Kesedihan Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedih saat hadir pada peringatan Hari Bumi International di Jakarta, Sabtu (22/4) kemarin. Ia mengaku prihatin hutan di Indonesia mengalami kerusakan lebih dari 2 juta hektar per tahun, akibat penebangan liar dan kebakaran hutan.
Ungkapan keprihatinan ini semoga bukan hanya terbatas untuk keperluan sambutan pada peringatan Hari Bumi, akan tetapi benar-benar merupakan keinginan untuk TOBAT walau agak terlambat. Mudah-mudahan kepedihan itu muncul dari kesadaran bahwa Sang Kuasa tidak akan mengubah nasib suatu kaum, apabila dia sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya.
Tobat yang efektif memerlukan ilmu, lalu kesadaran akan kepedihan yang akan menimpa, dilanjutkan dengan tindakan. Tanpa ilmu, kesadaran akan kepedihan dan mau untuk bertindak dan bekerja keras, maka ucapan memelas dan sederet fakta-fakta yang diungkap Sang Hamengkubuwono, hanya merupakan kecengengan dan “dalih” orang yang tak berdaya.
---
Saat ini, saya “bertapa” di tengah hijaunya sawah di sebuah desa kecil di Pulau Dewata, memberanikan diri untuk menulis pemikiran. Bukan untuk menyombongkan diri, akan tetapi semata-mata melaksanakan kewajiban karena mengetahui sesuatu, barangkali bermanfaat jika diketahui oleh orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Sang Kuasa, dijadikan pembesar negara, gubernur, bupati dan bahkan bisa pula digunakan oleh para kepala keluarga. Saya hanya melaksanakan kewajiban, untuk mardi siwi atau mendidik “anak”, menyiarkan mutiara-mutiara dari sastra nusantara.
Tulisan yang disusun, akan berguna bila Tobat Sang Hamengkubuwono benar-benar keluar dari hati nurani yang terdalam. Tapi akan menjadi mantra penimbul petaka jika Sang Amangkurat masih dalam tataran wacana, bukan dari renungan kalbu yang terdalam.
Sodara-sodara para pemegang amanah kekuasaan,
Jika anda menonton wayang, tolong jangan hanya menyimak lakon-nya, tapi cobalah meresapi suasana fisik, pemikiran dan ruh yang menggerakkan tontonan itu. Dengan itu, mudah-mudahan anda merasakan adanya kesatuan mistik istimewa di dalamnya. Amati dan resapkan sarana fisik yang digunakan seperti kelir, blencong atau lampu, kothak tempat simpan wayang, kepyak dan dalang, resapi “serunya” lakon yang dibawakan dan “ruh” dari tontonan itu sendiri.
Setelah itu, wahai para pemimpin bangsa, resapkan – analogikan tugas atau swadharma anda sebagai seorang pemimpin dan rakyat yang menderita dan menunggu anda mengayomi mereka. Menunggu anda, memayu hayuning buwono, membuat dunia ini menjadi rahayu. Jika anda meresapi dengan ‘rasa’, maka anda akan menemukan kesatuan mistik, yang menguasai dalang beserta semua gerakannya. Gerakan dalang disebabkan oleh wayang. Bicara dalang adalah karena wayang yang sedang dimainkan. Sedangkan keberadaan wayang berasal dari Sang Abadi. Lalu masih ada yang perlu anda renungkan lebih dalam. Dalang menguasai wayang beserta semua gerakannya. Gerakan para wayang disebabkan oleh dalang, bicara wayang datang dari mulut sang dalang, semua tingkah laku wayang datang dari dalang.
Dalang dan wayang, harus saling bantu membantu. Keduanya tidak akan pernah menjadi nyata, jika tak ada niat yang tulus untuk bekerja sama. Niat tulus tersebut pertama-tama harus dimulai dari Sang Dalang. Demikian pula Gusti dan Kawula, tanpa saling bantu-membantu keduanya tidak menjadi nyata. Apatah bisa Islam menjadi besar, jika Allah dan Muhammad tidak bekerjasama ?
Anakku Sang Amangkubumi,
Ketahuilah baik-baik, bahwa engkau sudah mengemban anugerah kedudukan dari Sang Kuasa. Karena itulah, harus disadari bahwa engkau adalah kawula Sang Gusti Allah. Setiap kawula adalah merupakan bayangan, yang terikat pada Hyang Widhi dan harus menurut perintah Dia. Segala pikiran, perkataan dan perbuatanmu itu, hendaklah engkau renungkan dan gali dari nurani yang paling dalam.
Kau harus dapat dengan jelas membedakan, antara logika pikiran dan nurani. Nurani untuk memayu hayuning buwono, membuat seluruh rakyat atau kawula Nusantara ini sejahtera. Jangan dicampur dengan keinginan-keinginan kotor untuk mempertahankan popularitas ataupun melanggengkan kekuasaan.
Tan samar pamoring sukma,
Sinukmaya winahya ingasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep alaping ngaluyup,
Pinda pesating supena,
Sumusuping rasa jati
[Serat Wedhatama, Pangkur]
Nurani itu timbul saat kita berada dalam keadaan “sepi”. Sepi bisa berarti dalam keadaan hening saat berdialog dengan bathin sendiri, juga bisa diartikan sebagai sepi dalam pamrih pribadi. Pemahaman yang didapat ketika menyepi itu, lalu simpanlah di dalam bathin yang terdalam. Yakinlah dalam melaksanakan tugas. Jangan dipengaruhi oleh “para ular” yang mengelilingimu. Dengan keteguhan dan keyakinan, maka Sang Kuasa niscaya akan membuka “tirai” atau warana atau solusi terhadap masalah yang dihadapi.
Solusi itu akan didapat ketika engkau terjun menghadapi pertentangan, dan akan melesat, menembus kesadaran terdalam, bagai anak panah, merasuk menyusup sebagai rasa sejati pembuka solusi.
Semoga engkau rajin untuk melakukan perenungan atau ber’tapa’. Dalam perenungan selidikilah hubungan kawula dan gusti. Dia bersatu namun tetap dua, dua namun menjadi satu. Itu adalah ilmu kesempurnaan untuk kesatuan. Pergilah belajar mengenai hal itu pada yang mengetahui. Karena itu meningkatkan kesempurnaan ibadah.
Resapkanlah kenyataan bahwa ada laki-laki, bersamaan dengan itu ada yang perempuan; orang memuja sekaligus dipuja; orang memberi perintah, bersamaan dengan itu mendapat perintah. Karena dalang menjadi nyata dalam wayang dan wayang menjadi nyata dalam dalang. Renungkan dan resapkan hal ini terus menerus sampai akhir ! Gusti menjadi nyata dalam kawula dan kawula menjadi nyata dalam Gusti. Janganlah alpa akan hal ini.
Make It Happen
Agar ucapanmu tidak berhenti pada tataran wacana, maka engkau perlu melaksanakan persiapan, agar orang tidak menyindirmu melaksanakan “manajemen by kungfu”. Menangkis kalau ada yang memukul, menendang hanya kalau ada yang menyerang, selalu seolah tanpa persiapan. Bagaimana cara untuk menuju gemerlap masa depan yang dicita-citakan ? Salah satu bait, Sastra Nusantara menyatakan :
Ruktine ngangkah ngukut,
Ngiket ngruket triloka kakukut
Jagad agung ginulung lan jagad alit
Den kendel kumandel kulup
Mring kilaping alam kono
[Serat Wedhatama, Gambuh]
Ruktine artinya persiapan, harus selalu ada persiapan untuk melaksanakan suatu program kerja. Hal pertama yang harus dilakukan adalah “mental creation” – menulis apa yang akan dikerjakan. Kita harus mendeskripsikan “apa” tujuan dari program kerja yang ingin dicapai – dalam bahasa jawa hal ini disebut “ngangkah”. Lalu “ngukut” berarti tahu cara mencapai tujuan itu, menyusun peta strategi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dengan bekal deskripsi yang jelas mengenai “apa” dan “bagaimana”, langkah berikutnya adalah melakukan sosialisasi agar seluruh stakeholder merasa terikat terhadap tujuan bersama yang ditetapkan.
Sosialisasi akan membangun semangat seluruh komponen, dan semangat itu akan memudahkan untuk mengumpulkan tiga sumber daya utama untuk menghasilkan program kerja, yakni jnana atau know-how, wirya- kuasa atau kendali dan artha yaitu sumber daya. Lalu seluruh rencana yang akan berpengaruh ke seluruh tanah Nusantara, disusun menjadi suatu model sehingga siap untuk diimplementasi. Jagad agung digulung menjadi jagad alit yaitu satu model perencanaan.
Setelah model itu disusun secara matang, maka langkah berikutnya adalah physical creation. Kalau mental creation adalah menulis apa yang akan dikerjakan, sedangkan physical creation adalah mengerjakan apa yang telah ditulis. Untuk mengeksekusi rencana diperlukan fokus terhadap tujuan dan keberanian untuk mengatasi segala rintangan (kendel kumandel - berani). Dengan keberanian dan keteguhan, maka cita-cita untuk mencapai gemerlap (kilaping alam kono) masa datang pasti akan tercapai.
Proyek
Seorang pemimpin laksana seorang project manager. Proyek adalah usaha temporer untuk melaksanakan tujuan tertentu. Sang pemimpin harus mampu membayar janji yang telah diucapkan, karena janji adalah hutang. Dia punya waktu 5 tahun untuk mewujudkan janjinya itu. Untuk melaksanakan visinya, disediakan sumber daya yang berasal dari berbagai hal. Sang penguasa, harus sadar siapa bowheer atau key stakeholder dari proyeknya. Dan terakhir Sang Penguasa harus sadar bahwa selalu ada ketidak pastian dalam mencapai tujuan, karena itulah segala resiko harus diperhitungkan.
Oleh sebab itu, untuk mencapai visi tentang lingkungan yang ditetapkan saat Hari Bumi itu, seharusnya Sang Penguasa tidak berhenti pada kemampuan berwacana ataupun melontarkan kesedihan. Tetapi harus mulai dengan tindakan, baik melalui mental creation lalu diikuti dengan physical creation. Karena itulah, selain kemampuan dalam menggaet masa, diperlukan pula kemampuan untuk menjadi seorang manajer proyek. Sang Amangkubumi perlu memahami cara untuk menetapkan lingkup kegiatan, menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan, durasi dan urutannya sehingga dapat menyusun jadwal, menghitung biaya serta menetapkan kualitas.
Selain itu, kemampuan mengelola sumber daya manusia perlu juga diperhatikan. Sukses atau tidaknya suatu pekerjaan, sangat tergantung dari manusia yang melaksanakan. Lalu membangun kemampuan komunikasi, karena banyak sekali kegagalan dalam pemerintahan akibat ketidak mampuan sang pemimpin membangun komunikasi. Manajemen resiko juga diperlukan, karena itu adalah ilmu weruh sakdurunge winarah, mengetahui atau mempersiapkan suatu hal sebelum itu terjadi. Dan terakhir bagaimana bekerjasama dengan pihak lain – lembaga-lembaga donor – atau negara lain, yang ingin membantu melaksakan pembangunan untuk mencapai visi yang ditetapkan.
Visi yang tidak diterjemahkan ke dalam ukuran-ukuran yang jelas sangat sulit untuk dikelola. Dan karena sulit untuk dikelola pastilah akan sangat sulit untuk dicapai.
Penutup
Sekali lagi, apa yang saya uraikan, tentu sudah pernah diketahui oleh para penyelenggara negara, gubernur, bupati atau bahkan sodara-sodara sekalian yang menjadi kepala di keluarga masing-masing. Saya menulis hanya sekedar untuk mengingatkan, bahwa sastra-sastra Nusantara perlu digali kembali, karena tidak kalah dengan ilmu dari seberang negeri. Hal ini perlu untuk membangun kembali Jati Diri sebagai bangsa yang pernah besar di Nusantara.
Mari kita tunggu, Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Itu adalah pertanda bergeraknya para danghyang di tanah jawa untuk ikut serta berpartisipasi melaksanakan perubahan, agar Nusantara menjadi lebih baik lagi. [Tentang danghyang tanah jawa, lihat tulisan berjudul Jangan Sekali-kali meninggalkan sejarah di http://groups.yahoo.com/group/sastra-nusantara]. Para danghyang sudah tampak terlalu bersemangat, kesurupan sudah muncul dimana-mana secara sporadis, jangan sekali-kali meremehkannya. Ini ujian pamungkas untuk warga Nusantara dari Sang Kuasa. Para Danghyang akan berperang tanpa balantentara dan sakti tanpa ajian. Mari kita bersiap, bekerjasama ataukah terpaksa “berperang” dengan mereka.
Akhir kata, apabila ada hal-hal yang menyinggung perasaan dalam tulisan ini, tiada maksud untuk melakukan hal itu. Niat saya semata-mata, agar para Amangkurat, Amangkubumi, Hamengkubowono dan lain-lain, disegarkan kembali tentang cara-cara membangun pemerintahan, berdasarkan ilmu-ilmu Nusantara.
Semoga ini dapat bermanfaat.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Pendukung Gus Dur dan FPI Jember Bentrok
Jum'at, 26 Mei 2006 | 21:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jember:
Sedikitnya 75 orang pendukung Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Kabupaten Jember menyerbu perwakilan Front Pembela Islam (FPI) di kota itu. Kedua kubu akhirnya bentrok di kawasan Kauman, Mangli, Kaliwates, markas FPI, Jumat sore.
Pendukung Gus Dur marah karena panutannya dilecehkan dan diusir saat diskusi di Purwakarta, Jawa Barat, beberapa hari lalu. Bentrokan mereda setelah aparak kepolisian datang melerai. FPI diduga ikut mengusir Gus Dur.
Pendukung Gus Dur memakai atribut Garda Bangsa, Pagar Nusa, dan Pemuda Anshor. Mereka di bawah komando H. Ayub Mukson mendatangi rumah Habib Abu Bakar, Ketua FPI Jember, dengan menumpang mobil dan arak-arakan motor.
Entah siapa yang memulai, bentrokan kedua pihak meletus sekitar pukul 15.00 WIB. "Bubarkan FPI," teriak pendukung Gus Dur. Polisi mendamaikan mereka dengan mengajak berunding di rumah Habib Abu Bakar.
Salah satu pendukung Gus Dur, Sofyan Tsauri, mempertanyakan sambutan massa FPI terhadapnya.
"Kenapa kami disambut dengan batu. Ini bukan Front Pembela Islam. Ini Front Preman Islam namanya," ucap Sofyan yang dikenal sebagai dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember itu.
Habib Abu Bakar meminta maaf atas sambutan anak buahnya dalam menghadapi massa pendukung Gus Dur. Ia menegaskan tak pernah memerintahkan anak buahnya menyambut massa pendukung bekas presiden itu dengan kekerasan. enurutnya, FPI di Jember berbeda dengan FPI di daerah lain. "Kami tak pernah mencari masalah," katanya.
TEMPO Interaktif, Jember:
Sedikitnya 75 orang pendukung Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Kabupaten Jember menyerbu perwakilan Front Pembela Islam (FPI) di kota itu. Kedua kubu akhirnya bentrok di kawasan Kauman, Mangli, Kaliwates, markas FPI, Jumat sore.
Pendukung Gus Dur marah karena panutannya dilecehkan dan diusir saat diskusi di Purwakarta, Jawa Barat, beberapa hari lalu. Bentrokan mereda setelah aparak kepolisian datang melerai. FPI diduga ikut mengusir Gus Dur.
Pendukung Gus Dur memakai atribut Garda Bangsa, Pagar Nusa, dan Pemuda Anshor. Mereka di bawah komando H. Ayub Mukson mendatangi rumah Habib Abu Bakar, Ketua FPI Jember, dengan menumpang mobil dan arak-arakan motor.
Entah siapa yang memulai, bentrokan kedua pihak meletus sekitar pukul 15.00 WIB. "Bubarkan FPI," teriak pendukung Gus Dur. Polisi mendamaikan mereka dengan mengajak berunding di rumah Habib Abu Bakar.
Salah satu pendukung Gus Dur, Sofyan Tsauri, mempertanyakan sambutan massa FPI terhadapnya.
"Kenapa kami disambut dengan batu. Ini bukan Front Pembela Islam. Ini Front Preman Islam namanya," ucap Sofyan yang dikenal sebagai dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember itu.
Habib Abu Bakar meminta maaf atas sambutan anak buahnya dalam menghadapi massa pendukung Gus Dur. Ia menegaskan tak pernah memerintahkan anak buahnya menyambut massa pendukung bekas presiden itu dengan kekerasan. enurutnya, FPI di Jember berbeda dengan FPI di daerah lain. "Kami tak pernah mencari masalah," katanya.
Ulama Melempar Sorban
Meloke yen arsa muluk,
muluk ujare lir wali,
wola-wali nora nyata,
anggepe pandhita luwih,
kaluwihane tan ana,
kabeh tandha-tandha sepi.
[Serat Wedhatama]
hanya bertindak di saat akan menuntut hak,
kata-katanya melambung tinggi bak seorang wali,
berulangkali ingkar janji,
merasa diri seakan ulama mumpuni,
(padahal) kemampuan tak menyertai,
tak satu sikap-pun menunjukkan adanya keistimewaan
---oOo---
muluk ujare lir wali,
wola-wali nora nyata,
anggepe pandhita luwih,
kaluwihane tan ana,
kabeh tandha-tandha sepi.
[Serat Wedhatama]
hanya bertindak di saat akan menuntut hak,
kata-katanya melambung tinggi bak seorang wali,
berulangkali ingkar janji,
merasa diri seakan ulama mumpuni,
(padahal) kemampuan tak menyertai,
tak satu sikap-pun menunjukkan adanya keistimewaan
---oOo---
Habib Rizieq : Tidak akan Minta Maaf Pada Gus Dur
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq menyatakan tidak akan meminta maaf pada Gus Dur dan organisasi massa yang meminta agar FPI dibubarkan.
“Mereka itu gerombolan liar. Haram buat kami untuk minta maaf kepada dia dan massanya,” kata Habib Rizieq kepada Tempo melalui telepon hari ini.
Menurut dia, justru Gus Dur yang harus meminta maaf kepada seluruh umat Islam di dunia karena sudah menghina kitab suci Alquran.
Bentrok massa FPI dengan Garda Bangsa, Pagar Nusa dan Anshor Jember di Jember, Jawa Tengah kemarin, menurut Rizieq, karena banyak anggota FPI yang dipukul oleh massa Gus Dur. Sehingga massa FPI membela diri.
“Apakah membela diri itu bentuk tindakan anarkistis?”, katanya.
Rizieq mengatakan FPI tidak akan meladeni tuntutan Garda Nasional yang menginginkan FPI dibubarkan. “Kami organisasi sah, masa harus nurut sama gerombolan liar,” ujarnya.
“Mereka itu gerombolan liar. Haram buat kami untuk minta maaf kepada dia dan massanya,” kata Habib Rizieq kepada Tempo melalui telepon hari ini.
Menurut dia, justru Gus Dur yang harus meminta maaf kepada seluruh umat Islam di dunia karena sudah menghina kitab suci Alquran.
Bentrok massa FPI dengan Garda Bangsa, Pagar Nusa dan Anshor Jember di Jember, Jawa Tengah kemarin, menurut Rizieq, karena banyak anggota FPI yang dipukul oleh massa Gus Dur. Sehingga massa FPI membela diri.
“Apakah membela diri itu bentuk tindakan anarkistis?”, katanya.
Rizieq mengatakan FPI tidak akan meladeni tuntutan Garda Nasional yang menginginkan FPI dibubarkan. “Kami organisasi sah, masa harus nurut sama gerombolan liar,” ujarnya.
Front Penyelamat Tangerang Bentrok dengan Warga
Sabtu, 27 Mei 2006 | 14:16 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Front Penyelamat Tangerang pimpinan Tubagus Mahdi bentrok dengan warga di komplek pertokoan Pinangsia Lipo Karawaci Tangerang tadi Malam Jumat (26/5) pukul 22.00 WIB. Dua orang babak belur dihajar warga.
Bentrokan terjadi ketika sekitar 150 orang yang menamakan diri Front Penyelamat Tangerang melakukan aksi protes terhadap tempat hiburan malam di komplek pertokoan Pinangsia tersebut.
Menurut Mahdi, aksi tersebut dilakukan berkaitan dengan penerapan Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2005 tentang Anti Minuman Miras dan Perda No. 8 tahun 2005 tentang larangan Pelacuran.
Massa FPT yang berkeliling di komplek itu berteriak-teriak agar belasan tempat hiburan di sana ditutup. Emosi warga terpancing ketika Mahdi berteriak seolah menantang warga.
"Saya Haji Mahdi tidak takut dengan siapapun. Siapa yang berani menantang saya disilakan maju," kata Mahdi.
Merasa ditantang warga yang terdiri dari tukang ojeg, karyawan toko, dan petugas pengamanan di sekitar lokasi merasa tidak senang dengan aksi tersebut.
Puluhan warga setempat pun menyerbu massa FPT. Keduanya terlibat baku hantam dan saling pukul menggunakan tangan kosong, kayu, dan batu. Semakin lama jumlah warga semakin banyak. Massa FPT terdesak dan lari tunggang langgang meninggalkan lokasi kejadian.
Dua dari anggota FPT yang tertinggal babak belur dikeroyok warga. Namun mereka bisa diselamatkan oleh polisi yang segera datang ke lokasi kejadian.
Polisi mengamankan lima orang massa dari FPT, yaitu Tugabus Mahdi, Muhdi, Manta, Nurdin, dan Engkar. Setelah diperiksa selama 5 jam, mereka dilepas kembali.
Kepala Satuan Intel Polres Tangerang Komisaris Polisi Elisius mengatakan kelompok FPT melanggar Undang-undang 98 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. "Aksi unjuk rasa itu tak ada izinnya," katanya.
TEMPO Interaktif, Jakarta: Front Penyelamat Tangerang pimpinan Tubagus Mahdi bentrok dengan warga di komplek pertokoan Pinangsia Lipo Karawaci Tangerang tadi Malam Jumat (26/5) pukul 22.00 WIB. Dua orang babak belur dihajar warga.
Bentrokan terjadi ketika sekitar 150 orang yang menamakan diri Front Penyelamat Tangerang melakukan aksi protes terhadap tempat hiburan malam di komplek pertokoan Pinangsia tersebut.
Menurut Mahdi, aksi tersebut dilakukan berkaitan dengan penerapan Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2005 tentang Anti Minuman Miras dan Perda No. 8 tahun 2005 tentang larangan Pelacuran.
Massa FPT yang berkeliling di komplek itu berteriak-teriak agar belasan tempat hiburan di sana ditutup. Emosi warga terpancing ketika Mahdi berteriak seolah menantang warga.
"Saya Haji Mahdi tidak takut dengan siapapun. Siapa yang berani menantang saya disilakan maju," kata Mahdi.
Merasa ditantang warga yang terdiri dari tukang ojeg, karyawan toko, dan petugas pengamanan di sekitar lokasi merasa tidak senang dengan aksi tersebut.
Puluhan warga setempat pun menyerbu massa FPT. Keduanya terlibat baku hantam dan saling pukul menggunakan tangan kosong, kayu, dan batu. Semakin lama jumlah warga semakin banyak. Massa FPT terdesak dan lari tunggang langgang meninggalkan lokasi kejadian.
Dua dari anggota FPT yang tertinggal babak belur dikeroyok warga. Namun mereka bisa diselamatkan oleh polisi yang segera datang ke lokasi kejadian.
Polisi mengamankan lima orang massa dari FPT, yaitu Tugabus Mahdi, Muhdi, Manta, Nurdin, dan Engkar. Setelah diperiksa selama 5 jam, mereka dilepas kembali.
Kepala Satuan Intel Polres Tangerang Komisaris Polisi Elisius mengatakan kelompok FPT melanggar Undang-undang 98 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. "Aksi unjuk rasa itu tak ada izinnya," katanya.
Paro Pakarah Punyaya, Papaya Para Pidanam
Nyucuk Angiberake. Nyucuk berarti menyucuk atau mematuk, angiberake
berarti membawa pergi atau mengedarkan. Kiasan ini mengacu pada
perilaku burung yang mematuk makanan dan lalu membawanya pergi.
Dalam masa-masa susah menghadapi bencana, oknum pejabat maupun para
penjahat bejat, akan berusaha memanfaatkan keadaan ini, untuk
kepentingan pribadi. Istilah kerennya – aji mumpung.
Masih ingat ketua LSM Aceh, berambut kuncir, yang omongnya pedes …
eh ternyata tukang colong, bles ditonjok, lalu masuk penjara, nggak
tau nasibnya jadi gimana. Nanti kalo lepas lagi … pasti cuap-cuap
kayak mantan pejabat … si mulut pedas … dikoran tulisannya cemerlang …
tapi saat dia jadi pejabat … tak ada yang diperbuat, dasar tukang
onani, suka sok hebat !
Segar dalam ingatan, mantan ketua komite independen pemantau pemilu,
rambut gondrong, mulut hitam karena rokok? Waktu jadi LSM kritik
pedas bertubi-tubi tentang pemilu. Tapi ketika dia yang
jadi 'pelaksana' ... eh... bobrok juga, digertak dikit ama
pemeriksa – nyogok – ketangkep - masuk bui. Syukurlah maling
berjamaah di KPU, kena hajar semua, dan masuk hotel prodeo, tinggal
sisa-sisa yang masih punya beckingan.
Model orang-orang seperti ini sekarang sedang gentayangan. Kalau
ngomong, mengatas-namakan rakyat, gayanya ulama beriman, tapi
hatinya preman. Penusuk kawan seiring, penggunting dalam lipatan –
gaya si pemimpin legislatif. Tinggal glanggang colong playu – kabur
ketika dipercaya dan dapat mandat jadi pejabat, karena ada
kesempatan jabatan yang lebih tinggi. Biasanya kalo sekali
berkhianat mungkin bisa tobat. Tapi kalo sampai 2 kali jadi menteri
pejabat dan berkhianat pada yang mengangkat. Sudah pasti ada saat
yang ketiga yaitu berkhianat pada rakyat.
Orang-orang jenis ini, selalu mengambil kesempatan kalo ada peluang,
aji mumpung tanpa memperhatikan tata krama. Bagai perilaku burung,
yang mematuk makanan dan kemudian membawanya pergi. Celakanya
perutnya bukan perut burung, keinginannya bukan keinginan burung,
tapi dia manusia berperilaku raksasa yang memiliki keinginan bagai
samudra tanpa batas.
Pepatah Nyucuk Angiberake ini cocok menggambarkan perilaku seseorang
yang memanfaatkan aji mumpung. Kalau ada bencana, para oknum-oknum
bagai burung-burung berdatangan mendekati padi yang sedang
menguning. Membawa muka beriman, tapi hatinya preman, berlagak domba
tapi hatinya serigala. Dapat dikatakan bahwa nyucuk angiberake
adalah orang yang nggutukake `mencari keuntungan sebanyak-banyaknya'
tanpa mempertimbangkan etika atau tatakrama. Di dalam lingkungan
masyarakat Jawa seseorang memang diperbolehkan mencari keuntungan,
namun semua ini baru disetujui sejauh tidak melanggar tatanan
kesopanan dan kewajaran.
Hai sodara-sodara se Nusantara !
Ingatlah akan hukum karma. Paro pakarah punyaya, papaya para
pidanam. Barang siapa berbuat kebajikan dia akan mendapatkan pahala,
dan jika berbuat cela – papa - hina pasti akan mendapat pidana atau
hukuman. Dalam waktu dekat, putaran Hukum Karma, akan dipercepat,
terutama bagi para ulama keparat, ningrat penjahat dan pedagang-
pedagang bejat, yang mengambil keuntungan pribadi, baik berupa
keuntungan ekonomis ataupun politis.
Sang Penguasa Alam semesta berkepentingan untuk menunjukkan
kebenaran Hukum Karma pada rakyat jelata yang menderita. Hukum Karma
yang akan ditegakkan, akan menjadi pelajaran utama dan pegangan
penting bagi masyarakat ketika tatanan baru dibentuk.
Jangan coba-coba ambil untung pribadi dari bencana dan derita,
ingatlah sekali lagi – Paro Pakarah Punyaya, Papaya Para Pidanam.
Barangsiapa berbuat baik akan dapat pahala, yang berbuat cela, papa,
nista pasti akan mendapat pidana. Saya yakin, Sang Penguasa Alam tak
pernah tidur, melihat tingkah polah cecunguk-cecunguk yang merusak
Nusantara.
Semoga yang sedang menderita tetap tabah, seraya memantapkan
keyakinan, bahwa Dia sudah dan akan 'datang', membantu membangun
kembali jati diri bangsa Nusantara ...
Merdeka
Ki Jero Martani
berarti membawa pergi atau mengedarkan. Kiasan ini mengacu pada
perilaku burung yang mematuk makanan dan lalu membawanya pergi.
Dalam masa-masa susah menghadapi bencana, oknum pejabat maupun para
penjahat bejat, akan berusaha memanfaatkan keadaan ini, untuk
kepentingan pribadi. Istilah kerennya – aji mumpung.
Masih ingat ketua LSM Aceh, berambut kuncir, yang omongnya pedes …
eh ternyata tukang colong, bles ditonjok, lalu masuk penjara, nggak
tau nasibnya jadi gimana. Nanti kalo lepas lagi … pasti cuap-cuap
kayak mantan pejabat … si mulut pedas … dikoran tulisannya cemerlang …
tapi saat dia jadi pejabat … tak ada yang diperbuat, dasar tukang
onani, suka sok hebat !
Segar dalam ingatan, mantan ketua komite independen pemantau pemilu,
rambut gondrong, mulut hitam karena rokok? Waktu jadi LSM kritik
pedas bertubi-tubi tentang pemilu. Tapi ketika dia yang
jadi 'pelaksana' ... eh... bobrok juga, digertak dikit ama
pemeriksa – nyogok – ketangkep - masuk bui. Syukurlah maling
berjamaah di KPU, kena hajar semua, dan masuk hotel prodeo, tinggal
sisa-sisa yang masih punya beckingan.
Model orang-orang seperti ini sekarang sedang gentayangan. Kalau
ngomong, mengatas-namakan rakyat, gayanya ulama beriman, tapi
hatinya preman. Penusuk kawan seiring, penggunting dalam lipatan –
gaya si pemimpin legislatif. Tinggal glanggang colong playu – kabur
ketika dipercaya dan dapat mandat jadi pejabat, karena ada
kesempatan jabatan yang lebih tinggi. Biasanya kalo sekali
berkhianat mungkin bisa tobat. Tapi kalo sampai 2 kali jadi menteri
pejabat dan berkhianat pada yang mengangkat. Sudah pasti ada saat
yang ketiga yaitu berkhianat pada rakyat.
Orang-orang jenis ini, selalu mengambil kesempatan kalo ada peluang,
aji mumpung tanpa memperhatikan tata krama. Bagai perilaku burung,
yang mematuk makanan dan kemudian membawanya pergi. Celakanya
perutnya bukan perut burung, keinginannya bukan keinginan burung,
tapi dia manusia berperilaku raksasa yang memiliki keinginan bagai
samudra tanpa batas.
Pepatah Nyucuk Angiberake ini cocok menggambarkan perilaku seseorang
yang memanfaatkan aji mumpung. Kalau ada bencana, para oknum-oknum
bagai burung-burung berdatangan mendekati padi yang sedang
menguning. Membawa muka beriman, tapi hatinya preman, berlagak domba
tapi hatinya serigala. Dapat dikatakan bahwa nyucuk angiberake
adalah orang yang nggutukake `mencari keuntungan sebanyak-banyaknya'
tanpa mempertimbangkan etika atau tatakrama. Di dalam lingkungan
masyarakat Jawa seseorang memang diperbolehkan mencari keuntungan,
namun semua ini baru disetujui sejauh tidak melanggar tatanan
kesopanan dan kewajaran.
Hai sodara-sodara se Nusantara !
Ingatlah akan hukum karma. Paro pakarah punyaya, papaya para
pidanam. Barang siapa berbuat kebajikan dia akan mendapatkan pahala,
dan jika berbuat cela – papa - hina pasti akan mendapat pidana atau
hukuman. Dalam waktu dekat, putaran Hukum Karma, akan dipercepat,
terutama bagi para ulama keparat, ningrat penjahat dan pedagang-
pedagang bejat, yang mengambil keuntungan pribadi, baik berupa
keuntungan ekonomis ataupun politis.
Sang Penguasa Alam semesta berkepentingan untuk menunjukkan
kebenaran Hukum Karma pada rakyat jelata yang menderita. Hukum Karma
yang akan ditegakkan, akan menjadi pelajaran utama dan pegangan
penting bagi masyarakat ketika tatanan baru dibentuk.
Jangan coba-coba ambil untung pribadi dari bencana dan derita,
ingatlah sekali lagi – Paro Pakarah Punyaya, Papaya Para Pidanam.
Barangsiapa berbuat baik akan dapat pahala, yang berbuat cela, papa,
nista pasti akan mendapat pidana. Saya yakin, Sang Penguasa Alam tak
pernah tidur, melihat tingkah polah cecunguk-cecunguk yang merusak
Nusantara.
Semoga yang sedang menderita tetap tabah, seraya memantapkan
keyakinan, bahwa Dia sudah dan akan 'datang', membantu membangun
kembali jati diri bangsa Nusantara ...
Merdeka
Ki Jero Martani
Tragedi Pancasila
Salah satu prinsip moral yang dapat diambil dari al-Muqaddimah Ibn Khaldun
(1332-1406) adalah bahwa seorang peneliti atau pengamat tidak boleh
membesar-besarkan tokoh yang disukainya atau sebaliknya mengecilkan tokoh yang
tidak disukai.
Dalam kaitannya dengan Pancasila pernah dikemukakan pendapat bahwa penggali
Pancasila bukan Bung Karno, tetapi Yamin. Ini berdasarkan buku Yamin yang
mengatakan bahwa Lima Prinsip Dasar itu telah dikemukakannya sebelum 1 Juni 1945
mendahului Bung Karno yang menyampaikan pidatonya tentang Pancasila pada 1 Juni
1945 di depan BUPKI, sebuah pidato tanpa teks yang kemudian diberi nama Lahirnya
Pancasila.
Hasil penelitian saya menemukan bahwa adalah sebuah kebohongan historis bila ada
pendapat yang mengatakan bahwa bukan Bung Karno yang pertama kali mengemukakan
Lima Dasar itu, tetapi orang lain. Memang, Bung Karno tidak menempatkan Sila
Ketuhanan sebagai yang teratas, tetapi sebagai prinsip pengunci. Pancasila yang
ada sekarang adalah hasil rumusan 22 Juni 1945 yang dikenal dengan Piagam
Jakarta minus tujuh kata yang semula mengiringi Sila Ketuhanan, dalam format
''dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.'' Tujuh
kata ini kemudian diganti dengan atribut Yang Maha Esa, yang kabarnya diusulkan
Ki Bagus Hadikusomo, tokoh puncak Muhammadiyah ketika itu.
Resonansi kali ini tidak ingin berpanjang-panjang berbicara tentang proses
historis Pancasila ini, sebab seluruh UUD yang pernah dikenal dalam sejarah
Indonesia sebelum dan pasca-Proklamasi, tidak ada yang tidak menempatkan
Pancasila pada posisi teratas. Tetapi, yang ingin ditegaskan adalah bahwa
Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya yang dahsyat itu telah mengalami tragedi
demi tragedi, tidak dalam kata, tetapi justru dalam laku, sebagaimana yang
sering saya kemukakan di berbagai forum. Dalam ungkapan lain, jika kita
memperkatakan Pancasila, implementasi nilai-nilai luhur inilah yang seharusnya
menjadi titik perhatian utama, bukan memperdebatkannya secara teoretikal.
Bagi saya semua nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila sangat jelas, tidak
perlu orang terlalu berbelit-belit menyikapinya. Sila pertama, ''Ketuhanan Yang
Maha Esa,'' jelas memberi landasan kuat bagi kehidupan beragama secara tulus dan
otentik. Sila kedua, ''Kemanusiaan yang adil dan beradab,'' tidak bisa
ditafsirkan selain bahwa bangsa ini wajib menegakkan keadilan dan keadaban dalam
berperilaku, baik perorangan maupun dalam kehidupan kolektif dalam politik,
sosial, ekonomi, dan budaya. Penyimpangan dari perilaku adil dan beradab adalah
pengkhianatan terhadap sila ini.
Dan inilah yang sering berlaku selama hampir 61 tahun kita merdeka.
Pengkhianatan ini tidak semata-mata dalam bentuk upaya sementara orang yang
ingin mengganti Pancasila dengan dasar lain. Tetapi laku yang beringas, tindak
kekerasan, pelanggaran HAM, menggarong harta bangsa, main hakim sendiri, merusak
milik negara sekalipun itu dengan meneriakkan Allahu Akbar, semuanya adalah
perbuatan khianat dalam perspektif sila kedua.
Kemudian, sila ketiga berupa ''Persatuan Indonesia,'' bukan ''Kesatuan
Indonesia,'' semestinya membimbing bangsa ini dalam kebhinnekaan (pluralisme)
yang kaya dalam mosaik budaya yang beragam. Tetapi, yang terjadi selama sekian
dasawarsa adalah politik negara yang sentralistik dan penyeragaman tata sistem
sosial budaya lokal secara paksa melalui undang-undang. Ini adalah bentuk
pengkhianatan konstitusional yang telah menimbulkan keresahan dan perlawanan
diam-diam dari berbagai subkultur Indonesia yang kaya itu.
Sila keempat, ''Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan'', tegas sekali memerintahkan bahwa demokrasi harus
ditegakkan secara bijak melalui musyawarah yang betanggung jawab dan dengan
lapang dada. Di luar cara-cara ini, sila kerakyatan yang memuat prinsip
demokrasi itu hanyalah akan membuahkan malapetaka berkepanjangan yang telah
menjadikan rakyat banyak sebagai kelinci percobaan politik yang amoral.
Perkembangan terakhir dalam cara kita berdemokrasi tampaknya semakin jauh dari
roh Pancasila dalam pengertiannya yang utuh dan padu. Ini adalah bentuk tragedi
yang selalu saja ditimpakan orang pada Pancasila. Terakhir, sila kelima,
''Keadilan sosial bagi rakyat Indonesia,'' telah menjadi yatim piatu sejak kita
merdeka. Hampir tidak ada kebijakan pemerintah dan DPR yang benar-benar
dibimbing oleh sila ini.
Rakyat dari masa ke masa tidak semakin merasakan keadilan, tetapi penindasan
berencana via undang-undang, apakah undang-undang itu berupa darurat militer,
undang-undang hubungan pusat dan daerah, undang-undang penanaman modal asing,
dan lain-lain. Oleh sebab itu, matahari sudah condong ke barat bagi kita semua
untuk berhenti menjadikan Pancasila sebagai retorika politik yang kosong dan
menipu. Pancasila di bawah sinar wahyu harus menuntun seluruh laku kita dalam
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sekarang dan untuk selama-lamanya, jika
Indonesia memang masih mau dipertahankan.
REPUBLIKA
Selasa, 30 Mei 2006
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
(1332-1406) adalah bahwa seorang peneliti atau pengamat tidak boleh
membesar-besarkan tokoh yang disukainya atau sebaliknya mengecilkan tokoh yang
tidak disukai.
Dalam kaitannya dengan Pancasila pernah dikemukakan pendapat bahwa penggali
Pancasila bukan Bung Karno, tetapi Yamin. Ini berdasarkan buku Yamin yang
mengatakan bahwa Lima Prinsip Dasar itu telah dikemukakannya sebelum 1 Juni 1945
mendahului Bung Karno yang menyampaikan pidatonya tentang Pancasila pada 1 Juni
1945 di depan BUPKI, sebuah pidato tanpa teks yang kemudian diberi nama Lahirnya
Pancasila.
Hasil penelitian saya menemukan bahwa adalah sebuah kebohongan historis bila ada
pendapat yang mengatakan bahwa bukan Bung Karno yang pertama kali mengemukakan
Lima Dasar itu, tetapi orang lain. Memang, Bung Karno tidak menempatkan Sila
Ketuhanan sebagai yang teratas, tetapi sebagai prinsip pengunci. Pancasila yang
ada sekarang adalah hasil rumusan 22 Juni 1945 yang dikenal dengan Piagam
Jakarta minus tujuh kata yang semula mengiringi Sila Ketuhanan, dalam format
''dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.'' Tujuh
kata ini kemudian diganti dengan atribut Yang Maha Esa, yang kabarnya diusulkan
Ki Bagus Hadikusomo, tokoh puncak Muhammadiyah ketika itu.
Resonansi kali ini tidak ingin berpanjang-panjang berbicara tentang proses
historis Pancasila ini, sebab seluruh UUD yang pernah dikenal dalam sejarah
Indonesia sebelum dan pasca-Proklamasi, tidak ada yang tidak menempatkan
Pancasila pada posisi teratas. Tetapi, yang ingin ditegaskan adalah bahwa
Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya yang dahsyat itu telah mengalami tragedi
demi tragedi, tidak dalam kata, tetapi justru dalam laku, sebagaimana yang
sering saya kemukakan di berbagai forum. Dalam ungkapan lain, jika kita
memperkatakan Pancasila, implementasi nilai-nilai luhur inilah yang seharusnya
menjadi titik perhatian utama, bukan memperdebatkannya secara teoretikal.
Bagi saya semua nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila sangat jelas, tidak
perlu orang terlalu berbelit-belit menyikapinya. Sila pertama, ''Ketuhanan Yang
Maha Esa,'' jelas memberi landasan kuat bagi kehidupan beragama secara tulus dan
otentik. Sila kedua, ''Kemanusiaan yang adil dan beradab,'' tidak bisa
ditafsirkan selain bahwa bangsa ini wajib menegakkan keadilan dan keadaban dalam
berperilaku, baik perorangan maupun dalam kehidupan kolektif dalam politik,
sosial, ekonomi, dan budaya. Penyimpangan dari perilaku adil dan beradab adalah
pengkhianatan terhadap sila ini.
Dan inilah yang sering berlaku selama hampir 61 tahun kita merdeka.
Pengkhianatan ini tidak semata-mata dalam bentuk upaya sementara orang yang
ingin mengganti Pancasila dengan dasar lain. Tetapi laku yang beringas, tindak
kekerasan, pelanggaran HAM, menggarong harta bangsa, main hakim sendiri, merusak
milik negara sekalipun itu dengan meneriakkan Allahu Akbar, semuanya adalah
perbuatan khianat dalam perspektif sila kedua.
Kemudian, sila ketiga berupa ''Persatuan Indonesia,'' bukan ''Kesatuan
Indonesia,'' semestinya membimbing bangsa ini dalam kebhinnekaan (pluralisme)
yang kaya dalam mosaik budaya yang beragam. Tetapi, yang terjadi selama sekian
dasawarsa adalah politik negara yang sentralistik dan penyeragaman tata sistem
sosial budaya lokal secara paksa melalui undang-undang. Ini adalah bentuk
pengkhianatan konstitusional yang telah menimbulkan keresahan dan perlawanan
diam-diam dari berbagai subkultur Indonesia yang kaya itu.
Sila keempat, ''Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan'', tegas sekali memerintahkan bahwa demokrasi harus
ditegakkan secara bijak melalui musyawarah yang betanggung jawab dan dengan
lapang dada. Di luar cara-cara ini, sila kerakyatan yang memuat prinsip
demokrasi itu hanyalah akan membuahkan malapetaka berkepanjangan yang telah
menjadikan rakyat banyak sebagai kelinci percobaan politik yang amoral.
Perkembangan terakhir dalam cara kita berdemokrasi tampaknya semakin jauh dari
roh Pancasila dalam pengertiannya yang utuh dan padu. Ini adalah bentuk tragedi
yang selalu saja ditimpakan orang pada Pancasila. Terakhir, sila kelima,
''Keadilan sosial bagi rakyat Indonesia,'' telah menjadi yatim piatu sejak kita
merdeka. Hampir tidak ada kebijakan pemerintah dan DPR yang benar-benar
dibimbing oleh sila ini.
Rakyat dari masa ke masa tidak semakin merasakan keadilan, tetapi penindasan
berencana via undang-undang, apakah undang-undang itu berupa darurat militer,
undang-undang hubungan pusat dan daerah, undang-undang penanaman modal asing,
dan lain-lain. Oleh sebab itu, matahari sudah condong ke barat bagi kita semua
untuk berhenti menjadikan Pancasila sebagai retorika politik yang kosong dan
menipu. Pancasila di bawah sinar wahyu harus menuntun seluruh laku kita dalam
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sekarang dan untuk selama-lamanya, jika
Indonesia memang masih mau dipertahankan.
REPUBLIKA
Selasa, 30 Mei 2006
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Peran Sesajen dalam Ketahanan Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya
Peran Sesajen dalam Ketahanan Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya magnify
Sodara-sodara ku anggota miling list, saya sadar, sangat sadar sekali, bahwa pemikiran-pemikiran saya, terkadang meng-’hina’ logika para pembaca. Tapi saya juga percaya, sebagian besar rekan-rekan di mailing list ini, cukup dewasa untuk memberikan ruang bagi ke-bhineka-an pemikiran. Dengan kebhinekaan itu, mungkin kita bisa capai titik temu, yang akan menyeleraskan antara art, science and technology. Art mengandung unsur rasa, yang terkadang sulit untuk diuraikan dalam kata-kata. Karena itulah, saya berusaha, mengisi ruang-ruang kosong tentang ’rasa’, untuk memperkaya khazanah diskusi di mailing list ini.
Seperti yang diuraikan dalam kitab Sutasoma, saya mungkin harus ingatkan lagi :
Rwaneka datu winuwus wara buddha wiswa
Bhineki rakwa ringapan kena parwa nosen
Mangkan jinatawa kalawan siswa tatwa tunggal
Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa
Yang kalau saya terjemahkan secara bebas mungkin dapat diartikan bahwa kepercayaan konon berasal dari berbagai sumber, akan tetapi bicara tentang Sang Penguasa Alam, kapankah Dia dapat dibagi-bagi ? Karena pada hakekatnya, kebenaran itu satu. Berbeda-beda tetapi satu, tak mungkin kita membelah Sang Kuasa.
----
Dalam satu kesempatan, saya mendengar diskusi para generasi muda Hindu. Mereka seakan ber’teriak-teriak’, menentang sajen yang merupakan budaya warisan leluhur-leluhurnya dulu. Saat itu saya merasa miris, dan karena merasa tak ’wenang’ dan juga tak ditanya, maka saya diam saja. Seandainya saya ditanya, maka saya akan ceritakan, alur logika yang diambil oleh para leluhur mereka, yaitu mengintegrasikan antara agama dan budaya untuk mempertahankan warga Bali dari ’serangan’ ekonomi, politik dan sosio kultural yang mengepung dari segala arah.
Sodaraku Generasi Muda Bali,
Lima ratus tahun yang lalu, ketika Majapahit Runtuh, penumpasan besar-besaran terjadi. Seorang brahmana kerajaan beragama Ciwa-Buddha bernama Dwijendra, tergopoh-gopoh menyingkir ke Bali (1411 tahun jawa), dengan membawa serta berbagai ’ilmu-ilmu’ yang masih bisa dibawa dari tanah jawa. Saat itu, Bali terkepung dari kiri dan kanan. Blambangan islam begitu juga Lombok. Apakah yang menyelamatkan perekonomian tanah Bali saat itu? Yang menyalamatkan adalah sajen, anak-anakku.
Dapat anda bayangkan berapa ton buah-buahan yang diperlukan untuk sajen. Minimal 15 hari sekali, saat bulan Purnama dan bulan mati, mereka membuat sajen. Belum lagi upacara Yadnya atau kurban suci (kayak Idul Adha barangkali ya?), ada Dewa Yadnya, Resi Yadnya, Manusia Yadnya dan Butha Yadnya. Butha Yadnya yang kita kenal dilaksanakan setahun sekali, pada saat hari Raya Nyepi. Dan puluhan lainnya, yang kalo ingin detilnya mesti ditanyakan pada orang yang memahami adat-istiadat Bali.
Petani jadi hidup, para peternak berjalan usahanya, bahkan orang-orang jompo asal mau kerja mereka bisa mendapatkan uang dengan menjual sajen berupa canang. Bukankah sajen dapat mengentaskan ketertinggalan akibat blokade yang dilakukan dari kiri-kanan oleh kerajaan-kerajaan yang berbeda kepercayaan ?
Lalu kalau anda amati peta pariwisata daerah Bali, disepanjang pantai terdapat pura-pura besar yang merupakan tempat suci penyungsungan jagad – artinya otoritas pengelolaan ada pada ksatria yang memerintah tanah Bali. Proyek-proyek pembangunan pura, di sepanjang pantai, jelas-jelas upaya untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui proyek pembangunan, sehingga dengan memberi kesejahteraan maka ketahanan poleksosbudhankam (istilah orde baru heh) dapat diwujudkan.
Belum lagi upacara-upacara perkawinan, ngaben dan lain-lain yang mampu menarik dana dari yang kaya, untuk dapat dinikmati juga oleh para pelaksana ekonomi masyarakat sekitarnya. Pada saat ngaben / pembakaran mayat / kematian untuk seorang raja, maka keluarganya bisa mengadakan acara sampai 1 bulan 7 hari (42 hari), setiap harinya berapa kerbau, babi atau ayam yang disembelih untuk menyediakan logistik bagi masyarakat yang bergotong royong mempersiapkan upacara tersebut.
Tapi apakah masyarakat kecil yang tak punya uang, nggak jadi mati, karena ndak punya uang buat ngaben ? Tentu tidak saudaraku, leluhur mereka menyusun tingkatan upacara yaitu nista, madya dan utama. Walau hakekatnya sama, tetapi kuantitas sajennya berbeda-beda. Sama saja dengan kita, kalau kita punya aset 25 M, lalu anak kesayangan kita menikah, tentu biaya 1M tidak masalah. Lalu apakah anak seorang tukang becak tak bisa kawin ? Tentu ada upacara perkawinan yang tak semewah si konglomerat, yang penting kan kawin. Lain halnya kalau ada unsur gengsi atau hanya ingin mudahnya sendiri, ini yang bikin ruwet dan akhirnya menganggap budaya sebagai beban.
---
Sodara-sodaraku dari pulau Dewata,
Dengan kepercayaan, yang bagi sebagian orang tidak masuk akal, leluhur-leluhur tanah Bali, dapat membuat Bali selamat sampai saat ini, bertahan dari ’serangan’ ekonomi, politik dan sosio kultural sejak beratus tahun yang lalu. Tapi mungkin, karena sudah lama tak disegarkan, maka generasi muda Bali, sudah banyak yang melupakan berbagai filosofi dasar kenapa leluhur-leluhur mereka men-setting budaya seperti sekarang ini.
Leluhur-leluhur tanah Bali, mampu membangun sistem terintegrasi untuk melindungi diri dari serangan ekonomi, politik dan kepercayaan melalui agama yang diintegrasikan dengan budaya. Dan menurut saya, visi para leluhur itu telah tercapai. Kemakmuran dan ketentraman sudah dirasakan. Berbagai produk-produk kesenian hasil kebudayaan yang tinggi, terkenal sampai ke manca negara. Dollar mengalir, warga Bali jadi sejahtera, sambil tetap kuat menjaga jati dirinya.
Tapi setelah ’serangan’ Bom Bali, dan kurangnya usaha generasi muda, dalam hal mengkaji ’kecemerlangan’ pemikiran jenius lokal para leluhur mereka, maka akhirnya mereka jadi gamang. Mereka berteriak supaya kembali ke catur weda, yang tebalnya minta ampun, yang kalau dibaca seumur hiduppun tidak tamat, apalagi untuk mengerti.
Sekarang ini banyak muncullah pandita (ulama hindu) tanpa pengikut, ilmuwan spiritual tukang (mengeluarkan statement berdasarkan pesanan) yang berkolaborasi dengan para oportunis politik, berusaha mengobrak-abrik budaya yang telah terbukti berhasil menyelamatkan bali. Konspirasi ini mengusung budaya ’import’ dari India yang ternyata belum mereka kuasai sepenuhnya. Ingin menyingkirkan hasil kerja leluhur tanah Bali, yang telah terbukti sukses, dengan jargon-jargon Hindu Modern yang belum tentu juntrungannya. Lalu sistem sosio kultural mereka hancur sendiri dari dalam. Parisada (kalau kita-MUI), di Bali terpecah dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah disusupi oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan elit politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.
Sang Brahmana berambisi jadi Ksatria – pemerintah negara, Sang Ksatria berkolaborasi dengan Wesya para pedagang untuk mengegolkan proyek-proyek pemerintah, untuk dijarah oleh kroni-kroninya. Hancurlah tatanan masyarakat Bali .... seperti keadaan Tanah Nusantara selama ini. Kiai jadi presiden, janda dipangku , akhirnya dikudeta dan bikin malu saja,. Presiden kuat dan track record luar biasa, terjungkal karena kesalahan kecil membantu anaknya jadi pedagang termasuk jualan mobil. Pedagang berkomplot dengan polisi, menjarah Bank terang-terangan sampai triliunan rupiah. Hancur sudah negara kita.
---
Salahkah generasi muda Bali yang mempertanyakan sajen-sajen yang sudah jadi budaya leluhur mereka ? Tidak ... mereka hanya tidak tahu ... sama seperti warga Seluruh Nusantara yang sedang mengalami serangan frontal baik ekonomi, politik dan sosial budaya ... gamang mencari pegangan ... padahal leluhur-leluhur kita telah pernah sukses, melewati ujian - permasalahan yang sama. Pengalaman baik dan buruk mereka, tentu dapat digunakan sebagai pelajaran untuk menghadapi masa depan kita sebagai Bangsa Nusantara ...
Karena itulah, sodara-sodaraku anggota mailing list, keterbukaan terhadap berbagai alternatif pemikiran perlu kita kembangkan. Mohon jangan sekali-kali meremehkan kepercayaan seseorang, karena kata orang, kepercayaan seorang anak manusia mampu memindahkan gunung, bahkan mampu ’menyuruh’ gunung meletus, dan lautan meluap. Kepercayaan, walau seperti menghina logika, mampu membangun ketahanan politik, ekonomi, sosial dan budaya tanah Bali, sampai 500 tahun
Biarlah kita berjalan pada keyakinan kita masing-masing, mari kita berusaha, saling isi mengisi, bukan saling menghina bahkan meniadakan, untuk mencapai satu tujuan, memayu hayuning buwono, membuat dunia atau tanah nusantara ini, jadi rahayu ...
Salam hangat,
Ki Jero Martani
Sodara-sodara ku anggota miling list, saya sadar, sangat sadar sekali, bahwa pemikiran-pemikiran saya, terkadang meng-’hina’ logika para pembaca. Tapi saya juga percaya, sebagian besar rekan-rekan di mailing list ini, cukup dewasa untuk memberikan ruang bagi ke-bhineka-an pemikiran. Dengan kebhinekaan itu, mungkin kita bisa capai titik temu, yang akan menyeleraskan antara art, science and technology. Art mengandung unsur rasa, yang terkadang sulit untuk diuraikan dalam kata-kata. Karena itulah, saya berusaha, mengisi ruang-ruang kosong tentang ’rasa’, untuk memperkaya khazanah diskusi di mailing list ini.
Seperti yang diuraikan dalam kitab Sutasoma, saya mungkin harus ingatkan lagi :
Rwaneka datu winuwus wara buddha wiswa
Bhineki rakwa ringapan kena parwa nosen
Mangkan jinatawa kalawan siswa tatwa tunggal
Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa
Yang kalau saya terjemahkan secara bebas mungkin dapat diartikan bahwa kepercayaan konon berasal dari berbagai sumber, akan tetapi bicara tentang Sang Penguasa Alam, kapankah Dia dapat dibagi-bagi ? Karena pada hakekatnya, kebenaran itu satu. Berbeda-beda tetapi satu, tak mungkin kita membelah Sang Kuasa.
----
Dalam satu kesempatan, saya mendengar diskusi para generasi muda Hindu. Mereka seakan ber’teriak-teriak’, menentang sajen yang merupakan budaya warisan leluhur-leluhurnya dulu. Saat itu saya merasa miris, dan karena merasa tak ’wenang’ dan juga tak ditanya, maka saya diam saja. Seandainya saya ditanya, maka saya akan ceritakan, alur logika yang diambil oleh para leluhur mereka, yaitu mengintegrasikan antara agama dan budaya untuk mempertahankan warga Bali dari ’serangan’ ekonomi, politik dan sosio kultural yang mengepung dari segala arah.
Sodaraku Generasi Muda Bali,
Lima ratus tahun yang lalu, ketika Majapahit Runtuh, penumpasan besar-besaran terjadi. Seorang brahmana kerajaan beragama Ciwa-Buddha bernama Dwijendra, tergopoh-gopoh menyingkir ke Bali (1411 tahun jawa), dengan membawa serta berbagai ’ilmu-ilmu’ yang masih bisa dibawa dari tanah jawa. Saat itu, Bali terkepung dari kiri dan kanan. Blambangan islam begitu juga Lombok. Apakah yang menyelamatkan perekonomian tanah Bali saat itu? Yang menyalamatkan adalah sajen, anak-anakku.
Dapat anda bayangkan berapa ton buah-buahan yang diperlukan untuk sajen. Minimal 15 hari sekali, saat bulan Purnama dan bulan mati, mereka membuat sajen. Belum lagi upacara Yadnya atau kurban suci (kayak Idul Adha barangkali ya?), ada Dewa Yadnya, Resi Yadnya, Manusia Yadnya dan Butha Yadnya. Butha Yadnya yang kita kenal dilaksanakan setahun sekali, pada saat hari Raya Nyepi. Dan puluhan lainnya, yang kalo ingin detilnya mesti ditanyakan pada orang yang memahami adat-istiadat Bali.
Petani jadi hidup, para peternak berjalan usahanya, bahkan orang-orang jompo asal mau kerja mereka bisa mendapatkan uang dengan menjual sajen berupa canang. Bukankah sajen dapat mengentaskan ketertinggalan akibat blokade yang dilakukan dari kiri-kanan oleh kerajaan-kerajaan yang berbeda kepercayaan ?
Lalu kalau anda amati peta pariwisata daerah Bali, disepanjang pantai terdapat pura-pura besar yang merupakan tempat suci penyungsungan jagad – artinya otoritas pengelolaan ada pada ksatria yang memerintah tanah Bali. Proyek-proyek pembangunan pura, di sepanjang pantai, jelas-jelas upaya untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui proyek pembangunan, sehingga dengan memberi kesejahteraan maka ketahanan poleksosbudhankam (istilah orde baru heh) dapat diwujudkan.
Belum lagi upacara-upacara perkawinan, ngaben dan lain-lain yang mampu menarik dana dari yang kaya, untuk dapat dinikmati juga oleh para pelaksana ekonomi masyarakat sekitarnya. Pada saat ngaben / pembakaran mayat / kematian untuk seorang raja, maka keluarganya bisa mengadakan acara sampai 1 bulan 7 hari (42 hari), setiap harinya berapa kerbau, babi atau ayam yang disembelih untuk menyediakan logistik bagi masyarakat yang bergotong royong mempersiapkan upacara tersebut.
Tapi apakah masyarakat kecil yang tak punya uang, nggak jadi mati, karena ndak punya uang buat ngaben ? Tentu tidak saudaraku, leluhur mereka menyusun tingkatan upacara yaitu nista, madya dan utama. Walau hakekatnya sama, tetapi kuantitas sajennya berbeda-beda. Sama saja dengan kita, kalau kita punya aset 25 M, lalu anak kesayangan kita menikah, tentu biaya 1M tidak masalah. Lalu apakah anak seorang tukang becak tak bisa kawin ? Tentu ada upacara perkawinan yang tak semewah si konglomerat, yang penting kan kawin. Lain halnya kalau ada unsur gengsi atau hanya ingin mudahnya sendiri, ini yang bikin ruwet dan akhirnya menganggap budaya sebagai beban.
---
Sodara-sodaraku dari pulau Dewata,
Dengan kepercayaan, yang bagi sebagian orang tidak masuk akal, leluhur-leluhur tanah Bali, dapat membuat Bali selamat sampai saat ini, bertahan dari ’serangan’ ekonomi, politik dan sosio kultural sejak beratus tahun yang lalu. Tapi mungkin, karena sudah lama tak disegarkan, maka generasi muda Bali, sudah banyak yang melupakan berbagai filosofi dasar kenapa leluhur-leluhur mereka men-setting budaya seperti sekarang ini.
Leluhur-leluhur tanah Bali, mampu membangun sistem terintegrasi untuk melindungi diri dari serangan ekonomi, politik dan kepercayaan melalui agama yang diintegrasikan dengan budaya. Dan menurut saya, visi para leluhur itu telah tercapai. Kemakmuran dan ketentraman sudah dirasakan. Berbagai produk-produk kesenian hasil kebudayaan yang tinggi, terkenal sampai ke manca negara. Dollar mengalir, warga Bali jadi sejahtera, sambil tetap kuat menjaga jati dirinya.
Tapi setelah ’serangan’ Bom Bali, dan kurangnya usaha generasi muda, dalam hal mengkaji ’kecemerlangan’ pemikiran jenius lokal para leluhur mereka, maka akhirnya mereka jadi gamang. Mereka berteriak supaya kembali ke catur weda, yang tebalnya minta ampun, yang kalau dibaca seumur hiduppun tidak tamat, apalagi untuk mengerti.
Sekarang ini banyak muncullah pandita (ulama hindu) tanpa pengikut, ilmuwan spiritual tukang (mengeluarkan statement berdasarkan pesanan) yang berkolaborasi dengan para oportunis politik, berusaha mengobrak-abrik budaya yang telah terbukti berhasil menyelamatkan bali. Konspirasi ini mengusung budaya ’import’ dari India yang ternyata belum mereka kuasai sepenuhnya. Ingin menyingkirkan hasil kerja leluhur tanah Bali, yang telah terbukti sukses, dengan jargon-jargon Hindu Modern yang belum tentu juntrungannya. Lalu sistem sosio kultural mereka hancur sendiri dari dalam. Parisada (kalau kita-MUI), di Bali terpecah dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah disusupi oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan elit politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.
Sang Brahmana berambisi jadi Ksatria – pemerintah negara, Sang Ksatria berkolaborasi dengan Wesya para pedagang untuk mengegolkan proyek-proyek pemerintah, untuk dijarah oleh kroni-kroninya. Hancurlah tatanan masyarakat Bali .... seperti keadaan Tanah Nusantara selama ini. Kiai jadi presiden, janda dipangku , akhirnya dikudeta dan bikin malu saja,. Presiden kuat dan track record luar biasa, terjungkal karena kesalahan kecil membantu anaknya jadi pedagang termasuk jualan mobil. Pedagang berkomplot dengan polisi, menjarah Bank terang-terangan sampai triliunan rupiah. Hancur sudah negara kita.
---
Salahkah generasi muda Bali yang mempertanyakan sajen-sajen yang sudah jadi budaya leluhur mereka ? Tidak ... mereka hanya tidak tahu ... sama seperti warga Seluruh Nusantara yang sedang mengalami serangan frontal baik ekonomi, politik dan sosial budaya ... gamang mencari pegangan ... padahal leluhur-leluhur kita telah pernah sukses, melewati ujian - permasalahan yang sama. Pengalaman baik dan buruk mereka, tentu dapat digunakan sebagai pelajaran untuk menghadapi masa depan kita sebagai Bangsa Nusantara ...
Karena itulah, sodara-sodaraku anggota mailing list, keterbukaan terhadap berbagai alternatif pemikiran perlu kita kembangkan. Mohon jangan sekali-kali meremehkan kepercayaan seseorang, karena kata orang, kepercayaan seorang anak manusia mampu memindahkan gunung, bahkan mampu ’menyuruh’ gunung meletus, dan lautan meluap. Kepercayaan, walau seperti menghina logika, mampu membangun ketahanan politik, ekonomi, sosial dan budaya tanah Bali, sampai 500 tahun
Biarlah kita berjalan pada keyakinan kita masing-masing, mari kita berusaha, saling isi mengisi, bukan saling menghina bahkan meniadakan, untuk mencapai satu tujuan, memayu hayuning buwono, membuat dunia atau tanah nusantara ini, jadi rahayu ...
Salam hangat,
Ki Jero Martani
Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra
Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra magnify
Sejarah di tlatah Nusantara mencatat : “Bila Ada
Brahmana masuk kedunia politik, maka namanya jadi
hancur. Ksatria atau politikus sekuat apapun, ketika
dia membantu anak-anaknya jualan, maka akan segera
rontok. Wesya sang sodagar, yang berkolaborasi dengan
antek-antek politikus korup, melalui kucuran BLBI,
akan hancur, dikejar sampai ke ujung dunia. Para
mahasiswa yang belum memiliki pengetahuan dan
ketrampilan yang cukup, diprovokator oleh brahmana
haus kuasa, menginjak-injak gedung DPR, lalu
tergesa-gesa merusak tatanan yang sudah ada,
melahirkan reformasi yang saat ini nyaris tak
berarti”. Apa penyebabnya ?
===
=== Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra
=== Oleh Ki Jero Martani
===
Di dalam kitab-kitab kuno Nusantara terdapat
pengertian yang disebut Catur Warna yang merupakan
konsep kemasyarakatan ala Nusantara, diterapkan di
kejayaan Majapahit, yang bertujuan memayu hayuning
buwono – membuat dunia – masyarakat ini rahayu atau
sejahtera. Akan tetapi perlu di garis bawahi bahwa
pengertian Catur Warna pada saat jaman Majapahit,
sangat bertolak belakang dengan pengertian “wangsa” di
Bali dan kasta di India.
Warna berasal dari Bahasa Sanskerta dengan asal kata
Vri artinya memilih lapangan pekerjaan. Dan Catur
Warna dapat diartikan adalah pembagian masyarakat
menjadi empat kelompok profesi yang memiliki kedudukan
paralel horisontal. Warna ditentukan oleh ”guna” dan
”karma”, guna artinya sifat, bakat dan pembawaan,
sedangkan karma dapat diartikan sebagai perbuatan atau
pekerjaan.
Dalam Bhagavadgita terdapat syair yang kalau diartikan
secara bebas adalah : ”Catur Warna Kuciptakan menurut
pembagian dari guna dan karma (sifat dan pekerjaan).
Meskipun Aku sebagai penciptanya, ketahuilah Aku
mengatasi gerak dan perbuatan”. Lalu pada syair yang
lain dituliskan : ”O, Arjuna, tugas-tugas adalah
terbagi menurut sifat, watak dan kelahiran,
sebagaimana halnya Brahmana, Ksatria, Waisya dan juga
Sudra.”
---o---
Pada kesempatan kali ini, saya sebenarnya tidak
berkehendak untuk berdebat tentang Wangsa di Bali atau
Kasta di India. Juga tak ingin memicu debat kusir yang
mengarah pada menjelek-jelekan agama. Akan tetapi
semata-mata untuk mengambil mutiara-mutiara yang
terpendam dari syair-syair kuno warisan leluhur
Nusantara.
Dalam buku-buku sastra nusantara, profesi digolongkan
menjadi 4 yaitu brahmana – orang-orang yang bekerja
sebagai penjaga gawang sosio kultural – kiai, pendeta,
pedanda, guru, dosen, pemuka masyarakat yang bertugas
memelihara adat istiadat dan sejenisnya. Lalu Ksatria
– adalah para penjaga gawang sistem politik atau
penyelenggara negara – legislatif, eksekutif dan
yudikatif, sedangkan Wesya adalah orang-orang yang
bertugas mengelola sub sistem adaptif – perekonomian.
Sedangkan sudra adalah orang-orang yang berprofesi
bukan ketiganya.
Sekali lagi saya saya tegaskan, keempat golongan
tersebut, tidak dinyatakan satu lebih tinggi dari yang
lain, melainkan paralel horisontal, semua harus ada di
tempatnya masing-masing, sesuai dengan bakat dan
pekerjaannya. Rukun dan sikap saling hormat
menghormati antar golongan di catur warna, sangat
diperlukan untuk harmonisasi masyarakat. Pembagian
empat golongan ini juga menghendaki tidak adanya cross
function atau rangkap jabatan/kekuasaan.
Kiai dalam posisi sebagai brahmana yang bertugas
mengemong umatnya di bidang sosio kultural, tidak
diperbolehkan untuk masuk ke dunia politik (wilayah
ksatria). Seorang ksatria tidak diperkenankan untuk
bergerak langsung ataupun tidak langsung dalam sektor
perekonomian. Wesya atau pengelola perekonomian, tidak
boleh berkolaborasi atau bahkan rangkap jabatan
sebagai politikus, karena akan menyebabkan, keluarnya
undang-undang monopoli untuk menguntungkan kelompok
bisnisnya.
---o---
Kalau kita lihat, dari sudut pandang kebangsaan, Para
”brahmana”, sudah semestinya tekun dengan tugasnya
dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan dari
sistem kemasyarakatan yang terdiri dari beragam Suku,
Agama, Ras dan hubungan Antar Golongan. Golongan
Brahmana, diharapkan untuk mampu membangun sistem
nilai yang dianut bersama, seluruh anak bangsa di
tlatah Nusantara. Tanpa ada nilai-nilai yang dipahami
bersama, maka rakyat, tidak memiliki dorongan untuk
terlibat dalam membangun kebangsaan, tidak ada rasa
kebersamaan. Mereka kehilangan tujuan bersama,
semangat satu bangsa, satu ’bahasa’ dan satu tanah
air. Karena itulah, Brahmana bertugas untuk
mempertahankan integrasi sosial dengan menetapkan
sistem norma (tujuan, falsafah hidup) yang dianut
bersama, sehingga mampu merajut kembali serpihan yang
terserak dan kocar-kacir setelah reformasi terjadi.
Sangat disayangkan, saat ini para Brahmana
gontok-gontokan, kelihatan manis ketika berhadapan
pada rapat lintas agama, tapi setelah itu aktif
menamkan pada akar rumput rasa kebencian bahkan untuk
saling serang satu dengan yang lainnya. Membangun
fanatisme agama, bukan dengan tujuan untuk berbakti
kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi semata-mata untuk
memuaskan nafsu untuk meraih kedudukan-kedudukan
politik dan keuntungan material. Para pendidik dan
tenaga kependidikan yang terhimpit masalah ekonomi,
terbaca kesedihannya oleh para peserta didik, dan
sangat mungkin mereka jadi juru kampanye negatif
terkait dengan peran negara dalam memberikan
kesejahteraan.
---o---
Ksatria adalah orang-orang yang memiliki tugas dalam
hal pengelolaan negara. Baik itu di legislatif,
eksekutif maupun di yudikatif. Para ksatria bertugas
untuk menterjemahkan dengan lebih rinci, tujuan-tujuan
bangsa, yang ditetapkan oleh elemen sosio kultral,
sehingga tujuan bersama dapat tercapai. Tugas utama
para ksatria penyelenggara negara adalah
menterjemahkan lalu menetapkan ”inti” tujuan, lalu
menterjemahkannya secara praktis, memberikan arah
serta pengertian, serta menyusun rangkaian tindakan
yang terintegrasi untuk mencapai tujuan.
Ksatria bertugas menetapkan visi negera, menetapkan
garis-garis besar haluan negara sehingga tujuan dan
cita-cita yang dirumuskan oleh elemen sosio kultural,
menjadi spesifik dan memiliki manfaat yang signifikan.
Lalu setelah tersusun rencana yang matang, maka
rencana tersebut diimpelementasi, bukan untuk
kepentingan sendiri, melainkan untuk kesejateraan
seluruh masyarakat.
Celakanya, setelah berteriak lantang mengenai visi dan
misi pada saat pemilihan umum, para Ksatria,
oknum-oknum pemimpin politik, baik di tingkat
nasional, maupun daerah, bingung dalam menterjemahkan
keinginan para pemilih, ke dalam langkah-langkah
praktis untuk mencapai tujuan. Ketidak mampuan ini
pada akhirnya menjadi sebab disorientasi tujuan dan
kekacauan di sistem sosio kultural. Berbagai langkah
yang dilakukan, bukan untuk kemaslahatan masyarakat,
melainkan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan
kelompoknya.
---o---
Lalu wesya, yang menjadi penjaga gawang subsistem
perekonomian, bertugas untuk menghasilkan nilai
(value) baik berupa barang maupun jasa. Para wesya,
akibat kebijakan para ksatria, terpangkas keuntungan
usahanya, sehingga pasokan ke dalam sub sistem adaptif
berupa modal dan semangat kerja menjadi sangat
berkurang.
Yang terakhir adalah sudra. Sudra ini bukan berarti
yang paling rendah, tetapi dalam hal ini adalah
orang-orang yang profesinya bukan brahmana, bukan
ksatria, dan bukan pula wesya, dan sudra merupakan
representasi dari masyarakat kebanyakan (wong cilik).
Sudra atau masyarakat luas inilah yang mestinya
di-emong oleh subsistem sosio kultural atau para
brahmana – agar benar-benar dapat berkontribusi penuh
dalam penyelenggaraan suatu negara. Akan tetapi pada
kenyataannya, para petani penghasilannya banyak
hilang, dimakan bensin, mahalnya pupuk dan
insektisida. Masyarakat sering disatroni Garong di
siang hari, maling mengambil barang terang-terangan,
penjarah dimana-mana. Koruptor triliunan rupiah bebas
melenggang, rakyat lapar makin tertindas dan meregang.
Semuanya ini, mendorong kearah krisis legitimasi –
krisis kepercayaan rakyat terhadap lembaga-lembaga
penyelenggara negara, baik eksekutif, legislatif dan
yudikatif.
---o---
Bagaimana hubungan antar bagian dari Catur Warna ?
Sistem sosio-kultural (Brahmana) akan memberikan
jaminan kesetiaan massa pendukung bagi sistem politik.
Dan sistem politik (Ksatria) tentunya harus memikirkan
kesejahteraan dari para Brahmana dan masyarakat umum
yang jadi umatnya. Para ksatria bertugas mengendalikan
gerak perekonomian negara secara adil, sehingga para
wesya dapat tenang dalam memutar roda perekonomian.
Sebagai imbal baliknya, sistem ekonomi akan memberikan
kontribusi berupa pajak kepada sistem politik. Sistem
perekonomian akan memberikan barang/jasa kepada
subsistem sosio-kultural, sedangkan subsistem sosio
kultural akan memasok para kerja dengan motivasi
tinggi untuk memutar roda perekonomian.
Nah pada kenyataannya sekarang, para wesya tidak
menjalankan swadharma atau bidang tugasnya untuk
menghasilkan sejumlah nilai-nilai baik berupa
barang/jasa yang dibutuhkan untuk konsumsi. Hal ini
disebabkan karena berbagai kebijakan administratif
yang diterapkan oleh para Ksatria, ternyata tidak
mampu memenuhi kebutuhan para Wesya agar mampu
berusaha dengan baik. Produk-produk sistem politik,
tidak menghasilkan sejumlah keputusan rasional yang
diperlukan untuk mengatur negara dengan adil. Pada
saat krisis ekonomi terjadi, para aparatur negara
bertindak sebagai perencana bagi pemodal-pemodal besar
kaum pedagang. Tindakan aparatur negara sebagai
pelaksana hukum mengalami kesadaran rendah bahkan
sampai pada titik nadir yang bisa di toleransi.
Keputusan-keputusan aparat negara sangat tidak
rasional, sehingga terlihat dengan jelas, bagaimana
kepentingan para kapitalis, menang terhadap
kepentingan masyarakat secara umum. Karena gerak
perekonomian kurang, maka pajak tidak dapat masuk ke
kas negara, di tambah kerakusan penyelenggara negara,
maka hutang luar negeri makin menumpuk.
Politisasi agama dan budaya, juga memiliki efek
samping yang tidak diinginkan, berupa campur tangan
aparat negara dalam tradisi kultural. Hal ini
semata-mata karena kolaborasi jahat para ksatria dan
brahmana sehingga muncul erosi tradisi yang
menghancurkan jati diri bangsa tanah Nusantara. Para
penjaga gawang sosio-kultural tidak mampu lagi
membangun nilai-nilai kebersamaan sebagai bangsa.
Sehingga mempercepat keretakan yang timbul di
masyarakat.
---o---
Kecenderungan krisis ini berubah menjadi penarikan
legitimasi dengan cara memporak-porandakan aparat
negara. Lalu krisis legitimasi langsung berubah
menjadi krisis jati diri. Memang tidak berdampak
langsung, tetapi krisis jati diri diakibatkan oleh
kenyataan bahwa pelaksanaan tugas-tugas perencanaan
dan eksekusi rencana pembangunan, yang diemban
pemerintah, telah menimbulkan pertanyaan besar.
Pertanyaannya adalah apakah seluruh upaya tersebut
dapat mendorong kearah kesejahteraan publik atau malah
menyengsarakan masyarakat ?
Masyarakat sudah mulai kehilangan motivasi, akibat
tingkah pola para brahmana durjana, para politisi
bermulut manis tukang ingkar janji, serta muak pada
para pedagang serakah yang mengeruk keuntungan dengan
cara-cara yang tidak berkah.
---o---
Kalau sudah pada titik tersebut, maka benarlah
pertanda yang ditulis 500 tahun yang silam yaitu
Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Letusan
gunung merapi hanyalah menjadi pertanda, dimulainya
atmosfir berbau amis darah anak bangsa, baik itu
karena gempa, ataupun yang akan terjadi berikutnya
yaitu amisnya darah akibat korban gerakan masyarakat.
Gerakan masyarakat yang muak dan ingin membangun
tatanan tanah nusantara yang baru. Gerakan yang akan
mencecerkan darah para ulama, memuncratkan darah
pejabat laknat, dan menggorok leher para pedagang
jahat. Darah yang tercecer akan menjadi tumbal
perbaikan tatanan kemasyarakatan di tanah Nusantara.
Dan negara-negara donor mulai mencium gelagat ini.
Melalui antek-anteknya di pemerintahan, mendorong agar
hutang-hutang negara agar cepat untuk dilunasi. Negara
donor selalu berkoar mendukung negara kesatuan
republik Indonesia, bukan karena mereka baik, tetapi
karena kalau Indonesia tercerai berai, siapa yang
membayar hutang yang berjibun banyaknya ?
Negara-negara mereka akan terseret pada krisis ekonomi
yang berkepanjangan.
Sodara-sodara, sadarlah, kita masih bersatu bukan
karena adanya Pancasila, atau para pejabat yang hanya
omong belaka. Kita masih bersatu ... karena hutang
kita begitu banyak. Kalau negara kita tak punya
hutang, niscaya dari dulu kita sudah porak poranda !
Jadi, mumpung hutang kita masih banyak, dan belum
terbayar, segeralah bersatu.
Hai para Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra, yang
masih bernurani, segeralah bersatu untuk menyusun
kembali tatanan tanah Nusantara. Mari kita bersihkan
Indonesia dari oportunis-oportunis yang hanya mencari
nikmat dari kekuasaan yang dimiliki, tanpa tanggung
jawab untuk membuat tanah Nusantara jadi Rahayu.
Acuhkan para Brahmana banyak mulut, penjual ayat.
Singkirkan ksatria-ksatria haus kekuasaan. Penjarakan
para sodagar yang menggangsir uang rakyat begitu
banyak.
Bangkit kembali Tanah Nusantara
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Sejarah di tlatah Nusantara mencatat : “Bila Ada
Brahmana masuk kedunia politik, maka namanya jadi
hancur. Ksatria atau politikus sekuat apapun, ketika
dia membantu anak-anaknya jualan, maka akan segera
rontok. Wesya sang sodagar, yang berkolaborasi dengan
antek-antek politikus korup, melalui kucuran BLBI,
akan hancur, dikejar sampai ke ujung dunia. Para
mahasiswa yang belum memiliki pengetahuan dan
ketrampilan yang cukup, diprovokator oleh brahmana
haus kuasa, menginjak-injak gedung DPR, lalu
tergesa-gesa merusak tatanan yang sudah ada,
melahirkan reformasi yang saat ini nyaris tak
berarti”. Apa penyebabnya ?
===
=== Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra
=== Oleh Ki Jero Martani
===
Di dalam kitab-kitab kuno Nusantara terdapat
pengertian yang disebut Catur Warna yang merupakan
konsep kemasyarakatan ala Nusantara, diterapkan di
kejayaan Majapahit, yang bertujuan memayu hayuning
buwono – membuat dunia – masyarakat ini rahayu atau
sejahtera. Akan tetapi perlu di garis bawahi bahwa
pengertian Catur Warna pada saat jaman Majapahit,
sangat bertolak belakang dengan pengertian “wangsa” di
Bali dan kasta di India.
Warna berasal dari Bahasa Sanskerta dengan asal kata
Vri artinya memilih lapangan pekerjaan. Dan Catur
Warna dapat diartikan adalah pembagian masyarakat
menjadi empat kelompok profesi yang memiliki kedudukan
paralel horisontal. Warna ditentukan oleh ”guna” dan
”karma”, guna artinya sifat, bakat dan pembawaan,
sedangkan karma dapat diartikan sebagai perbuatan atau
pekerjaan.
Dalam Bhagavadgita terdapat syair yang kalau diartikan
secara bebas adalah : ”Catur Warna Kuciptakan menurut
pembagian dari guna dan karma (sifat dan pekerjaan).
Meskipun Aku sebagai penciptanya, ketahuilah Aku
mengatasi gerak dan perbuatan”. Lalu pada syair yang
lain dituliskan : ”O, Arjuna, tugas-tugas adalah
terbagi menurut sifat, watak dan kelahiran,
sebagaimana halnya Brahmana, Ksatria, Waisya dan juga
Sudra.”
---o---
Pada kesempatan kali ini, saya sebenarnya tidak
berkehendak untuk berdebat tentang Wangsa di Bali atau
Kasta di India. Juga tak ingin memicu debat kusir yang
mengarah pada menjelek-jelekan agama. Akan tetapi
semata-mata untuk mengambil mutiara-mutiara yang
terpendam dari syair-syair kuno warisan leluhur
Nusantara.
Dalam buku-buku sastra nusantara, profesi digolongkan
menjadi 4 yaitu brahmana – orang-orang yang bekerja
sebagai penjaga gawang sosio kultural – kiai, pendeta,
pedanda, guru, dosen, pemuka masyarakat yang bertugas
memelihara adat istiadat dan sejenisnya. Lalu Ksatria
– adalah para penjaga gawang sistem politik atau
penyelenggara negara – legislatif, eksekutif dan
yudikatif, sedangkan Wesya adalah orang-orang yang
bertugas mengelola sub sistem adaptif – perekonomian.
Sedangkan sudra adalah orang-orang yang berprofesi
bukan ketiganya.
Sekali lagi saya saya tegaskan, keempat golongan
tersebut, tidak dinyatakan satu lebih tinggi dari yang
lain, melainkan paralel horisontal, semua harus ada di
tempatnya masing-masing, sesuai dengan bakat dan
pekerjaannya. Rukun dan sikap saling hormat
menghormati antar golongan di catur warna, sangat
diperlukan untuk harmonisasi masyarakat. Pembagian
empat golongan ini juga menghendaki tidak adanya cross
function atau rangkap jabatan/kekuasaan.
Kiai dalam posisi sebagai brahmana yang bertugas
mengemong umatnya di bidang sosio kultural, tidak
diperbolehkan untuk masuk ke dunia politik (wilayah
ksatria). Seorang ksatria tidak diperkenankan untuk
bergerak langsung ataupun tidak langsung dalam sektor
perekonomian. Wesya atau pengelola perekonomian, tidak
boleh berkolaborasi atau bahkan rangkap jabatan
sebagai politikus, karena akan menyebabkan, keluarnya
undang-undang monopoli untuk menguntungkan kelompok
bisnisnya.
---o---
Kalau kita lihat, dari sudut pandang kebangsaan, Para
”brahmana”, sudah semestinya tekun dengan tugasnya
dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan dari
sistem kemasyarakatan yang terdiri dari beragam Suku,
Agama, Ras dan hubungan Antar Golongan. Golongan
Brahmana, diharapkan untuk mampu membangun sistem
nilai yang dianut bersama, seluruh anak bangsa di
tlatah Nusantara. Tanpa ada nilai-nilai yang dipahami
bersama, maka rakyat, tidak memiliki dorongan untuk
terlibat dalam membangun kebangsaan, tidak ada rasa
kebersamaan. Mereka kehilangan tujuan bersama,
semangat satu bangsa, satu ’bahasa’ dan satu tanah
air. Karena itulah, Brahmana bertugas untuk
mempertahankan integrasi sosial dengan menetapkan
sistem norma (tujuan, falsafah hidup) yang dianut
bersama, sehingga mampu merajut kembali serpihan yang
terserak dan kocar-kacir setelah reformasi terjadi.
Sangat disayangkan, saat ini para Brahmana
gontok-gontokan, kelihatan manis ketika berhadapan
pada rapat lintas agama, tapi setelah itu aktif
menamkan pada akar rumput rasa kebencian bahkan untuk
saling serang satu dengan yang lainnya. Membangun
fanatisme agama, bukan dengan tujuan untuk berbakti
kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi semata-mata untuk
memuaskan nafsu untuk meraih kedudukan-kedudukan
politik dan keuntungan material. Para pendidik dan
tenaga kependidikan yang terhimpit masalah ekonomi,
terbaca kesedihannya oleh para peserta didik, dan
sangat mungkin mereka jadi juru kampanye negatif
terkait dengan peran negara dalam memberikan
kesejahteraan.
---o---
Ksatria adalah orang-orang yang memiliki tugas dalam
hal pengelolaan negara. Baik itu di legislatif,
eksekutif maupun di yudikatif. Para ksatria bertugas
untuk menterjemahkan dengan lebih rinci, tujuan-tujuan
bangsa, yang ditetapkan oleh elemen sosio kultral,
sehingga tujuan bersama dapat tercapai. Tugas utama
para ksatria penyelenggara negara adalah
menterjemahkan lalu menetapkan ”inti” tujuan, lalu
menterjemahkannya secara praktis, memberikan arah
serta pengertian, serta menyusun rangkaian tindakan
yang terintegrasi untuk mencapai tujuan.
Ksatria bertugas menetapkan visi negera, menetapkan
garis-garis besar haluan negara sehingga tujuan dan
cita-cita yang dirumuskan oleh elemen sosio kultural,
menjadi spesifik dan memiliki manfaat yang signifikan.
Lalu setelah tersusun rencana yang matang, maka
rencana tersebut diimpelementasi, bukan untuk
kepentingan sendiri, melainkan untuk kesejateraan
seluruh masyarakat.
Celakanya, setelah berteriak lantang mengenai visi dan
misi pada saat pemilihan umum, para Ksatria,
oknum-oknum pemimpin politik, baik di tingkat
nasional, maupun daerah, bingung dalam menterjemahkan
keinginan para pemilih, ke dalam langkah-langkah
praktis untuk mencapai tujuan. Ketidak mampuan ini
pada akhirnya menjadi sebab disorientasi tujuan dan
kekacauan di sistem sosio kultural. Berbagai langkah
yang dilakukan, bukan untuk kemaslahatan masyarakat,
melainkan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan
kelompoknya.
---o---
Lalu wesya, yang menjadi penjaga gawang subsistem
perekonomian, bertugas untuk menghasilkan nilai
(value) baik berupa barang maupun jasa. Para wesya,
akibat kebijakan para ksatria, terpangkas keuntungan
usahanya, sehingga pasokan ke dalam sub sistem adaptif
berupa modal dan semangat kerja menjadi sangat
berkurang.
Yang terakhir adalah sudra. Sudra ini bukan berarti
yang paling rendah, tetapi dalam hal ini adalah
orang-orang yang profesinya bukan brahmana, bukan
ksatria, dan bukan pula wesya, dan sudra merupakan
representasi dari masyarakat kebanyakan (wong cilik).
Sudra atau masyarakat luas inilah yang mestinya
di-emong oleh subsistem sosio kultural atau para
brahmana – agar benar-benar dapat berkontribusi penuh
dalam penyelenggaraan suatu negara. Akan tetapi pada
kenyataannya, para petani penghasilannya banyak
hilang, dimakan bensin, mahalnya pupuk dan
insektisida. Masyarakat sering disatroni Garong di
siang hari, maling mengambil barang terang-terangan,
penjarah dimana-mana. Koruptor triliunan rupiah bebas
melenggang, rakyat lapar makin tertindas dan meregang.
Semuanya ini, mendorong kearah krisis legitimasi –
krisis kepercayaan rakyat terhadap lembaga-lembaga
penyelenggara negara, baik eksekutif, legislatif dan
yudikatif.
---o---
Bagaimana hubungan antar bagian dari Catur Warna ?
Sistem sosio-kultural (Brahmana) akan memberikan
jaminan kesetiaan massa pendukung bagi sistem politik.
Dan sistem politik (Ksatria) tentunya harus memikirkan
kesejahteraan dari para Brahmana dan masyarakat umum
yang jadi umatnya. Para ksatria bertugas mengendalikan
gerak perekonomian negara secara adil, sehingga para
wesya dapat tenang dalam memutar roda perekonomian.
Sebagai imbal baliknya, sistem ekonomi akan memberikan
kontribusi berupa pajak kepada sistem politik. Sistem
perekonomian akan memberikan barang/jasa kepada
subsistem sosio-kultural, sedangkan subsistem sosio
kultural akan memasok para kerja dengan motivasi
tinggi untuk memutar roda perekonomian.
Nah pada kenyataannya sekarang, para wesya tidak
menjalankan swadharma atau bidang tugasnya untuk
menghasilkan sejumlah nilai-nilai baik berupa
barang/jasa yang dibutuhkan untuk konsumsi. Hal ini
disebabkan karena berbagai kebijakan administratif
yang diterapkan oleh para Ksatria, ternyata tidak
mampu memenuhi kebutuhan para Wesya agar mampu
berusaha dengan baik. Produk-produk sistem politik,
tidak menghasilkan sejumlah keputusan rasional yang
diperlukan untuk mengatur negara dengan adil. Pada
saat krisis ekonomi terjadi, para aparatur negara
bertindak sebagai perencana bagi pemodal-pemodal besar
kaum pedagang. Tindakan aparatur negara sebagai
pelaksana hukum mengalami kesadaran rendah bahkan
sampai pada titik nadir yang bisa di toleransi.
Keputusan-keputusan aparat negara sangat tidak
rasional, sehingga terlihat dengan jelas, bagaimana
kepentingan para kapitalis, menang terhadap
kepentingan masyarakat secara umum. Karena gerak
perekonomian kurang, maka pajak tidak dapat masuk ke
kas negara, di tambah kerakusan penyelenggara negara,
maka hutang luar negeri makin menumpuk.
Politisasi agama dan budaya, juga memiliki efek
samping yang tidak diinginkan, berupa campur tangan
aparat negara dalam tradisi kultural. Hal ini
semata-mata karena kolaborasi jahat para ksatria dan
brahmana sehingga muncul erosi tradisi yang
menghancurkan jati diri bangsa tanah Nusantara. Para
penjaga gawang sosio-kultural tidak mampu lagi
membangun nilai-nilai kebersamaan sebagai bangsa.
Sehingga mempercepat keretakan yang timbul di
masyarakat.
---o---
Kecenderungan krisis ini berubah menjadi penarikan
legitimasi dengan cara memporak-porandakan aparat
negara. Lalu krisis legitimasi langsung berubah
menjadi krisis jati diri. Memang tidak berdampak
langsung, tetapi krisis jati diri diakibatkan oleh
kenyataan bahwa pelaksanaan tugas-tugas perencanaan
dan eksekusi rencana pembangunan, yang diemban
pemerintah, telah menimbulkan pertanyaan besar.
Pertanyaannya adalah apakah seluruh upaya tersebut
dapat mendorong kearah kesejahteraan publik atau malah
menyengsarakan masyarakat ?
Masyarakat sudah mulai kehilangan motivasi, akibat
tingkah pola para brahmana durjana, para politisi
bermulut manis tukang ingkar janji, serta muak pada
para pedagang serakah yang mengeruk keuntungan dengan
cara-cara yang tidak berkah.
---o---
Kalau sudah pada titik tersebut, maka benarlah
pertanda yang ditulis 500 tahun yang silam yaitu
Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Letusan
gunung merapi hanyalah menjadi pertanda, dimulainya
atmosfir berbau amis darah anak bangsa, baik itu
karena gempa, ataupun yang akan terjadi berikutnya
yaitu amisnya darah akibat korban gerakan masyarakat.
Gerakan masyarakat yang muak dan ingin membangun
tatanan tanah nusantara yang baru. Gerakan yang akan
mencecerkan darah para ulama, memuncratkan darah
pejabat laknat, dan menggorok leher para pedagang
jahat. Darah yang tercecer akan menjadi tumbal
perbaikan tatanan kemasyarakatan di tanah Nusantara.
Dan negara-negara donor mulai mencium gelagat ini.
Melalui antek-anteknya di pemerintahan, mendorong agar
hutang-hutang negara agar cepat untuk dilunasi. Negara
donor selalu berkoar mendukung negara kesatuan
republik Indonesia, bukan karena mereka baik, tetapi
karena kalau Indonesia tercerai berai, siapa yang
membayar hutang yang berjibun banyaknya ?
Negara-negara mereka akan terseret pada krisis ekonomi
yang berkepanjangan.
Sodara-sodara, sadarlah, kita masih bersatu bukan
karena adanya Pancasila, atau para pejabat yang hanya
omong belaka. Kita masih bersatu ... karena hutang
kita begitu banyak. Kalau negara kita tak punya
hutang, niscaya dari dulu kita sudah porak poranda !
Jadi, mumpung hutang kita masih banyak, dan belum
terbayar, segeralah bersatu.
Hai para Brahmana, Ksatria, Wesya dan Sudra, yang
masih bernurani, segeralah bersatu untuk menyusun
kembali tatanan tanah Nusantara. Mari kita bersihkan
Indonesia dari oportunis-oportunis yang hanya mencari
nikmat dari kekuasaan yang dimiliki, tanpa tanggung
jawab untuk membuat tanah Nusantara jadi Rahayu.
Acuhkan para Brahmana banyak mulut, penjual ayat.
Singkirkan ksatria-ksatria haus kekuasaan. Penjarakan
para sodagar yang menggangsir uang rakyat begitu
banyak.
Bangkit kembali Tanah Nusantara
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Debat kusir, jangan terjadi lagi ...
Catatan ini sengaja disimpan agar aku, Ki Jero Martani, tidak melakukan kebodohan yang sama. Selanjutnya tidak boleh dan tidak pernah ada, model-model pemikiran yang memicu hal-hal terjadinya debat kusir lagi.
Kerukunan bisa hilang karena ungkapan kebenaran. Biarlah kebenaran menyeruak keluar, mencari jalannya sendiri...
Re: [apakabar] Peran Sesajen dalam Ketahan Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya
dear jero martani,
dari mana anda dapat data ini: Parisada (kalau kita-MUI), di Bali terpecah
dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah disusupi
oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan elit
politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.
==> intelejen apa?jangan ngarang cerita dong..yg saya tahu mereka lg coba
baikan (phdi bali yg dipimpin pedanda made gunung dgn phdi bali yg diakui
phdi pusat).
pandita2 petualang tanpa umat maksud anda apa?krn yg saya tau pedanda ato
sulinggih itu didukung oleh kalangan bahwah (bottom up) dan jelas massa-nya
kata anda:
Dalam satu kesempatan, saya mendengar diskusi para generasi muda Hindu.
Mereka seakan ber'teriak-teriak', menentang sajen yang merupakan budaya
warisan leluhur-leluhurnya dulu.
==>anda dengar diskusi dimana?saya akui ada yg belagak ke-india2an-dgn
mengambil mentah2 tradisi/upacara ala india yg menurut mereka lebih
hemat,praktis dan to the point (tuhan)..ya semuanya itu diakumodir dlm
keberagaman/liberalisasi upacara hindu. krn klo anda tahu ada 3pilar agama
kami: 1)tatwa 2)etika 3)upacara
di bali emang lebih dominan upacara drpd pemahaman filsafat agama, krn
begitulah karakter masyarakat bali yg suka menyampaikan "Bhakti Yoga"nya
melalui kemeriahan upacara.
spt jg kita menghatgai orang yg lebih dominan dlm ber-etika/filsafat.
selebihnya saya salut dgn uraian2 anda.
Om namaste
Jawaban
Ki jero martani, balasan saya dibawah ini. terima kasih.
On 6/10/06, kijeromartani wrote:
>
>
>
> Sodara Gendam,
>
> Tulisan berikut ini hanyalah isapan jempol belaka. Boleh dipercaya
> dan boleh tidak. Memang terlalu kasar dan menohok orang-orang yang
> mungkin anda sangat hormati. Mungkin tulisan ini dianggap fitnah,
> dan menyinggung orang-orang Bali. Tetapi, benar-benar dari lubuk
> hati yang paling dalam saya nyatakan, niat saya adalah niat baik
> agar Bali dapat tegak kembali membangun jati dirinya. Dengan
> demikian bhineka tunggal ika tetap dapat kita nikmati.
> -------------
>
> Gendam: tidak ada yg sangat saya hormati dr mereka. meski isapan jempol
> usaha anda tetap saya hargai.
>
> --------------
>
>
> Sodara Gendam, terus terang semestinya saya tersinggung ketika saya
> tidak dipercaya, tapi karena saya tahu anda masih muda, jadi tidak
> apa-apa. Dan untuk masalah ini, maka terpaksa saya membongkar
> beberapa bau busuk di majelis agama anda.
