Kutukan di Tanah Nusantara

Membaca kisah lama yang tertulis dalam babad tentang negara Majapahit dapat memicu inspirasi bahwa masa depan adalah jejak langkah kita di masa lalu.

---oOo---

Dimulai ketika Sang Prabu Brawijaya didampingi oleh dua punakawannya bernama Sabda Palon dan Naya Genggong, bertemu dengan Sunan Kalijaga. Sang Nata Prabu, dalam pertemuan itu berkata, “Sabda Palon, sekarang saya telah masuk islam, bagaimanakah dengan kamu ? Lebih baik ikut masuk islam, sebuah agama suci dan baik”

Mendengar kata-kata itu, Sabda Palon menjawab kasar “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini adalah raja serta pembesar Danghyang se tanah jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Karena itu, sudah digariskan kita harus berpisah, saya kembali ke asal mula saya”

Namun mohon dicatat, kelak setelah 500 tahun, saya akan mengganti jadi agama Budi lagi. Bila ada yang tidak mau memakai, saya sebar ke seluruh Nusantara. Bila ada yang tak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin, setan dan lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak GUNUNG MERAPI MELETUS dan memuntahkan laharnya, mengalir ke barat daya, baunya tak sedap. Itulah pertanda saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda. Kelak merapi akan bergelegar, itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi, bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat diubah lagi.

Kelak tiba waktu paling sengsara di tanah Nusantara ini pada tahun : Lawon Sapta Ngesthi Aji. Seumpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal. Bahaya yang mendatangi, tersebar di seluruh Nusantara, itu sudah kehendak Tuhan, tak mungkin disingkiri lagi. Sebab jagad raya ini ada ditanganNya, hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

Berbagai macam bahaya membuat rusak tanah Nusantara. Brahmana melempar ikat kepala. Para pejabat priyayi banyak yang susah hati, terlibat korupsi. Sodagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tak seberapa. Petanipun demikian, penghasilannya banyak hilang karena hutan telah berkurang. Bumi berkurang hasilnya, hama banyak menyerang, hutan di babat, kayu hilang dicuri.

Lalu timbul kerusakan hebat, sebab orang-orang berebut mencari makan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling berkeliaran, dan siang hari banyak begal seperti jagoan. Manusia bingung dengan sendirinya, sebab harus rebutan hanya untuk mempertahankan hidup, tak ingat lagi aturan negara, sebab tak kuasa menahan keroncongan perut.

Disusul musibah pagebluk (wabah) yang luar biasa, penyakit tersebar di seluruh Nusantara, pagi sakit sore telah meninggal dunia. Bahaya penyakit luar biasa, disana-sini banyak yang mati. Hujan tidak tepat waktu, angin besar menerjang, sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap, banjir layaknya lautan pasang.

Lautan meluap airnya naik ke darat, merusakkan kanan kiri, kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup dipinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan suara gemuruh. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanah menganga. Muncullah brekasakan (ruh halus) yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang, berkelebat hilang, kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah.

Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin
diubahnya lagi.

[Diinspirasi dari Serat Sabda Palon dan Nayagenggong]

Catatan :
Mari kita renungkan bersama, berapa persen tanda-tanda itu telah terjadi ?

Tidak ada komentar: