Sirna Hilang Kertaning Bumi

Beratus tahun yang lalu, ditandai dengan Candrasengkala Sirna Hilang Kertaning Bhumi, kerajaan besar Majapahit, pemersatu Nusantara, RUNTUH. Konon diakhir jaman majapahit, pemuka agama, penasehat negara, wiku, resi, banyak yang hilang kebijakannya. Para cerdik cendekia yang mestinya obyektif, hanya menjadi ilmuwan tukang, mengeluarkan pendapat bukan karena kebenaran, tapi hanya berdasarkan pesanan, bahkan ada pemuka agama jelas-jelas berkhianat menjadi corong musuh majapahit. Kaum ningrat gelisah, resah dan susah, dikejar-kejar dosa yang telah dibuat. Korupsi, penyelewengan, pengkhianatan, permusuhan antar saudara, menjadi cerita dari mulut ke mulut di masyarakat saat itu. Carut marut dan ketidak stabilan, menyebabkan saudagar berdagang tak pernah untung, dan kesemuanya itu menyebabkan rakyat jelata makin menderita.

Penyebab utamanya, konon kelompok-kelompok penyelenggara negara saat itu, kurang melaksanakan swadharma atau kewajibannya sebagai warga bangsa. Kelompok-kelompok Ksatriya penanggung jawab subsistem pencapaian tujuan (politis), Wesya - subsistem adaptif (ekonomi) dan Brahmana - subsistem sosio-cultural, sibuk dengan kepentingannya sendiri. Banyak oknum-oknum yang melakukan cross-function sehingga terjadi conflict of interest. Kaum Brahmana, terjun ke bidang politik sehingga terjadi perpecahaan antara pemeluknya. Para Ksatria jadi backing Wesya - kaum pedagang, untuk memperkaya diri. Wesya berkolaborasi dengan para Ksatria pemberontak, untuk melindungi usaha dagangnya. Keadaan makin tidak terkendali, kerusakan makin menjadi-jadi, masalah buntu tanpa solusi, sehingga rakyat kehilangan motivasi - kehilangan kepercayaan terhadap raja, sehingga negara yang tadinya jaya dan berkuasa, lalu ambruk, runtuh tercerai berai. Krisis motivasi juga menghilangkan kepercayaan terhadap agama yang dominan saat itu, lalu menumbuh suburkan Agama Islam sebagai kepercayaan yang baru.

Hilangnya konsep swadharma, kerja adalah ibadah, ditambah hilangnya budi pekerti, maraknya pengkhianatan, perang saudara, menyebabkan majapahit jatuh dan runtuh. Tahun kejadian, ditandai dengan CandraSengkala – SIRNA HILANG KERTANING BHUMI - (Sirna=0, Hilang=0, Kertaning=Kemakmuran=4, Bhumi=1) - 1400 Tahun Jawa atau 1478 tahun masehi. Hilang Musnah Kesejahteraan Negara, selama beratus tahun kemudian, kita terjajah dan dinistakan bangsa-bangsa lain.

KRISIS EKONOMI, POLITIK LALU KRISIS LEGITIMASI

500 tahun kemudian, tahun 1978 konsep Eka Prasetya Pancakarsa bergaung ke seluruh Nusantara, bangsa Indonesia bangkit, ditoleh oleh bangsa-bangsa lain, menyelenggarakan konferensi Asia Afrika, swasembada pangan, ekonomi bergeliat, hingga diberi julukan salah satu macan asia. Di tangah kejayaan yang dinikmati, bangsa kita menjadi tidak ”eling” dan kurang ”waspada”. Oknum-oknum pejabat memperkaya diri dengan mem-backing para cukong sang pedagang. Cukong-cukong bermain mata dengan politikus agar mengeluarkan undang-undang untuk memproteksi barang dagangan, sehingga keuntungan berlipat ganda, tanpa saingan.

Lalu datang krisis ekonomi melanda asia. Oleh penguasa saat itu, krisis ekonomi ditanggulangi menggunakan instrumen-instrumen politik seperti kebijakan BLBI. Karena upaya politis gagal, maka krisis segera berubah bentuk menjadi krisis politik. Gelombang mahasiswa, dengan modal garang dan urat leher kencang, tanpa pengetahuan tentang topik yang diteriakkan, ditunggangi oknum pengecut, didukung organisasi tanpa bentuk dan antek-antek negara asing, mampu meruntuhkan kekuasaan Orde Baru.

Orde Reformasi berjalan penuh wacana dan silang sengketa. Budaya rukun dan sikap saling hormat menghormati, yang menjadi pedoman bathin warga nusantara, terkoyak dan terinjak. Tokoh masyarakat mengeluarkan pendapat ’benere dewe’ – pagi tempe sore kedele. Atas nama demokrasi, sikap rukun dan toleran, yang telah menjadi karakter bangsa seakan sirna. Juga sikap saling hormat, seakan lenyap. Bicara tak lagi menggunakan ’rasa’ dan logika. Anggota legislatif bersuara lantang didepan Panglima TNI, atas nama rakyat, tanpa rasa hormat. Hilang keinginan untuk rukun, hanya fitnah, tanpa solusi. Pepatah mulut-mu harimau-mu, seakan tak berlaku lagi.

---oOo---

KEHANCURAN POLITIK, EKONOMI DAN BUDAYA

Eksekutif dan Legislatif tidak mampu, menyusun regulasi untuk menjaga moral bangsa. Para selebriti di program infotainment, memberi toladan buruk pada anak-anak bangsa, dari Sabang sampai Jayapura. Tontonan yang menginjak-injak prinsip rukun, toleran dan saling hormat-menghormati di tengah keluarga. Kawin cerai, tuding menuding antar anak dan orang tua, sumpah serapah, gugat menggugat, somasi dan hal-hal buruk lainnya, menjadi tontonan televisi 3 x sehari, seperti minum obat saja. Belum lagi sinetron-sinetron, yang di produksi oleh sodagar-sodagar keturunan negeri seberang, yang mengais berkah di Nusantara, tanpa disertai tanggung jawab, untuk ikut membangun jati diri bangsa. Hancur sudah budaya Nusantara, hilang sifat rukun, toleransi dan saling hormat menghormati yang kita junjung tinggi.

Dibidang ekonomi setali tiga uang. Saudara kita, WNI keturunan, selalu ribut tentang hak mendapatkan KTP. Tetapi lupa akan tugas dan tanggung jawab, untuk menasehati kerabat-familinya yang menjadi sodagar, agar tidak semena-mena menjarah begitu besar kekayaan bangsa dan melarikannya keluar negeri. Licik cerdik, jujur bodoh, tiada batas. Kelicikan dan kerjasama dengan penguasa serakah, ditujukan untuk menjarah hasil bumi, membabat hutan, membuat sengsara sebagian besar anak bangsa. Kalau ada berita di televisi yang menayangkan oknum-oknum penjarah BLBI, bandar besar narkoba dan judi, pembalakan hutan, orang tulipun tahu ras apa yang melakukannya.

Dibidang politik, penuh dengan wacana tanpa karya. Merasa bisa, tapi tidak bisa merasa. Media massa pernah memuat tulisan pakar tentang konglomerat hitam, bicara lantang tentang berbagai teori, hingga terpilih menjadi menteri. Saat diberi tanggung jawab, selama masa jabatannya tidak ada hal signifikan yang dibuatnya, memang pakar, alias tanpa karya. Diakhir jabatan jadi pengkhianat partai, sekarang berkoar lagi, menggurui, pendapat orang ini laksana sepahan tebu, hilang manis tiada berguna. Ada lagi yang meraih posisi puncak dengan menikam kawan seiring, penggunting dalam lipatan, masih seperti jaman Ken Arok dulu. Setiap pergantian kekuasaan selalu ada ”pembunuhan karakter”. Kutuk Empu Gandring belum bisa dihapuskan sampai saat ini. Etika berpolitik kita telah hancur. Meraih kuasa dengan uang, bukan pengabdian. Hari ini preman terminal, besok bisa menjadi anggota legislatif yang terhormat. Kemarin tersangka korupsi, sekarang bisa menepuk dada jadi penguasa. Hilang sudah prinsip ”memayu hayuning buwono”, karena investasi yang ditanam saat pilkada, minimal harus pulang pokok, bahkan kalau bisa lebih untuk pilkada berikutnya.

---oOo—

KRISIS LEGITIMASI

Masyarakat yang berperan dalam sistem perekonomian bangsa, berkurang kemampuannya dalam menyediakan barang/jasa kepada sistem sosio kultural. Sistem sosio kultural atau masyarakat, kurang mampu memberikan kontribusi maksimal, untuk bekerja membantu menggerakkan sistem perekonomian. Subsistem politik tidak mampu membangun regulasi yang sehat, agar subsistem ekonomi bergerak dengan baik. Pajak dari sub sistem ekonomi tak mampu, menyediakan anggaran yang cukup bagi penyelenggara negara, sehingga kita harus berhutang sepanjang masa. Subsistem politik tak mampu memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya dan pada akhirnya masyarakat tidak lagi setia pada penyelenggara negara. Ditambah peran serta alam semesta, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, pagebluk seperti flu burung dan deman berdarah. Kerusakan laksana tanpa solusi, alam-pun seakan meng-”amin”-i.