> -----------
>
> Gendam: saya mencari pengetahuan. usia tua tidak membuat seseorang lebih
> bijaksana
>
> ------------
>
>
> Saya tidak akan menggunakan istilah intelejen lagi, karena terkesan
> seperti tentara atau polisi, baiklah saya akan gunakan istilah
> analisis yang dilihat dari berbagai media masa dan wawancara,
> terkait dengan masalah lintas agama. Informasi yang dihimpun cukup
> lengkap, kalau di kami agama islam, ada masalah ormas-ormas yang
> bernafaskan agama yang didanai oleh prabowo jaman jatuhnya suharto
> dulu, lalu sekarang berlanjut tak bisa dikendalikan, pesantren
> salafiah dan madrasah dan lain-lain.
>
> Nah di Hindu saya mendapatkan hasil-hasil analisis sebagai berikut :
>
> 1. Parisada Hindu saat ini dipimpin oleh Dharmadyaksa (Ketua
> Kiai/Pemimpin Umat) yang tidak memiliki akar yang kuat di
> masyarakat. Ada kenyataan bahwa beliau tidak diterima di banyak
> tempat di Bali bahkan di jawa ditolak.
> -------------
>
> Gendam: beliau tidak diterima di banyak tempat? Tolong sebutkan dimana itu
> (yg anda bilang banyak). Ditolak di Jawa dimana saja? Tunjukkan bukti2
> penolakannya.
>
> --------------
> 2. Laporan analisis media dan observasi melalui wawancara mengatakan
> bahwa dari beberapa propinsi, sebagai DharmaAdyaksa (Pedanda
> Sebali), cenderung melaksanakan upacara - upacara agnihotra dan
> sangat condong ke sampradaya terutama Hare Krisna yang kalau di
> amerika mengaku bukan Hindu.
>
> --------------
>
> gendam: media mana? wawancara dgn siapa? Agni hotra adl. sembahyang dgn
> api/agni sbg media (api simbolis saksi). ini memang jauh lebih simple jika
> dibandingkan dgn bentuk2 upacara di bali, yg sarat dgn kemegahan.
>
> aghni hotra mulai banyak dilirik krn umat hindu, khususnya di luar bali
> mencoba menyeimbangkan nilai2 dlm kerangka ajaran Hindu: tatwa, etika dan
> upacara.
>
>
>
> Sampradaya adl. aliran/mahzab dlm Hindu, hare Krisna salah satunya. Hare
> Krisna intinya memuja personifikasi dr Awatara (wisnu). Mereka sangat
> menggemari BhagawadGita, kidung dewata dimana dipercaya sbgian umat Hindu
> sbg Pancama Weda (weda kelima). Dan menganggap Bhagawad Gita sbg sari2
> keutamaan weda.
>
> Hare Krisna di amerika mengaku bukan Hindu? Drmana sumber anda?
>
> Saya menganggap aneh jika demikian, krn jelas mereka mengakui otoritas
> Weda..lalu apanya yg bukan Hindu? Dan dr mana mereka mendapat istilah
> Krisna/wisnu dsbnya jika bukan dr Hindu?
>
> ------------
>
> 3. Bahkan sekretaris sabha pandita di pimpin oleh Hare Krisna, yang
> ditolak di sebagian parisada propinsi di seluruh Indonesia.
> Tercermin pada rapat nasional di lombok.
>
> ----------
>
> gendam: ada masalah apa anda dgn hare krisna? ditolak sebagian parisada
> propinsi di seluruh Indonesia? tolong sebutkan parisada propinsi mana saja
> yg menolak? dan berikan data/bukti2nya.
>
> -------------
>
>
> 4. Kenapa 33 Anggota Sabha Pandita itu dianalisis tidak memiliki
> umat, karena pada kenyataannya, setiap fatwa / bhisama yang
> dikeluarkan ternyata boleh dikatakan sebagian besar bahkan tidak ada
> satupun yang jalan/dipahami oleh umat hindu terutama di Bali.
> -----------
>
> gendam: anda meng-klaim berdasarkan analisa. sebutkan siapa yg melakukan
> analisa?siapa obyek analisanya? dan tunjukkan bukti2 bahwa semua fatwa tidak
> dipahami?
>
> ------------
>
>
> 5. Saat ini Parisada pusatnya dikendalikan oleh orang-orang yang
> tidak terlalu jelas komitmennya dalam memajukan budaya/agama Hindu.
> Kebanyakan mantan-mantan pejabat, yang sebenarnya tidak terlalu
> dikenal di akar rumput. Ada juga orang-orang yang memiliki
> kepentingan politik berusaha menggesek-gesekkan masyarakat melalui
> terminologi kasta untuk mendapatkan kedudukan politik. Terbukti Sdr.
> Sudirta yang dulu sangat aktif di Parisada, setelah mendapatkan
> kedudukan politik di DPD ternyata saat ini membiarkan Bali terbelah
> menjadi dua parisada.
>
>
> 7. Kenapa sampai Sabha Pandita (Kalau di islam - kumpulan kiai)
> terpilih yang tidak memiliki umat. Itu karena pada saat musyawarah
> nasional atau mahahasabha - undangan tidak disebarkan untuk para
> kiai-kiai / pedanda-pedanda yang memang memiliki akar rumput.
>
> 8. Ada kelompok yang sangat aktif bermain pada saat itu. Nama-nama
> seperti Titib, Wiana, Sudirta adalah cenderung mematangkan situasi
> sehingga terpilih anggota sabha pandita yang kurang berkualitas dan
> tidak memiliki akar rumput, dengan menyingkirkan peran para pedanda
> yang memiliki legitimasi di tengah masyarakat.
>
> 9. Kelompok ini memiliki kemampuan yang tinggi dalam membikin wacana
> di surat-surat kabar sehingga dapat mempengaruhi pandangan-pandangan
> pembaca terutama Balipost. Tetapi pada akar rumput seperti banjar-
> banjar adat, mereka tidak memiliki peran. Dan kecenderungan orang-
> orang ini seperti titib, mereka jadi sengit bukan karena idiologi,
> melainkan karena kepentingan sesaat karena dulu pernah konflik
> dengan gubernur bali seperti Ida Bagus Mantera. Perlu diketahui
> bahwa Titib adalah orang politik dari golkar.
>
> 10. Melalui keahliannya dalam membangun wacana di surat kabar,
> dengan menulis ke surat pembaca menggunakan nama dengan ktp orang
> lain, lalu menjawabnya sendiri, ini merupakan tanda-tanda
> kepentingan politik lebih berat di banding dengan kepentingan agama.
> ----------
>
> gendam: no.5-9 ini saya no comment terlalu personal.
>
> ----------
>
>
> 11. Menurut laporan terakhir, salah satu ketua di Parisada saat ini
> sangat aktif dan nyata-nyata sebagai kader sampradaya Hare Krisna.
> ---------
>
> gendam : asal anda tahu. Bahkan PHDI pun adl. sebuah aliran (sampradaya).
>
> ------------
>
>
> 12. Kelompok-kelompok politik yang dikomandoi oleh sudirta, sangat
> tahu karakter orang bali yang kebanyakan malas untuk berdebat.
> Sehingga menggunakan rombongan pemudanya untuk memaksakan kehendak
> seolah-olah untuk mendemokritasi majelis
>
> 13. Menurut analisis, kelompok-kelompok ini muncul hanya saat ada
> kepentingan, tetapi dalam melaksanakan kegiatan keagamaan sehari-
> hari mereka ternyata tidak memiliki kemampuan dan bekerja dengan
> baik.
>
> 14. Tadinya kelompok-kelompok di atas sangat diharapkan untuk
> membawa perubahan kearah yang lebih baik. Tetapi saat ini masyarakat
> Bali menjadi tersadar akan tindak-tanduk mereka, karena itulah ada
> organisasi dharmaupdesa yang merupakan kelompok para brahmana yang
> orang-orangnya mungkin banyak di Parisada yang dibentuk di Ubud.
>
> ---------
>
> gendam: FYI organisasi yg anda sebut itu juga ditengarai mencoba
> membangkitkan dominasi triwangsa dlm PHDI.
>
> ----------
>
> 15. Menurut laporan terakhir, oleh panitia mahasabha yang baru,
> mungkin karena yang jadi ketua adalah jenderal - Pedanda Gunung
> memang dilibatkan. Seluruh pedanda di Bali yang memiliki akar rumput
> memang mengacu pada pendapat Ida Pedanda Gunung.
>
> 16. Pada kenyataannya, usaha-usaha untuk mendamaikan perpecahan oleh
> parisada pusat, hanyalah lip service saja, tanpa disertai dengan
> usaha yang sungguh-sungguh. Seperti juga laporan mengenai kemajuan
> untuk menggali kembali asset-asset majelis yang dikuasai oleh orang-
> orang tertentu.
>
> 17. Kelemahan besar pada kiai/pedanda/pinandata wangsa brahmana,
> menurut hasil observasi yang dilakukan pada tingkat akar rumput
> adalah kemampuan mereka dalam (1) memberikan penyegaran rohani
> kepada umatnya. (2) memperdalam filosofi upacara agar bisa
> diadaptasi ke situasi dan kondisi saat ini (3) memperbanyak
> komunikasi terutama generasi muda. Karena itulah banyak sekali
> pinandita-pinandita sudra yang setelah usia pensiun baca-baca buku
> setensilan lalu diangkat atau mengangkatkan diri jadi pinandita.
> Sekarang pinandita di bali bagai jamur di musim hujan.
>
>
> 18. Sangat mudah sekali untuk menggali informasi di kantor pusat
> parisada, karena pada kenyataannya sangat banyak kepentingan di
> sana, dan administrasinya diawasi oleh orang yang kompeten.
>
> Laporan-laporan ini memang pahit, tetapi walau saya tidak punya
> kepentingan dengan organisasi ini, saya merasa sayang, kalau Bali
> tak mampu bangkit kembali dari keterpurukan. Mbah marijan yang saya
> temui secara pribadi, ketika saya minta untuk mengajar saya untuk
> belajar makrifat membangun rasa, beliau menyarankan untuk pergi ke
> Bali belajar sisa-sisa ilmu kejawen yang 'dilarikan' kesana.
> ---------
>
> gendam: anda sangat salah jika ingin belajar kejawen dgn pergi ke bali. di
> bali anda cuma akan mjd turis. jika anda ingin belajar "balian" benar anda
> ke bali. jika tidak, tidak ada bedanya anda dgn wisman2/wisnus2 itu. belajar
> kejawen ya di jawa bosJ
>
> -------
>
>
> Tapi ketika saya kesana, bertemu dengan teman-teman dari Hindu, saya
> menjadi prihatin. Untuk itu, ada kutipan hadits yang cocok untuk
> keadaan ini, kumpulkanlah ilmu karena ilmu yang akan menjagamu, tapi
> kalau kau berkehendak untuk mengumpulkan harta, maka ada saatnya
> engkau akan sibuk menjaga harta itu.
>
> Sodara Gendam,
>
> Sekali lagi, kalau ini dianggap fitnah ... boleh-boleh saja ...
> kalau anda bilang ini suatu isapan jempol belaka ... silahkan
> silahkan saja ... tapi begitulah keadaan agama anda ... ibarat udang
> yang membawa tahi di "kepala" nya.
> -------
>
> gendam: saya baru akan mengambil kesimpulan atas semua tulisan anda,
> setelah anda menjawab semua pertanyaan2 saya diatas dan menunjukkan
> bukti/data2. anda mengibaratkan agama saya sbg udang? saya maklum krn anda
> sama sekali tidak mengenal Hindu. anda mungkin tahu sedikit ttg kejawen, yg
> anda igaukan sbg Hindu. tetapi Hindu bukanlah jawa, bukan bali, bukan hanya
> India. Hindu adl. jalan hidup. kata Gandhi, setiap orang memiliki agamanya
> masing2 yg berbeda satu dgn lainnya. tugas kita adl. menghargai perbedaan2
> itu.
>
> -------
>
>
> Aura bali sudah runtuh, pagar spiritual yang dibangun oleh leluhur
> tanah bali sudah terbuka ... bom pun dengan gampang menyeruak.
> Pemulung-pemulung masuk perlahan-lahan.... sebentar lagi ... bali
> bukan lagi pulau seribu pura ... tetapi menjadi pura seribu
> masjid....
> Dan sayapun tak mau bali jadi pulau seribu masjid ... karena itu
> akan merusak kebhinekaan.
> ------
>
> gendam: anda tidak tahu apa2 ttg bali. bali sudah amburadul jauh sebelum
> bom meletus, sebelum pemulung+penjaja seks jawa masuk atau masjid2 tumbuh
> subur di pesisirnya dan kaum misionaris memekai topeng sang hyang yesus.
>
> anda tahu ttg penjualan budak pertengahan abad ke-17? perang antar
> kerajaan? konflik kasta?kelaparan pd abad ke-19 s/d awal 20? perdagangan
> candu abad ke-20? atau pembantaian tanpa pengadilan 80.000-an tertuduh
> komunis di bali tahun 65??
>
>
>
> jika yg anda bayangkan adl. bali sbg citra yg homogen dgn
> ke-Hindu-annya?turistiknya?kesantunannya? anda tidak berbeda dgn wisatawan
> mancanegara yg dtg ke bali setelah membaca tulisan Covarubias, korban
> propaganda belanda.
>
> ---------
> Sekali lagi ... ini hanya isapan jempol belaka ... mudah-mudah jadi
> pencerahan bagi generasi muda Hindu Bali yang saat ini masih merem-
> merem saja terhadap perkembangan agama dan budayanya.
>
> Merem melek menikmati pembusukan yang ada di Majelis agamanya.
>
> ------
>
> gendam: sama seperti anda, saya jg menganggap tulisan anda sbg isapan
> jempol semata.
>
> FYI dlm Hindu, kami menghargai PHDI sbg lembaga payung umat yg
> mengeluarkan bhisama (fatwa). Tp tidak ada keharusan kami utk menerimanya.
> karena agama kami berbeda dgn yg lain. kami bisa hidup tanpa PHDI ataupun
> mahareshi2 krn kami tidak mengenal juru selamat, wakil tuhan di dunia atau
> sebagainya. kami menjalani hidup sbg karma. Menjalankan swadharma kami
> masing2. keyakinan kami: no 1-5 adalah Panca Sradha.
>
> saya berterima kasih atas perhatian anda yg besar kpd perkembangan budaya
> dan agama Hindu khususnya bali. tetapi disisi lain saya berpendapat anda
> masuk terlalu jauh dgn menyebut nama2 personal dlm kepengurusan PHDI sbg tdk
> becus. PHDI di bali memang ada 2, tp tidak membuat satu dan lainnya saling
> menghujat dan menghakimi. Jika bisa bersatu alangkah baiknya, jika tidak,
> tidak apa-apa. Kami menghargai perbedaan, satu guru satu ilmu jangan
> ganggu..gitu istilahnya.
>
>
>
> saya sarankan anda mulai melihat ke dalam majelis agama anda sendiri.
> dapatkah majelis anda menerima nilai2 pluralisme? sbgmana tagline "Bhineka
> tunggal ika" yg anda kagumi. Ada kata2 bijak: klo ingin melakukan perubahan
> lakukan dr diri sendiri, dan lingkungan sebelum meminta orang lain
> melakukannya utk kita. Santih.
>
> ------------------
> Salam
>
>
> --- In apakabar@yahoogroups.com, gendam wrote:
> >
> > dear jero martani,
> > dari mana anda dapat data ini: Parisada (kalau kita-MUI), di Bali
> terpecah
>
> > dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah
> disusupi
> > oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan
> elit
> > politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.
> > ==> intelejen apa?jangan ngarang cerita dong..yg saya tahu mereka
> lg coba
Kerukunan bisa hilang karena ungkapan kebenaran. Biarlah kebenaran menyeruak keluar, mencari jalannya sendiri...
Re: [apakabar] Peran Sesajen dalam Ketahan Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya
dear jero martani,
dari mana anda dapat data ini: Parisada (kalau kita-MUI), di Bali terpecah
dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah disusupi
oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan elit
politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.
==> intelejen apa?jangan ngarang cerita dong..yg saya tahu mereka lg coba
baikan (phdi bali yg dipimpin pedanda made gunung dgn phdi bali yg diakui
phdi pusat).
pandita2 petualang tanpa umat maksud anda apa?krn yg saya tau pedanda ato
sulinggih itu didukung oleh kalangan bahwah (bottom up) dan jelas massa-nya
kata anda:
Dalam satu kesempatan, saya mendengar diskusi para generasi muda Hindu.
Mereka seakan ber'teriak-teriak', menentang sajen yang merupakan budaya
warisan leluhur-leluhurnya dulu.
==>anda dengar diskusi dimana?saya akui ada yg belagak ke-india2an-dgn
mengambil mentah2 tradisi/upacara ala india yg menurut mereka lebih
hemat,praktis dan to the point (tuhan)..ya semuanya itu diakumodir dlm
keberagaman/liberalisasi upacara hindu. krn klo anda tahu ada 3pilar agama
kami: 1)tatwa 2)etika 3)upacara
di bali emang lebih dominan upacara drpd pemahaman filsafat agama, krn
begitulah karakter masyarakat bali yg suka menyampaikan "Bhakti Yoga"nya
melalui kemeriahan upacara.
spt jg kita menghatgai orang yg lebih dominan dlm ber-etika/filsafat.
selebihnya saya salut dgn uraian2 anda.
Om namaste
Jawaban
Ki jero martani, balasan saya dibawah ini. terima kasih.
On 6/10/06, kijeromartani
>
>
>
> Sodara Gendam,
>
> Tulisan berikut ini hanyalah isapan jempol belaka. Boleh dipercaya
> dan boleh tidak. Memang terlalu kasar dan menohok orang-orang yang
> mungkin anda sangat hormati. Mungkin tulisan ini dianggap fitnah,
> dan menyinggung orang-orang Bali. Tetapi, benar-benar dari lubuk
> hati yang paling dalam saya nyatakan, niat saya adalah niat baik
> agar Bali dapat tegak kembali membangun jati dirinya. Dengan
> demikian bhineka tunggal ika tetap dapat kita nikmati.
> -------------
>
> Gendam: tidak ada yg sangat saya hormati dr mereka. meski isapan jempol
> usaha anda tetap saya hargai.
>
> --------------
>
>
> Sodara Gendam, terus terang semestinya saya tersinggung ketika saya
> tidak dipercaya, tapi karena saya tahu anda masih muda, jadi tidak
> apa-apa. Dan untuk masalah ini, maka terpaksa saya membongkar
> beberapa bau busuk di majelis agama anda.
> -----------
>
> Gendam: saya mencari pengetahuan. usia tua tidak membuat seseorang lebih
> bijaksana
>
> ------------
>
>
> Saya tidak akan menggunakan istilah intelejen lagi, karena terkesan
> seperti tentara atau polisi, baiklah saya akan gunakan istilah
> analisis yang dilihat dari berbagai media masa dan wawancara,
> terkait dengan masalah lintas agama. Informasi yang dihimpun cukup
> lengkap, kalau di kami agama islam, ada masalah ormas-ormas yang
> bernafaskan agama yang didanai oleh prabowo jaman jatuhnya suharto
> dulu, lalu sekarang berlanjut tak bisa dikendalikan, pesantren
> salafiah dan madrasah dan lain-lain.
>
> Nah di Hindu saya mendapatkan hasil-hasil analisis sebagai berikut :
>
> 1. Parisada Hindu saat ini dipimpin oleh Dharmadyaksa (Ketua
> Kiai/Pemimpin Umat) yang tidak memiliki akar yang kuat di
> masyarakat. Ada kenyataan bahwa beliau tidak diterima di banyak
> tempat di Bali bahkan di jawa ditolak.
> -------------
>
> Gendam: beliau tidak diterima di banyak tempat? Tolong sebutkan dimana itu
> (yg anda bilang banyak). Ditolak di Jawa dimana saja? Tunjukkan bukti2
> penolakannya.
>
> --------------
> 2. Laporan analisis media dan observasi melalui wawancara mengatakan
> bahwa dari beberapa propinsi, sebagai DharmaAdyaksa (Pedanda
> Sebali), cenderung melaksanakan upacara - upacara agnihotra dan
> sangat condong ke sampradaya terutama Hare Krisna yang kalau di
> amerika mengaku bukan Hindu.
>
> --------------
>
> gendam: media mana? wawancara dgn siapa? Agni hotra adl. sembahyang dgn
> api/agni sbg media (api simbolis saksi). ini memang jauh lebih simple jika
> dibandingkan dgn bentuk2 upacara di bali, yg sarat dgn kemegahan.
>
> aghni hotra mulai banyak dilirik krn umat hindu, khususnya di luar bali
> mencoba menyeimbangkan nilai2 dlm kerangka ajaran Hindu: tatwa, etika dan
> upacara.
>
>
>
> Sampradaya adl. aliran/mahzab dlm Hindu, hare Krisna salah satunya. Hare
> Krisna intinya memuja personifikasi dr Awatara (wisnu). Mereka sangat
> menggemari BhagawadGita, kidung dewata dimana dipercaya sbgian umat Hindu
> sbg Pancama Weda (weda kelima). Dan menganggap Bhagawad Gita sbg sari2
> keutamaan weda.
>
> Hare Krisna di amerika mengaku bukan Hindu? Drmana sumber anda?
>
> Saya menganggap aneh jika demikian, krn jelas mereka mengakui otoritas
> Weda..lalu apanya yg bukan Hindu? Dan dr mana mereka mendapat istilah
> Krisna/wisnu dsbnya jika bukan dr Hindu?
>
> ------------
>
> 3. Bahkan sekretaris sabha pandita di pimpin oleh Hare Krisna, yang
> ditolak di sebagian parisada propinsi di seluruh Indonesia.
> Tercermin pada rapat nasional di lombok.
>
> ----------
>
> gendam: ada masalah apa anda dgn hare krisna? ditolak sebagian parisada
> propinsi di seluruh Indonesia? tolong sebutkan parisada propinsi mana saja
> yg menolak? dan berikan data/bukti2nya.
>
> -------------
>
>
> 4. Kenapa 33 Anggota Sabha Pandita itu dianalisis tidak memiliki
> umat, karena pada kenyataannya, setiap fatwa / bhisama yang
> dikeluarkan ternyata boleh dikatakan sebagian besar bahkan tidak ada
> satupun yang jalan/dipahami oleh umat hindu terutama di Bali.
> -----------
>
> gendam: anda meng-klaim berdasarkan analisa. sebutkan siapa yg melakukan
> analisa?siapa obyek analisanya? dan tunjukkan bukti2 bahwa semua fatwa tidak
> dipahami?
>
> ------------
>
>
> 5. Saat ini Parisada pusatnya dikendalikan oleh orang-orang yang
> tidak terlalu jelas komitmennya dalam memajukan budaya/agama Hindu.
> Kebanyakan mantan-mantan pejabat, yang sebenarnya tidak terlalu
> dikenal di akar rumput. Ada juga orang-orang yang memiliki
> kepentingan politik berusaha menggesek-gesekkan masyarakat melalui
> terminologi kasta untuk mendapatkan kedudukan politik. Terbukti Sdr.
> Sudirta yang dulu sangat aktif di Parisada, setelah mendapatkan
> kedudukan politik di DPD ternyata saat ini membiarkan Bali terbelah
> menjadi dua parisada.
>
>
> 7. Kenapa sampai Sabha Pandita (Kalau di islam - kumpulan kiai)
> terpilih yang tidak memiliki umat. Itu karena pada saat musyawarah
> nasional atau mahahasabha - undangan tidak disebarkan untuk para
> kiai-kiai / pedanda-pedanda yang memang memiliki akar rumput.
>
> 8. Ada kelompok yang sangat aktif bermain pada saat itu. Nama-nama
> seperti Titib, Wiana, Sudirta adalah cenderung mematangkan situasi
> sehingga terpilih anggota sabha pandita yang kurang berkualitas dan
> tidak memiliki akar rumput, dengan menyingkirkan peran para pedanda
> yang memiliki legitimasi di tengah masyarakat.
>
> 9. Kelompok ini memiliki kemampuan yang tinggi dalam membikin wacana
> di surat-surat kabar sehingga dapat mempengaruhi pandangan-pandangan
> pembaca terutama Balipost. Tetapi pada akar rumput seperti banjar-
> banjar adat, mereka tidak memiliki peran. Dan kecenderungan orang-
> orang ini seperti titib, mereka jadi sengit bukan karena idiologi,
> melainkan karena kepentingan sesaat karena dulu pernah konflik
> dengan gubernur bali seperti Ida Bagus Mantera. Perlu diketahui
> bahwa Titib adalah orang politik dari golkar.
