7 jenis hati manusia dari berbagai golongan (wangsa). Karena permintaannya itu, Nyi Sadya diasingkan ke hutan Girah, menjadi seorang janda kembang, dibalut kesepian dan dirundung dendam. Sang janda melahirkan seorang putri yang cantik jelita, Dyah Ratna Manggali.
Ketika dewasa, Sang Dyah Ratna Manggali tak ada yang berani meminangnya, karena ibunya yang menakutkan itu. Sang ibu memiliki kesaktian dari kitab Pragolan yang dipelajarinya. Dan kesaktian yang tumbuh dihati yang penuh dendam, menjadikan ilmu tersebut sebagai bencana. Dendam menyebabkan surut wibawa Prabu Erlangga, sehingga harus menggunakan tipu muslihat untuk mengalahkan Sang Janda. Sang Janda tahu akan taktik itu, akan tetapi demi kebahagiaan sang anak, dibiarkannya sang menantu tahu letak kesaktiannya.
Dalam sejarah manusia, ilmu berada di tangan manusia pendendam, akan menimbulkan malapetaka. Si janda kembang dengan dendam dan kesaktian menjadi sosok yang menakutkan. Karena itulah di Bali, sang janda atau rangda, digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Kata-kata “rangda” seolah menyihir kita. Ada gambaran yang menakutkan jika menyebut kata “rangda”. Cerita lengkap tentang hal di atas bisa anda baca/saksikan di drama dengan lakon Calon Arang.
---
Rangda dikonotasikan sesuatu yang menyeramkan. Tetapi dibalik itu, tersimpan cerita tentang kemandirian seorang wanita yang tertindas dan disingkirkan. Wanita cantik tadinya lemah dan tertindas, berubah menjadi sosok yang berilmu tinggi, berkarisma, dan mampu membangun “kerajaannya” secara mandiri, dan membuat bergetar sebuah kerajaan besar. Memiliki laskar patriotik yang bersedia menikam tubuhnya sendiri dengan keris seperti yang ditampilkan pada lakon calon arang. Tanpa berfikir dua kali mau melaksanakan perintah Sang Janda. Sang laskar siap mengikuti segala perintah dan keputusannya. Ilmu dan pengaruhnya tetap hidup beratus tahun kemudian dan selalu memberi inspirasi para seniman untuk berkarya.
Tapi sehebat-hebatnya Rangda dari Girah itu, dia tetaplah seorang ibu, yang sangat sayang dengan putrinya. Sang Janda akhirnya mati, berkorban demi putri yang dicintai …
---
Rangda hanyalah sebuah sanepan atau perlambang. Lambang sang lemah yang tertindas dan terpinggirkan mampu menjadi pemimpin karismatik, melalui ilmu pengetahuan. Lambang bagaimana dahsyat efek kerusakan yang disebabkan oleh ilmu ditangan seorang pendendam. Lalu lambang cinta seorang ibu, yang rela berkorban demi anaknya…
Lakon Calon Arang, ternyata berisi perlambang, yang dapat memberi kita pelajaran yang berharga tentang arti kehidupan. Rangda sekarang dijadikan tontonan reguler di Ubud dan Sukawati. Kalau anda menonton pertunjukan, tanpa dibekali tentang sejarah terciptanya tokoh rangda, maka anda tak pernah dapat menarik “mutiara” dibalik cerita dan lakon seru dan menyeramkan itu.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Pada jaman kerajaan Erlangga, menurut kitab “Cerita Mpu Baradah”, ada seorang gadis bernama Nyi Sadya, cantik jelita tinggal bersama seorang pedagang nasi. Gadis ini tidak memiliki asal-usul yang jelas, akan tetapi Sang Prabu jatuh cinta, terkena panah asmara, dan memboyongnya ke istana. Singkat cerita Nyi Sadya hamil. Pada saat “ngidam”, ia konon meminta 7 jenis hati manusia dari berbagai golongan (wangsa). Karena permintaannya itu, Nyi Sadya diasingkan ke hutan Girah, menjadi seorang janda kembang, dibalut kesepian dan dirundung dendam. Sang janda melahirkan seorang putri yang cantik jelita, Dyah Ratna Manggali.
Ketika dewasa, Sang Dyah Ratna Manggali tak ada yang berani meminangnya, karena ibunya yang menakutkan itu. Sang ibu memiliki kesaktian dari kitab Pragolan yang dipelajarinya. Dan kesaktian yang tumbuh dihati yang penuh dendam, menjadikan ilmu tersebut sebagai bencana. Dendam menyebabkan surut wibawa Prabu Erlangga, sehingga harus menggunakan tipu muslihat untuk mengalahkan Sang Janda. Sang Janda tahu akan taktik itu, akan tetapi demi kebahagiaan sang anak, dibiarkannya sang menantu tahu letak kesaktiannya.
Dalam sejarah manusia, ilmu berada di tangan manusia pendendam, akan menimbulkan malapetaka. Si janda kembang dengan dendam dan kesaktian menjadi sosok yang menakutkan. Karena itulah di Bali, sang janda atau rangda, digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Kata-kata “rangda” seolah menyihir kita. Ada gambaran yang menakutkan jika menyebut kata “rangda”. Cerita lengkap tentang hal di atas bisa anda baca/saksikan di drama dengan lakon Calon Arang.
---
Rangda dikonotasikan sesuatu yang menyeramkan. Tetapi dibalik itu, tersimpan cerita tentang kemandirian seorang wanita yang tertindas dan disingkirkan. Wanita cantik tadinya lemah dan tertindas, berubah menjadi sosok yang berilmu tinggi, berkarisma, dan mampu membangun “kerajaannya” secara mandiri, dan membuat bergetar sebuah kerajaan besar. Memiliki laskar patriotik yang bersedia menikam tubuhnya sendiri dengan keris seperti yang ditampilkan pada lakon calon arang. Tanpa berfikir dua kali mau melaksanakan perintah Sang Janda. Sang laskar siap mengikuti segala perintah dan keputusannya. Ilmu dan pengaruhnya tetap hidup beratus tahun kemudian dan selalu memberi inspirasi para seniman untuk berkarya.
Tapi sehebat-hebatnya Rangda dari Girah itu, dia tetaplah seorang ibu, yang sangat sayang dengan putrinya. Sang Janda akhirnya mati, berkorban demi putri yang dicintai …
---
Rangda hanyalah sebuah sanepan atau perlambang. Lambang sang lemah yang tertindas dan terpinggirkan mampu menjadi pemimpin karismatik, melalui ilmu pengetahuan. Lambang bagaimana dahsyat efek kerusakan yang disebabkan oleh ilmu ditangan seorang pendendam. Lalu lambang cinta seorang ibu, yang rela berkorban demi anaknya…
Lakon Calon Arang, ternyata berisi perlambang, yang dapat memberi kita pelajaran yang berharga tentang arti kehidupan. Rangda sekarang dijadikan tontonan reguler di Ubud dan Sukawati. Kalau anda menonton pertunjukan, tanpa dibekali tentang sejarah terciptanya tokoh rangda, maka anda tak pernah dapat menarik “mutiara” dibalik cerita dan lakon seru dan menyeramkan itu.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Asmarandhana
Aja turu sore kaki,
Ana dewa anglayang jagad,
Nyangking bokor kencona,
Isine dunga tetulak,
Sandang, wisma, pangan,
Ikumung bagian ipun
Wong melek sabar narimo.
[Asmarandana]
Jangan 'tidur' sore-sore anaku. Carilah selalu cara untuk mencari berbagai solusi terhadap masalah atau tantangan yang engkau hadapi. Dan dalam mengkaji alternatif solusi tersebut, engkau harus selalu eling bahwa ada dewa yang melayang-layang memantau jagad yang kita tempat ini.
Sang Dewa membawa bokor emas yang berisi rahmat berupa doa tolak bala, sehingga kita dapat selamat dari terpaan efek dari jaman edan ini, lalu sandang - pakaian, wisma - tempat tinggal serta pangan-makanan yang kita perlukan untuk hidup.
Bukankah hal-hal di atas yang engkau perlukan. Bukankah kalau itu sudah terpenuhi engkau sudah seharusnya merasa cukup. Percayalah - sedikit cukup - banyak bisa kurang. Tergantung bathin kita, kuatkah kita menguasai keinginan yang luasnya bagai samudera tanpa batas ?
Siapakah yang akan mendapatkan doa selamat, sandang, wisma pangan itu ? Apakah hanya kaum ulama, atau para ningrat atau para pedagang kaya ... tidak anak-anakku tidak ... akan tetapi yang akan mendapat rahmat dari Gusti Allah adalah orang yang selalu 'melek' - atau tetap waspada dan berusaha - dan sabar - serta menerima segala rahmat dari Hyang Widhi - baik yang berupa ujian derita maupun cobaan kebahagiaan.
---
Gong Sudah Ditabuh ... Gunung Merapi Telah Meletus ... Dan bau amis sudah menyeruak ... Tanda sudah diberikan. Mari kita memanjatkan doa baik secara pasif maupun aktif sehingga tak goyah keyakinan kita kepada kuasa Sang Pencipta. Agar kita selamat dari arus perubahan yang sudah dimulai.
Salam hangat,
Ki Jero Martani
Ana dewa anglayang jagad,
Nyangking bokor kencona,
Isine dunga tetulak,
Sandang, wisma, pangan,
Ikumung bagian ipun
Wong melek sabar narimo.
[Asmarandana]
Jangan 'tidur' sore-sore anaku. Carilah selalu cara untuk mencari berbagai solusi terhadap masalah atau tantangan yang engkau hadapi. Dan dalam mengkaji alternatif solusi tersebut, engkau harus selalu eling bahwa ada dewa yang melayang-layang memantau jagad yang kita tempat ini.
Sang Dewa membawa bokor emas yang berisi rahmat berupa doa tolak bala, sehingga kita dapat selamat dari terpaan efek dari jaman edan ini, lalu sandang - pakaian, wisma - tempat tinggal serta pangan-makanan yang kita perlukan untuk hidup.
Bukankah hal-hal di atas yang engkau perlukan. Bukankah kalau itu sudah terpenuhi engkau sudah seharusnya merasa cukup. Percayalah - sedikit cukup - banyak bisa kurang. Tergantung bathin kita, kuatkah kita menguasai keinginan yang luasnya bagai samudera tanpa batas ?
Siapakah yang akan mendapatkan doa selamat, sandang, wisma pangan itu ? Apakah hanya kaum ulama, atau para ningrat atau para pedagang kaya ... tidak anak-anakku tidak ... akan tetapi yang akan mendapat rahmat dari Gusti Allah adalah orang yang selalu 'melek' - atau tetap waspada dan berusaha - dan sabar - serta menerima segala rahmat dari Hyang Widhi - baik yang berupa ujian derita maupun cobaan kebahagiaan.
---
Gong Sudah Ditabuh ... Gunung Merapi Telah Meletus ... Dan bau amis sudah menyeruak ... Tanda sudah diberikan. Mari kita memanjatkan doa baik secara pasif maupun aktif sehingga tak goyah keyakinan kita kepada kuasa Sang Pencipta. Agar kita selamat dari arus perubahan yang sudah dimulai.
Salam hangat,
Ki Jero Martani
Gunung, Samudra dan Kekuasaan
Ada seorang mantri yang namanya Ki Bocor, dia ingin membunuh Panembahan Senopati. Setelah mencoba ketajaman kerisnya, maka ketika ada kesempatan, keris itu ditikamkan kepada Senapati dari belakang. Ki Bocor berulang-ulang menancapkan keris itu, akan tetapi, Panembahan Senopati tetap tenang, seperti tidak merasakan apapun juga. Akhirnya Ki Bocor duduk lunglai, dan memohon ampun seraya bertobat. Lalu Senopati menengok ke belakang seraya berkata : ”Kakak Bocor, saya sudah memaafkan. Saya percaya kepada kakak.”
Lalu malam itu juga, Panembahan Senopati menuju desa Lipura, disana ada batu halus yang indah, dan Senopati tidur di atas batu itu. Dan pada malam yang sama, Ki Juru Martani tidak dapat tidur, lalu pergi menuju keraton, ingin bertemu Senopati. Yang dicari ternyata tidak ada, tapi Ki Juru Martani sudah tahu, dimana gerangan Senopati berada. Ki Juru Martani berangkat menyusul ke Lipura.
Sampai di Lipura, Ki Juru Martani melihat Panembahan Senopati sedang asik-asik tidur. Lalu Ki Juru Martani berkata ”Nak, bangun, kalau ingin menjadi raja, jangan enak-enak tidur saja”. Pada saat itu juga, ada sebuah bintang jatuh dari langit, menuju ke arah Panembahan Senopati, bersinar sebesar pohon kelapa, lalu jatuh ke dekat lehernya. Itu adalah perlambang bahwa kelak turun-turunan Senopati akan menjadi Raja di Mataram.
Lalu mereka berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuatu yang sukar supaya dimudahkan. Dan pada malam itu juga Senapati pergi ke pantai Laut Selatan. Dan Ki Juru Martani pergi meminta bantuan ke Gunung Merapi.
Dalam semedinya Senopati bertemu dengan Nyai Rara Kidul, raja jin, peri dan setan. Beliau meminta bantuan, kalau pada kemudian hari menghadapi perang. Nyai Rara Kidul menyanggupi membantu Senapati, cukup hanya memanggil namanya, maka Nyai Rara Kidul akan datang bersama dengan segala jin dan setan yang berada di bawah perintahnya.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, pasukan Pajang melaporkan kepada Sultan Adiwijaya bahwa Senapati Ngalaga sedang melakukan pemberontakan. Dengan pasukan 10.000 orang, dibantu oleh para Adipati Demak, Tuban, Banten dan yang lain beserta bala tentaranya, Sultan Adiwijaya mengeroyok pasukan Senopati yang berjumlah hanya 800 orang.
Akan tetapi malam itu Gunung Merapi Meletus diiringi hujan abu, gempa bumi dan banjir besar melalui kali opak. Kekuatan alam dari Selatan, berupa gemuruh laut, gempa bumi dan banjir besar, mengobrak-abrik fisik dan mental para pasukan Pajang yang berjumlah puluhan ribu. Maka hancurlah pasukan Sultan Adiwijaya dari Pajang yang sedang berkemah di lembah sungai opak tersebut. Lalu setelah Gong Kyai Bicak dipukul bertalu-talu, banjir lahar melalui kemah tentara Pajang yang kemudian berlari tunggang langgang, beserta Sultannya.
Di tengah pelariannya, Sultan Adiwijaya lari ke Tembayat, ia memerintahkan sisa tentaranya untuk beristirahat. Sultan berkehendak untuk beristirihat di makam Tembayat, akan tetapi sayang sekali pintu makam terkunci, dan usaha untuk membukanya tidak berhasil. Itulah pertanda kejatuhan Sultan Adiwijaya Pajang.
Setelah kembali ke keraton Sultan Adiwijaya sakit dan mangkat pada tahun 1587, dengan demikian lenyaplah orang kuat yang menghalangi Panembahan Senopati untuk menjadi Raja Tanah Jawa.
---
Cerita di atas mudah-mudahan dapat direnungkan, diambil hikmahnya, dan barangkali dapat dijadikan satu bukti, bahwa ketika seorang anak manusia memiliki keyakinan kuat untuk mengikuti takdir yang ditetapkan olehNya, maka seluruh jagat semesta raya akan membantu untuk mewujudkannya.
Maktub.
Salam Hangat,
Ki Jero Martani
Lalu malam itu juga, Panembahan Senopati menuju desa Lipura, disana ada batu halus yang indah, dan Senopati tidur di atas batu itu. Dan pada malam yang sama, Ki Juru Martani tidak dapat tidur, lalu pergi menuju keraton, ingin bertemu Senopati. Yang dicari ternyata tidak ada, tapi Ki Juru Martani sudah tahu, dimana gerangan Senopati berada. Ki Juru Martani berangkat menyusul ke Lipura.
Sampai di Lipura, Ki Juru Martani melihat Panembahan Senopati sedang asik-asik tidur. Lalu Ki Juru Martani berkata ”Nak, bangun, kalau ingin menjadi raja, jangan enak-enak tidur saja”. Pada saat itu juga, ada sebuah bintang jatuh dari langit, menuju ke arah Panembahan Senopati, bersinar sebesar pohon kelapa, lalu jatuh ke dekat lehernya. Itu adalah perlambang bahwa kelak turun-turunan Senopati akan menjadi Raja di Mataram.
Lalu mereka berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuatu yang sukar supaya dimudahkan. Dan pada malam itu juga Senapati pergi ke pantai Laut Selatan. Dan Ki Juru Martani pergi meminta bantuan ke Gunung Merapi.
Dalam semedinya Senopati bertemu dengan Nyai Rara Kidul, raja jin, peri dan setan. Beliau meminta bantuan, kalau pada kemudian hari menghadapi perang. Nyai Rara Kidul menyanggupi membantu Senapati, cukup hanya memanggil namanya, maka Nyai Rara Kidul akan datang bersama dengan segala jin dan setan yang berada di bawah perintahnya.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, pasukan Pajang melaporkan kepada Sultan Adiwijaya bahwa Senapati Ngalaga sedang melakukan pemberontakan. Dengan pasukan 10.000 orang, dibantu oleh para Adipati Demak, Tuban, Banten dan yang lain beserta bala tentaranya, Sultan Adiwijaya mengeroyok pasukan Senopati yang berjumlah hanya 800 orang.
Akan tetapi malam itu Gunung Merapi Meletus diiringi hujan abu, gempa bumi dan banjir besar melalui kali opak. Kekuatan alam dari Selatan, berupa gemuruh laut, gempa bumi dan banjir besar, mengobrak-abrik fisik dan mental para pasukan Pajang yang berjumlah puluhan ribu. Maka hancurlah pasukan Sultan Adiwijaya dari Pajang yang sedang berkemah di lembah sungai opak tersebut. Lalu setelah Gong Kyai Bicak dipukul bertalu-talu, banjir lahar melalui kemah tentara Pajang yang kemudian berlari tunggang langgang, beserta Sultannya.
Di tengah pelariannya, Sultan Adiwijaya lari ke Tembayat, ia memerintahkan sisa tentaranya untuk beristirahat. Sultan berkehendak untuk beristirihat di makam Tembayat, akan tetapi sayang sekali pintu makam terkunci, dan usaha untuk membukanya tidak berhasil. Itulah pertanda kejatuhan Sultan Adiwijaya Pajang.
Setelah kembali ke keraton Sultan Adiwijaya sakit dan mangkat pada tahun 1587, dengan demikian lenyaplah orang kuat yang menghalangi Panembahan Senopati untuk menjadi Raja Tanah Jawa.
---
Cerita di atas mudah-mudahan dapat direnungkan, diambil hikmahnya, dan barangkali dapat dijadikan satu bukti, bahwa ketika seorang anak manusia memiliki keyakinan kuat untuk mengikuti takdir yang ditetapkan olehNya, maka seluruh jagat semesta raya akan membantu untuk mewujudkannya.
Maktub.
Salam Hangat,
Ki Jero Martani
Kehilangan Rasa
nggugu karsane priyangga,
nora nganggo peparah lamun angling,
lumuh ingaran balilu,
uger guru aleman,
nanging janma ingkang wus waspadeng semu,
sinamun ing samudana,
sasadon ingadu manis
[Serat Wedhatama, Pangkur]
Selalu menuruti kehendak pribadi. Tiap kali berbicara selalu tidak disertai dengan pertimbangan. Menolak jika dikatakan bodoh, (bahkan) selalu berharap akan pujian. Adapun bagi 'manusia' yang telah dewasa, kepandaiannya takkan ditampakkan. Dalam menanggapi apa (dan juga siapa), umumnya berlandaskan kearifan.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
nora nganggo peparah lamun angling,
lumuh ingaran balilu,
uger guru aleman,
nanging janma ingkang wus waspadeng semu,
sinamun ing samudana,
sasadon ingadu manis
[Serat Wedhatama, Pangkur]
Selalu menuruti kehendak pribadi. Tiap kali berbicara selalu tidak disertai dengan pertimbangan. Menolak jika dikatakan bodoh, (bahkan) selalu berharap akan pujian. Adapun bagi 'manusia' yang telah dewasa, kepandaiannya takkan ditampakkan. Dalam menanggapi apa (dan juga siapa), umumnya berlandaskan kearifan.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Panembahan Senopati
Nuladha laku utama
Tumraping wong tanah Jawi
Wong agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senapati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siyang ratri
Amamangun karyenak tyasing sasama
Teladani sikap terpuji tokoh besar Mataram, yaitu Panembahan Senapati,
Tekun dan berupaya sepenuh hati, demi terkendalinya hawa dan nafsu
Dengan jalan bertapabrata, baik siang maupun malam, dengan harapan
untuk menciptakan ketentraman bathin sesama mahluk.
Samangsane pasamuwan
Mamangun marta martani
Sinambi ing saben mangsa
Kala-kalaning ngasepi
Lalana teka-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan guling
Dalam setiap kesempatan pertemuan, selalu membangun semangat dan memberi warta yang menyejukkan. Di waktu-waktu tertentu gemar berkelana untuk bertapa untuk meraih cita-cita. Teramat cinta dengan keheningan bathin, senantiasa hidup prihatin, yakni tetap teguh dalam membiasakan diri mengurangi makan dan tidur.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Tumraping wong tanah Jawi
Wong agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senapati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siyang ratri
Amamangun karyenak tyasing sasama
Teladani sikap terpuji tokoh besar Mataram, yaitu Panembahan Senapati,
Tekun dan berupaya sepenuh hati, demi terkendalinya hawa dan nafsu
Dengan jalan bertapabrata, baik siang maupun malam, dengan harapan
untuk menciptakan ketentraman bathin sesama mahluk.
Samangsane pasamuwan
Mamangun marta martani
Sinambi ing saben mangsa
Kala-kalaning ngasepi
Lalana teka-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan guling
Dalam setiap kesempatan pertemuan, selalu membangun semangat dan memberi warta yang menyejukkan. Di waktu-waktu tertentu gemar berkelana untuk bertapa untuk meraih cita-cita. Teramat cinta dengan keheningan bathin, senantiasa hidup prihatin, yakni tetap teguh dalam membiasakan diri mengurangi makan dan tidur.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Dharmawangsa
Dharmawangsa, adalah raja terakhir Kerajaan Medang (985-1006),
pengganti dari Sri Makutawangsawardhana. Dharmawangsa dikenal sebagai patron penerjemahan Kitab Mahabharata ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Pada masa ini pula, Caritha Parahyangan ditulis dalam Bahasa Sunda, yang menceritakan raja-raja Mataram.
Dharmawangsa mengadakan sejumlah penaklukan, termasuk Bali dan mendirikan koloni di Kalimantan Barat. Saudara perempuan Dharmawangsa, Mahendradatta, menikah dengan Raja Dinasti Warmadewa di Bali, Udayana. Selama beberapa periode, Bali mendapat pengaruh kuat atas Jawa.
Tahun 990, Dharmawangsa mengadakan serangan ke Sriwijaya dan mencoba merebut Palembang, namun gagal. Serangan Dharmawangsa membuat raja Sriwijaya Chulamaniwarmadewa mengirim utusan ke Cina untuk meminta proteksi. Pada tahun 1006, Sriwijaya melakukan pembalasan, yakni menyerang dan menghancurkan istana Watugaluh.
Dharmawangsa terbunuh, dan beberapa pemberontakan mengikutinya dalam beberapa tahun ke depan.
Airlangga, putera Mahendradatta yang masih berusia 16 tahun, berhasil melarikan diri dan kelak akan menjadi raja pertama Kerajaan Kahuripan, suksesor Mataram Kuno dan Medang.
pengganti dari Sri Makutawangsawardhana. Dharmawangsa dikenal sebagai patron penerjemahan Kitab Mahabharata ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Pada masa ini pula, Caritha Parahyangan ditulis dalam Bahasa Sunda, yang menceritakan raja-raja Mataram.
Dharmawangsa mengadakan sejumlah penaklukan, termasuk Bali dan mendirikan koloni di Kalimantan Barat. Saudara perempuan Dharmawangsa, Mahendradatta, menikah dengan Raja Dinasti Warmadewa di Bali, Udayana. Selama beberapa periode, Bali mendapat pengaruh kuat atas Jawa.