Para menteri, kualitas akademiknya luar biasa. Presiden, doktor pertanian, jenderal, pandai membaca situasi, ahli bicara dan fasih mengembangkan wacana. Wakil presiden, anak pedagang sukses dengan warisan berlimpah, menguasai legislatif dan sangat berpengaruh di eksekutif. Akan tetapi, mohon maaf, lebih dua tahun janji diucap, belum ada tanda, rakyat terlepas dari derita, malah tambah melarat, mungkin sebentar lagi sekarat.

Oknum-oknum legislatif, ada yang bilang, seperti murid taman kanak-kanak. Berbicara semau gue, tanpa data dan pengetahuan yang memadai. Kalau berdebat ngotot dan membuat bingung rakyat, terkadang memalukan. Melontarkan pendapat, tujuannya Cuma agar dikatakan hebat, seolah-olah membela rakyat, kenyataannya, mohon maaf ... dia juga bejat. Tak kalah hebat, oknum-oknum yudikatif yang menjadi pejabat, menambah waktu berkuasa hanya melalui rapat. Dikritik malah semakin nekat, buta tuli untuk memegang kuasa tambah erat. Keadilan hanya impian belaka, uang masih bicara.

---oOo---

KRISIS MOTIVASI

Krisis ekonomi, krisis politik, krisis legitimasi jika tidak diselesaikan akan menjadi krisis motivasi. Jika telah hilang kepercayaan, maka akan terjadi perubahan mendasar terhadap sistem sosial-budaya. Perubahan itu menyebabkan disfungsi bagi negara, sistem kerja & struktur sosial.

Bibit krisis motivasi sudah terlihat, antara lain :

* Hilangnya kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Biaya masuk perguruan tinggi negeri yang fantastis, hanya dapat dijangkau oleh orang berpunya, dan mengurangi kesempatan bagi anak-anak berprestasi dan tidak mampu.
* Standar ganda dalam penegakan hukum. Pejabat boleh berkilah apa saja, yang jelas konglomerat yang menjarah uang rakyat, tetap melenggang tenang, bahkan ada yang diperkenankan masuk istana.
* Tidak sinkronnya antara pendidikan dan pekerjaan. Orang yang tidak tamat perguruan tinggi, jelas-jelas malas dan kerjanya kebut-kebutan, bisa menjadi eksekutif perusahaan multinasional, hanya karena menjadi anak pejabat. Kasus pemalsuan ijazah di eksekutif dan legislatif sangat marak. Tadinya kerja di terminal, ijazah tidak jelas, kalau punya modal untuk pilkada, bisa jadi bupati.
* Tidak adanya sistem pengukuran prestasi yang jelas. Laporan pertanggung jawaban penguasa carut marut dan cenderung di politisir, karena tidak ada pengukuran kinerja yang jelas. Bahkan di lingkungan pemerintahan ada istilah PGPS, Pintar Goblok Pendapatan Sama. Pejabat-pejabat publik diangkat, bukan karena prestasi dan profesionalisme, melainkan karena pengaruh modal dan jalur politik.

Usaha untuk mencegah krisis motivasi, sudah pernah dilakukan. Tokoh lintas agama melakukan pertemuan untuk merumuskan konsep mengatasi keadaan yang diperkirakan bakal terjadi. Tokoh-tokoh nasional dari seluruh agama berkumpul menyusun konsep Kerangka Kebersamaan Minimal (KKM). Lalu tokoh-tokoh ini berusaha membawa konsep ini, kepada kedua calon presiden sebelum pemilihan umum yang baru lalu. KKM berupaya untuk mempersatukan lagi sumber daya terakhir yang dimiliki bangsa, yakni subsistem sosio kultural. Karena dengan pemilihan presiden secara langsung, suara akan terbelah menjadi tiga. Suara untuk Pemenang, untuk yang Kalah dan yang tidak memilih. Melihat kompleksnya permasalahan kedepan yang dihadapi, melalui konsep KKM, para tokoh lintas agama meminta kepada Calon Presiden, apapun hasil pemilihan yang akan datang, agar diutamakan persatuan dan kesatuan. Lalu diuraikan sembilan pokok pikiran agar kita tidak terjebak kedalam krisis pamungkas yakni krisis motivasi.