>
> 10. Melalui keahliannya dalam membangun wacana di surat kabar,
> dengan menulis ke surat pembaca menggunakan nama dengan ktp orang
> lain, lalu menjawabnya sendiri, ini merupakan tanda-tanda
> kepentingan politik lebih berat di banding dengan kepentingan agama.
> ----------
>
> gendam: no.5-9 ini saya no comment terlalu personal.
>
> ----------
>
>
> 11. Menurut laporan terakhir, salah satu ketua di Parisada saat ini
> sangat aktif dan nyata-nyata sebagai kader sampradaya Hare Krisna.
> ---------
>
> gendam : asal anda tahu. Bahkan PHDI pun adl. sebuah aliran (sampradaya).
>
> ------------
>
>
> 12. Kelompok-kelompok politik yang dikomandoi oleh sudirta, sangat
> tahu karakter orang bali yang kebanyakan malas untuk berdebat.
> Sehingga menggunakan rombongan pemudanya untuk memaksakan kehendak
> seolah-olah untuk mendemokritasi majelis
>
> 13. Menurut analisis, kelompok-kelompok ini muncul hanya saat ada
> kepentingan, tetapi dalam melaksanakan kegiatan keagamaan sehari-
> hari mereka ternyata tidak memiliki kemampuan dan bekerja dengan
> baik.
>
> 14. Tadinya kelompok-kelompok di atas sangat diharapkan untuk
> membawa perubahan kearah yang lebih baik. Tetapi saat ini masyarakat
> Bali menjadi tersadar akan tindak-tanduk mereka, karena itulah ada
> organisasi dharmaupdesa yang merupakan kelompok para brahmana yang
> orang-orangnya mungkin banyak di Parisada yang dibentuk di Ubud.
>
> ---------
>
> gendam: FYI organisasi yg anda sebut itu juga ditengarai mencoba
> membangkitkan dominasi triwangsa dlm PHDI.
>
> ----------
>
> 15. Menurut laporan terakhir, oleh panitia mahasabha yang baru,
> mungkin karena yang jadi ketua adalah jenderal - Pedanda Gunung
> memang dilibatkan. Seluruh pedanda di Bali yang memiliki akar rumput
> memang mengacu pada pendapat Ida Pedanda Gunung.
>
> 16. Pada kenyataannya, usaha-usaha untuk mendamaikan perpecahan oleh
> parisada pusat, hanyalah lip service saja, tanpa disertai dengan
> usaha yang sungguh-sungguh. Seperti juga laporan mengenai kemajuan
> untuk menggali kembali asset-asset majelis yang dikuasai oleh orang-
> orang tertentu.
>
> 17. Kelemahan besar pada kiai/pedanda/pinandata wangsa brahmana,
> menurut hasil observasi yang dilakukan pada tingkat akar rumput
> adalah kemampuan mereka dalam (1) memberikan penyegaran rohani
> kepada umatnya. (2) memperdalam filosofi upacara agar bisa
> diadaptasi ke situasi dan kondisi saat ini (3) memperbanyak
> komunikasi terutama generasi muda. Karena itulah banyak sekali
> pinandita-pinandita sudra yang setelah usia pensiun baca-baca buku
> setensilan lalu diangkat atau mengangkatkan diri jadi pinandita.
> Sekarang pinandita di bali bagai jamur di musim hujan.
>
>
> 18. Sangat mudah sekali untuk menggali informasi di kantor pusat
> parisada, karena pada kenyataannya sangat banyak kepentingan di
> sana, dan administrasinya diawasi oleh orang yang kompeten.
>
> Laporan-laporan ini memang pahit, tetapi walau saya tidak punya
> kepentingan dengan organisasi ini, saya merasa sayang, kalau Bali
> tak mampu bangkit kembali dari keterpurukan. Mbah marijan yang saya
> temui secara pribadi, ketika saya minta untuk mengajar saya untuk
> belajar makrifat membangun rasa, beliau menyarankan untuk pergi ke
> Bali belajar sisa-sisa ilmu kejawen yang 'dilarikan' kesana.
> ---------
>
> gendam: anda sangat salah jika ingin belajar kejawen dgn pergi ke bali. di
> bali anda cuma akan mjd turis. jika anda ingin belajar "balian" benar anda
> ke bali. jika tidak, tidak ada bedanya anda dgn wisman2/wisnus2 itu. belajar
> kejawen ya di jawa bosJ
>
> -------
>
>
> Tapi ketika saya kesana, bertemu dengan teman-teman dari Hindu, saya
> menjadi prihatin. Untuk itu, ada kutipan hadits yang cocok untuk
> keadaan ini, kumpulkanlah ilmu karena ilmu yang akan menjagamu, tapi
> kalau kau berkehendak untuk mengumpulkan harta, maka ada saatnya
> engkau akan sibuk menjaga harta itu.
>
> Sodara Gendam,
>
> Sekali lagi, kalau ini dianggap fitnah ... boleh-boleh saja ...
> kalau anda bilang ini suatu isapan jempol belaka ... silahkan
> silahkan saja ... tapi begitulah keadaan agama anda ... ibarat udang
> yang membawa tahi di "kepala" nya.
> -------
>
> gendam: saya baru akan mengambil kesimpulan atas semua tulisan anda,
> setelah anda menjawab semua pertanyaan2 saya diatas dan menunjukkan
> bukti/data2. anda mengibaratkan agama saya sbg udang? saya maklum krn anda
> sama sekali tidak mengenal Hindu. anda mungkin tahu sedikit ttg kejawen, yg
> anda igaukan sbg Hindu. tetapi Hindu bukanlah jawa, bukan bali, bukan hanya
> India. Hindu adl. jalan hidup. kata Gandhi, setiap orang memiliki agamanya
> masing2 yg berbeda satu dgn lainnya. tugas kita adl. menghargai perbedaan2
> itu.
>
> -------
>
>
> Aura bali sudah runtuh, pagar spiritual yang dibangun oleh leluhur
> tanah bali sudah terbuka ... bom pun dengan gampang menyeruak.
> Pemulung-pemulung masuk perlahan-lahan.... sebentar lagi ... bali
> bukan lagi pulau seribu pura ... tetapi menjadi pura seribu
> masjid....
> Dan sayapun tak mau bali jadi pulau seribu masjid ... karena itu
> akan merusak kebhinekaan.
> ------
>
> gendam: anda tidak tahu apa2 ttg bali. bali sudah amburadul jauh sebelum
> bom meletus, sebelum pemulung+penjaja seks jawa masuk atau masjid2 tumbuh
> subur di pesisirnya dan kaum misionaris memekai topeng sang hyang yesus.
>
> anda tahu ttg penjualan budak pertengahan abad ke-17? perang antar
> kerajaan? konflik kasta?kelaparan pd abad ke-19 s/d awal 20? perdagangan
> candu abad ke-20? atau pembantaian tanpa pengadilan 80.000-an tertuduh
> komunis di bali tahun 65??
>
>
>
> jika yg anda bayangkan adl. bali sbg citra yg homogen dgn
> ke-Hindu-annya?turistiknya?kesantunannya? anda tidak berbeda dgn wisatawan
> mancanegara yg dtg ke bali setelah membaca tulisan Covarubias, korban
> propaganda belanda.
>
> ---------
> Sekali lagi ... ini hanya isapan jempol belaka ... mudah-mudah jadi
> pencerahan bagi generasi muda Hindu Bali yang saat ini masih merem-
> merem saja terhadap perkembangan agama dan budayanya.
>
> Merem melek menikmati pembusukan yang ada di Majelis agamanya.
>
> ------
>
> gendam: sama seperti anda, saya jg menganggap tulisan anda sbg isapan
> jempol semata.
>
> FYI dlm Hindu, kami menghargai PHDI sbg lembaga payung umat yg
> mengeluarkan bhisama (fatwa). Tp tidak ada keharusan kami utk menerimanya.
> karena agama kami berbeda dgn yg lain. kami bisa hidup tanpa PHDI ataupun
> mahareshi2 krn kami tidak mengenal juru selamat, wakil tuhan di dunia atau
> sebagainya. kami menjalani hidup sbg karma. Menjalankan swadharma kami
> masing2. keyakinan kami: no 1-5 adalah Panca Sradha.
>
> saya berterima kasih atas perhatian anda yg besar kpd perkembangan budaya
> dan agama Hindu khususnya bali. tetapi disisi lain saya berpendapat anda
> masuk terlalu jauh dgn menyebut nama2 personal dlm kepengurusan PHDI sbg tdk
> becus. PHDI di bali memang ada 2, tp tidak membuat satu dan lainnya saling
> menghujat dan menghakimi. Jika bisa bersatu alangkah baiknya, jika tidak,
> tidak apa-apa. Kami menghargai perbedaan, satu guru satu ilmu jangan
> ganggu..gitu istilahnya.
>
>
>
> saya sarankan anda mulai melihat ke dalam majelis agama anda sendiri.
> dapatkah majelis anda menerima nilai2 pluralisme? sbgmana tagline "Bhineka
> tunggal ika" yg anda kagumi. Ada kata2 bijak: klo ingin melakukan perubahan
> lakukan dr diri sendiri, dan lingkungan sebelum meminta orang lain
> melakukannya utk kita. Santih.
>
> ------------------
> Salam
>
>
> --- In apakabar@yahoogroups.com, gendam
> >
> > dear jero martani,
> > dari mana anda dapat data ini: Parisada (kalau kita-MUI), di Bali
> terpecah
>
> > dua, karena menurut data intelejen, parisada pusat mereka, telah
> disusupi
> > oleh pandita-pandita petualang tanpa umat, yang bekerjasama dengan
> elit
> > politik yang hanya memiliki kepentingan sesaat.
> > ==> intelejen apa?jangan ngarang cerita dong..yg saya tahu mereka
> lg coba
Menepuk Air Di Dulang, Terpercik Muka Sendiri
Ada suatu perumpamaan kuno yang mengatakan bahwa, baik buruknya tanah, sangat ditentukan oleh tingkat kualitas airnya. Baik buruknya Nusantara masa depan, sangat tergantung dari kualitas insan yang dilahirkan di tanah ini. Walau kita mengalami duka nestapa, dengan bencana seperti tiada akhir, bagaimanapun juga, kita seharusnya masih berhutang pada tanah air, karena dilahirkan di bawah langit yang menguntungkan.
Tidak ada negeri, walau yang paling maju sekalipun, yang tidak memiliki cacat bawaan atau cacat lainnya. Dan perlu dipahami, mengumbar cacat dan kelemahan ini secara terus-menerus, menyebabkan negara-negara tetangga, cenderung mengail di air keruh. Berbarengan dengan gencar-gencarnya tahun pariwisata di Malaysia, seorang tukang Bom pergi ke Bali, dengan semangat yang katanya ”membela” agama, dan kebencian penuh terhadap bangsa Barat, di meluluh lantakkan bukan hanya bangunan, tetapi meruntuhkan industri pariwisata dan menjatuhkan perekonomian tanah Nusantara. Gelar pendatang Haram, dan pengusiran besar-besaran, benar-benar menginjak-injak harkat dan martabat bangsa.
Negara ”gagal” seperti Timor Leste, memandang Indonesia dengan sebelah mata. Australia atas nama HAM, menjadi tempat berlindung para separatis, dan dengan pongah berani mempertanyakan kebijakan yang diambil pemimpin negara. Singapura negara kota, dengan segala alasan, berani menolak perjanjian ekstradisi, sehingga jadi surga para koruptor, tukang tilep, penjarah BLBI, dan perampok duit rakyat Indonesia
Sodara-sodara sekalian,
Era reformasi memang, memberikan peluang setiap individu, mengutarakan pikirannya. Tapi itu berdampak pada perlombaan publikasi borok-borok yang ada di negara kita. Sekarang tidak hanya buruh atau petani, bahkan Presiden Republik Indonesia, dengan gagah tanpa dosa, mengungkapkan segala kelemahan yang ada di negeri ini, tanpa langkah nyata untuk memperbaikinya. Menurut saya, hal ini adalah sikap yang keliru.
Sekali lagi saya tekankan, tidak ada negeri, di atas bumi ini, sekalipun yang paling maju, tidak mempunyai cacat bawaan atau cacat-cacat lain. Publikasi terhadap cacat-cacat yang ada, tanpa ada usaha untuk menyelesaikannya, akan digunakan oleh negara-negara tetangga untuk berjaga-jaga bahkan terus mengail di air keruh.
Karena itulah, adalah suatu sikap yang terpuji, apabila kita lebih mengkonsentrasikan energi dan mencurahkan pemikiran untuk pembenahan, atau setidak-tidaknya tidak terlalu mengumbar segala kelemahan bangsa. Dengan berbuat seperti itu dari sekarang, semoga kita, dapat menyumbangkan sesuatu untuk, membangun kembali jati diri bangsa, dan berusaha menyongsong fajar cerah masa depan Tanah Nusantara.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Tidak ada negeri, walau yang paling maju sekalipun, yang tidak memiliki cacat bawaan atau cacat lainnya. Dan perlu dipahami, mengumbar cacat dan kelemahan ini secara terus-menerus, menyebabkan negara-negara tetangga, cenderung mengail di air keruh. Berbarengan dengan gencar-gencarnya tahun pariwisata di Malaysia, seorang tukang Bom pergi ke Bali, dengan semangat yang katanya ”membela” agama, dan kebencian penuh terhadap bangsa Barat, di meluluh lantakkan bukan hanya bangunan, tetapi meruntuhkan industri pariwisata dan menjatuhkan perekonomian tanah Nusantara. Gelar pendatang Haram, dan pengusiran besar-besaran, benar-benar menginjak-injak harkat dan martabat bangsa.
Negara ”gagal” seperti Timor Leste, memandang Indonesia dengan sebelah mata. Australia atas nama HAM, menjadi tempat berlindung para separatis, dan dengan pongah berani mempertanyakan kebijakan yang diambil pemimpin negara. Singapura negara kota, dengan segala alasan, berani menolak perjanjian ekstradisi, sehingga jadi surga para koruptor, tukang tilep, penjarah BLBI, dan perampok duit rakyat Indonesia
Sodara-sodara sekalian,
Era reformasi memang, memberikan peluang setiap individu, mengutarakan pikirannya. Tapi itu berdampak pada perlombaan publikasi borok-borok yang ada di negara kita. Sekarang tidak hanya buruh atau petani, bahkan Presiden Republik Indonesia, dengan gagah tanpa dosa, mengungkapkan segala kelemahan yang ada di negeri ini, tanpa langkah nyata untuk memperbaikinya. Menurut saya, hal ini adalah sikap yang keliru.
Sekali lagi saya tekankan, tidak ada negeri, di atas bumi ini, sekalipun yang paling maju, tidak mempunyai cacat bawaan atau cacat-cacat lain. Publikasi terhadap cacat-cacat yang ada, tanpa ada usaha untuk menyelesaikannya, akan digunakan oleh negara-negara tetangga untuk berjaga-jaga bahkan terus mengail di air keruh.
Karena itulah, adalah suatu sikap yang terpuji, apabila kita lebih mengkonsentrasikan energi dan mencurahkan pemikiran untuk pembenahan, atau setidak-tidaknya tidak terlalu mengumbar segala kelemahan bangsa. Dengan berbuat seperti itu dari sekarang, semoga kita, dapat menyumbangkan sesuatu untuk, membangun kembali jati diri bangsa, dan berusaha menyongsong fajar cerah masa depan Tanah Nusantara.
Salam Hormat,
Ki Jero Martani
Kelompok Bakrie Jangan Lepas Tangan
LUMPUR PANAS
Kelompok Bakrie
Jangan Lepas Tangan
TERGENANG LUMPUR -- Jalan tol Km 38 Gempol-Surabaya di Porong,
Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (11/6) tergenang lumpur yang keluar
dari lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas, setelah tanggul penahan
lumpur dijebol warga Desa Siring yang permukimannya kini terancam
terendam lumpur. Genangan lumpur ini sudah terjadi sejak beberapa
hari namun belum bisa diatasi. (Ant/Hadiyanto)
Senin, 12 Juni 2006
JAKARTA (Suara Karya): Kelompok Usaha Bakrie jangan lepas tangan
dalam insiden musibah semburan lumpur panas di Sidoarjo. Itu karena
PT Lapindo Brantas -- operator lapangan di area yang mengalami
kebocoran -- adalah anak perusahaan Energi Mega Persada (EMP) yang
bernaung dibawah kelompok usaha Bakrie.
Pakar hukum perusahaan, yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (UI) Luhut M Pangaribuan mengatakan, perusahaan dan para
pelaku usaha harus menanggung kerugian dan biaya reahabilitasi
lingkungan sekitar lokasi. "Mereka harus membayar semua kerugian dan
memulihkan kondisi masyarakat dan lingkungannya," kata Luhut di
Jakarta, Minggu (11/6).
Seperti diketahui, PT Bumi Resources yang bergerak di bidang
pertambangan batubara sedang dalam proses merger dengan EMP yang
bergerak di bidang minyak dan gas alam. Kedua perusahaan itu
merupakan perusahaan yang ada di bawah kelompok usaha Bakrie. "Bumi
Resources dan Energi Mega Persada merupakan perusahaan yang berada
di bawah kelompok usaha Bakrie," kata Direktur Bursa Efek Jakarta
(BEJ) Eddy Sugito, seperti dimuat sebuah media ibukota, edisi 4
Pebruari 2006.
Luhut mengatakan, saat ini lembaga terkait dan pemerintah daerah
setempat harus segera melakukan tindakan administratif dan menangani
masalah paling mendesak, seperti penanganan korban akibat semburan
lumpur panas itu. "Kita baru lihat unsur perdatanya karena faktor
alam, tetapi jika ditemukan ada unsur kelalaian, seperti memilih
teknologi yang digunakan kurang tepat atau memilih yang murah demi
mereguk keuntungan, maka bisa masuk unsur pidana," ujarnya.
Ganti kerugian dan rehabilitasi lingkungan yang rusak, lanjut Luhut,
merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pasalnya, ada
atau tidaknya insiden itu, setiap perusahaan memiliki kewajiban
sosial dan diharuskan mengeluarkan dana bina masyarakat dan
rehabilitasi lingkungan.
Merger Bumi Resources dan EMP akan dilakukan melalui mekanisme tukar
saham (share swap). Seperti diketahui, EMP selaku perusahaan minyak
dan gas, sementara Bumi bergerak di bidang tambang batu bara.
Menurut Presdir Bumi Resources, Ari S Hudaya, kepada pers beberapa
waktu lalu, merger baru selesai Juli mendatang.
Menanggapi pertanggungjawaban perusahaan migas tersebut, Deputi
Operasi BP Migas, Dody Hidayat, mengatakan bahwa sepatutnya ada
penggantian atas kerugian yang ditimbulkan. "Karena normalnya,
praktek itu berlaku pada masalah sejenis di Sidoarjo seperti saat
ini," ujar dia secara diplomatis.
Dody mengaku, belum ada pernyataan penggantian resmi dari EMP.
Namun, dia mengatakan, tindakan nyata telah dilakukan EMP, yakni
pemberian bantuan yang diperlukan masyarakat. Misalnya, pendirian
posko, santunan sebesar Rp 200 ribu per KK, bantuan medis,
pengungsian, distribusi logistik dan air bersih. "Kita pastikan
harus diganti, masa ditinggal begitu saja," ujarnya.
Sejumlah anggota Komisi VII DPR juga angkat bicara untuk kasus ini.
Mereka mendesak Lapindo segera memberikan penjelasan kepada warga
yang menjadi korban. Ironisnya, operator lapangan migas ini belum
bisa menjelaskan kapan semburan itu akan berhenti.
"Sosialisasikan secepatnya, langkah apa yang akan diambil, kapan
semburan berhenti, agar warga tidak resah," kata Wakil Ketua Komisi
VII DPR, Sony Keraf, usai meninjau lokasi, Minggu (11/6).
Untuk mengatasi masalah itu, Lapindo mengaku telah mendatangkan tim
ahli dari AS, Kanada dan Singapura, yang kini tengah menganalisa
penyebab semburan. "Sumbernya di mana, itu yang akan kita cari dan
akan kita hentikan," kata General Manager PT Lapindo Brantas Imam
Agustino.
Menurut Imam, dia siap melakukan apa saja termasuk mendatangkan alat
berat dari luar negeri jika sumber semburan sudah diketahui. Lapindo
akan menggali dua titik penampungan lumpur di sebelah timur lokasi
semburan dan sebelah utara jalan tol. "Lumpur akan diarahkan dengan
menggunakan pipa," ujarnya tanpa merinci. (Abdul Choir)
Kelompok Bakrie
Jangan Lepas Tangan
TERGENANG LUMPUR -- Jalan tol Km 38 Gempol-Surabaya di Porong,
Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (11/6) tergenang lumpur yang keluar
dari lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas, setelah tanggul penahan
lumpur dijebol warga Desa Siring yang permukimannya kini terancam
terendam lumpur. Genangan lumpur ini sudah terjadi sejak beberapa
hari namun belum bisa diatasi. (Ant/Hadiyanto)
Senin, 12 Juni 2006
JAKARTA (Suara Karya): Kelompok Usaha Bakrie jangan lepas tangan
dalam insiden musibah semburan lumpur panas di Sidoarjo. Itu karena
PT Lapindo Brantas -- operator lapangan di area yang mengalami
kebocoran -- adalah anak perusahaan Energi Mega Persada (EMP) yang
bernaung dibawah kelompok usaha Bakrie.
Pakar hukum perusahaan, yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (UI) Luhut M Pangaribuan mengatakan, perusahaan dan para
pelaku usaha harus menanggung kerugian dan biaya reahabilitasi
lingkungan sekitar lokasi. "Mereka harus membayar semua kerugian dan
memulihkan kondisi masyarakat dan lingkungannya," kata Luhut di
Jakarta, Minggu (11/6).
Seperti diketahui, PT Bumi Resources yang bergerak di bidang
pertambangan batubara sedang dalam proses merger dengan EMP yang
bergerak di bidang minyak dan gas alam. Kedua perusahaan itu
merupakan perusahaan yang ada di bawah kelompok usaha Bakrie. "Bumi
Resources dan Energi Mega Persada merupakan perusahaan yang berada
di bawah kelompok usaha Bakrie," kata Direktur Bursa Efek Jakarta
(BEJ) Eddy Sugito, seperti dimuat sebuah media ibukota, edisi 4
Pebruari 2006.
Luhut mengatakan, saat ini lembaga terkait dan pemerintah daerah
setempat harus segera melakukan tindakan administratif dan menangani
masalah paling mendesak, seperti penanganan korban akibat semburan
lumpur panas itu. "Kita baru lihat unsur perdatanya karena faktor
alam, tetapi jika ditemukan ada unsur kelalaian, seperti memilih
teknologi yang digunakan kurang tepat atau memilih yang murah demi
mereguk keuntungan, maka bisa masuk unsur pidana," ujarnya.
Ganti kerugian dan rehabilitasi lingkungan yang rusak, lanjut Luhut,
merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pasalnya, ada
atau tidaknya insiden itu, setiap perusahaan memiliki kewajiban
sosial dan diharuskan mengeluarkan dana bina masyarakat dan
rehabilitasi lingkungan.
Merger Bumi Resources dan EMP akan dilakukan melalui mekanisme tukar
saham (share swap). Seperti diketahui, EMP selaku perusahaan minyak
dan gas, sementara Bumi bergerak di bidang tambang batu bara.
Menurut Presdir Bumi Resources, Ari S Hudaya, kepada pers beberapa
waktu lalu, merger baru selesai Juli mendatang.
Menanggapi pertanggungjawaban perusahaan migas tersebut, Deputi
Operasi BP Migas, Dody Hidayat, mengatakan bahwa sepatutnya ada
penggantian atas kerugian yang ditimbulkan. "Karena normalnya,
praktek itu berlaku pada masalah sejenis di Sidoarjo seperti saat
ini," ujar dia secara diplomatis.
Dody mengaku, belum ada pernyataan penggantian resmi dari EMP.
Namun, dia mengatakan, tindakan nyata telah dilakukan EMP, yakni
pemberian bantuan yang diperlukan masyarakat. Misalnya, pendirian
posko, santunan sebesar Rp 200 ribu per KK, bantuan medis,
pengungsian, distribusi logistik dan air bersih. "Kita pastikan
harus diganti, masa ditinggal begitu saja," ujarnya.
Sejumlah anggota Komisi VII DPR juga angkat bicara untuk kasus ini.
Mereka mendesak Lapindo segera memberikan penjelasan kepada warga
yang menjadi korban. Ironisnya, operator lapangan migas ini belum
bisa menjelaskan kapan semburan itu akan berhenti.