Tahun 990, Dharmawangsa mengadakan serangan ke Sriwijaya dan mencoba merebut Palembang, namun gagal. Serangan Dharmawangsa membuat raja Sriwijaya Chulamaniwarmadewa mengirim utusan ke Cina untuk meminta proteksi. Pada tahun 1006, Sriwijaya melakukan pembalasan, yakni menyerang dan menghancurkan istana Watugaluh.
Dharmawangsa terbunuh, dan beberapa pemberontakan mengikutinya dalam beberapa tahun ke depan.
Airlangga, putera Mahendradatta yang masih berusia 16 tahun, berhasil melarikan diri dan kelak akan menjadi raja pertama Kerajaan Kahuripan, suksesor Mataram Kuno dan Medang.
Enigma Merapi dan Sejarah Mataram
Sarasehan Budaya
”ENIGMA MERAPI DAN SEJARAH MATARAM”
Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta
Gunung Merapi memang merupakan sebuah enigma dan disinyalir pernah menjadi penyebab bergesernya sebuah pusat kebudayaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar satu milenium yang lalu.
Van Bemmelen (1949) dalam bukunya “The Geology of Indonesia” menyatakan bahwa Merapi meletus secara dahsyat pada tahun 1006. Banyak ahli mengaitkan peristiwa ini dengan kehancuran Mataram Hindu, namun tidak sedikit yang mempertanyakan kebenaran kejadian ini. Berbagai penelitian telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa Gunung Merapi memang sangat aktif dan kerap meletus sejak dahulu kala termasuk sekitar abad ke-10 hingga 13.
Di samping mengancam kehidupan dengan bencana, Gunung Merapi juga memberikan anugerah kepada masyarakat di sekitarnya berupa lahan nan subur, air tanah dan sumber daya mineral industri yang berlimpah, serta pemandangan indah. Dengan kondisi seperti di atas banyak masyarakat menggantungkan kehidupan dan melakukan kegiatan di sekitar kaki Gunung Merapi yang berarti mereka juga hidup dalam ancaman bencananya baik letusan maupun banjir laharnya.
Selain Gunung Merapi Indonesia juga memiliki sejumlah gunungapi aktif lainnya yang perlu diteliti dan diamati aktivitasnya. Untuk mengenal dan mengetahui karakteristik gunungapi lebih dalam, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta mencanangkan suatu kegiatan yaitu “Volcano International Gathering 2006”. Acara ini akan menghimpun para pakar, ilmuwan, akademisi, budayawan, sejarawan, ahli lingkungan, dan pemerhati gunungapi untuk mengkaji, mengupas, membahas, dan mendialogkan berbagai aspek tentang gunungapi pada umumnya dan Gunung Merapi pada khususnya. Berbagai kegiatan akan dilaksanakan antara lain festival film dokumenter, Merapi Photo Rally, dan Interdisciplinary Conference sebagai puncak acara yang rencana penyelenggaraannya akan bekerjasama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada bulan September 2006 yang akan datang.
Dalam rangka mengawali kegiatan “Volcano International Gathering 2006”, Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta pada tanggal 22 dan 23 Februari 2006 telah menyelenggarakan Widya Wisata dan Sarasehan Budaya dengan tema “Enigma Merapi dan Sejarah Mataram”.
Sarasehan yang diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan Volcano International Gathering ini bertujuan untuk:
1.
Menguak dan mengenal enigma Merapi dari kajian budaya, sejarah dan ilmu pengetahuan.
2.
Menggali kembali peran Merapi dalam sejarah dan kehidupan sejak Mataram Hindu, Mataram Islam dan masa kini
3.
Menyediakan ajang tukar pengalaman, perluasan pengetahuan, dan pengayaan wawasan tentang Merapi di antara para ahli, ilmuwan, budayawan, seniman serta siapapun yang peduli dengannya.
4.
Mewujudkan perenungan dan introspeksi diri atas semua bencana yang pernah terjadi serta ungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada kita melalui Merapi.
Dalam acara pembukaan Sarasehan, Kepala Badan Geologi DESDM, Bambang Dwiyanto diminta memberikan sambutan. Sementara sambutan kunci disampaikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X yang sekaligus membuka secara resmi acara sarasehan tersebut. Hadir dalam acara tersebut para Bupati, Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, para Dosen, Budayawan, Sejarawan, wakil-wakil Lembaga Swadaya Masyarakat, Pegawai Pemerintahan Daerah, Pegawai Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian dan mahasiswa.
Kepala Badan Geologi dalam sambutannya mengupas Gunung Merapi dari segi ilmiah khususnya pemantauan kegiatan Gunung Merapi dari mulai Zaman Belanda hingga saat ini. Disampaikan pula bahwa begitu pentingnya Gunung Merapi baik dari segi ilmu pengetahuan maupun perlindungan masyarakat dari bahaya letusannya hingga mengharuskan kita melakukan penelitian dan pengembangan teknologi pengamatan secara terus-menerus.
Aktivitas Gunung Merapi tidak pernah berhenti, sehingga menjadi lahan yang lengkap bagi para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya bidang kegunungapian. Penelitian dan pemantauan yang dilakukan oleh para ahli gunungapi Indonesia bersama ahli gunungapi luar negeri dalam kurun waktu yang lama akan banyak membantu menguak sejarah letusan dan karakteristik Gunung Merapi yang akan menjadi referensi Gunung Merapi. Tentunya hal ini juga akan sangat membantu dalam mitigasi bencana letusan Gunung Merapi dimana sasarannya agar masyarakat dan aparat siap bila terjadi letusan.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, telah melakukan berbagai penelitian dan pengamatan Gunung Merapi dari berbagai aspek mulai dari geologi, geofisika maupun geokimia. Dari aspek geologi (Volcano Stratigrafi), telah didapat data-data baru yang mengungkap sejarah letusan Gunung Merapi yang tentunya dapat membantu memberikan jawaban dalam mengungkap sejarah Mataram Hindu khususnya keterkaitan candi-candi yang terkubur pada era tersebut dengan letusan Gunung Merapi.
Pada akhir sambutan, Kepala Badan Geologi menyampaikan harapan bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di bidang kegunungapian, dapat memberikan sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan khususnya Gunung Merapi maupun bagi ilmu lain yang berkaitan seperti arkeologi dalam mengungkap kebenaran sejarah. Kepala Badan juga berharap sarasehan ini dapat menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan sumbangsih bagi kemakmuran, kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di Sekitar Gunung Merapi
Sementara itu dalam Sambutan Kunci Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diberi judul “Fenomena Merapi dan Misteri Mataram”, mengupas khasanah pengetahuan dan peran Gunung Merapi dari segi budaya dan sejarah mulai dari Mataram Hindu (Kuno) hingga Mataram Islam. Sri Sultan dalam kerangka pikirnya menempatkan lingkungan alam berupa enigma Merapi sebagai tantangan yang berpengaruh pada Sejarah Mataram, yang dalam banyak hal masih penuh misteri yang mengundang interpretasi dari para sejarawan, budayawan maupun yang lain termasuk ilmuwan gunungapi. Selain masalah budaya dan sejarah, disinggung pula tulisan-tulisan para ahli geologi yang menyatakan bahwa Merapi pernah meletus pada tahun 1006, namun beliau juga menyampaikan bahwa masih banyak perdebatan-perdebatan tentang hal ini yang tentunya memerlukan pemahaman dan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui kebenarannya. Pengenalan terhadap karakter Gunung Merapi diperlukan, agar masyarakat lebih siap dan tanggap dalam mengoptimalkan manajemen bencana (disaster management) yang berbasis masyarakat, bila saatnya bencana datang tiba-tiba. Pengembangan teknologi pemantauan gunungapi diharapkan dapat membantu dan melindungi masyarakat dari bencana letusan Gunung Merapi.
Menjelang puncak acara “Volcano International Gathering 2006” bulan September yang akan datang, mari kita bersama-sama memberikan sumbangsih pengetahuan tentang kegunungapian khususnya Gunung Merapi untuk menambah khasanah pengetahuan dan menjawab pertanyaan- pertanyaan yang masih belum terjawab. (Agung Pribadi-SBG)
”ENIGMA MERAPI DAN SEJARAH MATARAM”
Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta
Gunung Merapi memang merupakan sebuah enigma dan disinyalir pernah menjadi penyebab bergesernya sebuah pusat kebudayaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar satu milenium yang lalu.
Van Bemmelen (1949) dalam bukunya “The Geology of Indonesia” menyatakan bahwa Merapi meletus secara dahsyat pada tahun 1006. Banyak ahli mengaitkan peristiwa ini dengan kehancuran Mataram Hindu, namun tidak sedikit yang mempertanyakan kebenaran kejadian ini. Berbagai penelitian telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa Gunung Merapi memang sangat aktif dan kerap meletus sejak dahulu kala termasuk sekitar abad ke-10 hingga 13.
Di samping mengancam kehidupan dengan bencana, Gunung Merapi juga memberikan anugerah kepada masyarakat di sekitarnya berupa lahan nan subur, air tanah dan sumber daya mineral industri yang berlimpah, serta pemandangan indah. Dengan kondisi seperti di atas banyak masyarakat menggantungkan kehidupan dan melakukan kegiatan di sekitar kaki Gunung Merapi yang berarti mereka juga hidup dalam ancaman bencananya baik letusan maupun banjir laharnya.
Selain Gunung Merapi Indonesia juga memiliki sejumlah gunungapi aktif lainnya yang perlu diteliti dan diamati aktivitasnya. Untuk mengenal dan mengetahui karakteristik gunungapi lebih dalam, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta mencanangkan suatu kegiatan yaitu “Volcano International Gathering 2006”. Acara ini akan menghimpun para pakar, ilmuwan, akademisi, budayawan, sejarawan, ahli lingkungan, dan pemerhati gunungapi untuk mengkaji, mengupas, membahas, dan mendialogkan berbagai aspek tentang gunungapi pada umumnya dan Gunung Merapi pada khususnya. Berbagai kegiatan akan dilaksanakan antara lain festival film dokumenter, Merapi Photo Rally, dan Interdisciplinary Conference sebagai puncak acara yang rencana penyelenggaraannya akan bekerjasama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada bulan September 2006 yang akan datang.
Dalam rangka mengawali kegiatan “Volcano International Gathering 2006”, Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta pada tanggal 22 dan 23 Februari 2006 telah menyelenggarakan Widya Wisata dan Sarasehan Budaya dengan tema “Enigma Merapi dan Sejarah Mataram”.
Sarasehan yang diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan Volcano International Gathering ini bertujuan untuk:
1.
Menguak dan mengenal enigma Merapi dari kajian budaya, sejarah dan ilmu pengetahuan.
2.
Menggali kembali peran Merapi dalam sejarah dan kehidupan sejak Mataram Hindu, Mataram Islam dan masa kini
3.
Menyediakan ajang tukar pengalaman, perluasan pengetahuan, dan pengayaan wawasan tentang Merapi di antara para ahli, ilmuwan, budayawan, seniman serta siapapun yang peduli dengannya.
4.
Mewujudkan perenungan dan introspeksi diri atas semua bencana yang pernah terjadi serta ungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada kita melalui Merapi.
Dalam acara pembukaan Sarasehan, Kepala Badan Geologi DESDM, Bambang Dwiyanto diminta memberikan sambutan. Sementara sambutan kunci disampaikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X yang sekaligus membuka secara resmi acara sarasehan tersebut. Hadir dalam acara tersebut para Bupati, Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, para Dosen, Budayawan, Sejarawan, wakil-wakil Lembaga Swadaya Masyarakat, Pegawai Pemerintahan Daerah, Pegawai Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian dan mahasiswa.
Kepala Badan Geologi dalam sambutannya mengupas Gunung Merapi dari segi ilmiah khususnya pemantauan kegiatan Gunung Merapi dari mulai Zaman Belanda hingga saat ini. Disampaikan pula bahwa begitu pentingnya Gunung Merapi baik dari segi ilmu pengetahuan maupun perlindungan masyarakat dari bahaya letusannya hingga mengharuskan kita melakukan penelitian dan pengembangan teknologi pengamatan secara terus-menerus.
Aktivitas Gunung Merapi tidak pernah berhenti, sehingga menjadi lahan yang lengkap bagi para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya bidang kegunungapian. Penelitian dan pemantauan yang dilakukan oleh para ahli gunungapi Indonesia bersama ahli gunungapi luar negeri dalam kurun waktu yang lama akan banyak membantu menguak sejarah letusan dan karakteristik Gunung Merapi yang akan menjadi referensi Gunung Merapi. Tentunya hal ini juga akan sangat membantu dalam mitigasi bencana letusan Gunung Merapi dimana sasarannya agar masyarakat dan aparat siap bila terjadi letusan.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, telah melakukan berbagai penelitian dan pengamatan Gunung Merapi dari berbagai aspek mulai dari geologi, geofisika maupun geokimia. Dari aspek geologi (Volcano Stratigrafi), telah didapat data-data baru yang mengungkap sejarah letusan Gunung Merapi yang tentunya dapat membantu memberikan jawaban dalam mengungkap sejarah Mataram Hindu khususnya keterkaitan candi-candi yang terkubur pada era tersebut dengan letusan Gunung Merapi.
Pada akhir sambutan, Kepala Badan Geologi menyampaikan harapan bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di bidang kegunungapian, dapat memberikan sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan khususnya Gunung Merapi maupun bagi ilmu lain yang berkaitan seperti arkeologi dalam mengungkap kebenaran sejarah. Kepala Badan juga berharap sarasehan ini dapat menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan sumbangsih bagi kemakmuran, kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di Sekitar Gunung Merapi
Sementara itu dalam Sambutan Kunci Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diberi judul “Fenomena Merapi dan Misteri Mataram”, mengupas khasanah pengetahuan dan peran Gunung Merapi dari segi budaya dan sejarah mulai dari Mataram Hindu (Kuno) hingga Mataram Islam. Sri Sultan dalam kerangka pikirnya menempatkan lingkungan alam berupa enigma Merapi sebagai tantangan yang berpengaruh pada Sejarah Mataram, yang dalam banyak hal masih penuh misteri yang mengundang interpretasi dari para sejarawan, budayawan maupun yang lain termasuk ilmuwan gunungapi. Selain masalah budaya dan sejarah, disinggung pula tulisan-tulisan para ahli geologi yang menyatakan bahwa Merapi pernah meletus pada tahun 1006, namun beliau juga menyampaikan bahwa masih banyak perdebatan-perdebatan tentang hal ini yang tentunya memerlukan pemahaman dan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui kebenarannya. Pengenalan terhadap karakter Gunung Merapi diperlukan, agar masyarakat lebih siap dan tanggap dalam mengoptimalkan manajemen bencana (disaster management) yang berbasis masyarakat, bila saatnya bencana datang tiba-tiba. Pengembangan teknologi pemantauan gunungapi diharapkan dapat membantu dan melindungi masyarakat dari bencana letusan Gunung Merapi.
Menjelang puncak acara “Volcano International Gathering 2006” bulan September yang akan datang, mari kita bersama-sama memberikan sumbangsih pengetahuan tentang kegunungapian khususnya Gunung Merapi untuk menambah khasanah pengetahuan dan menjawab pertanyaan- pertanyaan yang masih belum terjawab. (Agung Pribadi-SBG)
Ilir-ilir
Cah angon, cah angon, peneken blimbing kuwi, lunyu-lunyu peneken, kanggo mbasuh dodotira. Hai gembala, panjatlah pohon blimbing itu. Meskipun licin, berusahalah untuk memanjat. Gunakan perasan buahnya untuk menyucikan dodot yang engkau pakai.
Gembala adalah perlambang penjaga rakyat. Penjaga yang bertugas untuk menuntun rakyat atau domba-dombanya kepadang rumput subur, yang memberi kesejahteraan lahir dan bathin. Dodot adalah kain panjang yang digunakan oleh para raja dan nara praja. Dalam hal ini dodot dikaitkan dengan pakaian – atau ageman para raja. Apa yang menjadi pegangan, yaitu adalah Agama Ageming Aji – agama yang menjadi pegangannya para raja.
Lagu ini menghimbau para pemimpin negara untuk memperbaiki perilaku dan keyakinan mereka. Agama bukan hanya untuk formalitas kekuasaan, akan tetapi benar-benar untuk di lakoni. Gembala disuruh memanjat pohon belimbing. Banyak yang salah kaprah, katanya belimbing perlambang Islam, karena kulitnya bergaris lima, dan rukun islam berjumlah lima. Demikiankah yang dimaksud ? Jawabannya belum tentu. Kalau yang dimaksud dengan rukun islam, tentu tidak disimbolkan dengan memanjat pohon belimbing yang licin. Belimbing buahnya untuk digunakan ’membersihkan’ dodot atau pakaian yang kotor. Bicara agama sebagai kepercayaan tok, tentu tidak bisa digunakan untuk menyucikan perilaku kotor.
Dalam sejarah jawa kuno, buah belimbing dengan lima garis merupakan perlambang Pancasila Buddhis, lima sila kemoralan. Kelima sila itu terdiri dari menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, kebohonan, mabuk. Inilah sila atau perilaku yang dikenal di khazanah budaya jawa kuno pada saat itu. Pancasila Buddhi ini tidak hanya untuk penyelenggara negara saja, tetapi untuk seluruh masyarakat. Tetapi sebagai panutan, walau susah, seorang pemimpin harus melaksanakan kelima hal di atas.
Pemimpin bangsa pada hakikatnya adalah para gembala yang berdodot, karena itulah tembang ilir-ilir ini, walau sudah banyak dilupakan, rasanya masih relevan untuk direnungkan, oleh para legislatif yang masih seperti murid TK. Pimpinan yudikatif yang mengobrak-abrik hukum itu sendiri. Dan para eksekutif yang sudah mulai menggali kapak perang, jauh sebelum pertandingan dimulai.
---
Hai para pemimpin negeri, bersihkan perilakumu dengan nglakoni buah belimbing - Pancasila Buddhi. Walau untuk melaksanakan itu, harus lewat jalan licin, terjal dan berliku, patutlah engkau usahakan. Sebelum domba-dombamu berontak, karena muak melihat perilaku gembala yang membikin derita para domba.
Salam Hangat,
Ki Jero Martani
Gembala adalah perlambang penjaga rakyat. Penjaga yang bertugas untuk menuntun rakyat atau domba-dombanya kepadang rumput subur, yang memberi kesejahteraan lahir dan bathin. Dodot adalah kain panjang yang digunakan oleh para raja dan nara praja. Dalam hal ini dodot dikaitkan dengan pakaian – atau ageman para raja. Apa yang menjadi pegangan, yaitu adalah Agama Ageming Aji – agama yang menjadi pegangannya para raja.
Lagu ini menghimbau para pemimpin negara untuk memperbaiki perilaku dan keyakinan mereka. Agama bukan hanya untuk formalitas kekuasaan, akan tetapi benar-benar untuk di lakoni. Gembala disuruh memanjat pohon belimbing. Banyak yang salah kaprah, katanya belimbing perlambang Islam, karena kulitnya bergaris lima, dan rukun islam berjumlah lima. Demikiankah yang dimaksud ? Jawabannya belum tentu. Kalau yang dimaksud dengan rukun islam, tentu tidak disimbolkan dengan memanjat pohon belimbing yang licin. Belimbing buahnya untuk digunakan ’membersihkan’ dodot atau pakaian yang kotor. Bicara agama sebagai kepercayaan tok, tentu tidak bisa digunakan untuk menyucikan perilaku kotor.
Dalam sejarah jawa kuno, buah belimbing dengan lima garis merupakan perlambang Pancasila Buddhis, lima sila kemoralan. Kelima sila itu terdiri dari menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, kebohonan, mabuk. Inilah sila atau perilaku yang dikenal di khazanah budaya jawa kuno pada saat itu. Pancasila Buddhi ini tidak hanya untuk penyelenggara negara saja, tetapi untuk seluruh masyarakat. Tetapi sebagai panutan, walau susah, seorang pemimpin harus melaksanakan kelima hal di atas.
Pemimpin bangsa pada hakikatnya adalah para gembala yang berdodot, karena itulah tembang ilir-ilir ini, walau sudah banyak dilupakan, rasanya masih relevan untuk direnungkan, oleh para legislatif yang masih seperti murid TK. Pimpinan yudikatif yang mengobrak-abrik hukum itu sendiri. Dan para eksekutif yang sudah mulai menggali kapak perang, jauh sebelum pertandingan dimulai.
---
Hai para pemimpin negeri, bersihkan perilakumu dengan nglakoni buah belimbing - Pancasila Buddhi. Walau untuk melaksanakan itu, harus lewat jalan licin, terjal dan berliku, patutlah engkau usahakan. Sebelum domba-dombamu berontak, karena muak melihat perilaku gembala yang membikin derita para domba.
Salam Hangat,
Ki Jero Martani
Kali Yuga
Bab Wanaparwa, bagian 189
The Mahabrata Of Krishna Dwaipayana Vyasa
Yuga adalah perioda / era, sehingga kali yuga bisa dikatakan sebaga perioda kali. Berikut paparan Rishi Markandeya tentang Jaman Kaliyuga.
Catur wangsa dalam Kali Yuga mempunyai akhlak serta menjalankan kebajikan yang tidak jujur. Pada umumnya orang-orang menipu penganut penganutnya dengan menyebarkan apa yang dikatakan “kebajikan”. Akibat dari pada hilangnya kebajikan, umur manusia menjadi pendek. Akibat umur pendek maka manusia tak mempunya pengetahuan yang cukup. Akibat kurang pengetahuan, mereka tidak punya kepradnyan. Oleh karena itu maka sifat tamak dan kikir berkuasa. Diliputi rasa tamak, murka, mabuk dan bernafsu, manusia dengki terhadap sesama manusia dan ingin jiwanya satu sama lain. Golongan yang rendah terangkat dan menduduki kedudukan yang tinggi, yang tinggi turun sampai ke tingkat yang rendah.
Busana yang dianggap terbaik, ialah yang terbuat dari pada bahan rami. Menjelang jaman ini orang menganggap bahwa istrinya adalah satu-satunya kawan. Manusia tidak percaya akan adanya Tuhan dan menjadi pencuri. Orang-orang mencari kepuasan atas milik orang lain. Ayah mencari kesenangan atas milik anaknya dan sebaliknya si anak mencari kesenangan atas milik orang tuannya. Hal atau barang-barang yang disenangi itu adalah yang terlarang menurut sastra-agama.
Brahmana tak menjalankan kegiatan pemujaan. Dan karena pengetahuan budinya dipengaruhi oleh kepalsuan, mereka mengarahkan kegiatannya kepada apa yang bersifat hina. Putera yang telah membunuh orang tuanya, orang tua telah membunuh puteranya, tidak dipandang sebagai orang durhaka. Upacara lenyap, kegemaran orangpun hilanglah. Tak seorangpun mau meminang anak gadis untuk menjadi istrinya, dan tidak seorangpun mau memberikan anak gadisnya untuk maksud itu, tetap si gadis itu sendirilah memilih bakal suaminya. Raja di dunia yang berjiwa pemabuk, dan tidak puas atas apa yang telah dimilikinya, pada jaman itu, merampas harta benda rakyatnya dengan berbagai-bagai cara dan kekuatan.
Pada akhir Yuga, tangan kanan menipu tangan kiri, dan tangan kiri menipu tangan kanannya. Orang tua mengkhianati orang muda yang belum mempunya pengertian, dan orang-orang muda menghianati orang tua. Para pengecut memperoleh jasa seperti orang yang gagah berani, orang gagah berani memperoleh penghinaan seperti orang pengecut. Orang-orang sama tidak mempercayai diri satu sama lain. Dosa dan pengkhianatan tumbu subur, sebaliknya kebajian pudar dan tidak berkembang lagi.