Saat itu konsep diterima dengan terbuka oleh Ibu Megawati, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa pejabat tinggi negara seperti Panglima TNI, Kepala Polri dan Ketua Mahkamah Konstitusi. Bahkan konsep itu disinggung oleh calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat pidato penajaman visi dan misi calon presiden. Tapi setelah terpilih, KKM tak pernah disinggung lagi. Sampai saat ini, dan sampai kita telah memasuki pintu gerbang krisis pamungkas yakni krisis motivasi.

---oOo---

GUNUNG MERAPI MELETUS, LAHAR BERBAU AMIS

Ada sebuah kitab kuno Sabda Palon, yang menyatakan bahwa 500 tahun mendatang, akan ada perubahan masyarakat di Nusantara. Dalam kitab itu, dituliskan ciri-ciri perubahan sebagai berikut : permasalahan datang, silih berganti, menimpa tanah yang kita cintai. Pemuka agama saling berebut pengaruh, para pemimpin negara banyak yang susah, pengusaha banyak menderita rugi, sang petani-pun penghasilannya banyak hilang akibat bencana. Sekeras-keras sang kuli bekerja, upahnya tak seberapa. Bumi sudah berkurang hasilnya, hama dengan ganas menyerang, hutan rusak kayu dicuri.

Kerusakan menjadi sangat hebat, sebab orang berebut bahkan rela jadi penjarah. Bila malam datang, berkeliaran sang maling, dan bila siang hari banyak rampok gentayangan. Wanita hilang kehormatannya. Hukum dan pengadilan negara kurang wibawa, perintah berganti-ganti, keadilan masih sedang diusahakan. Yang benar dianggap salah, yang jahat malah jadi pahlawan. Benar-benar telah rusak moral manusia.

Manusia bingung dengan sendirinya, sebab berebut mencari makan. Tidak lagi mengingat aturan negara, karena tak kuasa menahan perihnya perut. Derita ditambah lagi dengan pagebluk (wabah) yang menelan banyak korban. Bahaya penyakit dan bencana luar biasa, disana-sini banyak yang mati. Hujan tak tepat waktu, merusakkan hasil pertanian, angin besar dan gempa menerjang sehingga pohon dan bangunan banyak yang roboh. Sungai meluat mengakibatkan banjir dan gunung-gunung meletus menakutkan. Yang kaya tambah kuasa, rakyat jelata makin menderita, kian hari kian bertambah kesengsaraan kita.

Kitab tersebut juga menyatakan, perubahan mendasar akan dimulai, ketika Gunung Merapi meletus, laharnya berbau amis. Dari sekian tanda-tanda jaman yang diuraikan, hanya tanda ini belum dapat kita lihat kenyataannya.

Akankah hal itu benar-benar terjadi ?

PENUTUP

Ketika Majapahit jatuh, banyak kitab-kitab kuno dibawa ke Pulau Bali, salah satunya lontar NegaraKertagama. Di kitab itu, terdapat konsep Catur Purusaartha. Konsep inilah yang digunakan untuk membendung arus perubahan, sehingga budaya dan agama di pulau Bali masih seperti sekarang ini. Apakah konsep Catur Purusaartha tersebut juga dapat dipergunakan untuk mengatasi krisis motivasi yang telah dan akan makin menghebat ?

Marilah kita tunggu, apabila tanda-tanda itu memang benar, maka solusi yang ditawarkan mungkin dapat juga kita gunakan ...

Bersabarlah ... sebentar lagi ... Gunung Merapi akan meletus .... laharnya berbau amis ... ini memang sudah kehendak alam ...

4 komentar:

Aziz YNWA mengatakan...

Merapi sudah meletus dan telah datang anak manusia yang menyebarkan budi pekerti

Bambang H Masrihadi mengatakan...

NKRI akankah mengalami pengulangan sejarah sbgmn keruntuhan Majapahit? SIRNA ILANG KERTANING BUMI???

Octora Wijaya mengatakan...

Ketika Merapi "duwe gawe", mungkin benar akan berbau amis.
Mungkin amis yang dimaksud adalah banyaknya korban jiwa.
Mungkin akan menjadi erupsi besar.
Mungkin akan menenggelamkan Yogyakarta dan sekitarnya.
Mungkin itulah sebuah puncak kehancuran sekaligus kelahiran peradaban baru.
Wallahu'alam :)

Aziz YNWA mengatakan...

Memayu hayuning bawono