"Sosialisasikan secepatnya, langkah apa yang akan diambil, kapan
semburan berhenti, agar warga tidak resah," kata Wakil Ketua Komisi
VII DPR, Sony Keraf, usai meninjau lokasi, Minggu (11/6).
Untuk mengatasi masalah itu, Lapindo mengaku telah mendatangkan tim
ahli dari AS, Kanada dan Singapura, yang kini tengah menganalisa
penyebab semburan. "Sumbernya di mana, itu yang akan kita cari dan
akan kita hentikan," kata General Manager PT Lapindo Brantas Imam
Agustino.
Menurut Imam, dia siap melakukan apa saja termasuk mendatangkan alat
berat dari luar negeri jika sumber semburan sudah diketahui. Lapindo
akan menggali dua titik penampungan lumpur di sebelah timur lokasi
semburan dan sebelah utara jalan tol. "Lumpur akan diarahkan dengan
menggunakan pipa," ujarnya tanpa merinci. (Abdul Choir)
Memang Lidah Tak Bertulang (2)
Memang lidah tak bertulang
Tak terbatas kata-kata
Tinggi gunung seribu janji
Lain dikata lain dihati
Hidup ini tidak akan lama
Hanya sekejap saja
Mari kita korupsi bagi-bagi rejeki
Karena Nurani telah mati.
---oOo---
Massa Demo Tagih Janji Wapres
Laporan Wartawan Kompas Defri Werdiono
YOGYAKARTA, KOMPAS - Lebih dari 200 warga korban gempa dari Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta, Rabu (19/7), demo menagih janji-janji perihal bantuan bagi korban gempa yang telah dijanjikan oleh pemerintah. Mereka menilai ucapan Wakil Presiden Jusuf Kalla selaku Ketua Bakornas yang akan memberi bantuan Rp 10-30 juta untuk upaya rekonstruksi rumah korban gempa harus segera direalisasikan.
Aksi yang juga diikuti oleh mahasiswa dan LSM itu, dimulai sekitar pukul 10.00, dengan berkumpul bersama di Alun-alun utara Yogyakarta. Mereka kemudian konvoi menuju perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Sementara itu dari arah utara, dari perempatan tugu juga meluncur lebih dari 400 pendemo yang menuju ke arah perempatan Kantor Pos juga.
Selain berorasi dan menyampaikan yel-yel, mereka juga menggelar sejumlah poster yang intinya menagih apa yang telah dijanjikan pemerintah untuk segera diwujudkan. Selain itu, belasan pendemo juga memakai topeng bergambarkan Jusuf Kalla. Mereka memakai baju lengan panjang dan celana pendek yang menggambarkan legitimasi kebohongan Jusuf Kalla.
"Jusuf Kalla tidak pernah tepat janji. Omongannya tidak bisa dipegang, pagi kedelai, sore sudah jadi tempe. Kami menuntut keseriusan pemerintah dalam menangani korban gempa," ujar AH Maftuchan, Humas aksi.
Aksi ini dijaga ketat aparat. Karena di dalam Gedung Agung ada Jusuf Kalla yang tengah membuka 3rd Federation of Islamic Medical Associations (FIMA) International Scientific Convention.
Tak terbatas kata-kata
Tinggi gunung seribu janji
Lain dikata lain dihati
Hidup ini tidak akan lama
Hanya sekejap saja
Mari kita korupsi bagi-bagi rejeki
Karena Nurani telah mati.
---oOo---
Massa Demo Tagih Janji Wapres
Laporan Wartawan Kompas Defri Werdiono
YOGYAKARTA, KOMPAS - Lebih dari 200 warga korban gempa dari Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta, Rabu (19/7), demo menagih janji-janji perihal bantuan bagi korban gempa yang telah dijanjikan oleh pemerintah. Mereka menilai ucapan Wakil Presiden Jusuf Kalla selaku Ketua Bakornas yang akan memberi bantuan Rp 10-30 juta untuk upaya rekonstruksi rumah korban gempa harus segera direalisasikan.
Aksi yang juga diikuti oleh mahasiswa dan LSM itu, dimulai sekitar pukul 10.00, dengan berkumpul bersama di Alun-alun utara Yogyakarta. Mereka kemudian konvoi menuju perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Sementara itu dari arah utara, dari perempatan tugu juga meluncur lebih dari 400 pendemo yang menuju ke arah perempatan Kantor Pos juga.
Selain berorasi dan menyampaikan yel-yel, mereka juga menggelar sejumlah poster yang intinya menagih apa yang telah dijanjikan pemerintah untuk segera diwujudkan. Selain itu, belasan pendemo juga memakai topeng bergambarkan Jusuf Kalla. Mereka memakai baju lengan panjang dan celana pendek yang menggambarkan legitimasi kebohongan Jusuf Kalla.
"Jusuf Kalla tidak pernah tepat janji. Omongannya tidak bisa dipegang, pagi kedelai, sore sudah jadi tempe. Kami menuntut keseriusan pemerintah dalam menangani korban gempa," ujar AH Maftuchan, Humas aksi.
Aksi ini dijaga ketat aparat. Karena di dalam Gedung Agung ada Jusuf Kalla yang tengah membuka 3rd Federation of Islamic Medical Associations (FIMA) International Scientific Convention.
Krisis Motivasi
Sodara-sodara Sebangsa dan Se Tanah Air,
Beberapa kali dalam tulisan, saya menyinggung tentang adanya krisis pamungkas yakni krisis motivasi. Kita telah melalui krisis ekonomi, dan karena penguasa saat itu ingin menyelesaikan dengan instrumen politik, dan karena tidak berhasil, maka yang tadinya hanya masalah nilai tukar, segera berubah menjadi krisis politik.
Krisis politik yang berlarut-larut tanpa solusi, membuat borok-borok makin bau, ditambah kurangnya kapabilitas dan komitmen para anggota legislatif, mafia peradilan di yudikatif dan ketidak mampuan eksekutif di dalam memenuhi janji-janji yang telah ducapkannya saat pemilu, menyebabkan munculnya krisis legitimasi, yaitu krisis yang bercirikan ketidak percayaan terhadap lembaga-lembaga penyelenggara negara yaitu trias politica – legislatif, yudikatif dan eksekutif.
Setelah krisis legitimasi, akan muncul krisis pamungkas, yakni krisis motivasi - hilangnya semangat dan timbul rasa putus asa dari sebagian besar rakyat Nusantara terhadap tingkah polah para pemimpinnya. Krisis motivasi akan menurunkan produktifitas kerja sub sistem sosio kultural yang diperlukan oleh sub sistem ekonomi, lalu ketidak percayaan terhadap sistem politik, hilangnya kepercayaan terhadap pemuka agama bahkan agama itu sendiri sebagai alat untuk mencapai kebahagian. [Mohon dibaca kembali buku Krisis Legitimasi karangan Jurgen Habermas]
Ciri krisis motivasi ini, dimulai dari keadaan dimana para brahmana, ulama, pendeta, guru dan orang-orang yang mestinya menjadi penjaga gawang sosio kultural mulai menunjukkan ketidak jujuran. Para pengelola pemerintahan mengumbar janji di mulut saja, para sodagar hanya mengeruk keuntungan pribadi tanpa memperhatikan dampak tindakannya terhadap masyarakat banyak. Wong cilik makin tak mengerti tentang keadaannya.
Akibat hilang kebajikan, "umur" manusia makin pendek. Umur pendek menyebabkan makin berkurangnya pengetahuan, akibat kurang pengetahuan maka mereka tak memiliki ke-pradnyan bathin yang baik. Oleh karena itu, sifat tamak dan kikir akan berkuasa. Dunia diliput oleh tamak, murka, mabuk dan nafsu. Manusia dengki terhadap sesama, bahkan ingin mencabut jiwa satu sama lain. Golongan rendah - contohnya preman pasar, bisa menduduki kedudukan tinggi - misalnya sebagai anggota dewan yang terhormat ataupun bupati kepala daerah.
Ulama, penguasa, sodagar dan wong cilik, tak berakhlak dan menjalankan kebajikan yang tidak jujur. Pada umumnya orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai ulama, menipu penganut penganutnya dengan menyebarkan apa yang dikatakan “kebajikan”. Akibat dari pada hilangnya kebajikan, umur manusia menjadi pendek. Akibat umur pendek maka manusia tak mempunya pengetahuan yang cukup. Akibat kurang pengetahuan, mereka tidak punya kepradnyan. Oleh karena itu maka sifat tamak dan kikir berkuasa. Diliputi rasa tamak, murka, mabuk dan bernafsu, manusia dengki terhadap sesama manusia dan ingin jiwanya satu sama lain. Golongan yang rendah terangkat dan menduduki kedudukan yang tinggi, yang tinggi turun sampai ke tingkat yang rendah.
Menjelang jaman krisis ini orang menganggap bahwa istrinya adalah satu-satunya kawan. Kepercayaan manusia terhadap Tuhan hanya dimulut saja, bahkan banyak yang berpikiran menjadi pencuri. Orang-orang mencari kepuasan atas milik orang lain. Ayah mencari kesenangan atas milik anaknya dan sebaliknya si anak mencari kesenangan atas milik orang tuannya. Hal atau barang-barang yang disenangi itu adalah yang terlarang menurut sastra-agama.
Brahmana tak menjalankan kegiatan pemujaan dan keagamaan. Dan karena pengetahuan budinya dipengaruhi oleh kepalsuan, mereka mengarahkan kegiatannya kepada apa yang bersifat hina. Putera telah ”membunuh” orang tuanya, orang tua telah ”membunuh” puteranya, itu semua tak dipandang sebagai suatu yang durhaka.
Tak seorangpun mau meminang anak gadis untuk menjadi istrinya, dan tidak seorangpun mau memberikan anak gadisnya untuk maksud itu, tetap si gadis itu sendirilah memilih bakal suaminya. Raja di dunia berjiwa pemabuk, dan tidak puas atas apa yang telah dimilikinya, pada jaman itu, merampas harta benda rakyatnya dengan berbagai-bagai cara dan kekuatan.
Tangan kanan menipu tangan kiri, dan tangan kiri menipu tangan kanannya. Orang tua mengkhianati orang muda yang belum mempunya pengertian, dan orang-orang muda menghianati orang tua. Para pengecut memperoleh jasa seperti orang yang gagah berani, orang gagah berani memperoleh penghinaan seperti orang pengecut. Orang-orang sama tidak mempercayai diri satu sama lain. Dosa dan pengkhianatan tumbuh subur, sebaliknya kebajian pudar dan tidak berkembang lagi.
Golongan brahmana dan ksatriya lenyap tiada berbekas. Semua orang merupakan anggota golongan kasta umum yang tiada mengenal perbedaan macam apapun. Orang tua tidak mengampuni puteranya, dan putera tidak mengampuni orang tuanya, isteri tak meladeni suami. Manusia mencari negeri dimana gandum dan jewawut menjadi makanan pokok.
Lelaki dan wanita bebas sekali dalam tabiat kelakuannya, dan dalam perbuatan yang satu kepada yang lain tidak suka saling mengalah. Orang-orang tidak lagi memberikan kepuasan kepada para dewa dan melakukan persembahan. Tidak seorangpun suka menghiraukan kata-kata orang lain, dan tidak seorangpun menganggap dirinya sebagai guru dari orang lain. Intelektualisme gelap menyelubungi seluruh dunia. Pada usia muda, mautpun sudah menghadang. Wanita berumur muda sudah beranak dan pria yang baru akil balik telah menjadi bapak. Isteri tak puas dengan suaminya, dan suami tidak puas dengan istrinya. Milik orang tidak bisa bertambah banyak.
Orang-orang yang menjalankan agama dengan kepalsuan. Iri hati dan kebencian meraja lela. Tak seorangpun suka bersedekah / beramal kepada orang lain. Penduduk dunia mengalami kesengsaraan akibat kekurangan dan kelaparan. Jalan-jalan raya dipadati oleh laki-laki dan perempuan-perempuan yang sangat bernafsu dan jahat. Sebagian besar orang berbudi pekerti rendah, kasar dalam perbuatan serta faseh dalam mengatakan keburukan orang lain.
Orang-orang tanpa sesal menghancurkan hutan-hutan dan taman-taman. Dan terhadap makna kehidupan orang-orang merasa cemas. Dikuasai oleh hatinya yang loba, orang-orang tega membunuh orang lain, dan merampas harta benda korbannya itu. Para brahmana yang ditindas oleh sudra dicekam rasa takut dan hanya bisa mengeluh. Mereka menjelajahi dunia, namun tiada seorangpun yang memberi perlindungan.
Tertindas oleh pemerintahan yang buruk, dan diperas oleh pengenaan pajak yang berat, para pemuka brahmana di dalam jaman yang dahsyat itu hilang kesabarannya, lalu berbuat yang tidak utama, bahkan menjadi hamba-hamba sahaya Sudra. Sudra menguraikan isi Kitab Suci dan Brahmana-brahmana mendengarkannya, dan menetapkan jalan kewajibannya sesuai dengan tafsiran penunjuk jalannya itu. Orang rendah menjadi orang-orang tinggi, dan perjalanan hidup nampaknya terbalik. Mereka tidak lagi menyembah dewa-dewa, yang disembah adalah tulang-tulang dan lain-lain jimat di dalam tembok. Sudra tidak lagi mengabdi pada Rsi-rsi agung, di sekolah-sekolah dan tempat-tempat di mana para Brahmana memberikan kuliah dan tempat-tempat suci bagi Dewa-Dewa dan pada sumber-sumber mata air suci, penuh berisi makam-makam dan tembok-tembok yang menyimpan jimat tulang-tulang, bukannya berdiri pura-pura yang diperuntukkan bagi para Dewa.
Krisis Motivasi akan berakhir jika, bunga keluar dari bunga, dan buah keluar dari buah. Pada saat mendung di angkasa tidak menjatuhkan hujan tepat pada musimnya. Aturan upacara tidak dipatuhi lagi, dan sudra bersengketa dengan Brahmana. Karena tekanan hidup yang berat itu, orang-orang pada lari kehutan-hutan dan hidup dari buah-buahan dan umbi-umbian. Murid-murid tidak mentaati perintah gurunya, bahkan murid-murid membencanai dan tidak menghormati guru-gurunya lagi. Orang-orang hanya menjalankan tugas kekeluargaan semata-samata untuk memperoleh kemakmuran dan mendapatkan harta milik orang lain.
Dalam masa berakhirnya krisis itu, semua orang merasa kekurangan. Pada kaki langit tampak cahaya, tapi semua bintang dan kumpulan bintang-bintang tidak bercahaya lagi. Angin berhembus sangat kencangnya dan banyak meteor jatuh dari langit, itu adalah alamat buruk. Matahari terbit bagaikan bersama dengan matahari yang lain. Mulai dari terbitnya sampai dengan terbenamnya, matahari di telan Kala Rahu. Dan dewa Indera menjatuhkan hujan tidak cocok pada musimnya, tanaman padi tidak mau tumbuh subur berlimpah-limpah. Wanita-wanita senantiasa mengucapkan kata-kata tajam, tidak menaruh belas kasihan tapi mudah menangis.
Api berkobar dari semua arah. Orang-orang yang bepergian tidak berhasil mendapatkan makan minum dan perlindungan, meskipun mereka mencari dan memintanya. Mereka terlantar di tepi-tepi jalan mengulang-ulang kembali permohonannya itu. Burung-burung gagak, ular dan burung-burung nasar, burung rajawali dan lain-lain binatang, dan burung-burung berbunyi, suaranya mengerikan. Orang-orang membuang dan melalaikan sahabat dan keluarganya, dan bujang-bujangnya. Orang-orang minggat dari negeri dan kota tempat kedudukannya, mereka mencari tempat yang baru di satu dan lain tempat. Apabila keadaan jaman yang dahsyat itu lampau, maka Sang Pencipta membangun dunia baru.
Kapan Mulai Jaman Baru ?
Terjadi manakala matahari, bulan dan bintang berada dalam susunan "tertentu", masuk pada tanda yang sama, maka jaman ini akan berakhir digantikan oleh jaman kemakmuran. Karena takdir, maka seorang “Brahmana” akan lahir didunia. Beliau memuja “Hyang Wisnu” dan mempunyai kekuatan besar serta pengetahuan tinggi dan gagah berani. Beliau akan lahir di suatu kota, dalam keluarga Brahmana yang suci. Segala barang perlengkapan, segera ada pada beliau untuk dipergunakan, begitu terlintas dalam pikiran. Dan beliau akan menjadi raja dari para raja-raja, dan selamanya jaya berkat kekuatan kebajikannya. Beliau membangun dunia kembali dengan menertibkan kembali sasana-sasana dan mewujudkan perdamaian dunia yang berpenduduk padat.
Setelah para pencuri dan penyamun di musnahkan, Brahmana ini akan melakukan upacara untuk menyerah-terimakan dunia yang telah dibangun kembali, kepada brahmana-brahmana lain. Sesudah itu beliau masuk ke dalam hutan, dan semua orang di bumi meniru perbuatannya itu. Dan setelah brahmana-brahmana memusnahkan para pencuri dan penyamun, maka tersedialah kekayaan yang melimpah ruah di bumi. Kemudian setelah dunia memperoleh pemerintahan yang baik, Sang Brahmana setelah menanggalkan pakainnya yang terbuat dari kulit rusa, tombak dan trisula, akan kembali menjelajahi dunia, diiringi oleh para Brahmana yang utama dan hormat pada beliau, sambil membunuh para maling dan penyamun. Manakala dosa-dosa dengan demikian dibersihkan serta kebajikan menghiasi budi orang, maka dimulailah jaman baru yaitu Jaman Keemasan tanah Nusantara.
Disarikan, diinterpretasikan dan disusun kembali dengan mengambil inspirasi dari dari Bab Wanaparwa, Mahabaratha, serta diramu dari berbagai sumber lainnya.
Oleh Ki Jero Martani
Beberapa kali dalam tulisan, saya menyinggung tentang adanya krisis pamungkas yakni krisis motivasi. Kita telah melalui krisis ekonomi, dan karena penguasa saat itu ingin menyelesaikan dengan instrumen politik, dan karena tidak berhasil, maka yang tadinya hanya masalah nilai tukar, segera berubah menjadi krisis politik.
Krisis politik yang berlarut-larut tanpa solusi, membuat borok-borok makin bau, ditambah kurangnya kapabilitas dan komitmen para anggota legislatif, mafia peradilan di yudikatif dan ketidak mampuan eksekutif di dalam memenuhi janji-janji yang telah ducapkannya saat pemilu, menyebabkan munculnya krisis legitimasi, yaitu krisis yang bercirikan ketidak percayaan terhadap lembaga-lembaga penyelenggara negara yaitu trias politica – legislatif, yudikatif dan eksekutif.
Setelah krisis legitimasi, akan muncul krisis pamungkas, yakni krisis motivasi - hilangnya semangat dan timbul rasa putus asa dari sebagian besar rakyat Nusantara terhadap tingkah polah para pemimpinnya. Krisis motivasi akan menurunkan produktifitas kerja sub sistem sosio kultural yang diperlukan oleh sub sistem ekonomi, lalu ketidak percayaan terhadap sistem politik, hilangnya kepercayaan terhadap pemuka agama bahkan agama itu sendiri sebagai alat untuk mencapai kebahagian. [Mohon dibaca kembali buku Krisis Legitimasi karangan Jurgen Habermas]
Ciri krisis motivasi ini, dimulai dari keadaan dimana para brahmana, ulama, pendeta, guru dan orang-orang yang mestinya menjadi penjaga gawang sosio kultural mulai menunjukkan ketidak jujuran. Para pengelola pemerintahan mengumbar janji di mulut saja, para sodagar hanya mengeruk keuntungan pribadi tanpa memperhatikan dampak tindakannya terhadap masyarakat banyak. Wong cilik makin tak mengerti tentang keadaannya.
Akibat hilang kebajikan, "umur" manusia makin pendek. Umur pendek menyebabkan makin berkurangnya pengetahuan, akibat kurang pengetahuan maka mereka tak memiliki ke-pradnyan bathin yang baik. Oleh karena itu, sifat tamak dan kikir akan berkuasa. Dunia diliput oleh tamak, murka, mabuk dan nafsu. Manusia dengki terhadap sesama, bahkan ingin mencabut jiwa satu sama lain. Golongan rendah - contohnya preman pasar, bisa menduduki kedudukan tinggi - misalnya sebagai anggota dewan yang terhormat ataupun bupati kepala daerah.
Ulama, penguasa, sodagar dan wong cilik, tak berakhlak dan menjalankan kebajikan yang tidak jujur. Pada umumnya orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai ulama, menipu penganut penganutnya dengan menyebarkan apa yang dikatakan “kebajikan”. Akibat dari pada hilangnya kebajikan, umur manusia menjadi pendek. Akibat umur pendek maka manusia tak mempunya pengetahuan yang cukup. Akibat kurang pengetahuan, mereka tidak punya kepradnyan. Oleh karena itu maka sifat tamak dan kikir berkuasa. Diliputi rasa tamak, murka, mabuk dan bernafsu, manusia dengki terhadap sesama manusia dan ingin jiwanya satu sama lain. Golongan yang rendah terangkat dan menduduki kedudukan yang tinggi, yang tinggi turun sampai ke tingkat yang rendah.
Menjelang jaman krisis ini orang menganggap bahwa istrinya adalah satu-satunya kawan. Kepercayaan manusia terhadap Tuhan hanya dimulut saja, bahkan banyak yang berpikiran menjadi pencuri. Orang-orang mencari kepuasan atas milik orang lain. Ayah mencari kesenangan atas milik anaknya dan sebaliknya si anak mencari kesenangan atas milik orang tuannya. Hal atau barang-barang yang disenangi itu adalah yang terlarang menurut sastra-agama.
Brahmana tak menjalankan kegiatan pemujaan dan keagamaan. Dan karena pengetahuan budinya dipengaruhi oleh kepalsuan, mereka mengarahkan kegiatannya kepada apa yang bersifat hina. Putera telah ”membunuh” orang tuanya, orang tua telah ”membunuh” puteranya, itu semua tak dipandang sebagai suatu yang durhaka.
Tak seorangpun mau meminang anak gadis untuk menjadi istrinya, dan tidak seorangpun mau memberikan anak gadisnya untuk maksud itu, tetap si gadis itu sendirilah memilih bakal suaminya. Raja di dunia berjiwa pemabuk, dan tidak puas atas apa yang telah dimilikinya, pada jaman itu, merampas harta benda rakyatnya dengan berbagai-bagai cara dan kekuatan.
Tangan kanan menipu tangan kiri, dan tangan kiri menipu tangan kanannya. Orang tua mengkhianati orang muda yang belum mempunya pengertian, dan orang-orang muda menghianati orang tua. Para pengecut memperoleh jasa seperti orang yang gagah berani, orang gagah berani memperoleh penghinaan seperti orang pengecut. Orang-orang sama tidak mempercayai diri satu sama lain. Dosa dan pengkhianatan tumbuh subur, sebaliknya kebajian pudar dan tidak berkembang lagi.
Golongan brahmana dan ksatriya lenyap tiada berbekas. Semua orang merupakan anggota golongan kasta umum yang tiada mengenal perbedaan macam apapun. Orang tua tidak mengampuni puteranya, dan putera tidak mengampuni orang tuanya, isteri tak meladeni suami. Manusia mencari negeri dimana gandum dan jewawut menjadi makanan pokok.
Lelaki dan wanita bebas sekali dalam tabiat kelakuannya, dan dalam perbuatan yang satu kepada yang lain tidak suka saling mengalah. Orang-orang tidak lagi memberikan kepuasan kepada para dewa dan melakukan persembahan. Tidak seorangpun suka menghiraukan kata-kata orang lain, dan tidak seorangpun menganggap dirinya sebagai guru dari orang lain. Intelektualisme gelap menyelubungi seluruh dunia. Pada usia muda, mautpun sudah menghadang. Wanita berumur muda sudah beranak dan pria yang baru akil balik telah menjadi bapak. Isteri tak puas dengan suaminya, dan suami tidak puas dengan istrinya. Milik orang tidak bisa bertambah banyak.
Orang-orang yang menjalankan agama dengan kepalsuan. Iri hati dan kebencian meraja lela. Tak seorangpun suka bersedekah / beramal kepada orang lain. Penduduk dunia mengalami kesengsaraan akibat kekurangan dan kelaparan. Jalan-jalan raya dipadati oleh laki-laki dan perempuan-perempuan yang sangat bernafsu dan jahat. Sebagian besar orang berbudi pekerti rendah, kasar dalam perbuatan serta faseh dalam mengatakan keburukan orang lain.