Brahmana dan ksatriya lenyap tiada berbekas. Semua orang merupakan anggota golongan kasta umum yang tiada mengenal perbedaan macam apapun. Orang tua tidak mengampuni puteranya, dan putera tidak mengampuni orang tuanya, isteri tak meladeni suami. Manusia mencari negeri dimana gandum dan jewawut menjadi makanan pokok. Lelaki dan wanita bebas sekali dalam tabiat kelakuannya, dan dalam perbuatan yang satu kepada yang lain tidak suka saling mengalah. Orang-orang tidak lagi memberikan kepuasan kepada Dewa-dewa dengan mempersembahkan sradha. Tidak seorangpun suka menghiraukan kata-kata orang lain, dan tidak seorangpun menganggap dirinya sebagai guru dari orang lain. Intelektualisme gelap menyelubungi seluruh dunia, dan umur manusia rata-rata cuman enam-belas tahun. Pada usia itu, mautpun sudah menghadang. Wanita berumur lima atau enam-tahun sudah beranak dan pria yang berumur tujuh atau delapan tahun telah menjadi bapak. Isteri tak puas dengan suaminya, dan suami tidak puas dengan istrinya. Milik orang tidak bisa (bertambah) banyak.
Orang-orang yang menjalankan agama dengan kepalsuan. Iri hati dan kebencian meraja lela. Tak seorangpun suka berdana punia (bersedekah/beramal) kepada orang lain. Penduduk dunia mengalami kesengsaraan akibat kekurangan dan kelaparan. Jalan-jalan raya dipadati oleh laki-laki dan perempuan-perempuan yang sangat bernafsu dan jahat. Semua orang berbudi pekerti seperti ”Mleccha”, kasar dalam perbuatan serta mengatakan keburukan orang lain. Orang-orang dengan tidak menyesal menghancurkan hutan-hutan dan taman-taman. Dan terhadap makna kehidupan orang-orang merasa cemas. Dikuasai oleh hatinya yang loba, orang-orang membunuh brahmana-brahmana, dan merampas harga benda korbannya itu. Para brahmana yang ditindas oleh sudra dicekam rasa takut dan mengeluh ’aduh dan sayang’. Mereka menjelajahi dunia, namun tiada seorangpun yang memberi perlindungan. Itulah ciri-ciri Yuga akan berakhir (Kali Yuga). Bahkan yang terkemuka dari para Brahmana di bencanai oleh maling, bagaikan burung gagak, lari mencari tempat untuk berlindung di dalam sungai-sungai, digunung-gunung dan ditempat-tempat yang sukar dikunjungi manusia.
Tertindas oleh pemerintahan yang buruk, dan diperas oleh pengenaan pajak yang berat, para pemuka brahmana di dalam jaman yang dahsyat itu hilang kesabarannya, lalu berbuat yang tidak utama, bahkan menjadi hamba-hamba sahaya Sudra. Sudra menguraikan isi Kitab Suci dan Brahmana-brahmana mendengarkannya, dan menetapkan jalan kewajibannya sesuai dengan tafsiran penunjuk jalannya itu. Orang rendah menjadi orang-orang tinggi, dan perjalanan hidup nampaknya terbalik. Mereka tidak lagi menyembah dewa-dewa, yang disembah adalah tulang-tulang dan lain-lain jimat di dalam tembok. Sudra tidak lagi mengabdi pada Rsi-rsi agung, di sekolah-sekolah dan tempat-tempat di mana para Brahmana memberikan kuliah dan tempat-tempat suci bagi Dewa-Dewa dan pada sumber-sumber mata air suci, penuh berisi makam-makam dan tembok-tembok yang menyimpan jimat tulang-tulang, bukannya berdiri pura-pura yang diperuntukkan bagi para Dewa.
Yuga akan berakhir jikalau bunga keluar dari bunga, dan buah keluar dari buah. Mendung di angkasa tidak menjatuhkan hujan tepat pada musimnya. Aturan upacara tidak dipatuhi lagi, dan sudra bersengketa dengan Brahmana. Karena tekanan hidup yang berat itu, orang-orang pada lari kehutan-hutan dan hidup dari buah-buahan dan umbi-umbian. Murid-murid tidak mentaati perintah gurunya, bahkan murid-murid membencanai dan tidak menghormati guru-gurunya lagi. Orang-orang hanya menjalankan tugas kekeluargaan semata-samata untuk memperoleh kemakmuran dan mendapatkan harta milik orang lain.
Dalam masa berakhirnya Yuga itu, semua orang merasa kekurangan. Pada kaki langit tampak cahaya, tapi semua bintang dan kumpulan bintang-bintang tidak bercahaya lagi. Angin berhembus sangat kencangnya dan banyak mercu (meteor?) jatuh dari langit, itu adalah alamat buruk. Matahari terbit bersama dengan matahari yang lain (=tujuh buah matahari). Mulai dari terbitnya sampai dengan terbenamnya, matahari di telan Kala Rahu. Dan dewa dari seribu mata (Hyang Indra) menjatuhkan hujan tidak cocok pada musimnya, tanaman padi tidak mau tumbuh subur berlimpah-limpah. Wanita-wanita senantiasa mengucapkan kata-kata tajam, tidak menaruh belas kasihan tapi mudah menangis.
Api berkobar dari semua arah. Orang-orang yang bepergian tidak berhasil mendapatkan makan minum dan perlindungan, meskipun mereka mencari dan memintanya. Mereka terlantar di tepi-tepi jalan mengulang-ulang kembali permohonannya itu. Buraung-burung gagak, ular dan burung-burung nasar, burung rajawali dan lain-lain binatang, dan burung-burung bergalu, suaranya mengerikan. Orang-orang membuang dan melalaikan sahabat dan keluarganya, dan bujang-bujangnya. Orang-orang minggat dari negeri dan kota tempat kedudukannya, mereka mencari tempat yang baru di satu dan lain tempat.
Apabila keadaan jaman yang dahsyat itu lampau, maka sang pencipta membangun duniu baru. Kapan itu? Terjadi manakala matahari dan bulan dan bintang Wrishaspati berada dalam susunan yang bernama ”Pushya” masuk pada tanda yang sama, maka jaman Kali Yuga akan berakhir digantikan oleh Jaman Kritya Yuga. Karena takdir, maka seorang Brahmana Kalki akan lahir didunia. Beliau memuja Hyang Wisnu dan mempunyai kekuatan besar serta pengetahuan tinggi dan gagah berani. Beliau akan lahir di suatu kota yang bernama ’Sambhala’ dalam keluarga Brahmana yang suci. Kereta, senjata, baju zirah segera ada pada beliau untuk dipergunakannya begitu hal terlintas dalam pikiran beliau. Dan beliau akan menjadi raja dari para raja-raja, dan selamanya jaya berkat kekuatan kebajikannya. Beliau membangun dunia kembali dengan menertibkan kembali sasana-sasana dan mewujudkan perdamaian dunia yang berpenduduk padat.
Setelah para pencuri dan penyamun di musnahkan, Brahmana Kalki pada suatu upacara Kurban-Kuda menyerah-terimakan dunia ini kepada brahmana-brahmana, dunia yang telah dibangun kembali. Sesudah itu beliau masuk ke dalam hutan, dan semua orang di bumi meniru perbuatannya itu. Dan setelah brahmana-brahmana memusnahkan para pencuri dan penyamun, maka tersedialah kekayaan yang melimpah ruah di bumi. Kemudian setelah dunia memperoleh pemerintahan yang baik, Brahmana Kalki setelah menanggalkan pakainnya yang terbuat dari kulit rusa, tombak dan trisula, akan kembali menjelajahi dunia, diiringi oleh para Brahmana yang utama dan hormat pada beliau, sambil membunuh para maling dan penyamun. Manakala dosa-dosa dengan demikian dibersihkan serta kebajikan menghiasi budi orang pada, maka dimulailah jaman baru yaitu Krita Yuga.
---oOo---
Rekan-rekan pembaca yang saya hormati. Sebagai akhir kutipan ini saya ingin mendapatkan masukan mengenai beberapa hal yaitu :
1. Dari parameter-parameter Jaman Kaliyuga yang telah ditulis berabad yang lampau, apakah menurut anda kita sekarang sudah berada pada jaman Kali Yuga ?
2. Apakah ada yang tahu arti perlambang - bunga keluar dari bunga, buah keluar dari buah ?
3. Tentang tujuh matahari, apakah ada ramalan-ramalan lain yang menyebut tentang itu ?
Sudilah kiranya untuk meluangkan waktu memberikan komentar tentang ketiga pertanyaan di atas. Terimakasih.
Salam Hormat
Ki Jero Martani
The Mahabrata Of Krishna Dwaipayana Vyasa
Yuga adalah perioda / era, sehingga kali yuga bisa dikatakan sebaga perioda kali. Berikut paparan Rishi Markandeya tentang Jaman Kaliyuga.
Catur wangsa dalam Kali Yuga mempunyai akhlak serta menjalankan kebajikan yang tidak jujur. Pada umumnya orang-orang menipu penganut penganutnya dengan menyebarkan apa yang dikatakan “kebajikan”. Akibat dari pada hilangnya kebajikan, umur manusia menjadi pendek. Akibat umur pendek maka manusia tak mempunya pengetahuan yang cukup. Akibat kurang pengetahuan, mereka tidak punya kepradnyan. Oleh karena itu maka sifat tamak dan kikir berkuasa. Diliputi rasa tamak, murka, mabuk dan bernafsu, manusia dengki terhadap sesama manusia dan ingin jiwanya satu sama lain. Golongan yang rendah terangkat dan menduduki kedudukan yang tinggi, yang tinggi turun sampai ke tingkat yang rendah.
Busana yang dianggap terbaik, ialah yang terbuat dari pada bahan rami. Menjelang jaman ini orang menganggap bahwa istrinya adalah satu-satunya kawan. Manusia tidak percaya akan adanya Tuhan dan menjadi pencuri. Orang-orang mencari kepuasan atas milik orang lain. Ayah mencari kesenangan atas milik anaknya dan sebaliknya si anak mencari kesenangan atas milik orang tuannya. Hal atau barang-barang yang disenangi itu adalah yang terlarang menurut sastra-agama.
Brahmana tak menjalankan kegiatan pemujaan. Dan karena pengetahuan budinya dipengaruhi oleh kepalsuan, mereka mengarahkan kegiatannya kepada apa yang bersifat hina. Putera yang telah membunuh orang tuanya, orang tua telah membunuh puteranya, tidak dipandang sebagai orang durhaka. Upacara lenyap, kegemaran orangpun hilanglah. Tak seorangpun mau meminang anak gadis untuk menjadi istrinya, dan tidak seorangpun mau memberikan anak gadisnya untuk maksud itu, tetap si gadis itu sendirilah memilih bakal suaminya. Raja di dunia yang berjiwa pemabuk, dan tidak puas atas apa yang telah dimilikinya, pada jaman itu, merampas harta benda rakyatnya dengan berbagai-bagai cara dan kekuatan.
Pada akhir Yuga, tangan kanan menipu tangan kiri, dan tangan kiri menipu tangan kanannya. Orang tua mengkhianati orang muda yang belum mempunya pengertian, dan orang-orang muda menghianati orang tua. Para pengecut memperoleh jasa seperti orang yang gagah berani, orang gagah berani memperoleh penghinaan seperti orang pengecut. Orang-orang sama tidak mempercayai diri satu sama lain. Dosa dan pengkhianatan tumbu subur, sebaliknya kebajian pudar dan tidak berkembang lagi.
Brahmana dan ksatriya lenyap tiada berbekas. Semua orang merupakan anggota golongan kasta umum yang tiada mengenal perbedaan macam apapun. Orang tua tidak mengampuni puteranya, dan putera tidak mengampuni orang tuanya, isteri tak meladeni suami. Manusia mencari negeri dimana gandum dan jewawut menjadi makanan pokok. Lelaki dan wanita bebas sekali dalam tabiat kelakuannya, dan dalam perbuatan yang satu kepada yang lain tidak suka saling mengalah. Orang-orang tidak lagi memberikan kepuasan kepada Dewa-dewa dengan mempersembahkan sradha. Tidak seorangpun suka menghiraukan kata-kata orang lain, dan tidak seorangpun menganggap dirinya sebagai guru dari orang lain. Intelektualisme gelap menyelubungi seluruh dunia, dan umur manusia rata-rata cuman enam-belas tahun. Pada usia itu, mautpun sudah menghadang. Wanita berumur lima atau enam-tahun sudah beranak dan pria yang berumur tujuh atau delapan tahun telah menjadi bapak. Isteri tak puas dengan suaminya, dan suami tidak puas dengan istrinya. Milik orang tidak bisa (bertambah) banyak.
Orang-orang yang menjalankan agama dengan kepalsuan. Iri hati dan kebencian meraja lela. Tak seorangpun suka berdana punia (bersedekah/beramal) kepada orang lain. Penduduk dunia mengalami kesengsaraan akibat kekurangan dan kelaparan. Jalan-jalan raya dipadati oleh laki-laki dan perempuan-perempuan yang sangat bernafsu dan jahat. Semua orang berbudi pekerti seperti ”Mleccha”, kasar dalam perbuatan serta mengatakan keburukan orang lain. Orang-orang dengan tidak menyesal menghancurkan hutan-hutan dan taman-taman. Dan terhadap makna kehidupan orang-orang merasa cemas. Dikuasai oleh hatinya yang loba, orang-orang membunuh brahmana-brahmana, dan merampas harga benda korbannya itu. Para brahmana yang ditindas oleh sudra dicekam rasa takut dan mengeluh ’aduh dan sayang’. Mereka menjelajahi dunia, namun tiada seorangpun yang memberi perlindungan. Itulah ciri-ciri Yuga akan berakhir (Kali Yuga). Bahkan yang terkemuka dari para Brahmana di bencanai oleh maling, bagaikan burung gagak, lari mencari tempat untuk berlindung di dalam sungai-sungai, digunung-gunung dan ditempat-tempat yang sukar dikunjungi manusia.
Tertindas oleh pemerintahan yang buruk, dan diperas oleh pengenaan pajak yang berat, para pemuka brahmana di dalam jaman yang dahsyat itu hilang kesabarannya, lalu berbuat yang tidak utama, bahkan menjadi hamba-hamba sahaya Sudra. Sudra menguraikan isi Kitab Suci dan Brahmana-brahmana mendengarkannya, dan menetapkan jalan kewajibannya sesuai dengan tafsiran penunjuk jalannya itu. Orang rendah menjadi orang-orang tinggi, dan perjalanan hidup nampaknya terbalik. Mereka tidak lagi menyembah dewa-dewa, yang disembah adalah tulang-tulang dan lain-lain jimat di dalam tembok. Sudra tidak lagi mengabdi pada Rsi-rsi agung, di sekolah-sekolah dan tempat-tempat di mana para Brahmana memberikan kuliah dan tempat-tempat suci bagi Dewa-Dewa dan pada sumber-sumber mata air suci, penuh berisi makam-makam dan tembok-tembok yang menyimpan jimat tulang-tulang, bukannya berdiri pura-pura yang diperuntukkan bagi para Dewa.
Yuga akan berakhir jikalau bunga keluar dari bunga, dan buah keluar dari buah. Mendung di angkasa tidak menjatuhkan hujan tepat pada musimnya. Aturan upacara tidak dipatuhi lagi, dan sudra bersengketa dengan Brahmana. Karena tekanan hidup yang berat itu, orang-orang pada lari kehutan-hutan dan hidup dari buah-buahan dan umbi-umbian. Murid-murid tidak mentaati perintah gurunya, bahkan murid-murid membencanai dan tidak menghormati guru-gurunya lagi. Orang-orang hanya menjalankan tugas kekeluargaan semata-samata untuk memperoleh kemakmuran dan mendapatkan harta milik orang lain.
Dalam masa berakhirnya Yuga itu, semua orang merasa kekurangan. Pada kaki langit tampak cahaya, tapi semua bintang dan kumpulan bintang-bintang tidak bercahaya lagi. Angin berhembus sangat kencangnya dan banyak mercu (meteor?) jatuh dari langit, itu adalah alamat buruk. Matahari terbit bersama dengan matahari yang lain (=tujuh buah matahari). Mulai dari terbitnya sampai dengan terbenamnya, matahari di telan Kala Rahu. Dan dewa dari seribu mata (Hyang Indra) menjatuhkan hujan tidak cocok pada musimnya, tanaman padi tidak mau tumbuh subur berlimpah-limpah. Wanita-wanita senantiasa mengucapkan kata-kata tajam, tidak menaruh belas kasihan tapi mudah menangis.
Api berkobar dari semua arah. Orang-orang yang bepergian tidak berhasil mendapatkan makan minum dan perlindungan, meskipun mereka mencari dan memintanya. Mereka terlantar di tepi-tepi jalan mengulang-ulang kembali permohonannya itu. Buraung-burung gagak, ular dan burung-burung nasar, burung rajawali dan lain-lain binatang, dan burung-burung bergalu, suaranya mengerikan. Orang-orang membuang dan melalaikan sahabat dan keluarganya, dan bujang-bujangnya. Orang-orang minggat dari negeri dan kota tempat kedudukannya, mereka mencari tempat yang baru di satu dan lain tempat.
Apabila keadaan jaman yang dahsyat itu lampau, maka sang pencipta membangun duniu baru. Kapan itu? Terjadi manakala matahari dan bulan dan bintang Wrishaspati berada dalam susunan yang bernama ”Pushya” masuk pada tanda yang sama, maka jaman Kali Yuga akan berakhir digantikan oleh Jaman Kritya Yuga. Karena takdir, maka seorang Brahmana Kalki akan lahir didunia. Beliau memuja Hyang Wisnu dan mempunyai kekuatan besar serta pengetahuan tinggi dan gagah berani. Beliau akan lahir di suatu kota yang bernama ’Sambhala’ dalam keluarga Brahmana yang suci. Kereta, senjata, baju zirah segera ada pada beliau untuk dipergunakannya begitu hal terlintas dalam pikiran beliau. Dan beliau akan menjadi raja dari para raja-raja, dan selamanya jaya berkat kekuatan kebajikannya. Beliau membangun dunia kembali dengan menertibkan kembali sasana-sasana dan mewujudkan perdamaian dunia yang berpenduduk padat.
Setelah para pencuri dan penyamun di musnahkan, Brahmana Kalki pada suatu upacara Kurban-Kuda menyerah-terimakan dunia ini kepada brahmana-brahmana, dunia yang telah dibangun kembali. Sesudah itu beliau masuk ke dalam hutan, dan semua orang di bumi meniru perbuatannya itu. Dan setelah brahmana-brahmana memusnahkan para pencuri dan penyamun, maka tersedialah kekayaan yang melimpah ruah di bumi. Kemudian setelah dunia memperoleh pemerintahan yang baik, Brahmana Kalki setelah menanggalkan pakainnya yang terbuat dari kulit rusa, tombak dan trisula, akan kembali menjelajahi dunia, diiringi oleh para Brahmana yang utama dan hormat pada beliau, sambil membunuh para maling dan penyamun. Manakala dosa-dosa dengan demikian dibersihkan serta kebajikan menghiasi budi orang pada, maka dimulailah jaman baru yaitu Krita Yuga.
---oOo---
Rekan-rekan pembaca yang saya hormati. Sebagai akhir kutipan ini saya ingin mendapatkan masukan mengenai beberapa hal yaitu :
1. Dari parameter-parameter Jaman Kaliyuga yang telah ditulis berabad yang lampau, apakah menurut anda kita sekarang sudah berada pada jaman Kali Yuga ?
2. Apakah ada yang tahu arti perlambang - bunga keluar dari bunga, buah keluar dari buah ?
3. Tentang tujuh matahari, apakah ada ramalan-ramalan lain yang menyebut tentang itu ?
Sudilah kiranya untuk meluangkan waktu memberikan komentar tentang ketiga pertanyaan di atas. Terimakasih.
Salam Hormat
Ki Jero Martani
Bima Pergi Ke Sumur Dorangga
Awignam Astu Nama Siddham
Syahdan sang prabu dari Gajahoya, Sri Maharaja Driyodhana, sedang merundingkan sesuatu dengan Sri Dang Hyang Drona. Nampaknya sangat penting hal yang mereka bicarakan, sebab para pujangga, resi, pendeta Syiwa, pendeta Buddha, menteri, pejabat tinggi negara, kepala daerah dan pegawai rumah tingga istana tak ada yang diikutsertakan dalam pembicaraan itu. Berkata Driyodhana, bahwa ia bermaksud mengakhiri hidup Sang Bima yang sedang berguru pada Drona untuk memperoleh ilmu kamoksan.
Tak lama kemudian datanglah Raden Wrekodara, yang disambut Diryodhana dan Dang Hyang Drona. Bahagia, anakku Raden Wrekodara, sungguh bahagia anaknda datang kepada saya, sebab saya akan memberikan surga kepadamu. Carilah anakku, air suci, Banyu Mahapawitra, agar saya dapat menyampaikan kepadamu kata-kata bertuah tentang pelepasan raga. Adapun tempat Banyu Mahapawitra itu di sumur Dorangga.
Berkata Bima, Raden Wrekodara “Selamat tinggal guruku, saya berangkat mencari Banyu Mahaprawitra”. Segera ditinggalkannya Gajahoya, berbagai kesulitan bahaya dan kesukaran ditemui di perjalanan. Melintas jurang curam, tebing terjal, cadas-wadas – ia langsung menuju ke sumur Dorangga.
Tanpa ragu ia masuk, tidak takut, tidak gentar. Tapi Banyu Mahapawitra tidak ia temukan. Sumur yang kotor dan sunyi itu ternyata dihuni ular sejodoh yang sangat ganas. Kedua ular membelit, menggigit dan menghisap Bima, tapi tak sedikitpun menyebabkan luka pada tubuhnya. Segera ulur sejodh itu ditusuk dengan pancanhaka (panca=5, naka=kuku). Darah ular menyembur, leher naga robek, keduanya mati oleh keperkasaan Sang Bima. Segera di lempar bangkai ular itu keluar semur. Terkejutlah dua pengiring Sang Bima, bernama Si Gagakampuhan dan Si Tuwalen, karena terkena bangkai naga, mereka gemetar dan meremang bulu kuduk mereka.
Lalu keluar Sang Bima dari sumur Dorangga dan segera ia sampai ke atas. Kedua bangkai naga diangkut oleh para pengiring Raden Wrekodara dan segera meninggalkan tempat itu. Belum jauh perjalanan, tiba-tiba dari jauh terdengar jeritan memanggil Sang Bima, dan dua orang bagus dan cantik tiba-tiba datang, lalu menangis dan menyembah. Dengan hormat Bima berkata ”Saya bertanya kepadamu, pria tampan dan putri cantik, dari mana kalian datang?” Bidadara dan bidadari itu menjawab ”Di bawah duli paduka Raden, kami memberi tahukan, bahwa sesungguhnya kami terjadi dari naga sejodoh. Radenlah yang melukat (menyucikan) kami dari mala petaka. Kami mohon diri untuk kembali ke Suralaya”. Lalu melesat bidadara dan bidadari itu ke antariksa. Raden Wrekodara sangat heran, dan ia lanjutkan perjalanannya.
Rupanya bidadara dan bidadari itu telah lama menderita duka nestapa menjadi naga. Dwidasya warsa, dasya = sepuluh, dwi = dua, warsa = tahun, dua belas tahun mereka menderita. Sekarang mereka cantik dan bagus seperti sedia kala. Si Syarasambaddha dan si Harsanandi.
Sementara itu tertawa dan bersukahatilah Sri Maharaja Driyodhana dan Sri Dang Hyang Drona. Berkata Sri Dang Hyang Drona ”Sekarang matilah Si Bima digigit naga. Ini terlihat dalam Puja saya, namanya puja Kuncang kancing, sebab saya awas dalam penglihatan”.
Sekonyong-konyong datang Sang Wrekodara, menghadap Sri Dang Hyang Drona dan mempersembahkan kedua bangkai naga kepadanya. Terkejutlah mereka melihat wujud naga yang sebesar pohon kelapa, menyeringai gigi taring dan membelalak kedua matanya.
Lalu berkata Sang Wrekodara, ”Tidak saya temukan Banyu Mahapawitra dalam sumur Dorangga, yang kotor dan sunyi ini. Saya menemukan dua ekor naga, yaitu yang saya persambahkan ini. Kedua naga menggigit dan membelit dan menghisap saya. Kedua naga saya tusuk dengan Pancanhaka sempai mati, ternyata mereka adalah bidadara dan bidadari.
Menjawab Sri Dang Hyang Drona, ”Kelirulah saya, anakku Sang Wrekodara. Tidak dalam sumur Dorangga air suci itu. Kelihata dalam puja saya, bahwa Banyu Mahapawitra ada di lapangan Andadawa. Segera berangkatlah, jangan membuang-buang waktu, anakku Sang Wrekodara dan waspadalah. Akan kamu temukan, Banyu Mahapawitra itu.
Om Saraswatyai namah
Om gemung Ganapataye namah
Om Syri-Gurubhyo namah
Om hormat dan puji kepada Saraswati,
Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati
Om, hormat dan puji kepada guru-guru yang terhormat,
*** Disarikan dan diolah kembali dari
*** Buku Nawaruci
*** di Indonesiakan oleh SP Adhikara,
*** Penerbit ITB Bandung, 1984.
Dalam cerita di atas bidadara Syarasambaddha dan bidadari Harsanandi dikutuk menjadi dua ekor ular sejodoh karena membuat kesalahan. Tak dijelaskan siapa yang mengutuk dan apa kesalahannya sempai dikutuk menjadi dua ekor naga itu. Untuk menjawab kedua pertanyaan tadi, perlu kita ketahui dulu bahwa bidadara-bidadari tugasnya melayani Batara Guru pada semua acara keagamaan, misalnya menyanyikan kidung, menari dan menyiapkan bunga tabur. Mungkin Syarasambaddha dan Harsanandi melaluikan tugas mereka karena terlalu asik berkasih-kasihan sebagai suami istri seperti dua ekor naga, sehingga dikutuk oleh Batara Guru menjadi naga sejodoh dan tinggal dalam sumur Dorangga.
Sumur adalah tempat air dan air adalah lambang kesucian. Tetapi dalam sumur Dorangga terdapat dua ekor naga sejodoh Syarasambaddha dan Harsanandi. Kalau di analisa dari nama-nama Dorangga, Syarasambaddha dan Harsanandi, maka kita dapat memahami apa yang tersirat dari perintah Drona kepada Bima.
Menurut kamus jawa kuno Zoetmulder arti kata dora = bohong, palsu, dusta. Sedangkan angga=awak, diri. Syarasambaddha asal kata syara=panah, jenis alang-alang atau rumput (dipakai untuk panah. Sambaddha = (sansekerta – hubungan pertalian, hubungan kepada, hubungan pribadi, kekerabatan, persahabatan, kerabat, sanak saudara, teman). Lalu Harsanandi asal kata harsa = kesukacitaan, kesenangan dlsb dan nandi = (nandini?) lembu putih yang dapat memberikan segalam permintaan, biasa juga dikaitkan dengan Batara Wisnu.
Dari analisis kata-kata di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada yang tersirat di belakang perintah Resi Drona kepada Bima : ”Wahai Bima, kamu adalah orang yang ditipu (Dorangga), sebab dalam sumur tak kamu temukan air suci, melainkan naga sejodoh (syarasambaddha=panah seikat, naga-naga seikat) yang sedang hidup bersukacita melestarikan jenisnya”. Sebagai Brahmana kerajaan di harus melaksanakan perintah Driyodana, tetapi sebagai seorang guru, dia sangat sayang terhadap Bima.
Atau pula mungkin maksud pengarang adalah memberikan petunjuk pada kita bahwa untuk mencari kesucian atau Banyu Mahapawitra maka yang di”bunuh” pertama kali adalah keterikatan terhadap nafsu dan keinginan-keinginan terhadap kebendaan.
Untuk menjadi seorang ksatria - pemimpin - pengelola pemerintahan, maka nafsu rendah dan birahi harus ditundukkan terlebih dahulu. Siapa yang bisa menundukkan ? Tiada lain adalah diri sendiri, bukan undang-undang ataupun fatwa-fatwa, bhisama-bhisama pemimpin agama. Yang mungkin saja seperti Drona, yang terkadang memberi petunjuk yang 'menyesatkan'.
Begitu banya tafsir yang dapat digali dari sebuah cerita. Semoga rekan-rekan dapat mengkaji cerita, mencoba merangakai pengalaman dan pengetahuan untuk dapat memeras mutiara-mutiara yang ada dari sebuah cerita. Mutiara itu, hanya dapat dipungut dengan mempercayai maksud baik dari sang pengarang.
Pada kesempatan berikutnya, jika ada jodo, saya akan datang lagi dengan cerita lanjutan yaitu Bima Pergi Ke Lapangan Andadawa.
Salam hormat,
Ki Jero Martani
Syahdan sang prabu dari Gajahoya, Sri Maharaja Driyodhana, sedang merundingkan sesuatu dengan Sri Dang Hyang Drona. Nampaknya sangat penting hal yang mereka bicarakan, sebab para pujangga, resi, pendeta Syiwa, pendeta Buddha, menteri, pejabat tinggi negara, kepala daerah dan pegawai rumah tingga istana tak ada yang diikutsertakan dalam pembicaraan itu. Berkata Driyodhana, bahwa ia bermaksud mengakhiri hidup Sang Bima yang sedang berguru pada Drona untuk memperoleh ilmu kamoksan.
Tak lama kemudian datanglah Raden Wrekodara, yang disambut Diryodhana dan Dang Hyang Drona. Bahagia, anakku Raden Wrekodara, sungguh bahagia anaknda datang kepada saya, sebab saya akan memberikan surga kepadamu. Carilah anakku, air suci, Banyu Mahapawitra, agar saya dapat menyampaikan kepadamu kata-kata bertuah tentang pelepasan raga. Adapun tempat Banyu Mahapawitra itu di sumur Dorangga.
Berkata Bima, Raden Wrekodara “Selamat tinggal guruku, saya berangkat mencari Banyu Mahaprawitra”. Segera ditinggalkannya Gajahoya, berbagai kesulitan bahaya dan kesukaran ditemui di perjalanan. Melintas jurang curam, tebing terjal, cadas-wadas – ia langsung menuju ke sumur Dorangga.
Tanpa ragu ia masuk, tidak takut, tidak gentar. Tapi Banyu Mahapawitra tidak ia temukan. Sumur yang kotor dan sunyi itu ternyata dihuni ular sejodoh yang sangat ganas. Kedua ular membelit, menggigit dan menghisap Bima, tapi tak sedikitpun menyebabkan luka pada tubuhnya. Segera ulur sejodh itu ditusuk dengan pancanhaka (panca=5, naka=kuku). Darah ular menyembur, leher naga robek, keduanya mati oleh keperkasaan Sang Bima. Segera di lempar bangkai ular itu keluar semur. Terkejutlah dua pengiring Sang Bima, bernama Si Gagakampuhan dan Si Tuwalen, karena terkena bangkai naga, mereka gemetar dan meremang bulu kuduk mereka.
Lalu keluar Sang Bima dari sumur Dorangga dan segera ia sampai ke atas. Kedua bangkai naga diangkut oleh para pengiring Raden Wrekodara dan segera meninggalkan tempat itu. Belum jauh perjalanan, tiba-tiba dari jauh terdengar jeritan memanggil Sang Bima, dan dua orang bagus dan cantik tiba-tiba datang, lalu menangis dan menyembah. Dengan hormat Bima berkata ”Saya bertanya kepadamu, pria tampan dan putri cantik, dari mana kalian datang?” Bidadara dan bidadari itu menjawab ”Di bawah duli paduka Raden, kami memberi tahukan, bahwa sesungguhnya kami terjadi dari naga sejodoh. Radenlah yang melukat (menyucikan) kami dari mala petaka. Kami mohon diri untuk kembali ke Suralaya”. Lalu melesat bidadara dan bidadari itu ke antariksa. Raden Wrekodara sangat heran, dan ia lanjutkan perjalanannya.
Rupanya bidadara dan bidadari itu telah lama menderita duka nestapa menjadi naga. Dwidasya warsa, dasya = sepuluh, dwi = dua, warsa = tahun, dua belas tahun mereka menderita. Sekarang mereka cantik dan bagus seperti sedia kala. Si Syarasambaddha dan si Harsanandi.
Sementara itu tertawa dan bersukahatilah Sri Maharaja Driyodhana dan Sri Dang Hyang Drona. Berkata Sri Dang Hyang Drona ”Sekarang matilah Si Bima digigit naga. Ini terlihat dalam Puja saya, namanya puja Kuncang kancing, sebab saya awas dalam penglihatan”.
Sekonyong-konyong datang Sang Wrekodara, menghadap Sri Dang Hyang Drona dan mempersembahkan kedua bangkai naga kepadanya. Terkejutlah mereka melihat wujud naga yang sebesar pohon kelapa, menyeringai gigi taring dan membelalak kedua matanya.
Lalu berkata Sang Wrekodara, ”Tidak saya temukan Banyu Mahapawitra dalam sumur Dorangga, yang kotor dan sunyi ini. Saya menemukan dua ekor naga, yaitu yang saya persambahkan ini. Kedua naga menggigit dan membelit dan menghisap saya. Kedua naga saya tusuk dengan Pancanhaka sempai mati, ternyata mereka adalah bidadara dan bidadari.
Menjawab Sri Dang Hyang Drona, ”Kelirulah saya, anakku Sang Wrekodara. Tidak dalam sumur Dorangga air suci itu. Kelihata dalam puja saya, bahwa Banyu Mahapawitra ada di lapangan Andadawa. Segera berangkatlah, jangan membuang-buang waktu, anakku Sang Wrekodara dan waspadalah. Akan kamu temukan, Banyu Mahapawitra itu.
Om Saraswatyai namah
Om gemung Ganapataye namah
Om Syri-Gurubhyo namah
Om hormat dan puji kepada Saraswati,
Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati
Om, hormat dan puji kepada guru-guru yang terhormat,
*** Disarikan dan diolah kembali dari
*** Buku Nawaruci
*** di Indonesiakan oleh SP Adhikara,
*** Penerbit ITB Bandung, 1984.
Dalam cerita di atas bidadara Syarasambaddha dan bidadari Harsanandi dikutuk menjadi dua ekor ular sejodoh karena membuat kesalahan. Tak dijelaskan siapa yang mengutuk dan apa kesalahannya sempai dikutuk menjadi dua ekor naga itu. Untuk menjawab kedua pertanyaan tadi, perlu kita ketahui dulu bahwa bidadara-bidadari tugasnya melayani Batara Guru pada semua acara keagamaan, misalnya menyanyikan kidung, menari dan menyiapkan bunga tabur. Mungkin Syarasambaddha dan Harsanandi melaluikan tugas mereka karena terlalu asik berkasih-kasihan sebagai suami istri seperti dua ekor naga, sehingga dikutuk oleh Batara Guru menjadi naga sejodoh dan tinggal dalam sumur Dorangga.
Sumur adalah tempat air dan air adalah lambang kesucian. Tetapi dalam sumur Dorangga terdapat dua ekor naga sejodoh Syarasambaddha dan Harsanandi. Kalau di analisa dari nama-nama Dorangga, Syarasambaddha dan Harsanandi, maka kita dapat memahami apa yang tersirat dari perintah Drona kepada Bima.
Menurut kamus jawa kuno Zoetmulder arti kata dora = bohong, palsu, dusta. Sedangkan angga=awak, diri. Syarasambaddha asal kata syara=panah, jenis alang-alang atau rumput (dipakai untuk panah. Sambaddha = (sansekerta – hubungan pertalian, hubungan kepada, hubungan pribadi, kekerabatan, persahabatan, kerabat, sanak saudara, teman). Lalu Harsanandi asal kata harsa = kesukacitaan, kesenangan dlsb dan nandi = (nandini?) lembu putih yang dapat memberikan segalam permintaan, biasa juga dikaitkan dengan Batara Wisnu.
Dari analisis kata-kata di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada yang tersirat di belakang perintah Resi Drona kepada Bima : ”Wahai Bima, kamu adalah orang yang ditipu (Dorangga), sebab dalam sumur tak kamu temukan air suci, melainkan naga sejodoh (syarasambaddha=panah seikat, naga-naga seikat) yang sedang hidup bersukacita melestarikan jenisnya”. Sebagai Brahmana kerajaan di harus melaksanakan perintah Driyodana, tetapi sebagai seorang guru, dia sangat sayang terhadap Bima.
Atau pula mungkin maksud pengarang adalah memberikan petunjuk pada kita bahwa untuk mencari kesucian atau Banyu Mahapawitra maka yang di”bunuh” pertama kali adalah keterikatan terhadap nafsu dan keinginan-keinginan terhadap kebendaan.
Untuk menjadi seorang ksatria - pemimpin - pengelola pemerintahan, maka nafsu rendah dan birahi harus ditundukkan terlebih dahulu. Siapa yang bisa menundukkan ? Tiada lain adalah diri sendiri, bukan undang-undang ataupun fatwa-fatwa, bhisama-bhisama pemimpin agama. Yang mungkin saja seperti Drona, yang terkadang memberi petunjuk yang 'menyesatkan'.
Begitu banya tafsir yang dapat digali dari sebuah cerita. Semoga rekan-rekan dapat mengkaji cerita, mencoba merangakai pengalaman dan pengetahuan untuk dapat memeras mutiara-mutiara yang ada dari sebuah cerita. Mutiara itu, hanya dapat dipungut dengan mempercayai maksud baik dari sang pengarang.
Pada kesempatan berikutnya, jika ada jodo, saya akan datang lagi dengan cerita lanjutan yaitu Bima Pergi Ke Lapangan Andadawa.
Salam hormat,
Ki Jero Martani
RE: [mediacare] Kali Yuga
Ki Jero Martani, saya coba tanggapi dan berbagi dengan 'panjenengan', mungkin ada gunanya, walaupun mungkin tidak tepat sekali, namun mungkin dapat menjadi bahan pemikiran dan/atau diskusi:
Di sebuah buku best-seller dunia berjudul "Confessions of An Economic Hit Man", penulisnya yang bernama John Perkins (www.johnperkins.org), seorang mantan EHM (Economic Hit Man), menyebutkan ramalan yang ia dengar di berbagai suku bangsa, baik di biara Himalaya, di situs upacara di Indonesia, di suaka pribumi (Indian) di Amerika Utara, dari kedalaman Amazon hingga ke puncak Andes dan ke kota suku Maya di Amerika Tengah; yang kesemuanya berbicara tentang hal serupa, walau judul dan pesan ramalan itu berbeda sedikit satu dengan lainnya. Ramalan itu menceritakan macam-macam hal tentang Jaman Batu, Awal Matahari Kelima, akhir penanggalan lama dan awal penanggalan baru, dan lain-lain; namun mempunyai kesamaan cerita tentang bahwa dahulu kala dalam kabut sejarah, umat manusia pada dasarnya TERBAGI dan mengambil dua buah jalur yang berbeda: jalur Condor (mewakili hati, bersifat intutitif dan mistis) dan jalur Elang (mewakili otak, bersifat rasional dan materiil). Ramalan itu mengatakan pada tahun 1490-an (kedua jalur itu akan menyatu dan sang Elang akan mendorong sang Condor ke ambang kepunahan. Sebagai informasi tambahan dari saya untuk pembanding, beberapa peristiwa besar dunia di dekade ini adalah ditemukannya Amerika Serikat oleh Columbus pada tahun 1492 oleh ekspedisi atas restu Raja Ferdinand dan Ratu Isabela dari Spanyol. Pada tahun yang sama, di tahun 1492 Masehi, adalah juga merupakan tahun puncak terjadinya 'Masa Inkuisisi' pembantaian terhadap kaum Muslim dan Yahudi, suatu pembersihan atas sisa-sisa Kekhalifahan Bani Umayyah di Spanyol dan Portugal (dan di Sicilia, Italia; pembersihan terhadap kaum Muslim dan Yahudi di sana) yang di Spanyol dan Portugal ini dipimpin juga oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela. Di masa ini juga adalah masa-masa awal dari jaman Renaissance (kebangkitan kembali Eropa) menuju jaman Modern, mengejar ketertinggalannya dari Timur, sesudah Eropa mengalami apa yang disebut sebagai jaman Abad Kegelapan atau jaman Abad Pertengahan.
Lalu lima ratus tahun kemudian, sekitar tahun 1990-an menurut ramalan ini, suatu jaman baru akan dimulai, dan sang Condor dan Elang akan mempunyai kesempatan untuk bersatu kembali, terbang bersama-sama di langit yang sama, mengarungi jalur yang sama. Jika sang Condor dan Elang menerima kesempatan ini, mereka akan menciptakan keturunan yang paling luar biasa, berbeda dengan yang pernah dilihat sebelumnya. Apapun juga kenyataan ramalan luar-biasa ini, ternyata saat ini kita telah memasuki Milenium Ketiga di tahun 2006 ini. Maka sadarkah kiranya anda, bahwa anda sedang hidup di masa yang menarik dan penting, menilik ini semua?
Ke mana arah Nusantara Indonesia di masa depan?
Saya sungguh tidak cukup tahu.
Tetapi ke manapun juga nanti, rasio pendapatan seperlima penduduk dunia di negara-negara terkaya terhadap pendapatan seperlima penduduk di negara-negara termiskin dunia meningkat dari 30 berbanding 1 pada tahun 1960, menjadi 74 berbanding 1 pada tahun 1995. Dan Bank Dunia, USAID, IMF, dan bank-bank lainnya, korporasi-korporasi dan pemerintah-pemerintah yang terlibat di dalam “bantuan” internasional jaringan “corporatocracy”, terus menceritakan kepada kita bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan mereka, bahwa kemajuan telah dicapai. SUNGGUH MALANG nasib Indonesia (dan negara-negara berkembang lain terutama penghasil minyak bumi dan gas alam) mendapatkan ‘bantuan’ pinjaman yang di ‘mark-up’ sehingga berbunga yang bahkan tak mungkin dibayar sampai ke anak-cucu, dan masih pula ditambah dengan korupsi besar-besaran yang biasanya dilakukan orang Indonesia sendiri. Sungguh, ‘Teori Menetes’ yang pernah saya baca di berbagi buku ekonomi makro tentang ‘maksud baik’ Orde Baru untuk membiarkan para pemimpin dunia usaha (baca: konglomerat, pengusaha swasta umum, Badan Usaha Milik Negara, dan lain-lain; laksana Chaebol di Korea Selatan yang didukung pemerintahnya, namun dengan disiplin lebih rendah di Indonesia) menjadi lokomotif ekonomi dan menarik gerbong panjang berisi rakyat Indonesia, benar-benar hanya MENETESKAN sangat sedikit saja hasil keuntungan mereka untuk masyarakat banyak, setelah dikurangi berbagai hal, atau investasi lain di usaha-usaha lain berdasarkan segala optimisme prediksi. Jatah rakyat itu yang dapat sangat berguna untuk berbagai layanan kesehatan, pendidikan, fasilitas umum, tunjangan sosial, dan sebagainya; sudah SANGAT dikurangi (resmi atau tidak) kata banyak kalangan oleh dan untuk jatah para oknum pejabat, pegawai negeri, petugas pajak, petugas admin istrasi, petugas hukum, polisi, tentara, dan sebagainya.
Tapi bukankah kita tidak dapat menyalahkan mereka sepenuhnya, para pegawai negeri dan aparat negara ini? Mereka, katanya, seharusnya, adalah orang-orang terpandang yang masih percaya cerita warisan budaya kolonial penjajah Belanda tentang jaminan kesejahteraan pegawai negeri 'ambtenaar’ yang karena jatah pendapatan mereka yang resmi ternyata sangat ajaib kecilnya di masa kemerdekaan guna memenuhi cita-cita akan negara sosial Indonesia; tidak diimbangi dengan tangkalan terhadap arus iming-iming kemewahan global dunia dan penyediaan fasilitas umum yang baik; maka ‘terpaksalah’ mencari penghasilan tambahan. Orang Indonesia ini pintar-pintar bukan? Bagaimana pendapat anda? Sigmund Freud dengan sederet teori psikoanalisanya akan setuju. Hahahahahaaaa …!
Satu contoh (serius, bukan sindiran seperti di atas), adalah peraturan pemerintah tentang kepemilikan mobil (apalagi mobil mewah) yang dipersulit dengan tambahan pajak pembelian yang sangat tinggi (banyak kalangan yang tahu berkata, pajak mobil Indonesia termasuk tertinggi di dunia) di masa Orde Baru guna memenuhi cita-cita akan negara sosial dengan prinsip pemerataannya, selain tentunya untuk pemasukan negara. Maksud cukup mulia yang antara lain berguna untuk meminimalkan perbedaan kaya-miskin ini, ternyata tidak dibarengi penyediaan fasilitas transportasi umum yang memadai, sehingga mau-tidak mau rakyat yang tentulah menginginkan sesuatu yang lebih baik untuk transportasi sehari-hari (mobil pribadi misalnya), apalagi di wilayah tropis seperti ini; berusaha memenuhinya. Karena prinsip ekonomi ‘ada kebutuhan ada pasokan’, dicarilah berbagai cara untuk memenuhi segala penunjang hedonisme ini, dan di kemudian hari lahirlah berbagai paket kredit kepemilikan mobil yang juga diceritakan menghasilkan banyak kolusi, manipulasi, dan sebagainya; selain menghasilkan jumlah mobil yang membengkak terutama di perkotaan yang lalu mengakibatkan kemacetan lalu-lintas karena (di antara berbagai faktor lain) agaknya prediksi pertumbuhan ekonomi dan segala kaitannya (termasuk penyediaan jalan) oleh pemerintah itu (yang dibantu para konsultan seperti para Economic Hit Man/EHM itu), tidak realistis. Istilah EHM sendiri, adalah suatu istilah ’kode’ di antara mereka sendiri yang merujuk kepada orang yang ditugaskan untuk dua pekerjaan utama: (1) Membenarkan pinjaman internasional yang besar kepada negara-negara berkembang yang kemudian akan disalurkan kembali kepada ”MAIN” dan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang lain seperti ”Bechtel”, ”Halliburton”, ”Stone & Webster Engineering Corporation (SWEC)”, ”Brown & Root” atau ”Kellog Brown & Root”; melalui proyek-proyek rekayasa teknis (engineering) dan konstruksi raksasa. (2) Membangkrutkan negara-negara yang menerima pinjaman itu (setelah negara-negara itu membayar MAIN dan kontraktor Amerika Serikat lainnya, tentu saja) sehingga negara-negara itu selamanya akan berhutang kepada kreditor mereka itu dan dengan demikian mereka akan menjadi sasaran empuk dan sekutu yang penurut ketika Amerika Serikat (dan sekutu-sekutunya, mungkin) memerlukan dukungan mereka seperti untuk pangkalan militer, hak suara PBB, atau akses kepada minyak dan sumber daya alam lain. Maka, negara-negara yang telah berhasil ia taklukkan atau paling tidak ia ketahui fakta-faktanya tentang operasi super rahasia ini adalah antara lain Ekuador, Indonesia, Arab Saudi, Iran, Panama, Iraq, Kolombia, Venezuela (para EHM dan ’serigala’, menemui kegagalan di Iraq, Panama, dan Venezuela namun toh tidak demikian para tentara Paman Samnya yang sukses dengan Invasi oleh Amerika Serikat ke Panama dan Perang Teluknya ke Iraq). Dan John Perkins mengungkapkan kekhawatirannya bahwa banyak orang-orang biasa di berbagai negara (termasuk di Indonesia, tentunya) mungkin secara tak sadar juga menjadi bagian dari Corporatocracy di perusahaan-perusahaan, berbagai organisasi, dan menjadi alat untuk menekan lawan-lawan kepentingan Corporatocary; dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan orang-orang biasa itu seperti melalui lobbying, hadiah, gaji, bonus, pelatihan, pemotivasian, penggalangan opini dan simpati; dan sebagainya.
Akhirnya, di rangkaian Chain-Reaction lingkaran setan ini, pemerintah dan rakyat, kita semua jugalah yang ‘kerepotan’. Dan di dalam teori bisnis, ternyata bila suatu sistem sudah kacau, salah satu caranya adalah melakukan re-rengineering (perombakan dasar, yang populer sebagai BPR, Business Process Re-engineering atau CPR, Core Process Re-engineering) dan agaknya yang telah dialami Indonesia adalah dengan cara Reformasi ini. Entah, sampai seeektif dan seefisien mana proses Reformasi ini akan bergulir kiranya.