Orang-orang tanpa sesal menghancurkan hutan-hutan dan taman-taman. Dan terhadap makna kehidupan orang-orang merasa cemas. Dikuasai oleh hatinya yang loba, orang-orang tega membunuh orang lain, dan merampas harta benda korbannya itu. Para brahmana yang ditindas oleh sudra dicekam rasa takut dan hanya bisa mengeluh. Mereka menjelajahi dunia, namun tiada seorangpun yang memberi perlindungan.
Tertindas oleh pemerintahan yang buruk, dan diperas oleh pengenaan pajak yang berat, para pemuka brahmana di dalam jaman yang dahsyat itu hilang kesabarannya, lalu berbuat yang tidak utama, bahkan menjadi hamba-hamba sahaya Sudra. Sudra menguraikan isi Kitab Suci dan Brahmana-brahmana mendengarkannya, dan menetapkan jalan kewajibannya sesuai dengan tafsiran penunjuk jalannya itu. Orang rendah menjadi orang-orang tinggi, dan perjalanan hidup nampaknya terbalik. Mereka tidak lagi menyembah dewa-dewa, yang disembah adalah tulang-tulang dan lain-lain jimat di dalam tembok. Sudra tidak lagi mengabdi pada Rsi-rsi agung, di sekolah-sekolah dan tempat-tempat di mana para Brahmana memberikan kuliah dan tempat-tempat suci bagi Dewa-Dewa dan pada sumber-sumber mata air suci, penuh berisi makam-makam dan tembok-tembok yang menyimpan jimat tulang-tulang, bukannya berdiri pura-pura yang diperuntukkan bagi para Dewa.
Krisis Motivasi akan berakhir jika, bunga keluar dari bunga, dan buah keluar dari buah. Pada saat mendung di angkasa tidak menjatuhkan hujan tepat pada musimnya. Aturan upacara tidak dipatuhi lagi, dan sudra bersengketa dengan Brahmana. Karena tekanan hidup yang berat itu, orang-orang pada lari kehutan-hutan dan hidup dari buah-buahan dan umbi-umbian. Murid-murid tidak mentaati perintah gurunya, bahkan murid-murid membencanai dan tidak menghormati guru-gurunya lagi. Orang-orang hanya menjalankan tugas kekeluargaan semata-samata untuk memperoleh kemakmuran dan mendapatkan harta milik orang lain.
Dalam masa berakhirnya krisis itu, semua orang merasa kekurangan. Pada kaki langit tampak cahaya, tapi semua bintang dan kumpulan bintang-bintang tidak bercahaya lagi. Angin berhembus sangat kencangnya dan banyak meteor jatuh dari langit, itu adalah alamat buruk. Matahari terbit bagaikan bersama dengan matahari yang lain. Mulai dari terbitnya sampai dengan terbenamnya, matahari di telan Kala Rahu. Dan dewa Indera menjatuhkan hujan tidak cocok pada musimnya, tanaman padi tidak mau tumbuh subur berlimpah-limpah. Wanita-wanita senantiasa mengucapkan kata-kata tajam, tidak menaruh belas kasihan tapi mudah menangis.
Api berkobar dari semua arah. Orang-orang yang bepergian tidak berhasil mendapatkan makan minum dan perlindungan, meskipun mereka mencari dan memintanya. Mereka terlantar di tepi-tepi jalan mengulang-ulang kembali permohonannya itu. Burung-burung gagak, ular dan burung-burung nasar, burung rajawali dan lain-lain binatang, dan burung-burung berbunyi, suaranya mengerikan. Orang-orang membuang dan melalaikan sahabat dan keluarganya, dan bujang-bujangnya. Orang-orang minggat dari negeri dan kota tempat kedudukannya, mereka mencari tempat yang baru di satu dan lain tempat. Apabila keadaan jaman yang dahsyat itu lampau, maka Sang Pencipta membangun dunia baru.
Kapan Mulai Jaman Baru ?
Terjadi manakala matahari, bulan dan bintang berada dalam susunan "tertentu", masuk pada tanda yang sama, maka jaman ini akan berakhir digantikan oleh jaman kemakmuran. Karena takdir, maka seorang “Brahmana” akan lahir didunia. Beliau memuja “Hyang Wisnu” dan mempunyai kekuatan besar serta pengetahuan tinggi dan gagah berani. Beliau akan lahir di suatu kota, dalam keluarga Brahmana yang suci. Segala barang perlengkapan, segera ada pada beliau untuk dipergunakan, begitu terlintas dalam pikiran. Dan beliau akan menjadi raja dari para raja-raja, dan selamanya jaya berkat kekuatan kebajikannya. Beliau membangun dunia kembali dengan menertibkan kembali sasana-sasana dan mewujudkan perdamaian dunia yang berpenduduk padat.
Setelah para pencuri dan penyamun di musnahkan, Brahmana ini akan melakukan upacara untuk menyerah-terimakan dunia yang telah dibangun kembali, kepada brahmana-brahmana lain. Sesudah itu beliau masuk ke dalam hutan, dan semua orang di bumi meniru perbuatannya itu. Dan setelah brahmana-brahmana memusnahkan para pencuri dan penyamun, maka tersedialah kekayaan yang melimpah ruah di bumi. Kemudian setelah dunia memperoleh pemerintahan yang baik, Sang Brahmana setelah menanggalkan pakainnya yang terbuat dari kulit rusa, tombak dan trisula, akan kembali menjelajahi dunia, diiringi oleh para Brahmana yang utama dan hormat pada beliau, sambil membunuh para maling dan penyamun. Manakala dosa-dosa dengan demikian dibersihkan serta kebajikan menghiasi budi orang, maka dimulailah jaman baru yaitu Jaman Keemasan tanah Nusantara.
Disarikan, diinterpretasikan dan disusun kembali dengan mengambil inspirasi dari dari Bab Wanaparwa, Mahabaratha, serta diramu dari berbagai sumber lainnya.
Oleh Ki Jero Martani
Mengejar Persepsi Hilangkan Substansi
Sodara-sodara sebangsa dan setanah air,
Pola pemilihan langsung ternyata menumbuhkan ekses negatif, berupa gaya memerintah model tebar pesona di kalangan nayapraja nusantara. Dari hari ke hari, kerajaan di kelola bagaikan sedang musim kampanye – mengutamakan persepsi hingga hilang substansi. Keinginan mempertahankan kekuasaan yang kuat, akhirnya dijawab dengan usaha-usaha sepele untuk membeberkan dengan lantang apa-apa yang telah dilakukan oleh kerajaan, sambil menutupi dengan erat dan menyelesaikan secara “adat” permasalahan-permasalahan substansial yang dapat meruntuhkan bangsa.
Model pemilihan langsung ini, menyebabkan petruk-petruk yang punya duit berlebih, dapat membeli suara sehingga dapat memenangkan pilkada untuk menjadi ratu. Petruk jadi ratu. Atau petualang-petualang politik, asal suara lantang dan berani menentang , bisa petantang petenteng jadi menteri di departemen teknis, dimana dia sendiri tidak memahami seluk-beluk menjalankan roda birokrasi yang begitu kompleksnya, sehingga dengan muka tebal, tetap membusungkan dada ketika harga beras menjadi naik tak terkendali atau pembunuhan masal terjadi, akibat gagalnya mengelola transportasi. Sang menteri, kalau bicara, bak pakar yang ahli di segala bidang, kecuali bidang yang menjadi tanggung jawabnya. Guyuran anggaran negara ditaburkan hanya untuk proyek-proyek dalam rangka menaikkan popularitas, bukan proyek yang memang diperlukan untuk menolong bangsa ini dari keterpurukan. Dan ketika kegagalan terjadi, tentu selalu tersedia kambing hitam untuk menutupi ketidak mampuannya.
Hai … petruk-petruk “kaya” yang sekarang jadi ratu, ingatlah ! Jikalau suatu pekerjaan dilakukan oleh bukan ahlinya, niscaya bencana akan di depan mata.
Pekerjaan selevel menteri atau bupati, tentulah harus dikelola oleh orang-orang yang sudah ada di tataran “hakikat” … syukur-syukur sudah sampai tahap “makrifat”. Kalau dari jalur birokrat … tentulah dia sudah harus melaksanakan syariat - ngengger selama bertahun-tahun untuk memahami mesin birokrasi itu bekerja. Bukan seperti beberapa kepala preman jalanan yang jadi Bupati, tentunya “mumet” pusing tujuh keliling ketika harus memahami Keppres 80/2003 tentang Pengadaan barang/jasa pemerintah. Jadilah asal tubruk melakukan penunjukan langsung sehingga terpaksa masuk bui, atau terpaksa menggunakan prinsip “tiji tibeh” – mati siji mati kabeh, untuk menyelematkan jabatan sebagai menteri, sehingga kesalahan dapat ditutupi secara “adat”.
Prinsip “Beginning with the end on mind” berupa visi misi yang berdengung keras saat awal kampanye, program seratus hari yang dihapal oleh sang raja ketika berpidato, sekarang nyaris tak terdengar. Jargon proaktif – hanya diimplementasi dengan langkah-langkah reaktif untuk melakukan tebar pesona. Kata-kata bijak “Understand then to be understood” akhirnya menjadi rengekan cengeng dengan menerangkan keberhasilan-keberhasilan yang dilakukan tapi buta tuli terhadap bertumpuk masalah yang makin menggunung. Amburadulnya prioritas program pembangunan hanya dijawab dengan kilah bahwa kabinet sekarang mewarisi tumpukan masalah masa lalu. Lalu kata-kata berbau sinergi “bersama kita bisa” hanya menjadi hiasan bibir belaka. Koalisi sontoloyo yang konon dibangun demi persatuan dan kesatuan bangsa, buntut-buntutnya nanti akan terbuka kedok bahwa itu hanya akal-akalan bejat anggota gerombolan biang kerok, nayapraja pengkhianat.
Pada akhirnya, setelah mengalami krisis ekonomi, dilanjutkan oleh krisis politik, lalu krisis legitimasi berupa hilangnya kepercayaan terhadap lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif, maka pemerintahan “bersama kita bisa ini” telah sukses mengantarkan bangsa indonesia memasuki Krisis Motivasi.
Krisis motivasi ditandai oleh hilangnya semangat masyarakat dalam berkontribusi terhadap negara. Negara hanya mengurus proyek-proyek besar yang tak kunjung selesai, sedangkan di tingkat rumah tangga, negara seperti tak punya arti lagi.
Lalu apa solusinya … menghadapi para penipu canggih perekayasa persepsi publik itu ? Menurut saya sodara-sodaraku, sulit untuk memperbaiki keadaan ini, perbaikan keadaan hanya menghasilkan rumah tambal sulam tak karuan karuan. Satu-satunya jalan adalah membuka jalan bagi percepatan kehancuran. Bukankah untuk membuat rumah baru … maka rumah lama harus dirombak total ? … pekerjaan sudah di mulai … baik oleh mahluk yang terlihat maupun mahluk "maya" yang ada disekitar kita.
Pernyataan … aneh kan ?!
Salam
Ki Jero Martani
Pola pemilihan langsung ternyata menumbuhkan ekses negatif, berupa gaya memerintah model tebar pesona di kalangan nayapraja nusantara. Dari hari ke hari, kerajaan di kelola bagaikan sedang musim kampanye – mengutamakan persepsi hingga hilang substansi. Keinginan mempertahankan kekuasaan yang kuat, akhirnya dijawab dengan usaha-usaha sepele untuk membeberkan dengan lantang apa-apa yang telah dilakukan oleh kerajaan, sambil menutupi dengan erat dan menyelesaikan secara “adat” permasalahan-permasalahan substansial yang dapat meruntuhkan bangsa.
Model pemilihan langsung ini, menyebabkan petruk-petruk yang punya duit berlebih, dapat membeli suara sehingga dapat memenangkan pilkada untuk menjadi ratu. Petruk jadi ratu. Atau petualang-petualang politik, asal suara lantang dan berani menentang , bisa petantang petenteng jadi menteri di departemen teknis, dimana dia sendiri tidak memahami seluk-beluk menjalankan roda birokrasi yang begitu kompleksnya, sehingga dengan muka tebal, tetap membusungkan dada ketika harga beras menjadi naik tak terkendali atau pembunuhan masal terjadi, akibat gagalnya mengelola transportasi. Sang menteri, kalau bicara, bak pakar yang ahli di segala bidang, kecuali bidang yang menjadi tanggung jawabnya. Guyuran anggaran negara ditaburkan hanya untuk proyek-proyek dalam rangka menaikkan popularitas, bukan proyek yang memang diperlukan untuk menolong bangsa ini dari keterpurukan. Dan ketika kegagalan terjadi, tentu selalu tersedia kambing hitam untuk menutupi ketidak mampuannya.
Hai … petruk-petruk “kaya” yang sekarang jadi ratu, ingatlah ! Jikalau suatu pekerjaan dilakukan oleh bukan ahlinya, niscaya bencana akan di depan mata.
Pekerjaan selevel menteri atau bupati, tentulah harus dikelola oleh orang-orang yang sudah ada di tataran “hakikat” … syukur-syukur sudah sampai tahap “makrifat”. Kalau dari jalur birokrat … tentulah dia sudah harus melaksanakan syariat - ngengger selama bertahun-tahun untuk memahami mesin birokrasi itu bekerja. Bukan seperti beberapa kepala preman jalanan yang jadi Bupati, tentunya “mumet” pusing tujuh keliling ketika harus memahami Keppres 80/2003 tentang Pengadaan barang/jasa pemerintah. Jadilah asal tubruk melakukan penunjukan langsung sehingga terpaksa masuk bui, atau terpaksa menggunakan prinsip “tiji tibeh” – mati siji mati kabeh, untuk menyelematkan jabatan sebagai menteri, sehingga kesalahan dapat ditutupi secara “adat”.
Prinsip “Beginning with the end on mind” berupa visi misi yang berdengung keras saat awal kampanye, program seratus hari yang dihapal oleh sang raja ketika berpidato, sekarang nyaris tak terdengar. Jargon proaktif – hanya diimplementasi dengan langkah-langkah reaktif untuk melakukan tebar pesona. Kata-kata bijak “Understand then to be understood” akhirnya menjadi rengekan cengeng dengan menerangkan keberhasilan-keberhasilan yang dilakukan tapi buta tuli terhadap bertumpuk masalah yang makin menggunung. Amburadulnya prioritas program pembangunan hanya dijawab dengan kilah bahwa kabinet sekarang mewarisi tumpukan masalah masa lalu. Lalu kata-kata berbau sinergi “bersama kita bisa” hanya menjadi hiasan bibir belaka. Koalisi sontoloyo yang konon dibangun demi persatuan dan kesatuan bangsa, buntut-buntutnya nanti akan terbuka kedok bahwa itu hanya akal-akalan bejat anggota gerombolan biang kerok, nayapraja pengkhianat.
Pada akhirnya, setelah mengalami krisis ekonomi, dilanjutkan oleh krisis politik, lalu krisis legitimasi berupa hilangnya kepercayaan terhadap lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif, maka pemerintahan “bersama kita bisa ini” telah sukses mengantarkan bangsa indonesia memasuki Krisis Motivasi.
Krisis motivasi ditandai oleh hilangnya semangat masyarakat dalam berkontribusi terhadap negara. Negara hanya mengurus proyek-proyek besar yang tak kunjung selesai, sedangkan di tingkat rumah tangga, negara seperti tak punya arti lagi.
Lalu apa solusinya … menghadapi para penipu canggih perekayasa persepsi publik itu ? Menurut saya sodara-sodaraku, sulit untuk memperbaiki keadaan ini, perbaikan keadaan hanya menghasilkan rumah tambal sulam tak karuan karuan. Satu-satunya jalan adalah membuka jalan bagi percepatan kehancuran. Bukankah untuk membuat rumah baru … maka rumah lama harus dirombak total ? … pekerjaan sudah di mulai … baik oleh mahluk yang terlihat maupun mahluk "maya" yang ada disekitar kita.
Pernyataan … aneh kan ?!
Salam
Ki Jero Martani
Tobat
Tobat bisa dilaksanakan dengan “memahami” dampak perbuatan nista yang dilakukan, diiringi oleh penyesalan yang mendalam dan melakukan langkah-langkah nyata untuk memperbaiki kesalahan yang dibuatnya. Anda sudah lihat, cucuran air mata Sang Raja didampingi gerombolan Nayapraja di Masjid Raya ? Konon itu dilaksanakan dalam rangka melakukan tobat nasional.
Tobat ? Ha..ha..ha.. kalau mau tobat, maka Si Raja Ragu : (1) harus mampu memahami rangkaian perbuatan papa nista yang telah dilakukan. (2) Harus mengingat-ingat dengan jelas, rencana pengkhianatan yang dilakukan atas nama strategi politik dalam meraih kekuasaan. (3) Paham dengan jelas, dosa kerja tebar pesona yang menghabiskan anggaran dari hasil menghisap darah dan keringat rakyat dari peningkatan harga minyak. (4) Melakukan mulat sarira - evaluasi diri, dengan mengingat masa lalu ketika muncul keinginan bertarung meraih kursi raja, ketika itu PIKIRAN ANDA yang penuh ego pribadi, ternyata telah menyingkirkan suara-suara hati ANDA SENDIRI juga sinyal-sinyal alam YANG TELAH DIPAMPANGKAN DENGAN JELAS beberapa kali pada ANDA, baik melalui mimpi maupun kejadian kebetulan tak masuk akal, Habis sudah wisik dan sanepan yang dikirim untuk ANDA, agar tidak meraih kekuasaan jahat melalui cara khianat. Ego Pribadi mengalahkan Nurani.
Penyesalan itu haruslah ada. Bagaikan sebuah roda, penyimpangan kecil di pusat kekuasaan tentu akan berimbas besar bagi seluruh Nusantara. Akibat rekayasa persepsi canggih, rakyat nusantara jadi tertipu dan salah pilih pemimpin, akhirnya mengalami derita tiada akhir. Dosa-dosa besar yang diabaikan sang raja, dan tak pernah di"bayar", tentu akan berkembang bunga dan hutang pokoknya. Lalu menjadi dosa tak berampun, yang membuka peluang bagi para bhuta kala dan danyang-danyang tanah nusantara untuk melegitimasi aksinya, memulai kekacauan dengan cara berperang tanpa balatentara "nglurug tanpa bala", tak tersentuh walau tanpa ajian dan mereka akan menang walau tak akan bangga menepuk dada karena tidak bertujuan untuk tebar pesona.
Kalau penyesalan sudah timbul, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan rencana aksi yang tepat. Tanpa menyelesaikan dosa-dosa itu, maka duka terus datang silih berganti, laksana ombak laut yang datang dari laut tak bertepi. Dosa khianat kepada rakyat, tidak dapat diganti oleh duduk bersimpuh di rumah Tuhan sambil mencucurkan air mata berember-ember. Apalagi dibalik itu, masih terbersit niat nan jahat yaitu strategi mengubah persepsi publik, sehingga Raja Ragu Tak Mampu, seolah sedang ditindas oleh alam sehingga perlu dikasihani rakyat. Hentikan sudah niat seperti itu, rakyat jelata mungkin tak merasa permainan rekayasa itu. Tapi Alam dan Sang Maha Tahu ... apatah dapat direkayasa ?
Sudahlah ! Jangan lagi bencana alam dijadikan peluang baru untuk membalik persepsi untuk dapat keuntungan pribadi. Rencana aksi yang tepat terkait dengan tobat yang dimaksud, harus bersifat substansial. Bukannya aksi cepat bencana gempa, pindah kantor ke istana yogya, megumbar janji manis 30 juta, setelah itu tak ada apa-apa. Aksi cepat membentuk berpuluh-puluh Tim Nas, akan tetapi kerjanya lambat dan hasilnya nyaris tak terdengar. Kalau ada masalah, jangan segera lemparkan bola lalu cuci tangan. Bung, tobatlah yang benar ! Anda dipercaya sebagai penguasa tanah Nusantara, lakukan tindakan yang dianggap perlu untuk mewujudkan janji-janji anda dulu, karena Janji Adalah Hutang !
Akhir kata, usulan saya untuk Raja dan Nayapraja, pahami akibat dari dosa yang telah dibuat, timbulkan penyesalan yang mendalam dan selesaikan rencana aksi yang substansial bukan hanya tebar pesona. Tindakan substantif nyata, mungkin lebih berguna, bagi rakyat nusantara, dari pada linangan air mata, sambil nanggap tukang obat perangkai ayat.
Terkutuk sikap tebar pesona, Merdeka !!!
Ki Jero Martani
Tobat ? Ha..ha..ha.. kalau mau tobat, maka Si Raja Ragu : (1) harus mampu memahami rangkaian perbuatan papa nista yang telah dilakukan. (2) Harus mengingat-ingat dengan jelas, rencana pengkhianatan yang dilakukan atas nama strategi politik dalam meraih kekuasaan. (3) Paham dengan jelas, dosa kerja tebar pesona yang menghabiskan anggaran dari hasil menghisap darah dan keringat rakyat dari peningkatan harga minyak. (4) Melakukan mulat sarira - evaluasi diri, dengan mengingat masa lalu ketika muncul keinginan bertarung meraih kursi raja, ketika itu PIKIRAN ANDA yang penuh ego pribadi, ternyata telah menyingkirkan suara-suara hati ANDA SENDIRI juga sinyal-sinyal alam YANG TELAH DIPAMPANGKAN DENGAN JELAS beberapa kali pada ANDA, baik melalui mimpi maupun kejadian kebetulan tak masuk akal, Habis sudah wisik dan sanepan yang dikirim untuk ANDA, agar tidak meraih kekuasaan jahat melalui cara khianat. Ego Pribadi mengalahkan Nurani.
Penyesalan itu haruslah ada. Bagaikan sebuah roda, penyimpangan kecil di pusat kekuasaan tentu akan berimbas besar bagi seluruh Nusantara. Akibat rekayasa persepsi canggih, rakyat nusantara jadi tertipu dan salah pilih pemimpin, akhirnya mengalami derita tiada akhir. Dosa-dosa besar yang diabaikan sang raja, dan tak pernah di"bayar", tentu akan berkembang bunga dan hutang pokoknya. Lalu menjadi dosa tak berampun, yang membuka peluang bagi para bhuta kala dan danyang-danyang tanah nusantara untuk melegitimasi aksinya, memulai kekacauan dengan cara berperang tanpa balatentara "nglurug tanpa bala", tak tersentuh walau tanpa ajian dan mereka akan menang walau tak akan bangga menepuk dada karena tidak bertujuan untuk tebar pesona.
Kalau penyesalan sudah timbul, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan rencana aksi yang tepat. Tanpa menyelesaikan dosa-dosa itu, maka duka terus datang silih berganti, laksana ombak laut yang datang dari laut tak bertepi. Dosa khianat kepada rakyat, tidak dapat diganti oleh duduk bersimpuh di rumah Tuhan sambil mencucurkan air mata berember-ember. Apalagi dibalik itu, masih terbersit niat nan jahat yaitu strategi mengubah persepsi publik, sehingga Raja Ragu Tak Mampu, seolah sedang ditindas oleh alam sehingga perlu dikasihani rakyat. Hentikan sudah niat seperti itu, rakyat jelata mungkin tak merasa permainan rekayasa itu. Tapi Alam dan Sang Maha Tahu ... apatah dapat direkayasa ?
Sudahlah ! Jangan lagi bencana alam dijadikan peluang baru untuk membalik persepsi untuk dapat keuntungan pribadi. Rencana aksi yang tepat terkait dengan tobat yang dimaksud, harus bersifat substansial. Bukannya aksi cepat bencana gempa, pindah kantor ke istana yogya, megumbar janji manis 30 juta, setelah itu tak ada apa-apa. Aksi cepat membentuk berpuluh-puluh Tim Nas, akan tetapi kerjanya lambat dan hasilnya nyaris tak terdengar. Kalau ada masalah, jangan segera lemparkan bola lalu cuci tangan. Bung, tobatlah yang benar ! Anda dipercaya sebagai penguasa tanah Nusantara, lakukan tindakan yang dianggap perlu untuk mewujudkan janji-janji anda dulu, karena Janji Adalah Hutang !
Akhir kata, usulan saya untuk Raja dan Nayapraja, pahami akibat dari dosa yang telah dibuat, timbulkan penyesalan yang mendalam dan selesaikan rencana aksi yang substansial bukan hanya tebar pesona. Tindakan substantif nyata, mungkin lebih berguna, bagi rakyat nusantara, dari pada linangan air mata, sambil nanggap tukang obat perangkai ayat.
Terkutuk sikap tebar pesona, Merdeka !!!
Ki Jero Martani
Langganan:
Postingan (Atom)