Saya bukan anti Amerika Serikat, saya masih sangat menikmati banyak teknologi dan segala budaya pop Amerika, dan agama saya, Islam, tidak mengajarkan diskriminasi rasial, agama, dan sebagainya; apalagi untuk dilakukan secara ofensif dan aktif (hanya pasif, dalam kerangka jihad sebagai betuk bela-diri, bukan untuk serangan mendahului). Tapi tak pelak segala fakta dan spekulasi ini (misalnya tentang Manifest Destiny, EHM, para serigala, Pan-Americana, Doktrin Monroe, kroni Bush, NSA, CIA, Corporatocracy, dsb.; baca buku "Confessions of An Economic Hit Man atau ringkasannya yang telah saya kirimkan ke beberapa Miling List bebrapa waktu lalu menjelang berbagai peristiwa penting Mei 2006 ini) membuat saya berpikir banyak tentang berbagai bayangan indah, terutama di masa kecil dulu, tentang Amerika Serikat, bahkan orang kulit putih. Dulu semasa kecil, Inggris dan Amerika Serikat, adalah negara pahlawan saya, dan saya memimpikan dan mengidentikkan diri saya sebagai ’anak Inggris’ atau ’anak Amerika’. Saya dari dulu sampai sekarang adalah penggemar Spider-Man dan Superman. Saya pembaca berulangkali seri Tintin, Asterix, Tanguy & Laverdure, Little House, Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan sebagainya dan termasuk buku cerita best-seller sekarang, Harry Potter yang membius dan menakjubkan itu; selain berbagai buku ilmiah produk Amerika dan negara-negara maju lain itu. Saya juga penggemar masakan dan ahli memasak masakan Barat (walau tentu saja sebagai Muslim, saya tidak pernah menambahkan Anggur, Brandy, Rhum, Whisky dan sejenisnya serta Babi ke masakan saya, serta memasaknya hingga matang hingga kering darahnya dan hilang segala cacing dan sebagainya; tiga hal yang sering ada dalam seni Kuliner a la Barat dan tak sesuai dengan agama saya).
Saya mampu berbicara Bahasa Inggris fasih dalam logat British, dan saya dapat mengubahnya menjadi logat Scottish atau bahkan Irish, satu hal yang dikagumi oleh bahkan kenalan berbangsa Inggris saya. Saya hafal banyak kisah hidup orang besar Barat dan sejarah Barat mungkin lebih daripada sejarah bangsa sendiri. Saya bahkan dulu turut memusuhi tanpa berpikir panjang siapa saja yang mereka musuhi seperti ditunjukkan dalam film-film Hollywood, dan kemenangan Amerika tentu saja tanpa pikir panjang dulu, adalah kemenangan saya juga. Namun sekarang saya benar-benar berhati-hati dalam menilai segala sesuatu. Sekarang, bayangan identifikasi diri saya menjadi anak ’Inggris atau Amerika’ itu menjadi meredup, dan saya telah cukup lama mulai menggali ke-asia-an saya, terutama ke-indonesia-an saya, bahkan dalam arus kencang Globalisasi. Dan saya masih cukup bangga menjadi orang Nusantara Indonesia, ini sudah takdir saya, walau sebagian hati saya juga mengagumi saudara kita Malaysia yang gemilang itu. Malaysia, negeri yang dulu belajar dari kita bahkan masih mengirimkan mahasiswa belajar kedokteran ke Universitas Airlangga sampai sekarang di tahun 2006, namun telah keluar dari Krisis Moneter dengan lebih cepat di bawah Mahathir Mohammad; sementara kita masih dininabobokkan gurindam, legenda, dongeng, langgam, dan seterusnya tentang ’negeri Nusantara yang subur, kaya, dan makmur’ dan menganggap semua sudah dan akan beres dengan sendirinya karena ’Tuhan menyayangi kita, bukan?’.
Lalu, Senin 25 April 2006 (tulisan ini saya tulis selama beberapa hari, di antara berbagai kesibukan lain) saya tak sengaja menyaksikan liputan TV tentang akad nikah anak Bambang Trihatmojo, dan menyaksikan mantan Presiden Soeharto datang tanpa duduk di kursi roda seperti di tahun-tahun lalu sesudah ia ’lengser keprabon’, ke acara akad nikah cucunya itu. Pak Harto, sang Bapak Pembangunan Orde Baru, terlihat sehat dan segar-bugar berseri-seri, sangat sehat untuk orang seusia beliau yang telah mengalami stroke, membuat saya sejenak bernostalgia saat saya dulu semasa kecil duduk di depan TV menyaksikan siaran TVRI tentang berbagai keajaiban pembangunan ekonomi Republik Indonesia di masa Orde Baru dengan rangaian tahapan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) negara tercinta ini. Saya turut berbahagia melihat pak Harto saat itu, sungguh, sejujur-jujurnya, saat menyaksikan betapa Tuhan memberikan karunia umur panj ang kepada seorang tua yang cukup tampan. Saya juga dari dulu menyadari betapa tampannya kedua mantan Presiden kita, Sukarno dan Soeharto, dan betapa pengaruh besar mereka terhadap berbagai kemajuan yang kita sempat dan masih nikmati.
Namun sisi lain diri saya, tak dapat berhenti untuk terus memikirkan apa yang telah terjadi selama beberapa puluh tahun terakhir di Indonesia tentang Permesta, PRRI, DI/TII, Gerakan Non-Blok, Demokrasi Terpimpin, Trikora dan Dwikora, G 30 S PKI, Pelita, Demokrasi Pancasila, NKK-BKK, P4, BAKIN dan intelijen negara, Pemilu dengan hanya tiga partai, DPR, MPR, Bappenas, deregulasi, Pakto-Paknov (Paket Oktober dan Paket Novembernya Radius Prawiro), ’keterbukaan’ Orde Baru, manipulasi, korupsi, kolusi, para konglomerat, para Jenderal, para pejabat negara, para dukun, adat-istiadat, takhayul, dinamisme, animisme, aktivis mahasiswa yang hilang; lalu Krisis Moneter, likuidasi, pengangguran, kemiskinan, fasilitas layanan umum, kekurangan pendidikan, dan sekolah-sekolah negeri yang terpencil dan seperti kandang sapi. Kemudian tentang berubahnya budaya bangsa dengan segala sisi baik-buruknya, para pemimpin kita, p olitik dan politik dagang-sapi, narkoba, pornografi yang meningkat, layanan seksual, ”Wanita Tuna Susila’ (WTS) yang berganti nama menjadi ’Pekerja Seks Komersial’ (PSK, jadi seharusnya mereka ini berhak masuk Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia, ASPEK Indonesia, termasuk mungkin menjadi Menteri Tenaga Kerja Indonesia, bukan?), hutan gundul, kebakaran hutan, konglomerat yang kabur atau bunuh diri, kebodohan masyarakat, konflik dan genocide antar suku-bangsa dan umat beragama, pembunuhan-pembunuhan akibat kemiskinan, bom, berbagai demo, banjir di Jakarta dan bahkan Airport Soekarno-Hatta, dan bencana alam.
Kemudian Sampoerna dengan segala iklan sindirannya, Jama’ah Islamiyyah, sekolah-sekolah bisnis, Bank Indonesia, BPPN, divestasi, Freeport, Chevron-Caltex, UMR, partai-partai, DPR, KPU, KPK, dan lain-lain. Juga Soekarno-Hatta, Soeharto, Marsinah, Soe Hok Gie, Baharuddin Lopa, Munir, Tommy Soeharto yang berada di penjara, Ricardo Gelael yang bebas dari penjara, Soedomo, L.B. Moerdani, Frans Seda, Soemitro Djojohadikusumo dan ’Mafia Berkeley’nya, Widjojonitisastro, Dorodjatun Kuntjorojakti, Radius Prawiro, Bustanul Arifin, Ginanjar Kartasasmita, Fu’ad Bawazier, Peter F. Gontha, Edi Tanzil, Prabowo Subianto, Wiranto, Agum Gumelar, Sudrajat Djiwandono, Laksamana Soekardi, Taufik Kiemas, Tommy Winata, Gubernur DKI Sutiyoso, BJ. Habibie, ’Gus Dur’ Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri, Amien Rais-Siswono, Kwik Kian Gie, Todung Mulya Lubis, Jaksa Agung Adurrahman Saleh, Kapolri Sutan to, SBY-JK. Dan terakhir kembali ke terutama mengenai tulisan John Perkins dan Michael Moore, serta apapun fakta lain yang belum terungkap di balik hubungan semua hal itu.
Sebagai tambahan, kawan saya seorang lulusan MM UI, punya kawan yang dulu bekerja di BPPN. Menurut penuturannya, kawannya ini terus-terang mengaku kepadanya bahwa sejak bergabung dengan BPPN, ia ’kebanyakan duit’ tiap bulannya, dan bingung ’duitnya mau diapain bahkan sesudah membeli beberapa mobil dan rumah’. Begitu banyak pihak berkepentingan dengan BPPN yang membuatnya ’kebanyakan duit’, menurutnya. Kawan saya sendiri, karena mengaku bahwa ia bersifat jujur dan mau mengabdi untuk negara saat wawancara kerja dengan BPPN agaknya (inilah sifat kawan saya yang menjaga agama dan jujur), kemudian tidak diterima bekerja di sana. Dan pada lain pembicaraan menurut pendapatnya, di Indonesia, banyak sekali orang yang bersedia disuap, termasuk oleh kepentingan asing. Saya sendiri setuju, wong lha kita ini maunya kebarat-baratan memang, bahkan mungkin lebih kebarat-baratan daripada orang b arat sendiri bisa-bisa, sudah lupa terhadap semboyan ’berdikari’ (berdiri di atas kaki sendiri) Sukarno dan berbagai sejarah dunia. Generasi yang bingung dan menyedihkan, ’orang pinter malah miskin di jaman edan’, seperti ramalan Joyoboyo, sudah benar terjadi.
Negara ini sangat kaya sebenarnya, dengan atau tanpa hutang. Tapi juga sangat kayalah para koruptor dan manipulatornya. Di Australia, turis Indonesia menurut mereka, jauh lebih disenangi daripada turis Jepang, karena lebih royal. Percayalah, saya juga bergaul dengan mereka2 yang diduga, saya duga, demikian. Dan bila sebuah kaum menyia2kan nikmat, apalagi bergelimang maksiat, maka azab Tuhan (dengan nama apapun kau panggil Dia) akan datang, segera.
DAN ORANG MASIH BERTANYA MENGAPA SEMAKIN BANYAK TERJADI BENCANA ALAM DI NEGERI INI?
Dan ini semua berhubungan dengan alam semesta sebagai tempat tinggal manusia, dengan masing2 mempunyai konstanta dan variabel sendiri, tentunya, dalam sistem Tuhan ini. Ini wajar, karena manusia adalah makhluk dengan Sistem Terbuka (Input-Production-Output-Feeding Back system dengan lingkungannya) menurut Teori Sistem. Itu semua lalu 'cuma' perimbangan paramater, variabel, pembobotan masing2 faktor/variabel, dengan segala distribusi probabilistiknya, serta ilmu2 lain yang belum dijangkau manusia, dsb. Dan, demi penjelasan ilmiah, ini masih diperlukan (walau cuma sekelumit dari ilmu Tuhan), penjelasan akan sebab, symptom, stimulus, gejala, dan akibat fisik. Dan perlu memang, untuk menerangkannya bagi manusia yang (hanya) mengambil dasar ilmiah untuk memahaminya, yang ternyata menurut Einstein pun masih, "Ada faktor X yang tak dapat dijelaskan".
Yang non fisik masih banyak. Ada garis2 tak terlihat yang menghubungkan segala hal. Apalagi menurut kuliah2 dan sejumlah sarana info lain, PADA DASARNYA, ternyata, tidak ada yang TIDAK berhubungan di dunia ini. Misalnya, masih ingat Theory Of Everything nya Stephen Hawkings? Butterfly Effect? Domino Theory? Chain reaction? Rantai Makanan? Teori Empiris Kimia? Kekekalan Energi Fisika? Psikologi dan Psikologi Sosial? ... dsb. Manusia kebanyakan tak melihatnya, dan Tuhan akan menaikkan Ulil 'Albab (golongan yang berpikir) lebih tinggi derajatnya. Agama 'kan bukan hanya sembahyang saja? Maka, apakah bila ada 2 orang jaman sekarang kembali dengan mesin waktu ke jaman dulu, dan saling berkomunikasi dengan Handy Talkie, dengan menggunakan gelombang tak terlihat mata, akan dianggap ilmiah, wajar, oleh manusia jaman dulu itu yang menyaksikannya? Lalu, mengenai daerah yang rawan gempa vulkanik, tektonik, dsb., bahkan lain2 nya yang mengalami musibah hampir seakan terjadual, itu juga wajar, apalagi kalau kembali ke konsep konstanta dan variabilitas tadi, juga Probabilitas (dengan AHP dan segala macamnya, misalnya), terutama saat kita sudah mengenal Fuzzy Logic Theory nya Lotfi Zadeh.
Daerah kritis ada rahmat lainnya, selalu ada perimbangannya dari Tuhan, contohnya Nusantara yang dapat lempengan patahan banyak, ternyata subur dan banyak berpotensi. Daerah panas dan bergurun, seperti Arab Saudi-Iraq-Iran misalnya, punya minyak bumi banyak biasanya. Pernah ke Riau? Riau sangat panas, tapi juga banyak minyak di atas (kelapa sawit) dan minyak di bawah (minyak bumi). Sang Programmer, Sang Manager tingal tekan 'satu tombol' untuk bencana, atau bahkan 'berhenti', jika para wakilnya itu melebihi batas konstanta tertentu. Dalam hal ini, sebagaimana disebutkan Al Qur'an, Dia tinggal berkata "kun fa ya kuun" ("Jadi!", maka jadilah). Laksana cerita perjalanan produk dalam "Product Life Cycle". Ini juga sangat wajar dalam khazanah konsep Simulasi, terutama yang Dinamis, bukan? Sedangkan angka ilmu pasti "1" saja ternyata adalah pendekatan pembulatan dari angka 0,09999 99999999999999999999999999999999999 … "Ada faktor X" itu, kata Einstein. Maka, konsep binary logic menjadi usang, atau hanya untuk tingkatan rendah saja.
Saya menjadi takut, sedih, dan sedikit marah, lalu. Sedikit terbersit harapan akan benarnya tengara tentang Global Paradoxnya John Naisbitt bahwa saat arus Globalisasi membuat hampir seluruh pelosok dunia menjadi sama, justru bagian2 terkecil dunia tak bersedia disamaratakan dan mulai mencari faktor-faktor pembeda mereka guna mengejawantahkan keberadaan mereka. Dan tentu saja, sesuai juga dengan tengara konsep Global Paradox ini, bahkan sebaiknyalah mereka melakukan ini, karena memang ‘perbedaan itu adalah rahmat’. Untuk membuat satu sistem besar yang kuat, bagian-bagian terkecilnya harus juga kuat; karena masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang memang berbeda-beda dan saling menguatkan, walau memang ada perbedan-perbedaan yang mungkin mengganggu. Semoga memang benar adanya, seperti yang pernah saya tulis di sebuah tabloid manajemen lokal bertahun-tahun lalu, bahwa semoga saat ini Asia, khususnya Indonesia; sedang menemukan caranya (kembali, sekali lagi), daripada notabene mengikuti cara-cara Barat.
Sehubungan dengan ini, menurut filsuf Friedrich Nietzsche di tahun 1880-an, kebudayaan Barat sendiri berada di ambang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio (akal). Ia sangat kritis terhadap cita-cita modernisme yang sangat berkuasa di Eropa jaman modern itu. Dan kepercayaan umum akan kemajuan yang terjadi, sudah dilecehkannya bahkan sejak akhir abad XIX. Ia mengkritik hampir semua relung-relung Barat (termasuk agama-agama Barat), namun pada waktu itu orang mentertawakannya, bahkan dikira orang banyak sebagai orang gila. Penulis sekaliber Bertrand Russel saja bahkan pada sekitar tahun 1945 pun menyatakan bahwa ia tidak menyenanginya, dan berharap filsafat post-modern Nietzsche akan hilang lama-kelamaan; suatu hal yang ternyata justru terjadi sebaliknya di kemudian hari. Walaupun Nietzsche juga terkenal dengan klaimnya bahwa Tuhan itu tidak ada, «Tuhan sudah mati », hanya bayangan atau imajinasi men urutnya dalam sebuah tulisannya, namun pemikirannya tentang keadaan dunia boleh jadi adalah salah satu inspirasi besar yang turut mewarnai perkembangan dunia. Dan sekitar satu abad kemudian pada tahun 1990-an, Filsuf Fritjop Capra juga menyatakan hal yang sama tentang kritik terhadap arah pembangunan peradaban dunia. Capra bahkan telah menulis buku “The Tao of Physics” yang menggegerkan dunia Fisika, karena memperlihatkan hubungan antara revolusi sipritual dan fisika. Selain itu ia juga menulis buku penting “The Turning Point: Science, Society, and The Rising Culture” tentang krisis global serius pada awal dua dasa warsa akhir abad XX dalam aspek kehidupan kesehatan, mata pencaharian, kualitas lingkungan hidup, hubungan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik.
Capra, melihat bahwa penyebab semua kekacauan itu karena tidak digunakannya paradigma utuh dalam merekayasa budaya. Ia secara khusus menuding bahwa paham Cartesian (paham warisan Filsuf Descartes) dan Newtonlah yang bertanggungjawab memunculkan paradigma tunggal bahwa paradigma sains selain digunakan dalam pengembangan budaya sains, dipaksakan digunakan juga dalam pengembangan budaya seni dan etika (yang seharusnya mendapatkan paradigma, perhatian, pembangunan dan pengimplementasian berbeda, menurut Capra). Sementara itu, filsuf lain, Kuhn, pada tahun 1970-an juga menyatakan bahwa manusia telah salah dalam menjalanai kehidupannya, dan mulai merindukan spiritualisme yang hilang dari kehidupannya. Di Indonesia, Herma Suwardi, guru besar Filsafat Universitas Padjajaran Bandung menyatakan dengan geram tentang kekurangan filsafat ilmu yang digunakan Barat, yaitu paradigma sains warisan Descartes dan Newton. Dan S oedjatmoko ‘Koko’, seorang pemikir dan filsuf Indonesia lain, menyatakan pada tahun 1980-an bahwa ilmu dan teknologi berhadapan dengan pertanyaan pokok tentang jalan yang harus ditempuh selanjutnya, berkisar tentang masalah ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan ilmu dan teknologi. Prof. Ahmad Tafsir, guru besar Filsafat IAIN Jakarta dalam bukunya "Filsafat Umum", jelas menyatakan ini semua, bahkan tentang sejarah, pembagian, dan penyeimbangan indera-akal-hati.
Para pendukung Akal sendiri memiliki ‘lawan’ sepadan, yaitu para pendukung Hati (rasa); dan mereka cenderung saling bertentangan sejak awal jaman peradaban manusia (sesuai dengan khazanah wawasan Barat, karena ilmu pengetahuan dan budaya sekarang tak lepas dari sudut-pandang Barat sebagai pihak yang sedang menguasai ilmu-pengetahuan dan teknologi paling maju secara umum dan rata-rata). Kesemua masyarakat Barat namun, cenderung tetap mendewakan rasio secara berlebihan selama dan sesudah masa Modern. Akal sendiri dianggap mengalami ‘kekalahan’ di masa kira-kira sejak tahun 200 sampai 1600-an Masehi oleh Hati (rasa, agama) di Barat, saat Eropa dikungkung berbagai hal negatif di masa Abad Pertengahan (disebut juga Abad Kegelapan) yang didominasi kaum agamawan. Akal sendiri dalam hal ini diwakili Filsafat, dan hati diakili Agama, paling tidak menurut kacamata Barat.
Berkaitan dengan hal ini, mungkin anda masih teringat akan pertentangan antara Galileo Galillei yang menggunakan teleskop temuan Nicolaus Copernicus dan menyatakan bahwa Bumi mengitari Matahari, sementara dominasi kaum agamamawan Gereja di jaman itu berkeras bahwa Bumi adalah pusat alam semesta dan karenanya adalah Matahari yang mengelilingi Bumi? Karena kalah pengaruh, Galileo dilarang menyebarkan pahamnya, dan buku-bukunya dibakar. Pengucilan terhadap temuan dan diri Galileo ini sendiri kemudian direvisi dan diakui resmi Gereja Katolik, namun baru sekitar lima ratus tahun kemudian. Pada jaman itu, juga banyak pihak yang bertentangan dengan tafsiran Gereja, misalnya Jean d’Arc (Joan of Arc) dari Perancis atau orang-orang yang dianggap penyihir karena meramu ramuan kimiawi tertentu dan ragam tuduhan lain; bahkan dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup.
Lalu, dengan didahului Renaissance dan berlanjut ke Masa Modern, peradaban dunia pun menjadi berubah. Humanisme juga muncul, saat potensi manusia di Barat yang seakan agak tertutup dan dinafikan di jaman sebelumnya yang didominasi Hati menjadi lebih dikedepankan dan digali, dan tercermin dalam inti sari pemikiran "manusia menentukan takdirnya sendiri, kehendak Tuhan tidak cukup penting, maka agama (yang dikenal Barat) dengan segala aturannya juga tidak penting". Kata Rennaissance sendiri berasal dari kata re-nasci dari bahasa Perancis yang berarti kelahiran kembali, saat Barat berusaha mengejar ketertinggalan peradabannya dari Timur setelah masa-masa `kekalahan akal' itu, dan salah satu akibatnya agama di Barat menjadi dijauhi, bahkan dinafikan.
Jaman Modern sendiri di kemudian hari telah kita ketahui, adalah sebagai pengejawantahan perlawanan pendukung Akal terhadap para pendukung Hati (rasa atau agama), yang kemudian ternyata menjadi `terlalu jauh'. Maka untuk mendekonstruksinya, lawan dari Filsafat Modernisme ini adalah Filsafat Post-Modernisme yang melakukan dekonstruksi terhadapnya sampai saat ini; dan Nietsche adalah pelopornya. Dan sekarang, kita sedang dalam masa yang disebut sebagai masa Post-Modern ini. Manusia modern yang mewarisi sikap positivistik rasionalisme ini (juga Humanisme) cenderung pula menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan substansi rohani manusia, dan bahkan hari akhirat. Ini tentu berpengaruh kepada penafsirannya ke dalam (manajemen) pengaturan kehidupan sehari-hari, dan ini semua juga mengawali apa yang di kemudian hari dalam struktur masyarakat (sosial) dan budaya serta tatanan ekonomi bahkan politik dan hukum disebut sebagai Sekulerisme yang menafikan agama, dan membuat agama tidak boleh mengurusi urusan duniawi, dianggap hanya sebagai alat untuk berhubungan dengan Tuhan saja dan mengurusi urusan ‘tidak tampak’; pendeknya agama adalah untuk masalah akhirat saja.
Dan secara langsung atau tidak, ini semua juga di kemudian hari menyebabkan apa yang dikenal sebagai Kapitalisme, juga Sosialisme (a la Barat, bukan a la Timur), Marxisme, Komunisme, Agnostisme, bahkan Atheisme, sebagai konsekuensinya; dan pada gilirannya kemudian menyebar dari Barat dengan segala sisi baik-buruknya melalui Globalisasi yang kita kenal sekarang, bertempur dan juga bercampur dengan segala paham lain yang dikenal manusia, termasuk agama-agama. Khusus mengenai Agnostisme, dianggap beberapa kalangan adalah merupakan ‘saudara agama Kristen dengan tafsir berbeda’, bukan merupakan peminggiran agama (namun memang ya, jika kita menganggap bahwa agama hanyalah Katolik atau Kristen Protestan saja). Sosialisme sendiri adalah reaksi atas Kapitalisme, dan Marxisme, Komunisme, bahkan Atheisme; adalah reaksi langsung dan tidak langsung dari para pendukung akal yang ‘muak’ akan kehidup an dan agama yang dikenal Barat saat itu. Omong-omong, ternyata belum pernah ada rasanya agama lahir di Barat. Dan Indonesia juga sudah kadung menjadi negara sekuler berdasarkan agama, yang sejak cita-citanya menjadi negara Sosial sesuai dengan UUD'45, kemudian juga entah menjadi negara apa sekarang ini. Tapi yah, memang hidup ini dinamis, bukan?
Omong-omong lagi, apakah agama itu sebenarnya? Agama, yang menurut khazanah Barat sering disebut sebagai perkara yang tak jauh dari masalah hati atau rasa; cukup berlainan dengan tafsiran cara hidup peradaban di Timur, yang adalah merupakan kesatuan akal dan hati, lebih tepatnya, indera-akal-hati (dan agaknya di Timur ada juga yang diwarnai kecenderungan untuk lebih menggali potensi hati daripada akal saja termasuk hal-hal di luar itu semua yang bersifat tak diketahui manusia atau ghaib dan mistisme); yang kesemuanya berujung kepada bentuk praktek, budaya dan peradaban masing-masing. Maka secara ironis, di timur kedudukan akal tak harus berbenturan dengan hati (dan indera). Lebih jauh pula terutama di jaman dahulu kala, dunia timur tak banyak yang merasa perlu untuk benar-benar memisahkan antara telaah akal, hati, dan indera. Di Timur, kaum cerdik-pandai ilmuwan dan Filsuf, sekaligus dapat menjadi agamawan bahkan Mistikus, tanpa harus pusing memilahkannya; seperti pada Ibnu Sina (di Barat dikenal sebagai Avecinna), Al Ghazali (Alghazel), Al Kindi (Alkindus), Ibnu Rusydi (Averoez), Al Razi (Rhazes), Al Khawarizmi (Algoritmus atau Algoritma), juga Laksamana Muhammad Cheng Hoo (Zheng He) yang telah mengerungi banyak penjuru lautan sebelum para penjelajah Barat misalnya; untuk menyebut sedikit nama di antara banyak sekali nama besar dari Timur.
Dan sejak masa kedatangan Islam di abad keenam Masehi, yang menurut para penganutnya adalah menggenapkan apa yang dibawa oleh rangkaian para nabi sejak Nabi Adam sampai keturunan Nabi Ibrahim (nama lain versi Timur dari tokoh nabi yang dikenal sebagai Abraham di Barat) dari garis Nabi Ismail (Ishmael), yaitu Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abul Muthalib SAW, termasuk apa yang dibawa seluruh nabi Yahudi dan Kristen, dan dengan sendirinya mencakup berbagai budayanya; maka telah banyak terjadi perubahan di dunia yang membangkitkan berbagai evolusi dan revolusi peradaban manusia, termasuk ilmu-pengetahuan. Filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia timur, kemudian tercatat banyak mempunyai tokoh-tokoh besar cendekiawan dan filsuf Islam seperti tersebut di atas. Ini antara lain sebagai akibat dari berbagai ekspedisi kaum Muslim di masa itu yang dalam ekspedisinya ke berbagai penjuru dunia sampai ke Eropa, Asia, Afrika, dan lain-lain; juga telah banyak mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, filsafat, dan hal-hal lain, antara lain melalui buku-buku, naskah, catatan-catatan dari Yunani Kuno, Persia, India, dan Cina, yang diterjemahkan ke bahasa Arab terutama dari Abad VIII sampai IX Masehi (terutama di bawah pimpinan Kalifah Al Manshur dan Kalifah Harun al Rashid), dan kemudian mereka berikan pula tambahan sumbangan yang bersifat orisinal serta kemudian mendunia.
Timur (serta khususnya Timur-Tengah), dengan berbagai ilmu yang dipelajari dari jaman Yunani kuno, Mesopotamia, Cina kuno, Mesir kuno, India kuno, dan sebagainya serta yang mereka tambahkan ilmu-ilmu baru; telah sangat banyak menyumbangkan banyak hal ke peradaban dunia, terutama melalui buku-buku mereka yang diterjemahkan ke bahasa Latin. Ini mendorong Renaissance, Masa Modern, Revolusi Industri, jaman Pasca Modern, dan kemudian termasuk pula berpengaruh dalam arus besar ombak Globalisasi ke seluruh dunia untuk bertempur dan bercampur dengan beragam paham lain, termasuk agama2. Einstein sendiri sempat mengatakan bahwa, "Sains tanpa agama adalah buta, agama tanpa sains adalah pincang". Saya juga jadi ingat saat hampir lima belas tahun lalu, ayah saya memberitahukan saya tentang artikel di suatu majalah luar-negeri (saya lupa, Time, Newsweek, atau apa), diprediksikan bahwa satu saat tatanan masyarakat glob al akan menjadi tiga kelompok besar, yaitu Amerika Serikat, Eropa, dan Asia (yang dipimpin Cina, bukan Jepang); yang sekarang terbukti. Maka, sadarkah kita, bahwa kita sedang hidup di masa yang menarik dan penting?
Indonesia?
Harus ada perubahan.
Di sebuah buku best-seller dunia berjudul "Confessions of An Economic Hit Man", penulisnya yang bernama John Perkins (www.johnperkins.org), seorang mantan EHM (Economic Hit Man), menyebutkan ramalan yang ia dengar di berbagai suku bangsa, baik di biara Himalaya, di situs upacara di Indonesia, di suaka pribumi (Indian) di Amerika Utara, dari kedalaman Amazon hingga ke puncak Andes dan ke kota suku Maya di Amerika Tengah; yang kesemuanya berbicara tentang hal serupa, walau judul dan pesan ramalan itu berbeda sedikit satu dengan lainnya. Ramalan itu menceritakan macam-macam hal tentang Jaman Batu, Awal Matahari Kelima, akhir penanggalan lama dan awal penanggalan baru, dan lain-lain; namun mempunyai kesamaan cerita tentang bahwa dahulu kala dalam kabut sejarah, umat manusia pada dasarnya TERBAGI dan mengambil dua buah jalur yang berbeda: jalur Condor (mewakili hati, bersifat intutitif dan mistis) dan jalur Elang (mewakili otak, bersifat rasional dan materiil). Ramalan itu mengatakan pada tahun 1490-an (kedua jalur itu akan menyatu dan sang Elang akan mendorong sang Condor ke ambang kepunahan. Sebagai informasi tambahan dari saya untuk pembanding, beberapa peristiwa besar dunia di dekade ini adalah ditemukannya Amerika Serikat oleh Columbus pada tahun 1492 oleh ekspedisi atas restu Raja Ferdinand dan Ratu Isabela dari Spanyol. Pada tahun yang sama, di tahun 1492 Masehi, adalah juga merupakan tahun puncak terjadinya 'Masa Inkuisisi' pembantaian terhadap kaum Muslim dan Yahudi, suatu pembersihan atas sisa-sisa Kekhalifahan Bani Umayyah di Spanyol dan Portugal (dan di Sicilia, Italia; pembersihan terhadap kaum Muslim dan Yahudi di sana) yang di Spanyol dan Portugal ini dipimpin juga oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela. Di masa ini juga adalah masa-masa awal dari jaman Renaissance (kebangkitan kembali Eropa) menuju jaman Modern, mengejar ketertinggalannya dari Timur, sesudah Eropa mengalami apa yang disebut sebagai jaman Abad Kegelapan atau jaman Abad Pertengahan.
Lalu lima ratus tahun kemudian, sekitar tahun 1990-an menurut ramalan ini, suatu jaman baru akan dimulai, dan sang Condor dan Elang akan mempunyai kesempatan untuk bersatu kembali, terbang bersama-sama di langit yang sama, mengarungi jalur yang sama. Jika sang Condor dan Elang menerima kesempatan ini, mereka akan menciptakan keturunan yang paling luar biasa, berbeda dengan yang pernah dilihat sebelumnya. Apapun juga kenyataan ramalan luar-biasa ini, ternyata saat ini kita telah memasuki Milenium Ketiga di tahun 2006 ini. Maka sadarkah kiranya anda, bahwa anda sedang hidup di masa yang menarik dan penting, menilik ini semua?
Ke mana arah Nusantara Indonesia di masa depan?
Saya sungguh tidak cukup tahu.
Tetapi ke manapun juga nanti, rasio pendapatan seperlima penduduk dunia di negara-negara terkaya terhadap pendapatan seperlima penduduk di negara-negara termiskin dunia meningkat dari 30 berbanding 1 pada tahun 1960, menjadi 74 berbanding 1 pada tahun 1995. Dan Bank Dunia, USAID, IMF, dan bank-bank lainnya, korporasi-korporasi dan pemerintah-pemerintah yang terlibat di dalam “bantuan” internasional jaringan “corporatocracy”, terus menceritakan kepada kita bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan mereka, bahwa kemajuan telah dicapai. SUNGGUH MALANG nasib Indonesia (dan negara-negara berkembang lain terutama penghasil minyak bumi dan gas alam) mendapatkan ‘bantuan’ pinjaman yang di ‘mark-up’ sehingga berbunga yang bahkan tak mungkin dibayar sampai ke anak-cucu, dan masih pula ditambah dengan korupsi besar-besaran yang biasanya dilakukan orang Indonesia sendiri. Sungguh, ‘Teori Menetes’ yang pernah saya baca di berbagi buku ekonomi makro tentang ‘maksud baik’ Orde Baru untuk membiarkan para pemimpin dunia usaha (baca: konglomerat, pengusaha swasta umum, Badan Usaha Milik Negara, dan lain-lain; laksana Chaebol di Korea Selatan yang didukung pemerintahnya, namun dengan disiplin lebih rendah di Indonesia) menjadi lokomotif ekonomi dan menarik gerbong panjang berisi rakyat Indonesia, benar-benar hanya MENETESKAN sangat sedikit saja hasil keuntungan mereka untuk masyarakat banyak, setelah dikurangi berbagai hal, atau investasi lain di usaha-usaha lain berdasarkan segala optimisme prediksi. Jatah rakyat itu yang dapat sangat berguna untuk berbagai layanan kesehatan, pendidikan, fasilitas umum, tunjangan sosial, dan sebagainya; sudah SANGAT dikurangi (resmi atau tidak) kata banyak kalangan oleh dan untuk jatah para oknum pejabat, pegawai negeri, petugas pajak, petugas admin istrasi, petugas hukum, polisi, tentara, dan sebagainya.
Tapi bukankah kita tidak dapat menyalahkan mereka sepenuhnya, para pegawai negeri dan aparat negara ini? Mereka, katanya, seharusnya, adalah orang-orang terpandang yang masih percaya cerita warisan budaya kolonial penjajah Belanda tentang jaminan kesejahteraan pegawai negeri 'ambtenaar’ yang karena jatah pendapatan mereka yang resmi ternyata sangat ajaib kecilnya di masa kemerdekaan guna memenuhi cita-cita akan negara sosial Indonesia; tidak diimbangi dengan tangkalan terhadap arus iming-iming kemewahan global dunia dan penyediaan fasilitas umum yang baik; maka ‘terpaksalah’ mencari penghasilan tambahan. Orang Indonesia ini pintar-pintar bukan? Bagaimana pendapat anda? Sigmund Freud dengan sederet teori psikoanalisanya akan setuju. Hahahahahaaaa …!
Satu contoh (serius, bukan sindiran seperti di atas), adalah peraturan pemerintah tentang kepemilikan mobil (apalagi mobil mewah) yang dipersulit dengan tambahan pajak pembelian yang sangat tinggi (banyak kalangan yang tahu berkata, pajak mobil Indonesia termasuk tertinggi di dunia) di masa Orde Baru guna memenuhi cita-cita akan negara sosial dengan prinsip pemerataannya, selain tentunya untuk pemasukan negara. Maksud cukup mulia yang antara lain berguna untuk meminimalkan perbedaan kaya-miskin ini, ternyata tidak dibarengi penyediaan fasilitas transportasi umum yang memadai, sehingga mau-tidak mau rakyat yang tentulah menginginkan sesuatu yang lebih baik untuk transportasi sehari-hari (mobil pribadi misalnya), apalagi di wilayah tropis seperti ini; berusaha memenuhinya. Karena prinsip ekonomi ‘ada kebutuhan ada pasokan’, dicarilah berbagai cara untuk memenuhi segala penunjang hedonisme ini, dan di kemudian hari lahirlah berbagai paket kredit kepemilikan mobil yang juga diceritakan menghasilkan banyak kolusi, manipulasi, dan sebagainya; selain menghasilkan jumlah mobil yang membengkak terutama di perkotaan yang lalu mengakibatkan kemacetan lalu-lintas karena (di antara berbagai faktor lain) agaknya prediksi pertumbuhan ekonomi dan segala kaitannya (termasuk penyediaan jalan) oleh pemerintah itu (yang dibantu para konsultan seperti para Economic Hit Man/EHM itu), tidak realistis. Istilah EHM sendiri, adalah suatu istilah ’kode’ di antara mereka sendiri yang merujuk kepada orang yang ditugaskan untuk dua pekerjaan utama: (1) Membenarkan pinjaman internasional yang besar kepada negara-negara berkembang yang kemudian akan disalurkan kembali kepada ”MAIN” dan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang lain seperti ”Bechtel”, ”Halliburton”, ”Stone & Webster Engineering Corporation (SWEC)”, ”Brown & Root” atau ”Kellog Brown & Root”; melalui proyek-proyek rekayasa teknis (engineering) dan konstruksi raksasa. (2) Membangkrutkan negara-negara yang menerima pinjaman itu (setelah negara-negara itu membayar MAIN dan kontraktor Amerika Serikat lainnya, tentu saja) sehingga negara-negara itu selamanya akan berhutang kepada kreditor mereka itu dan dengan demikian mereka akan menjadi sasaran empuk dan sekutu yang penurut ketika Amerika Serikat (dan sekutu-sekutunya, mungkin) memerlukan dukungan mereka seperti untuk pangkalan militer, hak suara PBB, atau akses kepada minyak dan sumber daya alam lain. Maka, negara-negara yang telah berhasil ia taklukkan atau paling tidak ia ketahui fakta-faktanya tentang operasi super rahasia ini adalah antara lain Ekuador, Indonesia, Arab Saudi, Iran, Panama, Iraq, Kolombia, Venezuela (para EHM dan ’serigala’, menemui kegagalan di Iraq, Panama, dan Venezuela namun toh tidak demikian para tentara Paman Samnya yang sukses dengan Invasi oleh Amerika Serikat ke Panama dan Perang Teluknya ke Iraq). Dan John Perkins mengungkapkan kekhawatirannya bahwa banyak orang-orang biasa di berbagai negara (termasuk di Indonesia, tentunya) mungkin secara tak sadar juga menjadi bagian dari Corporatocracy di perusahaan-perusahaan, berbagai organisasi, dan menjadi alat untuk menekan lawan-lawan kepentingan Corporatocary; dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan orang-orang biasa itu seperti melalui lobbying, hadiah, gaji, bonus, pelatihan, pemotivasian, penggalangan opini dan simpati; dan sebagainya.
Akhirnya, di rangkaian Chain-Reaction lingkaran setan ini, pemerintah dan rakyat, kita semua jugalah yang ‘kerepotan’. Dan di dalam teori bisnis, ternyata bila suatu sistem sudah kacau, salah satu caranya adalah melakukan re-rengineering (perombakan dasar, yang populer sebagai BPR, Business Process Re-engineering atau CPR, Core Process Re-engineering) dan agaknya yang telah dialami Indonesia adalah dengan cara Reformasi ini. Entah, sampai seeektif dan seefisien mana proses Reformasi ini akan bergulir kiranya.
Saya bukan anti Amerika Serikat, saya masih sangat menikmati banyak teknologi dan segala budaya pop Amerika, dan agama saya, Islam, tidak mengajarkan diskriminasi rasial, agama, dan sebagainya; apalagi untuk dilakukan secara ofensif dan aktif (hanya pasif, dalam kerangka jihad sebagai betuk bela-diri, bukan untuk serangan mendahului). Tapi tak pelak segala fakta dan spekulasi ini (misalnya tentang Manifest Destiny, EHM, para serigala, Pan-Americana, Doktrin Monroe, kroni Bush, NSA, CIA, Corporatocracy, dsb.; baca buku "Confessions of An Economic Hit Man atau ringkasannya yang telah saya kirimkan ke beberapa Miling List bebrapa waktu lalu menjelang berbagai peristiwa penting Mei 2006 ini) membuat saya berpikir banyak tentang berbagai bayangan indah, terutama di masa kecil dulu, tentang Amerika Serikat, bahkan orang kulit putih. Dulu semasa kecil, Inggris dan Amerika Serikat, adalah negara pahlawan saya, dan saya memimpikan dan mengidentikkan diri saya sebagai ’anak Inggris’ atau ’anak Amerika’. Saya dari dulu sampai sekarang adalah penggemar Spider-Man dan Superman. Saya pembaca berulangkali seri Tintin, Asterix, Tanguy & Laverdure, Little House, Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan sebagainya dan termasuk buku cerita best-seller sekarang, Harry Potter yang membius dan menakjubkan itu; selain berbagai buku ilmiah produk Amerika dan negara-negara maju lain itu. Saya juga penggemar masakan dan ahli memasak masakan Barat (walau tentu saja sebagai Muslim, saya tidak pernah menambahkan Anggur, Brandy, Rhum, Whisky dan sejenisnya serta Babi ke masakan saya, serta memasaknya hingga matang hingga kering darahnya dan hilang segala cacing dan sebagainya; tiga hal yang sering ada dalam seni Kuliner a la Barat dan tak sesuai dengan agama saya).
Saya mampu berbicara Bahasa Inggris fasih dalam logat British, dan saya dapat mengubahnya menjadi logat Scottish atau bahkan Irish, satu hal yang dikagumi oleh bahkan kenalan berbangsa Inggris saya. Saya hafal banyak kisah hidup orang besar Barat dan sejarah Barat mungkin lebih daripada sejarah bangsa sendiri. Saya bahkan dulu turut memusuhi tanpa berpikir panjang siapa saja yang mereka musuhi seperti ditunjukkan dalam film-film Hollywood, dan kemenangan Amerika tentu saja tanpa pikir panjang dulu, adalah kemenangan saya juga. Namun sekarang saya benar-benar berhati-hati dalam menilai segala sesuatu. Sekarang, bayangan identifikasi diri saya menjadi anak ’Inggris atau Amerika’ itu menjadi meredup, dan saya telah cukup lama mulai menggali ke-asia-an saya, terutama ke-indonesia-an saya, bahkan dalam arus kencang Globalisasi. Dan saya masih cukup bangga menjadi orang Nusantara Indonesia, ini sudah takdir saya, walau sebagian hati saya juga mengagumi saudara kita Malaysia yang gemilang itu. Malaysia, negeri yang dulu belajar dari kita bahkan masih mengirimkan mahasiswa belajar kedokteran ke Universitas Airlangga sampai sekarang di tahun 2006, namun telah keluar dari Krisis Moneter dengan lebih cepat di bawah Mahathir Mohammad; sementara kita masih dininabobokkan gurindam, legenda, dongeng, langgam, dan seterusnya tentang ’negeri Nusantara yang subur, kaya, dan makmur’ dan menganggap semua sudah dan akan beres dengan sendirinya karena ’Tuhan menyayangi kita, bukan?’.
Lalu, Senin 25 April 2006 (tulisan ini saya tulis selama beberapa hari, di antara berbagai kesibukan lain) saya tak sengaja menyaksikan liputan TV tentang akad nikah anak Bambang Trihatmojo, dan menyaksikan mantan Presiden Soeharto datang tanpa duduk di kursi roda seperti di tahun-tahun lalu sesudah ia ’lengser keprabon’, ke acara akad nikah cucunya itu. Pak Harto, sang Bapak Pembangunan Orde Baru, terlihat sehat dan segar-bugar berseri-seri, sangat sehat untuk orang seusia beliau yang telah mengalami stroke, membuat saya sejenak bernostalgia saat saya dulu semasa kecil duduk di depan TV menyaksikan siaran TVRI tentang berbagai keajaiban pembangunan ekonomi Republik Indonesia di masa Orde Baru dengan rangaian tahapan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) negara tercinta ini. Saya turut berbahagia melihat pak Harto saat itu, sungguh, sejujur-jujurnya, saat menyaksikan betapa Tuhan memberikan karunia umur panj ang kepada seorang tua yang cukup tampan. Saya juga dari dulu menyadari betapa tampannya kedua mantan Presiden kita, Sukarno dan Soeharto, dan betapa pengaruh besar mereka terhadap berbagai kemajuan yang kita sempat dan masih nikmati.
Namun sisi lain diri saya, tak dapat berhenti untuk terus memikirkan apa yang telah terjadi selama beberapa puluh tahun terakhir di Indonesia tentang Permesta, PRRI, DI/TII, Gerakan Non-Blok, Demokrasi Terpimpin, Trikora dan Dwikora, G 30 S PKI, Pelita, Demokrasi Pancasila, NKK-BKK, P4, BAKIN dan intelijen negara, Pemilu dengan hanya tiga partai, DPR, MPR, Bappenas, deregulasi, Pakto-Paknov (Paket Oktober dan Paket Novembernya Radius Prawiro), ’keterbukaan’ Orde Baru, manipulasi, korupsi, kolusi, para konglomerat, para Jenderal, para pejabat negara, para dukun, adat-istiadat, takhayul, dinamisme, animisme, aktivis mahasiswa yang hilang; lalu Krisis Moneter, likuidasi, pengangguran, kemiskinan, fasilitas layanan umum, kekurangan pendidikan, dan sekolah-sekolah negeri yang terpencil dan seperti kandang sapi. Kemudian tentang berubahnya budaya bangsa dengan segala sisi baik-buruknya, para pemimpin kita, p olitik dan politik dagang-sapi, narkoba, pornografi yang meningkat, layanan seksual, ”Wanita Tuna Susila’ (WTS) yang berganti nama menjadi ’Pekerja Seks Komersial’ (PSK, jadi seharusnya mereka ini berhak masuk Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia, ASPEK Indonesia, termasuk mungkin menjadi Menteri Tenaga Kerja Indonesia, bukan?), hutan gundul, kebakaran hutan, konglomerat yang kabur atau bunuh diri, kebodohan masyarakat, konflik dan genocide antar suku-bangsa dan umat beragama, pembunuhan-pembunuhan akibat kemiskinan, bom, berbagai demo, banjir di Jakarta dan bahkan Airport Soekarno-Hatta, dan bencana alam.
Kemudian Sampoerna dengan segala iklan sindirannya, Jama’ah Islamiyyah, sekolah-sekolah bisnis, Bank Indonesia, BPPN, divestasi, Freeport, Chevron-Caltex, UMR, partai-partai, DPR, KPU, KPK, dan lain-lain. Juga Soekarno-Hatta, Soeharto, Marsinah, Soe Hok Gie, Baharuddin Lopa, Munir, Tommy Soeharto yang berada di penjara, Ricardo Gelael yang bebas dari penjara, Soedomo, L.B. Moerdani, Frans Seda, Soemitro Djojohadikusumo dan ’Mafia Berkeley’nya, Widjojonitisastro, Dorodjatun Kuntjorojakti, Radius Prawiro, Bustanul Arifin, Ginanjar Kartasasmita, Fu’ad Bawazier, Peter F. Gontha, Edi Tanzil, Prabowo Subianto, Wiranto, Agum Gumelar, Sudrajat Djiwandono, Laksamana Soekardi, Taufik Kiemas, Tommy Winata, Gubernur DKI Sutiyoso, BJ. Habibie, ’Gus Dur’ Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri, Amien Rais-Siswono, Kwik Kian Gie, Todung Mulya Lubis, Jaksa Agung Adurrahman Saleh, Kapolri Sutan to, SBY-JK. Dan terakhir kembali ke terutama mengenai tulisan John Perkins dan Michael Moore, serta apapun fakta lain yang belum terungkap di balik hubungan semua hal itu.
Sebagai tambahan, kawan saya seorang lulusan MM UI, punya kawan yang dulu bekerja di BPPN. Menurut penuturannya, kawannya ini terus-terang mengaku kepadanya bahwa sejak bergabung dengan BPPN, ia ’kebanyakan duit’ tiap bulannya, dan bingung ’duitnya mau diapain bahkan sesudah membeli beberapa mobil dan rumah’. Begitu banyak pihak berkepentingan dengan BPPN yang membuatnya ’kebanyakan duit’, menurutnya. Kawan saya sendiri, karena mengaku bahwa ia bersifat jujur dan mau mengabdi untuk negara saat wawancara kerja dengan BPPN agaknya (inilah sifat kawan saya yang menjaga agama dan jujur), kemudian tidak diterima bekerja di sana. Dan pada lain pembicaraan menurut pendapatnya, di Indonesia, banyak sekali orang yang bersedia disuap, termasuk oleh kepentingan asing. Saya sendiri setuju, wong lha kita ini maunya kebarat-baratan memang, bahkan mungkin lebih kebarat-baratan daripada orang b arat sendiri bisa-bisa, sudah lupa terhadap semboyan ’berdikari’ (berdiri di atas kaki sendiri) Sukarno dan berbagai sejarah dunia. Generasi yang bingung dan menyedihkan, ’orang pinter malah miskin di jaman edan’, seperti ramalan Joyoboyo, sudah benar terjadi.
Negara ini sangat kaya sebenarnya, dengan atau tanpa hutang. Tapi juga sangat kayalah para koruptor dan manipulatornya. Di Australia, turis Indonesia menurut mereka, jauh lebih disenangi daripada turis Jepang, karena lebih royal. Percayalah, saya juga bergaul dengan mereka2 yang diduga, saya duga, demikian. Dan bila sebuah kaum menyia2kan nikmat, apalagi bergelimang maksiat, maka azab Tuhan (dengan nama apapun kau panggil Dia) akan datang, segera.
DAN ORANG MASIH BERTANYA MENGAPA SEMAKIN BANYAK TERJADI BENCANA ALAM DI NEGERI INI?
Dan ini semua berhubungan dengan alam semesta sebagai tempat tinggal manusia, dengan masing2 mempunyai konstanta dan variabel sendiri, tentunya, dalam sistem Tuhan ini. Ini wajar, karena manusia adalah makhluk dengan Sistem Terbuka (Input-Production-Output-Feeding Back system dengan lingkungannya) menurut Teori Sistem. Itu semua lalu 'cuma' perimbangan paramater, variabel, pembobotan masing2 faktor/variabel, dengan segala distribusi probabilistiknya, serta ilmu2 lain yang belum dijangkau manusia, dsb. Dan, demi penjelasan ilmiah, ini masih diperlukan (walau cuma sekelumit dari ilmu Tuhan), penjelasan akan sebab, symptom, stimulus, gejala, dan akibat fisik. Dan perlu memang, untuk menerangkannya bagi manusia yang (hanya) mengambil dasar ilmiah untuk memahaminya, yang ternyata menurut Einstein pun masih, "Ada faktor X yang tak dapat dijelaskan".
Yang non fisik masih banyak. Ada garis2 tak terlihat yang menghubungkan segala hal. Apalagi menurut kuliah2 dan sejumlah sarana info lain, PADA DASARNYA, ternyata, tidak ada yang TIDAK berhubungan di dunia ini. Misalnya, masih ingat Theory Of Everything nya Stephen Hawkings? Butterfly Effect? Domino Theory? Chain reaction? Rantai Makanan? Teori Empiris Kimia? Kekekalan Energi Fisika? Psikologi dan Psikologi Sosial? ... dsb. Manusia kebanyakan tak melihatnya, dan Tuhan akan menaikkan Ulil 'Albab (golongan yang berpikir) lebih tinggi derajatnya. Agama 'kan bukan hanya sembahyang saja? Maka, apakah bila ada 2 orang jaman sekarang kembali dengan mesin waktu ke jaman dulu, dan saling berkomunikasi dengan Handy Talkie, dengan menggunakan gelombang tak terlihat mata, akan dianggap ilmiah, wajar, oleh manusia jaman dulu itu yang menyaksikannya? Lalu, mengenai daerah yang rawan gempa vulkanik, tektonik, dsb., bahkan lain2 nya yang mengalami musibah hampir seakan terjadual, itu juga wajar, apalagi kalau kembali ke konsep konstanta dan variabilitas tadi, juga Probabilitas (dengan AHP dan segala macamnya, misalnya), terutama saat kita sudah mengenal Fuzzy Logic Theory nya Lotfi Zadeh.
Daerah kritis ada rahmat lainnya, selalu ada perimbangannya dari Tuhan, contohnya Nusantara yang dapat lempengan patahan banyak, ternyata subur dan banyak berpotensi. Daerah panas dan bergurun, seperti Arab Saudi-Iraq-Iran misalnya, punya minyak bumi banyak biasanya. Pernah ke Riau? Riau sangat panas, tapi juga banyak minyak di atas (kelapa sawit) dan minyak di bawah (minyak bumi). Sang Programmer, Sang Manager tingal tekan 'satu tombol' untuk bencana, atau bahkan 'berhenti', jika para wakilnya itu melebihi batas konstanta tertentu. Dalam hal ini, sebagaimana disebutkan Al Qur'an, Dia tinggal berkata "kun fa ya kuun" ("Jadi!", maka jadilah). Laksana cerita perjalanan produk dalam "Product Life Cycle". Ini juga sangat wajar dalam khazanah konsep Simulasi, terutama yang Dinamis, bukan? Sedangkan angka ilmu pasti "1" saja ternyata adalah pendekatan pembulatan dari angka 0,09999 99999999999999999999999999999999999 … "Ada faktor X" itu, kata Einstein. Maka, konsep binary logic menjadi usang, atau hanya untuk tingkatan rendah saja.
Saya menjadi takut, sedih, dan sedikit marah, lalu. Sedikit terbersit harapan akan benarnya tengara tentang Global Paradoxnya John Naisbitt bahwa saat arus Globalisasi membuat hampir seluruh pelosok dunia menjadi sama, justru bagian2 terkecil dunia tak bersedia disamaratakan dan mulai mencari faktor-faktor pembeda mereka guna mengejawantahkan keberadaan mereka. Dan tentu saja, sesuai juga dengan tengara konsep Global Paradox ini, bahkan sebaiknyalah mereka melakukan ini, karena memang ‘perbedaan itu adalah rahmat’. Untuk membuat satu sistem besar yang kuat, bagian-bagian terkecilnya harus juga kuat; karena masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang memang berbeda-beda dan saling menguatkan, walau memang ada perbedan-perbedaan yang mungkin mengganggu. Semoga memang benar adanya, seperti yang pernah saya tulis di sebuah tabloid manajemen lokal bertahun-tahun lalu, bahwa semoga saat ini Asia, khususnya Indonesia; sedang menemukan caranya (kembali, sekali lagi), daripada notabene mengikuti cara-cara Barat.
Sehubungan dengan ini, menurut filsuf Friedrich Nietzsche di tahun 1880-an, kebudayaan Barat sendiri berada di ambang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio (akal). Ia sangat kritis terhadap cita-cita modernisme yang sangat berkuasa di Eropa jaman modern itu. Dan kepercayaan umum akan kemajuan yang terjadi, sudah dilecehkannya bahkan sejak akhir abad XIX. Ia mengkritik hampir semua relung-relung Barat (termasuk agama-agama Barat), namun pada waktu itu orang mentertawakannya, bahkan dikira orang banyak sebagai orang gila. Penulis sekaliber Bertrand Russel saja bahkan pada sekitar tahun 1945 pun menyatakan bahwa ia tidak menyenanginya, dan berharap filsafat post-modern Nietzsche akan hilang lama-kelamaan; suatu hal yang ternyata justru terjadi sebaliknya di kemudian hari. Walaupun Nietzsche juga terkenal dengan klaimnya bahwa Tuhan itu tidak ada, «Tuhan sudah mati », hanya bayangan atau imajinasi men urutnya dalam sebuah tulisannya, namun pemikirannya tentang keadaan dunia boleh jadi adalah salah satu inspirasi besar yang turut mewarnai perkembangan dunia. Dan sekitar satu abad kemudian pada tahun 1990-an, Filsuf Fritjop Capra juga menyatakan hal yang sama tentang kritik terhadap arah pembangunan peradaban dunia. Capra bahkan telah menulis buku “The Tao of Physics” yang menggegerkan dunia Fisika, karena memperlihatkan hubungan antara revolusi sipritual dan fisika. Selain itu ia juga menulis buku penting “The Turning Point: Science, Society, and The Rising Culture” tentang krisis global serius pada awal dua dasa warsa akhir abad XX dalam aspek kehidupan kesehatan, mata pencaharian, kualitas lingkungan hidup, hubungan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik.
Capra, melihat bahwa penyebab semua kekacauan itu karena tidak digunakannya paradigma utuh dalam merekayasa budaya. Ia secara khusus menuding bahwa paham Cartesian (paham warisan Filsuf Descartes) dan Newtonlah yang bertanggungjawab memunculkan paradigma tunggal bahwa paradigma sains selain digunakan dalam pengembangan budaya sains, dipaksakan digunakan juga dalam pengembangan budaya seni dan etika (yang seharusnya mendapatkan paradigma, perhatian, pembangunan dan pengimplementasian berbeda, menurut Capra). Sementara itu, filsuf lain, Kuhn, pada tahun 1970-an juga menyatakan bahwa manusia telah salah dalam menjalanai kehidupannya, dan mulai merindukan spiritualisme yang hilang dari kehidupannya. Di Indonesia, Herma Suwardi, guru besar Filsafat Universitas Padjajaran Bandung menyatakan dengan geram tentang kekurangan filsafat ilmu yang digunakan Barat, yaitu paradigma sains warisan Descartes dan Newton. Dan S oedjatmoko ‘Koko’, seorang pemikir dan filsuf Indonesia lain, menyatakan pada tahun 1980-an bahwa ilmu dan teknologi berhadapan dengan pertanyaan pokok tentang jalan yang harus ditempuh selanjutnya, berkisar tentang masalah ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan ilmu dan teknologi. Prof. Ahmad Tafsir, guru besar Filsafat IAIN Jakarta dalam bukunya "Filsafat Umum", jelas menyatakan ini semua, bahkan tentang sejarah, pembagian, dan penyeimbangan indera-akal-hati.
Para pendukung Akal sendiri memiliki ‘lawan’ sepadan, yaitu para pendukung Hati (rasa); dan mereka cenderung saling bertentangan sejak awal jaman peradaban manusia (sesuai dengan khazanah wawasan Barat, karena ilmu pengetahuan dan budaya sekarang tak lepas dari sudut-pandang Barat sebagai pihak yang sedang menguasai ilmu-pengetahuan dan teknologi paling maju secara umum dan rata-rata). Kesemua masyarakat Barat namun, cenderung tetap mendewakan rasio secara berlebihan selama dan sesudah masa Modern. Akal sendiri dianggap mengalami ‘kekalahan’ di masa kira-kira sejak tahun 200 sampai 1600-an Masehi oleh Hati (rasa, agama) di Barat, saat Eropa dikungkung berbagai hal negatif di masa Abad Pertengahan (disebut juga Abad Kegelapan) yang didominasi kaum agamawan. Akal sendiri dalam hal ini diwakili Filsafat, dan hati diakili Agama, paling tidak menurut kacamata Barat.
Berkaitan dengan hal ini, mungkin anda masih teringat akan pertentangan antara Galileo Galillei yang menggunakan teleskop temuan Nicolaus Copernicus dan menyatakan bahwa Bumi mengitari Matahari, sementara dominasi kaum agamamawan Gereja di jaman itu berkeras bahwa Bumi adalah pusat alam semesta dan karenanya adalah Matahari yang mengelilingi Bumi? Karena kalah pengaruh, Galileo dilarang menyebarkan pahamnya, dan buku-bukunya dibakar. Pengucilan terhadap temuan dan diri Galileo ini sendiri kemudian direvisi dan diakui resmi Gereja Katolik, namun baru sekitar lima ratus tahun kemudian. Pada jaman itu, juga banyak pihak yang bertentangan dengan tafsiran Gereja, misalnya Jean d’Arc (Joan of Arc) dari Perancis atau orang-orang yang dianggap penyihir karena meramu ramuan kimiawi tertentu dan ragam tuduhan lain; bahkan dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup.
Lalu, dengan didahului Renaissance dan berlanjut ke Masa Modern, peradaban dunia pun menjadi berubah. Humanisme juga muncul, saat potensi manusia di Barat yang seakan agak tertutup dan dinafikan di jaman sebelumnya yang didominasi Hati menjadi lebih dikedepankan dan digali, dan tercermin dalam inti sari pemikiran "manusia menentukan takdirnya sendiri, kehendak Tuhan tidak cukup penting, maka agama (yang dikenal Barat) dengan segala aturannya juga tidak penting". Kata Rennaissance sendiri berasal dari kata re-nasci dari bahasa Perancis yang berarti kelahiran kembali, saat Barat berusaha mengejar ketertinggalan peradabannya dari Timur setelah masa-masa `kekalahan akal' itu, dan salah satu akibatnya agama di Barat menjadi dijauhi, bahkan dinafikan.
Jaman Modern sendiri di kemudian hari telah kita ketahui, adalah sebagai pengejawantahan perlawanan pendukung Akal terhadap para pendukung Hati (rasa atau agama), yang kemudian ternyata menjadi `terlalu jauh'. Maka untuk mendekonstruksinya, lawan dari Filsafat Modernisme ini adalah Filsafat Post-Modernisme yang melakukan dekonstruksi terhadapnya sampai saat ini; dan Nietsche adalah pelopornya. Dan sekarang, kita sedang dalam masa yang disebut sebagai masa Post-Modern ini. Manusia modern yang mewarisi sikap positivistik rasionalisme ini (juga Humanisme) cenderung pula menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan substansi rohani manusia, dan bahkan hari akhirat. Ini tentu berpengaruh kepada penafsirannya ke dalam (manajemen) pengaturan kehidupan sehari-hari, dan ini semua juga mengawali apa yang di kemudian hari dalam struktur masyarakat (sosial) dan budaya serta tatanan ekonomi bahkan politik dan hukum disebut sebagai Sekulerisme yang menafikan agama, dan membuat agama tidak boleh mengurusi urusan duniawi, dianggap hanya sebagai alat untuk berhubungan dengan Tuhan saja dan mengurusi urusan ‘tidak tampak’; pendeknya agama adalah untuk masalah akhirat saja.
Dan secara langsung atau tidak, ini semua juga di kemudian hari menyebabkan apa yang dikenal sebagai Kapitalisme, juga Sosialisme (a la Barat, bukan a la Timur), Marxisme, Komunisme, Agnostisme, bahkan Atheisme, sebagai konsekuensinya; dan pada gilirannya kemudian menyebar dari Barat dengan segala sisi baik-buruknya melalui Globalisasi yang kita kenal sekarang, bertempur dan juga bercampur dengan segala paham lain yang dikenal manusia, termasuk agama-agama. Khusus mengenai Agnostisme, dianggap beberapa kalangan adalah merupakan ‘saudara agama Kristen dengan tafsir berbeda’, bukan merupakan peminggiran agama (namun memang ya, jika kita menganggap bahwa agama hanyalah Katolik atau Kristen Protestan saja). Sosialisme sendiri adalah reaksi atas Kapitalisme, dan Marxisme, Komunisme, bahkan Atheisme; adalah reaksi langsung dan tidak langsung dari para pendukung akal yang ‘muak’ akan kehidup an dan agama yang dikenal Barat saat itu. Omong-omong, ternyata belum pernah ada rasanya agama lahir di Barat. Dan Indonesia juga sudah kadung menjadi negara sekuler berdasarkan agama, yang sejak cita-citanya menjadi negara Sosial sesuai dengan UUD'45, kemudian juga entah menjadi negara apa sekarang ini. Tapi yah, memang hidup ini dinamis, bukan?
Omong-omong lagi, apakah agama itu sebenarnya? Agama, yang menurut khazanah Barat sering disebut sebagai perkara yang tak jauh dari masalah hati atau rasa; cukup berlainan dengan tafsiran cara hidup peradaban di Timur, yang adalah merupakan kesatuan akal dan hati, lebih tepatnya, indera-akal-hati (dan agaknya di Timur ada juga yang diwarnai kecenderungan untuk lebih menggali potensi hati daripada akal saja termasuk hal-hal di luar itu semua yang bersifat tak diketahui manusia atau ghaib dan mistisme); yang kesemuanya berujung kepada bentuk praktek, budaya dan peradaban masing-masing. Maka secara ironis, di timur kedudukan akal tak harus berbenturan dengan hati (dan indera). Lebih jauh pula terutama di jaman dahulu kala, dunia timur tak banyak yang merasa perlu untuk benar-benar memisahkan antara telaah akal, hati, dan indera. Di Timur, kaum cerdik-pandai ilmuwan dan Filsuf, sekaligus dapat menjadi agamawan bahkan Mistikus, tanpa harus pusing memilahkannya; seperti pada Ibnu Sina (di Barat dikenal sebagai Avecinna), Al Ghazali (Alghazel), Al Kindi (Alkindus), Ibnu Rusydi (Averoez), Al Razi (Rhazes), Al Khawarizmi (Algoritmus atau Algoritma), juga Laksamana Muhammad Cheng Hoo (Zheng He) yang telah mengerungi banyak penjuru lautan sebelum para penjelajah Barat misalnya; untuk menyebut sedikit nama di antara banyak sekali nama besar dari Timur.
Dan sejak masa kedatangan Islam di abad keenam Masehi, yang menurut para penganutnya adalah menggenapkan apa yang dibawa oleh rangkaian para nabi sejak Nabi Adam sampai keturunan Nabi Ibrahim (nama lain versi Timur dari tokoh nabi yang dikenal sebagai Abraham di Barat) dari garis Nabi Ismail (Ishmael), yaitu Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abul Muthalib SAW, termasuk apa yang dibawa seluruh nabi Yahudi dan Kristen, dan dengan sendirinya mencakup berbagai budayanya; maka telah banyak terjadi perubahan di dunia yang membangkitkan berbagai evolusi dan revolusi peradaban manusia, termasuk ilmu-pengetahuan. Filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia timur, kemudian tercatat banyak mempunyai tokoh-tokoh besar cendekiawan dan filsuf Islam seperti tersebut di atas. Ini antara lain sebagai akibat dari berbagai ekspedisi kaum Muslim di masa itu yang dalam ekspedisinya ke berbagai penjuru dunia sampai ke Eropa, Asia, Afrika, dan lain-lain; juga telah banyak mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, filsafat, dan hal-hal lain, antara lain melalui buku-buku, naskah, catatan-catatan dari Yunani Kuno, Persia, India, dan Cina, yang diterjemahkan ke bahasa Arab terutama dari Abad VIII sampai IX Masehi (terutama di bawah pimpinan Kalifah Al Manshur dan Kalifah Harun al Rashid), dan kemudian mereka berikan pula tambahan sumbangan yang bersifat orisinal serta kemudian mendunia.
Timur (serta khususnya Timur-Tengah), dengan berbagai ilmu yang dipelajari dari jaman Yunani kuno, Mesopotamia, Cina kuno, Mesir kuno, India kuno, dan sebagainya serta yang mereka tambahkan ilmu-ilmu baru; telah sangat banyak menyumbangkan banyak hal ke peradaban dunia, terutama melalui buku-buku mereka yang diterjemahkan ke bahasa Latin. Ini mendorong Renaissance, Masa Modern, Revolusi Industri, jaman Pasca Modern, dan kemudian termasuk pula berpengaruh dalam arus besar ombak Globalisasi ke seluruh dunia untuk bertempur dan bercampur dengan beragam paham lain, termasuk agama2. Einstein sendiri sempat mengatakan bahwa, "Sains tanpa agama adalah buta, agama tanpa sains adalah pincang". Saya juga jadi ingat saat hampir lima belas tahun lalu, ayah saya memberitahukan saya tentang artikel di suatu majalah luar-negeri (saya lupa, Time, Newsweek, atau apa), diprediksikan bahwa satu saat tatanan masyarakat glob al akan menjadi tiga kelompok besar, yaitu Amerika Serikat, Eropa, dan Asia (yang dipimpin Cina, bukan Jepang); yang sekarang terbukti. Maka, sadarkah kita, bahwa kita sedang hidup di masa yang menarik dan penting?
Indonesia?
Harus ada perubahan.
Brahmana Durjana
Dalam lakon Nawaruci, diceritakan panjang lebar mengenai kesetiaan Sang Bima kepada Brahmana Drona yang berwatak banas akirya. Lalu Sang Nawaruci mengingatkan Bimasena tentang watak brahmana durjana yang perlu dijauhi, yaitu :
1. Banas akirya artinya pendeta yang gila harta (banas akirnya nga ring pandita anggaduh)
2. Asaya-saya artinya pendeta yang bernafsu menjadi kaya raya (asaya-saya nga ring panditawisaya pipirakan)
3. Angangsar-angsar artinya pendeta yang kegemarannya sering kawin (angangsar-angsar nga ring panditawisaya araraben)
4. Anggaladag tiba artinya pendeta yang gemar menyanyi (anggaladag tiba ngaring pandita wisayanggerong)
5. Ambutani artinya pendeta yang kegemarannya menyajikan kurban (ambutani nga ring panditangardhanaken banten)
Lakon tinggallah lakon. Cerita lama orang sudah lupa. Apalagi menulis di Internet, mungkin dicap sebagai karya sastra sampah. Ah memang saya sudah tua, hanya punya cerita lama, yang dikalangan generasi “muda”, tak ada guna. Tapi nasehat-nasehat lama tentang manusia, rasanya masih relevan. Penggalan kisah Nawaruci di atas, paling tidak berguna untuk mencermati perilaku Brahmana Durjana, agar kita tak terkena tipu daya.
Secara kasat mata, di Nusantara saat ini, cukup banyak Brahmana durjana yang ada di sekitar kita. Brahmana penjual suara, faseh bicara ayat, padahal dirinya bejat, tak mampu mengekang nafsu syahwat, teman gadis maen sinetron pun di embat, dia memang kiai laknat.
Waspadalah dengan perilaku Brahmana Durjana. Dalam hidup kita memang harus tetap berbuat baik, tetapi kalau ada orang durjana yang merajalela, kita juga punya kewajiban untuk “mencegahnya”. Karena bangsa kita telah membiarkan terlalu banyak durjana menguasai Nusantara, maka ‘alam’-pun angkat bicara …
Salam hormat,
Ki Jero Martani
Artikel lain yang menyoroti tingkat laku brahmana durjana :
*
Ulama Melempar Sorban
*
Kehilangan Rasa
*
Si Dungu Yang Sok Pintar
Dapat anda lihat di http://360.yahoo.com/kijeromartani
Diskusi peminat serius di http://groups.yahoo.com/group/sastra-nusantara
1. Banas akirya artinya pendeta yang gila harta (banas akirnya nga ring pandita anggaduh)
2. Asaya-saya artinya pendeta yang bernafsu menjadi kaya raya (asaya-saya nga ring panditawisaya pipirakan)
3. Angangsar-angsar artinya pendeta yang kegemarannya sering kawin (angangsar-angsar nga ring panditawisaya araraben)
4. Anggaladag tiba artinya pendeta yang gemar menyanyi (anggaladag tiba ngaring pandita wisayanggerong)
5. Ambutani artinya pendeta yang kegemarannya menyajikan kurban (ambutani nga ring panditangardhanaken banten)
Lakon tinggallah lakon. Cerita lama orang sudah lupa. Apalagi menulis di Internet, mungkin dicap sebagai karya sastra sampah. Ah memang saya sudah tua, hanya punya cerita lama, yang dikalangan generasi “muda”, tak ada guna. Tapi nasehat-nasehat lama tentang manusia, rasanya masih relevan. Penggalan kisah Nawaruci di atas, paling tidak berguna untuk mencermati perilaku Brahmana Durjana, agar kita tak terkena tipu daya.
Secara kasat mata, di Nusantara saat ini, cukup banyak Brahmana durjana yang ada di sekitar kita. Brahmana penjual suara, faseh bicara ayat, padahal dirinya bejat, tak mampu mengekang nafsu syahwat, teman gadis maen sinetron pun di embat, dia memang kiai laknat.
Waspadalah dengan perilaku Brahmana Durjana. Dalam hidup kita memang harus tetap berbuat baik, tetapi kalau ada orang durjana yang merajalela, kita juga punya kewajiban untuk “mencegahnya”. Karena bangsa kita telah membiarkan terlalu banyak durjana menguasai Nusantara, maka ‘alam’-pun angkat bicara …
Salam hormat,
Ki Jero Martani
Artikel lain yang menyoroti tingkat laku brahmana durjana :
*
Ulama Melempar Sorban
*
Kehilangan Rasa
*
Si Dungu Yang Sok Pintar
Dapat anda lihat di http://360.yahoo.com/kijeromartani
Diskusi peminat serius di http://groups.yahoo.com/group/sastra-nusantara
SERAT JOKO LODANG
Gambuh
1. Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor
Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.
2.Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong
Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung
akan tetap masih terlihat bekasnya.
Lain sekali dengan jurang yang curam.
3. Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong
Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan
akan terjadi pada tahun Jawa 1850.
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.
Sinom
1. Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira
Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.
2. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira
Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.
Banyak ulama berbuat maksiat.
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.
3. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma
Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi.
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.
Megatruh
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon
Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.
Kemudian Joko Lodang berkata lagi :
"Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya
segera dan dapat terjadi ".
2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon
Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.
3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor
Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil)
yang berada banyak dijalan.
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut
isinya tidak lain emas dan kencana.
1. Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor
Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.
2.Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong
Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung
akan tetap masih terlihat bekasnya.
Lain sekali dengan jurang yang curam.
3. Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong
Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan
akan terjadi pada tahun Jawa 1850.
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.
Sinom
1. Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira
Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.
2. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira
Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.
Banyak ulama berbuat maksiat.
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.
3. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma
Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi.
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.
Megatruh
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon
Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.
Kemudian Joko Lodang berkata lagi :
"Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya
segera dan dapat terjadi ".
2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon
Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.
3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor
Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil)
yang berada banyak dijalan.
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut
isinya tidak lain emas dan kencana.
SERAT SABDO JATI
Megatruh
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu
MarGAne suka basuki
Dimen luWAR kang kinayun
Kalising panggawe SIsip
Ingkang TAberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.
14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.
15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali "pengelihatan" Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.
18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu
MarGAne suka basuki
Dimen luWAR kang kinayun
Kalising panggawe SIsip
Ingkang TAberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.
14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.
15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali "pengelihatan" Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.
18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).
Kidung Purwajati
Kidungan Sunan Kalijaga
Menghadapi jaman edan yang begitu menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, hidup serba tidak menentu, semuanya serba sulit menentukan sikap, serta tidak ada fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang benar dan kokoh, sebenarnya sudah diantisipasi oleh orang Jawa jauh hari sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang “ Waskita “ wong kang limpad ing budi (orang-orang yang mampu membaca tanda jaman )
Salah satu alternatif dari sumbangan sastra Jawa menghadapi jaman edan ialah membaca “ Kidung Rumekso Ing Wengi “ (KRIW), yang konon karya Sunan Kalijaga sehabis sembahyang malam, kidung ini sudah terkenal di wilayah Nusantara dan sering di nyayikan di pedesaan pada pertunjukkan ketoprak, wayang kulit dll atau peronda di malam hari yang sunyi. Bait yang utama dari KRIW itu sangat dikenal karena berisi mantra tolak balak, sedangkan bait selanjutnya yang berjumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang.
Bunyi kidung bait pertama itu sebagai berikut :
Bahasa jawa: Terjemahannya
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu huputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun
Paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemah tirto
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna
Ada nyanyian yang menguasai malam
Kukuh selamat terbebas dari penyakit
Terbebas dari semua malapetaka
Jin setan jahatpun tidak berkenan
Guna-guna pun tidak ada yang berani
Juga perbuatan jahat ilmunya orang yang bersalah
Api sirna karena air
Pencuri pun jauh tak ada yang menuju padaku
Guna-guna sakti pun lenyap
Fungsi Kidung :
Inti laku pembacaan KRIW adalah agar kita senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti , beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mengenai fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain :
1. Penolak balak dimalam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka.
2. Pembebas semua benda
3. Pemyembuh penyakit, termasuk gila
4. Pembebas pageblug
5. Pemercepat jodoh bagi perawan tua
6. Menang dalam perang
7. Memperlancar cita-cita luhur dan mulia
Kemudian oleh Puji Santosa dijelaskan, KRIW terdiri atas sembilan bait yang disertai laku dan fungsi pragmatisnya secara spesifik. Bagian pertama terdiri lima bait yang wajib diamalkan setiap malam. Bagian ke dua, terdiri empat bait berupa petunjuk yang menyertai laku dan wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang mengamalkan nya.
Nafas ke islaman tampak mewarnai KRIW mulai bait ke tiga dan seterusnya dengan menyebut asma Allah, malaikat, Nabi-Rasul, sahabat Nabi, keluarga Nabi dan nama seorang wali Sunan Kalijaga. Jadi secara tematik KRIW itu dilatari pleh nafas ke Islaman
Sementara itu kalimat terakhir pupuh Sinom bait ketujuh Serat Kalatida karya Ronggowarsito yang sangat terkenal dan berbunyi : “ Dilalah-kersaning Allah , begja begjane wong kang lali, isih begja kang eling lan waspada “ ditafsirkan bahwa “ Eling “ berarti kita senantiasa dituntut untuk berbakti kepada Tuhan dan selalu berzikir kepada Tuhan , tidak melupakan dan tidak meninggalkan sembahyang, "“Waspada "“berarti mampu membedakan yang benar dan yang salah, artinya selalu “ Wiweka “ hal ini penting agar kita tidak ikut gila, tergilas oleh arus jaman dan hanyut dalam situasi yang tidak menentu.
Kidungan/nyanyian tsb selengkapnya sbb:
KINIDUNGAKE : DANDANGGULA
PURWAKA
Purwaning kang sinawung memanis,panedaknya serat Kekidungan,lepata tulah sarike,an galap berkahipun,Kanjeng Nabi lan para Wali,poma sagung lan maca ,den samya tumayuh,ing lair batin sedyakna,sata suci,daraponira atut asih,nugrahaning Pangeran
SAWABING NABI WALI
1.Ana kidung rumeksa ing wengi,teguh ayu luputa ing lara,luputa bilahi kabeh,jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala, gunane wong luput, geni anemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah ing kami, guna duduk pan sirna.
2. Sakehin lara pan samja bali, sakehing ama sami miruda, welas asih pandulune, sakehing bradja luput, kadi kapuk tibanireki, sakehing wisa tawa, sato kuda tutut, kayu aeng lemah sangar songing landak, guwaning mong lemah miring, mjang pakiponing merak.
3. Pagupakaning warak sakalir, nadyan artja mjang sagara asat, satemah rahayu kabeh, dadi sarira aju, ingideran mring widhadari, rinekseng malaekat, sakatahing rusuh, pan dan sarira tunggal, ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.
4. Napasingun Nabi Isa luwih, Nabi Yakub pamiyarsaningwang, Yusuf ing rupaku mangke, Nabi Dawud swaraku, Yang Suleman kasekten mami, Ibrahim nyawaningwang, Idris ing rambutku, Bagendali kulitingwang, Abu Bakar getih, daging Umar singgih, balung Bagenda Usman.
5. Sungsumingsun Fatimah Linuwih, Siti Aminah bajuning angga, Ayub minangka ususe, sakehing wulu tuwuh, ing sarira tunggal lan Nabi, Cahyaku ya Muhammad, panduluku Rasul, pinajungan Adam syara", sampun pepak sakatahing para nabi, dadi sarira tunggal.
6. Wiji sawiji mulane dadi, pan apencar dadiya sining jagad, kasamadan dening Dzate, kang maca kang angrungu, kang anurat ingkang nimpeni, rahayu ingkang badan, kinarya sesembur, winacaknaing toja, kinarya dus rara tuwa gelis laki, wong edan dadi waras.
7. Lamun arsa tulus nandur pari puwasaa sawengi sadina, iderana gelengane, wacanen kidung iki, sakeh ama tan ana wani, miwah yen ginawa prang wateken ing sekul, antuka tigang pulukan, mungsuhira lerep datan ana wani, teguh ayu pajudan.
8. Lamun ora bisa maca kaki, winawera kinarya ajimat, teguh ayu penemune, lamun ginawa nglurug, mungsuhira datan udani, luput senjata uwa, iku pamrihipun, sabarang pakaryanira, pan rineksa dening Yang Kang Maha Suci, sakarsane tineken.
9. Lamun ana wong kabanda kaki, lan kadenda kang kabotan utang, poma kidung iku bae, wacakna tengah dalu, ping salawe den banget mamrih, luwaring kang kabanda, kang dinenda wurung, dedosane ingapura, wong kang utang sinauran ing Yang Widdhi, kang dadi waras.
10. Sing sapa reke arsa nglakoni, amutiha amawa, patang puluh dina wae, lan tangi wektu subuh, lan den sabar sukur ing ati, Insya Allah tineken, sakarsanireku, njawabi nak - rakyatira, saking sawab ing ilmu pangiket mami, duk aneng Kalijaga.
Kuwasaning Artadaya
11. Sapa kang wruh Artadaya iki, pan jumeneng sujanma utama, kang wruh namane Artate, masyrik magrib kawengku, sabdaning kang pandita luwih, prapteng sagara wetan angumbara iku, akekasih Sidanglana, Sidajati ingaranan Ki Artati, nyata jati sampurna.
12. Ana kidung reke Ki Artati, sapa wruha reke araning wang, duk ingsun ing ngare, miwah duk aneng gunung, Ki Artati lan Wisamatti, ngalih aran ping tiga, Artadaya tengsun araningsun duk jejaka, mangka aran Ismail Jatimalengis, aneng tengeahing jagad.
13. Sapa kang wruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke Artadaya, tunggal pancer lan somahe, sing sapa wruh panu......sasat sugih pagere wesi, rineksa wong sajagad, ingkang....iku, lamun kinarya ngawula, bratanana pitung dina....gustimu asih marma
14. Kang cinipta katekan Yang Widhhi, kang..... madakan kena, tur rineksa Pangerane, nadyan..... lamun nedya muja samadi, sesandi ing nagara, .....dumadi sarira tunggal, tunggal jati swara, .....aran Sekar jempina
15. Somahira ingaran Panjari, milu urip lawan milu pejah, tan pisah ing saparane, paripurna satuhu, jen nirmala waluya jati, kena ing kene kana, ing wusananipun, ajejuluk Adimulya Cahya ening jumeneng aneng Artati, anom tan keneng tuwa
16. Tigalan kamulanireki, Nilehening arane duk gesang, duk mati Lajangsukmane, lan Suksma ngambareku, ing asmara mor raga jati, durung darbe peparab, duk rarene iku, awajah bisa dedolan, aranana Sang Tyasjati Sang Artati, jeku sang Artadaya
17. Dadi wisa mangka amartani, lamun marta temah amisaya, marma Artadaya rane, duk laga aneng gunung, ngalih aran Asmarajati, wajah tumekeng tuwa, eling ibunipun, linari lunga mangetan, Ki Artati nurut gigiring Marapi, wangsul ngancik Sundara
18. Wiwitane duk anemu candi, gegedongan reke kang winrangkan, sihing Yang kabesmi mangke, tan ana janma kang wruh, yen weruha purwane dadi
21. Sagara gunung myang bumi langit, lawan ingkang amengku buwana, kasor ing Artadajane, sagara sat lan gunung, guntur sirna guwa pesagi, sapa wruh Artadaya, dadya teguh timbul, dadi paliyasing aprang, yen lelungan kang kepapag wedi asih, sato galak suminggah.
22. Jin prayangan pada wedi asih, wedi asih sagunging drubigsa, rineksa siang-dalune, ingkang anempuh lumpuh, tan tumama mring awak mami, kang nedya tan raharja, sadaya linebur, sakehing kang nedya ala, larut sirna kang nedya becik basuki, kang sinedya waluya.
23. Gunung guntur penglebur guweki, sagara sat bengawan sjuh sirna, kang wruh Artadaya reke, pan dadi teguh timbul, kang jumeneng manusa jati, ngadeg bumi sampurna, Yang Suksma sih lulut, kang manusa tan asiha, Sang Yang Tunggal parandene wedi asih, Yang Asmara mong raga.
24. Sagara agung amengku bumi, surya lintang mjang wong sabuwana, wedi angidep sakehe, kang kuwasa anebut, dadya paliyasing prang dadi, paser panah sumimpang, tumbak bedil luput, liwat sakatahing braja, yen linakon adoh ing lara bilahi, yen dipun apalena.
25. Siang dalu rineksa Yang Widhhi, sasedyane tinekan Yang Suksma, kinedepan janma akeh, karan wikuning wiku wikan liring puja samadi, tinekan sedyanira, kang mangunah luhung, peparab Yang Tigalana, ingkang simpen kang tuwayuh jroning ati, adoh ingkang bebaya.
26. Sakehing wisa tan ana mandi, sakehing lenga datan tumama, lebur muspa ilang kabeh, duduk tenung pan ayu, taragnyana tan ana mandi, sambang dengan suminggah, samya lebur larut, ingkang sedya ora teka, ingkang teka ora nedya iku singgih lebur sakehing wisa.
27. Yen kinarya atunggu wong sakit, ejin setan datan wani ngambah, rinekseng malaekate, nabi wali angepung, sakeh ama pada sumingkir, ingkang sedya mitenah, miwah gawe dudu, rinu sak maring Pangeran, iblis na’nat sato mara mati, tumpes tapis sadaya.
Menghadapi jaman edan yang begitu menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, hidup serba tidak menentu, semuanya serba sulit menentukan sikap, serta tidak ada fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang benar dan kokoh, sebenarnya sudah diantisipasi oleh orang Jawa jauh hari sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang “ Waskita “ wong kang limpad ing budi (orang-orang yang mampu membaca tanda jaman )
Salah satu alternatif dari sumbangan sastra Jawa menghadapi jaman edan ialah membaca “ Kidung Rumekso Ing Wengi “ (KRIW), yang konon karya Sunan Kalijaga sehabis sembahyang malam, kidung ini sudah terkenal di wilayah Nusantara dan sering di nyayikan di pedesaan pada pertunjukkan ketoprak, wayang kulit dll atau peronda di malam hari yang sunyi. Bait yang utama dari KRIW itu sangat dikenal karena berisi mantra tolak balak, sedangkan bait selanjutnya yang berjumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang.
Bunyi kidung bait pertama itu sebagai berikut :
Bahasa jawa: Terjemahannya
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu huputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun
Paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemah tirto
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna
Ada nyanyian yang menguasai malam
Kukuh selamat terbebas dari penyakit
Terbebas dari semua malapetaka
Jin setan jahatpun tidak berkenan
Guna-guna pun tidak ada yang berani
Juga perbuatan jahat ilmunya orang yang bersalah
Api sirna karena air
Pencuri pun jauh tak ada yang menuju padaku
Guna-guna sakti pun lenyap
Fungsi Kidung :
Inti laku pembacaan KRIW adalah agar kita senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti , beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mengenai fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain :
1. Penolak balak dimalam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka.
2. Pembebas semua benda
3. Pemyembuh penyakit, termasuk gila
4. Pembebas pageblug
5. Pemercepat jodoh bagi perawan tua
6. Menang dalam perang
7. Memperlancar cita-cita luhur dan mulia
Kemudian oleh Puji Santosa dijelaskan, KRIW terdiri atas sembilan bait yang disertai laku dan fungsi pragmatisnya secara spesifik. Bagian pertama terdiri lima bait yang wajib diamalkan setiap malam. Bagian ke dua, terdiri empat bait berupa petunjuk yang menyertai laku dan wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang mengamalkan nya.
Nafas ke islaman tampak mewarnai KRIW mulai bait ke tiga dan seterusnya dengan menyebut asma Allah, malaikat, Nabi-Rasul, sahabat Nabi, keluarga Nabi dan nama seorang wali Sunan Kalijaga. Jadi secara tematik KRIW itu dilatari pleh nafas ke Islaman
Sementara itu kalimat terakhir pupuh Sinom bait ketujuh Serat Kalatida karya Ronggowarsito yang sangat terkenal dan berbunyi : “ Dilalah-kersaning Allah , begja begjane wong kang lali, isih begja kang eling lan waspada “ ditafsirkan bahwa “ Eling “ berarti kita senantiasa dituntut untuk berbakti kepada Tuhan dan selalu berzikir kepada Tuhan , tidak melupakan dan tidak meninggalkan sembahyang, "“Waspada "“berarti mampu membedakan yang benar dan yang salah, artinya selalu “ Wiweka “ hal ini penting agar kita tidak ikut gila, tergilas oleh arus jaman dan hanyut dalam situasi yang tidak menentu.
Kidungan/nyanyian tsb selengkapnya sbb:
KINIDUNGAKE : DANDANGGULA
PURWAKA
Purwaning kang sinawung memanis,panedaknya serat Kekidungan,lepata tulah sarike,an galap berkahipun,Kanjeng Nabi lan para Wali,poma sagung lan maca ,den samya tumayuh,ing lair batin sedyakna,sata suci,daraponira atut asih,nugrahaning Pangeran
SAWABING NABI WALI
1.Ana kidung rumeksa ing wengi,teguh ayu luputa ing lara,luputa bilahi kabeh,jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala, gunane wong luput, geni anemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah ing kami, guna duduk pan sirna.
2. Sakehin lara pan samja bali, sakehing ama sami miruda, welas asih pandulune, sakehing bradja luput, kadi kapuk tibanireki, sakehing wisa tawa, sato kuda tutut, kayu aeng lemah sangar songing landak, guwaning mong lemah miring, mjang pakiponing merak.
3. Pagupakaning warak sakalir, nadyan artja mjang sagara asat, satemah rahayu kabeh, dadi sarira aju, ingideran mring widhadari, rinekseng malaekat, sakatahing rusuh, pan dan sarira tunggal, ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.
4. Napasingun Nabi Isa luwih, Nabi Yakub pamiyarsaningwang, Yusuf ing rupaku mangke, Nabi Dawud swaraku, Yang Suleman kasekten mami, Ibrahim nyawaningwang, Idris ing rambutku, Bagendali kulitingwang, Abu Bakar getih, daging Umar singgih, balung Bagenda Usman.
5. Sungsumingsun Fatimah Linuwih, Siti Aminah bajuning angga, Ayub minangka ususe, sakehing wulu tuwuh, ing sarira tunggal lan Nabi, Cahyaku ya Muhammad, panduluku Rasul, pinajungan Adam syara", sampun pepak sakatahing para nabi, dadi sarira tunggal.
6. Wiji sawiji mulane dadi, pan apencar dadiya sining jagad, kasamadan dening Dzate, kang maca kang angrungu, kang anurat ingkang nimpeni, rahayu ingkang badan, kinarya sesembur, winacaknaing toja, kinarya dus rara tuwa gelis laki, wong edan dadi waras.
7. Lamun arsa tulus nandur pari puwasaa sawengi sadina, iderana gelengane, wacanen kidung iki, sakeh ama tan ana wani, miwah yen ginawa prang wateken ing sekul, antuka tigang pulukan, mungsuhira lerep datan ana wani, teguh ayu pajudan.
8. Lamun ora bisa maca kaki, winawera kinarya ajimat, teguh ayu penemune, lamun ginawa nglurug, mungsuhira datan udani, luput senjata uwa, iku pamrihipun, sabarang pakaryanira, pan rineksa dening Yang Kang Maha Suci, sakarsane tineken.
9. Lamun ana wong kabanda kaki, lan kadenda kang kabotan utang, poma kidung iku bae, wacakna tengah dalu, ping salawe den banget mamrih, luwaring kang kabanda, kang dinenda wurung, dedosane ingapura, wong kang utang sinauran ing Yang Widdhi, kang dadi waras.
10. Sing sapa reke arsa nglakoni, amutiha amawa, patang puluh dina wae, lan tangi wektu subuh, lan den sabar sukur ing ati, Insya Allah tineken, sakarsanireku, njawabi nak - rakyatira, saking sawab ing ilmu pangiket mami, duk aneng Kalijaga.
Kuwasaning Artadaya
11. Sapa kang wruh Artadaya iki, pan jumeneng sujanma utama, kang wruh namane Artate, masyrik magrib kawengku, sabdaning kang pandita luwih, prapteng sagara wetan angumbara iku, akekasih Sidanglana, Sidajati ingaranan Ki Artati, nyata jati sampurna.
12. Ana kidung reke Ki Artati, sapa wruha reke araning wang, duk ingsun ing ngare, miwah duk aneng gunung, Ki Artati lan Wisamatti, ngalih aran ping tiga, Artadaya tengsun araningsun duk jejaka, mangka aran Ismail Jatimalengis, aneng tengeahing jagad.
13. Sapa kang wruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke Artadaya, tunggal pancer lan somahe, sing sapa wruh panu......sasat sugih pagere wesi, rineksa wong sajagad, ingkang....iku, lamun kinarya ngawula, bratanana pitung dina....gustimu asih marma
14. Kang cinipta katekan Yang Widhhi, kang..... madakan kena, tur rineksa Pangerane, nadyan..... lamun nedya muja samadi, sesandi ing nagara, .....dumadi sarira tunggal, tunggal jati swara, .....aran Sekar jempina
15. Somahira ingaran Panjari, milu urip lawan milu pejah, tan pisah ing saparane, paripurna satuhu, jen nirmala waluya jati, kena ing kene kana, ing wusananipun, ajejuluk Adimulya Cahya ening jumeneng aneng Artati, anom tan keneng tuwa
16. Tigalan kamulanireki, Nilehening arane duk gesang, duk mati Lajangsukmane, lan Suksma ngambareku, ing asmara mor raga jati, durung darbe peparab, duk rarene iku, awajah bisa dedolan, aranana Sang Tyasjati Sang Artati, jeku sang Artadaya
17. Dadi wisa mangka amartani, lamun marta temah amisaya, marma Artadaya rane, duk laga aneng gunung, ngalih aran Asmarajati, wajah tumekeng tuwa, eling ibunipun, linari lunga mangetan, Ki Artati nurut gigiring Marapi, wangsul ngancik Sundara
18. Wiwitane duk anemu candi, gegedongan reke kang winrangkan, sihing Yang kabesmi mangke, tan ana janma kang wruh, yen weruha purwane dadi
21. Sagara gunung myang bumi langit, lawan ingkang amengku buwana, kasor ing Artadajane, sagara sat lan gunung, guntur sirna guwa pesagi, sapa wruh Artadaya, dadya teguh timbul, dadi paliyasing aprang, yen lelungan kang kepapag wedi asih, sato galak suminggah.
22. Jin prayangan pada wedi asih, wedi asih sagunging drubigsa, rineksa siang-dalune, ingkang anempuh lumpuh, tan tumama mring awak mami, kang nedya tan raharja, sadaya linebur, sakehing kang nedya ala, larut sirna kang nedya becik basuki, kang sinedya waluya.
23. Gunung guntur penglebur guweki, sagara sat bengawan sjuh sirna, kang wruh Artadaya reke, pan dadi teguh timbul, kang jumeneng manusa jati, ngadeg bumi sampurna, Yang Suksma sih lulut, kang manusa tan asiha, Sang Yang Tunggal parandene wedi asih, Yang Asmara mong raga.
24. Sagara agung amengku bumi, surya lintang mjang wong sabuwana, wedi angidep sakehe, kang kuwasa anebut, dadya paliyasing prang dadi, paser panah sumimpang, tumbak bedil luput, liwat sakatahing braja, yen linakon adoh ing lara bilahi, yen dipun apalena.
25. Siang dalu rineksa Yang Widhhi, sasedyane tinekan Yang Suksma, kinedepan janma akeh, karan wikuning wiku wikan liring puja samadi, tinekan sedyanira, kang mangunah luhung, peparab Yang Tigalana, ingkang simpen kang tuwayuh jroning ati, adoh ingkang bebaya.
26. Sakehing wisa tan ana mandi, sakehing lenga datan tumama, lebur muspa ilang kabeh, duduk tenung pan ayu, taragnyana tan ana mandi, sambang dengan suminggah, samya lebur larut, ingkang sedya ora teka, ingkang teka ora nedya iku singgih lebur sakehing wisa.
27. Yen kinarya atunggu wong sakit, ejin setan datan wani ngambah, rinekseng malaekate, nabi wali angepung, sakeh ama pada sumingkir, ingkang sedya mitenah, miwah gawe dudu, rinu sak maring Pangeran, iblis na’nat sato mara mati, tumpes tapis sadaya.
Langganan:
Postingan (Atom)